“Merry Me” ~Part: fOur^^

Annyeonghasaeyo~

*bow* 

Sebelumnyaa uthor mau minta maaf dlu yy kalo ff-nya kurang memuaskan..

yeorobeun..

Jeongmal Josonghamnida..

*bow*

Oke.. langsung aja..

CEKIDOT!!

uPss.. Inget..

“Sebelumnya.. Cuma ngingetinn ni Cuma FF.. Cuma fiksi belaka.. jd jgan mpe ada yg t’singgung yya klo da yang gga sreg di hati.. apa gy kalo ga sesuai dg knyataannya.. hHO

kan namanya jg FF ^^

 I HOPE U LIKE IT!!

JANGAN LUPA COMMENT

NO PLAGIATISM!!

  • Cast: Choi Hyerin : Ami Himawari
  •          Leeteuk,
  •          Kim Heechul,
  •          Choi Jonghun,
  •          Choi Minho,
  •          Seo Chaehyun : Pipit
  •          Kim Chaeyoung : Pyna
  •          Kim Binwoo    :Uri cindy
  •                
  •          Kim Hyunjae  : Author *gga mau kalah. Mu ttp exist :P*
  •          Kyuhyun,
  •          Yesung
  •          and other super junior, SHinee, and FT. Island member.
  •  

—-oOo—–

Part 4…

*Author POV*

Hari ini, adalah jadwal bebas bagi member MIINA. Setiap minggunya mereka memang mendapat jatah untuk pulang kerumah masing-masing selagi tak ada jadwal, selama dua hari, yakni sabtu dan minggu. Namun jika jadwal mereka padat, mereka tak akan mendapat jadwal untuk pulang, kecuali ada jadwal kosong di hari lain.

Sedari pagi, dorm MIINA sudah mulai kosong. Chaehyun yang sedang sibuk syuting we got merried sudah pergi sejak pagi sebelum member yang lain terbangun, dan kemungkinan akan langsung pulang kerumahnya di daerah ChunAhn tanpa terlebih dahulu kembali ke dorm. Sementara Chaeyeong yang bangun paling siang langsung mengganti piyamanya dengan seragam basket andalannya lalu berjalan ke taman sambil mendribble bola basket di tangannya. Setelah melakukan peregangan, dan berlari-lari kecil memutari lapangan basket. Ia memulai untuk berlatih. Sudah lama ia tak melakukan olahraga yang amat disenanginya ini. Berkali-kali ia mencoba untuk menembak threepoint, dan ternyata tak mengecewakan. Dari 5 bola yang coba ia shoot, setidaknya ada 3 bola yang masuk dengan cantik.

“Masih berbakat ternyata!” pujinya pada diri sendiri. Setelah puas bermain dan mengeluarkan banyak sekali keringat, ia langsung memutuskan pulang ke dorm, untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.

“Binwoo-ah. Kau tidak pulang hari ini??” tanyanya sambil menyesap habiskan susu vanilla yang ada di mug kesayangannya, begitu ia susah sampai di dorm. Binwoo hanya meliriknya sekilas lalu kembali sibuk dengan notebooknya.

“Ya! Hati-hati nanti kau keranjingan internet!” serunya lagi sambil melempar pakaian kotor ke dalam keranjang cucian yang ada di dekat pintu dapur dengan gaya tembakan 3 point-nya.”Kau ini, sudah seperti seorang netizen saja! Kerjaan Online tiap hari! Mandi sana!” katanya lagi sambil menyundul jidat Binwoo pelan dengan jarinya.

“Onnie!!” Binwoo menatap Onnie-nya itu sebal. “Ah, sudahlah, aku mandi dulu!” tambahnya sambil ngeloyor ke kamar mandi dengan handuk yang sudah sedari tadi hinggap di pundak kirinya.

“Ah, ya! Onnie, aku mau pulang ke rumah. Kau tidak pulang??” Binwoo melongokkan kepalanya di balik pintu kamar mandi.

“Ah,” Chaeyoung menepuk jidatnya pelan. “Aku lupa! Hari ini aku ada janji dengan Eomma dan Appa untuk pergi ke jamuan makan malam dengan mereka! Iya-iya, aku akan pulang dan menginap dirumah sepertinya.”

“Dasar pikun!” Binwoo menjulurkan lidah kepada Chaeyoung yang tersenyun gaje.

“Kau tidak pulang dongsaeng-ah??”

“Pulang Onnie!!” teriaknya dari dalam kamar mandi. “Hari ini Eommaku ulangtahun! Tapi, tunggu Yesung Oppa jemput dulu, seprtinya.”

“Arra-arra. Baiklah, aku  pergi dulu yah!? Eomma memberitahuku bahwa ia akan segera sampai. Tapi…” mata Chaeyoung terbelalak begitu membaca pesan yang dikirim Eommanya, lalu berlari kea rah kamar mandi dan menggedor-gedor pintunya kasar.

DUGGG… DUGGG.. DUGGGG!!!!

“Omo~ Ada apa lagi Onnie!?” Binwoo membuka pintu kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya sementara masih ada busa shampoo di atas kepalanya, ia menatap wajah Onnie-nya itu, sebal.

“Binwoo-ah. Gawat!! Gawat!!” ucapnya panic!! Melihat ekspresi Onnienya yang ketakutan, otomatis ia ikutan panic.

“Kenapa!?? Kenapa??”

“Aigoo~ Binwoo-ah ottohke?? Eomma-ku sudah ada di depan! Sementara ia menyuruhku untuk berpakaian LAYAKNYA WANITA! Otte?? Kau tau sendiri kan pakaianku seperti apa??”

“Aigoo~ Onnie, ku fikir ada apa!? Bukankah Onnie pernah membeli beberapa dress waktu kita ke Jepang kemarin?? Pakai saja itu.”

“Tidak mungin! Semuanya kan sudah pernah ku pakai saat kita jadi bintang tamu di starking. Dan semuanya masih terdiam rapih di pojokan kamar. Belum ku cuci!” Binwoo mencubit pipi Onnienya gemas.

“Dasar pemalas! Ya sudah pakai saja pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja kok repot? Bukankah biasanya juga kau selalu meminjam pakaianku??”

“Omo~ Saranghaeyo dongsaeng-ah..!!” Chaeyoung menatap Binwoo penuh haru, lalu bersiap memeluknya, namun Binwoo langsung menutup pintu kamar mandi sebelum ia memeluknya.

“Arraseo Onnie!! Cepatlah siap-siap!! Nanti Ahjumma keburu sampai!”

“Okeh!!!” Chaeyoung langsung berlari masuk kedalam kamar Binwoo yang berada di paling pojok apartemen mereka, dan segera memilih pakaian yang ada disana. Setelah menemukan dress yang biasanya sering ia pinjam, ia langsung berganti pakaian dan berdandan anggun. Seperti bukan dirinya sendiri. Fikirnya. Karena memang selama ini ia memang terkenal sebagai leader dan anggota MIINA yang paling tomboy di antara ketiganya.

Drrt.. Drttt…

Ponselnya berdering.

Begitu selesai berbicara di telepon ia langsung berlari turun keluar apartmen setelah sebelumnya berpamitan dengan Binwoo yang masih sibuk di dalam kamar mandi.

“Omo~ Berdandan begini kan terlihat lebih cantik!” puji Appanya begitu melihat penampilan Chaeyoung yang berbeda dari biasanya, kerena biasanya ia selalu berdandan cuek dan berpenampilan seadanya jika bukan di acara-acara tertentu yang menuntutnya untuk berdandan demikian.

“Kita mau kemana? Kenapa aku harus berdandan seperti ini??”

“Nanti juga kau akan tahu! Tapi, sebelumnya mianhae, Chaeyoung-ah. Penampilanmu kali ini sepertinya mesti kembali dirombak. Karena kita harus ke salon sekarang untuk facial!” seru Eommanya lagi, sementara Chaeyoung mengumpat dalam hati. Tau begini ia tak akan berdandan habis-habisan kalo akhirnya tetap ke salon juga!

Binwoo yang baru selesai mandi langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Betapa kagetnya dia begitu melihat keadaan kamar yang bercat serba pink itu, yang tadi pagi sudah rapih sekarang malah jadi kapal pecah!!

“ONNIE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya kesal. Sementara itu di dalam mobil, Chaeyoung yang sedang asik mendengarkan musik di I-touchnya tiba-tiba saja bersin.

“Hatchi~~~ Omo. Siapa yang sedang membicarakanku??” gumamnya sambil mengelap hidungnya dengan tissue.

Setelah lama berkutat di salon dan menyinggahi beberapa butik langganan Eommanya. Mereka segera menyusul Appanya yang tadi kembali lagi ke kantornya di gedung pemerintahan *Appa Chaeyoung seorang Diplomat*, kemudian pergi ketempat perjamuan makan malam. Sepanjang jalan, Eomma dan Appa Chaeyoung terus saja mewanti-wanti Chaeyoung agar bersikap LAYAKNYA seorang WANITA pada saat makan malam berlangsung. Sesampainya di hotel bintang 5 yang ia yakini bahwa hotel ini merupakan pilihan Appanya, mereka langsung turun dan berjalan menuju restaurant yang ada di lantai dasar.

Sepanjang acara, Chaeyoung terus saja memperhatikan namja yang ada di hadapannya, yaitu namja yang selama ini relah menjadi musuh bebuyutannya sejak ia masih menjadi TRAINEE dan masih duduk di bangku SMA, dengan tatapan sebal.

“Kenapa dunia ternyata sesempit ini??” umpatnya dalam hati, begitu orang tua mereka memberitahu bahwa mereka bersahabat. “Kenapa harus dia?” umpatnya lagi.

Dan yang lebih tak masuk di akal baginya dalah saat mengetahui kenyataan bahwa namja yang ia benci selama ini adalah orang yang akan djodohkan padanya.

“MWO???? Perjodohan!??” kali ini Chaeyoung yang tak terima, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya. Sementara mereka hanya menatapnya dengan tatapan –tenang-saja-Chaeyoung-ah-. Seketika kepalanya pusing, kedua kakinya seolah sudah tak kuat lagi untuk menahan bobot tubuhnya dan akhirnya, ambruk. Namun sialnya saat ia akan terjatuh, kepalanya malah terantuk lengan kursi.

Di tempat lain…

Berhubung hari masih sore, setelah syuting we got merried usai, Chaehyun memutuskan untuk pergi kesuatu tempat yang terletak di atas bukit. Ia pergi seorang diri dengan menggunakan taxi, karena tak ingin di ganggu oleh siapapun. Perlahan, ia berjalan mendekati sebuah makam yang hanya ada satu-satunya disana, sambil menggenggam erat sebuah buket bunga lily, kesukaan ayahnya.

Chaehyun membungkukkan badannya sambil memberikan penghormatan kepada ayahnya, lalu meletakkan buket bunga tersebut di depan nisan yang memasang foto ayahnya.

“Appa, annyeonghasaeyo. Apa kau tenang disana?” sapanya sambil mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas makam ayahnya itu. Kemudian mencurahkan semua isi hatinya kepada makam ayahnya itu. Sejak dulu, Chaehyun memang sangat dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan Eommanya yang sekarang sudah menikah lagi dengan seorang konglomerat berkewarganegaraan asing setahun yang lalu, tepat pada saat peringatan dua tahun ayahnya. Mengingatnya membuat hati Chaehyun sakit. Selama ayahnya masih hiduppun, Eommanya tidak begitu dekat dengannya dan seolah memberikan jarak antara mereka berdua. Maka dari itu, Chaehyun sangat dekat dan menyayangi Appanya, dan dapat mencurahkan semua isi hatinya kepadanya, sampai akhirnya kanker otak yang selama ini di derita Appanya merenggut nyawanya tepat pada saat hari ulang tahun Chaehyun. Akibatnya, ia sangat membenci hari ulang tahunnya. Dan tak ada yang tahu tanggal ulang tahunnya kecuali pihak keluarga, kantor dan catatan sipil. Bahkan member MIINA yang lain pun tak ada yang tahu. Ah, dan Kyuhyun tentunya, karena mereka sudah berhubungan lama, bahkan sebelum Appanya meninggal. Tanpa sadar air mata mulai membasahi pipinya yang tirus. Dan lama kelamaan tangisannya berubah menjadi raungan. Ia menangis sejadi-jadinya sambil berjongkok di depan makam ayahnya itu.

“Appa.. Ottohke?” gumamnya lirih.

“Ottohke?? Bahkan Kyuhyun Oppa pun tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku… Padahal… padahal.. Selama ini ia yang selalu mengingatkanku walau aku sudah katakan tak ingin mengingatnya.. ” ujarnya di tengah isakkannya yang semakin menjadi. “Ia bahkan se- sepertinya .. sudah tak ingin menemuiku lagi..”

“Ottohke, Appa?? Eomma sudah semakin tak pernah peduli lagi padaku.. Ia bahkan sudah tak pernah pulang kerumah kita.. Jangankan pulang.. Menelpon untuk sekedar memberi kabarpun tak pernah…” Chaehyun menghapus air matanya dangan sebelah telapak tangannya, membuat dandanannya kacau balau. Maskaranya kini luntur dan mengotori sebagian wajahnya. Tapi ia tak peduli.

“…Appa.. Ottohke?? Aku sudah tak sanggup lagi hidup di dunia ini… ” Chaehyun membenamkan kedua wajahnya ke dalam lutut. “Ottohke??”

“Appa.. Saranghaeyo..” lirihnya lagi, sambil mengecup foto ayahnya yang terpajang di batu nisan. “Jeongmal saranghaeyo Appa..”

Tiba-tiba,, tanpa sepengetahuannya ada sesosok pria berpakaian serba putih tersenyum kearahnya lalu memegang pundaknya pelan. Seketika, Chaehyun merasakan dingin disekujur tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh, mengitarkan pandangannya kesekeliling, tak ada orang.

“Appa… Kau kah itu??”

“…”

“Appa??? Jika ini benar kau.. Biarkan aku menemuimu sekali saja.. Jebal..” lirihnya sambil terus menatap ke sekeliling.

“…”

“Appa??” tanyanya sekali lagi, namun tetap tak ada jawaban. Hari semakin gelap, Chaehyun memutuskan untuk segera pergi darisana, karena disana tidak terdapat satupun alat penerangan, jadi ia segera pulang sebelum gelap dan ia tidak akan bisa pulang setelah itu, karena kendaraan umum jarang lewat sana. Beruntung, saat ia baru sampai ke pinggir jalan, ada sebuah taxi kosong yang melintasinya, dan ia pun segera pergi dengan menggunakan taxi tersebut.

Dari kejauhan, sosok putih tersebut melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum.

“Namsan tower, ahjussie.” Katanya pada supir taxi begitu ia duduk di dalamnya.

“Namsan tower,” ulangnya lagi pada GPS yang terpasang disamping stirnya.

Sepanjang jalan Chaehyun hanya diam seribu bahasa sambil memandang keluar jendela. Ia langsung membersihkan dan membrsihkan dandanannya yang sempat kacau balau begitu menyadari penampilannya lewat kaca spion. Sementara si supir taxi cekikikan sendiri melihatnya.

“59500won, aggassi”  ucapnya begitu mereka sampai di Namsan Tower. Chaehyun langsung membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar won.

“Ambil sajakembaliannya, ahjussie,” ujarnya sebelum keluar dari taxi, disambut ucapan terimakasih dari si supir.

Malam itu suasana di Namsan Tower lebih ramai dari biasanya, ya tentu saja, karena malam ini adalah malam minggu, jadi banyak orang yang datang kemari baik seorang diri, bersama teman, pasangan, ataupun keluarganya. Chaehyun tersenyum kecil, lalu mengenakan kacamata hitam yang selalu ada di tasnya, untuk menghindari orang-orang yang mungkin mengenalinya. Setelah sampai di atas, ia langsung menikmati pemandangan indah kota Seoul di malam hari. Entah mengapa, ia selalu merasa tenang jika berkunjung kemari. Mungkin itu karena Appanya selalu mengajaknya kemari saat ia masih kecil.

“Ahhh..” Chaehyun menarik nafas kecil lalu tersenyum lebar saat melihat pemandangan indah yang tersedia lewat teropong yang digunakannya.

“Oppa!! Ah,, ayo, kita pulang saja!” seru sebuah suara yang tak sing di telinganya. Chaehyun melepaskan pandangannya dari teropong yang sedari tadi menyita perhatiannya kepada sepasang kekasih yang kini sedang berdiri di dekat lift.

“Binwoo-ah. Kenapa?? Aku kan masih mau lihat lagi,” keluh Yesung yang tangan kirinya sibuk di tarik Binwoo untuk ikut masuk kedalam lift.

“Ah.. Shireo! Aku lapar Oppa! Lagi pula Eomma sudah pesan agar kita berdua sampai dirumah sebelum makan malam!” Binwoo memasang tampang memelas, yang akhirnya sukses membuat Yesung menuruti perintahnya, dan menghilang berdua di balik lift. Chaehyun tersenyum geli, lalu mengeleng-geleng kecil.

“Ada-ada saja ulah mereka berdua,” fikirnya dalam hati lalu kembali mengalihkan pandangannya pada teropong yang ada dihadapannya, damapi akhirnya sudut matanya menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Chaehyun langsung mwnatap mereka dari kejauhan.

“Oppa, kesana!!” ucap seorang gadis berambut pendek yang berpakaian kasual dan sebuah topi merah muda di atas kepalanya, sambil menggandeng lengan Kyuhyun mesra. Sementara Kyuhyun hanya menurut. Penasaran. Chaehyun terus membuntuti mereka berdua sambil tetap menjaga jarak. Mereka berdua berdiri berdampingan di sebuah sudut sambil menikmati view kota Seoul lewat teropong yang ada di hadapan mereka. Sesekali mereka saling meledek satu sama lain, mesra, dan selalu saja di akhiri dengan cubitan gemas di pipi gadis itu. Chaehyun menatap mereka dari balik pot besar dengan tatapan nanar.

Merasa tak kuat, ia langsung berbalik pergi dan tanpa sadar menjatuhkan ponsel pemberian Kyuhyun yang sedari tadi selalu di genggamnya,lalu segera pergi menghilang entah kemana.

*_*

 

*Kyuhyun POV*

“Ya! Mau kemana kita hari ini, Chagiya??” godaku pada yeoja yang sedang asik berdandan di depan cermin kamarnya. Ia melirikku sekilas, lalu kembali sibuk memilih topi yang ada di hadapannya, hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah topi GAP berwarna merah muda. Sekilas kuperhatikan topi itu mirip dengan kepunyaan salah seorang member di grup ku, tapi siapa ya? Aku lupa.

“Bagaimana kalau kita ke sungai Han saja Oppa? Main layangan, lalu kita ke Namsan Tower. Sudah lama sekali aku tak kesana. Otte?” jawabnya dengan wajah berbinar.

“Omo~ Main layangan?? Kau tak takut hitam apa?? Siang-siang begini malah mau main layangan? Kau saja sendiri, aku tak mau!”

“Aigoo~ Aku sudah kebal dengan kulit hitam! Kau tau sendirikan cuaca di Indonesia seperti apa? Buktinya aku masih punya kulit seputih ini, haha,”  pujinya pada diri sendiri, aku melirik kulitnya yang memang putih mulus seperti yang ia katakan. “Otte?? Jebal… Ya, Oppa?? Ok. Ok??”

“Aishh.. Arraseo!” kataku pada akhirnya. Ia langsung mengamit lengan kiriku manja, sampai kami berdua masuk kedalam sedan hitamku.

Sesampainya kami di tepi sungai Han, sesuai yang ia inginkan tadi, kami berdua bermain layangan. Untung saja aku sudah memakai kacamata dan topi serta pakaian yang tidak terlalu mencolok, jadi sepertinya mereka tak menyadari kehadiranku.

“Oppa.. LAPARRR!!!!” keluhnya sambil memegangi perutnya yang sudah berisik minta di isi, begitu kami berdua lelah bermain layangan.

“Mau makan apa??”

“Molla. Terserah kau saja. Aku sudah tak ingat tempat-tempat yang ada disini,” ujarnya sambil memandang lurus kearah sungai.

“Arraseo,” aku bangkit dari dudukku lalu menarik tangannya agar ia juga ikut bangun dari duduknya, “Ayo kita makan!!”

“Otte? Enakkan?” tanyaku begitu ia mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya. Kulihat wajahnya memerah menahan pedas, lalu segera meneguk air minum sebanyak-banyaknya saking tek kuatnya menahan pedas. Aku tertawa melihatnya.

“Ya! Kau ini sudah tau aku tak suka pedas! Malah kau pesankan yang pedas!!” protesnya sambil mengiba-ngibaskan tangan di depan bibirnya yang sedikit membengkak akibat pedas. Setelah dari sungai Han tadi, aku lansung mengajaknya ke sebuah rumah makan yang menyediakan jajangmyeon, makanan favoritku, yang terkenal paling enak di Seoul. Aku sebenarnya memang tau bahwa ia tak kuat makan pedas, tapi entah kenapa tadi ide jahil ku mucul begitu saja, jadi aku dengan sengaja memberikan jajangmyeon super pedas pesananku padanya, sementara jajangmyeon yang seharusnya miliknya, yang tidak pedas, aku yang memakannya. Aku tertawa keras.

“Aigoo~ Mianhae.. Mianhae.. Ini pesananmu, Chagiya.” Kataku sedikit bersalah kerena membuatnya menangis kepedasan, sambil menukar mangkok makanan kami.

“Tega sekali kau Cho Kyuhyun!! Dasar EVIL!!”

“Ahaha..” aku terkikik geli, aku memang EVIL kok. Haha. Ia kembali meneguk air putih yang ada di hadapannya lalu menyantap makanannya yang sudah kembali ku tukar. Kali ini ia memakannya dengan tenang, tanpa keributan seperti tadi. Melihatnya aku jadi teringat seseorang.

“Ya! Cepat habiskan makananmu! Lalu kita langsung ke Namsan Tower!” pekiknya lagi begitu menelan habis jajangmyeon yang tersisa di tenggorokkannya.

“Arra.. Arra, nae chagy..” jawabku sambil dilembut-lembutkan. Ia melirik kearahku lalu mendengus sebal.

@Namsan Tower..

Hari sudah gelap begitu kami sampai di Namsan Tower, karena setelah makan jajangmyeon tadi, ia malah lebih tertarik untuk mampir sebentar di sebuah Game centre yang kami lewati saat akan menuju Namsan Tower. Akibatnya, tanpa sadar kami menghabiskan waktu kurang lebih selama dua jam di dalam sana. Tapi, ada bagusnya juga. Karena mengunjungi Namsan Tower memang lebih bagus jika malam hari, karena pemandangan yang disajikan jauh lebih indah di banding siang hari.

“Oppa.. PPALI!!” teriaknya sambil menarik lengankiriku untuk segera masuk kedalam lift.

“Oppa, kesana!!” ucapnya lagi sambil mengamit lengan kiriku begitu pintu lift terbuka. Kami berdua mengambil tempat di salah satu suduk yang agak sepi dari kerumunan agar aku dapat melepas kacamata dan topiku dan melihat pemandangan kota dengan lebih leluasa. Sesekali, kami saling bercanda dan tak jarang aku mencubit pipinya gemas.

“Indah ya.. Andai saja aku bisa kesini dengan Appa dan Eomma,” gumamnya lirih lalu menunduk. Sepertinya menahan tangis. Aku mengelus punggungnya pelan, lalu menariknya dalam dekapanku.

“Sudah malam. Kajja!” serunya sambil berjalan duluan, meninggalkanku. Aku tersenyum kecil, lalu berjalan menyusulnya sambil memasang kacamata dan topi sebelumnya.

SRETT…

Aku merasa seperti tak sengaja menendang sesuatu. Ku arahkan pandanganku kelantai. Dan benar saja. Sebuah ponsel yang bentuknya mirip dengan milikku. Kupungut dan kuperhatikan ponsel itu dengan seksama. Betapa terkejutnya aku begitu melihat foto yang terpampang di layarnya.

“Chaehyun??” Aku megedarkan pandanganku kesekeliling. Tak ada sosok yang kucari. Kupandangi ponsel yang ada di genggamanku ini, denagn rasa penasaran langsung kubuka ponselnya. Tak salah lagi. Ini milik Chaehyun! Ponsel yang sengaja kuberikan padanya sebulan yang lalu, ponsel khusus kami berdua.

“Oppa, wae gurae!? Ppali!!” teriaknya sambil berkacak pinggang.

“N-ne,” jawabku singkat lalu berjalan menghampirinya setelah sebelumnya mengmankan posel itu dalam saku jaketku.

*_* 

*Minho POV*

“Neo!!!” Pekik kami bersamaan sambil saling menunjuk satu sama lain.

“YA!” aku bangkit dari dudukku, menatapnya tajam. “Sedang apa kau disini, heh??”

“Ya!! Sopan sedikit bicaramu!!” katanya seraya menangkis telunjuk kananku yang masih menunjuk kearah wajahnya. Sementara yang lain menatap kami dengan tatapan bingung.

“Omo~ sepertinya, mereka sudah saling kenal, hoho” Ujar Eomma diiringi tawa ala mak lampirnya.

“Ehmm.. “ Appa berdehem pelan, “Duduklah,” lanjutnya. Aku dan Yeoja yang ada dihadapanku ini langsung menurut dan duduk di tempat duduk masing-masing, dan SANGAT kebetulan sekali, bangku kami berhadapan. Aku mendengus sebal, sementara ia menatapku tajam.

“Tenangkan sedikit bicaramu, Minho-ah,” Jonghun hyung berbisik pelan.

“Tapi..”

“Ssst..” kali ini Leeteuk hyung yang memberi isyarat untuk diam.

“Dasar namja menyebalkan. Tak tau sopan santun,” cibir yeoja itu sambil menjulurkan lidah ke arahku. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati karena Appa terus menatap kearahku. Arrgh!!! Menyebalkan!!

“Sepertinya anak kita sudah saling kenal, Choi Hyunjoong-ssi,” ucap Kim ahjumma sambil tersenyum penuh arti kepadaku. Ada apa ini??

“Ne. Sepertinya begitu. Ah, iya, sampai lupa,” Appa bangkit dari duduknya dan berdiri menatap kearah kami. “Perkenalkan, ini istriku, Choi Sooyeon, dan mereka adalah anak dan menantuku,” Tuan dan nyonya Kim mengangguk paham, sementara ‘dia’ hanya sesekali melirik, seolah tak peduli.

“Yang duduk disamping istriku adalah, Hyerin, anak bungsuku, sementara yang disebelahnya adalah Park Joongsoo, suaminya, pasti kalian sudah mengenalnya kan?” tambah Appa lagi, kulihat Kim ahjumma terlihat tertarik dengan sepasang pengantin muda ini karena ia langsung memuji Hyerin yang katanya sangat serasi dengan Leeteuk hyung. Sementara ‘dia’ langsung berdiri dan menoleh kearah Leeteuk hyung, sambil menyunggingkan senyum ramahnya. Cikh~ sebal sekali aku melihatnya.

“Dan yang duduk di ujung sana,” Appa menunnjuk Jonghun hyung yang langsung berdiri dan membungkuk ramah pada mereka, “adalah Jonghun, anak sulungku.” Tambahnya.

“Ah, Annyeonghasaeyo, Jonghun-ah. Kau sangat tampan seperti ayahmu,” puji Kim ahjussie sambil tersenyum lebar. Jonghun hyung hanya membalas senyumnya sekilas lalu kembali duduk, setelah sebelumnya membungkuk sopan.

“Dan yang di sebelahnya, adalah Minho. Anak keduaku. Tak kalah tampan bukan??” pujinya sambil memandangku dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Apa-apaan ini?? Membuat bulu kudukku berdiri seketika. Kulihat, mereka berdua tersenyum puas.

“Dan anak-anak, mereka ini adalah Kim ahjussie dan Kim ahjumma. Kim Ryujin-ssi adalah sahabat Appa kalian dulu, saat menjalani wajib mliter. Sementara yang duduk disebelah mereka ..” jelas Eomma, namun langsung dipotong oleh Kim ahjussie, karena ia langsung menyuruh ‘dia’ untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Eomma langsung tersenyum kecil.

“Annyeong hasimnikka, Choneun, Kim Chaeyoung imnida,” katanya sambil membungkuk sopan, kemudian kembali duduk.

“Omona~ Kau semakin cantik Chaeyoung-ah,” puji Eomma, yang disambut senyuman SUPER manis darinya. Membuatku muak saja melihatnya.

“Dan kau sudah semakin pantas untuk menjadi menantu di keluarga kami,” lanjutnya lagi, yang sontak membuat kami semua –aku, hyung, Hyerin dan Chaeyeong- melotot tak percaya kearahnya. Hyerin bahkan tersedak minuman yang sedang diminumnya, dan langsung terbatuk-batuk karena kehabisan nafas. Leeteuk hyun langsung menepuk-nepuk pundaknya pelan.

“MWO-YA!?? PERJODOHAN LAGI!!??” pekiknya tertahan akrena nafasnya masih terasa sesak, sementara matanya memerah dan mulai mengucurkan air mata akibat sesak yang di deritanya tadi. Appa langsung menatapnya datar.

“MWO???? Perjodohan!??” kali ini Chaeyoung yang tak terima, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya. Sementara mereka hanya menatapnya dengan tatapan –tenang-saja-Chaeyoung-ah-.

“Iya,” jawab Appa tenang. Sementara semua mata kini menatap kearahnya. “Kami akan menjodohkanmu dengan Minho, Chaeyoung-ah.” Lanjutnya lagi, yang sukses membuat Chaeyoung terkapar lemas kelantai, setelah sebelumnya kepalanya terantuk pegangan kursi yang didudukinya sebelum ia benar-benar terjatuh.

“Omo~ Chaeyoung-ah!!” pekik Kim ahjumma histeris. Kini semua orang langsung mengerumuninya yang terbujur lemas di pangkuan Kim ahjumma. Sementara aku masih terdiam di posisiku semula. Otakku kosong. Aku sudah tak bisa berfikir apa-apa lagi. Kecuali satu hal. Yang ada di otakku saat ini hanya ada satu kata. PERJODOHAN. kenapa lagi-lagi masalah itu??? Dan kali ini aku yang terkena akibatnya. Seketika aku teringat perkataan Eomma saat sebelum pernikahan Hyerin.

 “Ya! Jangan tertawa kau, Minho! Asal kau tau, Appamu juga berniat ingin menjodohkanmu dengan salah satu anak relasinya, tau!”

“Jadi.. Inikah maksud perkataannya saat itu?? Perkataan yang selama ini hanya ku fikir sebagai gurauan Eomma, yang bertujuan hanya untuk menakut-nakutiku??? Tapi,,, Kenapa mesti aku!?? Kenapa harus aku?? Kenapa tidak Jonghun hyung saja, yang nyatanya memang lebih tua usianya dariku!?? Kenapa aku!??? Dan kenapa mesti dengan gadis itu!!!!???” ujarku lirih, sambil memandangi Hyerin yang kini sedang sibuk disafarkan dengan minyak angina oleh Eomma,

“Ya. Choi Minho!” seru Leeteuk hyung, membuyarkan lamunanku. Aku memandangnya nanar. ”Cepat kemari!” tambahnya lagi.

“Minho-ah! Ppali! Untuk apa kau diam seperti itu!?” kali ini Eomma yang memanggilku, dengan tatapan ganasnya. Aku mendengus sebal, lalu menghampirinya. Kulihat, Chaeyoung sudah mulai siuman.

“Kepalaku sakit,” lirihnya sambil memegangi jidatnya yang memar akibat terantuk tadi. Aku menatapnya geli sambil menahan tawa, tapi Jonghun hyung langsung menyikut perutku agar diam. Perih rasanya!

“Ini, minumlah,” Appa menyodorkan segelas air putih padanya. Ia menurut, dan meminumnya sedikit.

“Gwenchana??” tanya Kim ahjumma lembut.

“Pusing, eomma.”

“Ah, baiklah. Kalau begitu kau pulang saja dulu kerumah, jangan ke dorm dulu. Tapi, bagaimana ya? Appa dan Eommamu harus segera berangkat ke busan malam ini. Kau tak apa-apa tinggal sendiri dirumah??” Kim ahjussie menatapnya, prihatin.

“Gwenchana, Appa. Aku pulang ke dorm saja,” tolaknya halus.

“Andwee! Di dorm kan sedang tidak ada orang malam ini. Kedua dongsaengmu kan sedang pulang kerumah masing-masing. Nanti yang ada sama saja kau sendirian dirumah!” larang Kim ahjumma tegas. Sementara kami semua hanya bisa menonton mereka dalam diam. Sampai akhirnya Eomma angkat suara.

“Bagaimana kalau malam ini, Chaeyoung-ah menginap saja di tempat kami?” tawarnya, dan dibalas anggukkan Appa. Apa-apaan ini!??? Aku mengerutkan jidat tanda tak setuju. Tapi sepertinya, anggota keluargaku yang lain malah tak sependapat denganku, dan malah semakin meyakinkan keluarga Kim untuk menyetujui usulan Eomma.

“Ah, baiklah, kalau begitu. Chaeyoung-ah, kau menginaplah dulu di tempat keluarga Choi, ya?”

*_*

*Hyerin POV*

“Onnie, minumlah,” aku menyodorkan segelas susu hangat kepada Chaeyoung onnie yang kini sedang duduk menyandar di tempat tidur, di kamar Minho Oppa.

“Gomawo Hyerin-ssi,” jawabnya sopan sambil meneguk susu yang kuberikan.

“Ne, cheonmanaeyo onnie,” ucapku seraya keluar meninggalkannya sendirian di dalam kamar untuk beristirahat. Tadi, sepulang dari acara jamuan yang ternyata merupakan acara perjodohan terselubung, Chaeyoung Onnie benar-benar dipaksa untuk menginap dirumah kami karena keadaannya yang sedang kurang sehat. Namun karena dirumah kami hanya ada 5 kamar, 4 kamar diantaranya dipakai dan yang 1 masih direnovasi, akibatnya ia dipaksa tidur di kamar Minho Oppa, sementara si pemilik kamar mengungsi ke kamar Jonghun Oppa. Sementara Jonghun Oppa yang tak tahan panas malah memilih untuk tidur di sofa yang ada di ruang tengah karena ac yang ada di kamarnya rusak.

Sebenarnya Chaeyoung onnie bisa saja tidur bersamaku, sementara si AHJUSSIE itu tidur dengan Minho atau Jonghun Oppa. Namun Appa melarangku, karena aku diperingatkan untuk menjadi istri yang baik. Apa maksudnya itu? =.=?

“Ini, Oppa,” aku memberikan selimut tebal bermotif kotak-kotak kepada Jonghun Oppa yang sedang mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya di atas sofa.

“Gomawo, dongsaeng,” katanya sambil tersenyum lembut. “Masuklah, kasian Leeteuk hyung, kesepian.” Tambahnya lagi sambil tersenyum jahil.

“Aigoo~ Ne, Oppa arraseo!” jawabku sebal.

keesokan paginya

“Ya!! Ahjussie. IRONA.. PPALI!!!” teriakku sambil menarik-narik selimut yang masih menggulung tubuhnya. Kulirik jam weker yang ada di meja belajar, sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, tapi namja yang ada di hadapanku ini tak kunjung bangun dari tidurnya, sedangkan aku saja sudah mandi dan berpakaian rapih. Padahal semalam ia sendiri yang minta untuk dibangunkan jam segini.

“YA!!!!! IRONA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku sebal sambil menarik selimut yang menggulung seluruh tubuhnya sekuat tenaga, sampai-sampai ia ikut terjungkal ke lantai.

“Aishh.. Bisa tidak sih membangunkanku dengan baik-baik saja???” dengusnya sebal, sambil memegangi punggungnya yang kesakitan.

“YA!! Kau itu sudah segala cara ku kerahkan hanya untuk membangunkanmu! Tapi, hanya dengan cara ini kau bisa bangun!!”

“Aishh.. Arra.. Arra.. Aku mandi dulu!”

di balkon

Chaeyoung yang sudah terbangun dari tidurnya sejak pagi, langsung berjalan menuju balkon yang ada di dekat ruang santai sambil menghirup udara pagi yang terasa masih sejuk. Perlahan ia merentangkan kedua tangannya lalu menutup mata, seolah ingin merasakan hembusan angin yang menerpanya, lembut.

“Cikh~ Sedang apa kau!? Mencoba menjadi Rose dalam film TITANIC, huh?” ucap seorang namja yang kini berdiri tak jauh darinya sambil memegang mug berisi susu hangat. CHaeyoung membuka kedua matanya lalu menatapnya kesal.

“Kau lagi. Kenapa nasibku begitu sial karena selalu dipertemukan olehmu??” balas Chaeyoung cuek sambil meregangkan kedua tangannya. Minho menatapnya dengan tatapan aneh, lalu kembali meneguk isi dalam mugnya.

“Sudahlah, aku sedang malas berdebat pagi-pagi seperti ini, apalagi denganmu,” Minho langsung berbalik, kemudian  menunjuk dahi Chaeyoung dengan jarinya, sementara jarak anatara wajah mereka berdua hanya terpaut 2cm. Seketika, dirasakan wajah keduanya memanas.

“Ah, aku sarapan dulu,” Ucap Chaeyoung begitu ia bisa menguasai keadaan, dan langsung melengos turun kebawah sementara Minho hanya mengangguk-angguk tak jelas.

“Minho, kau yang mengantar Chaeyoung sampai dorm dengan selamat, ya!” perintah Eomma begitu Chaeyoung berniat untuk pamit pulang. Dan kebetulan saat itu dirumah hanya ada aku, Eomma, dan Minho Oppa, serta Chaeyoung Onnie sendiri, sementara Leeteuk dan Jonghun Oppa sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya, sementara Appa, tadi pagi ia mendadak mendapat panggilan untuk segera ke Mokpo. Entah untuk urusan apa.

“Anni, Ahjumma. Tak usah. Aku bisa naik taksi,” tolaknya halus. Namun Eomma tetap memaksa, hingga akhirnya ia mau untuk di antarkan Minho Oppa sampai dorm.

“Ah, iya. Hyerin-ah. Bukankah kau jadwal TRY OUT hari ini??” Ucap Eomma begitu Minho dan Chaeyoung Onnie sudah menghilang dari hadapan kami.

“Omo~” aku menepuk jidat pelan. “Ne, eomma. Aku lupa!” secepat kilat aku masuk kedalam kamar lalu memasukkan semua barang yang aku butuhkan ke dalam tas, kemudian kembali turun kebawah dan segera pergi ke sekolah setelah berpamitan pada Eomma.

Jarak dari rumah hingga sampai di sekolahku cukup jauh, dan biasanya aku diantar oleh Appa, atau si AHJUSSIE, namun karena keduanya tak ada dirumah saat ini, aku terpaksa naik bus.

Cukup lama aku berlari hingga akhirnya sampai di halte terdekat dari rumahku. Tapi sial! Bus-nya baru saja lewat! Dan dan bus selanjutnya baru sampai sekitar 10 menit lagi. Satu-satunya jalan agar aku tak terlambat sampai disekolah hanya dengan naik taksi!

“Taksi!!” pekikku setiap ada taksi yang lewat. Namun tak ada satupun yang menghentikan taksinya. Sial!! Tak mau kesiangan, aku nekat berlari hingga stasiun subway yang ada 4 blok dari tempatku sekarang. Sesekali ku pandangi jam tangan yang terpampang di tangan kiriku. Lima belas menit lagi, atau mati! Aku tak mau mengambil resiko pada ujian TRY OUT terakhir, kali ini. Aku tak ingin gagal karena terlambat!

Saat aku berlari sekuat tenaga, tiba-tiba saja ada sebuah van hitam, berhenti dan memblock jalanku. Aku bergidik panic. Namun rasa panikku segera hilang begitu salah satu pintu terbuka dan ku melihat sosok namja yang sangat ku kagumi.

“Oppa!” pekikku riang, sementara Heechul Oppa hanya tersenyum seadanya.

“Kau mau kemana Hyerin-ah? Ayo ikut!” tawarnya sambil bergeser ke bangku di sebelahnya. Tanpa basa-basi aku langsung masuk kedalam van hitam itu, lalu duduk di tempat yang sebelumnya di duduki olehnya.

“Aku mau ke sekolah, Oppa. Hari ini, adalah TO terkahir, sebelum akhirnya UN minggu depan,” jelasku begitu van yang kami tumpangi mulai berjalan.

“Sekolahmu dimana??”

“Paran Senior High School.”

“Arraseo,” ia mengangguk kecil lalu menoleh kearah supir yang sedang sibuk menyetir. “Paran SHS, ahjussie,” ujarnya, yang dibalas anggukan dari si supir.

“Gomawo, Oppa.” Aku membungkuk kecil.

“Cheonmanaeyo~” balasnya sambil bersenandung, lalu kembali menatap layar ponsel yang sedari tadi tak luput sedikitpun dari genggamannya. Aku merasa bosan sendiri, lalu ikut-ikutan mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ku kantongi di saku celanaku, dan mulai membuka twitter. Sekilas kurasakan, Heechul Oppa menatap ke arahku. Tapi, ku acuhkan karena asik ber-retwittan dengan Eunmi yang ternyata sudah sampai di sekolah.

“Omo~ Twitter kah??” pekiknya riang. Aku mengangguk pelan.

“Omo~ Omo~ Follow me.. Follow me..” Heechul Oppa menyanyikan salah satu lirik yang ada pada salah satu part lagu Beep po Beeep milik T-ara. Aku memandangnya denagn tatapan bingung. “Ya! Kenapa kau diam saja?? Ppali…follow aku!”

“Ah?? Aku sudah lama jadi followersmu Oppa,” jawabku lemas.

“Omo? Jincha-yo??” tatapnya tak percaya. Aku mengangguk lemas.

“Ah,, Mianhae, aku tak tahu.. Ini,” Heechul Oppa menyodorkan I-phonenya padaku. “Tolong tulis user name-mu. Akan ku Foolback!^^”

*_*

 

Aku segera berlari menyusuri lorong menuju kelasku, begitu van yang ku tumpangi berhenti di depan gerbang sekolahku tepat pada saat bel pertanda tes segera di mulai, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Heechul Oppa. Gotcha! Aku sampai di depan kelas tepat sebelum pengawas masuk ke dalam ruangan. Aku langsung masuk dan duduk di bangku yang sesuai dengan nomor ujianku. Try Out kali ini memang sengaja di adakan pada hari minggu, karena mulai hari senin sampai satu minggu kedepan, kami, seluruh siswa kelas tiga akan menghadapi minggu tenang sebelum akhirnya menghadapi UN yang sesungguhnya.

“Hyerin-ah!!” panggil seseorang dari belakang saat aku baru akan keluar gedung sekolah untuk pulang. Aku menghentikan langkahku lalu berbalik sambil tersenyum begitu kulihat Eunmi melamba-lambai kearahku, sementara ku lihat Hyunjae berjalan di belakangnya.

“Ah, Eunmi-ah, Hyunjae-ah,” sapaku sambil tersenyum begitu mereka berdiri dihadapanku.

“Oedigaeyo?? *mau kemana??*” tanya Hyunjae ramah.

“Pulang,” jawabku singkat.

“Andwee! Kita makan dulu!!” sergah Eunmi yang langsung menyambar lengan kiriku dan memaksaku untuk pergi bersama mereka berdua menuju Hyundai Dept. store untuk makan di café favorit Eunmi, dengan menggunakan taksi. Tanpa persetujuanku lebih dulu. Sesampai didalam café, Eunmi langsung memesan untuk kami bertiga, dan lagi-lagi tanpa persetujuan dariku. Tapi berhubung dia bilang bahwa dia yang akan membayar semuanya, aku tak bisa bicara apa-apa.

“Ah, iya, Hyunjae-ah, sebenarnya apa hubunganmu dengan Kyu Oppa?” tanyaku penasaran. Kulirik Eunmi yang duduk disebelahnya langsung mendelik heran kearahku, lalu bergantian menatap Hyunjae yang malah asik menyesap vanilla lattenya.

“Kyu? Kyuhyun Super Junior maksudmu???” Aku mengangguk yakin, sementara Eunmi menatapku tak percaya.

“Jadi?? Sebenarnya ada hubungan apa diantara kalian berdua??”

Di tempat lain…

Chaehyun, Chaeyoung, dan Binwoo sampai di depan dedung apartment tempat dorm mereka berada secara bersamaan. Chaeyoung keluar dari mobil Minho yang langsung pergi meninggalkannya setelah ia turun, Binwoo datang bersama Yesung dengan membawa berbagai bungkusan di tangannya, sementara Chaehyun datang dengan mata sembab dan kelihatan sekali bahwa ia sedang kelelahan. Mereka langsung masuk ke dalam gedung, begitu Chaehyun memberikan isyarat bahwa ia tak apa-apa sebelum yang lain menanyakan yang macam-macam padanya.

Begitu mereka masuk kedalam dorm, Chaehyun langsung melengos ke dalam kamar mandi, sementara yang lain menatapnya dengan pandangan bingung.

“Sebenarnya ada apa dengan Chaehyun-ssi?” tanya Yesung begitu Chaehyun menghilang di balik pintu kamar mandi. Chaeyoung mengangkat bahu lalu pergi meninggalkan Binwoo dan Yesung yang sekarang sudah duduk di meja makan sambil membereskan bawaan mereka yang ternyata adalah makanaan yang di persiapkan Eomma-nya Binwoo, untuk mereka semua.

“Entahlah..” Binwoo angkat bahu. “Tapi, sepertinya Onnie habis ke tempat Appa-nya, karena biasanya ia selalu pulang dengan keadaan seperti itu tiap kali ia kesana.” Yesung mengangguk mengerti.

Dammdamm darammdam.. Darammdam..

Intro Sorry-sorry berbunyi nyaring dari balik saku celana Yesung. Tanpa basa-basi ia langsung mengangkatnya begitu melihat nama menejernya yang menelpon.

“Ah, hyung. Arraseo. Aku segera kesana sekarang.” Yesung menutup flap ponselnya lalu menaruhnya kedalam saku celana.

“Wae gurae?”

“Ah, mianhaeyo, chagiya, aku tak bisa ikut makan masakan Eommonim bersama kalian. Aku harus kembali ke kantor, karena ada sedikit masalah.”

“Ma-masalah? Masalah apa?” Binwoo menatap Yesung yang sedang memakai kembali sepatunya di dekat pintu.

“Entahlah. Ah ya, sampaikan salamku pada yang lain. Aku pergi dulu.” Yesung mengecup kening Binwoo sekilasa lalu berlalu keluar dorm. Sementara di ruang TV, Chaehyun lengsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil menyalakan tv lewat remote control yang ia temukan di samping sofa.

Tepat saat tv menyala, channel yang muncul pertamakali malah siaran infotainment, siaran yang paling tak disukainya, dan langsung berniat memindahkannya ke channel music. Namun, jarinya terhenti begitu melihat sebuah liputan yang sedang di perbincangkan oleh pembawa acaranya.

“Omona!” pekiknya, tak percaya. Binwoo yang mendengar pekikannya langsung menghambur kearahnya.

“Omo~” Binwoo menutup mulutnya tak percaya, begitu ia melihat tayangan itu. Chaehyun yang tak sengaja lewat saat akan masuk ke kamar, langsung menghentikan langkah dan menatap layar flat yang ada di hadapannya itu dengan tatapan nanar. Tayangan itu, sedang memperlihatkan rekaman dari seorang paparazzi yang tak sengaja menangkap basah Kyuhyun dengan seorang yeoja sedang asik bermain game di Game centre, dan tak hanya itu, tayangn itu juga memperlihatkan kedekatan mereka saat di Namsan Tower.  Chaeyoung dan Binwoo yang menyadari kehadirannya, langsung menatapnya dengan tatapan prihatin.

“Onnie.. ” Binwoo menghampiri Chaehyun yang kini mulai menitikkan airmata, lalu merengkuh tubuh Chaehyun dalam pelukannya. Chaeyoung langsung mematikan tv, dan menarik Chaehyun yang kini sudah menangis sesenggukkan untuk duduk di atas sofa.

“Onnie..” Binwoo membelai rambut panjang Onnienya itu, lembut.

“Apa kau sudah tau hal ini sebelumnya?” Chaeyoung memandang Chaeyoung dengan tatapn serius. Chaehyun mengangguk. Binwoo dan Chaeyoung menarik nafas berat.

“Aku melihat mereka kemarin,” jawabnya sambil sesenggukkan. Dengan sigap Binwoo langsung menghapus air mata yang membasahi Onnienya itu dengan tissue yang ada tak jauh darinya.

“Aku melihatnya…”

TBc..

Eitss…..

Tunggu dulu…

>>>tGu next part yya..

Jangan lupa di  cOMMent!!

~mRs.ChoiLee~

Iklan

20 thoughts on ““Merry Me” ~Part: fOur^^

  1. annyeong author , reader baru 😀
    maap baru koment gak dari part 1 :p

    nice ff , ada jaejin-nya dong, kekekekek~
    ditunggu lanjutnyah 😀

      1. sama-sama , lanjutan jangan lama-lama doong author.
        jonghun gak dijodohin kaan ?
        pengen tau kelanjutan si ahjussi [baca : teuk] *digaplok teuk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s