~Still Merry Me~ eps:3 *special edition*

Annyeong yeorobeun~~
Ketemu agy ma Author yg baik hati dan tidak sombong ini..
Hoho #PLAKK
Ok,, sebelumnya *TADINYA* part ini emg sengaja gga lama” di simpen tapi langsung publish.. tapi berhubung byk bgt hambatannya ternyata.. termasuk MODEM yg mendadak mati krn lupa bayar.. hehe
Part kali ini sengaja aq buat demi salah satu main cast kita, yang juga leader dari PO GEJE.. nae beloved chingu, and ade ipar author hoho
Special untukmu.. nae beloved chingu.. ”SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA CHOI HYERIN-SSI !!!!”
Wish u all the best chingu~~ chu~~ *MIAN RU DI POST SKRG.. HEHE :p*
*mian kalo jelek. Soalnya guw bikin ni awalnya hepi tp bgtu d tgah cerita malah ‘stres’ ‘melow” ga jelas. huhu*
*buat cast yg lain.. sabar dulu ya. Kalo partnya kebagian dikit kali ini ataupun ga muncul kali ini… hoho*
Ok.. let’s chek this out !!
“jangan lupa ninggalin JEJAK setelah baca!”
Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Kim Hyunjae : Author li>
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

————o0o————-o0o————-

*Part:3*

*Hyerin POV*

“Yeobo, ayo kita siap-siap!” ucap Leeteuk tiba-tiba saat aku tengah membuatkan susu untuk Jongmi di dapur.

“Mwo?? Oddiga?” aku menatap Leeteuk yang tengah menggendong Jongmi dalam dekapannya, bingung.

“Kita piknik. Kasian Jongmi, sepertinya ia bosan dirumah. Sudah tinggalkan saja susunya, biar aku yang mengurus, kau siap-siaplah, nanti kesorean,” aku mengangkuk lalu melepaskan celemek yang sedari tadi kugunakan keatas meja dapur. Tanpa disuruh, Leeteuk langsung mengambil alih pekerjaan yang sedari tadi ku kerjakan.

Tak sampai sepuluh menit kemudian aku sudah siap dan kembali kehadapan mereka. Leeteuk menatapku lekat, dan tak henti-hentinya mengulaskan sebuah senyuman kepadaku. Aku menatap diriku sendiri dari atas sampai bawah. Bingung.

“Wae?”

“Anni. Yeobo, neomu yeppoda!” pujinya, membuatku salah tingkah.

“Aishh, dasar AHJUSSIE gombal.”

“Anni, aku tak gombal, yeobo, aku serius. Kau cantik sekali,” pujinya lagi sambil tersenyum manis, namun kali ini ia tak sendiri, Jongmi yang menatapku dari atas gendongan Appanya pun tersenyum manis sambil menunjuk-nunjuk kearahku. “Kajja!” ia langsung mengambil tas perlengkapan Jongmi yang sudah kusiapkan dan menggandeng lenganku mesra.

Setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat, Leeteuk langsung menaruh tas perlengkapan Jongmi di jok belakang, setelah itu membukakan pintu mobilnya untukku dan mempersilahkan kami *aku dan Jongmi* untuk masuk dan duduk di samping bangku kemudi. Setelah semua siap, ia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan normal.

“Kita mau kemana Appa??” aku memainkan suaraku dan gerak tubuh Jongmi, hingga terlihat seolah ia yang berbicara.

“Kita akan bermain di taman bermain Jongmi-ya~” balasnya sambil tersenyum kearahku dan Jongmi.

“Mwo? Taman bermain? Tapi kan kita tak bawa bekal apa-apa yeobo,” ucapku dengan nada normal. Ia melirikku sekilas. Sebelahtangannya mengelus-elus puncak kepalaku lembut.

“Gampang, aku sudah menyuruh wookie untuk membuat semuanya, jadi kita tinggal menikmatinya saja,” jawabnya enteng.

“MWO??”

^0^

Aku hanya bisa memandang pasrah kearah Leeteuk yang di tangannya sudah penuh dengan barang-barang bawaan yang semula sama sekali tak kami bawa, sambil menggendong Jongmi dalam dekapanku. Sesuai dengan apa yang dikatakannya tadi, ternyata memang benar Wookie Oppa yang sudah menyiapkan segalanya. Bahkan tak hanya keranjang besar yang penuh dengan makanan, tapi juga tikar gulung, dan payung lipat. Akibatnya, Leeteuk terlihat agak kerepotan karena barang-barang itu.

Begitu kami masuk kedalam taman hiburan, taman hiburan terlihat tak seramai biasanya. Wajar saja, Karena hari ini hari kerja, jadi tak seramai saat weekend. Jongmi langsung menunjuk-nunjuk kearah komidi putar dan menarik-narik lengan Leeteuk yang berdiri di sampingku. Mau tak mau, Leeteuk pun langsung menggendong Jongmi dan mengajaknya naik komidi putar, sementara aku mengawasi mereka dari luar sambil merekamnya dengan handycam yang sengaja ku bawa dari rumah.

Aku tersenyum puas begitu melihat Jongmi dan Leeteuk saling tertawa lepas, menikmati wahana yang ada, dan sesekali mereka memandangku sambil tersenyum lebar. Disampingku, terdapat seorang yeoja yang sepertinya berumur 30tahunan juga sibuk dengan camera di tangannya, sesekali ia melambai-lambaikan tangannya kea rah komidi putar. Kulihat ada seorang namja tersenyum lebar sambil memainkan sebelah tangan anak perempuan yang ada di pangkuannya. Mereka melambai-lambaikan tangan mereke kearah yeoja itu. Ia sepertinya sadar kuperhatikan dan langsung menoleh kearahku. Aku tersenyum kikuk. Ia membalas senyumanku ramah lalu kembali melakukan aktivitasnya sempat terganggu karena ulahku.

“Jadi ibu rumah tangga itu sulit,” ucapnya sambil tersenyum dan sesekali melambaikan tangannya kearah namja dan anak perempuan tadi.

“Ne?” aku menatapnya bingung. Ia menarik nafas pendek, lalu menatapku sambil tersenyum datar.

“Menikah dan menjadi seorang ibu rumah tangga itu sulit. Waktumu akan terbagi antara pekerjaan dan keluarga. Jadi, aku sarankan kau jangan terlalu cepat untuk menikah ya,” ia menepuk pundakku pelan. Aku hanya bisa tersenyum kikuk dibuatnya.

“EOMMA~~” panggil sebuah suara dari arah komidi putar. Kami langsung menoleh kearah sumber suara. Kulihat Leeteuk dan Jongmi melambai-lambaikan tangannya kearahku sesaat sebelum wahana itu berhenti berputar, dan mereka berjalan mendekat kearahku. Yeoja tsb membungkam mulutnya dengan sebelah tangannya dan menatapku dengan raut menyesal.

“Omona~ Kau? Mianhae.. Ku kira.. Habis kelihatannya.. Umurmu baru menginjak 20tahunan..” ucapnya dengan nada dan raut menyesal. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kaku, sampai akhirnya sebuah tangan merangkul pundakku, hangat.

“Annyeonghasaeyo~” sapanya sambil menunduk kearah Leeteuk, yang hanya dibalas anggukkan kecil darinya.

“Ayo, yeobo, kajja!” serunya sambil mengambil alih semua barang yang tadi ia titipkan padaku sesaat sebelum naik kedalam wahana, sementara Jongmi masih tetap dalam gendongannya.

“Biar aku yang bawa,” aku langsung merebut tikar gulung yang ada di tangannya. Ia mengangguk kecil. Kurasa yeoja tsb masih memperhatikan gerak-gerik kami. Membuatkku sedikit risih. Setelah berpamitan, kamipun segera meninggal wahana tadi dan beralih untuk menaiki kincir angin, sesuai dengan permintaan Jongmi. Kali ini aku juga ikut serta. Di dalam, kami tak henti-hentinya berfoto bersama, sementara Leeteuk sukses terus membuat Jongmi terpekik kegirangan.

Begitu putaran kembali kebawah, kami langsung turun, berjalan diantara kerumunan. Awalnya semua berjalan biasa-biasa saja. Tapi tanpa sengaja ada seorang pria yang tak sengaja menabrak bahu Leeteuk hingga membuat kacamata yang dikenakannya terjatuh ke lantai.

“Josonghamnida,” ujar pria itu sambil membungkuk, dan berinisiatif mengambilkan kaca mata Leeteuk yang terjatuh. “Omona~ Leeteuk-ssi?? Super junior??” pekiknya begitu melihat wajah orang yang tadi di tabraknya saat akan menyerahkan kacamata tsb kepada Leeteuk.

“Omo? Ini Jongmi kah?? Aihh,, lucunya!!” ia langsung menyubit pipi Jongmi gemas.

“KYAAAA~ LEETEUK OPPA!!”

“SUPER JUNIOR!!!”

Tiba-tiba saja segerombolan orang langsung berlarian kearah kami. Leeteuk langsung menarik tanganku, dan membawa kami semua untuk berlari menjauhi gerombolan orang-orang yang mulai menggila itu keluar dari kawasan taman bermain, menuju parkiran, setelah sebelumnya mengambil kacamatanya dari tangan namja tadi.

“Mianhaeyo,” ucapnya begitu mobil yang kami tunggangi sudah jauh dari kawasan taman bermain.

“Untuk apa?”

“Acara piknik kita jadi berantakkan, dan kita bahkan belum sempat memakan bekal makanan kita,” ia menatapku dan Jongmi bergantian dengan tatapan bersalah. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku.

“Anniyo, yeobo, gwenchana. Kita kan bisa melanjutkan ‘piknik’ kita,” jawabku sambil tersenyum. “Yak an Jongmi-ya??” aku menatap Jongmi yang sedang duduk dalam pangkuanku. Ia tersenyum lalu mengangguk sambil menepuk-nepuk tangannya, senang.

“Ok. Kemana kita??” Leeteuk menatapku sambil tersenyum.

“Tempat yang murah, bagus dan juga menyenangkan!”

“SUNGAI HAN!” pekik kami bersama-sama, disusul suara tawa kami.

^0^

*Chaehyun POV*

“Malhaebwa~~” bujukku lagi. Bukannya menjawab, ia malah menggeleng sambil tersenyum penuh arti. Aishh. Sebenarnya apa sih?? Membuatku penasaran saja!

“There’s a SECRET honey,” ia menjentikan jarinya di dahiku. Aku merengut sebal. “Hanya aku dan tuhan yang tahu. Hahaha” tambahnya lagi. Aishhhh… tak tahu kah ia bahwa aku sudah penasaran setengah mati!? rrr~ tau begini aku intip saja tadi saat ia menulisnya! Hufft~ sayang aku terlalu terfokus dengan ‘wish’ku sendiri tadi, jadi tak sempat mengintipnya.

“PELIT!” aku memeletkan lidahku kearahnya. “Padahal aku kan cuma mau tahu! Asal kau tahu saja ya, aku menuliskan agar kita tetap langgeng, tanpa gangguan lagi, langgeng hingga akhirnya kita berdua menikah, dan langgeng hingga maut sendiri yang memisahkan kita,” ucapku. Ia menghentikan langkahnya, dan otomatis membuatku ikut-ikutan berhenti.

“Wae??” tanyaku, salah tingkah, karena wajahnya kini hanya terpaut 5cm dari wajahku. Mau apa dia?? Tak mungkin kan ia mau menciumku di dalam lift seperti ini??

“Tetap saja. RA-HA-SIA,” bisiknya tepat di telingaku. Ia menyunggingkan senyum evilnya, lalu kembali berdiri seperti posisinya semula. Aigoo~ membuatku kaget saja!

TINGG.. tanpa terasa pintu lift pun terbuka. Ia langsung menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari dalam lift.

“Kemana kita selanjutnya?” tanyanya.

“Lihat saja. RA-HA-SIA!” balasku sambil membalikkan senyum evil padanya.

Setelah keluar dari gedung 63, aku langsung menyeretnya untuk berjalan kedaerah pertokoan terdekat. Aku langsung menghentikan langkah kami, dan menariknya masuk kedalam sebuah foto box yang tak sengaja kami lewati. Awalnya ia tak mau, karena menurutnya seperti ‘ANAK KECIL!’. Tapi begitu kamera dimulai, entah mengapa aku rasa malah ia yang bersemangat untuk foto -,-. Begitu selesai foto-foto dan menempelkan salah satu hasil foto yang dicetak di dompet masing-masing, aku langsung menariknya kedalam toko buku. Tempat favoritku, karena jujur aku memang bisa dibilang maniak terhadap novel, khususnya novel-novel fiksi karangan penulis luar, jadi toko buku adalah tempat favoritku dalam menghabiskan waktu dan menyalurkan hobiku itu. Tapi ia menolak dan malah menarikku ke toko games. Di dalam sana, dia malah dengan asiknya memilih-milih kaset games dan aku malah diacuhkan. Bosan, aku memutuskan untuk meninggalkannya seorang diri dan beralih ke toko buku yang tepat berada di samping toko games tsb.
Cukup lama aku membenamkan diriku diantara rak-rak buku yang menjajakan deretan novel-novel terjemahan terbaru, hingga akhirnya seseorang menjitak kepalaku dari belakang. PLAKK.

“Ya!! Aishh!!” pekikku sebal begitu melihat tersangka utamanya sambil mengelus-elus kepalaku yang masih terasa nyeri akibat jitakkannya.

“Dasar kau! Seenaknya saja pergi tanpa pamit padaku!!”

“Mwo?? Kata siapa? Aku pamit tau! Tadi kan aku bilang.. ‘Oppa, aku ke toko sebelah ya?’ trus kau jawab..’Huump’ begitu!” ujarku sambil memperagakannya.

“Bohong!”

“Mwo!? Aishh Jincha! Kau saja yang terlalu asik dengan tumpukkan kaset-kaset itu, makanya tak mendengarkan ucapanku! Jadi jangan salahkan aku!” aku menatapnya sebal. Aishh,, kenapa sih selalu saja seperti ini tiap kali berkencan? Sama sekali tak ada omantic-romantisnya!!

KRIUKKKK~~~

Hening. Kami saling menatap satu sama lain.

KRIUKKKK~~~~~~

Aku menatap namja yang ada dihadapanku ini sambil menahan tawa.

“Lapar?? Hahaha~ kajja,, kajja!”

^0^

“Aishh rewel sekali dirimu Oppa! Sekali saja kita tidak makan jajangmyeon saat kencan tak bisa kah??” aku menatap wajah namja yang sedang lahap menyantap makanannya di hadapanku ini, sebal. Ia menggeleng. Aku hanya bisa menarik nafas berat, lalu menyantap jajangmyeon pesananku malas.

“Kenapa tak dimakan?”

“Anniyo, aku makan kok,” aku menyuapkan sesendok jajangmyeon kedalam mulutku, malas-malasan. Setelah memakan beberapa sendok, aku meyudahi makanku dan memilih untuk menyeruput habis orange juice yang baru saja ku pesan untuk kedua kalinya.

“Habis ini kita mau kemana, jagy?” tanyanya lembut.

“Mollayo, tapi.. Bagaimana kalau kita ke sungai Han??”

^0^

*Hyunjae POV*

“Aduh,,” aku memegangi perutku yang terasa nyeri, bagaikan ditusuk-tusuk sambil sesekali meremasnya. Sementara itu, aku merasa sedikit mual. Aku hanya bisa meringis tertahan. Sejujurnya aku sudah tak kuat!!

“Aigoo~ sabar ya jagy, magh mu pasti kumat lagi ya?? Di mobilku tak ada makanan untuk ganjalan perut, kemarin semuanya sudah dihabiskan oleh Shindong hyung. Mianhae.. Jeongmal mianhae.. bersabarlah hingga kita sampai di kota.” Ucapnya. Aishhh,, sumpah, aku tak begitu menyimak kata-katanya barusan karena terlalu sibuk menahan rasa sakit ini. Aigoo~ aku sudah tak kuat lagi!!

“Op.. Oppa.. ada air minum??” tanyaku lirih.

“Air?? Chamkanman.. Chamkanman…” ia langsung menepikan mobilnya, dan membongkar-bongkar jok belakang, mencari sesuatu.

“Igeo,” ia menyerahkan sebuah botol mineral kearahku. Aku mengambilnya, meneguknya sedikit, lalu merogoh-rogoh isi tasku, mencari obat magh yang seingatku tadi pagi kumasukkan kedalam tas. Dapat. Aku langsung menelannya dan kembali meneguk air. Donghae Oppa menatapku prihatin, lalu kembali menstater mobilnya. Kurasakan rasa sakit ini mulai mereda seiring dengan rasa kantuk yang mulai datang. Sepertinya efek dari obatnya.

^0^

“Jagy, bangunlah,” kubuka mataku perlahan begitu kurasakan sebuah tangan mengelus-elus puncak kepalaku lembut. Aku menatapnya dengan setengah kesadaranku.

“Igeo,” ia menyodorkan sebuah kantong makanan kearahku. “Tadi kau tidur cukup lama, aku tak tega membangunkanmu. Jadi ku belikan saja.”

“Gomawo,” ucapku sambil tersenyum begitu kedaranku sudah terkumpul sepenuhnya. Aku meraih kantong makanan tsb dari tangannya, mengeluarkannya kemudian memakan bento yang ia belikan tadi.

“Dimana ini??” tanyaku heran begitu sadar bahwa kini kami tengah duduk di dalam mobil dalam keadaan mesin mati, sementara di hadapan kami tersaji pemandangan sungai.

“Sungai Han,” jawabnya sambil mengusap-usap puncak kepalaku penuh kasih sayang. “Tadi aku bingung mau membawamu kemana, karena tak mungkin aku membawamu ke ko dorm atau kerumahmu dalam keadaan kau seperti itu, yang ada aku akan dicecar habis-habisan.” Aku terkikik mendengar perkataannya barusan.

“Wae??”

“Anniyo,” aku menggeleng, dan secepat mungkin menghabiskan makananku. “Kita keluar yuk?” aku menaruh bekas bento yang kumakan di jok belakang, lalu keluar dari mobil untuk sekedar berjalan-jalan, menikmati angin sore.

“Ya, jagiya.. Chamkanman!!” Donghae Oppa langsung keluar dari mobilnya, menguncinya, lalu berlari mengejarku. Kami berjalan di tepian sungai sambil saling bergandengan satu sama lain, menikmati angin sore yang sejuk.

^0^

*Hyerin POV*

Leeteuk langsung memarkirkan mobilnya di tepi sungai, dan segera mengeluarkan semua barang-barang bawaan kami dari dalam mobil. Setelah memilih tempat, ia langsung menggelar tikar gulung dan menyiapakan semuanya. Aku menurunkan Jongmi dari gendonganku dan menuntunnya agar berjalan diatas rumput.

“Yeobo~ Jongmi-ya~ Ayo makan.. semuanya sudah siap!!”

“Ne Appa~~” sahutku sambil mengangkat Jongmi kembali kedalam gendonganku. Kami bertigapun duduk berdampingan, sementara Leeteuk mengeluarkan semua yang ada dalam keranjang makanan. Aku hanya bisa menatap takjum semua makanan yang kini tersaji dihadapanku dengan mulut sedikit terbuka, takjub. Ya tuhan.. Banyak sekali makanannya?? Dan sepertinya semuanya enak-enak.. Hwa.. Wookie Oppa!!

“Ayo dimakan,” Leeteuk tersenyum manis seraya mengambil alih Jongmi dari pangkuanku. Aku mengangguk, lalu memasukkan sepotong sushi kedalam mulutku. Omo~ Mashda!! Wookie Oppa DAEBAK!!! Aku, anni, kami harus berterima kasih padanya karena membuatkan makanan sebanyak dan seenak ini!

*Author POV*

Disudut lain, Chaehyun dan Kyuhyun berjalan sambil sesekali berebut kembang gula yang baru saja mereka beli ketika sampai di sungai Han.

“Ya!! Oppa!!” sungut Chaehyun kesal karena baru saja Kyuhyun mengempeskan kembang gula yang ada di tangan Chaehyun dan malah menempelkan tangannya yang lengket karena ulahnya tadi ke wajah Chaehyun, lalu kabur.

“Hahaha..kejar aku kalau bisa!” Kyuhyun memeletkan lidahnya kearah Chaehyun. Ia menggembungkan pipinya sebal lalu berlari mengejar Kyuhyun.

Sementara itu dari arah yang berlawanan, Donghae dan Hyunjae berjalan di pinggiran sungai, menikmati angin sore yang sejuk sambil berpengan tangan. Sesekali mereka saling menatap satu sama lain, dan kemudian tersenyum. Donghae menggenggam tangan Hyunjae begitu erat, seolah tak ingin melepaskannya. Padahal, saat itu ia sama sekali tak memakai alat penyamaran apapun. Ia seolah sudah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi nantinya jika ada orang lain atu bahkan paparazzi yang akan mengenalinya.

“AHAHAHAHA~~ KEJAR AKU KALAU BISA!” teriak seseorang dari arah yang berlawanan sambil berlari kearah mereka. Donghae dan Hyunjae langsung menoleh kearah sumber suara, dan langsung menghentikan langkah mereka begitu melihat sosok yang mereka perhatikan tsb. Begitu juga dengan Kyuhyun, ia langsung menghentikan larinya begitu melihat sosok Donghae dan Hyunjae sudah berdiri dihadapannya.

“Ya!! Oppa! Awas kau!!” pekik seorang yeoja yang berlari di belakang Kyuhyun. Mereka bertiga langsung menoleh kearah Chaehyun yang kini lari tergopoh-gopos sambil mengacung-acungkan kembang gula ditangannya. Ia langsung menghentikan aksinya begitu melihat Kyuhyun sudah berhenti berlari dan ada sosok lain di hadapan mereka. “Eh?”

“LHO??” ucap mereka berempat sambil saling tunjuk. Dan tanpa mereka berempat sadari ada 2 pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan ekspresi yang tak jauh dari mereka, dari arah lainnya.

“Ya!! Sedang apa kalian disana?” ucap Leeteuk sambil menatap mereka heran. Sontak merekapun menoleh kearah sumber suara. Begitu menoleh kesumber suara, Hyunjae langsung berlari kearah diamana keluarga Leeteuk berada, sementara yang lainnya saling bertatapan bingung.

“Hyerin-ah!!!”

—-

*Hyerin POV*

“Hyerin-ah!!!!!!!” pekik seorang yeoja bertubuh mungil yang tadi kulihat berdiri disamping Donghae Oppa, sambil berlari kearah kami. Nuguya?? Aku memicingkan mataku kearahnya. Omo~ Omo~

“Hyerin!!!!” ia langsung menubrukku yang tengah duduk hingga kami berdua terbaring, sambil memelukku erat. Hal ini sontak membuat Leeteuk yang duduk disampingku sedikit terkejut dibuatnya. Huft~ untung saja Jongmi duduk dalam pangkuannya, kalau tidak? Bisa gawat kalau ia tadi duduk di pangkuanku. Ckck.

“Omo~Omo~ Hyunjae-ah. Sesak!!” keluhku sambil menepuk-nepuk punggungnya agar ia melepaskan pelukkannya. Ia menggeleng.

“Ya!! Berat!” ia terkekeh lalu bengkit dari atas tubuhku sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Hehehe.. Mianhae,” ucapnya sambil nyengir kuda. Aku langsung bangkit dari posisiku dan duduk seperti semula. “Jeongmal bogoshippoyo!!!!” ia kembali memeluk tubuhku erat.

“Ckckck.. Omona~ aku baru tahu kau se-eksprsif itu Hyunjae-ah,” Leeteuk geleng-geleng kepala sambil menatap Hyujae takjub.

“Ne.. aku saja baru tahu kalau ia bisa seperti ini,” tambah Donghae yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kami, disusul Chaehyun dan Kyu yang langsung duduk di atas tikar yang kami pakai. Hyunjae terkekeh kecil lalu melepaskan pelukkanya. Dan melirik Donghae jail.

“Wae Oppa? Kau cemburu, huh?”

“Ye! Sangat!” ucapnya, membuat kami semua tertawa mendengarnya.

“Kalian belum kenal dia luar dalam saja, makanya bisa berkata seperti ini,” Kyuhyun menatap Hyunjae jail, yang langsung dibalas tatapan tajam darinya.

“Aigoo~ Aigoo~ sudahlah jangan bertengkar,, ah ya, ngomong-ngomong, kapan kau sampai Hyunjae ah? Aigoo~ sudah bertahun-tahun kita tak bertemu,” aku menatap Hyunjae takjub. Bagaimana tak takjub, terakhir kami bertemu 3tahun yang lalu, saat itu ia sama sekali cuek dengan penampilannya, rambutnyapun selalu pendek. Tak seperti sekarang, ia terlihat sangat feminine dan rambutnya pun sudah panjang dan bergelombang

“Kemarin~ Omo~ Omo~” ia menoleh kearah Leteuk. Anni. Jongmi lebih tepatnya. “Nuguya?” ia menatapku dan Leeteuk bergantian.

“Ia anak kami, Hyunjae-ah. Hehe,” Leeteuk mencium pipi Jongmi gemas. Hyunjae menatap kami takjub. Ia langsung menundukkan wajahnya kearah Jongmi, merayunya agar ia mau di gendong olehnya, namun Jongmi malah menangis ketakutan.

“Ya!! Kok begitu??” Hyunjae menggembungkan pipinya kesal. Kami semua hanya terkekeh geli, tak terkecuali Chaehyun dan Kyu Oppa yang sedari tadi malah asik menghabiskan bekal makanan yang ada.

“Ah, payah kau! Masa malah bikin anak orang nangis?” ledek Hae Oppa yang langsung dibalas tatapan tajam darinya. Hae Oppa mengulurkan kedua tangannya kearah Jongmi yang langsung disambut Jongmi dengan riang. “Aigoo, sini sama Hyung~” Hae Oppa mengangkat tubuh Jongmi dan menggengdongnya. “Tuh liat, buktinya dia sama aku gak nangis. Malah tertawa riang.”

“Kok aneh ya??” Hyunjae mendengus sebal.

“Itu berarti kamu belum siap jadi ibu rumah tangga Hyunjae-ah,” Chaehyun Onnie terkikik kecil.

“Ia, aura keibuanmu belum terpancar!” tambahku.

“Sementara Donghae sudah pantas jadi bapak-bapak! HAHAHAHA!” Leeteuk tertawa puas.

“Mwoya? Enak saja!” Hae Oppa menatap Leeteuk sebal, lalu balik menatap Jongmi gemas. “Dasar Appamu itu, kau jangan sepertinya yang Jongmi. Kau mirip hyung saja,”

“Mwo?? Hyung??” Kyu dan Leeteuk menatap Donghae dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, kompak. O.o “Ya!! Kau itu lebih cocok dipanggil AHJUSSIE tau!”

“Aishhh.. sudah-sudah.. sini, Hae Oppa, biar aku yang gendong Jongmi,” tanpa perlawanan, Hae Oppa langsung menyerahkan Jongmi kegendongan Chaehyun. Dan apa yang terjadi? Jongmi terlihat sangat nyaman di gendongannya, seperti halnya pada Hae Oppa tadi.

“Aigoo~ Kau sudah cocok jadi ibu, Onnie-ya. Aura keibuanmu terpancar,” Hyunjae menatap Chaehyun takjub. Sementara aku dan Leeteuk menatap mereka geli.

“Mau makan yeobo-ya?” tanyaku. Leeteuk mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku menyumpitkan sushi dan menyuapinya makan sambil menonton mereka berempat. Anni, berlima dengan Jongmi maksudnya. Hehe.

“Haa~ Iya, kau sudah cocok jadi ibu, Chaehyun-ah!” puji Hae Oppa. Kyu Oppa yang sedari tadi sibuk menghabiskan jatah sushi yang ada langsung mengambil Jongmi kedalam gendongannya. Dan apa yang terjadi?? Seperti halnya dengan Hyunjae tadi. Jongmi malah menangis. Dengan cepat Chaehyun langsung merebut Jongmi kembali dalam gendongannya. “Hhaha.. Dan Kau belum cocok jadi Bapak Kyunnie-ah!”

“BAHAHAHAHA.. Dongsaeng dan Oppa sama saja!” ledek kami berempat kompak. Membuat Hyunjae dan Kyuhyun merengut sebal.
Saat hari mulai beranjak malam, kamipun berpisah. Begitu masuk mobil. Jongmi langsung tertidur dalam pelukkanku. Sepertinya ia kelelahan karena tadi jadi rebutan antara Hae Oppa dan Hyun Onnie. aku jadi geli sendiri saat ingat Hyunjae dan Kyuhyun Oppa yang merengut sebal karena mereka ada yang berhasil menggendong dan menenangkan Jongmi. Ckck.

^0^

*Chaehyun POV*

“Shireo! Kau saja yang duduk di depan, aku mau berduaan dengan Chaehyun!” Kyu Oppa langsung membuka pintu belakang mobil Hae Oppa dan menyuruhku masuk kedalamnya lalu kembali menutupnya setelah ia duduk disampingku. Kulihat Hyunjae hanya menggeleng-geleng kepala mendengar ucapan Oppanya itu, lalu duduk di samping Hae Oppa yang kini sudah siap dibelakang bangku kemudi.

“Kemana dulu kita?” tanya Hae Oppa begitu mobil yang kami tumpangi sudah jalan menjauhi kawasan sungai Han.

“Kita antar Chaehyun saja dulu, hyung, baru setelah itu kau mengantarkan kami pulang, hehe,” Hae Oppa melirik Kyu Oppa dari balik kaca spion sambil menghela nafas.

Tak sampai setengah jam, akhirnya kami sampai di dekat gedung apartmentku *DORM MIINA maksudnya*. Hae Oppa menghentikan mobilnya di depan taman samping apartmentku, atas permintaanku, karena aku tak mau jika ia mengantarkanku sampai di depan gedung. Aku khawatir jika ada yang mengenali mobilnya. Jadi aku menyuruhnya untuk men-dropku di taman.

“Biarku antar! ‘Hyung, tunggu sebentar ya!” Kyu Oppa langsung menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum, lalu menyenderkan kepalaku di pundaknya.

JEPRETTT….

*tanpa Chaehyun dan Kyuhyun sadari, seseorang sedang mengintai mereka dari kejauhan sambil memandangi hasil bidikkannya di LCD camera-nya sambil tersenyum puas. Lalu pergi menjauh darisana.*

“Sampai sini saja. Bye Oppa!” kataku sambil tersenyum manis, begitu pintu lobby apartmentku sudah tak jauh dari pandangan kami.

“Benar cuma sampai sini?” godanya.

“Ne.. Ne.. sudah sana pulang! Kajja.. Kajja!” usirku. Ia terkekeh, lalu berjalan mundur, menjauh dari hadapanku.

“Bye!” aku melambaikan tanganku kearahnya. Ia mengangguk, lalu berlari kecil, menghilang dari hadapanku.

^0^

*Hyerin POV*

Begitu sampai dirumah, aku langsung menidurkan Jongmi dalam kamarnya. Kulihat ia tidur sambil tersenyum. Omo~ neomu kyeopta! Aigoo~ tampannya kau nak! Aku tersenyum tipis. Begitu aku mematikan lampu kamarnya dan menutup pintu, tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggangku.

“Ya!” aku menepuk lengannya pelan.

“Tidur yuk~” bisiknya ditelingaku. Mesra. Omo~ kenapa dia?? Aku jadi bergidik ngeri dibuatnya.

^0^

Aku langsung mengernyit dan mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba mencari cahaya, karena tiba-tiba saja lampu kamarku mati, dan AC yang ada pun ikut-ikutan mati. padahal aku sedang mimpi indah! Aigoo~ Panasnya!! Aku meraba-raba kasur sebelahku. Kosong. Kemana dia?? Aku langsung meraba-raba kebawah bantal tidurku, mencari ponsel yang biasanya ku letakkan di bawah bantal, dan menyalakannya, menjadikannya seolah seperti senter.

Perlahan kubuka pintu kamarku. Gelap. Aishh.. mati lampukah?? Aku bejalan perlahan menuju kamar Jongmi. Kulihat Jongmi tak ada di tempatnya. Omo?? Kemana dia??

“Jongsoo-ah.. Jongmi-ya. Neo Oddigaeyo??” teriakku takut, sambil berjalan turun menyusuri anak tangga, menuju dapur untuk menari sener dan menyalakan lilin.

“Aishh.. kemana mereka berdua??” batinku sebal. Dua buah lilin kini sudah berhasil kunyalakan, dan senterpun sudah ada ditangan. Kumasukkan ponselku kedalam saku piyama, kupengang erat senter yang sudah kunyalakan ini dan berjalan menuju ruang tengah.

“Yeobo-ya.. Jongmi-ya.. Neo oddigaeyo?? Aku takut..” tanpa sadar sebuah sungai kecil kini sudah mengalir keluar di kedua pipiku. Aku takut. Jujur aku sangat takut. Bukan hanya karena lampu yang tiba-tiba mati, tapi juga karena tak ada satupun orang dirumah.

KREEKKK~~

KREEEKKK~~~~

Suara apa itu?? Bulu kudukku langsung berdiri ketika melewati kamar Eomma, dan mendengar suara-suara aneh dari dalamnya. Apa itu?? Siapa?? Tak mungkin Eomma, tadi sore ia menelpon kalu ia akan menginap dirumah kerabatnya. Appa?? Tak mungkin, ia masih diluar negeri. Jong Oppa?? Tak mungkin juga. Minho Oppa?? Apalagi!

KREEEKK~~ KREEEKK~~

Omo~ Omo~

Andwaeyo! Suara itu terdengar semakin mendekat kearahku. Sontak aku langsung berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar. Damn! Kemana kuncinya!?? Kenapa tidak ada!!? Aku hanya bisa duduk dibalik pintu sambil memeluk kedua lututku, takut.
Tiba-tiba saja..

CEKLEKK~

Semua lampu tiba-tiba saja menyala.

“Saengil chukkae hamnida.. Saengil chukka hamnida.. Saranghaneun Hyerin-ah.. Saengil chukka hamnida,” sebuah nyanyian ulang tahun menggema keseluruh ruangan. Aku terkesiap, bangkit dari dudukku dan memandangi wajah mereka satu persatu. Kontan tangiskupun pecah. Bukan tangis ketakutan. Tapi tangis haru. Bagaimana tidak? Kini semua keluargaku *kecuali Minho Oppa tentunya*, serta seluruh member super junior + Hyunjae berkumpul merayakan ulang tahunku.

“Ayo, ditiup, nanti lilinnya keburu mati,” Jong Oppa menunjuk sebuah kue tart 3tingkat yang ada di atas sebuah trolly, sambil tersenyum. Omo? Trolly?? Jangan kalau suara yang bikin aku ketakutan setengah mati tadi adalah suara trolly! O.o

“Ayo tunggu apa lagi sayang?” tanya Appa sambil tersenyum penuh wibawa. Aku mengangguk, dan perlahan kutiup lilinnya sampai semua apinya padam.

“Yay!!!” sorak mereka riang sambil bertepuk tangan.

“Saengil chukkae anakku,” Appa dan Eomma langsung memelukku bergantian. Aku tersenyum.

“Gomawo Appa, Eomma.” Mereka mengannguk ramah. Kini aku melirik Jong Oppa yang kini tersenyum kearahku. Ia langsung menarikku dalam pelukkannya dan mengelus-elus punggungku, lembut.

“Saengil chukkaeyo, nae dongsaengie^^,” ucapnya sambil tersenyum manis begitu pelukkan kami terlepas.

“Gomawo Oppa!”

Begitulah seterusnya, badanku sampai pegal karena terus-terusan dipeluk dan diberi selamat oleh yang lainnya. Dan rasapegal itupun bertambah ketika Shindong Oppa memelukku sangat erat. Untung saja itu tak berlangsung lama, karena Hyunjae langsung menarikku dan menenggelamku dalam pelukkannya.

“Saengil chukkae nae beloved chingu^^,” ucapnya sambil mencium pipi kiri-kananku bergantian. “Ah, ya, ini ada hadiah dariku dan Kyu Oppa.. Ah,, dan Hae Oppa!” katanya sambil menyerahkan sekotak kado berwarna ungu dengan pita berwarna senada sebai hiasannya.

“Gomawo!^^”

Akhirnya.. tibalah saatnya bagi Leeteuk, nae seobang yang kini berdiri dihadapanku. Tanpa bicara apa-apa lagi, ia langsung memelukku erat, hangat, dan mesra (?).

“Saengil chukkae, yeobo!” bisiknya ditelingaku, mesra. Aigoo~

“Ne, seobang. Gomawo^^” ucapku begitu pelukkan kami terlepas. “Ah, ya. Mana Jongmi??” aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, tapi sosok anak kecil berkepala plontos itu tak kunjung ada.

“Oh? Eh.. dia ditidurkan di kamar Aboeji, hehe.”

“Hyerin-ah!” panggil Jong Oppa sambil melambai-lambaikan tangannya kearahku, member tanda. Aku mengangku lalu berjalan kearahnya.

“Wae Oppa??”

“Igeo,” Ia menyerahkan ponsel Samsung galaxy-nya padaku. Aku menatapnya bingung. Namun begitu melihat yang terpampang dilayar, senyumku langsung merekah.

“SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA~ SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA~ SARANGHANEUN NAE HYERIN-AH.. SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA!!” ujar sepasang manusia dari layar ponsel, “YAY!!” seru mereka begitu semua lilin yang ada di atas kue tart yang ada di hadapan mereka padam. “Saengil chukkae nae dongsaeng!!” seru mereka berdua kompak. Aigoo~ kurasakan wajahku memanas, bulir-bulir air mata kembali keluar dan membentuk sungai kecil di pipiku.

“Gomawo Oppa.. Onnie..” ucapku serak.

“Cheonmanaeyo, dongsaeng-ah^^” ucap Chaeyoung Onnie, lembut.

“Aigoo~~ Uljima~ Uljima~” seru Minho Oppa begitu sadar pipiku kini sudah banjir dengan air mata. Jong Oppa dan Leeteuk yang kini berdiri disebelahku memegang pundakku lembut. Aku melirik mereka bergantian dengan senyum ringkih (?), lalu kembali menatap layar ponsel.

“Anniyo, aku terharu Oppa. Jam berapa disana sekarang?” tanyaku, pasti disana sudah menjelang pagi, karena disini waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi -,-.

^0^

“Eh?? Apa ini?? O.o” wajahku langsung memanas begitu membuka kado yang diberikan oleh Kyu, Hae dan Hyunjae. Leeteuk yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung duduk didampingku dan tersenyum penuh arti begitu membaca isi kartu ucapannya.

Dear Hyerin-ah..
SAENGIL CHUKKAE!!! \^0^/
Semoga kau selalu dalam lindungan-NYA. Semoga kau panjang umur! Dan semoga kau awet dengan Leeteuk OPPA!! HOHO
tadi begitu kami mengantarkan Chaehyun Onn, pulang, Teuk Oppa memberitahu agar kami ikut serta dalam surprise party mu..
Untung saja kami belum sampai rumah saat itu, jadi masih sempat mencari kado.. hehe
DIPAKAI YA!! Dan berikan Hyerin Jr untuk kami! Hahaha
Kyu-Hyun-Hae^^

TBC

Gimana-gimana?? GAJE ya?? Mian ya.. khususnya buat HYERIN..
Mian kalo jelek.. soalnya suasana hati gue agy kalut karena Oppadeul.. huhu #PLAKK
1 yang pasti.. SAENGIL CHUKKAE NAE CHINGU!!..
Met ultah kawanku.. sobatku.. teman ng’autisku.. kakak*adek* iparku (?)
Saengil chukkae!!!!! ^^

Buat reader.. jangan lupa.. COMMENT!!
Hoho

Iklan

19 thoughts on “~Still Merry Me~ eps:3 *special edition*

  1. Omo~~
    kadona apaan? 😀
    kejadian di sungai han itu kocak bgt.
    kkk~~

    Buat yg ultah
    Saengil chukkae, wish u all d best.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s