“Merry Me” ~part: 10

ANNYEONGHASAEYO YEOROBEUN~~~
Haha… akhirnya ni part muncul juga..
Mianhae kalo kelamaan ya…
Sesuai janji author kemarin part depan bakal jadi part t’akhir..
Jadi tetep ditempat ya..
Haha

Mian kalo tambah GAJE!!

“Sebelumnya.. Cuma ngingetinn ni Cuma FF.. Cuma fiksi belaka.. jd jgan mpe ada yg t’singgung yya klo da yang gga sreg di hati.. apa gy kalo ga sesuai dg knyataannya.. hooho”

kan namanya jg FF ^^
I HOPE U LIKE IT!!
JANGAN LUPA COMMENT
NO PLAGIATISM!!
Sebelumnya gomawo buat Chaehyun-ssi yang ud bersedia bantuin Author nyari ide..

  • Cast: Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Leeteuk,
  • Kim Heechul,
  • Choi Jonghun,
  • Choi Minho,
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo :Uri cindy
  • Kim Hyunjae : Author *gga mau kalah. Mu ttp exist :P*
  • Kyuhyun,
  • Yesung
  • and other super junior, SHinee, and FT. Island member.

————o0o————-o0o————-

PARt 10

*Author POV*

“Mana Kyunnie??? Sudah malam begini masih belum juga kembali??” tanya Yesung begitu ia sampai ke dalam dorm, dan mendapati semua ke enam member lainnya masih berkumpul diruang tengah sambil menonton tv.

“Belum. Entah kemana bocah itu, ponselnya juga tak aktif,” sahut Eunhyuk yang baru saja kemuar dari toilet dan langsung bergabung dengan yang lainnya.

“Leeteuk hyung juga??” tanyanya lagi sambil mencari-cari sosok Hyungnya itu.

“Sepertinya ia pulang kerumah.. Menemani istri tercintanya,” jawab Donghae tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar tv.

“Ah, arro..” Yesung langsung masuk kedalam kamarnya lalu mengganti pakaian dan langsung kembali bergabung dengan yang lainnya diruang tengah. Sofa sudah penuh sesak saat itu, jadi ia lebih memilih untuk duduk di bawah, disamping Shindong yang tengah asik memakan kripik kentang. Tanpa ragu, iapun langsung merampasnya dari tangan Shindong.

“Ya!!! Hyung!!” Shindong menatap Yesung yang tengah asik memakan cemilannya itu, sebal. Yesung pura-pura tak dengar. Begitu ia pergi kedapur untuk mengambil segelas air, Shindong langsung merebut kembali jatah cemilannya itu dan langsung lari masuk ke kamar dan menguncinya.

“Ya!!” pekik Yesung kesal. Tapi apa daya, Yesung cuma bisa pasrah menanggapi kelakuan dongsaengnya itu *lha bukannya emang itu makanannya Shindong ya?? Ckck (_ _”)*

“Ah, ya, Hyung. Kau sendiri darimana?? Pergi tak bilang-bilang! Pasti habis kencan dengan Binwoo lagi ya??” Wookie menatap Yesung penuh selidik.

“Apanya yang kencan!? Tau tidak, tadi saat aku mau menemuinya di tempat kami janjian, ia memberitahuku kalau kencan kali ini dibatalkan karena ia sedang di RS.”

“MWORAGO!!!???” pekik mereka semua bersamaan.

“Memang dia sakit apa, hyung??” Sungmin menatapku penasaran.

“Bukan dia. Tapi Chaeyoung dan Minho. Tadi sempat ada kecelakaan kecil saat di rahersal.. Chaeyoung sih tak apa-apa, tapi Minho mengalami cedera di pergelangan kaki kanannya. Jadi tadi aku langsung kesana untuk menjenguk mereka.”

“Mwo?? Ah, kalau begitu kita harus menjenguk mereka besok!!”

*_*

“Kyuhyun-ah..” sahut Cho ahjumma begitu ia dan suaminya memasuki ruang ICCU dan mendapati Kyuhyun sedang tertidur lemas di sebuah kursi yang ada disamping tempat tidur yang di tempati Hyunjae, sambil memegangi sebelah tangan Hyunjae erat. Kyuhyun tersentak, lalu menoleh kearah Eommanya dan langsung bangkit dan segera memeluk tubuhnya. Cho ahjussie hanya bisa diam sambil mengelus-elus puncak kepala Hyunjae, yang masih belum sadarkan diri, sayang.

“Ba… Bagaimana keadaanya??” tanya Cho ahjumma lirih sambil menatap wajah anak lelakinya itu, nanar. Kyuhyun menggeleng pelan.
“Apa penyakitnya semakin parah?????” tanyanya lagi. Kyuhyun terdiam, lalu mengangguk pelan. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan kakinya seperti tak kuat lagi menopang tubuhnya dan hamper saja oleng, segera Kyuhyun menopang tubuh ibunya itu sebelum akhirnya ia terjatuh dan mendudukkannya di kursi yang tadi ia tempati.
Cho ahjussie menatap istrinya itu sedih, lalu keluar dari ruangan tanpa berkata-kata.
Diluar, ia segera mencari dokter yang menangani Hyunjae dan menanyakan keadaan yang sebenarnya.
Dr. Go yang menangani Hyunjae segera memberitahukan kondisinya yang sebenarnya.

“Cepat lakukan operasinya! Tunggu apa lagi!!!?” cecar Cho ahjussie berapi-api. Dokter Go menggeleng lemah.

“Josonghamnida. Bukannya kami tidak mau melakukan operasi, tapi kami tidak mau mengambil resiko melihat keadaannya yang seperti ini. Persentase kemungkinan keberhasilan operasinya hanya 10%,” jelasnya, dan tentu saja membuat hati Cho ahjussie terasa teriris sembilu. Ini semua salahnya! Dan ia terus saja mengutuki dirinya sendiri sampai akhirnya ia tiba di taman yang ada di rumah sakit dan duduk disalah satu bangku yang ada disana.

“Ini semua salahku, Josonghamnida Nae Chingu…” lirihnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menahan tangis. Ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri, karena ia merasa bahwa karena dirinyalah keadaan Hyunjae semakin parah.

*Flashback*

*Cho Ahjussie POV*

“Bagaimana keadaannya??? Apa dia baik-baik saja?? Aku mau bertemu dengannya!!” cecar istriku begitu sang dokter berdiri di depannya.

“Anni. Keadaannya baik-baik saja. Untung ia segera dibawa kemari, sehingga kami dapat menanganinya sebelum sesuatu terjadi padanya. Namun, sebelumnya, aku ingin bicara pada orang tuanya, bisa??”

“Kami orang tuanya,” ucapku penuh dengan keyakinan.

“Kalau begitu, mari kita bicarakan ini, diruangan. Mari,” katanya sambil berjalan terlebih dahulu di depan diikuti aku dan istriku. Ia langsung mempersilahkan kami berdua untuk duduk di kursi yang telah di sediakan, dibalik meja kerjanya. Ia menarik nafas berat kemudian tersenyum kecil.

“Sebelumnya saya ingin menanyakan suatu hal. Apa Hyunjae-ssi sudah lama mengidap penyakit jantung??” tanyanya dengan nada sedikit cemas. Aku dan istriku, kami berdua saling berpandangan. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini? Bukankah Hyunjae hanya keracunan makanan tadi? Kenapa sekarang malah mengungkit-ungkit tentang penyakitnya? Bukankah penyakit itu sudah lama tak kambuh lagi??

“Ne. Dia punya penyakit jantung turunan,” jawab istriku lirih. “Tapi, sudah setahun belakangan ini penyakit itu sudah tak pernah kambuh lagi.”

“Memangnya ada apa sebenarnya, dokter? Tolong langsung ke intinya,” dokter Kim menatapku lurus, lalu mengangguk kecil. Sementara jantungku sudah berdegub kencang tak karuan. Istriku langsung meremas punggung tanganku, cemas.

“Sepertinya penyakit itu kini kembali menderanya. Jantungnya sudah tak berfungsi dengan baik. Harus segera dilakukan transplantasi.”

JLEB!

Seolah sebuah perisai tajam telah berhasil menghunus ke dalam jantungku. Bagaimana mungkin penyakit yang selama ini kami ketahui sudah tak pernah muncul kembali dan mendera Hyunjae, anak dari sahabatku yang kini telah kami anggap sebagai anak kami, keluarga kami sendiri, kini malah sudah semakin parah. Kurasakan tangan istriku yang semula hangat berubah menjadi dingin. Remasannya pada punggung tanganku semakin kencang. Ia menatapku dengan tatapan nanar sambil menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang telah ia dengar barusan.

“Ba.. Bagaimana mungkin? Ka.. Kalau begitu SEGERA LAKUKAN OPERASI!”

Dr. Kim menggeleng, “Tidak disini. Karena penyakitnya sudah sangat parah. Dan aku merekomendasikan, sebaiknya anda mencari dokter yang ahli dalam hal ini.”

Setelah mendengar penjelasan darinya, kami berdua langsung pulang kerumah tanpa terlebih dahulu menemui Hyunjae ataupun Kyuhyun, karena kami khawatir kami akan membuat mereka cemas dan berfikiran yang macam-macam apalagi saat melihat istriku yang kini tak henti-hentinya menangis. Akhirnya kamipun memutuskan untuk tidak memberitahukan Kyuhyun, apalagi Hyunjae tentang hal ini.

>>Beberapa hari kemudian<<

Hyunjae telah kembali dari rumah sakit, diantar Donghae, salah satu member dari boyband tempat Kyuhyun bernaung. Kulihat sepertinya Donghae sangat telaten merawat dan mengurusnya. Sepertinya ia menyukai Hyunjae, dan dari pancaran wajahnya, sepertinya Hyunjae juga merasakan hal yang sama. Aku tersenyum miris melihat mereka berdua. Istriku lain lagi. Ia memandang Donghae dengan tatapan tak suka. Ah, jelas saja, karena sejak awal ia memang menginginkan Hyunjae menjadi anak kami. Bukan sebagai anak angkat, melainkan anak menantu, atau lebih tepatnya istri Kyuhyun. Maka dari itu, begitu ia tahu Kyuhyun berpacaran dengan salah satu artis yang bernaung dalam 1 menejemen yang sama dengannya, ia sangat tak suka, dan memaksa Kyuhyun untuk memutuskan hubungan mereka berdua.

*_*

“Josonghamnida, Cho sajangnim,” sapa Jung JoSeob, supir keluargaku begitu ia melihatku baru keluar dari dalam mobil mewahku dan akan masuk kedalam rumah, sambil membungkuk sopan.
“Ada yang ingin aku sampaikan pada Anda.” Aku mengangguk kecil lalu memberinya tanda untuk mengikutiku masuk kedalam ruang kerja yang berada di lantai 2.

“Apa yang akan anda sampaikan, Jung-ssi??” tanyaku ramah dibalik meja kerjaku. Ia menunduk sekilas lalu maju selangkah mendekatiku.

“Josonghamnida, sajangnim. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tadi saat perjalanan pulang dari sekolah Hyunjae aggashi, ia terlihat sangat kesakitan dan langsung menelan beberapa butir pil dari dari dalam botol obat yang sepertinya selalu dibawanya. Dan setelah itu ia langsung tertidur sebelum akhirnya kami sampai dirumah,” lapornya sebelum akhirnya pamit keluar ruangan. Seketika dadaku terasa sesak. Jangan-jangan selama ini penyakit itu malah bukannya tak pernah kambuh, atau hilang, melainkan masih mendera Hyunjae, tapi ia menyembunyikannya?? Karena tak mungkin jika penyakit itu tiba-tiba saja kambuh dan Hyunjae masih membawa botol berisi obat-obatannya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan langsung mengambil gagang telepon mulai menghubungi seseorang. Setelah selesai menghubunginya, aku langsung memanggil istriku dan kami berdua segera menghampiri Hyunjae dikamarnya.

“Ah, Eomma, Appa? Wae gurae??” tatapnya bingung, namun seulas senyuman terlihat jelas terukir di wajahnya.

Hyunjae tampak shock begitu kami berdua, atau lebih tepatnya aku sendiri, karena istriku hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh Hyunjae, menanyakan soal penyakitnya dan memberitahukan keadaannya yang sebenarnya saat ini. Aku memintanya untuk segera berangkat ke Amerika untuk segera melakukan transplantasi jantung.

“Appa.. Eomma.. Jebal.. Jangan sekarang…” Hyunjae menangis memohon sambil menatap wajah kami bergantian. “Beberapa hari ini aku akan menghadapi UN. Dan aku tak mau melewatkannya.. Appa.. Eomma.. Jebal… Kali ini saja turuti permohonanku…”

“Tapi kondisimu sudah tak memungkinkan Hyunjae-ah…” istriku memeluk Hyunjae erat, sambil sesenggukkan.

“Aku kuat… Aku yakin aku sanggup bertahan.. Aku berjanji setelah UN, aku akan segera berangkat.. Jebal..”

*FLASHBACK END*

“Andaikan saja saat itu aku bersikeras memaksanya untuk pergi ke Amerika dan segera melakukan transplatasi, dan tak mengabulkan keinginannya untuk tetap tinggal sampai ujian selesai… Ia pasti tidak akan seperti ini..” gumamku sambil mencoba menahan air mata yang kini sudah mulai menetes membasahi wajahku. Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku mendelik. Kyuhyun.

“Appa.. Hyunjae sudah siuman.”

*_*

*Chaehyun POV*

“Chaehyun-ah..” ucapnya masih memandang dalam kedalam mataku.

“Ne??” jawabku tanpa berani menatap matanya.

“Saranghaeyo…” aku terkesiap. Reflek ku tatap wajahnya. Matanya begitu teduh. Ia masih menatapku dalam. Mencoba mencari jawaban. Ottohke?? Dadaku berdegub kencang. Sudah lama aku tak merasakan sensasi seperti ini.
“Jeongmal saranghaeyo…”

“err… Na do..” jawabku gugup. Tanpa berani menatap wajahnya.

“YA!! CUT!!” pekik seorang sutradara sambil tersenyum puas.
“Kita lanjutkan besok!” Ahhh.. kini aku bisa bernafas lega. Akhirnya aku bisa terlepas dari tatapannya itu. Dengan segera aku langsung masuk kembali kedalam villa. Pergi menjauh darinya yang hingga kini masih duduk dalam posisi dan tempatnya semula. Aku langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Dan langsung menyusup kedalam selimut dan menutupi wajahku dengan bantal.

“Arghh.. Lama-lama aku bisa jadi GILA!!” pekikku tertahan. “Bagaimana mungkin aku bisa menghadapinya lebih lama lagi sedangkan aku tahu yang ia katakana barusan adalah pengakuan dari dalam hatinya yang terdalam. Bukan naskah sekenario.” Aku menegrang pelan. Tak taulah. Aku tak peduli. Aku langsung mematikan lampu kamar tidurku dan mencoba untuk memejamkan mata dan membuang jauh semua fikiranku ini.

Diluar, Jonghun menatap jauh kearah jendela kamar Chaehyun yang kini lampunya sudah padam, dari tempatnya semula. Sejak awal bahkan sampai seluruh kru sudah masuk kedalam, ia masih tak bergeming dari tempatnya semula.

“Aku tau bahwa kau tau apa yang aku katakan tadi bukanlah naskah dari scenario. Dan kuharap jawabanmu tadi juga bukanlah bagian dari naskah scenario..” gumamnya nyaris tak terdengar sambil tersenyum kecil.

*_*

*Hyerin POV*

Chu~
Mata gadis itu membulat dan langsung menatap namja yang ada di hadapannya itu dengan tatapan bingung, sementara namja itu malah menatapnya dengan pandangan jahil.

“Bagaimana? Sekarang kau percayakan??” Prince menatap Princessnya itu sambil tersenyum manis.

Gadis kecil itu tersenyum kecil lalu mengangguk, “Ne! Berhubung kau sudah menciumku, berarti kau harus menikah denganku!!” serunya penuh semangat.

“Arraseo!! Pokoknya liat saja nanti. Saat dewasa nanti aku akan menikah denganmu!!!”

Seketika pemandangan itu berubah menjadi buram. Lalu samar-samar kurasakan sebuah cahaya mulai menembus kedalam kamar dan membuatku terbangun karena silaunya.

“Ahh.. Mimpi itu lagi..” guamamku sambil menghela nafas.

Aku mulai membuka kedua mataku dan berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka, namun sebuah tangan menghalangi niatku. Kulihat Leeteuk tertidur di samping perutku, sementara sebelah tangannya masih memegangi perutku. Spertinya ia ketiduran saat sedang memijitiku semalam. Perlahan kubenahi posisi tidurnya agar aku bisa bergerak bebas dan masuk ke dalam kamar mandi. Kupandangi wajahnya saat sedang tertidur. Aku baru sadar bahwa wajahnya sangat damai layaknya seorang bayi saat ia sedang tidur. Tanpa sadar sebuah senyuman manis terukir di wajahku.

“Baru sadarkah kau akan ketampanan suamimu ini, yeobo?” tanyanya dengan mata terpejam, lalu tersenyum jahil, membuatku terkejut, dan reflek memukul dadanya yang bidang.

“Ya!! Mengagetkanku saja!!”

“Hhaha… Sudah baikkan??” aku tersenyum lalu mengangguk kecil. Leeteuk langsung bangkit dari tidurnya, menagcak-acak rambutku lalu berjalan duluan ke kamar mandi.

“Ya!! Aku duluan yang mau masuk kesana!!!” aku menggedor pintu kamar mandi kasar, begitu sadar ia sudah masuk kesana duluan.

“Kalau begitu kita sama-sama saja!!” teriaknya dari dalam.

“SHIREO!!!!”

*_*

“Bagaimana ujiannya? Lancarkan??” tanyanya begitu kami berdua tengah memakan jatah sarapan kami masing-masing yang ia buat, sambil menatapku lembut. Aku mengangguk.
“Good job. Istriku memang harus seperti itu.” Katanya lagi, membuat wajahku memerah mendengar perkataannya. ‘istriku memang harus seperti itu’ Omo~ aku baru sadar kalau aku istrinya. Hahaha~
“Aigoo wajahmu memerah yeobo!! Hahaha” ujarnya sambil tertawa riang. Omo~ tawa dan senyumnya ini seperti pernah kulihat… Tapi dimana???
Omo~ Omo~.. Chamkanman.. Jangan bilang kalau dia…

*_*

*Author POV*
TOkk.. Tokkk..

Pintu ruang kamar inap Hyunjae di ketuk, tak lama seorang Yeoja berparas cantik nan anggun masuk kedalam ruangan. Kyuhyun yang sedang menyuapi Hyunjae makan langsung menaruh piringnya ke atas meja, dan langsung lari memeluknya. Cho ahjumma dan ahjussie yang juga ada didalam sana hanya bisa tersenyum lemah.

“Ah ra Noona!! Kenapa kau pulang tak bilang-bilang?? Tau gitu aku jemput kau di bandara!” keluh Kyuhyun begitu pelukkan mereka terlepas. Ah ra hanya tersenyum kecil, lalu beralih memeluk kedua orang tuanya, bergantian.

“Sudah sampai, nak?” ucap Cho ahjumma sambil tersenyum kecil pada anak tertuanya itu.

“Ne, eomma.”

“Perjalanannya lancar kan?” kali ini Cho ahjussie yang bertanya. Ia mengangguk lalu tersenyum. Ia beralih pada Hyunjae yang kini menatapnya sambil tersenyum, dan memeluknya erat.

Cho ahjussie menjelaskan tentang maksud dari kepulangan Ahra kepada Hyunjae dan Kyuhyun. Kyuhyun terkejut begitu mengetahui maksud kepulangan noona-nya yang selama ini berkuliah di jurusan kedokteran dan menetap di Amerika itu adalah untuk membawa Hyunjae kesana untuk melakukan transplantasi jantung. Jelas bukan dia yang akan mengoperasi, karena ia masih berstatus mahasiswi, tapi seorang dokter ahli yang ia kenal dari rumah sakit universitasnya. Dan yang tak kuduga adalah, waktu keberangkatannya dipercepat menjadi 2 hari lagi.

*_*

“Kau sudah baikkan??” tanya Kyuhyun begitu ia baru masuk kamar inap Hyunjae dan mendapatinya tengah tertawa sambil menonton tv.

“Kau lihat saja sendiri, Oppa,” jawabnya sambil tersenyum riang.
“Ah, ya, Oppa.. Temani aku jalan-jalan keluar yook?? Bosan dikamar terus..” rengeknya sambil memasang tampang agyeonya.

“Arraseo.. ” ucap Kyuhyun pasrah, disambut senyuman super manis dari Hyunjae. Sebelum mereka keluar, tak lupa Kyuhyun memakaikan mantelnya pada Hyunjae, lalu membantunya memegangi botol infuse yang selangnya masih di tanamkan ditangan dongsangnya itu.
Mereka berdua berjalan menuju taman belakang rumah sakit yang sangat asri dan indah, lalu duduk disalah satu bangku panjang yang ada disana.

“Hmpphhhh…” Hyunjae membentangkan kedua tangannya sambil menutup mata, menikmati udara bebas yang sangat sejuk itu, tak mempedulikan Kyuhyun yang mencak-mencak karena terus memegangi botol infuse dan membenarkan selangnya karena sesekali terbelit.
“Udara diluar memang segar sekali~ Tidak seperti di kamar… SUMPEK!!” perlahan ia membuka kedua matanya dan duduk menyandar di bangku sambil tersenyum.

“Ne.. Maka dari itu, cepatlah sembuh, Jagy! Agar kau dapat menikmati udara bebas sesukamu!” Kyuhyun melirik yeoja yang ada dihadapannya itu sambil tersenyum jahil. Tak seperti biasanya, Hyunjae tak menolak atau marah-marah karena dipanggil seperti itu oleh Kyuhyun, ia hanya tersenyum lemah.

“Ne, Oppa. Arraseo.”

>>Masih dirumah sakit yang sama.. Di tempat yang berbeda..<<

“Ya, hyung. Kamarnya yang mana??” tanya Wookie tak sabaran karena sedari tadi mereka terus berputar-putar di sepanjang rumah sakit dan sampai sekarang kamar Minho belum juga ditemukan.

“Sebentar lagi sampai,” jawab Donghae yang jadi tour guide kali ini (?) santai.

“Ikan! Dari tadi juga kau bilangnya ‘sebentar lagi sampai’, tapi kenapa sampai saat ini belum sampai juga,huh??” kali ini Eunhyuk yang mencak-mencak, frustasi, karena baru saja ia tersadar bahwa mereka sudah melawati lorong yang sama berkali-kali.

“Iya.. Iya.. Sebentar lagi juga sam…”

“Ya!! Sekali lagi kau bilang begitu, ku bungkam mulutmu dengan sepatu baruku ini!” Heechul baru saja akan membuka sebelah sepatu yang dikenakannya dan menyumpalkannya di mulut Donghae, tapi batal, karena Ia langsung berlari menghampiri sebuah pintu kamar bernomor 3424 dan langsung menunjuk-nunjuk nama yang tertera di papan nama yang ada di pintunya.

“Ahahahaha… BINGO!! Ini dia kamarnya! Tuh kan, apa kataku? Sebentar lagi juga sampai!” tanpa aba-aba dan mengetuk pintu terlebih dahulu, Ia langsung melengos kedalam kamar, diikuti Eunhyuk, Ryeowook, Sungmin, Siwon, Shindong dan juga Heechul. Mereka langung berdehem keras begitu melihat Minho yang sedang disupi makan oleh Chaeyoung. Chaeyoung yang kaget, reflek langsung memberikan piring beserta sendoknya kepada Minho.

“Aigoo~ Tak usah malu-malu begitu, Chaeyoung-ah. Kami semua sudah mendengarnya dari Binwoo dan Yesung hyung, kok,” Sungmin menatap mereka berdua jahil. Chaeyoung dan Minho saling menatap, lalu membulatkan kedua mata mereka dan menggeleng.

“ANDWEE!!!!” pekik mereka bersamaan.

“Omo~ benar kata Binwoo dan Yesung, serta bocah-bocah SHINEE itu yah.. Mereka berdua memang MIRIP!! Bahkan kelakuan juga sama! Hahaha..” ceplos Heechul, kontan membuat yang lain tertawa terbahak-bahak begitu menyadarinya dan membuat wajah mereka berdua merah padam.

“Sudah.. Sudah.. Ini, Minho-ah, kami membelikan buah untukmu, semoga cepat sembuh ya,” Siwon menengahi, lalu menepuk pundak dongsaengnya itu pelan. Minho mengangguk pelan, dan menatap Wookie dengan tatapan terima kasih.

*_*

*Hyerin POV*

Aku meletakkan sendok dan garpu yang sedari tadi kupakai begitu saja keatas meja, lalu menatap namja yang kini tengah menik mati makannya dihadapanku dengan tatapan menyelidik. Apa benar dia…

“Prince??” tanyaku ragu. Kulihat ia terdiam. Lalu meletakkan sendok dan garpu yang sedari tadi dipakainya keatas piring, kemudian menatap lurus kearahku.

“Kau bilang apa tadi??” tanyanya balik.

“Prince??” ulangku. Ia menatapku takjub, lalu berlari meninggalkan bangkunya dan menghambur kearahku, memelukku erat.
“Mwo… mwo ya!??” pekikku. Jujur saja aku kaget! Kaget setengah mati karena perlakuannya yang secara tiba-tiba seperti ini. Kurasakan wajahku pun kini mulai memanas. Untuk saat ini kuharap ia tak akan melepaskan pelukannya. Bukan karena apa-apa, tapi aku malu, aku takut ia akan menyadari bahwa wajahku sudah memerah karenanya >///<.

“Kau mengingatnya!! Kau sudah mengingatku!! Gomawo!!!” pekiknya riang sambil memelukku lebih erat, hingga membuatku sesak.

“Ya!! Lepaskan!! Sesak tau!!!” Leeteuk melepaskan pelukannya sambil terkekeh dan menatap wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus ini dalam. Dag… Dig… Dug… Itulah yang kurasakan saat ini. Bagaimana tidak? Wajahnya dan wajahku hanya terpaut jarak sekitar 10cm. Begitu dekat! Dan saking dekatnya akupun dapat merasakan aroma tubuhnya dan helaan nafasnya.

“Mianhae,” hanya itu yang ia katakan, lalu kembali menarikku kedalam dekappannya. Kali ini dekapannya terasa lembut dan hangat. Dan tanpa sadar aku membalas dekapannya itu, dan sesekali mengusap punggungnya lembut.

Kring… Kring…
Tiba-tiba saja terdengar dering telepon dari arah ruang tengah.

“Ya, ada telepon,” ucapku, pelan, karena jujur aku tak ingin merusak suasana.

“Hmmph??”

“Ada telepon, sana, angkat dulu.”

“Shireo,” jawabnya tak peduli, dan malah semakin mengeratkan pelukkannya.

“Arraseo. Kalau begitu nanti malam kau tidur saja di luar,” ancamku. Leeteuk langsung melepaskan pelukkannya dan berjalan kearah ruang tengah sambil ngedumel. Aku hanya bisa senyum-senyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil itu, sangat berbeda dengan sosoknya yang terakhir kali kulihat saat ia tiba-tiba saja pergi meninggalkan rumah.

“Cepat mandi, dan bersiap-siap!” ucapnya begitu sudah kembali berdiri di depanku.

“Mwo?? Wae gurae??”

“Cepatlah, barusan Jonghun telepon, ia bilang Minho masuk RS.”

*_*

*Chaehyun POV*

“Bagaimana? Mimpi indah semalam??” tanya Jonghun saat ia mendapatiku tengah berdiri di balkon sambil menikmati semilir angin pagi pegunungan. Aku meliriknya sekilas lalu tersenyum kecil. Belakangan aku selalu bingung harus berkata apa ketika berhadapan dengannya, terlebih lagi karena kejadian semalam. Yah, walaupun itu untuk keperluan syuting, tapi dari nada bicaranya dan gesturenya, aku tahu bahwa yang ia katakan semalam bukan hanya tuntutan scenario, tapi juga ungkapan dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Er.. Itu, soal yang semalam.. sebenarnya..”

“Ah… Annio.. Aku tau kok. Semua itu demi scenario kan?? hoho” kilahku tanpa berani sekalipun melihat wajahnya.

“Anni.,” ucapnya datar. Dag. Dig. Dug. Jantungku seketika kembali berdegub kencang.
“Aku serius,” Dag.. Dig.. Dug..
“Sa…” belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, ponsel yang sedari tadi ia genggam bordering keras. Seketika, suara Hongki Oppa mengalun kepenjuru balkon.

annyeong nae sarang sarang sarang
jalgayo nae sarang sarang sarang
chaoreunun naui nunmuri onmomeul jeoksyeodo
ijaenun good bye good bye good bye
narul ddeona budi haengbokhae
hangeorum hangeorum niga meoreojinda

“Yobsaeyo?”
“..”
“Mwo??? Jinchayo!!??” pekiknya. Kulihat sebuah guratan cemas terukir diwajahnya yang tampan. Ada apa memangnya??
“..”
“Ah, syukurlah kalau begitu.”
“…”
“Arraseo. Ne, annyeong.”
BIPP. Belum sempat aku bertanya ia kembali sibuk dengan ponselnya. Kali ini, ia yang menghubungi seseorang.

“Minho masuk rumah sakit,” jelasnya tanpa kutanya terlebih dahulu. Sepertinya ia sadar bahwa aku selalu memperhatikannya dari tadi. Eh, chamkanman… apa yang dia katakana tadi? MINHO masuk RS??!!

“Oppa! Dongsaengmu sakit begitu, harusnya kau jenguk!”

Jonghun menarik nafas berat, lalu menatapku sambil tersenyum kecil. “Ia bukan anak kecil lagi, dan aku sudah menelpon Leeteuk hyung untuk menjaganya. Lagi pula..” Jonghun menaruh tangannya di atas pundakku lalu menatapku dalam. “Masih ada urusan yang masih belum ku selesaikan disini,” tambahnya, lalu mengecup keningku sekilas dan pergi entah kemana, meninggalkanku yang LAGI-LAGI hanya bisa mematung karena perbuatannya.

*_*

*Hyerin POV*

Setelah menerima telepon yang ternyata dari Jonghun Oppa, yang mengabari bahwa Minho Oppa masuk rumah sakit, kami berdua langsung bersiap-siap dan bergegas kerumah sakit yang dimaksud. Saking cemasnya, kami bahkan lupa kalau kami berdua belum mandi dan malah langsung berangkat kesana dengan mobil milik Leeteuk tentunya.
Sesampainya kami di kamar 3424, apa yang terjadi?? Orang yang kami khawatirkan malah asik pacaran!

“Ehemmm..” Leeteuk langsung berdehem keras begitu kami mendapati sosok si FLAMMING CHARISMA tengah mengobrol santai dengan yeoja yang beberapa waktu lalu sempat ia tolak mentah-mentah, sambil memegangi tangannya erat, dan menatapnya dengan tatapan mesra.
Seketika, mereka langsung melepaskan genggaman tangan mereka satu sama lain dsan langsung buang muka. Kami berdua hanya bisa terkekeh dan terus-terusan menggoda mereka.

“Eh, ngomong-ngomong… Kok ada bau-bau tak enak gitu ya??” ucap Chaeyoung Onnie sambil sesekali mengelus hidungnya yang bangir, mencoba menajamkan indera penciumannya.

“Ah, betul juga! Kok seperti bau-bau asem gimana gitu ya??” tambah Minho Oppa yang kini ikut-ikutan menelusuri bau-bauan yang mereka maksud.

“Bau Minho Oppa kali! Kan gak mandi-mandi tuh..” kilahku.

“Ah, betul juga sih, Minho dari kemarin memang belum mandi,” Chaeyoung Onnie menatap Minho Oppa, serius, dan dibalas tatapan galak darinya.

“Sembarangan! Kalau aku yang bau, pasti baunya sudah tercium dari tadi.. Sejak kalian belum datang…”

“Ah… Arra.. Arra…” potongku secepat kilat, sebelum Minho Oppa bicara macam-macam, dan ujung-ujungnya aku yang menjadi tersangka, “Tak terasa sudah sore rupanya.. Hehehe” kataku kikuk sambil menunjuk kearah jendela yang menampakan cuaca mendung diluar sana.
“Ayo pulang, sudah sore, sebentar lagi hujan,” ucapku sambil menarik tangan suamiku itu pulang.

Disepanjang perjalanan, Leeteuk tak henti-hentinya tertawa dan membicarakan kelakuanku yang aneh saat dirumah sakit tadi, sementara aku hanya bisa merengut sebal sambil menatap lurus kedepan.

JDUT.

Tiba-tiba saja mesin mobil yang kami naiki berhenti. Beberapa kali ia mencoba menstaternya kembali, namun tetap saja tak bisa. Mobil tetap saja mati. Sementara itu diluar sana, hujan mulai turun dengan derasnya.

“Ya! Telpon bengkel saja,” usulku.

Kulihat ia merogoh saku celananya, mencoba mencari sesuatu. Tak ketemu. Kemudian ia mulai mencobanya lagi di saku yang lain, sampai akhirnya dashboard mobilpun tak luput dari perhatiannya.

“Ponselku.. Ponselku tidak ada..” ia menatapku dengan tatapan bingung.
“Ponselmu.. Ponselmu… Cepat, mana?”

“Ponselku dirumah, masih di dalam tas sekolah sepertinya,” jawabku, jujur.

Argh… Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Sementara udara di dalam mobil semakin lama semakin pengap. Mungkin ini akibat dari mesin mobil yang mati, sementara seluruh kaca jendela yang ada tertutup rapat dan tak bisa dibuka. Argh… Sesak!!

Leeteuk langsung membuka pintu mobilnya lalu keluar dari dalam mobil dan kembali menutupnya rapat, padahal diluar hujan sangat deras. Tak lama, ia juga membuka pintu yang ada disebelahku dan menyuruhku untuk mengikutinya keluar.
Berhubung ujan memang sangat deras, ia membuka mantel yang sedari tadi ia kenakan dan membiarkannya menjadi “payung” kami berdua. Kamipun segera mencari tempat untuk berteduh agar tubuh kami tak semakin basah kuyup karena hujan. Berhubung kami tak membawa ponsel, ia langsung menarikku masuk kedalam sebuah box telepon umum, untuk menghubungi bengkel sekaligus berteduh dari guyuran hujan yang semakin mengganas.

“Ah, ne, algeiseumnida, arraseo.”
BIPP.

Telpon pun terputus.

“Setengah jam lagi,” katanya. Arghhhh, lama sekali? Padahal hujan semakin deras!
Aku terus menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku lalu menaruhnya di pipi, agar terasa hangat, hingga sepasang tangan berukuran besar menahan tanganku. Leeteuk langsung menggosokkan kedua tangannya kemudian meletakkannya di pipiku.

“Bagaimana?? Lebih hangat kan??” ia tersenyum manis. Aku terpana dibuatnya. Omo~ Sepertinya aku mulai terhipnotis olehnya. Aku mengangguk kecil. Seketika ku rasakan jarak antara wajahku dan wajahnya semakin menipis, dan tiba-tiba saja kurasakan sesuatu yang terasa hangat dan lembut mendarat tepat di bibirku. Aku hanya bisa diam. Diam menerima perlakuannya terhadapku. Perlahan tetapi pasti ia mulai melumat bibirku, lembut, dan tanpa kusadari aku pun mulai membalasnya. Awalnya lembut, hingga akhirnya semakin kasar. Dan tiba-tiba saja….

TOOKKK… TOOKKK… TOOKK…

“Josonghamnida, mobil anda sudah selesai kami perbaiki,” ucap seorang pria setengah baya berpakaian ala montir lengkap dengan perlengkapan montir ditangannya. Kami langsung melepaskan diri kami masing-masing dan menatap kearah lain, canggung. Leeteuk langsung membuka pintu box telepon dan menunduk berkali-kali pada ahjussie montir itu. Jrak antara box dan mobil kami memang hanya terpaut 3m, karena mobil kami yang mogok tadi memang berhenti tepat di seberang box. Aku melayangkan pandanganku kesekeliling, hujan rupanya sudah berhenti, dan hari semakin sore, ternyata cukup lama kami di dalam. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri jika mengingatnya.

*_*

*Author POV*

Tak terasa Jonghun dan dia sebentar lagi akan berpisah. Karena syuting WGM untuk season terbaru episode mereka sudah akan memasuki acara puncaknya, yaitu “MARRIED”, itu berarti pertanda bahwa aku dan dia sebentar lagi akan berpisah. Jujur. Ia tak ingin berpisah darinya. Walau bagaimanapun ia tak rela dan tak bisa jauh darinya.
Gejolak perasaan yang ia alami selama ini di dalam dadanya sudah hampir mencapai klimaksnya, dan akan meledak jika ia tak sesegera mungkin mengutarakannya.

Ia melirik LOLLIPOP biru miliknya yang tadi diletakkan sembarang di atas meja computer lalu mulai menghubungi seseorang. Dan tanpa fikir panjang langsung diraihnya kunci mobil dan segera pergi menuju suatu tempat.

*_*

“Ada apa kau memanggilku kemari??” ucap Kyuhyun dingin sambil menatap lawan bicara yang kini berdiri tepat dihadapannya tajam.

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Biarkan dia disisiku,” ucap Jonghun tenang, namun sarat akan emosi didalamnya. Kyuhyun hanya bisa diam, sementara kedua tangannya sudah terkepal, urat-urat yang ada di sekitar tangan dan lehernya sudah mulai bermunculan. Namun ia tetap berusaha untuk menahan emosinya.

Tanpa mereka berdua sadari, Chaehyun sudah berdiri di tengah-tengah mereka sambil menatap mereka bergantian, bingung dengan apa yang telah terjadi. *note author: sekedar info, mereka berdua janjian ketemuannya di taman dekat DORM MIINA. Dan Chaehyun saat itu lagi iseng jalan kesana*

“Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua??”

“…” diam. Tak ada satupun diantara kedua namja tersebut menyahut pertanyaannya. Mereka masih saling menatap dengan tatapan dingin satu samalain, seolah saling melemparkan arus listrik dari mata mereka masing–masing, bertarung menjadi siapa yang jadi yang terkuat.

“YA!!” pekik Chaehyun kesal. Perlahan pandangan kedua namja tsb melunak, dan mulai memperhatikan Chaehyun yang memandang mereka dengan tatapan bingung. Jonghun tersenyum, seperti biasa, sementara Kyuhyun tak bergeming, masih seperti semula.

“Jonghun Oppa, ada apa ini??” Jonghun hanya tersenyum simpul, tak menjawab.

“Oppa?” gumam Kyuhyun dalam hati. Entah mengapa dadanya terasa sakit begitu mendengar kalimat itu.
“Gurae. Aku pergi dulu.” Kyuhyun berbalik, meninggalkan Jonghun yang tangannya kini terkepal kuat dan Chaehyun yang masih terbengong-bengong tak mengerti.

Drrt… Drrttt…
Ponsel Chaehyun bergetar. Telepon masuk
Manajer Ma.

“Annyeonghasaeyo,”
“Annyeong, ah, langsung saja, Chaehyun-ssi. Kau diminta untuk menyayikan lagu duet, remake dari lagu Kangta sunbaenim, jadi bersiap-siaplah, datanya sudah ku kirim lewat e-mail, tolong di cek ya, annyeong,”
BIPP.
Chaehyun cuma bisa mentap layar ponselnya. Belum sempat ia bicara, telpon sudah terputus.

*_*

*Hyunjae POV*

“Sudah siap barang-barangnya?” tanya Ah ra Onnie sambil tersenyum kecil begitu melihatku sudah berdiri di depan teras rumah kediam keluarga Cho. Aku mengangguk kecil. Jung ahjussie yang bertugas untuk mengantarkan kami ke bandara berjalan mendahuluiku untuk memasukkan seluruh barang bawaanku kedalam bagasi mobil.

Aku menarik nafas panjang, sambil mentap kesekeliling.
“Sepertinya aku akan sangat merindukan tempat ini,” batinku lirih.

“Hyunjae-ah, kajja!” panggilnya lagi, dengan langkah mantap aku mulai berjalan dan masuk kedalam sedan hitam mewah milik keluarga Cho itu. Di dalam mobil hanya ada aku dan Ah ra Onnie serta Jung ahjussie yang mengantarkan kami ke bandara, sementara Eomma dan Appa akan menyusul, karena sebenarnya jadwal keberangkatan kami masih beberapa jam lagi.

Sesampainya di bandara, berhubung jadwal keberangkatan kami masih sangat lama, aku dan dan Ahra Onnie memutuskan untuk sarapan di sebuah restaurant yang ada di bandara. Saat ia pamit ke toilet, tak sengaja aku menemukan sebuah majalah terjatuh di dekat meja makan yang kami tempati. Sepertinya ini milik seseorang yang tadinya duduk disini. Penasaran, akhirnya aku membukanya.
Mataku langsung terbelalak begitu melihat judul artikel yang dimuat dan dipajang dengan ukuran super besar disana.

SM SCANDAL!!

Aku langsung membuka halamannya kasar dari awal sampai terakhir, semua berisi tentang scandal-scandal yang terjadi pada artis-artis yang bernaung dibawah bendera SM ent. Perlahan, kuulangi lagi semuanya dari awal.
Halaman pertama…
Berisikan foto-foto Leeteuk dengan…. HYERIN???
“Omo~ Aku bahkan baru tahu bahwa Hyerin sudah menikah dan menjadi seorang istri Leeteuk Oppa. Kemana selama ini??” batinku.
Disini jelas sekali terpampang foto-foto pernikahan mereka yang diambil secara sembunyi-sembunyi, dan beberapa foto lainnya lagi, dan yamng paling membuatku tertarik adalah saat melihat foto dimana ada sepasang orang yang tengah berciuman di dalam box telepon di tengah hujan.

Aku terus membuka halaman lainnya, hingga akhirnya mataku terpaku pada sebuah gambar dimana menampakkan sosok Kyuhyun Oppa di didalamnya.
Dihalam itu sama sekali tak ada artikel, hanya menyantumkan beberapa foto yang diambil dengan Kyuhyun Oppa dan beberapa yeoja yang tertangkap kamera tengah bersamanya.
Dan.. Tunggu dulu. Disini hanya ada 5 foto, 1 foto saat aku dan ia main di Game centre, 1 foto saat ia tengah membuka sebuah pintu kamar RS, yang sepertinya kamar inapku, 1 foto saat kami tengah berbicara di Taman RS tempo hari, dan sisanya dalah fotonya dengan seorang yeoja berambut panjang, yang kuyakini dari gayanya mereka adalah orang yang sama.

Dibaliknya, terdapat sebuah foto dari member MIINA, GB besutan SM yang baru satutahun yang lalu memulai debut mereka. Mataku kembali tertarik ketika melihat sebuah foto dari Chaehyun, dimana dihalaman itu banyak sekali terpampang fotonya ia bersama seorang pria tampan yang disebut-sebut sebagai LEADER dari FT ISLAND. Disana disebutkan bahwa sepertinya hubungan keduanya tak hanya sebatas sebagai profesionalitas kerja dalam lingkup WGM. Namun diantara foto-foto tsb, terselip sebuah foto dimana ia berpenampilan persis seperti yeoja yang ada di foto pada bagian Kyuhyun Oppa.

Halaman terakhir..
Disana terpampang sebuah foto dimana ada sosok namja yang belakangan ini sangat dekat denganku, Donghae Oppa, tengah foto berdua dengan seorang yeoja yang disebut-sebut merupakan salah seorang lead vocal pada salah satu GB terkenal korea. Tak hanya 1, tapi ada beberapa foto lainnya, masih dengan yeoja yang sama. Dan hanya da 1 foto yang diambil dengan yeoja yang berbeda. Dan untuk yang satu ini, aku yakin paparzi mengambilnya belum lama, karena disini terlihat kalau Donghae Oppa baru mengubah gaya rambutnya.

Hatiku mencelos.
Sakit, perih, gusar, kesal, dan serba salah kini menggelayuti hati dan fikiranku.
Bagaimana tidak, namja yang belakangan dekat denganku malah tertangkap kamera tengah berjalan dengan yeoja lain yang jauh lebih di atasku, dan belakangan juga jadi jarang menemuiku dengan berbagai alasan. Yang kedua, Kyuhyun Oppa malah di gosipkan menjalin cinta denganku, dan aku semakin tak enak hati jika nyatanya ada seseorang yang harus tersakiti dengan adanya pemberitaan yang tak benar seperti ini.

Aku langsung menutup majalah yang sedari kupagang ini rapat, kemudian menaruhnya keatas meja. Sesekali ku pijit dahiku karena terasa pusing. Bukan pusing sakit atau apa, tapi pusing memikirkan masalah yang ada.

“Hyunjae-ssi??”

>>>TBC…

>>>Tgu NEXT PART ya…

part depan adalah LAST PART..

gOmawo buat readers yg udah setia baca FF geje q ni ya.. *BOW*

sO.. terus pantengin sampe TAMAT yyaa…

n jangan lupa Comment serta JEMPOLNYA!!

^^

~mRs. cHOiLee~

Iklan

14 thoughts on ““Merry Me” ~part: 10

  1. Omo~~~
    Leeteuk n Hyerin….
    So sweeett…..
    Romantis sekaleee….. >.<

    Konflikna makin banyak..
    Seru!!

    Yoenda………
    kurang panjang, knp gak sekalian aja diposting sampe ending.. 🙂
    *reader banyak mauna*
    #plakplakplak

  2. Chingu ff kren bgt..
    Pnsran niyh ma endingx..
    Aq minta pasword bwt last partx dong
    Please..
    Krim ke fb aq aja Ÿ̲̣̣̣̥ǻǎ̜̣̍ǻ chingu
    (Ixora flori bunda)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s