“Merry Me” ~part: 9

Annyeonghasaeyo yeorobeun~~~

sesuaiii pesanan~~ author datang mempbawa part 9
hohoho

kali ini MU curhat dkitt.. pass lagi bikin part ini author gga brenti” dgerin albumnya FT ISLAND
mana pas tengah malem pula, bgadang sambil nunggu saur *mklum pas bkin jaman” bulan puasa*
kkk~
Jadi… Author saranin yang blum dger… DENGERIN… yang blum donlot… DONLOT BRUAN!!
*maksa*
Soalnya untuk part kali ini kyy tu album ccok buat di jadiin OST’y.. *ceiilahh*
Hohoho *khususnya yg calluses being stuck
Oke b’hubung kbyakan ngomong…
CEKIDOT!!!

“Sebelumnya.. Cuma ngingetinn ni Cuma FF.. Cuma fiksi belaka.. jd jgan mpe ada yg t’singgung yya klo da yang gga sreg di hati.. apa gy kalo ga sesuai dg knyataannya.. hooho”/strong
kan namanya jg FF ^^

I HOPE U LIKE IT!!
JANGAN LUPA COMMENT
NO PLAGIATISM!!

  • Cast: Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Leeteuk,
  • Kim Heechul,
  • Choi Jonghun,
  • Choi Minho,
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo :Uri cindy
  • Kim Hyunjae : Author *gga mau kalah. Mu ttp exist :P*
  • Kyuhyun,
  • Yesung
  • and other super junior, SHinee, and FT. Island member.

————o0o————-o0o————-

PARt 9

“Arghh… Akhirnya selesai juga penderitaan kita!!!!!!!!!!”pekik Eunmi riang begitu pengawas ujian sudah keluar dari ruangan dan bell pertanda pulang pun mulai berkumandang. Diliriknya Hyerin yang kini tengah membenamkan kepalanya di atas meja, sementara Hyunjae mulai membereskan barang-barangnya kedalam tas.

“Ya! Hyerin-ah. Ayo kita rayakan!” pekiknya riang. Hyerin mendongak sekilas lalu kembali membenamkan kepalanya di atas meja.
“Omo~” Kau pucat sekali Hyerin-ah!!” pekiknya histeris sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hyerin yang terasa hangat.
“Omo~ Mau aku antar pulang??” tatapnya khawatir. Hyerin menggeleng.

Drrt… Drrtt…
Ponsel Eunmi yang sedari tadi ia gengngam bergetar keras. Telpon masuk.

“Ne, Eomma. Arraseo. Aku akan segera kesana. Ne, annyeong.”
PIPP…
Telpon terputus. Eunmi membuang nafas berat. “Mianhae Hyerin-ah, aku harus cepat pulang. Annyeong~” katanya sebelum keluar dari kelas dan dibalas lambaian tangan dari Hyerin, sekenanya.

Eunmi berlari keluar gedung sekolah terburu-buru, karena Eommanya sudah menunggu di dalam mobil. Namun karena mengkhawatirkan keadaan Hyerin, ia langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya, sebelum akhirnya meninggalkan sekolah.

“Argh…” Hyerin meremas perutnya yang terasa sakit. Ditatapnya sekeliling, kelas sudah kosong, hanya tinggal dirinya seorang diri. Dengan langkah gontai ia keluar dari kelas.

Di lorong lain…

Hyunjae berjalan tertatih-tatih sambil memegangi dada kirinya yang terasa sakit. Kakinya seolah tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya yang mulai melemas dan tak tahan menahan rasa sakit yang menerjang.
“Argh..” Hyunjae mengeluarkan ponsel dari saku blazer dan menekannya asal sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.

—-o0o0o——-o0o00o——–o0o0o——–

Part 9..

*Author POV*

“Mana Siwon??” tanya Han sajangnim begitu melihat member yang lain sudah berkumpul di studio untuk take bagian dance, sementara jumlah mereka kurang 1 orang lagi.

“Ah… Siwon berhalangan hadir, bukankah kita sudah membicarakan ini sajangnim??” Leeteuk buka suara. Han sajangnim hanya mengangguk-angguk kecil.

“Wah kalo begitu formasinya ada yang kosong dong? Jadi tidak pas..” Han sajangnim memperhatikan wjah kesembilan namja yang ada di hadapannya ini satu persatu lalu menarik nafas pendek. “Baiklah tak masalah. Kita mulai saja..”
Mereka mengangguk kompak.

Di ruang ganti…

Hyesun yang baru saja diberikan tugas oleh Han sajangnim untuk memanggil make up artis yang ada di ruang ganti super junior baru saja akan meninggalkan kalau saja ia tak sengaja melihat sebuah ponsel tergeletak lemah tak berdaya di bawah sofa dekat meja rias. Sepertinya ponsel itu tidak sengaja dijatuhkan oleh pemiliknya.
Tanpa fikir panjang ia langsung memungut dan berniat meletakkannya di atas meja.

Drttt… Drttt…
Tiba-tiba saja ponsel yang baru saja ia letakkan itu bergetar hebat. Di layarnya tertera panggilan masuk.
❤ 현재 ❤
Ragu.. Hyesun tak mengangkatnya sampai akhirnya panggilan itu terputus, dan dilayarnya tertera 39 panggilan tak terjawab!
“Omo~” Hyesun membekap mulutnya dengan punggung tangannya, tak percaya.
“Sebegitu pentingnya kah panggilan ini??”

Drrtt… Drrttt…
Lagi-lagi ponsel itu bergetar. Telepon masuk. Masih dengan penelpon yang sama. Dengan ragu akhirnya ia pun memberanikan diri untuk mengangkatnya.

“Ye.. Yeob… Yeobsaeyo??”

*_*

“Ya.. Jonghun-ssi.. Cobalah focus pada syutingnya!!” tegur salah seorang cameraman yang seharian ini meliput acara mereka –ia dan Chaehyun- we got married.

“Ah. Ne, mianhae, hyung,” Jonghun meminta maaf sambil menunduk sopan.

“Sebaiknya kita break dulu sebentar, lagi pula aku sudah lelah,” ujar Chaehyun pada salah satu coordinator lapangan yang bertanggung jawab soal syuting kali ini, memohon. Akhirnya mereka pun diberikan waktu 15 menit untuk istirahat sebentar.
“Gwenchana??” Chaehyun menepuk bahu Jonghun pelan. Jonghun hanya tersenyum kecil.

“Gwenchana, aku hanya butuh istirahat sebentar,” jawabnya sambil mengelus puncak kepala Chaehyun lembut, lalu pergi meninggalkan Chaehyun yang masih mematung karena perlakuannya barusan.

JEPRETTTT….
*Tanpa sepengetahuan mereka dan kru lainnya, seseorang sedang mengintai mereka dari kejauhan sambil memandangi hasil bidikkannya di LCD camera-nya sambil tersenyum puas. Lalu pergi menjauh darisana.*

Di tempat lain…

Radio tempat ia mengisi acara sebagai DJ akan menyelenggarakan sebuah event semacam kontes adu bakat yang juga bekerja sama dengan salah satu stasiun TV ternama dan salah satu menejemen artis yang nantinya akan mengorbitkan pemenang dari kontes tersebut. Chaeyoung dan Minho diminta sebagai pemandu acara yang akan di selenggarakan besok pagi itu, dan kini mereka sedang melakukan semacam rahersal dengan beberapa artis yang akan mengisi acara nantinya. Sebenarnya, panggung acara belum selesai di dekorasi 100%, namun berhubung waktu yang sudah mepet, acara rahersal berjalan beriringan dengan kegiatan dekorasi.

Chaeyoung tak henti-hentinya bercuap-cuap diatas panggung sambil memegangi memo yang berisikan susunan dan contekan acara, sementara Minho yang baru saja datang masih berdiri di samping panggung sambil diberikan pengarahan dan memo yang lainnya. Sesekali diliriknya Chaeyoung yang masih berdiri di tengah panggung, namun tatapannya terhenti pada sebuah lampu latar yang tepat tergantung diatas Chaeyoung. Tanpa aba-aba ia langsung berlari dan mendorong tubuh Chaeyoung hingga akhirnya mereka berdua tersungkur di ujung panggung, tepat pada saat lampu yan dilihat Minho tadi terjatuh dan pecah hingga mengakibatkan sebuah arus pendek di tengah panggung. Chaeyoung yang melihatnya langsung SHOCK. Beberapa orang kru langsung berlarian menolong mereka dan sebagian lagi langsung membereskan lampu tsb.

“Chaeyoung-ssi.. Minho-ssi.. Gwenchana??” tanya salah seorang kru. Chaeyoung tak menjawab, masih SHOCK dalam posisi duduk sambil menatap lurus kedepan, sementara Minho merintih kesakitan karena kakinya tak sengaja tertimpa sebuah tangga lipat yang dipakai untuk mendekor panggung. Sementara perlahan, tubuh Chaeyoung malah ambruk.

“Omo~ Cepat panggil AMBULANCE!!!”

*_*

“Aduh… Sakit…” Hyerin berjalan gontai menuju toilet yang ada di ujung lorong sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Diletakkan tas sekolahnya yang sedari tadi ia gendon, asal, didekat wastafel kemudian masuk kedalam salah satu bilik yang ada disana.

“Arghh.. Pantas saja!” Hyerin menunduk lemas. Diambilnya gulungan tissue toilet yang ada disampingnya lalu menyumpalkannya pada sesuatu. Setelah dirasa lumayan, ia langsung mengambil tasnya dan segera pergi keluar meninggalkan gedung sekolahnya.

5menit…

10 menit…

15menit…

Bus yang mengarah kerumahnya tak juga muncul, sementara perutnya semakin sakit. Ia berjongkok lemas sambil meremas perutnya yang keram. Begitu dilihatnya ada sebuah taksi berjalan kearahnya, tanpa fikir lagi ia langsung menghentikannya dan masuk kedalamnya.

“Aduh.. Sakit…” Hyerin meringkuk di bangku belakang, sementara si supir taksi hanya bias memandangnya panic dari balik spion.

“Gwenchana, aggashi??”

“Arggh!!!! TAK LIAT APA AKU SEDANG KESAKITAN BEGINI!!!???” pekiknya garang, membuat si supir nyalinya jadi ciut, dan tak bias berkata apa-apa lagi, selain pada saat mereka sampai di tempat tujuan.

“Sudah sampai. Aggashi…” ucapnya takut-takut *takut kena damprat lagi sebenernya*. Hyerin mendongak, lalu dipandangnya keadaan sekitar dari jendela mobil. “19000won,” tambahnya lagi begitu melihat Hyerin sudah siap turun.
Hyerin langsung mengambil dua lembar uang dari dalam dompet, kasar, lalu memberikannya pada si supir tanpa mengambil kembaliannya terlebih dulu dan langsung ngacir kedalam rumah.

“Huftt~ Galak sekali dia!” dengus si supir begitu menancap kembali gas mobilnya.

*_*

“Ya!!! Ya!!! Kau kenapa???” pekik salah seorang seorang siswa yang dari nametagnya, bernama Jiyeon, panic, begitu melihat Hyunjae yang sudah terbaring lemah di dekat tangga. Sepertinya ia pingsan.
“Ya!! Sadarlah!” ia memukul-mukul wajah Hyunjae pelan, agar ia sadar dari pingsannya. Tapi sepertinya percuma. Ingin sekali ia meminta bantuan, tapi sepertinya percuma karena sekolah sudah sepi, dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Diliriknya sebuh ponsel touchscreen yang tergeletak tak jauh darinya, di layarnya sedang menunjukkan panggilan keluar.

“Kyunnie Oppa? Nugu-ya??” tanpa basa-basi, kerena fikirannya juga jadi kalut ia jadi terus-terusan menghubungi nomor yang tertera di layar ponsel Hyunjae itu untuk meminta bantuan.

“Ye.. Yeob… Yeobsaeyo??” sapa seseorang di sebrang telepon.

“Ne, yeobsaeyo. Apa ini dengan Kyu..” belum sempat ia berbicara orang di seberang telpon itu langsung berteriak-teriak tak jelas…

*Kyuhyun POV*

“Arghh.. Akhirnya part yang sendiri-sendiri sudah selesai, tinggal bagian dancenya,” batinku sambil meneguk segelas Cola yang baru saja ku buka kalengnya.

“Kyuhyun-ssi!!!!!!!!!” teriak seorang yeoja dari arah ruang ganti, lalu tak lama yeoja yang tak lain adalah Hyesun, datang menghampiriku sambil berlari.

“Wae gurae?” tanyaku bingung begitu melihat ia sudah berdiri dihadapanku sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

“Ini, ada telpon untukmu… Mian lancang, tapi sepertinya ini penting!” serunya sambil menyerahkan i-phone milikku padaku, aku menatapnya bingung, lalu mulai mengangkatnya.

“Yeobsaeyo..” sapaku dengan suara berat.
“..”
“MWORAGO!!!???” pekikku keras begitu mendengar penjelasan dari seseorang yang ada di seberang telpon.
“…”
“Arraseo! Kau tunggu aku disana! Jangan kemana-mana!” secepat kilat aku langsung berlari menuju ruang ganti dan meraih dompet serta kunci mobilku, sementara member dan beberapa kru lainnya menatapku dengan tatapan heran.

“YA!!! CHO KYUHYUN!!! KAU MAU KEMANA!!!????” pekik Heechul hyung begitu melihat aku sedah berlari keluar gedung dan langsung melajukan sedan hitamku pergi meninggalkan mereka. Kurasa mereka akan marah padaku jika kami bertemu nanti, tapi masa bodo! Aku tak peduli, yang ada di fikiranku sekarang adalah keselamatan Hyunjae!

“Hyunjae… Bertahanlah… Bertahanlah…” gumamku di sepanjang jalan menuju sekolahnya. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Aku langsung meraih ponsel dan mulai menghubungi seseorang.

Di studio…

“YA!!! CHO KYUHYUN!!! KAU MAU KEMANA!!!????” pekik Heechul begitu melihat Kyuhyun berlari keluar dan mulai menjalankan mobilnya. “Aishhh!!!” Heechul mengacak-acak rambutnya, kesal.

“Wae gurae??” tanya Sungmin begitu melihat Hyungnya itu kembali masuk kedalam studio dengan keadaan rambut berantakan.

“Mana Kyunie??” tanya Donghae sambil mencari-cari sosok Kyuhyun.

“Pergi.”

“MWO!!???” pekik mereka serempak.

“Aishh.. Kenapa lagi bocah itu!!??” Leeteuk mendengus kesal. Hyesun yang kebetulan ada disana langsung membisikkan sesuatu kepada Leeteuk.
“Ah, arraseo. Gomawo Hyesun-ssi,” ucapnya sambil membungkuk ramah, Hyesun tersenyum kikuk lalu berbisik kepada sutradara. Sementara member yang lain menetap mereka bingung.

“Ah, arraseo,” Han sajangnim mengangguk-angguk mengerti.
“Ok, kalau begitu kita lanjutkan saja syutingnya.”

Dua jam berlalu. Akhirnya syutingpun selesai. Semua member kembali keruang ganti untuk berganti pakaian. Leeteuk yang sudah selesai berganti pakaian langsung meraih ponsel yang sedari tadi ia non aktifkan dan ia letakkan di dalan saku Hoodienya, lalu mengaktifkannya kembali.
Dahinya mengerut, heran, begitu melihat ada 10 panggilan tak terjawab, dan itu semua dari nomor yang tak dikenalnya. Setelah meyakinkan diri bahwa itu bukan STALKER, iapun memutuskan untuk menghubunginya kembali.

“Yobsaeyo??”

*_*

Aku melangkahkan kakiku dan mengedarkan seluruh pandanganku keseluaruh penjuru ruangan yang kulewati. Beberapa orang yang kulewati dan yang tak sengaja berpapasan denganku langsung berbisik-bisik begitu melihatku. Sepertinya mereka mengenaliku. Wajar saja, karena aku tak memakai alat penyamaran sama sekali. Aku terlalu panic sehingga tidak sempat menutupi identitasku ini. Langkahku langsung terhenti begitu menemukan sosok Jung ahjussie dan seorang yeoja yang mengenakan seragam yang sama dengan Hyunjae, tengah duduk di depan ruang ICCU.
Jung ahjussie langsung berdiri dan menunduk sopan kearahku begitu ia melihat kedatanganku disana, sementara yeoja tsb langsung terpaku begitu melihat sosokku.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku panic sambil berusaha mengintip keadaan di dalam melalui sela-sela jendela yang tertutup rapat.

“Buruk,” jawabnya lalu menunduk. Aku terduduk lemas mendengar ucapannya barusan, sekuat tenaga ia menopang tubuhku agar tak sampai terjatuh dan mendudukkanku di bangku yang ada di depan ruang ICCU.

“Er.. Itu.. ” gumam yeoja itu, gugup. Aku meliriknya sekilas, lalu berusaha tersenyum dan kuat dihadapannya.

“Kau yang tadi menghubungiku kan?” ia mengangguk pelan.
“Gomawo-yo.” Ia mengangguk lalu tersenyum kecil.
“Ah, ya. Ahjussie, tolong antarkan nona ini pulang,” aku menatap Jung ahjussie yang sedang berdiri di hadapanku lalu melirik yeoja itu sekilas. Sepertinya ia belum tidak ingin pulang.

“Bagaima..” belum sempat Jung ahjussie bicara, aku langsung menatapnya dengan tatapan –aku baik-baik saja-tolong tinggalkan aku sendiri- dan ia pun langsung mengangguk sambil mempersilahkan yeoja yang dari nametagnya bernama Jiyeon itu untuk mengikuti langkahnya. Dengan pasrah akhirnya iapun menurut dan ikut pulang dengan Jung ahjussie.

Aku menarik nafas berat lalu menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Tak lama, seorang dokter keluar dari dalam ruangan, aku langsung bangkit dari dudukku dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Tubuhku langsung lemas begitu dokter tsb menjelaskan keadaannya padaku.

“Bersabarlah Kyuhyun-ssi, berdoalah agar ia kuat menghadapi ini semua,” dokter Go menepuk pundakku pelan, lalu pergi. Tak lama seorang suster keluar dari dalam ruangan dan mempersilahkanku untuk masuk kedalam.

JEPRETTTT…

*Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, seseorang tengah memata-matainya dari kejauhan.*

*_*

*Hyerin POV*

“Aigoo~ SAKITNYA!!!!!!!!!!!!!!” teriakku sambil berusaha menghilangkan rasa sakit diperutku ini. Ku ambil salah satu bantal yang ada di sampingku, asal, lalu mengapitnya diatas perutku dan kemudian meringkuk kesakitan.
“EOMMA!!!!!!!!!” isakku, menahan sakit. Tak ada respon. Tentu saja. Dirumah ini hanya ada aku seorang diri. Orang tuaku sedang pergi ke Busan. Jadi mau tak mau aku harus menahan sakit ini seorang diri.
“EOMMA!!! AKU TAK KUAT LAGI!!!!” tangiskupun pecah.

BRAKKK…

Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka lebar. Betapa terkejutnya aku begitu melihat orang yang berdiri dihadapanku, kini tengah menatapku dengan pandangan khawatir. Ia langsung duduk di samping ranjang dan langsung memegangi dahiku.

“Tak panas kok,” jawabnya polos.
“BABO!! Yang sakit bukan itu! Tapi ini!!” aku melirik perutku yang sedari tadi ku remas-remas karena sakit.

“YA!! Kau itu suami pulang malah tambah galak! YA SUDAH! AKU PERGI SAJA!” ancamnya sambil bersiap pergi.

Cepat-cepat kutarik tangannya. Jujur aku sebenarnya gengsi melakukan ini, karena terlihat seperti aku memohon padanya, dan aku tak suka ini. Tapi, apa daya, rasa sakit ini mengalahkan segalanya. Dan jujur saja, aku memang tak bisa hidup jika tak bergantung pada orang lain. Kuakui itu.

“Jadi?” Ia menatapku tajam, seolah memintaku untuk memohon padanya.

“Kuminta kau jangan pergi.. Kumohon.. Jangan pergi lagi.. Jebal,” mohonku, pada akhirnya. Dan gengsikupun runtuh. Ia tersenyum kecil lalu kembali duduk di sampingku.

“Sebenarnya kau sakit apa?? Badanmu tidak panas,” ia menatapku dengan tatapan bingung. Arghh!! Rupanya dia memang tidak mengerti!

“Perutku keram.. ada tamu bulanan,” jelasku. Semoga dia mengerti maksudku ini.

“Ahh,” ia menepuk dahinya pelan. “Arro.. Jadi sedang kedatangan ‘tamu’ yang itu?” aku mengangguk lemah. Masih menahan sakit.
“Lalu?? Apa yang harus aku lakukan?? Apa perlu kita kerumah sakit??”

“Anni… nan gwenchana! Aku sudah biasa seperti ini tiap bulannya..” rintihku pelan. Ia mengangguk-angguk pelan. Entah mengerti atau pura-pura mengerti.

“Jadi apa yang harus aku lakukan??”

“Molla… Biasanya Eomma yang memijit-mijit perutku ini sampai sakitnya hilang..”

“Ah.. Arraseo…” ucapnya lalu keluar kamar, meninggalkanku yang masih merintih menahan sakit.

Diluar, Leeteuk langsung menghubungi Eomma-nya yang sedang berada di Busan melalui ponselnya. Setelah telpon tersambung, ia pun langsung menanyakan ini-itu agar rasa sakit yang di derita Hyerin hilang.

“Ah,, kamshahamnida eommonim.”
“…”
“Ne, akan kurawat dia dengan segenap hati dan sepenuh cinta.”
“…”
“Ahaha.. Ne, annyeong.”

CLICKK…

Telpon pun terputus. Leeteuk langsung berjalan menuju dapur dan menyiapkan segala sesuatu yang di beritahukan mertuanya itu tadi lewat ponsel.

“SELESAI!!!” sahutnya riang sambil menatap semangkuk bubur abalon buatannya. Dengan segera ia meletakkan bubur tsb dengan segelas air hangat, dan beberapa obat keatas nampan dan segera membawanya kedalam kamar Hyerin.

“Yeobo… Ini.. di makan dulu…” Leeteuk meletakan sebuah nampan di atas meja kecil disamping tempat tidurku. Aku meliriknya sekilas lalu menggeleng-geleng.
“Ya! Makan dulu… sedikit saja… Jebal.. Ya.. Ya..?? nanti sakitmu tak sembuh-sembuh..” ancamnya. Mau tak mau aku menurut juga, dari pada sakit terus?? Akhirnya karena aku tak bisa melepaskan kedua tanganku dari perutku karena menahan sakit, Leeteuk yang dengan sangat senang hati menyuapi bubur itu dengan sabar, walau akhirnya hanya kumakan sedikit karena sudah tak tahan menahan sakit. Setelah makan ia langsung menyuruhku untuk meminum obat dan kemudian kembali berbaring, sementara ia kembali keluar kamar. Entah melakukan apa. Tak lama, ia pun kembali sambil membawa sebuah botol beling berisikan air, dan membungkusnya dengan sebuah handuk kecil.

“Igeo..”

“Apa itu??”

“Ini?” ia menatap botol yang di pegangnya lalu tesenyum padaku. “Ini gunanya, di letakkan disini..” ia langsung meletakkan botol yang ternyata berisi air panas itu ke atas perutku.

“Arghhh!!! PANAS!!!”

“Ya memang panas! Tapi, katanya ini manjur loh.. Buat mengilangkan rasa sakit.. Coba saja.” Akhirnya lagi-lagi aku pun menurut. Awalnya memang panas, tapi lama kelamaan rasa nyeri itu sedikit menghilang.

“Bagaimana??”

“Masih sakit!” ketusku. Kulihat ia menarik nafas berat, lalu menaruh botol itu keatas meja belajar.

“Arro.. Tak ada jalan lain. Jangan bunuh aku karena melakukannya!”

“MWOYA!!!???”

Leeteuk langsung menarik sedikit pakaianku keatas, hingga perut mulusku terlihat olehnya *author: jagn pd mikir yg macem” ya! Haha :P*, kulihat ia mengambil sebotol kecil obat gosok dan mengolesinya keatas perutku kemudian memijit-mijitnya perlahan. Dengan telaten ia terus memijit bagian yang kurasa sakit.
Omo~ perlakuannya ini membuatku malu >////<. Kurasakan jantungku berdegub kencang, dan wajahku sepertinya kini sudah memerah saking malunya. Untung saja aku sedang kesakitan, jadi ia tak berfikir yang macam-macam tentang rona merah di wajahku ini. Ahhh… melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini dan waktu selama ini membuatku tersadar satu hal. Tampan! Argh.., Tuhan, kenapa kau baru menyadarkanku tentang hal ini???
Betapa beruntungnya aku selama ini telah menjadi seorang ISTRI darinya.
Perlahan kurasakan rasa sakit itu mulai menghilang, dan rasa kantukpun kini menggelayutiku, sepertinya efek dari obat yang kuminum tadi baru mulai bekerja.

*_*

*Chaeyoung POV*

“Onnie…. Sadarlah!!” pekik sebuah suara yang amat ku kenal. Perlahan kubuka kedua mataku. Berat. Sekali lagi kucoba kubuka kedua kelopak mataku ini. Silau. Argh… Ada dimana ini? Kenapa ruangannya serba putih seperti ini? Dan.. Ah.. Bau obat-obatan! Sepertinya aku tau dimana aku sekarang.
“Aahh!!! Onnie!! Kau sudah sadar???” Binwoo langsung tersenyum kearahku lalu berlari keluar ruangan, dan kembali sambil membawa seorang dokter di sampingnya.

“Chamkanmanaeyo, biar ku periksa dulu,” ucap dokter itu lelu memeriksa keadaanku.

“Otte?” tanya Binwoo begitu dokter itu selesai memeriksaku.

“Baik, hanya shock saja. Jadi taka apa-apa. Hanya shock dan kelelahan, jadi sebaiknya malam ini biarkan Chaeyoung-ssi menginap dirumah sakit,” jelasnya, Binwoo mengangguk pelan sebelum dokter tsb keluar dari ruang inap, lalu berlari riang dan memelukku sekilas.

“Omo~ Onnie!!! Kau buat aku kaget saja!!”

“Aishhh… kecilkan suaramu,” ucapku lirik sambil menutup kedua kupingku.

“Ehehehe.. Mianhae.. kebiasaan. He~” Binwoo memeletkan lidahnya lalu duduk di sofa samping tempat tidurku.
“Ah ya, Onnie. Aku sangat terkejut begitu mendengar kabarmu dari menejer, kukira kau kenapa-kenapa, tapi untunglah semua kekhawatiranku tak menjadi kenyataan, karena ternyata kau baik-baik saja. Tapi..”

“Tapi apa??” aku menatap Binwoo yang kini sibuk mengupas jeruk dengan tatapan bingung.

“Ia, tapi yang kenapa-kenapa malan Minho Oppa.”

“MWO!!???”
“Memang ada apa dengannya??!!” aku langsung bangun dari posisi tidurku, Binwoo yang melihatnya langsung panic dan kembali membaringkanku ke kasur, namun aku menolaknya. Akhirnya iapun pasrah bagitu aku menatapnya dengan tatapan super tajam.

“Minho Oppa tadi sempat tertimpa tangga, dan dengar-dengar kakinya mengalami cedera…” belum sempat ia meneruskan kata-katanya aku langsung bangkit dan keluar kamar setelah sebelumnya mencabut selang infuse yang tertanam di tangan kananku paksa. Pusing. Itu yang kurasakan kini. Tapi aku tak peduli, aku terus berjalan menyusuri lorong dan mencari tahu kamar inap yang ditempati oleh namja itu. Ketemu! Aku langsung membuka pintunya. Sepi. Tak ada siapa-siapa di dalamnya, hanya ada Minho yang terbaring lemas di atas ranjangnya. Ragu-ragu, aku mulai masuk dan menghampirinya. Kulihat kaki sebelah kanannya di gips dan agak di topang keatas, sementara ia tertidur. Namun, sepertinya ia menyadari kedatanganku, dan langsung membuka kedua matanya begitu aku berdiri disebelahnya.

“Wae gurae?” ucapnya datar. Aku memandang wajahnya dengan tatapan nanar. Enatah apa yang merasuki fikiranku saat ini, tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk melakukan ini. Memeluknya. Kurasakan Minho sedikit tersentak namun, ia tak bergeming, dan perlahan mengelus punggungku dengan sebelah tangannya, karena sebelah tangannya lagi masih tertanam selang infuse.

“Gomawoyo~” ucapku pelan, sambil mencoba menahan tangis. “Kalau bukan karenamu, mungkin saat ini aku yang di gips, atau mungkin malah..”

“Shhtttt…” Minho menarikku kehadapnnya lalu menaruh telunjuknya di bibirku.
“Jangan pernah berkata seperti itu..”

“Tapi… Tapi kenapa kau menolongku??”

“Karena kau tanggung jawabku.”

“Gomawo..” lirihku. Minho tersenyum kecil lalu kembali merengkuhku dalam pelukannya.

JEPRETTT…

*Tanpa mereka sadari seseorang tengah tersenyum lebar sambil memandangi hasil bidikkannya yang ia anggap sangat bagus.*

CKREEEETTT…
“Omo~” pekik mereka bersamaan. Cepat-cepat Chaeyoung dan Minho melepaskan pelukan mereka.

“Aigoo~ Onnie, kukira kau lari kemana, taunya malah ke kamar Minho Oppa. Hhahaha,” ucap Binwoo sambil memandang kami jahil, sementara keempat member SHINEE yang lain hanya terkekeh sambil memandang kami penuh arti.

“Lain kali kalau mau bermesraan lihat-lihat,” Onew Oppa meletakkan sebuah bungkusan kesamping meja kecil yang ada disamping tempat tidur Minho, sambil tersenyum penuh arti.

“Iya, kalo ada SHAWOL yang liat gimana??” kali ini Jonghyun buka suara.

“Mending SHAWOL, kalo paparazzi yang lihat gimana??” kali ini Key si Almighty yang menakut-nakuti.

“Mending aja kalo SHAWOL ato PAPARAZI.. lah kalo ada mayat idup dari gedung sebelah gimana??” Taemin ikut-ikutan.

“YA!!!!” pekik kami berdua bersamaan.

“DASAR!! Kelakuan pun sama tapi tetap tak mau mengakui! Hahaha,” celetuk Key yang langsung diamini oleh mereka berempat.

*_*

*Chaehyun POV*

Arghh… Udara di pegunungan malam-malam begini memang sangat dingin. Ku rapatkan mantel hangat yang sedari tadi memang sudah kukenakan. Sudah jam 11 malam, tapi aku belum juga bisa tidur. Perlahan aku berjalan menuju jendela yang ada di dalam kamar villa yang kutempati ini, lalu berjalan keluar dan menikmati udara malam sambil melihat pemandanagn alam di malam hari dari atas balkon.
Pandanganku tiba-tiba saja terhenti pada sosok namja yang tengah duduk di atas ayunan yang ada di halaman depan villa. Dari jarak sejauh ini aku bisa merasakan bahwa ia sedang kesepian. Berhubung aku juga belum bisa tidur jadi kuputuskan untuk menghampirinya.

“Oppa..” sapaku begitu aku sudah berada di hadapannya. Jonghun Oppa melirik kearahku lalu tersenyum lebar dan langsung menggeser posisi duduknya agar aku bisa duduk di sampingnya. Aku langsung duduk di sebelahnya begitu ia mempersilahkanku untuk duduk disana.

“Belum tidur??” tanyanya sambil tersenyum manis. Aku menggeleng pelan.

“Tak bisa tidur.”

“Oh, kalau begitu, tak keberatan kan kalau aku memintamu untuk menemaniku disini?”

“Selama aku masih terjaga lebih tepatnya, haha” Jonghun Oppa menatapku dalam. Tawaku langsung berhenti, karena suasana berubah menjadi canggung. Aku langsung mengambil salah satu bantal yang ada di atas ayunan ini sambil berpura-pura memainkannya, sedangkan kakiku bergerak-gerak menggerakkan ayunan. Tapi percuma, karena kaki Jonghun Oppa menahannya, jadi mau tak mau ayunan tetap diam di tempat dan hanya bagian yang ku duduki saja yang ‘agak’ sedikit bergerak.

“Chaehyun-ah..” ucapnya masih memandang dalam kedalam mataku.

“Ne??” jawabku tanpa berani menatap matanya.

“Saranghaeyo…”

>>>TBC…

>>>Tgu NEXT PART ya…

1 / 2 part kedepan adalah LAST PART..

gOmawo buat readers yg udah setia baca FF geje q ni ya.. *BOW*

sO.. terus pantengin sampe TAMAT yyaa…

n jangan lupa Comment ^^
annyeong~~
😀

~mRs. ChoiLee~

Iklan

12 thoughts on ““Merry Me” ~part: 9

  1. Yoenda…
    Aku dtg lg..
    Bacana udh kmaren sore pake hp, tp komen br sekarang.
    *harap maklum modemku lg ngambek*
    kkk~~

    Jg jeprat jepret itu sapa?
    Paparazi ya?

    Omo~~
    TEuki mijit2 perut Hyerin..
    Aku juga mau, bener-bener mau, ikhlas malah..
    Hahaha
    #digampar sm Hyerin 😀

    Dah mo ending ya…
    ku nanti endingnya dgn sabar. ^^

    1. Aku cuma mo nguji Teuki aja koq,
      Dia itu bener2 cinta n setia ap g..
      hahaha..
      *ditendangkdormsuju*

      Sep..
      Aku pantengin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s