My Everything (Still Merry Me After Story : Jonghun Story Part 2/end)

#sebelumnya mau ngasi peringatan.

FF ini bs dibilang campur”.. dstu sisi bs jadi afstor,, tp disisi lain juga bisa dibilang side story karena byk flashback di dalamnya..

Selain itu,, Jonghun disini umurnya dibikin cm beda 1 th ma Kyuhyun, dan seting ceritnya bermula saat dia berumur 28 th (tahun 2017)

Jiyoung disini aku minjem dari nama Jiyoung KARA, tp untuk karakter dan lainnya murni ngarang, pokonya yang ada disini semua karangan, ga semua bener hahaha 😛

jd jgan pada bgg ya,,

karena pasti bakal BINGUNG ma FF GAJE satu ini

klo bingung tanya ja nanti.. blh di comment dibawah,, blh jg d twit aq 🙂#

~mrs.ChoiLee~

DON’T BE SILENT READER!

LEAVE UR COMMENT

And NO PLAGIARISM!!

~mrs.ChoiLee~

*Jonghun POV*

Aku segera berlari menuju pelataran pertokoan untuk berteduh dari hujan yang tiba-tiba saja turun dengan derasnya. Aku mengadahkann kepalaku keatas dan melihat awan hitam yang kini menutupi sebagian kota Seoul dan menghujaninya dengan galonan air. Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku yang mulai kedinginan dan menempelkannya ke wajahku supaya hangat. Angin musim dingin mulai terasa menusuk kulitku dan membuat tubuhku bergetar karena kedinginan.

Kutebarkan seluruh pandanganku ke sekitar dan mendapati orang-orang yang berlarian dan mencoba mencari perlindungan di pelataran-pelataran toko.

“Aishh, dingin sekali!” ucapku dengan nada bergetar karena kedinginan.

“Sunbae!!” pekik sebuah suara yang sangat asing ditelingaku dari kejauhan. Aku memicingkan kedua mataku untuk mencari tahu darimana asal suara tsb, dan mendapati seorang yeoja yang tengah berdiri di depan pintu mini market 24 jam –tempat yang sama dimana aku berlindung saat ini- menatapku dengan tatapan terkejut.

“Chaehyun?” gadis bertubuh langsing itu tidak menjawab perkataanku dan langsung berjalan menghampiriku yang masih berlindung dipelataran mini market ini dengan tatapan cemas.

“Sunbae, neo gwenchana?? Sedang apa kau disini?? Kenapa tidak pulang?? Sepertinya kau kedinginan. Mau ku panggilkan taksi?” tanyanya berturut-turut. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Anni, nan gwenchana,” ucapku sambil tersenyum lemah. “Tidak usah, Chaehyun-ah, aku bawa motor,” kataku sambil menunjuk sebuah motor yang terparkir lemah tak berdaya dibawah guyuran hujan yang letaknya tak jauh dari posisiku sekarang dengan daguku. Ia mengangguk paham.

“Kasihan. Igeo, untuk menghangatkanmu,” ia melepaskan syal berwarna merah yang sedari tadi dikenakannya dan memasangnya di leherku. Mataku membulat.

“Ya, tidak usah. Nanti bagaimana denganmu?” ia menggeleng lalu tersenyum.

“Tak apa, aku bawa payung,” ia menunjukkan payung berwarna tranparan yang sedari tadi ia genggam padaku sambil tersenyum.

“Tak, usah. Sungguh,” tolakku halus. Namun ia tetap saja menggeleng.

“Tak apa, pakai saja. Lagi pula, aku pulang bersama Appa, aku duluan ya, sunbae. Gureom,” ia menunduk sekilas lalu berlari kecil dibawah payungnya menuju sebuah mobil sedan yang berhenti tak jauh di hadapanku kemudian masuk kedalamnya, meninggalkanku yang masih mematung sambil menatap syal yang masih terpasang di leherku ini.

“Dasar gadis itu,” gumamku sambil tersenyum.

~mrs.ChoiLee~

“Chaehyun!” panggiku saat menemukan gadis itu baru akan masuk kedalam kelasnya. Ia menoleh lalu tersenyum kecil.

“Igeo, gomawo atas pinjamannya waktu itu,” aku menyerahkan bungkusan berisi syal miliknya –yang sudah kucuci bersih-  yang ia pinjami beberapa hari lalu. Ia mengangkat sebelah alisnya bingung, lalu tersenyum sambil mengangguk.

“Ah, ne. Untung saja kau mengembalikannya, sunbae. Karena syal ini sangat berharga untukku,” ujarnya senang.

“Sekali terima kasih.”

“Anni, oh, ya, aku masuk dulu masih ada tugas yang belum selesai ku kerjakan. Gureom,” pamitnya sambil membungkuk sekilas lalu masuk kedalam kelasnya setelah aku mengangguk mengiyakan.

~mrs.ChoiLee~

 Aku membuka lokerku dan kembali mendapatkan kejutan di dalamnya. Sebuah kotak berukuran sedang dengan hiasan pita berwarna merah diatasnya. Ku ulurkan tanganku untuk mengambil bingkisan tsb dan kemudian membukanya. Sebuah syal rajutan berwarna merah ketemukan dari dalamya lengkap dengan sebuah memo berwarna senada. Aku mengambil memo itu dan kemudian membacanya.

Untuk menghangatkanmu dikala kau kedinginan

Terima kasih atas bantuanmu

-ur secret admirer-

Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, mencoba mencari tahu siapakah sosok yang mengrimiku kejutan selama beberapa kali belakangan ini. Lorong siang ini amat sepi, wajar saja karena bel pulang sudah berkumandang sejak kurang lebih setengah jam yang lalu.

“Chaehyun??” mataku membelalak saat melihat sosok Chaehyun yang baru saja menghilang dibalik tembok. Dengan segera aku mengejarnya, tapi sosoknya keburu hilang entah kemana.

“Apa dia adalah ‘secret admirer’ku selama ini?” gumamku sambil menatap syal berwarna yang ada di genggamanku.

~mrs.ChoiLee~

Sesampainya dirumah aku terus merenung memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan jika Chaehyun adalah benara ‘secret admirer’ku. Analsisku ini dimulai dari saat aku melihat sosoknya sesaat setelah aku menemukan kue tart di dalam lokerku, lalu keesokannya aku menemukan pembelian struk kue tart di depan lokernya, kemudian saat aku bertemu di depan gudang, ia juga langsung mengenaliku sebagai sunbaenya. Lalu, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya di depan mini market saat kehujanan dan ia meminjamkanku syal miliknya. Dan yang terakhir, saat aku menemukan bingkisan berisi syal dengan warna dan motif yang sama dengan miliknya dari dalam lokerku, aku juga melihat sosoknya menghilang tak jauh dari tempatku berada. Dan hal ini membuatku yakin 100% bahwa Chaehyun-lah ‘secret admirer’ku.

~mrs.ChoiLee~

Sejak analisis yang kulakukan tempo hari, aku merasakan mulai ada getar-getar yang mulai terasa berbeda saat tiap kali aku melihatnya. Meski aku dan dia tidak dekat, dan kami jarang sekali berbicara satu sama lain, aku selalu saja memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya.

“Kau menyukainya?” Gikwang menyenggol lengan kananku dengan siku kirinya pelan saat aku tengah memperhatikan gerombolan anak kelas 1 yang tengah berolah raga di lapangan, lewat jendela kelas. Aku menoleh sekilas kemudian mengedikkan bahu.

“Ya! Ya! Sudah akui saja. Jujur aku senang jika kau mulai terbuka dengan gadis lain, dan tak terus mengekang dirimu dengan cinta monyetmu dulu.”

Aku menoleh sekilas lalu menunduk sambil menghela nafas berat.

Cinta monyet, ya?? Sepertinya benar  apa yang dikatakan Gikwang. Aku memang harus mulai membuka diriku lagi dan melupakan KangJi, gadis kecil yang menjadi cinta pertamaku saat aku dan keluargaku masih tinggal di Busan.

“Lupakan saja dia, dia takkan mengingat janjinya. Dia masih kecil saat itu, pasti dia juga sudah lupa, lagi pula di Jepang kan banyak pria tampan,” celetuk Gikwang.

“Huhhh..” aku menghela nafas berat. Sepertinya memang benar. Dulu Kangji, gadis kecil tetanggaku sekaligus orang yang kusukai saat aku masih tk, memang pernah berjanji untuk kembali ke Korea dan menemuiku saat ia dan keluarganya akan pindah ke Jepang.

“Jongshin! Tunggu Kangji ya!! Nanti kita bersama lagi!”

Perkataan terakhir yang ia katakan padaku masih teringat jelas dalam otakku. Tapi.. Sepertinya itu memang hanya ucapan anak kecil yang sampai kapanpun mungkin tak akan pernah terwujudkan terlebih selama ini aku sama sekali tak pernah mendapatkan kabar darinya, dan pasti ia juga sudah melupakan janji itu, atau bahkan telah melupakanku? Entahlah.

“Eh, tapi kalau tidak salah, bukankah Chaehyun juga murid pindahan dari Jepang??” Gikwang menepuk kedua tangannya lalu menatapku dengan tatapan penuh keyakinan.

“Tak salah lagi! Pasti gadis itu adalah Chaehyun! Chaehyun adalah Kangji!”

“He???” Tapi, benar juga apa yang dikatakan Gikwang. Semua bukti kini mengarah padanya. Chaehyun adalah Kangji-ku.

 ~mrs.ChoiLee~

 Seoul, 2010

Sejak aku bergabung menjadi TRAINEE dalam FnC, kesibukanku semakin bertambah dan aku jarang masuk ke sekolah sehingga aku jadi sedikit banyak ketinggalan informasi dan perkembangan yang ada di sekolah hingga akhirnya aku lulus dari SMA pun, aku bahkan tak pernah bertemu lagi dengan Chaehyun ataupun Jiyoung, gadis bertubuh subur yang pernah dibuli karena aku. Hingga akhirnya setelah beberapa tahun kemudian saat FT Island berada di puncak karir kami, aku ditunjuk untuk mengikuti sebuah program reality show produksi MBC yang sedang digandrungi saat itu. We Got Married. Dan betapa terkejutnya aku saat aku diberikan nama gadis yang akan menjadi istri virtualku nantinya. Seo Chaehyun. Tanpa banyak komentar lagi, aku langsung menyetujuinya.

“Cepatlah keruang ganti, syuting akan segera dimulai setengah jam lagi,” kata menejer hyung sambil lalu mengambil alih tas slempang yang sedari tadi kukenakan begitu aku sampai di lokasi.

“Ne, hyung. Ah, ya. Dimana dia??” tanyaku celingukkan mencari-cari sosok Kangji-ku itu sambil berusaha menutupi senyumanku.

“Nugu?? Ah, ISTRIMU yang kau maksud??” aku tersenyum simpul.

“Ia ada di van-nya, sedang membaca naskah sepertinya.”

Aku mengangguk paham, “Baiklah, aku ganti dulu.”

Begitu sampai di dalam ruang ganti, aku tak bisa melepaskan senyum kebahagiaanku. Kangji! Tenang saja aku tak akan pernah melepaskanmu lagi kali ini. Tidak akan!

~mrs.ChoiLee~

 Sejak pertemuan kami kembali di WGM, aku dan Chaehyun semakin lama semakin dekat. Namun, sepertinya ada sesuatu yang aneh disini. IA TIDAK MENGINGATKU! Apa-apaan ini?? Bukankah selama ini ia adalah secret admirerku?? Apa semuanya sudah berubah??

~mrs.ChoiLee~

Lama waktu berselang, akhirnya satu kenyataan pahit ku ketahui secara pasti. Chaehyun dan Kyuhyun hyung BERPACARAN! Dan belakangan ini hubungan mereka memasang sedang dalam masa-masa krisis, dan hal ini harus ku manfaatkan dengan sebaik-baiknya!

Aku terus melancarkan aksi PDKT ku padanya. Segala hal kulakukan demi bisa menghiburnya dan membuat ia bahagia dan kalau bisa… aku ingin ia melupakan KYUHYUN hyung. Terdengar jahat memang, tapi mau bagaimana lagi? Aku tak mau kembali kehilangan Kangji, cinta pertamaku. Dan akau bersumpah untuk menjadikan cinta pertamaku ini sebagai cinta terakhirku!

~mrs.ChoiLee~

 Seoul, 2013

Aku kalah. Tadi pagi aku mendengar kabar dari Hyerin bahwa semalam Kyuhyun hyung melamar Chaehyun sebagai istrinya. Hatiku terasa sangat sakit saat mendengarnya. Seharian aku hanya bisa mengurung diriku di dalam kamar tanpa ada sedikitpun keinginan untuk bertemu dengan siapapun. Untung saja kebetulan hari itu semua orang dirumah sedang keluar, jadi tak ada satupun orang dari mereka yang tahu akan kekacauan hatiku ini.

~mrs.ChoiLee~

 Hatiku semakin kacau balau luluh berantakan saat Hyerin mengejakku untuk menemaninya menonton SM TOWN CONCERT di LA. Bukan masalah concertnya yang membuatku galau, melainkan peristiwa setelah concert itu. Yakni, pernikahan antara BinSung- HyunHae- dan ChaeKyu. Sebenarnya aku turut bahagia akan pernikahan ini. Hanya saja, hatiku masih belum ikhlas saat mengetahui bahwa cinta pertamaku tak akan pernah mungkin menjadi cinta terakhirku.

*FLASHBACK END*

 “Dia??” mulutku terngaga dan mataku terbelalak tak percaya saat melihat dan membaca sebuah nama dari seorang yeoja yang dari identitas kelasnya, berasal dari kelas 2-2.

Nama     : Kang Jiyoung

Ttl           : Busan, 4 November 1990

Kelas       : 1-3/2-2

‘Nama dari gadis bertubuh subur itu Kang Jiyoung?? Apakah dia adalah Jiyoung yang sama dengan Jiyoung yang belakangan ini dekat denganku??’

Dengan segera akau menghubungi Jaejin untuk memastikan data diri Jiyoung dengan data diri Jiyoung yang ada di buku ini.

“Dia lahir di Busan, hyung. Dan kalau tidak salah, Jiyoung noona saat umur 4 tahun pindah ke Jepang karena ahjussie dimutasi kesana, tapi saat berumur 13 tahun ia kembali ke Korea untuk melanjutkan sekolah. Tapi, saat ia berumur 16 tahun ia pindah untuk melanjutkan sekolah dan kuliahnya di Australia.”

“Mwo?? Dia sempat tinggal di Busan??” pekikku tak percaya.

“Ne, tapi cuma sebentar, lalu ia pindah ke Jepang.”

Seketika penganganku pada ponselku mulai melemah dan akhirnya ponsel itu terlepas dan terjatuh tak berdaya ke atas lantai kamarku. Aku menutup mulutku dan membekapnya dengan kedua tanganku tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.

“Oppa~” panggil seseorang dari arah luar. Aku terkesiap lalu segera meraih coat yang tergantung di balik pintu dan mengambil kunci mobil yang kuletakkan di meja kecil dekat pintu kemudian berlari keluar mendahului Hyerin yang baru saja akan masuk kedalam kamarku.

“YA! OPPA!! MAU KEMANA!!????”

~mrs.ChoiLee~

 Aku melajukan Audi hitam kesayanganku dengan kecepatan maksimal menuju bandara. Sesampainya disana aku segera memesan tiket dan berangkat ke Busan saat itu juga. Begitu sampai di Busan, aku langsung berlari masuk ke dalam sebuh taksi dan menyuruhnya segera menuju alamat yang kusebutkan.

“Gomawo ahjussi,” ucapku seraya memberikan beberapa lembar won pada sipur taksi yang telah mengantarku sampai ke tempat tujuan.

Aku menatap sebuah bangunan kecil yang berdiri kokoh dihadapanku saat ini dengan tatapan yang sulit diartikan. Rumah ini tak terlalu besar, namun karena penataannya yang bagus membuatnya sangat menarik untuk ditempati. Aku sangat merindukan tempat ini.

“Nugusaeyo?” tanya sebuah suara. Aku menoleh lalu membungkuk sopan saat melihat seorang wanita tua yang kuingat sebagai bibi pemilik rumah sebelah, tengah memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.

“Sepertinya aku mengenalmu. Siapa namamu, nak??” tanyanya lagi.

“Jo neun, Choi Jonghun imnida,” jawbku sambil menunduk sopan. Kulihat kedua alis bibi itu saling bertautan, lalu kemudian ia langsung menepuk tangannya dan tersenyum sumringah.

“Ah! Jongshin!?? Kau Jonghun tampan anak dari Pak polisi itu kan??” ujarnya, aku tersenyum kecil.

“Aigoo~ Kau sudah besar sekarang! Bagaimana keadaan orang tuamu?? Minho? Hyerin?? Aigoo~ Sombong sekali kalian sudah tak pernah kemari lagi! Padahal KangJi saja sudah beberapa kali main kemari.”

“Ne?? Kangji??” ulangku. Bibi itu mengangguk mengiyakan.

“Ne, gadis kecil, teman bermainmu yang dulu pindah ke Jepang. Aigoo~ Dia sangat cantik sekarang, padahal beberapa tahun yang lalu, saat kau dan orang tuamu sudah pindah ke Seoul, ia datang kemari dan tubuhnya sangat gemuk! Tapi sekarang ia begitu langsing dan tinggi!” ceritanya panjang lebar yang langsung membuat kedua mataku terbelalak.

“Kangji?? Dia- Dia kemari???”

“Ne! Ah, ya. Saat kalian pindah, banyak sekali surat yang datang kemari. Namun karena aku tak tahu alamat kalian yang baru jadi aku menyimpannya kalau-kalau kalin kemari. Ayo kerumahku!” ujarnya sembari menarik sebelah lenganku agar mengikuti masuk kedalam rumahnya yang tepat berada disamping rumahku dulu.

“Duduklah, tunggu aku sebentar,” aku mengangguk lalu duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruang tamu sambil sesekali memperhatikan foto-foto yang terpajang menghiasi dinding yang bercat putih.

DRRTTT… DRRTTT…

 Ponsel dalam saku coatku bergetar keras. Aku langsung meraihnya dari dalam saku dan segera mengangkatnya saat melihat nama Minho terpampang disana.

“Hyung! Neo oddieya???”

“Busan,” jawabku siangkat.

“Mwo??? Sedang apa kau disana??? Cepat pulang!! Kita-“

“Ya! Tenang saja, aku bukan anak kecil. Ini semua menyangkut masa depanku Minho-ya. Tolong biarkan aku.”

BIPP. Aku langsung memasukkan kembali ponselku kedalam saku tepat pada saat yang sama, bibi itu datang dengan  setumpuk surat ditangannya.

“Igeo. Ini adalah surat-surat yang dialamatkan kerumah lamamu,” aku menganguk dan segera mengambil alih semua surat yang ia serahkan padaku dan kemudian memeriksanya satupersatu.

Dari 30an surat yang ada, sekitar 6 surat ditujukan padaku, dengan segera aku membuka dan membacanya satu persatu.

Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa surat-surat itu adalah surat dari Kangji. Ternyata selama ini ia selalu mengingatku dan tak sekalipun melupakan janjinya padaku untuk terus mengirimiku surat.

Kobe, 7 Maret 2000 

To: Jongshin

 Annyeonghassaeyo!!

Jongshin! Ini Kangji. Temanmu saat di busan. Ingat tidak??

 Hey, maaf ya kalo aku baru mengirimimu surat. Aku selama ini tak berani mengirim surat karena aku baru bisa menulis. Hehehe

Eh, di Jepang ada Gundam loh! Itu robot kesukaanmu, kemarin aku berfoto dengan gundam saat main ke Tokyo.

Wha gundam benar-benar KEREN ya! Haha..

 Dan sebagai kado ulang tahunmu, aku memberikan foto langkaku ini padamu.

Aku tersenyum saat membaca surat yang pertama. Dan senyumku semakin melebar saat melihat ada sebuah foto terselip di dalamnya. Foto seorang gadis kecil berumur 10tahunan yang sedang memasang cengiran lebarnya sambil memegang tangan seseorang yang memakai kostum gundam.

Setelah puas melihatnya, aku kembali memasukkan surat dan fotonya kedalam amplop dan beralih ke surat berikutnya.

Kobe, 7 Maret 2002

 To: Jongshin

 

Hey!! Kenapa kau tak mebalas suratku, huh??

2 tahun aku sudah menunggu balasanmu T^T

Kau marah ya??

MIANHAE~~~~~~~~~

 

Ah, sebagai permintaan maaf dariku, dan sebagai kado ulang tahunmu..

Aku memberikan foto yang kuambil saat aku dan Appa berlibur ke Hokkaido.

Kau tahu? Saat aku dan Goenil Oppa bermain salju, kami berdua membuat kue tart dari salju untukmu. Semoga kau suka~~ Hoho 😛

Aku kembali tersenyum saat melihat sebuah foto berisikan wajah sepasang anak kecil berumur 12 dan 15 tahunan tengah asik berfoto dengan sebuah kue tart salju di tangan mereka. Dan aku segera mengambil surat lainnya.

Incheon, 7 Maret 2003

To: Jongshin

 

Hya!!! Kau tahu, awalnya aku mau memberi kejutan padamu dan memberitahumu bahwa mulai hari ini aku akan kembali tinggal di Korea. Tapi yang ada aku malah terkejut karena ternyata kau sudah pindah T^T

Jongshin PAYAH!!!!

Kau kan sudah janji untuk menungguku..

Neo nappeun namja! Jeongmal!!

 

Aku tertawa lebar saat melihat sebuah foto yang terselip di dalam surat tsb. sebuah foto yang menampakkan wajah seorang gadis tengah menggembungkan pipinya karena kesal.

“Mianhae,” hanya itu yang dapat aku katakana sekarang, sambil menatap wajahnya yang konyol itu.

Tapi.. Chankanman. Ini.. sepertinya aku mengenal wajahnya.. Ia betul! Aku sangat mengenalnya! Dengan kasar kau langsung membuka surat ke empat.

Seoul, 7 maret 2005

To: Jongshin

 

Hey! Kau tahu? Aku hari ini mulai masuk ke SMA.

Yay! Mulai sekarang aku sudah tidak jadi anak kecil lagi.

Dan Geonil Oppa juga sudah mengijinkanku untuk berpacaran.. Appa dan eomma juga

Hoho

Apa kau mau jadi pacarku?? Wkwkwk 😛

 

Tapi..

Kau tahu? Karena terlalu lama tinggal di Jepang, tubuhku semakin lama semakin membesar T^T

Aku jadi tidak PD untuk bertemu anak-anak lainnya. Huhu

 

Ada lagi.. Saat aku mendaftar ke SMA ini, aku seperti melihat dirimu Jongshin-ah!

Namanya Choi Jonghun, danwajahnya juga mirip dengan wajahmu. Apa itu kau ya??

Jika iya, berarti sekarang ini kau sangat… sangat… sangat tampan! Haha

Dan ingat janjimu dulu! Kau harus menjadi SUAMIKU saat kita dewasa nanti! 😛

Aku merogoh-rogoh seluruh isi amplop, mencari foto yang mungkin diselipkan olehnya. Tapi nihil. Tak ada satupun foto yang terselip di dalamnya. Tak membuang waktu, aku langsung membuka amplop yang kelima.

Seoul, 4 November 2006

To: Jongshin

 

Jongshin, annyeong.

Mian jika kali ini suratnya tidak ku kirim bertepatan dengan hari ulang tahunmu seperti tahun-tahun sebelumnya.

 Kau tahu? Ternyata dugaanku tepat. Orang yang ku kira adalah kau, ternyata memang benar kau, Jongshinku.

Kau tahu, menurutku kau sangat TAMPAN!

Dan akupun tak heran saat banyak sekali yeoja yang menyukai dan mengagumimu.

 Awalnya aku hanya berani memperhatikanmu dari kejauhan, namun sejak saat aku tanpa sengaja menabrakmu di lorong sekolah waktu itu, tanpa kusadari intensitas pertemuan kita semakin sering. Dan aku menyukai itu : )

 Saat ulang tahunmu, aku secara diam-diam menaruh kue tart di dalam lokermu.

Awalnya aku bingung saat melihat isi lokermu yang penuh, namun pada akhirnya, aku memutuskan untuk membereskan isi lokermu berlebih dahulu, lalu kemudian meletakkan kue tart itu diatas tas ransel hitam kesayanganmu. Untung saja saat itu sekolah sudah sepi, jadi aku dapat dengan aman meletakkannya disana tanpa ketahuan! Hoho : P

 Oh, ya, apa kau ingat saat aku diganggu oleh segerombolan senior wanita yang mengaku sebgai fansmu? Saat itu dengan gagah beraninya Chaehyun, teman sebangkuku datang dan membelaku di hadapan mereka, tapi ternyata ia masih belum cukup kuat melewan mereka bertiga,. Untung saja saat itu kau datang tepat pada waktunya dan menolong kami dari gangguan para bedebah itu. Ckck

Dan sejak saat itu, aku semakin mengagumimu. Jongshin.

 Sebenarnya, pada saat itu juga aku ingin mengaku padamu bahwa akulah Kangji, teman masa kecilmu. Tapi ku urungkan dan memutuskan untuk mengakuinya pada saat yang tepat, nanti.

 Hatimu sangat baik, Jongshin-ah.

Kenapa? Karena kau tidak malu saat kau berdekatan denganku. Dan itulah yang kusukai darimu. Kau tidak malu untuk berdekatan dengan gadis GENDUT  sepertiku.

 Chaehyun pernah cerita padaku bahwa ia meminjamkan syal yang pernah buat dan kuberikan padanya sebagai tanda pertemanan kami, padamu saat kau terjebak hujan. Dan saat itu, aku langsung berniat membuat dan memberikan syal serupa padamu untuk kado ulang tahunmu tahun depan.

 Tapi, ternyata takdir berkata lain.

Appa mengatakan bahwa kami sekeluarga harus mengikutinya pindah ke Australia. Maka dari itu aku segera menyelesaikan rajutanku dan membungkusnya lalu memasukkannya kedalam lokermu.

 Tadinya, aku berniat akan memberikan syal tsb secara langsung padamu sekaligus berpamitan dan mengakui jati diriku di depanmu. Tapi, aku tak sengaja mendengar percakapan antara dirimu dan Gikwang sunbaenim yang beranggapan bahwa Chaehyun adalah Kangji.

Sejak itu, hatiku terasa sakit, dan aku memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada kalian.

Dan saat itu aku bertekat, bahwa aku harus kembali lagi ke Korea setelah memperbaiki penampilanku dan membuatmu jatuh hati padaku.

 Jadi. Tunggulah aku. Aku akan kembali dan berubah menjadi seorang puteri cantik yang akan merebut kembali pangerannya.

Aku terdiam. Tak kukira selama ini perasaannya terhadapku sama sekali tak berubah dan ia bahkan lebih banyak mengalami sakit hati yang aku timbulkan. Dengan tangan bergetar, aku langsung membuka amplop terakhir.

Seoul, 24 Januari 2017

To :  Jongshin

 

Hy, Jongshin-ah. Annyeong. Sudah lama sekali bukan kita tak berjumpa?

Maaf jika aku selama ini tak pernah mengabarimu.

Hari ini aku kembali dari Australia dan kembali menetap di Korea.

 

Kau tahu? Aku kembali dengan penampilan baruku.

Tak ada lagi Kangji yang tomboy, ataupun Jiyoung yang GENDUT. Yang ada saat ini adalah seorang wanita bernama Kang Jiyoung.

Semoga kau mengenaliku Jonghun-ah saat kita bertemu, dan semoga kau masih tertarik padaku.

Karena jika tidak, aku akan menyerah. Ini adalah usaha terakhirku Jonghun-ah. Dan mungkin ini juga surat terakhir yang aku kirimkan padamu.

Jika kau tetap tak menganggapku ada, aku akan pergi.

Jujur saja aku sudah lelah menunggu seperti ini.

 

Kuharap kau tak menyia-nyiakan kesempatan terakhirmu ini.

 

-Kang Jiyoung-

 

Tanganku terkepal saat membaca isi dari surat yang terakhir. Betapa bodohnya aku telah menyia-nyiakan dirinya! Dan aku tak mau kesempatan ini berlalu begitu saja. Aku harus memperjuangkannya, karena aku yakin ia adalah cinta sejatiku.

“Ahjumma, terima kasih atas segalanya, aku permisi dulu,” ucapku sambil membungkuk lalu berlari keluar sambil membawa semua surat yang tadi ia berikan. Aku terus saja berlari tak mempedulikan suaranya yang terus-menerus memanggil-manggil namaku, menuju jalan raya dan segera masuk kedalam taksi.

“Bandara!” ucapku begitu masuk kedalam taksi.

DRTTT.. DRRRTTT..

 

Ponselku kembali bergetar. Panggilan masuk. Minho.

Dengan malas aku mengangkatnya.

“Ya! Hyung! Dimana kau?? Kau lupa hari ini kita harus ke Jepang?? Aku, Hyerin dan yang lainnya sudah sampai di Narita sejak 1 jam yang lalu! Cepat kemari! Appa marah besar saat tahu kau tak ikut bersama kami!!”

“MWO??” mendengar nama Jepang disebut, aku jadi teringat bahwa hari ini memang seharusnya kami sekeluarga berangkat kesana untuk menghadiri hari ulang tahun Haraboeji yang tinggal disana.

“Arraseo! Aku segera kesana!” Bipp. aku memasukkan kembali ponsel kedalam saku coatku. Namun, saat merogoh sakunya, aku malah mendapatkan sebuah buku kecil di dalamnya. Passport milikku. Ahh, untung saja pasporku sempat lupa kusimpan kembali kedalam lemari saat FT Island tour ke Taiwan minggu kemarin, dan masih tersimpan rapih di dalam saku coat yang kupakai ini, jadi sesampainya di bandara nanti aku langsung berangkat ke Jepang.

~mrs.ChoiLee~

 Sesampainya di Jepang. Aku mendapatkan kabar dari Jaejin bahwa ia juga sedang ada di Jepang bersama dengan Saera, yeoja chingunya, dan juga ketiga member lainnya untuk menghadiri pesta pertunangan Jiyoung. Tiba-tiba hatiku menjadi kalut, terlebih lagi saat Minho juga member tahu kalau keluargaku juga tengah mengahdiri pesta yang sama.

“Tuan, bisa tolong percepat laju mobilnya??” pintaku pada supir taksi dalam baha Jepang, sambil sesekali melihat kearah jalanan kota Tokyo yang sedang macet.

“Maaf tuan. Ini sudah maksimal,” jawabnya.

“Apa, Hotel Words masih jauh dari sini??”

“Tidah, hotel itu dekat dari sini, sekitar 1 blok lagi setelah pertigaan di depan sana.”

Mendengar hal itu, aku langsung berlari keluar taksi setelah sebelumnya membayar dengan beberapa lembar yen. Aku berlari dan terus berlari dengan sekuat tenaga menyusuri jalanan kota Tokyo, hingga akhirnya tiba di depan hotel megah bernama ‘WORDS’.

“Hoshhh… Hossshhh…” aku memegangi perutku yang mulai keram karena beralari sambil berjalan masuk menuju restaurant hotel yang berada di lantai 2.

Sesampainya aku di depan sebuah restaurant di dalam hotel yang tertutup karena sudah di reservasi. Aku langsung berlari masuk dan mendobrak kedua daun pintunya sehingga membuat semua orang yang ada di dalamnya menatap kearahku dengan tatapan bertanya-tanya, namun tak sekalipun aku mempedulikan pandangan mereka.  Mataku terus menyapu sekeliling ruangan dan mendapati seorang yeoja yang amat ku kenal tengah duduk masih disalah satu meja lengkap dengan dandanannya yang amat membuatnya terlihat elegan bersama dengan seorang namja jangkung yang berpakaian sangat rapih. Sepertinya namja itu adalah calon tunangannya. Tanpa basa-basi aku langsung berlari dan menarik tangannya.

“Jonghun Oppa??”

“Ne! Ini aku! Jonghun. Choi Jonghun. JONGSHINMU!” teriakku dihadapannya dan membuat seluruh ruangan seketika menjadi hening. Jiyoung terlonjak kaget.

“Se-sedang apa k-kau disini??” tanyanya bingung.

“HYA! KANGJI! TEGA SEKALI KAU MEMBIARKANKU MERANA SEPERTI INI!? KAU TAHU? PERTUNANGAN INI TIDAK BOLEH TERJADI!” teriakku lantang. Kedua mata Jiyoung memebelalak, ruangan yang semula hening mendadak riuh karena ledakkan tawa yang terjadi dimana-mana. Aku menatap menoleh sekeliling dengan memasang tampang bingung, sementara Jiyoung yang berdiri dihadapanku juga ikut-ikitan tertawa seperti yang lainnya.

“HAHAHAHAHA.. Yang bertunangan bukan aku, Oppa! Tapi Geonil Oppa dan Reiko, yeoja chingunya! Hahahaha,” Jiyoung tertawa keras. SHIT!! Kenapa jadi seperti ini?? Malu…. ><

“Hyung!” sebuah tangan menepuk pundakku pelan. Jaejin terkekeh geli saat aku menatapnya dengan tampang frustasi.

“Mianhae, Oppa! Hahaha :P” Saera memasang tanda peace di kedua tangannya. Aishhh Jinja!!

“Hahaha… Ku kira kau tak akan datang Jonghun-ah!” seru pria berpakaian super rapih yang tadi duduk disamping Jiyoung sambil menepuk pundakku pelan.

“Dasar hyung! Ku kira kau yang paling pintar di dalam keluarga kita, ternyata malah paling babo! hahaha”,” ledek Minho sambil tertawa puas. Aishhhh!!!

“Sudah-sudah, kasihan Jonghun,” Leeteuk hyung menengah, aku langsung menatapnya dengan tatapan penuh terima kasih.

“Aigoo~ sepertinya rencana Appa untuk mencarikanmu calon istri sudah tidak dibutuhkan lagi,” goda Appa yang entah darimana datangnya. Aku menggaruk belakangn kepalaku yang sebenarnya tak gatal pelan.

“Geonil Oppa! Sepertinya pernikahanmu harus ditunda,” celetuk Hyerin tiba-tiba dan membuat semua mata memandang kearahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung.

“Apa maksudmu, Hyerin-ah?” Geonil memasang raut bingung.

“Ia, di tunda dan dipindahkan tempatnya agar kalian berempat menikah bersama-sama. Hahaha.”

~mrs.ChoiLee~

 “Kangji-ah,” panggilku pada gadis yang tengah berdiri disampingku sambil menatap jauh kearah sungai, lembut. Ia menggumam kecil lalu menoleh kearahku. Aku tersenyum lalu beralih menatap arloji yang melekat di tangan kiriku dan mulai menghitung mundur.

“5…” Jiyoung menegrutkan keningnya bingung.

“4…”

“3..”

“2…”

“1…”

Hening. Tak ada sesuatu apapun yang terjadi. Jiyoung menatapku dengan tatapan bingung. Sementara aku malah berlutut dihadapannya sambil memegang lembut kedua tangannya dan menatap matanya yang cokelat, dalam.

“O-oppa..”

“Ssst..”

“Kau tahu? Sekarang hari sudah berganti, dan aku ingin sebuah kado special di hari ulang tahunku tahun ini,” aku menatapnya dalam. Secara perlahan kutarik lembut punggung tangannya dan mengecupnya perlahan.

“Would u marry me?”

Jiyoung menatap dalam mataku seolah mencari pembenaran akan perkataanku barusan.

“Maaf jika selama ini aku terkesan menyia-nyiakanmu. Tapi satu hal yang pasti, aku tak pernah melupakan janji kita, dan aku ingin cinta pertamakulah yang menjadi cinta terakhirku kelak. And now.. I want to marry u,” aku mendongak, menatap matanya penuh dengan tatapan cinta yang tulus, “Cause, ur my everything for me.”

Jiyoung masih menatapku dengan tatapan tak percaya, namun tatapan itu berubah menjadi tatapan kebahagiaan. Sebah senyuman seketika mengembang di bibir tipisnya, dan secara perlahan ia mengangguk pasti.

“I do, Oppa. I do!” pekiknya lantang. Aku langsung bangkit dari posisiku dan segera memeluk tubuh mungilnya erat.

Kisah bahagiaku ini pastinya tak hanya sampai disini, karena sampai kapanpun juga aku akan terus meraih lebih banyak kebahagiaan lagi dan menjauhkan segala ketidak pastian dan kesediahan dalam hidupku. Aku berjanji seumur hidupku akan kerus membahagiakanmu Kangji, karena.. Ur my everything for me.

-THE END-

 

##epilog##

 Chaehyun berjalan pelan lalu berhenti di depan loker Jiyoung saat melihat teman sebangkunya itu barusan memasukkan sesuatu kedalam loker seorang sunbae yang tak begitu dikenalnya.

 “Dasar babo! (­_ _”)” gumamnya pelan saat melihat sebuah struk berisi faktur pembelian kue tart masih terselip dibawah kotak kue. Dengan hati-hati ia mengambil struk tsb dan menutup lokernya lalu pergi menyusuri lorong untuk pulang.

Selang beberapa saat, Jonghun datang dan melihat kue tart yang ada di dalam lokernya. Ia celingukkan kiri-kanan untuk mencari tahu siapa pelakunya. Tiba-tiba saja ekor matanya menangkap sosok Chaehyun yang baru saja berbelok menuju tangga.

 

##

 

Chaehyun membuka lokernya untuk mengambil seragam olah raganya, dan tanpa sengaja struk pembelian kue tart yang kemarin ia ambil dari loker Jonghun, jatuh dari dalam rompi seragamnya. Chaehyun yang menyadarinya, langsung memungutnya dan menyelipkannya ke loker Jiyoung yang letaknya tepat disamping lokernya, lalu berjalan pergi menuju toilet untuk berganti baju. Tak lama ia pergi, Jiyoung yang baru saja kembali dari ruang guru berlari-lari menuju lokernya dan langsung membukanya kasar lalu mengambil seragam olah raganya kemudian pergi menuju toilet, tanpa sekalipun menyadari struk yang Chaehyun selipkan tadi jatuh dan terbawa angin hingga tepat berhenti di depan loker Chaehyun.

“Apa ini??” gumam jonghun saat tanpa sengaja mengijak dan  kemudian mengambil sebuah kertas kecil di lorong saat menuju ruang music.

“Grons bakery.. Kue tart!??” matanya membelalak saat membaca kertas berupa struk pembelian kue tart saat ia melintas di lorong atau lebih tepatnya di depan sebuah loker.

“Seo Chaehyun??” gumamnya saat membaca nama yang tertera di depan loker yang ia pikir adalah pemilik dari struk pembelian itui. “Dia kah secret admirerku itu??”

 

 -Tomat-

 

>>gimana?? GAJE??

Hahaha

Aq jg ngerasa ini FF SANGAT GAJE dan GATOT

Mian semuanya,, karena juju raja gatau kenapa pas bikin part Jonghun ini mendadak gak mood, gak berselera dan bingung apa yang mau ditulis..

Mungkin karena factor ketidak relaan turut serta di dalamnya. -,-“

Asal tau aja ini FF pembuatannya mpe 3x ganti judul, 4kali ganti ide, dan berkali-kali ganti alur n ide cerita.

Untung aja tiba-tiba ada ide nyangkut ditambah sedikit mood buat nyelesein ini FF *pdahal kejar target mau UTS*

Dan untuk Saera, mian partmu dikit sangat disini alis Cuma jadi Cameo, ami ma pina juga

Sorry ya,, format aslinya ga gini tadinya,, tapi apa daya.. ide guw buntu ama format cerita yang sebelumnya..

Huhu TT^TT

 

Seperti biasa… buat yang comment disayang author,, klo ga comment disayang pulsa (?)

GA LAH! WAJIB COMMENT YA!! Capek” ni bikinnya 😛

1hal yg pastii.. jgan minta lanjutannya.. hahaha 😛

Buat yang ga bsa comment lwat WP silakan di mention aja -> @yoendaELF pasti dibales hoho

 

Iklan

13 thoughts on “My Everything (Still Merry Me After Story : Jonghun Story Part 2/end)

  1. kyaaaaaa…..
    jiyoung bgtu m.cntai jonghun..mpe ngirim surat mulu..hmm..kta2 d.surat yg terakhir bkin skakmat..huhu
    n ternyata yg bertunangan bukan jiyoung..haha
    n chukkaaaaaae..met mnikah jiyoung ah..jonghun oppa

  2. Huaaaa, terharu deh bacanya 😀
    akhirnya jonghun oppa dpt cwek jga hehe. kangJi betah bgt yak nunggu laaaamaaaaa buanget, tp gpp sih tipe org setia ^^
    yeay, happy ending 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s