~Still Merry Me~ eps:2

Annyeonghasaeyo yeorobeun~~
Im back
Hoho
Mian ya kalo part kemaren author exist skale.. lebi exist dari main castnya malah..
Maklum penyakit narsis author agy kumat,, obat penangkalnya agy abiss. Hehehu~ 😛
Part kali ini Aq harap semua suka yah..
Mian kalo “lebi geje” dari FF q yg sebelumnya.. maklum.. ud lama gga nulis.. hehe
Ok.. let’s chek this out !!
“jangan lupa ninggalin JEJAK setelah baca!”

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIARISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo :Uri cindy

————o0o————-o0o————-

*Part:2*

*Author POV*
*Author POV*

@ singapura..

Chaeyoung memeluk tubuhnya sendiri di balkon kamar hotel yang ia tempati sambil tersenyum memandangi pemandangan laut yang tersaji dihadapannya. Sesekali dirasakannya semilir angin berhembus, menyapu wajahnya dan mengibaskan rambut panjangnya yang memang sengaja terurai. Sejuk. Itu yang ia rasakan. Wajar saja, waktu memang masih menunjukkan pukul 6.30 waktu singapura.

Singapura? Ya, memang saat ini ia dan ‘suami’nya, Minho, sedang berbulan madu di Negeri singa tsb, baru kemarin malam mereka tiba di Singapura dan langsung tertidur dengan lelapnya begitu sampai di hotel karena perjalanan yang terasa sungguh amat melelahkan.

Chaeyoung baru saja akan berbalik untuk masuk kedalam kamar ketika dirasakannya sepasang tangan melingkar di perutnya, memeluknya erat dari belakang, dan menaruh dagunya di atas pundak Chaeyoung. Tanpa perlu ia berbalik, ia sudah tau dengan pasti siapa orang yang sedang memeluknya dengan mesra sepagi ini.

“Jangan bergerak,” pinta pria itu mesra, tepat di telinga Chaeyoung, membuatnya sedikit merinding karena geli. “Biarkan kita seperti ini terus.. jebal. Aku masih mengantuk.” Chaeyoung memukul sebelah lengan namja yang tengah memeluknya itu pelan lalu berbalik memandangi wajah namja jangkung tsb.

“Ya! Kalo masih mengantuk tidur di kamar sana.”

“Shireo! Tak ada kau disana.. Aku mau denganmu,” Minho mengerling nakal, lalu tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Chaeyoung, menggendongnya, memperlakukannya layaknya seorang puteri.

“Ya! Choi Minho!! Kau mau apa!!?” Chaeyoung memukul-mukul dada bidang Minho pelan.

“Tidur!” Minho tersenyum sambil mengerling nakal.

^0^

@ SBS – starking

Begitu sutradara mengisyaratkan untuk istirahat beberapa menit saat filming, beberapa bintang tamu memutuskan untuk keluar dari studio, baik itu untuk sekedar ke toilet, ke ruang ganti, mencari minum, ataupun keluar untuk sekedar mencari angin. Donghae langsung menghampiri Hyunjae yang sedang asik duduk di salah satu bangku penonton sambil memainkan ponselnya. Sementara itu di panggung, di tempat duduk dimana para bintang tamu berada, Kyuhyun yang kebetulan duduk di depan Chaehyun, langsung memutar kursinya agar dapat berhadapan dengan Chaehyun.

“Wae?” Chaehyun menatap Kyuhyun bingung, karena namja yang kini ada dihadapannya itu hanya diam memandanginya sambil tersenyum.

“Wae??” tanyanya sekali lagi, namun Kyuhyun tak menjawab, ia masih saja memandangi wajah Chaehyun sambil tersenyum. Chaehyun mendengus. Sementara Kyuhyun malah tertawa kecil melihat tingkah yeojanya itu.

“Kau lucu sekali jagiya…” ia mengacak rambut Chaehyun lembut.

“Aishh…” Chaehyun lagi-lagi hanya bisa mendengus sebal menghadapi tingkah namja chingunya itu sambil merapihkan rambutnya yang jadi ‘sedikit’ berantakan karena ulahnya.

“Omo.. Omo..” pekik sebuah suara dari arah seberang. Kyuhyun langsung berbalik kearahnya. “Kalian pacaran Kyuhyun-ssi? Chaehyun-ssi??” tanya Kang Hodong antusias, sehingga membuat beberapa pasang mata yang ada di sekitar mereka menoleh kearahnya, termasuk beberapa crew dan bintang tamu lainnya yang kebetulan tak beranjak dari studio. Kyuhyun dan Chaehyun hanya bisa saling menatap tanpa berani bicara. “Aigoo~ Aigoo~ sejak kapan kah?? Sudah lama?”

“Ah? Ne, lumayan lama,” jawab Kyuhyun, kikuk, karena tau-tau Kang Hodong sudah ada tepat di depan wajahnya, dan semua mata kini memandang kearahnya.

“Sejak kapan??” sambar Kim Na young yang ketika mendengar hal ini kebetulan baru saja masuk kedalam studio, dan langsung berlari kecil menghampiri mereka. “Sejak kapan, Chaehyun-ssi??”

“Ne??”

“Sejak kapan kalian pacaran?? Aku juga ingin tahu..” sambung Seunghyun yang tau-tau sudah duduk di samping Chaehyun sambil memasang tampang penasaran. Sementara itu member super junior lainnya + Binwoo hanya bisa cekikikan melihat member mereka yang sedang kebingungan. Donghae dan Hyunjae yang melihat peristiwa ini dari bangku penonton pun hanya bisa senyum-senyum.

“eh?? Anu.. Itu..” Chaehyun menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak gatal, bingung.

“Sejak mereka masih duduk di bangku SMA,” sambar Eunhyuk yang tak sabar karena keduanya tak juga menjawab, sehingga membuat semua mata kini tertuju kearahnya.

“Mwo?? Jeongmalyo? Selama itu kah??” Kim Na young menatap Eunhyuk, lalu beralih menatap Kyuhyun dan Chaehyun dengan tatapan tak percaya.

“Whaa~ Daebak! Kalian bisa menyembunyikannya selama ini!!” Kang Hodong menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil bertepuk tangan. Kyuhyun dan Chaehyun hanya bisa meringis mendengar pujiannya.

Sementara itu, tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi ternyata terus mendengarkan percakapan mereka semua dengan tatapan nanar. Tangan kanannya memegang erat kaleng minuman yang isinya sudah habis ia minum sampai wujudnya tak karuan.

^0^

“Kyuhyun-ah, kau nanti pulang dengan Leeteuk hyung saja ya! Aku ada urusan sedikit dengan dongsaengmu! Bye!!!” bisik Donghae sebelum akhirnya keluar dari ruang ganti sambil menarik tangan Hyunjae agar mengikutinya, tanpa mendengar persetujuan dari Kyuhyun terlebih dahulu. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi tingkah hyungnya yang satu itu. Berhubung tadi ia datang kemari dengan menggunakan mobil donghae, karena tadi pagi tahu-tahu hyungnya yang satu itu sudah muncul dengan senyum bayinya di depan rumah mereka dengan alasan menjemput Kyuhyun, jadi mau tak mau saat ini ia harus meminta tumpangan dengan hyungnya yang lain.

DRRTT.. DRRTT…

Ponsel yang sedari tadi Leeteuk kantongi di saku celananya bergetar hebat. Panggilan masuk.

Nae Buin.

Begitu melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, ia langsung mengangkatnya dengan senyum lebar.

“Ne, annyeong,”

“…”

“Ye?? Ah, ne yeobo, arraseo!”

“….”

“Ne. Ne. Annyeong.”

BIPPP. Ia langsung memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya, dan bersiap untuk pulang, karena member yang lain juga sudah bersiap-siap untuk pulang.

“Kyunnie,” / “Oppa!!” panggil leeteuk dan Chaehyun bersamaan. Chaehyun yang tadi memanggil Kyuhyun dari depan pintu langsung masuk kedalam begitu melihat Kyuhyun ada di dalamnya.

“Ne? Wae jagiya??” Kyuhyun menatap Chaehyun lembut.

“Ada jadwal habis ini?”

“Annio, wae?”

Chaehyun tersenyum puas, lalu berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun. “Kita jalan-jalan hari ini. Otte?”

Kyuhyun menatap wajah yeoja yang ada dihadapnya itu dengan tatapan menimbang. Leeteuk tersenyum kecil lalu menepuk pundak Kyuhyun pelan.

“Aku pulang duluan. Bye!”

“Ne, Oppa. Hati-hati dijalan!” Chaehyun tersenyum kecil sambil sedikit membungkukkan badannya ketika Leeteuk berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Bagaimana Oppa?” Chaehyun menatap Kyuhyun penuh harap. Kyuhyun mengangguk pasrah.

“Tapi aku tak bawa mobil hari ini.”

“Gwenchana Oppa! Kita bisa naik bus!” ia mengedipkan sebelah matanya.

“MWO!!?? Neo micheoso!? Kau gila apa!? Nanti kita bisa diserbu para fans! Andwaeyo! SHIREO!!” tolak Kyuhyun mentah-mentah. Namun bukan Chaehyun namanya jika ia langsung menyerah begitu saja tanpa perlawanan.

“Hyaa.. Oppa.. Jebal.. Kita kan bisa pakai alat penyamaran! Kita tinggal pakai topi dan kaca mata juga sudah cukup kan!?”

*Kyuhyun POV*

“Hyaa.. Oppa.. Jebal.. Kita kan bisa pakai alat penyamaran! Kita tinggal pakai topi dan kaca mata juga sudah cukup kan!?” Chaehyun menarik-narik sebelah lengan bajuku sambil mengeluarkan puppy eyesnya. Aisshh!! Kalau sudah begini aku paling tak kuasa untuk menolaknya, lagi pula sepertinya ia memang sangat menginginkan kami ‘berkencan’ hari ini. Mau tak mau akupun akhirnya mengangguk juga, membuatnya langsung tersenyum girang.

“Yiipy!! Kajja! Kajja!” dengan semangat ia langsung mengamit lengan kananku dan menarikku keluar begitu kami selesai dengan penyamaran kami.

Begitu sampai di luar gedung SBS, ia langsung menarikku agar mengikutinya berlari menuju halte subway yang memang terletak tak jauh dari tempat kami berada sekarang. Tak lama setelah kami mengantri untuk membeli tiket, kereta yang kami tunggupun akhirnya datang. Aku dan Chaehyun memilih untuk duduk di salah satu dari deretan bangku kosong yang berada di paling pojok. Begitu kereta yang kami tumpangi berhenti di salah satu stasiun, Chaehyun langsung mengajakku untuk turun.

“Lho? Sebenarnya kita mau kemana, jagy?” tanyaku, bingung, begitu kami sudah duduk di salah satu bangku kosong yang ada di dalam bus.

“Kencan Oppa. Kencan,” jawabnya sambil tersenyum penuh arti. Aku menatapnya bingung.

“Arra.. Arra.. Aku tahu kita mau ‘kencan’, tapi kemana?”

“Tenang sajalah.. Kita akan melakukan ‘kencan’ yang sesungguhnya.”

“Mwo??” O.o

^0^

*Author POV* 

“EOMMA~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~” rengek Jongmi, keras, dari arah ruang keluarga. Siang itu kebetulan rumah sedang kosong, hanya ada Hyerin dan Jongmi, Appa Hyerin masih berada di ChunAhn dalam rangka tugas dinas, sedangkan Eommanya dari tadi siang belum kembali dari acara reuni SMA-nya. Hyerin yang baru saja akan keluar dari dalam kamar mandi langsung mengurungkan niatnya dan beralih menghampiri Jongmi yang rengekkannya sudah berganti menjadi tangisan.

“Ne.. Ne.. Eomma datang, sayang!!”

“Eomma~~~~~”

“Ye!!!” Hyerin langsung mengangkat Jongmi dari atas sofa dan menggendongnya sambil menepuk-nepuk punggungnya agar ia diam.

“Cup.. Cup.. Cup.. Kenapa sayang? Anak eomma gak boleh cengeng.” Seketika tangisan Jongmi pun reda. Hanya tersisa isakkan kecil.

“Hikz.. Hikz..”

“Cup.. Cup.. Diam ya.. Anak eomma kan kuat, gak cengeng.. Cup.. Cup.. Cup..” Hyerin mengelus-elus punggung anak semata wayangnya itu, lembut.

“Hikzz.. Hikzz..”

Ding.. Dong..

Hyerin langsung berjalan kearah layar intercom yang terpasang tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Begitu sosok suaminya terpampang disana, ia langsung membuka pintu, masih dengan Jongmi dalam gendongannya.

“Lho? Kenapa dengan Jongmi?” Leeteuk langsung meletakkan kantong belanjaannya di atas meja pajangan yang berada disampingnya begitu melihat Jongmi berada di dalam gendongan Hyerin sambil terisak.

“Mollayo. Tadi saat ku tinggal kebelakang sebentar ia tiba-tiba menangis,” Hyerin menoleh kebelakang, melihat Jongmi yang masih sesenggukkan, sekilas.

“Aigoo~ Anak Appa masa cengeng?” Leeteuk memberikan isyarat pada Hyerin agar memberikan Jongmi padanya. Hyerin mengangguk, lalu menyerahkan Jongmi kedalam pelukkan Appanya. “Anak Appa gak boleh cengeng!” Leeteuk menatap wajah Jongmi yang kini terlihat memerah akibat menangis, serius, Jongmi malah menggembungkan kedua pipinya dan membuat kedua orang tuanya tertawa melihat tingkahnya.

“Aigoo~ Mirip sekali anak itu dengan Appanya!” (_ _”) Hyerin menggeleng-gelengkan kepalanya begitu Leeteuk mulai berjalan meninggalkannya beserta kantong belanjaan yang tadi ia bawa.

^0^

@ FnC Music

“Hyung~~~~~~~~~~~~~~~~~” Jaejin langsung duduk sambil tidur-tiduran malas disamping Jonghun, yang sedari tadi asik dengan gitar dan tumpukkan kertas dihapannya, dengan selimut PORORO menyelimuti sebagian tubuhnya. Jonghun hanya menoleh sekilas, lalu kembali menggenJreng gitarnya dan menuliskan sesuatu di atas kertas yang ada dihadapannya.

“Wae?” tanya Jonghun tanpa menoleh.

“Mana Hongki hyung?”

“Molla,” jawabnya singkat, masih asik dengan gitarnya. Jaejin cuma bisa menggembungkan kedua pipinya, kesal. Dari arah pintu masuk, Minhwan dan Seunghyun datang sambil membawa sekantong belanjaan dan 2 kotak Kyochon Chicken yang box-nya memajang foto grup mereka sebagai ikon barunya, dan langsung duduk menyempil diantara mereka berdua.

“TARAAAAAAAA~~ makan.. makan~~” Minhwan membuka kotak berisi ayam-ayam itu dihadapan mereka semua, sementara Seunghyun membuka kantong belanjaan yang tadi ia bawa dan meletakkan beberapa kaleng minuman keatas meja. Jonhghun yang sedari tadi cuek dan malah asik dengan gitar dan tumpukkan kertasnya langsung menaruh hartanya tsb kepinggiran, dan beralih ke tumpukkan makanan yang ada dihadapannya kini. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil paha ayam yang baru saja akan diambil Minhwan.

“Ah, hyung~~” Minhwan menggembungkan pipinya kesal. Jonghun malah dengan cueknya menghabiskan ayam yang ada di tangannya tsb.

BRAKK.. 

Tiba-tiba saja pintu studio terbuka lebar. Semua menoleh kearah pintu lalu memasang pandangan heran begitu Hongki berdiri di pintu sambil senyum-senyum gaje. Senyuman maha lebar terpasang di wajahnya.

“Wae gurae??” tanya mereka kompak. Dalam hati mereka merinding melihat kelakuan member paling ‘tua’ di grupnya itu. Bukannya menjawab, Hongki malah semakin memperlebar senyumannya, ia bertingkah bagaikan ballerina, berputar-putar sambil menari dan sedikit berdendang. Entah lagu apa yang sedang ia dendangkan, karena yang mereka dengar hanya suara hmmpp… hmpp.. Lala..lalala…

Setelah puas berputar, ia pun menjatuhkan dirinya diantara member yang lain. Jonghun dan Jaejin yang sudah meleihat tanda-tanda bahwa Hongki akan melakukan hal itu pun dengan secepat kilat bangkit dari duduknya, hingga membuat Hongki langsung terjatuh ke sofa, bukan jatuh menindih mereka.

“Ya! Penyakitmu kumat??” Jonghun berkacak pinggang. Bukannya jawab, Hongki malah mengambil selimut pororo milik Jaejin yang tadi ia gunakan, lalu memeluknya erat sambil tersenyum penuh arti.

“Argh.. Jangan-jangan..”

“Jangan-jangan apa, Jaejin hyung??” potong Senghyun sambil mengelus-elus lutut kakinya yang tadi sempat kepentok pinggiran meja saat menghindar dari Hongki.

“Jangan.. Jangan.. Hongki hyung..”

“SEDANG JATUH CINTA!!” sambar Minhwan yang langsung dibalas anggukkan Jaejin. Minhwan tersenyum puas karena ternyata jalan fikirannya sama dengan apa yang difikirkan Jaejin. Jonghun dan Seunghyun saling bertatapan, lalu menatap Hongki yang masih senyum-senyum gaje sambli memeluk selimut Jaejin.

“Kau sedang jatuh cinta, Hongki-ah??” Jonghun

“Sama siapa hyung???” Seunghyun langsung duduk di samping Hongki sambil menoel-noel lengan Hongki. Jonghun, Jaejin, dan Minhwan juga tak mau kalah, mereka langsung menghambur kearah Hongki. Mendesaknya agar mengaku. Belum sempat Hongki mengaku, ia yang semula tertawa-tawa karena geli dikelitiki oleh keempat dongsaengnya yang lain, langsung diam dan tersenyum manis, lalu pergi meninggalkan mereka berempat. Mereka yang merasa aneh dan bingung langsung menatap kearah kemana Hongki melangkah.

“Annyeonghasaeyo yeorobeun~” seorang yeoja membungkukkan badannya sambil tersenyum manis kearah mereka.

“OMONA~” pekik mereka bersamaan begitu melihat sesosok yeoja tengah berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis.

“Andwaeyo~” Jaejin menepuk-nepuk pipinya pelan.

“MICHOESSO!!!” pekik Seunghyun dan Minhwan kompak. Hongki cuma tersenyum penuh arti.

^0^

*Kyuhyun POV*

Aku hanya bisa menganga lebar begitu kami berdua sampai di tempat tujuan. Rupanya yang Chaehyun maksud dengan ‘kencan yang sesungguhnya’ adalah berkencan layaknya remaja pada umumnya. Yakni berjalan-jalan tanpa tujuan yang pasti sambil menikmati hari tanpa beban. Seharian ini kami berputar mengelilingi Dongdaemun untuk berbelanja barang-barang murah namun berkwalitas, berjalan-jalan di deretan pertokoan, berfoto bersama di tempat foto box, bermain di game centre *ini yang paling ku sukai*, hingga akhirnya berhenti di gedung 63.

Hembusan angin yang lumayan kencang langsung menyambut kedatangan kami begitu kami sampai di puncak gedung yang dikelilingi oleh pagar pembatas yang dipenuhi dengan berbagai macam kertas-kertas berbentuk hati. Kuedarkan pandanganku kesekeliling, ada beberapa pasang muda-mudi yang tengah asik memasang kertas tsb sambil berdoa, dan beberapa pasang lainnya asik berbincang-bincang sambil menikmati pemandangan indah yang tersaji lewat teropong yang disediakan di beberapa sudut.

Chaehyun menggenggam sebelah tanganku erat, sambil tersenyum ia menarik tanganku agar mengikuti langkahnya. Ia mengajakku untuk berdiri disalah satu sudut dimana kami dapat melihat view terbaik dari atas sini.

“Indah kan?” Chaehyun merentangkan kedua tangganya sambil mengambil nafas sekuat-kuatnya, membuat kaca mata hitam yang ia gunakan jadi sedikit melorot. Aku tersenyum. Perlahan kudekatkan wajahku tepat kehadapan wajahnya, lalu membenarkan letak kacamatanya. Ia terlonjak kaget, dan sedikit salah tingkah. Aku hanya bisa tersenyum kecil, dan kembali menikmati view yang ada.

“Wae?” tanyaku bingung ketika melihatnya sibuk membongkar tasnya, mencari sesuatu. Bukannya menjawab ia malah berjongkok dan mulai membongkar isi tasnya ganas, sehingga membuat beberapa pasang mata menoleh kearah kami karena merasa sedikit terganggu dan penasaran dengan apa yang kami lakukan.

“Aigoo~ sepertinya ketinggalan!!” ia mendesah sambil membereskan kembali isi tasnya yang semula ia keluarkan ke dalam tas. Yasudahlah, kita minta saja pada penjaganya disana. Kajja!” ia menarikku hingga kami berdiri di depan sebuah meja dimana ada seorang yeoja tengah duduk disana, dan setumpuk kertas berbentuk hati dihadapannya. Sepertinya ia adalah pegawai yang bertugas menjaga tempat ini.

“Annyeonghasaeyo~” sapanya ramah.

“Annyeong, ada yang bisa ku bantu aggashi?” balasnya tak kalah ramah.

“Ne, bisa aku minta kertasnya?”

“Ah, ye, tentu, silahkan,” yeoja itu menyerahkan sebuah kertas berbentuk hati kepada kami, masing-masing, “Silakan diisi disana,” ia menunjuk kearah sebuah meja kecil yang memang disediakan untuk para pengunjung. Kami mengangguk pelan lalu pergi kesana setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.

“Igeo,” Chaehyun memberikan sebuah spidol permanent kepadaku. Aku menatapnya bingung.

“Untuk apa??” tanyaku polos. Ia mendelik, lalu berdecak pelan.

“Aigoo~ buat apa lagi? Buat nulis lah Oppa. Liat,” ia mengarahkan jari telunjuknya kesekeliling pagar yang dipenuhi oleh gantungan kertas, “seperti yang lainnya. Kita menulis harapan kita, lalu di gantung. Arra?” aku menggangguk paham.

“Good! Sekarang ayo kita tulis.”

“Ne, arraseoyo!” Chaehyun mengangguk puas. Setelah selesai menuliskan harapan kami masing-masing, kami mengaitkan kertas tsb ke dalam sebuah tali pengait yang kemudian di gantungkan dipagar pembatas.

“Apa wish mu Oppa?” ia menatapku dengan tampang penasaran. Aku hanya tersenyum penuh arti, lalu pergi meninggalkannya yang kini mencak-mencak karena ku tinggalkan.

“Ya!! Jawab aku!” pekiknya sebal, lalu berlari mengejarku dan mengamit lengan kiriku mesra.

“Shireo!”

“Ya!! Beri tahu aku~” ia menggoyang-goyangkan lengan bajuku manja. Aku menggeleng.

“Malhaebwa~~” bujuknya lagi. Aku menggeleng sambil tersenyum penuh arti.

“There’s a SECRET honey,” aku menjentikan jariku di dahinya. Ia merengut sebal. “Hanya aku dan tuhan yang tahu. Hahaha”

^0^

*Hyunjae POV*

“Kita mau kemana Oppa??” aku menatap Donghae Oppa yang sedang serius menyetir, penasaran. Ia melirikku sekilas lalu kembali menatap lurus jalan yang ada dihadapannya sambil tersenyum manis.

“Lihat saja nanti,” jawabnya tanpa memandang kearahku. Aku mendengus sebal, lalu kembali menatap lurus kearah jalan.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan kami lewati. Akhirnya Donghae Oppa menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah taman di dekat danau. Tanpa berkata apa-apa ia keluar membuka pintu mobilnya, lalu berjalan memutar dan membuka pintu untukku sambil tersenyum.

“Ini dimana Oppa??” aku menatapnya dengan tatapan bingung. Karena jujur saja aku agak sedikit takut, karena sejauh mataku memandang tak ada satu orang pun yang kulihat selain kami berdua.

“Ikuti aku saja,” katanya sambil tersenyum teduh. Senyum yang amat kusukai darinya. Omona~. Mau tak mau akupun terbius oleh senyumannya dan menerima uluran tangannya agar aku keluar dari dalam mobil. Donghae Oppa terus menggenggam erat tanganku hingga akhirnya kami sampai di tepi danau dekat sebuah pohon tua besar yang diatasnya terdapat sebuah rumah pohon. Awalnya ku kira Ia akan mengajakku ke rumah pohon itu, tapi ternyata ia malah menggandengku kesebuah gazebo besar bergaya eropa yang sangat kontras sekali dengan lingkungan sekelilingnya yang seperti hutan. Ia menuntunku hingga akhirnya kami berdiri di pinggiran gazebo tsb sambil menatap jauh kearah danau yang tenang, yang berada tepat dihadapan kami.

“Kenapa kau membawaku kemari Oppa??” aku menatapnya bingung. Ia tersenyum lalu balik menatap dalam mataku. Tapi, ini bukan tatapannya yang biasa, yang penuh dengan rasa cinta, kerinduan yang mendalam, ataupun tatapan polos layaknya seorang anak kecil. Tatapannya kali ini sangat berbeda, aku dapat merasakan sebuah kesedihan yang teramat mendalam tersirat di dalam mata dan raut wajahnya yang teduh. Ia tersenyum, lalu kembali memandang lurus kearah danau.

“Dulu.. Aku dan Appa sering pergi kemari untuk memancing,” ia menarik nafas berat, aku menatapnya nanar. “Tempat ini adalah tempat kenangan kami berdua.” Ia menundukkan kepalanya, lalu berbalik menatapku. “Dan aku ingin, tempat ini juga menjadi tempat kenangan bagi kita berdua,” Donghae Oppa menatap mataku dalam.

Hening. Tak ada satupun dari kami berdua yang mengeluarkan suara setelah ia mengatakan itu. Aku masih menatapnya tak percaya. Jika ia ingin tempat ini jadi tempat kenangan kita berdua, bukankah itu berarti aku sangat berarti baginya? Perlahan aku menundukkan wajahku, mencoba mencerna perkataannya berusan, namun niatku terhenti karena sebuah tangan memegangi daguku dan mengangkatnya perlahan. Kurasakan wajah Donghae Oppa perlahan semakin menunduk, tangannya masih memegangi daguku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga akhirnya aku dapat merasakan deru nafasnya yang hangat tepat di wajahku. Perlahan, kurasakan bibirnya kini sudah mengecup bibirku lembut.

Aigoo~ Ciuman pertamaku.. Hilanglah sudah >.<

Dag.Dig.Dug. kurasakan jantungku berdetak dengan cepatnya, dan kurasa bahkan Donghae Oppapun bisa mendengarnya. Tak lama, ia pun melepaskan ciumannya dan memandangku sambil tersenyum lembut. Omona~~~ entah seperti apa wajahku sekarang, yang pasti kurasa kini wajahku sudah merah seperti kepiting rebus. Aku menyentuh bibirku lalu menunduk, tak berani menatapnya, malu. Kudengar ia terkikik geli melihat tingakahku ini.

“Jangan tertawa!” sungutku sebal.

“BHAHAHAHA.. Bagaimana aku tak tertawa jika wajahmu merah seperti kepiting rebus begitu!” aishh! Jincha! LEE DONGHAE MENYEBALKAN! Aku menatapnya sebal lalu berniat pergia meninggalkannya, namun lagi-lagi niatku dicegah olehnya karena ia langsung menarik lengankananku dan membuatku untuk kembali berdiri dihadapannya.

“Mianhae~” Aku menatapnya sebal. “Aigoo, mianhae.. Jeongmal mianhae~” ia memasang puppy eyesnya kehadapanku. Aishh kalau sudah begini aku paling tak bisa menolak!

“Aishh.. Arra.. Arra.. Jangan tertawa lagi!”

“Ne! Janji!” ia langsung memasang tampang polosnya sambil membuat huruf V di kedua tangannya. Aku mendengus sebal. “Tapi, ngomong-ngomong. Itu tadi.. First kiss mu ya?” tanyanya. Kurasakan wajahku kembali memanas, dan tanpa bicara apapun aku langsung melangkah pergi dari hadapannya.

“Ya!! Hyunjae-ya!! Neo oddigaeyo??” teriaknya sambil mengejarku. Namun tak kuhiraukan. Kudengar langkahnya semakin lama semakin medekat, aku semakin berlari menjauhinya. Namun berhubung memang sejak dulu aku paling tak bisa dan tak kuat berlari, dengan mudahnya ia menangkapku.

“Aishh..” aku menatapnya sebal.

“Ya! Mau kemana kau? Jangan pergi sendiri, nanti kalau kau tersesat bagaimana?? Disini tak ada orang lain selain kita.”

“Makanya jangan suka menggodaku seperti tadi!”

“Ha~~ Arraseo,, kalau kau bersikap seperti ini, berarti tebakkanku benarkan? Yang tadi itu adalah ‘FIRST KISS’mu?”

“Ya!!” aku menepuk dadanya sebal, sementara ia malah tertawa puas.

“Ah ya, chamkanman,” kulihat ia merogoh sesuatu dari dalam saku kemeja putih yang ia kenakan. Lalu tersenyum sambil menutupi sesuatu di balik genggaman tangannya. Ia mengangkat sebelah tangannya yang menetupi sesuatu di dalamnya tepat di depan mataku. Dan.. Tarrrraaa~ sebuah kalung perak berbentuk hati dengan sebuah aksen di tengahnya keluar dari genggamannya. Cantik. Belum sempat aku menyentuhnya, Donghae Oppa malah langsung memasangkannya di leherku.

Setelah ia memasangkannya, ia langsung mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya. Sebuah kalung yang sama persis dengan yang kini ku gunakan. Aku memegangnya, memegang kalungnya sambil menatapnya dengan tatapan tak percaya.

“Di liontinnya terdapat ukiran nama kita masing-masing,” ia meraih kalung yang kugunakan dan membalik lintinnya. Dan benar saja, ada sebuah nama terukir disana. Aiden. Itu yang tertulis disana. Tak mau kalah, aku pun membalik liontinnya. Tepat! Ada namaku terukir disanya. Amanda.

“Oppa,” aku menatapnya penuh haru. Ia tersenyum, mengacak rambutku perlahan.

“Miahaeyo, Hyunjae-ya, karena selama ini kita seolah menjalani hubungn tanpa status..” aku mendelik. Menatapnya dengan tatapan bingung

“Jadi??”

“Jadi?? Would you be my girl friend?” aku menatapnya takjub. “Mianhaeyo jika aku baru mengatakannya sekarang.”

“Ehh?? Untuk apa kau menanyakan hal ini Oppa?? ”

“Ha??” ia menatapku bingung.

“Iya, untuk apa kau menanyakan hal ini sekarang? Bukankah selama ini kau selalu memanggilku ‘JAGIYA’ dan memperlakukanku sebaimana seorang namja memperlakukan yeoja chingunya? Ku kira sejak itu kita sudah ‘pacaran’?” aku menggembungkan kedua pipiku sebal. “Ku kira sejak itu juga kau menganggapku sebai yeoja chingu-mu.”

“Eh??” pekikknya bingung, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Aahahahaha.. kena kau Lee Donghae!

“Annio, Jagy, aku juga selama ini menganggapnya seperti itu. Ku kira tidak dengan mu, lagi pula, tadi Kyunnie bilang kalau kau.. Kalau aku.. tak pernah menyatakan perasaan cintaku padamu..”

“Ahahahaha…”aku tertawa terbahak mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak, dari rautnya jelas sekali kalau ia bingung dan salh tingkah. Ia memandangku dengan tatapan heran. “Oppa.. Oppa.. itu kan aku hanya bercanda pada Kyu Oppa, karena ia selalu menggodaku. HAHAHAHA!!”

“Aishh! Jeongmal!” ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Kriuukkk~~

Hening.

KRIUUUKKKK~~~

Aku langsung memegani perutku, sementara Donghae Oppa tertawa puas.

“Lapar huh??” aku menganggulk malu. “Hahaha.. Kajja!” ia langsung menarik sebelah tanganku dan menyuruhku agar aku mengamit lengannya.

TBC…
Ohohoho… keep to leave ur COMMENT
Okey?? cZ smakin byk yg koment.. part slanjutnya bakal cepet di publishh~
hoho

Iklan

21 thoughts on “~Still Merry Me~ eps:2

  1. wkwkwk.. bangunan 63 kek khuntoria aja..
    hehe

    kerenn.. tapi lebih banyak romantisnya dong.. ehhehe
    tp kerenlah pokoknya.. hehehe

  2. jongmi’y lucu bgt..
    eomma syg bgt ma jongmi..
    >///<
    nampyon yang ganteng, anak yg lucu..
    idup w indah dan bhagia bgt y??
    wkwkwkwk~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s