FATE (Lies after Story) >part : 1

 

##FF ini adalah AFstor dr FF yg sebeluamnya ::> LIES.. *ato mungkin sequel?? I don’t know :P*

Berhubung ternyata panjang,, yg niat awanya dbikin oneshot malah jadi series..

Biar nyambung bacanya,, gda salahnya,, buat yang belum baca LIES,, di baca dulu sebelum membacanya.. biar nyambung 😛

Di harapkan bagi yang udah baca untuk ninggalin jejaknya..

Bagi yang susah comment di wp, silakan mention aja di @yoendaELF

Insyalah pasti di bales.. : )

 

LEAVE UR COMMENT!

NO SILENT READERS!!

And

NO PLAGIARISM!!!

 

HAPPY READING ALL~~

Cast:      Choi Siwon

Choi Jonghun

Lee Donghae

Yesung

Kim Hyunjae

Kim Binwoo

~FATE PART: ONE~

 Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tak akan berjalan sesuai dengan kehendak dan atas dasar pemikiran setiap manusia, melainkan takdir tuhan.

Segala yang telah terjadi dan yang sedang terjadi adalah kehendak tuhan.

Tanpa ada kehendak darinya, semua yang manusia rencanakan adalah hanya berupa  dasar pemikiran manusia belaka.

~mrs.ChoiLee~

 Seorang yeoja tengah duduk menatap pantulan wajahnya di hadapan sebuah cermin besar dengan ukiran kayu jati sebagai bingkainya. Seulas senyuman mulai menghiasi wajahnya yang manis ketika mendapati dirinya kini tengah terbalut sebuah gaun putih yang amat cantik. Sebuah gaun yang selama ini amat diimpikan oleh semua yeoja diseluruh dunia untuk dipakai sekali dalam seumur hidupnya. Gaun pengantin. Senyumnya semakin mengembang ketika seorang pria setengah baya ya g selama ini ia kenali sebagai ayahnya masuk kedalam ruangan serba putih tempat dirinya kini tengah mematut diri di depan cermin tsb. Namun, seketika ruangan tsb mendadak berubah menjadi gelap, kelam, suram, dan sosok ayahnya pun menghilang dari pandangannya. Yeoja itu terlihat ketakutan, bingung lalu berlari tak tentu arah sambil terisak dan berteriak-teriak memanggil satu persatu orang yang dikenalnya. Namun tak satu orangpun menyahut panggilannya dan suasana berubah menjadi sangat kelam dan gelap. 

“AAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” pekik seorang yeoja dengan nafas yang masih sangat menderu saat ia tersadar dari tidurnya. Yeoja itu perlahan membuka kedua matanya dan mendapati dirinya kini tengah terduduk diatas sebuah ranjang lengkap dengan sebuh selimut tebal yang masih menutupi seluruh tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan. Ia kini berada di dalam ruangan bercat peach lengkap dengan segala perabotan dan cahaya matahari yang menelisik masuk kedalam melalui sela-sela jendela.

 “Mimpi buruk lagi,” gumamnya sambil memijit-mijit dahinya yang terasa pening begitu menyadari bahwa ia masih berada di dalam kamarnya sendiri.

~mrs.ChoiLee~

 Hyunjae berjalan masuk kedalam sebuah gedung perkantoran dengan langkah malas begitu mobil yang ia tumpangi telah terparkir dengan aman di basement salah satu gedung perkantoran  di daerah New York. Ia langsung memakan jatah –roti- sarapan yang belum tersentuh olehnya dan sengaja ia bawa dari apartment, begitu ia sudah duduk dengan rapih dibalik meja kerjanya yang terletak di pojok ruangan berukuran 6×5 yang berisikan 5 orang karyawan itu. Ia kembali memakan jatah roti ke-2 nya sambil mengamati kondisi ruangannya yang terlihat masih sepi, karena sepertinya baru ia seorang yang masuk kedalam ruangan, sekilas ia melirik sebuah ruangan yang ada di ujung ruangan itu, ruangan milik sang atasan. Ruangan itu terlihat masih tertutup dan terkunci dengan rapat. Sepertinya ia memang menjadi satu-satunya karyawan yang baru datang.

“Hya! Rajin sekali kau jam segini sudah datang?” sahut seorang pria dari arah belakang, membuat Hyunjae yang sedang asik mengunyah sarapannya itu terlonjak kaget dan membuatnya tersedak. Pria itu terkekeh geli lalu menyodorkan botol minuman yang ada diatas meja kerja gadis itu padanya, begitu menyadari wajah gadis yang ia kejutkan barusan sudah merah padam dan air mata mulai menggenang di kedua pelupuk matanya.

“HYA!!!” pekiknya dengan suara serak sambil menatapnya dengan pandangan murka –setelah semua makanan yang tadi mengganjal di tenggorokkannya telah berhasil ia telan dengan sempurna. Pria tampan yang sedari tadi berdiri disampingnya langsung bersiap kabur saat gadis itu akan melemparnya dengan penggaris plastic yanga ada diatas meja, namun aksi tsb langsung ter-gagal-kan begitu pintu kaca yang menjadi pintu masuk kedalam ruangan tsb terbuka dan menampakkan beberpa karyawan lain yang baru saja datang dan menyapa mereka setelah sebelumnya menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. Hyunjae langsung berpura-pura membereskan kotak makanannya sementara namja yang ada disampingnya itu langsung berdehem sebentar setelah merapihkan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapih.

“Ms. Kim, ikut keruanganku sebentar,” ucapnya dengan nada yang lebih berwibawa dari sebelumnya. Hyunjae mengangguk kecil, kemudian mengikutinya yang sudah terlebih dahulu berjalan dan masuk kedalam ruangan yang ada di pojok ruangan itu. Namja itu langsung duduk di sebuah kursi besar di balik meja kerjanya, sementara Hyunjae lebih memilih untuk duduk di sofa panjang dekat jendela yang terletak tak jauh dari meja kerja.

“Apa kau mimpi buruk lagi, huh?” tanya namja itu sambil menatap gadis yang sedang menatap keluar dengan tatapan kosong itu. Hyunjae mendelik, menatap wajah atasannya itu dengan tatapan bingung, lalu kembali menatap keluar. Memandangi deretan gedung yang menyesakkan kota New York adalah salah satu hobinya sejak ia tinggal di negara adi daya tsb.

Pria itu menghela nafas berat, lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan kemudian duduk disamping gadis tsb lalu menarik wajah gadis itu dengan kedua tangannya hingga wajah mereka kini hanya terpaut 15cm, dan membuatnya mau tak mau balas menatapnya.

“Tell me, honey. What’s the problem?” tanyanya lembut. Gadis itu menghela nafas pendek, kemudian tersenyum ringkih sambil menatap wajah atasan sekaligus orang yang sebulan belakangan ini resmi menjadi kekasihnya itu.

“Annieyo, nan gwenchana, jagiya,” namja itu mengangkat sebelah alisnya, sambil melayangkan tatapan penuh selidik. Baru saja ia akan menanyakan lagi, terdengar pintu ruangannya di ketuk.

TOOKK… TOOKK..

“Mr. Choi, Mr. White dari Omega Corp. sudah tiba dan menunggu anda di ruang meeting,” ucap seorang gadis berambut pirang berkebangsaan Amerika, yang tak lain adalah Joana, sekertaris pribadinya begitu ia dipersilakan masuk.

“Baiklah, aku akan segera kesana. Tolong siapkan semua berkasnya dan suruh James segera bersiap dan ikut dalam meeting,” ucapnya, Joana membungkuk sekilas lalu tersenyum pada Hyunjae sebelum akhirnya permisi keluar. Setelah pintu sudah kembali tertutup dengan rapat, namja itu kembali menatap Hyunjae yang kini malah terlihat asik memainkan ipad miliknya.

“Ya! Sudah sana, kasian Mr. White sudah menunggumu,” ujarnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari ipad yang kini tengah menjadi kekuasaannya itu. Namja itu mendengus sebal.

“Arraseo.. Arraseo.. Tapi kau nanti harus menungguku selesai rapat baru boleh makan siang,” ucapnya lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya.

“Dan satu lagi…” Hyunjae menoleh, menatap namja chingunya yang kini sudah bersiap keluar ruangan itu dengan pandangan malas. “KEMBALI KE MEJAMU!”

~mrs.ChoiLee~

LAGI. Semalam ia kembali mendapatkan mimpi yang sama dengan mimpi-mimpi yang sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia memimpikan hal yang berisikan memori pahit dalam hidupnya itu. Dulu, awalnya mimpi itu hanya sesekali saja ia dapatkan dalam tidurnya. Tak seperti sekarang, hampir setiap malam ia memimpikannya. Sudah berbagai cara ia lakukan agar memori pahit itu enyah dari fikirannya, tapi semakin ia ingin melupakannya justru memori itu semakin jelas terbayang dalam fikiran dan ingatannya. Dan hal ini amat mengganggu hidupnya.

Hyunjae kembali merobek kertas yang terpasang pada papan gambarnya, meremasnya, lalu membuangnya asal. Entah kenapa belaangan ini otaknya seperti kosong. Blank. Sama sekali tak ada satupun ide yang berhasil ia dapatkan untuk akhirnya ia gambar. Sudah seharian ini, sejak ia bangun dari tidurnya pagi tadi hingga akhirnya jam analog yang terpajang di atas dinding ruang tengah menunjukkan pukul 2 tengah malam ia masih saja terus berusaha menggambar dan selalu saja gagal. Lantai apartment kecilnya pun kini penuh dengan sampah kertas yang ia lempar secara asal.

Hari itu memang hari sabtu, dan kebetulan ia libur. Waktu liburnya itupun ia manfaatkan untuk mengerjakan project yang diberikan padanya beberapa minggu lalu, dan waktu deadline-nya pun sudah sangat mepet, namun ide itu belum juga muncul. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berfikir hingga akhirnya kelelahan dan tertidur diatas sofa diruang tengah. Karena terlalu memforsir dirinya untuk mengerjakan project itu, ia sampai lupa waktu dan lupa makan, bahkan iapun melupakan ponselnya yang sejak tadi sore bordering tiada henti dari dalam kamarnya.

~mrs.ChoiLee~

 “Bagaimana? Apa ada jawaban?” tanya seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah ibu Hyunjae sambil menatap suaminya yang tengah sibuk mendengarkan jawaban di ponsel  miliknya. Pria itu menggeleng lemah, kemudian kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya. Wanita itu menghela nafas.

“Bagaimana dengan Jonghun? Bukankah dia kekasihnya? Dua minggu yang lalu ia sempat menelponmu kan, saat kau ulang tahun? Apa masih kau simpan nomornya?” tanyanya dengan wajah berbinar. Tuan Kim, yang tak lain suaminya mengangguk sambil tersenyum lebar pada istrinya ketika mendapatkan nomor Jonghun masih ia simpan di dalam memori ponselnya kemudian segera menghubunginya.

“Yobseoyo?” ujar sebuah suara diseberang telepon dengan suara serak, kentara sekali pria diseberang sana baru saja terbangun dari tidurnya.

“Ne, Yobseoyo. Jonghun-ah..”

~mrs.ChoiLee~

 Setelah mendapatkan telepon dari calon mertuanya, Jonghun langsung bangun dari tidurnya, mencuci muka, lalu segera pergi menuju apartment kekasihnya itu setelah sebelumnya mengambil coat –yang tergantung disebelah cermin depan kamar mandi dalam kamarnya- dan kunci mobil disamping tempat tidurnya.

Setelah memarkirkan mobilnya parkiran apartment di lantai 12, ia langsung turun dari dalam mobil dan segera melangkah masuk kedalam lantai 12 gedung apartment tempat tinggal kekasihnya itu. Setelah melewati beberapa lorong panjang, akhirnya ia sampai di depan pintu bercat putih bertuliskan A 407. Sudah beberapa kali ia menekan bel sambil sesekali menguap kecil, namun tak juga ada tanggapan, ia melirik arloji di tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia kembali menekan belnya beberapa kali, tapi berhubung tak juga ada tanggapan akhirnya ia memutuskan untuk membukanya setelah memasukkan kata sandi.

 “Jagiya??” panggilnya bagitu masuk kedalam apartment yang gelap itu, lalu menekan saklar yang ada di samping pintu dan membuat apartment itu terang seketika.

“Jagiya~~” panggilnya lagi lalu berjalan ke dalam. Ia langsung mengangkat sebelah alisnya heran ketika mendapati buntalan-buntalan kertas yang berceceran di lantai. Saat ia masuk keruang tengah, ia langsung menghela nafas lega saat melihat yeoja-nya tengah tertidur di sofa sambil memeluk papan gambarnya.

“Jagiya?” bisiknya lembut yang hanya dibalas gumaman kecil Hyunjae. Jonghun tersenyum, lalu mengambil papan dalam pelukkan kekasihnya itu dan menaruhnya keatas meja, kemudian secara perlahan menggotong tubuh mungil kekasihnya itu dengan gaya ‘bride style’ dan membawanya masuk kedalam kamar. Setelah berhasil menidurkannya diatas temapt tidur dan menyelimuti gadisnya itu dengan selimut, Jonghun tersenyum kecil lalu keluar sambil menutup pintu kamar.

“Anak itu (–.–“),” Ia berdecak kecil saat melihat sampah bertebaran dimana-mana. Tanpa fikir panjang, ia langsung membuka lemari penyimpanan yang ada di samping pintu masuk dan mengeluarkan sebuah kantong hitam ukuran besar serta vacum cleaner dari dalamnya.

~mrs.ChoiLee~

 “HOOAAMMPPHH~” Hyunjae bangun dari tidurnya sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa sakit setelah menggambar seharian penuh, bahkan semalaman. Gerakkannya langsung terhenti saat sadar bahwa dirinya kini tak lagi berada di ruang tengah, melainkan di kamarnya.

“Kok, aku bisa disini?” gumamnya, bingung. Ia melangkah keluar menuju dapur karena kerongkongannya terasa kering. Setelah puas meminum dua gelas air putih, ia segera mengeluarkan mangkuk dan menuangkan bubur instan keatasnya serta segelas air putih lalu mengaduknya sebentar kemudian memasukkannya kedalam microwave. Setelah siap ia lalu membawanya ke ruang tengah untuk memakannya sambil menonton tv. mingu pagi adalah jadwalnya untuk menonton acara kartun favoritenya.

“Omona!” serunya, kaget, saat melihat seorang  untung saja bubur dan gelas yang ada di genggamannya tak sampai lepas dari tangannya.

“Oppa~” panggilnya sambil menguncang-gungcangkan tubuh Jonghun yang tengah tertidur di atas Sofa merah miliknya setelah menaruh mangkuk serta gelas miliknya diatas meja.

“Oppa-ya, ireona,” tambahnya lagi. Jonghun bergeming. Ia mendengus kecil lalu tersenyum sambil memandangi wajah namja yang kini tengah tertidur dengan damainya dihadapannya. Ia berbalik, meraih remote tv, menyalakannya lalu duduk menyandar dibawah sofa, menonton Shinchan lewat tv cable sambil memakan sarapannya.

~mrs.ChoiLee~

“Jam berapa ini?” tanya Jonghun saat melihat kekasihnya itu terlihat sedang sibuk mengacak-acak dapur. Hyunjae mendelik, menatap namja chingunya yang kini tengah berdiri menyandar di samping kulkas, lalu tersenyum.

“Sudah bangun, huh?” ucapnya sambil terkekeh kecil saat menyadari rambut Jonghun yang agak panjangdan selalu terlihat rapih  itu kini berantakan. “Itu,” ia menunjuk kearah jam dinding yang terpajang diatas ruang tengah –yang juga terlihat dari dapur karena bentuk dapur yang terbuka. “Sudah jam 7 malam.”

“Oh,” ucapnya datar. Hyunjae menatap Jonghun dengan tatapan aneh, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Memotong bawang.

“Mandi sana, bau!”

“Arraseo.. Arraseo..” Jonghun berbalik meninggalkan Hyunjae yang kini sibuk membuat masakan untuk makan malam mereka, namun langkahnya terhenti, lalu berbalik tanpa mendekat padanya.

“Semalam ayahmu menelpon,” Hyunjae melirik Jonghun sekilas.

“Ada apa?”

“Katanya mereka kemarin menghubungimu tapi tak diangkat, jadi mereka menghubungiku takut terjadi apa-apa padamu. Coba kau hubungi mereka nanti, sepertinya ada hal yang mendesak?”

~mrs.ChoiLee~

‘Nenekmu sakit keras, ia ingin kau berada disisinya saat ini. Pulanglah, nak’

 Itulah yang kini terus bergelayut di kepala Hyunjae. Semua perkataan yang tengah di perbincangkan oleh Jonghun dan rekan bisnisnya yang lain dalam rapat yang juga ia hadiri tak ada satupun yang dapat ia cerna. Matanya menatap lurus kedepan dengan tatapn kosong.

“Baiklah, rapat hari ini cukup sekian,” ucap Jonghun di akhir meeting. Semua pegawai segera keluar meninggalkan Jonghun yang masih sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya, dan juga Hyunjae yang masih asik dengan dunianya.

“Ayo pulang,” Jonghun menepuk pelan pundak Hyunjae, namun berhasil membuatnya sedikit tersentak dan sadar dari lamunannya.

“Loh? Kemana yang lain?” tanyanya bingung sambil mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang sudah sepi. Jonghun menggeleng kecil, lalu dudu diatas meja rapat didahapn Hyunjae sambil menatapnya dalam.

“Kau melamun lagi? Apa ada masalah? Tolonglah, Jagy, kita sekarang sudah berpacaran. Masa kau masih juga tertutup padaku?” Hyunjae diam.

“Beritahukan masalahmu padaku, jebal. Aku tak ingin kau kembali seperti dulu lagi. Aku tak ingin kau kembali menjadi gadis pemurung, seperti dulu,” Hyunjae tersontak, lalu balas menatap Jonghun dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

“Mianhae,” hanya itu kalimat yang terlontar dari bibir merahnya. Jonghun menarik nafas berat, lalu bangkit dari duduknya berniat meninggalkan Hyunjae yang kini tertunduk lemas.

“Yang kubutuhkan darimu bukan ucapan maaf,” ia menghentikan langkahnya, lalu berbalik. “Yang kubutuhkan darimu adalah kepercayaan,” tambahnya lalu berbalik pergi.

Hyunjae diam. Hatinya kalut sekarang. Jujur dari dalam hatinya yang terdalam, ia ingin sekali menceritakan semuanya pada Jonghun, namun ia tak sanggup. Ia tak ingin membuat namja-nya itu cemas dan yang lebih penting lagi, ia tak ingin membuat dirinya sendiri terluka.

~mrs.ChoiLee~

 Akhirnya, setelah mengalami pergulatan batin yang cukup lama, Hyunjae memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Jonghun –setelah 3 hari mereka berdua bersikap layaknya orang yang tak saling mengenal. Hyunjae menatap pintu coklat dengan papan bertuliskan ‘director’ itu sambil menarik nafas panjang.

TOOKK.. TOKKK..

“Come in,” sahut sebuah suara dari dalam. Perlahan dibukanya pintu kayu berukuran besar itu dengan hati-hati. Jonghun menatapnya dengan tatapan datar, sekilas, lalu kembali menyibukkan dirinya untuk membaca berkas-berkas yang  baru saja diterimanya dari Joana. “Masuklah,” ucapnya datar, begitu sadar gadisnya itu masih saja berdiri di luar. Hyunjae mengangguk lalu berjalan mendekat kearahnya.

“Minhae,” ucapnya lirih. Jonghun tak bergeming.

“Jeongmal minhae,” kali ini Hyunjae mengucapkannya sambil membungkuk 90’. Jonghun terdiam, menatap gadisnya itu kemudian menghela nafas panjang.

“Jangan pernah membungkuk seperti itu dihadapanku,” ucapnya lembut seraya bangkit dari tempatnya, menghampiri Hyunjae yang masih membungkuk lalu membimbingnya agar berdiri tegak. Hyunjae mendelik, kemudian mengangguk kecil sambil menatap namja tampan yang ada dihapannya kini.

“Lalu? Ada apa kau keruanganku?”

~mrs.ChoiLee~

*Hyunjae POV*

Aku menebarkan pandanganku keseluruh sudut salah satu bandara terbaik di dunia ini dengan perasaan campur aduk, begitu berhasil menginjakkan kaki di negara yang sudah hampir 3 tahun kutinggalkan ini. Korea. Sambil mendorong sebuah trolly berisikan beberapa koper berukuran besar, aku melangkah, berjalan keluar dari dalam bandara dan segera menghentikan sebuah taksi begitu sudah berada di luar. Kuhempaskan diriku di jok belakang taksi dan kutarik lalu buang nafas dalam-dalam, begitu masuk kedalam salah satu taksi.

“Mau diantar kemana, aggassi?” tanya si supir taksi begitu ia sudah selesai memasukkan seluruh barang bawaanku kedalam bagasi dan kembali ketempat duduknya semula, bersiap di belakang kemudi, sambil melirikku dari kaca spion. Si supir taksi langsung mengangguk dan langsung mengemudikan kendaraannya begitu aku selesai membaritahukan tujuanku.

Aku menyandarkan kepalaku kejendela sebelah kiri taksi yang kutumpangi sambil menatap keluar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku pergi meninggalkan negeri beberapa tahun silam, dan aku bisa melihat betapa banyak hal yang terlewatkan olehku tentang perkembangan negeri ini.

Sebenarnya, dalam hatiku yang terdalam, aku sangat tidak yakin akan pilihanku ini. Pilihan untuk kembali ke Korea, negeriku tercinta, negeri yang penuh dengan kenangan-kenangan indah sekaligus kenangan pahit, semua kenangan yang akan membuatku selalu teringat tentangnya. Dan disaat aku mengingatnya, perasaanku kembali sakit dan kacau. Jika saja ini bukan karena eomma, bukan karena keadaannya yang kini sudah rapuh, aku sepertinya tak akan pernah siap untuk kembali kemari.

Perjalanan Incheon-Seoul yang cukup jauh ditambah akibat jetlag yang kualami selama di pesawat, membuatku sedikit pusing dan akhirnya tertidur selama diperjalanan. Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama sejak taksi meninggalkan airport, karena tahu-tahu saat aku terbangun, kulihat taksi yang kutumpangi ini baru saja keluar tol dan mulai memasuki daerah Seoul.

Aku terbangun dari tidurku, membenahi rambutku yang mulai terlihat sedikit berantakan lalu meregangkan seluruh otot-ototku yang terasa kaku karena tertidur dalam posisi yang kurang mengenakkan. Aku tertegun, saat mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang beberapa tahun lalu sempat membuat hidupku hancur berantakan, saat aku mereganggkan kepalaku kearah kanan. Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku ini. Aku hanya bisa membekap mulut dengan tangan kananku, tak percaya, sementara tangan yang satunya menepuk-nepuk dadaku yang tiba-tiba terasa sesak, saat kedua mataku ini menatap kedalam sebuah mobil sedan berwarna hijau kehitaman yang tengah berhenti disamping taksi yang kutumpangi ini karena lampu merah. Pandanganku tiba-tiba berubah menjadi buram saat kemudian terlihat seorang yeoja kini tengah menatap namja yang duduk dibalik stir itu dengan pandangan penuh cinta, kemudian beralih menyandarkan kepalanya di sebalah pundak namja tsb. Air mataku seketika tak terbendung lagi saat kemudian lampu berubah menjadi hijau dan taksi yang kutumpangi mulai melaju meninggalkan mobil itu yang kini sudah berbelok ke kanan.

“Kenapa?” lirihku sambil tetap membekap mulutku dan menangis sesenggukkan.

“Tolong bawa aku ke sungai Han, ahjussi,” ucapku tiba-tiba. Aku tak peduli jika ahjussi si supir taksi kini tengah menatapku dengan tatapan heran lewat kaca spion. Namun akhirnya ia mengangguk mengiyakan.

 “Tolong antarkan saja barang-barangku ke alamat ini,” kataku sambil menyerahkan secarik kertas berisikan alamat rumahku kepada supir taksi saatt taksi yang kutumpangi sudah sampai di sungai Han. “Dan ini uangnya,” tambahku sambil menyerahkan beberapa lembar won kepadanya sebelum akhirnya aku keluar. Supir taksi itu memandangku dengan tatapan bingung, namun akhirnya ia mengangguk setuju. Aku tersenyum lemah, lalu mulai berjalan menyusuri tepian sungai Han, begitu taksi yang kutumpangi sudah melaju pergi.

Entah apa yang sedang terfikirkan olehku saat ini, tapi satu hal yang pasti, aku belum siap bertemu dengan siapapun yang ku kenal saat ini dengan kondisiku yang seperti ini. 

Setelah lelah berjalan, aku berhenti dan duduk disebuah batu besar yang ada di taman dekat sungai. Aku tersenyum lirih saat teringat bahwa di tempat inilah pertama kali ia bertemu dengan’nya’ setelah sekian lama. Betapa bodohnya aku memilih tempat untuk menenangkan diri namun malah menjadi tempat yang membuat hatiku semakin tak tenang.

*Author POV*

 “Loh? Kok cuma barangnya aja? Orangnya mana?” tanya eomma Hyunjae saat melihat bibi Jung, pembantu di rumah mereka, menarik masuk beberapa koper berukuran besar di tangannya. 

“Entahlah, tadi supir taksi itu hanya bilang bahwa ia disuruh mengantar barang-barang ini,” ujar bibi Jung. Eomma Hyunjae menggeleng keci, ia tak habis fikir kenapa anak semata wayangnya itu malah pergi dan bukannya langsung pulang kerumah.

“Yasudah, bawa masuk ke kamarnya saja kalau begitu,” perintahnya. Bini Jung mengangguk lalu kembali menarik koper-koper ukuran besar itu, sementara eomma Hyunjae langsung berjalan ke ruang tengah, mengambil wirelessphone yang ada disana lalu mulai menghubungi seseorang.

“Yesung-ah, apa Hyunjae menghubungimu??” tanyanya ditelepon ketika Yesung, keponakannya sekaligus sepupu kesanyangan Hyunjae, menjawab teleponnya.

“Annieyo, waeyo ajumma? Bukankah besok dia baru pulang?”

“Aishh..” wanita itu mendengus kesal. “Mollayo, Yesung-ah, tadi tiba-tiba saja ada seorang taksi datang kerumah dan mengantarkan koper-kopernya kemudian langsung pergi. Katanya ia hanya disuruh mengantar kopernya. Apa ia sama sekali tak menghubungimu?”

“Annieyo. Jeongmalyeo, ajumma. Terakhir kali ia menghubungiku beberapa hari yang lalu, saat ia bilang akan kembali ke Korea. Dan saat itu juga ia tak bilang apa-apa selain ia akan resign dari kerjaannya disana.”

“Mwo?? Aishh,, kemana anak itu!!??” gumamnya, geram.

 “Mianhae ajumma, aku harus segera menutup teleponnya, ada pasien yang harus di operasi. Kalau tidak, begini saja, jika sampai 1 jam lagi ia belum sampai rumah, setelah operasi berakhir aku akan segera mencarinya.” 

“Aigoo~ Jeongmal gomawoyo, anakku. Yasudah, kerjalah dengan baik, arraseo?”

 “Arraseoyo. Annyeong.” 

“Ne, annyeong.”

BIIPP.

 “Aishh.. Kemana anak itu??” 

~mrs.ChoiLee~

 Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya Hyunjae memutuskan untuk kembali berjalanan-jalan sejenak, masih disekitar sungai Han sebelum akhirnya pulang kerumah. Sepanjang jalan ia lalui dengan pandangan kosong, sampai-sampai ia tak melihat ada seseorang yang kini tengah berlari-lari kecil kearahnya sambil tersenyum, memandangi sebuket bunga mawar merah ditangannya, tanpa melihat seseorang yang kini tengah berjalan di hadapannya.

BRAKKK..

Tabrakanpun tak terhindarkan. Hyunjae yang memang tubuhnya lebih kecil  langsung terjengkang kebelakang, pria yang menabraknya pun ikut terjatuh sementara buket bunga yang ia bawa malah terlempar dan hanyut ke sungai.

“BUNGAKU!!!!” pekik pria itu saat menyadari bunganya kini sdah hanyut terbawa aliran sungai, kemudian menatap Hyunjae yang masih terduduk di tanah sambil menepuk-nepuk bajunya, membersihkan tubuhnya yang kotor terkena tanah dengan tatapan kesal.

“YA!!!” pekiknya sambil berdiri dari posisinya. “Lihat! Ini semua karenamu! Bungaku jadi hanyut terbawa sungai!!” Hyunjae menghentikan kegiatannya, menghela nafas berat, kamudian mendongakkan kepalanya, mencoba menatap wajah namja menyebalkan yang sudah membuatnya terjatuh dan kini seenaknya saja malah memarahinya. SILAU. Itu yang pertama kali ia rasakan saat mencoba mencari tahu wajah namja tsb. ia langsung menyipitkan matanya, memperjelas pandangannya karena matahari sore kini tepat membelakangi tubuh pria itu.

 “Jagiya~” panggil seorang wanita dari kejauhan sambil berlari-lari kecil kearah mereka. Namja itu menoleh kearah si wanita, sementara Hyunjae langsung berdiri sambil kembali menepuk-nepuk pakaiannya yang masih kotor.

“Nuguya?” tanya yeoja yang kini sudah merangkul mesra lengan namja disampingnya itu sambil menunjuk Hyunjae yang masih sibuk sendiri dan terlihat seolah tak menyadari kehadiran mereka sama sekali, dengan dagunya. Namja itu menoleh, menatap gadis yang tadi ia tabrak dengan tatapan kesal. 

“Molla, hanya wanita seorang wanita aneh yang sudah menghanyutkan bungaku,” ujar namja itu ketus dan kontan membuat Hyunjae segera menoleh kearahnya.

 “YA!!!” pekiknya tak terima. DEG. Belum sempat ia memarahi namja yang menyebalkan itu, tiba-tiba saja ia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak, sekujur tubuhnya seketika kaku saat melihat dengan jelas wajah namja yang masih menatapnya dengan tatapan sebal. Seketika ia merasa wajahnya memanas, dan lidahnyapun menjadi kelu. 

“Si… Siwon?” ucapnya nyaris tak terdengar, sementara kedua orang yang dihadapannya memandangnya dengan tatapan aneh.

“Siwon? Kau kenal aku?” tanyanya bingung, sementara Hyunjae masih menatapnya dengan pandangan yang amat sangat sulit diartikan. Mulutnya terlalaku kaku untuk mengatakan kata ‘iya’. Sementara raut wajah yeoja yang masih setia mengait lengan namja itu langsung berubah, ia balik memandangi Hyunjae yang masih menatap namjanya dengan tatapan tajam.

“Sudah sore, ayo pulang eomma sejak tadi sudah melepon menyuruh kita pulang. Kajja.. Kajja,” yeoja itu langsung menarik lengan Siwon yang masih memasang tampang bingung dan membawanya pergi dari sana, meninggalkan Hyunjae yang langsung tersusuk lesu begitu mereka pergi meniggalkannya.

“Aneh sekali yeoja itu,” gumam Siwon sambil memasang sabuk pengamannya seblum akhirnya pergi meninggalkan daeran sungai Han.

“Sepertinya ia mengenaliku,” ia menatap wajah gadis yang duduk disampingnya, “tapi aku tidak mengenalnya,” tambahnya lagi yang langsung dibalas senyuman yeoja yang kini sudah menjadi istrinya itu.

 ~mrs.ChoiLee~

 “KIM HYUNJAE!!!” panggil sebuah suara ketika Hyunjae masih terduduk lesu, menangisi sesuatu yang sebenarnya sudah tak pantas ia tangisi.

“Kim Hyunjae,” panggil seseorang sambil menepuk bahunya, lembut. Hyunjae segera menghapus air mata yang masih keluar dan membasahi pipinya dengan punggung tangan, lalu mendongak, menatap wajah namja yang tengah membungkuk di hadapannya. Tanpa fikir panjang, ia langsung memeluk tubuh namja berambut cokelat yang ada di hadapannya itu dan membuatnya mau tak mau ikut duduk di atas rumput dan membalas pelukannya.

Di pelukkan namja itu, tangis Hyunjae kembali pecah, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya, hingga membuat bagian kemeja biru yang dipakainya jadi basah karena air mata.

“Hey.. Hey.. Kenapa?” tanyanya bingung sambil mengelus-elus rambutnya, lembut. Hyunjae diam, hanya suara tangisan yang keluar dari mulutnya.

>>TBC

>>seperti biasa,, part selanjutnya hari selasa minggu depan~~

Iklan

15 thoughts on “FATE (Lies after Story) >part : 1

  1. ah onnie,,, kau membuatku menangis,,, entahlah aku tak tau mengapa aku bisa menangis,, padahal menurutku tidak ada unsur kematian di part ini (biasanya aku nangis kalo ada unsur kematian onn),,, apakah karena saat aku membaca part yg menyedihkan bagi hyunjae sambil dengerin lagu coagulation ya???
    *ga nyambung*
    hehe,,,

    onn,, itu siwon hilang ingatan ya?? buktinya ga inget
    ama hyunjae,,
    let me guess,,, saat hari pernikahannya hyunjae ama siwon,, siwon kecelakaan n amnesia,,, trus mungkin karena keluarganya ga setuju ama hyunjae,, akhirnya keluarga siwon menjodohkan dengan “istrinya” yg sekarang dan mengaku kalo istrinya itu ya kekasihnya dulu,,

    ottokkhe?? apakah benar analisisku???

  2. kenapa kau tertawa onnie???
    waeyo????
    wow,,, hampir benar??? walaupun ga 100 %,,,
    hahaha,,, naega daebakkkk,,,
    chukkae for me,,,
    lho????
    hehe,,, lanjutannya kapan onn??

  3. sumpah ya author demen bgt ngasih ff yg mengejutkan. . .
    Bener2 d luar dugaan aku, aku pikir cwo yg jd atasan hyunjae tu siwon n nanti bakal da konflik pa gt ma mereka tau y alur y ngak keduga. . . .
    Tapi aku suka jadi nunggu ff/ending dr ff yg aku baca bakal gmn ending y. . .
    Jgn2 ff ini ending y bakal ngejutin aku lg nih, aku harus menyiapkan diri biar ngak ketipu lg

  4. Siwon amnesia yah?kenapa?kok bs?
    awal2 part menipu neh *okeh reader jg yg ga pratiin* kukira Mr.Choi yg di NewYork yg dmksd ntu Siwon, eh ternyata Jonghun. tadinya kupikir Hyunjae mendua *???*
    hahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s