Lies ~part 7

 

LEAVE UR COMMENT!!

DONT BE SILENT READER PLEASE!

AND

NO PLAGIATISM!!

Happy reading~~

 

Cast:      Lee Donghae

                Cho Kyuhyun

                Kim Hyunjae  *Author*

-LIES PART 7-

*Hyunjae POV*

Setelah sekolah sepi, aku dan Soyoong memutuskan untuk pulang, dan pergi ke toko kaset, untuk mencari CD terbaru Boa yang baru rilis kemarin. Saat di perjalanan, aku terus berkutat dengan ponselku yang selama seharian ini sama sekali sepi sms ataupun telpon, sementara Sooyoong asik melihat keluar jendela.

“Omo~ Hyunjae-aa, lihat itu!” Soyoong menarik lenganku, aku langsung menoleh kearah yang ia maksud. Mataku langsung melotot melihatnya. Tak percaya. Kulihat seorang namja yang sangat kusukai boncengan dengan yeoja yang amat kukenal. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Mataku memanas. Rasa sebentar lagi, air mata ini akan tumpah. Aku tak sanggup lagi membendungnya. Secepat kilat aku langsung membersihkannya dengan sapu tangan, begitu Sooyoong berkutat dengan ponselnya, sehingga ia tak menyadari bahwa aku menangis. Dan aku tetap bertingkah seperti biasanya, seolah tak terjadi apa-apa. Sesampainya di rumah, aku langsung mengunci kamar rapat-rapat. Tak mempedulikan Umma dan Appa yang baru saja pulang dari Mokpo.

*FLASHBACK*

Hari ini, setelah memantapkan hatiku, dan berkat dorongan dari Yesung Oppa. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan mengubah hari-hariku kedepan.

Aku duduk di salah satu bangku taman yang ada di bukit belakang sekolah. Duduk manis, menunggu seseorang yang sedari tadi kutunggu datang menghampiriku. Tak beberapa lama kemudian terdengar ada langkah kaki yang berjalan ke arahku. Sekitika, kurasakan jantungku berdegup kencang.

“Hyunjae-aa? Ada apa memanggilku kesini??” tanya namja itu lembut.

“Ehm… duduklah,” aku menariknya duduk disebelahku.

“Tau kah kau, Yesung Oppa ingin menjodohkanku dengan teman kerjanya,” aku buka suara setelah tadi terdiam satu sama lain, sambil melihat pemandangan yang ada di depan kami.

“Mwo? Yasudah, coba saja,” katanya seolah tak peduli. Aku menarik nafas berat.

“Tapi, aku tak mungkin menyerahkan hatiku ini pada orang lain…”

“Wae??” aku menarik nafas dalam. Pandanganku tetap lurus kedepan. Tak sanggup aku melihat wajahnya saat ini.

“Hatiku sudah tertancap pada namja lain.”

“Nugu?? Apa aku mengenalnya???” ia menatapku lembut, membuat wajahku memerah seperti tomat. Aku langsung memalingkan wajahku dari pandangannya. Aku tak ingin ia melihatku yang seperti ini.

“Entahlah, tapi yang jelas. Aku sangat menyukainya. Tapi…”

“Tapi, apa??”

“Aku takut. Aku takut kalau ia akan menjauhiku. Karena aku sudah merasa dekat dengannya. Aku.. Aku tak mau kehilangannya,” ia memandangku sebentar, lalu kembali menatap ke depan.

“Memang sedekat apa kalian? Beruntung sekali namja itu, di sukai oleh yeoja sepertimu.”

“Entahlah… Tapi yang jelas, aku selalu nyaman di dekatnya,” aku mengatur nafas sejenak.”Kalau kau jadi aku. Apa yang akan kau lakukan, Donghae?”

Donghae menatapku sekilas, lalu tertawa kecil, “Aku?? Aku akan menyatakannya pada namja itu, kalau aku menyukainya. Tak peduli apapun hasilnya nanti. Yang penting perasaanku jadi lega karena sudah mengungkapkannya.” Donghae menatapku lembut, “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti, Hyunjae-aa. Jadi lebih baik utarakan saja Siapa tahu hasilnya akan positif.”

Aku menarik nafas berat, jantungku makin berdegub tak menentu, “Kalau kau adalah namja itu. Apa yang akan kau lakukan?”

Donghae menatapku bingung, lalu menyunggingkan senyum manisnya sambil mengelus kepalaku pelan. Jantungku semakin berdegub kencang. Dan kurasakan, wajahku memanas.

“Aku?? Kenapa kau memberikan pertanyaan sesulit ini padaku??”

“Jawab saja.”

“Aku akan sangat berterima kasih karena ada yeoja yang menyukaiku. Dan.. “

“Aku menyukaimu. Lee Donghae.” Ucapku tiba-tiba sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Kulihat, ia memandangku dengan tatapan bingung.

“Jincha?” aku mengangguk pelan, tetapi meyakinkan. Kulihat sebuah senyuman tersungging di bibirnya. ‘Apakah aku tak bertepuk sebelah tangan?’ batinku. Tapi, kulihat, senyum itu lama-lama memudar dan di gantikan dengan sebuah senyuman yang getir.

Ia mengelus kepalaku lembut. “ Na do..” katanya, tapi belum sempat aku berkata, ia melanjutkan omongannya yang ternyata belum selesai, ”Tapi, mianhae Hyunjae-aa. Aku..”

“Aku apa?” tanyaku bingung.

“Sekarang hanya bisa menganggapmu sebagai seorang dongsaeng. Mianhae.”

Seketika ada sebuah perasaan aneh menggeliat dari dalam tubuhku. Seperti ada sebuah perasaan lega, dan sedih yang bercampur aduk jadi satu. Aku tertunduk lesu.

“Wae? Apa kau sudah punya yeoja chingu?” Donghae menggeleng pelan.

“Anni, aku pasti sudah akan menceritakannya padamu jika aku punya yeoja chingu.” Aku mengangguk paham.

“Bagaimana? Setelah mengatakannya. Perasaanmu sudah lega kan??” aku tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.

“Gomawo yo~”

“Anni, harusnya aku yang bilang terima kasih,” katanya,”Terima kasih karena kau telah menyukaiku. Aku janji. Aku tak akan menjauhimu karena ini.”

“Gomapta,” aku membungkukkan badanku 90 drajat, sebelum akhirnya pergi meninggalkan dirinya yang masih duduk disana.

*FLASHBACK end*

^_^

 

Seharian aku mengurung diri di kamar. Entah berapa lama aku menangis sampai akhirnya tertidur, dan terbagun dalam keadaan mata bengkak. Entah berapa kali juga ku dengar suara Umma, Appa, atau Yesung Oppa yang berteriak memanggil namaku untuk keluar dari kamar. Aku langsung tutup kuping dan kembali berkutat dengan fikiranku yang masih kacau!!

Drtt.. Drttt..

Tiba-tiba saja ponsel yang sedari tadi tergeletak lemah tak berdaya, di lantai berbunyi nyaring. Awalnya aku tak ingin menanggapinya. Tapi, lama-lama aku menyerah dan mengangkatnya setelah melihat sebuah nama yang saat ini ingin aku enyahkan dalam hatiku, terpampang disana.

“Yobosaeyo..” sapaku lirih. Tapi tak ada tanggapan dari seberang sana.

“Yobosaeyo~” ulangku, tapi tetap saja tak ada suara. Aku menyerah. Tapi, saat aku akan menutupnya, ada sebuah suara terdengar dari seberang sana. Namun bukan kepadaku, melainkan sebuah suara dari sepasang anak manusia, yang berbeda jenis, sedang bercakap-cakap.

“Apa kau masih berhubungan dengannya, Chagi?” Aku tertegun. Lalu mendengarkan pembicaraan mereka berdua dengan seksama dalam kebisuan.

Aku membencimu LEE DONGHAE!!! Sangat membencimu!!!!!!!!!!!!!!! Aku juga membencimu KANG EUNMI!!!!!!!! Rutukku dalam hati. Aku tak mungkin berteriak-teriak, karena semua orang pasti akan mendatangiku dan memaksa untuk membuka pintu kamar dengan segala cara.

Aku hanya bisa menangis. Terus menangis hingga akhirnya lelah, dan terlelap.

^_^

 

*Donghae POV*

“AKU LULUS!!!!” teriakku girang begitu melihat namaku terpampang di papan pengumuman, dan tanpa sadar aku memeluk seseorang yang ada di sebelahku. Refleks.

“Ah, mianhaeyo~ Hyunjae-aa,” kataku begitu sadar.

“Ah, anni, gwenchana Donghae-aa,” katanya sebelum akhirnya ia ditarik keluar dari kerumunan oleh Sooyoong.

“Babo! Apa yang tadi kulakukan??” aku menjitak kepalaku pelan.

Drrt… Drrtt..

Ponsel yang sedari tadi ku kantongi di saku celana bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk. Chagiya. Aku tersenyum girang, lalu mengangkatnya sambil keluar dari kerumunan, menuju tempat yang lebih sepi.

Aku langsung menstater motorku dan beranjak pergi meninggalkan sekolah, yang baru saja bubar, menuju Nadam High School, untuk menjeput yeoja yang sangat special bagiku saat ini. Kami langsung pergi ke taman bermain, begitu ia sudah duduk manis di jok belakang motorku.

Sepanjang perjalanan. Tak hentinya kami tertawa dan berbincang dengan riangnya.

“Chagi, ini untukmu~” ia menyodorkan satu cone es krim coklat ukuran jumbo kepadaku. Aku tersenyum senang, lalu mengacak kapalanya lembut. Sebuah perasaan aneh langsung menggelayut dalam dadaku. Tiba-tiba saja sosok Hyunjae berkelebat dalam fikiranku. Aneh!

“Wae gurae?” Eunmi menatapku khawatir. Aku menggeleng pelan, lalu melingkarkan tangan kananku di lehernya, lembut, sementara tangan kiriku memegangi cone es krim ukuran jumbo tadi, sambil sesekali melahapnya. Eunmi tersenyum manis.

“Apa kau masih berhubungan dengannya, Chagi?” tanya Eunmi tiba-tiba. Aku menatapnya dalam. Lalu mengangguk pelan. Kulihat Eunmi menarik nafas berat.

“Aku senang kau tidak menjauhinya selama ini.” Aku mendelik sekilas, lalu mengangguk kecil.

“Aku sudah berjanji untuk tidak akan menjauhinya,” kataku pelan. Eunmi melirikku sekilas, lalu menarik nafas berat.

“Tapi, kumohon kau jangan terlalu dekat dengannya, ya? Aku tak ingin ia terlalu berharap banyak padamu, padahal kau sudah punya aku. Arra?”

“Ne, arraseo.” Eunmi tersenyum riang, aku mengacak rambutnya pelan.

Eunmi, yeoja yang sudah kupacari sejak sebulan yang lalu ini memang sudah mengetahui bahwa ada yang menyatakan perasaannya padaku, dulu saat kami baru jadian, tapi sampai saat ini ia tidak mengetahui siapa yeoja yang ku maksud, karena aku sudah berjanji pada Hyunjae untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Dan aku pun tak akan mungkin tega membawa-bawa namanya, karena aku menyayanginya. Dan entah mengapa, setiap kali ku tatap wajahnya, aku merasa bahwa ia mirip sekali dengan Hyunjae.

Drrt…

Ku ambil ponsel yang ku kantongi di saku celana. 1 pesan. Hyunjae??

“Kebetulan sekali?” gumamku pelan.

Jangan menelpon kalau tak ada perlu.

 

“Ha??” secepat kilat langsung kukirim sms balasan padanya.

Anni,

Siapa yg menelponmu?

 

“Nugu??” Eunmi menatapku penasaran.

“Chingu.” Jawabku sekenanya karena sudah ada sms balasan darinya.

Tadi kau menelponku.

Sudahlah, tak usah dibahas.

“Mwo??” aku langsung menutup inbox, lalu membuka log telpon. Nama Hyunjae memang terpampang disana. Sepertinya tadi aku memang tidak sengaja memencet nomornya.

Mian, sepertinya tadi tak sengaja terpencet^^

 

Balasku. Tapi sampai sekarang aku sudah sampai dirumahpun ia sama sekali tidak membalasnya. Padahal biasanya, seTIDAK PENTING apapun sms dariku, pasti akan dibalas olehnya seCEPAT KILAT. Aku jadi bingung sendiri.

^_^

 

*Hyunjae POV*

Hari ini, aku terbangun dengan mata bengkak, gara-gara menangis semalaman, and penampilan yang amat berantakan. Aku sendiri terjengkang karena saking terkejutnya begitu melihat penampilanku yang HOROR ini di depan cermin. Bahkan aku sampai tak berani keluar kamar begitu Yesung Oppa dan Umma mengetuk pintu dan menyuruhku keluar, kalau saja mereka tidak mengancam untuk mendobraknya.

“OMONA!?? Ke-kenapa kamu?” pekik Umma terkejut, bahkan Yesung Oppa sampai mundur beberapa langkah saking terkejutnya *Yesung kumat lebaynya*. Aku cuma bisa meringis melihat tingkah mereka berdua.

“Dongsaeng-aa, kau sakit??” tanyanya Oppa begitu sadar dari aksi lebaynya, dan langsung menaruh punggung tangannya di dahiku, sementara Umma langsung mendorong tubuhku ke atas kasur.

“Omo~ Gak apa-apa kok. Gak panas. Wae gurae, huh??” tatapnya penuh selidik, Umma juga ikut-ikutan. Aku cuma menggeleng pelan sambil menangkis tangan Yesung Oppa yang masih betah nangkring di atas dahiku.

“Aish, heboh sekali sih kalian ini? Aku tak kenapa-kenapa tau!” dalihku, sambil memasang wajah meyakinkan.

“Lalu kau kenapa, sayang? Kemarin sepulang sekolah kau langsung mengurung diri dikamar tanpa memperhatikan kami, bahkan sampai tak ikut makan malam segala,” Umma membelai rambutku lembut.

“Anni, Umma, Oppa, aku hanya kelelahan kemarin habis berdesak-desakan melihat papan pengumuman lalu jalan-jalan dengan teman-temanku, merayakan kelulusan kami,” jelasku dengan nada yang myakinkan.

“Oh iya, bagaimana? Lulus kan??” tanya Oppa penasaran. Aku mengangguk yakin. Dan akhirnya mereka berduapun lupa dengan topik awal pembicaraan kami semula, dan terus saja membicarakan tentang kelulusanku dan masa depanku nantinya.

^_^

*Yesung POV*

Drrt.. Drrrt…

Terasa ada sesuatu yang bergetar disamping kakiku. Sebuah ponsel tergeletak tak berdaya dan nyaris saja ku injak. Kulirik Hyunjae yang menatapku penuh tanya begitu kuselamatkan ponselnya.

“Noona lampir,” kataku begitu kulihat nama yang terpampang pada layar ponselnya. Kulihat ia mendengus pelan sebelum akhirnya mengangkatnya.

Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat sebersit raut kesedihan dan rasa enggan untuk melanjutkan pembicaraan. Namun ia berhasil mengusainya.

“Mau jalan-jalan?” tawarku begitu telpon mereka terputus. Hyunjae melirikku sekilas, lalu tersenyum riang.

“Kajja!”

“Aigoo~ Mandi dulu lah,” aku mengacak rambutnya lembut lalu keluar meninggalkan kamarnya setelah sebelumnya ahjumma keluar terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan.

^_^

 

“Hwahhh… Segarnya!!” pekiknya riang sambil membentangkan kedua tangannya dan membiarkan angin membelai wajah dan rambutnya lembut, begitu kami berdua sampai di tepi sungai Han.

“Berteriaklah, jika kau ingin!” Hyunjae menatapku bingung, lalu tersenyum dan kemudian berteriak sekeras-kerasnya.

“Sudah ku duga kau ada masalah, dongsaeng-aa,” aku tersenyum kecil sambil mengacak rambutnya pelan. Hyunjae menatapku heran, lalu menunduk.

“Memang hanya kau yang selalu bisa menegrti perasaan hatiku, Oppa.”

“Karena aku adalah Oppamu, sudah sewajarnya jika aku mengerti dirimu Hyunjae-aa.”

“Saranghae Oppa!” Hyunjae menatapku penuh haru.

“Nado, dongsaeng-aa,” aku tersenyum tipis, lalu memeluknya erat.

“Barjanjilah bahwa kau akan selalu menjadi Oppa kesayanganku,” isaknya. Aku hanya mengangguk pelan.

“Pasti. Sampai kapanpun, aku akan tetap menjadi Oppamu. Dan aku akan mengahajar siapapun yang berani mengancammu!” ujarku berapi-api begitu pelukan kami terlepas, dan ia langsung menyeka air matanya.

“Gomawo Oppa~”

“Yesung-hyung!!!!” pekik sebuah suara dari kejauhan. Berat sekali. Tapi sepertinya aku tak asing lagi dengan suaranya. Aku langsung memicingkan mata. Hyunjae juga ikutan menoleh kearahnya. Kulihat ia terkejut begitu melihat siapa yang berjalan kearah kami.

“Aigoo~ Hyung,” ia langsung memelukku erat, kemudian melepaskannya.

“Aigoo~ Siwon-aa, sudah lama tak bertemu! Sombong sekali kau dongsaeng,” kataku sambil menyikut lengannya pelan, ia hanya tersenyum tipis.

“Anni, kau sendiri yang menghilang dari peredaran, hyung, tau-tau malah bertemu disini. Dengan siapa hyung??”

“Ah, ya, sampai lupa, kenalkan, dia Kim Hyunjae, dia adik sepupuku,” Siwon terkejut ketika melihat Hyunjae sedari tadi berdiri tak jauh dariku, kulihat Hyunjae juga menunjukkan raut yang sama.

“Hyunjae?”

“Ne, Siwon-ssi, ini aku Kim Hyujae,” Hyunjae tersenyum kecil, sementara siwon malah langsung memeluknya, sampai aku yang memisahkan mereka.

“Aish, tak boleh main peluk sembarangan!” sungutku tak terima, sementara mereka berdua malah tertawa melihat tingkahku.

“Kami sudah kenal Oppa, kami satu kelas saat sd dulu,” jelas Hyunjae yang disambut anggukan Siwon.

“Ne, Hyung. Dia ini, dulunya sempat suka padaku,” tambah Siwon PD sampai Hyunjae menendang tumitnya keras.

“Ya!!” sungutnya tak terima.

“PD sekali kau Choi Siwon! Sejak kapan aku menyukaimu, huh??” Hyunjae melotot garang, sementara wajahnya mulai memerah menahan malu. Sepertinya yang dikatakan Siwon tadi ada benarnya. Haha..

“Aish, sudah jangan bertengkar,” leraiku, Siwon langsung menatapku dengan pandangan terima kasih, sementara Hyunjae menggembungkan pipinya, kesal.

“Tidak baik jika mengobrol sambil berdiri seperti ini, sebaiknya kita bicara sambil makan disana saja bagaimana?” aku menunjuk ke arah sebuah cafe kecil yang ada di seberang jalan. Siwon melirik jam tanganya sekilas lalu mengangguk pelan.

Kami langsung memesan makanan begitu seorang waiters menghampiri meja kami, dan langsung memakannya begitu pesanan kami sampai. Kulihat Siwon sedari tadi melirik Hyunjae sambil tersenyum penuh arti, sementara Hyunjae yang tidak sadar terus sama menghabisi pudding caramelnya.

“Ya, Siwon-aa, sedang sibuk apa kau sekarang?” aku buka suara.

“Aku masih sibuk kuliah kok, hyung. Masih menjadi mahasiswa di tempat kuliahmu dulu,” ia tersenyum manis lalu kembali menyesap mocca lattenya, “Hanya saja sekarang sedang liburan semester, jadi aku pulang melepas rindu dengan orang tuaku.”

“Ahh, arraseo. Ah, iya. Aku masih bingung. Kalau kalian teman sd, kenapa kalian beda tingkat??” Hyunjae mendelik, sementara Siwon tersenyum kecil.

“Dia kan ikut aksel 2kali Oppa, btulkan, Siwon-ssi??” jawab Hyunjae sambil terus menghabisi pudingnya.

“Aigoo~ rupanya kau tau semuanya, Kim Hyunjae, jangan bilang kau benar-benar menyukainya dulu??” godaku, sementara Hyunjae menatapku garang. Siwon hanya tertawa puas.

“Benar, hyung. Aku memang 2kali aksel. Makanya aku bisa jadi juniormu.”

TBC

Sperti biasa,, next chapt tyang stiap hari senin / jumat..

Don’t b silent reader! Yg comment disayang author

bagi yg ga bsa comment di wp,, silakan mention ja @yoendaELF

Iklan

13 thoughts on “Lies ~part 7

  1. ah onnie,, aku salah,, aku kira yg diajak curhat ama hyunjae itu si kyu,, tapi ternyata si ikan mokpo itu sendiri,,
    nah lho,, nambah 1 namja lagi ni??? jadi bingung untuk last part,, hyunjae bakal jadi ama siapa??
    si setan tengil,, kemana perginya?? kok ngilang dari ini cerita,,,
    ditunggu selasa onnie lanjutannya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s