~Still Merry Me~ eps:12

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND, CN BLUE
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

 

 

—-part 12—–

 

“MWO? Benarkah itu hyung?” Kyuhyun menatap wajah hyungnya itu dengan tatapan takjub, begitu Siwon menceritakan soal serpihan pesawat Korean airways yang di temukan sepupunya di Inggris serta kemungkinan bahwa Hyunjae juga terdampar disana.

“Aku juga tak yakin Kyuhyun-ah, ini hanya dugaanku dan Leeteuk hyung saja. Lagi pula tak ada salahnyakan mencoba?” Siwon tersenyum bijak. Kyuhyun mengangguk, kemudia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan langsung menghubungi Appanya tentang semua ini.

“Gomawo, Appa. Ne, annyeong.” BIIPPP. Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana sambil tersenyum puas.

“Apa katanya?”

“Ia bilang ia akan mencoba kembali menghubungi temannya yang menjadi TIM SAR untuk membantunya mencari, namun ia juga butuh informasi dari sepupumu itu, hyung. Apa kau benar-benar tak tahu dimana persisnya ia sekarang?” tanya Kyuhyun penuh harap, sementara Siwon hanya menggeleng lemah.

“Coba tanyakan pada ibunya?” lagi-lagi Siwon menggeleng lemah.

“Ponsel Yonghwa sudah beberapa hari ini tak dapat dihubungi, ahjumma juga. Beliau tinggal di Amerika, jadi susah bagi kita jika ingin menemuinya.”

^0^

 

Karena adanya pembatalan serentak dari semua jadwal yang ada, seluruh member MIINA dan awaknya yang lain, dengan terpaksa kembali ke Korea. Sepanjang perjalanan hingga akhirnya tiba di Seoul, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Semuanya muram. Mereka tak habis fikir kenapa semua ini bisa terjadi begitu saja. Belum lagi, kabarnya tak hanya di Jepang saja yang mengalami pembatalan di beberapa kontrak, bahkan di Korea juga. Hal ini membuat para awak berita seolah mendapat ‘jakpot besar’ dan langsung memburu mereka serta mendatangi kantor SM.

“Sajjangnim. Sebenarnya ada apa ini?” tanya Chaeyoung to the point begitu mereka bertiga di persilakan duduk oleh Kim Young Min, CEO dari Sm entertainment.  Kim Young Min yang ditanya seperti itu hanya bisa menghela nafa berat, lalu menegakkan posisi duduknya dan menatap satu persatu anak asuhnya itu.

“Chaeyoung-ssi, Binwoo-ssi, Chaehyun-ssi, ini semua diluar kendali kami sebagai agency kalian, karena yang membatalkan seluruh kontrak adalah dari pihak mereka. Kami juga tak mengerti dengan semua keadaan yang terjadi saat ini, tapi satu yang pasti, kami semua sedang berusaha me-lobby kembali semua rekanan bisnis dan pihak media serta stasiun tv lain agar kalian tetap dapat menjalani jadwal seperti biasanya.” Jelasnya panjang lebar. “Dan, untuk sekarang, beristirahatlah kalian, nikmati hidup kalian sebelum kembali beraktivivas sebagaimana biasanya.” Chaehyun, Chaeyoung, serta Binwoo sejujurnya SANGAT tidak puas dengan penjelasannya tadi yang menurut mereka sama sekali tak menjelaskan apapun, dan dengan langkah berat merekapun meninggalkan ruangan besar yang dipenuhi oleh berbagai perlengkapan mewah itu.

“Lalu? Harus bagaimana kita sekarang?” Binwoo menatap wajah kedua eonninya itu bergantian begitu mereka keluar dari ruangan CEO Kim.

“Mollayo. Sepertinya untuk sementara ini kita diliburkan,” Chaeyoung tersenyum muram. “Jadi, beristirahatlah dongsaeng-dongsaengku sekalian. Nikmati hari libur kalian,” ia menepuk pundak kedua dongsaengnya itu perlahan lalu beranjak meninggalkan mereka yang masih menatap punggung leadernya itu dengan tatapan nanar.

“Eonni..” tatap Binwoo pada Chaehyun penuh harap. Chaehyun hanya bisa tersenyum muram lalu merangkul pundak magnaenya itu dan membawanya pergi.

^0^

 

“Ada dimana aku? Argghh..” tanya gadis itu sambil meringis memegangi kepalanya yang di balut perban, begitu sadar dari tidur panjangnya dan mendapati seorang namja –yang kini tengah menatapnya dengan penuh kebahagiaan-  dan seorang dokter serta perawat  yang langsung memeriksa kondisinya.

“Anda ada dirumah sakit, ms. Seo,” ujar sang dokter sambil tersenyum yang langsung dibalas tatapan aneh darinya. “Mr. Jung, bisa kita bicara diluar sebentar?” Yonghwa mengangguk kemudian mengikutinya dari belakang sementara seorang perawat masih sibuk mencatat dan memeriksa keadaannya.

“Kesehatan ms. Seo, sudah mulai membaik, dan sepertinya jika keadaannya terus stabil, besok ia sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya begitu mereka sudah berdiri diluar kamar perawatan.

“Thank’s,” ujarnya tanpa bisa menyembunyikan rona kebahagiaan dari wajahnya. Dokter itu mengangguk lalu berlalu pergi, sementara Yonghwa langsung kembali kedalam kamar yang kini hanya ada mereka berdua itu.

“Siapa kau?” tanya gadis itu dalam bahasa Korea begitu Yonghwa masuk dan duduk di bangku yang ada di samping tempat tidurnya.

“Aku Yonghwa. Jung Yonghwa,” ujarnya sambil tersenyum. Begitu melihat senyuman dari wajah pria yang bahkan sama sekali tak dikenalnya itu, entah mengapa jantungnya berdesir hebat.

“Jung.. Jung Yonghwa?” tanya gadis itu lagi sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa mau copot itu.

“Ne, Jung Yonghwa” Yonghwa mengangguk mantap. “Orang yang menemukanmu beberapa hari yang lalu.” Gadis itu menelengkan kepalanya bingung. Lalu tiba-tiba saja sekelebat bayangan tentang potongan-potongan kejadian yang dialaminya terakhir kali berputar kembali di otaknya. Bayangan tentang kejadian yang ia lihat terakhir kali sebelum akhirnya sadar dan menemukan dirinya sudah ada di rumah sakit. Kejadian yang sangat memilukan hati dan jiwanya.

“Kenapa melamun?” tanya Yonghwa, lembut, namun dapat menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Annio, gwenchana, Yonghwa-ssi,” jawabnya sambil tersenyum lemah. Namun entah mengapa saat ia melontarkan nama itu dari bibirnya, jantungnya justru berdegub semakin cepat.

“Ah, ya, kenapa tadi dokter dan perawat it uterus saja memanggilku dengan ‘ms. Seo’?” tanyanya bingung. Yonghwa tertegun mendengarnya. Entah apa yang harus ia jelaskan pada gadis itu.

“Yonghwa-ssi?”

“Ha?” Yonghwa tersentak. “Oh, ne, mianhae, agasshi. Karena aku tak mengetahui namamu, saat mereka menanyakan identitasmu aku bilang pada mereka bahwa namamu Seohyun,” nama yang sama dengan nama alm. calon istriku. Lanjut Yonghwa dalam hati sambil tersenyum samar. Gadis itu hanya mengangguk-angguk paham.

“Lalu. Kau? Siapa namamu sebenarnya?”

“He? Ah, namaku Hyunjae. Kim Hyunjae.”

^0^

 

“Annyeonghasaeyo,” sapa Chaehyun sambil membungkuk –seramah mungkin- ketika bertemu dengan nyonya Cho, yang tak lain adalah ibu dari Kyuhyun, kekasihnya, di salah satu restaurant di daerah Gangnam. Tadi pagi entah ada angin apa, ibu dari kekasihnya itu memintanya untuk bertemu.

“Ne, silakan duduk,” ujarnya begitu ia sudah duduk rapih di bangku yang bersebrangan dengan Chaehyun. Gadis itu mengangguk pelan, lalu kembali duduk di tempatnya semula.

“Langsung saja. Sejujurnya aku tak menyukai hubunganmu dengan Kyuhyun, anakku,” Chaehyun terdiam mendengarnya. Ia memang sudah mengetahui hal ini sejak awal. “Jadi kumohon padamu. Tolong lepaskan dia demi aku,” nyonya Cho menatap gadis yang kini tengah menunduk itu dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

Chaehyun tersenyum. Mendongakkan kepalanya. Membenarkan posisi duduknya supaya tegap, lalu menatap lurus wanita setengah baya yang kini duduk berhadapan dengannya itu.

“Mianhae ahjumma, sampai kapanpun, aku tak akan membiarkan Kyuhyun pergi dari sisiku. Karena Kyuhyun Oppa adalah jiwaku. Hidupku. Dan aku tak akan mungkin hidup tanpa dirinya disisiku,” ujarnya mantap. Nyonya Cho yang sedang meneguk teh hijau dari cangkirnya itu langsung tersentak mendengarnya.

“Maka dari itu, aku mohon ijinkan aku untuk selalu berada disisinya,” Chaehyun bangkit, membungkuk, lalu pergi dari hadapan bakal calon mertuanya itu.

“Cihh..” nyonya Cho tertawa sinis. Kemudian tersenyum.

“Anak itu.”

^0^

 

“Oppa-ya. Darimana? Bukankah hari ini kau hanya ada satu jadwal, dan itupun baru nanti malam?” tanya Hyerin saat melihat Oppanya yang baru datang itu langsung merebut Jongmi dari pangkuannya.

“Eung? Na?” Hyerin mengangguk kecil.

“Aku habis dari bandara. Mengantar eonnimu,” jawabnya santai sambil mendudukkan Jongmi keatas pundaknya.

“Aigoo~ Jongmi-ya, kau semakin berat sekarang~”

“Mwo? Chaeyoung eonni, maksudmu?” Minho mengangguk. “Kenapa dia? Kok tidak pamit?”

“Tadi kan kau kuliah. Lagi pula semuanya terjadi secara mendadak. Dia juga meminta maaf karena tidak sempat pamit padamu dan yang lainnya.” Hyerin mengangguk, mencoba mengerti. Ia fikir bahwa eonninya itu pasti pergi menenangkan diri akibat chock karena beberapa kejadian yang tiba-tiba saja menimpa grupnya itu. Padahal apa yang ada di dalam fikirannya itu tak sepenuhnya benar.

^0^

 

“Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Kyuhyun di telepon begitu mendengar kabar bahwa MIINA di-HIATUS-kan. Terdengar helaan nafas yang lumayan berat dari seberang telepon, hingga membuat Kyuhyun semakin khawatir terhadapnya.

“Gwenchana, Oppa. Pasti selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, buktinya, gara-gara kejadian ini kami –MIINA- malah dipanggil oleh SooMan sajjangnim untuk melakukan debut disana,” jawabnya bijak. Kyuhyun tersenyum lega.

“Kau sendiri? Bagaimana? Selama hiatus ini aku selalu memantaumu lewat televisi. Ingat! Kau tak boleh macam-macam dengan gadis lain!” ancamnya. Kyuhyun tertawa geli.

“Ne.. Ne.. Jagiya. Aku janji!”

“Dan ingat! Aku tak suka jika kau selalu dan terlalu dekat dengan si Yongeun ganjen itu!”

“Mwo? Ganjen??” Kyuhyun terkekeh mendengarnya. Begitu kata ‘ganjen’ disebutkan, Heechul yang kebetulan berada di van yang sama dengannya dan beberapa member lainnya itu langsung menoleh.

“Ne! GANJEN! Aku tak suka! Kentara sekali bahwa ia menyukaimu dan menginginkanmu menjadi miliknya! Kalau kau berani macam-macam, aku tak segan-segan pulang ke Korea dan langsung membantaimu dengan pedang samurai milik kakekku!”

“Ohoho.. ” lagi-lagi Kyuhyun terkekeh. “Kau mengerikan sekali, jagy! Ternyata kau lebih ‘evil’ daripada aku!”

“Hahaha. Karena hanya iblis yang mau berpacaran dengan iblis sepertimu. Kkk~” Chaehyun tertawa. Kyuhyun juga.

“Sudah ah, biaya telepon internasional disini sangat mahal. Annyeong~”

“Ne. annyeong.”

BIIP. Kyuhyun memandangi layar ponselnya yang memajang fotonya bersama Chaehyun saat mereka paertama kali jadian, beberapa tahun silam, sambil tersenyum manis.

“Ya! Ya! Siapa yang ganjen?” tanya Heechul penuh selidik yang hanya dibalas kekehan Kyuhyun.

^0^

 

“Donghae Oppa. Saat ini aku sedang ada pemotretan di Korea,” ucap seorang yeoja di telepon begitu Donghae mengangkatnya.

“Lalu?” tanya Donghae basa-basi. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri kenapa ia mau saja mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenalnya itu.

“Bisa kita bertemu?” ucapnya penuh harap. Donghae diam.

“Bagaimana? Bisa?”

“Maaf. Aku tak bisa. Aku sudah punya kekasih, jangan terlalu berharap padaku,” ucapnya pada akhirnya dan langsung mematikan sambungan telepon.

“Siapa? Vannessa kah?” tanya Leeteuk begitu Donghae langsung me-non aktifkan poselnya, membuka casing belakang dan melepas serta mematahkan sim card-nya lalu memasang cassingnya kembali dkemudian melemparnya sembarangan ke sofa.

“Siapa lagi yang terang-terangan selalu menerorku dengan gencarnya belakangan ini?” Donghae merenggangkan tubuhnya sebentar lalu masuk kedalam kamar.

“Ck.ck.ck dasar wanita itu,” gumam Leeteuk begitu Donghae sudah masuk kedalam kamarnya.

“Tenanglah Donghae-ya. Aku berjanji akan menemukan Hyunjae untukmu,” ucapnya pelan sambil tersenyum.

^0^

 

Sudah beberapa hari ini setelah Hyunjae keluardari rumah sakit, ia tinggal bersama Yonghwa di rumahnya yang berada di tepi pantai Thanet, atas paksaan dari Yonghwa tentunya. Hyunjae yang leher, kaki kiri serta tangan kanannya masih di gips itu mau tak mau menurutinya, lagi pula ia tak tahu harus kemana saat itu, dan ia juga tak memegang uang sedikitpun karena dompet serta barang-barangnya pasti sudah raib dan hanyut entah kemana setelah kejedian pesawat waktu itu.

“Hyunjae-ssi, makan dulu. Ayo buka mulutmu,” pinta Yonghwa. Hyunjae yang tangannya masih di gips dan tak mungkin untuk makan dengan tangan kirinya itu akhirnya menuruti permintaan Yonghwa yang terus menerus menyuapinya makanan hingga makanan yang ada di piring habis tak bersisa.

“Anak baik!” Yonghwa tersenyum puas sambil menepuk-nepuk puncak kepala Hyunjae pelan. Lagi-lagi, jantungnya berdegub kencang. Entah mengapa, ia seperti merindukan sesuatu, merindukan perlakuan Yonghwa barusan terhadapnya. Entah mengapa ia merasa ia seperti pernah diperlakukan demikian oleh Yonghwa. Dan tanpa ia ketahui, jantung Yonghwa pun berdegub dengan cepatnya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat itu, yang pasti saat ia menyuapi Hyunjae hingga akhirnya menepuk-nepuk puncak kepalanya barusan. Ia seperti melihat sosok Seohyun di hadapanya.

“Perasaan apa ini?” gumam keduanya dalam hati sambil memegangi dada kirinya masing-masing. Tanpa mereka ketahui.

Hyunjae mendorong kursi roda automaticnya menuju teras belakang rumah Yonghwa yang berhadapan langsung dengan bibir pantai. Ia memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati angin pantai yang membawa keteduhan baginya. Perlahan dibukanya kedua matanya dan menatap jauh ke laut. Dengan seperti ini –melihat laut, mendengar deburan ombak dan hembusan angin pantai- membuatnya rindu dengan sosok seseorang. Seseorang yang ia kenal sanagt menyukai pantai. Seseorang yang selalu menjuluki dirinya sebagai ‘ikan’ atau ‘fishy’. Lee Donghae. Ia sangat merindukan pria itu. Ia sangat merindukan tatapan lembutnya, senyuman hangatnya, dan berbagai perlakuan yang dapat membuatnya melayang. Perlahan tangan kirinya terangkat, memegangi lehernya, mencoba meraih sesuatu.

“Loh?” tanyanya kebingungan karena tangannya tak menemukan sesuatu yang semestinya sampai saat ini masih tergantung di lehernya.

“Kemana kalung itu??” pekiknya panic, lalu kembali mendorong kursi rodanya kedalam rumah, mencoba mencari di setiap sudut rumah yang pernah ia lalui. Tapi nihil. Kalung  berbentuk hati itu tak juga Nampak.

“Apa benda itu juga ikut hilang saat kecelakaan terjadi?” gumamnya lirih. “Ya tuhan. Kemana kalung itu pergi?”

Sementara itu, setelah menaruh piring makan Hyunjae, Yonghwa langsung berlari masuk kamarnya yang ada di lantai 2 dan menutup pintunya keras. Saking kerasnya ia menutup pintu, sebuah paper bag yang ia letakkan di atas meja yang ada di samping pintu terjatuh dan membuat beberapa barang yang ada di dalamnya berserakan di lantai.

Yonghae diam, menatap barang-barang yang memenuhi lantai kamarnya itu. Matanya kini tertuju pada sebuah dompet berwarna kuning gading yang waktu itu sempat akan ia lihat isinya saat di rumah sakit tempo hari. Perlahan dibukanya dompet yang beriskan beberapa kartu kredit itu dan langsung mengeluarkan passport dari dalamnya, kemudian membacanya.

Name : Cho Hyunjae/Amanda Cho

Mata Yonghwa langsung membelalak kaget begitu melihat data yang terpampang disana.

“Cho Hyunjae?? Bukankah ia bilang namanya Kim Hyunjae?” Ia diam. Berfikir. Sepertinya ia sangat familiar dengan nama ini. Tapi dimana?

Saat ia baru akan mengembalikan paspor itu kedalam dompet, sebuah foto menyembul keluar dari salah satu saku dompet. Ditariknya foto tsb, dan dilihatnya sepasang manusia yang tengah tersenyum bahagia di foto itu. Foto itu tak begitu jelas, karena hanya di terangi oleh terang cahaya lilin yang bersal dari kue tart yang ada di depan mereka, namun yang ia tau pasti, gadis yang ada di foto tsb adalah Hyunjae. Dibalik foto itu, terdapat sebuah tulisan, ia pun membacanya dengan seksama.

 

At Mokpo

Aiden Lee & Amanda Kim

 3rd Anniversarry

\^0^/ everlasting love \^0^/

 

Dahi Yonghwa berkenyit. Entah mengapa ia merasa hatinya seolah teriris sembilu. Matanya kini beralih pada sebuah kalung perak berliontin hati yang kini sudah ada dalam genggamannya. Dan hatinya semakin sakit saat membaca sebuah nama yang  terukir indah di belakang liontin kalung tsb. Aiden Lee.

 

“Yonghwa-ssi..” panggil Hyunjae dari bawah. Buru-buru ia membereskan semua barang itu ketempatnya semula. Saat ia mearuhnya ke atas meja, mata menangkap sebuah benda berwarna putih yang tergeletak di samping majalahnya.benda yang sudah beberapa hari ini ia lupakan kehadirannya.

“Yonghwa-ssi..” panggil gadis itu lagi. Tanpa fikir panjang ia langsung mengambil benda tersebut dan membawanya keluar.

“Ne? Wae guraeyo, Hyunjae-ssi?” tanyanya saat melihat Hyunjae yang kini memandangnya dengan tatapan penuh harap.

“Boleh aku meminjam telponmu, untuk menghubungi keluargaku, Yonghwa-ssi?”

“Oh, ne silakan saja, Hyunjae-ssi,” ucapnya yang langsung dibalas ribuan ucapan terimakasih dari Hyunjae. Yonghwa mengangguk lalu berjalan keluar, menuju teras.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi,” jawab operator begitu Hyunjae mencoba menghubungi nomor Donghae. Ia tak putus asa, berkali kali ia menghubungi satu-satunya nomor yang ia hapal diluar kepala itu.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Lagi-lagi operator yang menjawab panggilannya. Ia putus asa. Bingung, mau menghubungi siapa lagi, karena hanya nomor Donghae yang ia hapal, sedangkan nomor yang lainnya ada di ponselnya yang entah sudah kemana.

“Aigoo-ya, ikanku, kemana kau??” gumamnya lirih sambil menatap wireless phone yang ada di genggamannya dengan tatapan nanar.

Diluar, diam-diam Yonghwa terus menatap Hyunjae yang terlihat murung dari balik jendela dengan perasaan campur aduk. Jujur saja sebenarnya ia tak suka saat melihat foto gadis itu dengan pria lain dan bahkan ia juga suka saat melihat gadis itu meminta ijinnya untuk menghubungi seseorang. Ia tak rela jika akhirnya gadis itu pergi dari sisinya.

                                                                                                  

^0^

Sudah hampir satu bulan seluruh anggota MIINA berada di Amerika dan berusaha mempromosikan album mereka disana. Semua rencana yang di berikan Lee Soo Man, pemilik SM yang sekarang sibuk mengurusi cabang Amerikanya itu, berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Semua member MIINA disibukkan oleh padatnya jadwal promosi yang gencar mereka lakukan di hampir setiap acara tv dan radio. tak ada lagi kasus pembatalan kontrak yang terjadi saat mereka di Jepang dan pemutusan kontrak seperti di Korea. Semua berjalan sesuai rencana.Dan, karena sibuknya jadwal, membuat setiap membernya hampir tak sempat untuk sekedar menghubungi keluarga atau kekasihnya masing-masing.

“Sudah sekitar 1 bulan lamanya, kalian meninggalkan Korea dan sibuk melakukan promo di Amerika. Pasti ada seseorang yang kalin rindukan di Korea. Jika ada, siapa orang itu?” tanya Oprah, saat sesi tanya jawab di acara anyarnya The Oprah Winfrey Show, dimana MIINA jadi bintang tamunya.

“Ya, sudah sekitar 1 bulan lamanya kami melakukan debut dan berbagai promosi di Amerika. Sebagai seorang manusia, tentu kami juga memiliki kehidupan pribadi diluar sana, dan pastinya kami juga memiliki seseorang yang kami rindukan,” ujar Chaeyoung yang tak lupa menunjukkan wibawanya sebagai seorang leader. Oprah tersenyum.

“Lalu jika boleh tahu, siapa orangnya? Dimulai dari Chaehyun,” ia melemparkan senyumannya pada Chaehyun yang malam itu mengenakan dress selutut berwarna coklat muda.

“Tentu saja aku amat merindukan teman-teman dan semua orang yang selama ini telah mendukungku diluar sana,” ucapnya singkat dan diakhiri dengan senyuman.

“Hanya teman-teman?” tanyanya meyakinkan. Chaehyun mengangguk pasti.

“Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Salah satu personil boy band fenomenal Korea, Super Junior? Kudengar ia adalah kekasihmu?” tanya Oprah dengan tampang menggoda, Chaehyun blushing, sementara member dan penonton yang lain langsung tertawa.

“Apa dia tak termasuk?” godanya lagi.

“Eh? Ah, ya, dia juga termasuk kedalam orang-orang yang selalu mendukungku,” Cahehyun tersenyum malu. Camera kini focus kepadanya. “Yang pastinya aku rindukan,” tambahnya lagi yang langsung di sambut tawa dan tepukkan tangan dari penonton. Oprah tersenyum lebar.

“Nah, beralih padamu, Chaeyoung,” ia mengambil contekan naskahnya dan membacakan riwayat Chaeyoung sekilas.

“Leader dari MIINA. Siapa yang kau rindukan?” Chaeyoung tersenyum.

“Tentu saja aku sangat merindukan suamiku, Minho, adik dan kakak iparku, seluruh keluargaku, teman-teman, serta semua orang yang selama ini selalu mendukung langkahku, mendukung langkah kami, MIINAmist Korea yang setiap hari selalu menyambangi dorm ataupun kamtor SM untuk sekedar menyapa dan bahkan memberikan kami bekal makanan, dan berbagai hal lainnya. Aku sangat merindukan semua hal tsb,” jelas Chaeyoung mantap yang langsung disambut tepukan hangat penonton. Oprah tersenyum puas.

“Tadi kau menyebutkan bahwa kau merindukan suamimu, Minho.” Chaeyoung mengangguk, “Kau dan suamimu adalah member dari grup idola yang sangat di idolakan tak hanya di negara asal kalian, tapi juga bahkan diseluruh dunia. Apa yang menjadi pertimbangan kalian hingga akhirnya kalian memutuskan untuk menikah? Bukankah hal itu bisa saja membuat pamor kalian merosot? Dan apakah kalian tak tertekan karena masalah ini?” Lagi-lagi Chaeyoung mengangguk mengiyakan.

“Ya, benar. Kebetulan kami berasal dari member grup idola yang sangat popular dan memiliki fandom yang fanatic terhadap satu sama lainnya. Awalnya kami merasa hal ini akan sulit diwujudkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, kami bisa mengatasi segala persoalan yang ada, dan kamipun menikah setelah merasa SHAWOL serta MIINAmist sudah dapat menerima hubungan kami,” ucapnya tenang. “Untuk masalah pamor, kami tak munafik, kekhawatiran soal turun pamor pasti ada. Namun,  jika melakukan sesuatu pasti akan ada resiko yang harus dihadapi. Dan resiko itulah yang mungkin akan kami hadapi jika kami memutuskan untuk menikah saat itu. Dan kamipun berkaca pada apa yang dihadapi Leeteuk Oppa, saat ia menikah dengan Hyerin, adik Minho. Dan terbukti pamornya justru makin meningkat tajam jika dibandingkan saat ia belum menikah. Karena itu kami yakin, jika sesuatu sudah dikehendaki oleh tuhan pasti akan ada jalan keluar. Maka dari itu, kami mebulatkan tekat kami berdua untuk menikah.” Jelasnya panjang lebar dan penuh dengan keyakinan. Seluruh penonton dan bahkan Oprah sendiri memberikan standing applause untuknya, tak ketinggalan kedua member MIINA ynag lainnya.

“Jawaban yang sangat bagus, Kim Chaeyoung,” puji Oprah ketika ia sudah kembali duduk di bangkunya.

“Dan tadi kau menyebutkan bahwa kau berkaca pada Leeteuk?” Chaeyoung mengangguk.  “Bisa dibilang kau menikahi keluarga yang sangat hebat dan popular,” ujarnya lalu memandang kearah audience yang hadir. “Benar bukan?”

“Benar,” jawab seluruh audience yang ada –yang sebagian besar adalah MIINAmist U.S- kompak. Oprah tersenyum dan kembali menatap Chaeyoung.

“Ayahmu seorang diplomat, ayah mertuamu adalah seorang kepala polisi daerah yang sangat terpandang dan di segani di Korea,” ketiga member MIINA mengangguk mengiyakan. “Suamimu adalah seorang anggota dari boy band terkenal, SHINEE, kakak iparmu, Choi Jonghun, adalah gitaris, pianist, sekaligus leader dari grup band terkenal, FT Island, dan terakhir, suami dari adik iparmu adalah seorang Leeteuk, leader dari super boy band fenomenal, Super Junior. Bagaimana rasanya berda di tengah-tengah keluarga popular seperti itu, miss Chaeyoung?”

“Rasanya?” Oprah mengangguk. “Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, aku senang hidup ditengah-tengah mereka semua,” jawabnya yang diakhiri dengan senyuman yang sangat lebar. Oprah tersenyum puas.

“Aku suka gayamu, Leader Kim!” serunya yang langsung disambut tawa audience.

“Yang terakhir,” ia kembali membuka contekan naskahnya. “Kim Binwoo, si bungsu.” Binwoo tersenyum.

“Sebagai seorang bungsu atau ‘magnae’ di grupmu, apakah kau sedang merindukan seseorang saat ini?”

“Tentu!” serunya bersemangat, hingga membuat seluruh audience termasuk Oprah tertawa.

“Wah, kau sangat energik ya, nona Kim,” goda Oprah yang langsung dibalas senyum malu-malu dari Binwoo.

“Karena aku adalah lead dancer dalam grup ini, sudah semestinya jika aku selalu bersemangat. Dan bisa dibilang, dalam grup ini, akulah orang yang paling bersemangat dalam hal apapun,” ujarnya polos. Oprah kembali tersenyum.

“Lalu siapa yang saat ini sedang kau rindukan, nona Kim?” tanyanya lagi. Binwoo diam, terlihat sekali kalau dia sedang berfikir.

“Aku?” Oprah mengangguk. “Sebagai anak yang baik, tentu aku selalu merindukan kedua orang tuaku yang ada disana, keluarga besarku, MIINAmist, Jongwoon, serta anak-anakku,” jelasnya singkat.

“Anak-anakmu?” tanya Oprah tak percaya. Binwoo mengangguk mantap.

“Maksudmu?”

“Ia, aku sangat merindukan kelima anakku, Ddangkoma, Ddangkoming, dan Ddangkomee, Ddangkomeng, dan Ddangkomang,” jelasnya antusias.

“Eh? LIMA?” pekik Oprah tak percaya. Binwoo mengangguk mengiyakan, semetara Chaehyun dan Chaeyoung tertawa geli.

“Lima anak yang ia maksud itu adalah kelima kura-kura peliharannya dan Yesung, kekasihnya. Dan mereka berdua menyebut kura-kura tersebut sebgai anak mereka,” jelas Chaehyun, meluruskan. Chaeyoung mengangguk.

“Yang tig adalah milik Yesung Super Junior, kekasihnya, sementara dua lainnya adalah miliknya. Dan kelimanya saat ini tengah dirawat Yesung Oppa, di dorm-nya,” tambah Chaeyoung yang langsung disambut helaan nafas lega dari semua orang yang ada.

“Ya tuhan, jantungku hampir saja copot!” Oprah mengelus-elus dadanya pelan sementara Binwoo terkekeh kecil.

^0^

BIIP..

 

Youngeun langsung mematikan tv dan membuang remote kontrolnya, kesal. Moodnya yang semula sedang bagus mendadak berubah saat tak sengaja ia menonton siaran luar negeri favoritnya, The Oprah Winfrey Show, yang ternyata menayangkan rivalnya, Chaehyun, dan member MIINA yang lain. Ia kesal setengah mati karena semua rencana untuk menghancurkan MIINA yang semula ia kira berhasil, ternyata malah GAGAL TOTAL! Langkah debut mereka di Jepang memang berhasil di jegal, namun tak ia kira bahwa MIINA malah banting stir dan melakukan debut di Amerika yang skalanya sudah Internasional. Sebuah langkah yang bahkan belum terfikirkan olehnya.

“KEPARAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya sekencang mungkin. Saking kencangnya teriakan yang ia buat, membuat Teppei yang sedang asik tertidur di kamarnya langsung terbangun.

“YA!! Diamlah kau sedikit!!” pekiknya kencang dari lantai atas. Bukannya diam, Youngeun malah semakin berteriak kencang sambil mengacak-acak sofa dan barang-barang lainnya yang ada di ruang tengah. Teppei yang melihatnya dari atas langsung berlari turun dan menarik lengan gadis itu dan membawanya keluar dari rumah, menuju taman belakang.

“YA!!” bentaknya yang berhasil membuat Youngeun terdiam.

“Ada apa, huh? Kenapa kau berteriak-teriak dan mengacak-acak semua barang seperti orang gila!?” Youngeun menatap wajah Teppei tajam.

“YA! Oppa! Kalau kau tak suka, kau malu, pecat saja aku sebagi adikmu!” pekiknya kesal. Teppei yang tak lain adalah kakaknya langsung menatapnya dengan tatapan aneh.

“Ya! Ya! Wae gurae!!?”

Begitu Youngeun menceritakan semuanya pada kakaknya itu, Teppei langsung menarik Youngeun masuk kedalam mobil Ferrari kuning miliknya dan membawanya menuju salah satu restaurant mewah tempat ia membuat janji dengan ibu mereka. Sesampainya di hotel, mereka langsung masuk kedalam hotel dan menaiki lift, menuju lantai 2, tempat dimana sebuah restaurant yang sudah ibunya pesan berada.

^0^

Yonghwa langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok, tubuhnya merosot kebawah karena kakinya terus bergetar hebat dan tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Wireless phone yang sedari dalam genggamannyapun terhempas jatuh ke lantai. Tubuhnya berguncang hebat. Derai air mata dangan derasnya keluar membasahi kedua pipinya yang putih pucat.

“Seohyunnie..” lirihnya.

^0^

 

“Hyunjae-ssi,” panggil Yonghwa saat mereka berdua tengah menikmati pemandangan malam pantai Thanet lewat teras samping rumah Yonghwa yang didesain seperti balkon hotel bintang lima itu. Hyunjae menoleh, menatap Yonghwa sambil tersenyum tipis. Tanpa gadis itu ketahui, sebuah desiran hebat kini melanda jantung pria yang duduk disampingnya itu.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

“Silakan, Yonghwa-ssi. Ada apa?”

“Siapa namamu sebenarnya?” Hyunjae menatap Yonghwa dengan tatapan aneh, lalu tersenyum sambil menatap lurus keatas, memandangi langit malam Thanet yang saat itu dipenuhi oleh cahaya bintang –gips yang menyanggah leher dan tangan serta kakinya kini sudah tak ada. Dokter telah melepasnya beberapa hari yang lalu, jadi ia dapat dengan leluasa menengadah memandangi langit.

“Namaku yang sebenarnya adalah Kim Hyunjae, namun setelah kedua orang tuaku meninggal, aku di angkat anak oleh sahabat dari ayahku sendiri, dan mereka mengganti margaku dengan marga yang sama dengan mereka. Cho. Tapi karena semua orang mengenalkan dengan marga Kim, aku selalu memakainya dan untuk marga Cho, hanya aku gunakana dalam dokumen-dokumen resmi saja,” jelasnya tanpa menatap Yonghwa yang terus memperhatikannya.

“Lalu nama baratmu?” tanya Yonghwa dengan nada bergetar. Namun deburan suara ombak yang sangat keras mampu menyembunyikan getaran tsb.

“Amanda. Amanda Cho.”

PRANGGG

 

Gelas yang ada di genggaman Yonghwa jatuh dan pecah berkeping keping. Hyunjae menoleh, menatap Yonghwa yang kini seluruh tubuhnya sudah berguncang hebat.

“Biar aku saja!” bentaknya saat Hyunjae hendak membersihkan serpihan kaca yang ada. Hyunjae terdiam. Baru kali ini pria itu membentaknya. Yonghwa berjongkok, membersihkan pecahan kaca yang berserakan itu.

“Arggh!” erangnya saat tanpa sengaja sajah satu jarinya terkena serpihan kaca dan mengeluarkan cukup banyak darah.

“Yonghwa-ssi!!” pekiknya saat melihat darah segar keluar dari jari Yonghwa.

“Gwenchana!” tolaknya lalu berlari masuk kedalam ruamah, meninggalkan Hyunjae yang masih menatapnya dari kejauhan.

Ia langsung melempar pecahan kaca itu kedalam bak samapah dan langsung menyalakan keran air di wastafel dapurnya, membiarkan air keran membersihkan darah pada tangannya yang terluka. Air mata tak mampu lagi ia tahan dan kembali tumpah membasahi wajahnya. Tubuhnya berguncang hebat, dan akhirnya ia memutar posisi tubuhnya dan membiarkan tubuhnya itu merosot, menyandar pada dinding dapur, di sebelah wastafel.

*FLASHBACK*

 

Diluar, diam-diam Yonghwa terus menatap Hyunjae yang terlihat murung dari balik jendela dengan perasaan campur aduk. Jujur saja sebenarnya ia tak suka saat melihat foto gadis itu dengan pria lain dan bahkan ia juga suka saat melihat gadis itu meminta ijinnya untuk menghubungi seseorang. Ia tak rela jika akhirnya gadis itu pergi dari sisinya.

Sebelah tangannya merogoh kantong celana dan mendapati ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam kamar, yang kini dalam keadaan mati itu. Di tekannya tombol berwarna hijau yang terletak di tepi bawah pada layar ponselnya, tak lama terdengar suara sambutan dan disusul dengan logo ponsel miliknya. Ternyata ponselnya itu tidak rusak, atau kehabisan baterai, tapi mati karena benturan saat terjatuh waktu itu.

Yonghwa tersenyum menatap layar ponselnya yang memajang foto dirinya bersama Seohyun saat mereka fitting baju pengantin beberapa tahun silam di salah satu butik dari perancang kenamaan Hollywood, di daerah Manhattan.

DRRTT… DRRTT…

 

Tiba-tiba saja ponselnya itu bergetar hebat. Panggilan masuk. Siwon hyung.

“Ne, hyung?”

“YA!!!!!!!!!!” pekik Siwon tiba-tiba, Yonghwa langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.

“Kemana saja kau huh!? Berminggu-minggu ku hubungi tak pernah aktif!” cecarnya. Yonghwa kembali mendekatkat ponsel flip miliknya it ke depan telinga.

“Mianhae, hyung. Ponselku rusak,” kilahnya. “Ada apa?”

“Ada apa katamu? Hey, aku hanya ingin minta bantuanmu. Kau kan bilang waktu itu menemukan seorang gadis  yang sepertinya terdampar di pantai. Bagaimana cirri-cirinya?” tanya Siwon to the point. Yonghwa terkesiap, lalu kembali menatap Hyunjae dari kejauhan.

“Dia benar-benar mirip dengan Seohyunnie-ku, hyung,” lirihnya yang dibalas helaan nafas panjang Siwon.

“Waeyo?”

“Anni, aku hanya ingin bertanya saja. Aku curiga jika gadis itu adalah salah satu korban dari kecelakaan pesawat yang terjadi sekitar sebulan yang lalu,” Yonghwa masih menatap Hyunjae dari kejauhan dengan tatapan sendu. “Jika benar begitu, berarti ada harapan bagi kami bahwa adik Kyuhyun masih hidup.”

“Me-memang siapa namanya?” tanya Yonghwa hati-hati.

“Hyunjae. Cho Hyunjae,” Yonghwa menghela nafas lega. Karena berarti bukan Hyunjae yang ada dirumahnya yang Siwon maksud. “Jika kau menemukannya atau mendengar sesuatu tentangnya tolong beritahu kami, ya?”

“Ne, hyung, pasti.”

“Ah, ya, sekarang kau tinggal dimana? Aku ingin mengirim paket untukmu, tapi tak tahu alamatmu.”

^0^

 

“Yonghwa-ssi, kau beristirahatlah dikamar, biar aku yang masak untuk makan, malam ini,” Hyunjae mendorong-dorong tubuh Yonghwa yang lebih besar dan lebih tinggi darinya kedalam kamarnya di lantai dua.

“Shireoyo! Gipsmu kan baru saja di lepas tadi siang, lagi pula kau kan tak bisa memasak!” sergahnya sambil menahan tubuhnya agar tak berhasil didorong oleh gadis yang bertubuh mungil itu kedalam kamarnya.

“GWEN-CHA-NA-YO! Aku bisa masak! Serahkan saja semua padaku!” dengan sekuat tenaga ia mendorong Yonghwa masuk kedalam kamar dan menguncinya dari luar. “Bertahanlah di dalam Yonghwa-ssi, sampai makanannya siap!” serunya lalu berlari ke bawah, menuju dapur. Yonghwa tertawa kecil menghadapi tingkah gadis aneh yang mengurungnya di rumahnya sendiri itu.

“AAHHH~~” ia menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.

DRRTT.. DRRTTT..

 

Ponsel yang selalu ia taruh di dalam saku celananya itu bergetar hebat. Panggilan masuk. Eommonim. Dengan segera ia bangkit dari tidurnya. Membenarkan intonasi suaranya, baru setelah itu mengangkatnya.

“Yobsaeyo,” sapanya ramah dan penuh hormat. Maklum, yang menghubunginya saat ini adalah ibu dari alm. Seohyun, kekasihnya, yang amat ia hormati.

“Ne, yobsaeyo. Yonghwa-ya! Sombong sekali kau, sampai-sampai tak pernah menghubungi kami disini.”

“Ne, mianhae, eommonim. Aku sedang sibuk mengurusi kuliahku disini,” jawabnya setenang mungkin.

“Janji? Ayah sangat rindu padamu. Ia bilang ia ingin bertemu dengan anak lelakinya.”

“Ne, lain kali jika aku kembali ke Amerika pasti aku akan mengunjungi kalian.”

“Ah, ya, mianhae Yonghwa-ya. Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu padamu..” ucap wanita setengah baya itu dengan suara lirih. “mengenai Seohyun.”

“Apa itu eommonim?” Dada Yonghwa berdesir hebat saat mendengar nama Seohyun kembali disebut.

“Err.. Itu, sebenarnya, saat Seohyun meninggal, ia memberikan wasiat bahwa ia akan mendonorkan jantungnya pada seseorang,” deg. Jantung Yonghwa seolah berhenti berdetak mendengarnya. Berarti saat di pembaringannya yang terakhir, Seohyun, gadisnya itu terlelap tanpa jantung di dalam tubuhnya?

“Kami juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, saat kami berniat membereskan kamar Seohyun. Dan saat itu kami menemukan sebuah surat yang ia tujukan kepadamu, dan pada kami. Dan surat untukmu sudah ku kirim beberapa hari yang lalu. Apa kau sudah menerimanya?” Yonghwa langsung loncat dari tempat tidur menuju meja belajar. Di tasnya memang ada beberapa surat yang sama sekali belum ia sentuh. Ia mengacak-acak seluruh surat yang ada, mencoba mencari surat yang dimaksud.

GOTCHA! Sebuah amplop berwarna baby pink, bertuliskan namanya berhasil ia temukan diantara puluhan surat yang ada.

“Ne, eommonim, aku sudah menerimanya.” Wanita itu menghela nafas pendek.

“Jika kau membacanya, kuharap tabahkan hatimu, nak. Dan ku harap kau tak akan membenci gadis itu. Karena ia tak tahu apa-apa.”

*FLASHBACK END*

 

Tak henti-hentinya Yonghwa menumpahkan derai air mata kesedihan yang selama ini selalu ia tahan dan berusaha tegar di hadapan orang-orang. Sebelah tangannya menyelusup masuk kedalam saku hoodie yang ia kenakan. Sebuah kertas surat berwarna baby pink ia kelaurkan dari dalam dan ia kembali membacanya dengan seksama.

To : Yonghwa seobang~~

 

Heyy nae seobang,, apa kabarmu?

Hoho,, kuharap kau dalam keadaan baik-baik saja ya,  ^0^

Jika kau membaca isi surat ini, berarti saat ini aku sudah tenang di surga..

Ku mohon jangan tangisi kepergianku ya..: )

 

Seperti yang telah kau ketahui sebelumnya,, aku menderita tumor otak.

Kau tahu? betapa sukanya aku pada dirimu dulu? Rasa sukaku padamu dulu bahkan melebihi rasa sukaku pada ‘keroro’ 😛 . hehe

Dan saat kau menyatakan perasaanmu padaku, aku sangat senang setengah mati! saking senangnya aku bahkan tak bisa tidur semalam suntuk. Namun, kebahagianku itu langsung pudar saat tiba-tiba saja aku jatuh pingsan dan dokter mevonisku menderita kanker otak. Sejak saat itu aku berusaha menghindarimu, tapi ka uterus saja mendekatiku dan meyakinkanku bahwa kau akan menerimaku apa adanya.. selang 2 tahun kemudian, kau melamarku. Kau bilang kau akan selamanya menjagaku.

Kau tahu betapa senangnya aku saat itu? Rasanya bahkan lebih menyenangkan dari saat eomma memberikan adik untukku! >.<

Pokoknya aku sangat bahagia!!!!!!!!!!

Setelah hari itu kita sibuk mencari gedung, memilih eo, undangan, pakaian pengantin dan juga gereja yang sesuai dengan keinginan kita. Dan aku sangat tak sabar menantikan hari pernikahan kita itu!

Tapi, tepat saat hari pernikahan kita. Saat semua orang sudah ramai memenuhi gereja yang telah kita pilih, saat orang tua kita berdua dan bahkan sepupu kesayanganmu yang super sibuk itu sudah duduk manis di tempatnya, saat pendeta mulai mengucapkan kata-kata pengantarnya.. aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku. Kepalaku terasa sakit sekali! Dan tepat disaat aku akan mengucapkan janji dan sumpah setia itu di depan altar,,, pandanganku mulai gelap.

Saat itu, aku berfikir, bahwa aku pasti akan mati saat itu juga..

Tapi, ternyata aku salah! Tuhan berkata lain. Dia memberikanku kesempatan untuk berpamitan pada kalian terlebih dahulu.

Ah, ya.. kau tahu? saat aku sadar dari tidurku, aku melihat seorang yeoja yang sepertinya masih lebih muda dari diriku tengah di dorong dengan kursi rodanya oleh seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. Saat itu aku langsung bertanya kepada suster.

“Siapa gadis itu?”  suster itupun menjelaskan semua tentangnya.

Gadis yang ternyata kamar rawatnya berada disamping kamarku itu bernama Amanda Cho, dia menderita penyakit Jantung, dan sedang menunggu untuk operasi donor jantung. Suster itupun bercerita bahwa gadis itu jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk menunggu pendonor Jantung yang cocok dengan jantungnya. Mendengarnya, membuatku tertarik padanya..

Tertarik untuk mendonorkan jantungku yang masih berfungsi dengan baik ini.

Setidaknya, jikalau aku memang harus pergi dari dulia ini, aku masih bisa mengamalkan sesuatu untuk membantu orang lain. Dengan latar kemanusiian. Lagi pula, dengan begitu, berarti meski aku sudah tak ada di dunia ini, jantungku masih tetap berdetak.

Kuharap, gadis yang bernama Amanda Cho itu dapat menerima jantungku dan merawatnya dengan sangat baik. Jadi, jika suatu saat nanti, kau bertemu dengannya, setidaknya kau dapat merasakan keharanku disisimu. : )

Ku harap kau tak membencinya, dan perlakukanlah dia sebagimana kau memperlakukanku. Karena jika kau menyakitinya, itu sama saja dengan kau menyakitiku! ARRASEO!?

Hhe.. 😛

 

Dan,, jangan lupa. Carilah seseorang yang dapat mengisi kekosongan di hatimu dan menggantikan diriku di sampingmu. Jangan sia-siakan hidupmu yang masih panjang hanya untuk menangisi kepergianku.

 

saranghae

-Seo JuHyun

                                                                                                  

Diremasnya kertas surat berwarna baby pink itu dengan sebelah tangan. Air matanya kembali pecah. Ia menggigit bibir bawahnya, mencegah agar suara rintinhannya tak terdengar oleh Hyunjae.

“Jadi benar.. Dia.. Dia adalah orang yang sama dengan yang Siwon maksud.. Dan dia juga yang menjadi penerima jantung Seohyun,” ujarnya pilu.

>>>TBC

~mrs.ChoiLee 

Yesss” part 12 dah beres!!! *goyang bonamana*

mian kalo byak typo –” author males ngedit ulang #plakk

Part depan FINAL EPISODE ya,,

Ehh iyya,, author mu curhat dikit ni,, pas bikin part ini bsok paginya bibir author yang malah sobek!

Huweee >.<

Sakit bget rasanya! Gga tau gara” apaan,, bangun tdur ud penuh darah.. huhu

Mungkin karma ud bikin anak orng bibirnya pada sobek di FF #plakk

 

Jangan lupa.. komentar! n mention aja ke @yoendaELF

~GOMAWO~~

*bow*

Iklan

12 thoughts on “~Still Merry Me~ eps:12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s