SUPA DUPA DIVA – Part 5

Disclaimer: Suzy, Hyomin, Eunjung, Jiyeon, & IU disini Cuma numpang minjem tampang mereka degan mengganti nama karakter sesuai kebutuhan author v(^0^)v, selain itu semua karakter sesuai dengan nama dan rupa aslinya. Semua ide cerita murni milik author, biar ceritanya abal tapi mikirnya tujuh hari tujuh malam jadi jangan main copas tanpa ijin.

Buat yang bingung ma ceritanya,, silakan baca predebut storynya di LIBRARY dulu biar ga bingung.. dan maap kalo bnyak TYPO.. AUthor males ngedit! 

WAJIB COMMENT!!! Bagi yang ga bisa comment di WP silakan mention aq ja di @yoendaELF jangan takut ga dibales, krn aq trmasuk orang yang KERAJINAN… ahahaha

PLEASE LEAVE SOME COMMENT AFTER READ THIS FANFICTION!!

LEAVE UR COMMENT!!!

NO BASHING!

NO SILENT READER!!

And PLAGIRSM,, JUST GO TO THE HELL!!!

CAST::

Suzy Miss A  as Kim Hyunjae

Eunjung T-ara  as Kim Chaeyoung

Hyomin T-ara as Seo Chaehyun

Jiyeon T-ara as Kim Binwoo

IU as Choi Hyerin

SUPER JUNIOR, FT ISLAND, BIGBANG, BEAST, MBLAQ,  SNSD, AFTER SCHOOL, B1A4 etc..

*buat yg tanya Daesung ma Seungri jd apa dsini.. Daesung: Manajer Miina, Seungri Manajer Hyunjae* 

LIBRARY; Part 1; Part 2; Part 3; Part 4

HAPPY READING ALL~~~

SUPA DUPA DIVA.. part:5

“NOONA! Pertunanganmu dengan Cheondoong hyung akan dilangsungkan minggu ini, jadi segera kosongkan jadwalmu untuk hari sabtu-minggu ya. Arraseo!?” ucap Minhwan di telepon, membuat Hyerin yang tengah menyetir Lexus hitam miliknya segera menginjak rem mendadak hingga membuat beberapa mobil dibelakangnya segera menekan klakson bertubi-tubi.

“MWO!!??” pekik Hyerin, kaget.

TINN… TINNN…

Hyerin menolehkan kepalanya kearah spion dan segera menepikan mobilnya itu saat melihat antrian panjang yang ada dibelakang sedan mewahnya.

“YA! JANGAN BERCANDA!!” lanjutnya saat mobilnya sudah menepi dengan sempurna di depan sebuah Coffe shop yang ada di pinggiran jalan Cheongdamdong.

“Aishh! Siapa yang bercanda!? Aku ini disuruh eomma untuk menelponmu tau… Lagi pula aku bingung kenapa harus selalu aku sih yang dijadikan informan? Huhftt..” Minhwan mendengus sebal. Hyerin terdiam. Dia bingung, kenapa di usianya yang baru akan menginjak 20 tahun dan disaat kariernya tengah cemerlang ia malah harus bertunangan dengan orang yang bahkan wajahnya ia tak ingat sama sekali.

“Arraseo,” ucap Hyerin pada akhirnya lalu menekan tombol merah pada layar ponsel touch screen miliknya. Ia menghempaskan tubuhnya pada sandaran jok mobil lalu menghela nafas berat.

~mrs.ChoiLee~

“Hey!” seru Ahra seraya meneuk punggung belakang Binwoo agak keras, saat melihat calon teman satu grupnya itu tengah duduk melamun di tepi tangga depan ruang latihan.

“AUCH!!” Binwoo menatap Ahra yang kini duduk disampingnya dengan tatapan bengis.

“Ya! Bisa sopan tidak!?” pekiknya lalu pergi meninggalkan Ahra yang memandangnya dengan tatapan bingung.

“Kenapa anak itu? (O,o?)” Ahra menggaruk belakang kepalanya bingung. Sementara itu, Binwoo berjalan menuju kantin dengan wajah ditekuk. Entah kenapa ia merasa sangat jengkel jika makhluk yang menurutnya aneh bin ajaib itu berada di dekatnya, terlebih saat ini dia sedang kesal karena teringat tingkah Baro yang kembali mengganggunya saat di sekolah tadi pagi.

“Omo.. Kenapa kau?” tanya Hyerin saat Binwoo mengetuk-ngetukkan garpunya ke atas ddokpoki miliknya penuh emosi. Binwoo mendongak lalu memanyunkan bibirnya. Hyerin yang penasaran segera menarik bangku dihadapannya lalu duduk menghadap Binwoo.

“Ada apa sih?”

Binwoo melirik Hyerin sekali lagi lalu menghela nafas berat. Sejujurnya ia tidak mau menceritakan pada siapapun, termasuk Chaeyoung, tapi berhubung Hyerin adalah salah satu seniornya yang paling ia hormati dan menurutnya –mungkin- merupakan satu-satunya orang yang tak akan memarahinya jika menceritakan hal ini, maka ia pun menceritakan semuanya padanya, termasuk kekesalannya pada Baro maupun rasa sebalnya pada Ahra.

“Oh, jadi kau tidak menyukai gadis Cina itu?” Hyerin mengangkat sebelah alisnya sambil sesekali mengaduk jus jeruk yang ada di hadapannya. Binwoo diam, lalu mengangguk mengiyakan.

“Tapi, asal eonni tau saja, dia bahkan sebenarnya bukan orang Cina. Dia asli Korea, sudah begitu tampangnya itu eonni.. Aneh! Sifatnya juga Babo! Dan ku dengar dari Daesung Oppa, dia akan dijadikan main vocalist bersama Chaehyun eonni,” ucap Binwoo berapi-api. Mendengar nama sahabatnya disebut, Hyerin langsung memeblalakkan kedua matanya. Dan entah mengapa sejak mendengar semua penuturan Binwoo mengenai Ahra, mendadak ia jadi merasa tak suka pada sosoknya. Sosok Kwon Ahra.

~mrs.ChoiLee~

“Chaeyoung-ah.. Jangan lupa tugas akhir dikumpulkan besok, ya?” ucap seorang gadis, mengingatkan Chaeyoung yang tengah memasukkan buku kuliahnya kedalam tas, sambil tersenyum. Chaeyoung menoleh pada gadis itu lalu mengangguk mengiyakan.

Perlahan Chaeyoung keluar dari dalam kelasnya dengan setumpuk buku ditangannya. Buku itu adalah buku-buku yang selama ini ia pinjam untuk dijadikan referensi tugas akhir semesternya dan akan ia kembalikan hari ini ke perpustakaan kampusnya. Jumlah buku itu tak terlalu banyak, hanya 3 buah, namun dengan ketebalan sekitar 9cm di masing-masing bukunya, hingga mampu membuat langkah Chaeyoung sedikit terhuyung karenanya ketika dirinya tengah menuruni anak tangga.

“Jika tidak kuat kenapa tidak meminta bantuan dariku, huh?” ucap seseorang sembari mengambil alih semua buku yang ada di tangan Chaeyoung. Chaeyoung tersentak, saat melihat ada sebuah tangan yang tiba-tiba saja mengambil semua buku tsb. Namun ia langsung tersenyum lega saat melihat orang yang berhasil membuatnya nyaris terkena serangan jantung karena kaget itu adalah sahabatnya, sekaligus seniornya di departemen Seni Universitas Kyunghee.

 

“Aishh.. Yeoseob Oppa! Kenapa selalu mengagetkanku, huh!?” ujarnya sambil terkikik geli saat Yoseob menggembungkan kedua pipinya dihadapan Chaeyoung, membuat beberapa orang yang ada disekitarnya berbisik-bisik membicarakan mereka. Yoseob mengempiskan wajahnya lalu segera menarik Chaeyoung untuk segera menjauh dari sana.

“Ya, sebenarnya mau kau kemanakan buku setebal ini, huh?”

“Aihh.. Mau aku kembalikan ke perpustakaan lah Oppa, masa mau aku pakai buat menyambit kepalamu? Hahaha,” canda Chaeyoung. Yoseob merengut sebal.

“Ih. Memangnya kau sudah membaca semuanya? Palingan juga buku-buku ini hanya kau jadikan alas tidur, Hahaha,” ledek Yoseob yang hanya dibalas tatapan malas Chaeyoung.

“Enak saja, jangan remehkan aku ya!” Yoseob membuka pintu kaca perpustakaan dengan sebelah tangannya lalu masuk setelah Chaehyun masuk terlebih dahulu. Chaeyoung segera berjalan menuju penjaga perpustakaan diikuti Yoseob yang berjalan dibelakangnya. “Biar kata kami sibuk dan nyaris tidak ada waktu bahkan untuk diriku sendiri, aku tetap bisa membaca habis semuanya,” Chaehyun menunjuk buku-buku yang kini sudah ia ambil alih dari tangan Yoseob lalu meletakkannya keatas meja penjaga.

“Ini kartunya,” ujar Chaeyoung pada petugas perpustakaan seraya memberikan kartu anggotanya. Petugas bernama Minzy itu pun mengambilnya dengan senang hati lalu mulai mengetikkan sesuatu dilayar komputernya. Chaeyoung membalikkan tubuhnya, menyandar didepan meja petugas yang tingginya hampir menyamai dada, menatap Yoseob yang masih setiap menemaninya.

“Memangnya kau, Oppa? Meski jadwal sedang luang juga kau mana pernah sempat membacanya.. Jangankan dibaca, disentuhpun sepertinya tidak,” ledek Chaeyoung, mehrong.

“Mwo!? Sembarangan saja kau. Apa kau mau aku jadikan pergedel, huh?” Yoseob melipat kedua tangannya didepan dada sambil menggembungkan wajah. Bukannya takut, Chaeyoung malah geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak angkatannya itu.

“Ini kartunya, terima kasih,” Chaeyoung berbalik, mengambil kembali kartu anggota perpustakaannya, memasukkannya kedalam dompet lalu pergi keluar setelah mengucapkan terima kasih. Dan lagi-lagi Yoseob masih setia mengekorinya.

“Oppa. Apa kau tidak ada jadwal kuliah? Apa tidak ada jadwal? Kenapa sepertinya aku merasa kau seperti orang yang sedang kurang kerjaan, ya?” celetuk Chaeyoung saat mereka kini tengah berjalan kearah parkiran.

“Anni. Jadwal kuliahku sudah beres, lagi pula hari ini Beast sedang tidak ada jadwal. Jadi ya, seperti yang kau katakan tadi.. Aku pengangguran. Hahaha,” Chaeyoung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Aneh, pikirnya.

“Lalu kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau mau masuk dan ikut pulang dengan van kami juga?” Yoseob diam. Lalu mengangguk.

“Aku mau numpang sampai dorm ya.. Chaeyoung yang manis? Oke? Oke? Tadi aku kemari naik taksi, mau minta jemput tidak enak karena van sedang dipakai untuk kegiatan member yang lain.. Otte? Otte??”

~mrs.ChoiLee~

“Argh..” erang Hyunjae saat seseorang tanpa sengaja menabrak sebelah bahunya hingga membuat buku-buku kuliah yang dibawanya berjatuhan. Baru saja ia akan menunduk untuk mengambil buku-bukunya yang jatuh, namja yang tak sengaja menabraknya itu sudah mengambilnya duluan.

“Josonghamnida,” ucapnya singkat seraya menyodorkan buku-buku yang baru saja diambilnya pada gadis dihadapannya.

“Ne, kamsaham-nida..” balasnya sedikit tergagap saat melihat wajah namja yang kini sudah ngeloyor pergi meninggalkannya.

“Tampan..” gumamnya, terpesona.

Selama beberapa saat Hyunjae masih mematung ditempat hingga akhirnya sosok namja itu menghilang di balik lorong, ia tersadar lalu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan ia segera menitipkan barang-barang bawaannya di meja penitipan lalu menuju rak yang menyediakan buku-buku favoritnya kemudian memilih untuk duduk dimeja yang ada di paling pojok ruangan. Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang rajin ke perpustakaan, tapi berhubung jeda waktu kuliahnya selanjutnya masih 2 jam lagi ia memilih untuk berdiam diri disana.

“Oh.. Itu Kim Hyunjae, kan? Apa dia kuliah disini juga? Jurusan apa dia?” bisik seorang gadis pada dua orang temannya saat melihat sosok Hyunjae sedang duduk menyandar dipojok ruang perpustakaan sambil membaca sebuah buku yang tidak mereka tahu jenisnya.

“Ssstt.. jangan keras-keras.. Nanti ia bisa mendengarnya,” bisik gadis lainnya seraya mengecilkan suaranya.

“Ah, iya..iya.. Lalu dijurusan apa dia? Kenapa aku baru melihatnya, ya?” ujar gadis pertama.

“Aishh.. Kau ini kemana saja, huh? Dia itu junior kita, BABO! Dia juga jurusan hukum sama seperti kita!” jawab gadis lain sambil melemparkan tatapan geram padanya.

“Mwo? Wha.. Apa dia bisa sehebat itu, bisa masuk kemari? Jangan-jangan ia menggunakan segala cara agar bisa lolos seleksi. Kudengar keluarganya kan yang menjadi pemilik yayasan kampus ini?”

“Ah, mollayo. Mungkin saja seperti itu. Tapi, aku bingung, apa dia benar-benar keluarga Cho? Bukankah dari marga saja ia bermarga Kim, bukan Cho? Lalu ia juga sama sekali tak memiliki kemiripan dengan uri Oppa, Cho Kyuhyun yang manis~” ujar gadis berambut panjang sambil sesekali membandingkan wajah Hyunjae dengan foto Kyuhyun yang ia gunakan sebagai wallpaper ponselnya. Kedua temannya mengangguk mengiyakan.

“Ne. Sama sekali TIDAK MIRIP! Jangan-jangan ia oplas?? Lihat saja matanya besar! Aku yakin 100% Ia pasti mengoperasi bagian matanya!”

“Ah.. Tapi bisa jadi memang wajahnya seperti itu, ia tidak mirip dengan Kyuhyun karena dia ANAK ANGKAT! Atau jangan-jangan ia adalah anak dari ibunya dengan suami yang lain! Bisa saja kan?”

“Iya betul. Maka dari itu wajah serta marga mereka tidak sama. Ahh, aku paham sekarang.”

Disudut lain, Hyunjae yang tengah membaca novel favoritnya rupanya sejak awal mendengarkan pembicaraan mereka. Mendengar percakapan mereka membuat hati Hyunjae terasa remuk. Ia jadi memikirkan semua hal yang mereka bicarakan. Kenapa ia hanya tinggal dengan eommanya, tidak dengan kedua orang tua yang utuh? Kenapa wajahnya dengan Kyuhyun tidak mirip? Kenapa ia bermarga Kim bukan Cho?

Memikirkannya membuat dirinya semakin sakit. Meski ia tahu alasan mengapa  dirinya tidak tinggal dalam keluarga yang utuh adalah karena ibunya bercerai dengan ayahnya sejak dirinya masih berupa janin berusia 1bulan dan bahkan kedua orang tuanyapun tak tahu bahwa ibunya tengah mengandung saat mereka bercerai. Ia tahu bahwa marga Kim diambil dari marga ibunya, bukan ayahnya. Dan ia juga tahu bahwa dirinya lebih mirip ke ibunya, sementara Kyuhyun lebih mirip ke ayahnya. Namun entah mengapa meski ia mengetahui semua fakta yang ada, ia tetap saja merasa sakit hati jika mendengarnya dari mulut orang lain. Dan yang paling menyakitkan adalah saat mereka menuduh dirinya menggunakan cara kotor demi masuk ke Inha, karena pada kenyataannya ia bahkan harus merelakan waktu libur musim panas dan dinginnya demi mengikuti bimbel yang disiapkan oleh neneknya dan lolos seleksi masuk dengan hasil kerja kerasnya sendiri TANPA BANTUAN KELUARGANYA.

“Hey!” kejut seseorang dari arah samping, namun dirinya tak terkejut sama sekali dan hanya melayangkan senyuman samarnya saat melihat Hyerin berjongkok disampingnya sambil memegangi sebuah amplop merah muda yang ia yakini adalah sebuah undangan.

“Hey,” balasnya datar. Hyerin menautkan kedua alisnya, bingung karena tak biasanya sahabat barunya itu terlihat tidak bersemangat.

“Kenapa kau? Ada masalah?” Hyunjae mendelik lalu menggeleng sambil tersenyum.

“Anni, nan gwenchana. Ada apa kemari?”

“Ah!” Hyerin menepuk jidatnya pelan. Ia mnyodorkan sebuah amplop yang ada ditangannya pada Hyunjae.

“Ini, kuharap kau datang, ya? Kau juga boleh mengajak Kyuhyun Oppa, tapi yang lain jangan. Oke?” Hyunjae menatapnya bingung. Perlahan dibukanya amplop merah muda itu, dikeluarkannya secara perlahan secarik kertas bertulisan invitation dari dalamnya dan mulai membaca seluruh tulisan yang tertulis disana. Kedua kening Hyunjae berkerut, lalu ia memandang wajah Hyerin dengan tatapan kaget saat mengetahui bahwa undangan itu adalah undangan pertunangannya yang akan diselenggarakan beberapa hari mendatang.

“Ssttt..” Hyerin segera menutup mulut sahabatnya itu dengan sebelah tangan saat merasa bahwa Hyunjae akan segera memekik histeris karena membaca isi dari undangan tsb.

“Ini rahasia.. Jangan sampai ada yang tahu.. Karena aku jua sebanarnya tak menginginkan hal ini ><,” bisiknya sepelan mungkin. Hyunjae membelalakkan kedua matanya tak percaya, lalu membentuk tanda V dengan jarinya sambil mengangguk mengiyakan. Hyerin menghela nafas lega.

“Kumohon kau datang ya, supaya aku tidak mati bosan..” pintanya dengan nada memohon. Hyunjae mendengus lalu tersenyum mengiyakan. Hyerin tersenyum senang lalu memeluknya erat. Ia merasa sangat senang karena akhirnya ia dapat membujuk sahabatnya yang terkenal paling malas pergi malam itu akhirnya mau datang kepestanya nanti. Dan kini ia hanya bisa berharap kalau Cheondoong, tunangannya nanti sesuai dengan harapannya. Tampan dan rupawan.

~mrs.ChoiLee~

“Kita mampir ke super market dulu ya, tadi Ahra bilang dia sedang belanja bulanan bersama Chaehyun dan mereka minta untuk dijemput. Kau tidak keberatan kan Yeosob-gun?” Daesung melirik Yooseob dan Chaehyun bergantian dari spion dalam. Yoseob mengangguk mengiyakan. Daesung tersenyum samar lalu membelokkan mobilnya kearah super market 24 jam yang terletak sekitar 4 blok sebelum dorm Beast.

Tak perlu lama mereka menunggu, begitu mobil sampai di pelataran super market sudah terlihat dua orang gadis lengkap dengan topi serta masker sebagai alat penyamaran mereka sudah berdiri mengunggu jemputan dengan dua kantong pelastik ukuran besar ditangan masing-masing. Daesung menghentikan van berwarna putih itu d depan keduanya kemudian menyuruh Chaeyoung dan Yoseob pindah ke jok paling belakang saat Chaehyun membuka pintu tengah. Saat ia yakin bahwa tak ada yang tertinggal, ia pun segera menjalankan van-nya meninggalkan super market.

“Omo.. Eonni, kau ada disini?” ucap Chaehyun kaget saat melihat Chaeyoung sudah duduk manis dibelakang bangku yang ia tempati. Chaeyoung mengangguk lalu tersenyum kecil.

“Eh.. Dia siapa eonni?” tanya Ahra saat melihat seorang pria yang amat asing baginya kini duduk disamping sang leader.

“Ah, kau member baru ya? Kau pasti member baru ya? Annyeonghassaeyo, jo neun Yang Yoseob imnida, sahabat Chaeyoung~” Yoseob memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lebar, membuat Ahra terpana padanya. Jantungnya mendadak berdetak keras. Degg.. Degg.. Degg..

‘Challada..(tampan)’ gumamnya tanpa sekalipun memalingkan matanya dari wajah Yoseob. Ia sangattt.. sangattt terpesona dibuatnya.

~mrs.ChoiLee~

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang saat Hyunjae masih berbaring diatas tempat tidurnya memandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Padahal jam 8 tadi seharusnya ia sudah berada di kampus untuk mengikuti kelas Pengantar Ilmu Hukum yang di bimbing mr. Cheon, dosen yang terkenal killer seantero fakuktas Hukum Universitas Inha, namun gara-gara ia tak bisa tidur semalaman hingga membuatnya baru tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan terbangun 5 menit yang lalu, membuatnya mau tak mau merelakan satu absennya terbuang percuma.

“Aggassi.. Bangun sudah siang..” ucap seseorang dari arah pintu sambil sesekali mengetuknya, membuat Hyunjae berhasil tersentak dari lamunannya.

“Ne..” sahutnya malas, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebenarnya hari ini ia ingin sekali seharian mengurung diri di dalam kamar dan baru keluar saat makan malam tiba jika saja jam3 sore nanti ia tak harus sudah beada di Seoul untuk menyiapkan comebacknya. Dan gara-gara hal ini membuatnya mau tak mau terpaksa mandi dan segera merapihkan segala keperluannya yang akan ia bawa kembali ke dorm di Seoul.

“Mana Halmeoni dan Appa?” tanya Hyunjae dengan nada pelan pada seorang pelayan yang tengah menyiapkan piring dan makanan untuk makan siangnya di atas meja makan.

“Nyonya tadi pagi pergi ke Jepang untuk melakukan terapi mingguannya, sementara tuan masih berada di kantor, Aggassi,” jawabnya sopan. Hyunjae mengangguk paham lalu mulai memakan jatah makan siangnya.

*Hyunjae POV*

Aku memakan jatah makan siangku dalam diam. Tak ada percakapan, dan tak ada yang menemani. Aku benar-benar merasa kesepian. Ku kunyah kembali nasi serta ayam panggang kesukaanku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Pandanganku seketika terhenti pada sebuah bingkai foto ukuran besar yang terpajang rapih di tembok besar yang menjadi center dari rumah ini. Sebuah foto keluarga, dimana sosok Halmeoni, Appa dan Kyuhyun Oppa terpajang didalamnya.

Perlahan tanpa sadar aku mulai beranjak dari meja makan dan berdiri tepat didepan pigura raksasa itu. Aku hanya bisa tersenyum lirih karena mendapati kenyataan bahwa sosok Eomma dan diriku tak turut serta terpajang disana. Entah mengapa sejak  setahun yang lalu aku tinggal dirumah ini, aku baru melihat dan menyadarinya. Tanpa terasa air mataku perlahan mulai menetes hingga akhirnya membasahi wajahku. Sebelah tanganku terkepal kuat, sementara dadaku mendadak terasa sesak. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa hatiku kini terasa sakit.. Sakit yang amat teramat dalam hingga mungkin dapat membuatku mati dalam seketika. Entah.. Aku belum pernah merasakan rasa sakit yang seperti ini.

‘Apa aku dan eomma memang tak pernah dianggap dalam keluarga ini?’ lirihku sambil terisak. Aku terus memandangi foto berukuran raksasa itu dengan senyuman lirih.

“Sepertinya aku memang tak pernah di anggap.. Bahkan margaku saja Kim, bukan Cho..” ucapku lirih. Dan tepat saat itu tiba-tiba saja aku merasa seseorang menarikku dalam pelukkannya.

“Uljima.. Kami semua menyayangimu..” bisik sebuah suara yang amat ku kenal tepat ditelingaku, lembut, membuatku semakin terisak dan mengeratkan pelukkanku padanya.

*Author POV*

Siang itu, entah mengapa Cho Hyunjae, ayah Kyuhyun dan Hyunjae merasa ingin sekali menikmati makan siangnya dirumah, bersama dengan anak perempuan semata wayangnya, berhubung mulai hari ini anaknya itu akan kembali tinggal di dorm. Sesampainya ia dirumah, ia segera masuk kedalam untuk makan bersama anaknya itu, namun langkahnya segera terhenti saat melihat sosok anak gadisnya tengah berdiri memunggunginya, menatap lekat sebuah figura foto berukuran raksasa yang terletak tepat di pusat rumah.

“Sepertinya aku memang tak pernah di anggap.. Bahkan margaku saja Kim, bukan Cho,” ucapan lirih itu bahkan dapat didengar jelas oleh Cho Hyunjae. Mendengar anak gadisnya berkata seperti itu, membuat dadanya terasa sesak. Tak mau melihat anaknya semakin menangis ia segera berlari dan menariknya dalam pelukkan hangatnya.

“Uljima.. Kami semua menyayangimu..” bisiknya tepat di telinga anaknya. Saat dirasa anaknya sudah sedikit tenang, ia melepaskan pelukkannya dan manatap wajah anaknya itu lembut.

“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu Hyunjae-ya?” tanyanya lembut, Hyunjae menatapnya lirih, lalu menunduk. Tuan Cho mendesah pelan lalu menuntun tubuh anaknya itu untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.

“Jika kami tidak menyayangimu, bagaimana mungkin kami menerimamu dirumah ini? Dan asal kau tahu saja, sudah sejak lama.. Tanpa sepengetahuanmu dan ibumu.. Appa sudah mendaftarkan namamu di dalam akta keluarga ini,” lanjutnya. Hyunjae mendongak, menatapnya dengan pandangan tak percaya. Tuan Cho tersenyum lal berjalan meninggalkannya, kemudian kembali sambil membawa sebuah amplop cokelat dalam genggamannya.

“Lihat ini,” tuan Cho membuka isi amplop tersebut dan mengeluarkan sebuah map hitam dengan lambang lembaga pencatatan sipil diatasnya.

“Bukalah..” Hyunjae menatap wajahnya ragu, lalu perlahan membuka map tersebut setelah ayahnya meyakinkan dirinya untuk kesekian kalinya. Mata Hyunjae terbelalak tak percaya saat melihat sebuah nama yang tertera dalam akte keluarga tersebut. Sebuah nama asing yang sama sekali belum pernah ia dengar dari mulut nenek, ayah, maupun kakaknya. Cho Yoon Da.

“Cho Yoon Da? Nugu?” tanyanya tak mengerti. Tuan Cho tersenyum, kemudian mengambil alih map tersebut dan menunjukkan sebuah surat yang bentuknya seperti akte kelahiran pada dirinya

AKTA KELAHIRAN

Nama      : Cho Yoon Da (초윤다)

Tempat   : Mokpo

Tanggal   : 31 Agustus

Lahir        : 1992

Ayah        : Cho Hyunjae (초현재)

Ibu           : Kim Taeyeon (김태연)

Hyunjae tertegun. Di kertas itu terpajang sebuah nama asing, namun selain itu semua yang ada disana adalah data-data mengenai dirinya, kecuali tahun lahir yang seharusnya 1991, tapi malah ditulis 1992. Ia mendongakkan wajahnya lalu menatap wajah ayahnya dengan tatapan bingung.

“Itu namamu. Nama yang ayah berikan untukmu begitu ayah mendengar bahwa ibumu melahirkan dirimu tanpa sepengetahuan kami,” ucap Cho Hyunjae dengan nada bergetar.

“Tahun lahirnya lebih muda dari umurmu yang asli, karena Appa baru mengetahui kelahiranmu satu tahun setelahnya. Dan saat mengetahui itu, ayah sangat shock, sedih, namun sekaligus bahagia saat ayah mendengar bahwa ibumu menamaimu dengan nama yang sama dengan namaku,” Cho Hyunjae manatap dalam kedua mata anaknya yang mulai berair. “Maka, tanpa sepengetahuan ibumu, ayah mendaftarkan akta kelahiranmu dan mencantumkan namamu dalam daftar keluarga kami..”

Hyunjae tersentak. Air matanya kembali mengalir keluar. Cho Hyunjae meraih map yang ada di tangan anaknya, menaruhnya keatas meja, lalu memeluknya erat, membuat Hyunjae kembali menangis. Ia menagis histeris dalam pelukkannya hingga membuat jas mewah miliknya basah oleh air mata.

“Maka dari itu, jangan salahkan Appa jika Appa selalu memanggilmu dengan panggilan ‘yoon’ bukan Hyun, apalagi Hyunjae. Karena bagiku, kau adalah Cho yoonda, bukan Kim Hyunjae.”

“Mianhae Appa.. Jeongmal mianhae.. Aku tidak tahu..” isaknya. Cho Hyunjae menepuk-nepuk pundak anaknya pelan, membuat Hyunjae merasa nyaman dan perlahan menghentikan tangisannya.

“Gwenchana.. Gwenchana Appatta..”

Tepat saat itu, tanpa mereka berdua sadari, Kyuhyun serta Donghae, dan Siwon –yang sengaja datang kesana untuk menjenguk Hyunjae sekaligus menjemputnya kembali ke Seoul- melihat dan mendengarkan percakapan mereka sejak awal dari arah pilar pemisah ruang tengah dan ruang keluarga.

~mrs.ChoiLee~

Sepanjang perjalanan menuju Seoul, tak ada satupun yang berbicara. Siwon fokus mengendarai mobilnya, Donghae terlihat tengah sibuk dengan ponselnya, Hyunjae dan Kyuhyun yang duduk di jok belakang memilih untuk menatap keluar jendela. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Hyun-ah…” panggil Kyuhyun pelan. Hyunjae diam, ia tetap memandang keluar tanpa sekalipun menoleh padanya. Kyuhyun mendesah pelan.

“Tolong jangan pikirkan omongan orang lain.. Meski orang tua kita sudah bercerai, kau tetap adikku.. Adik kandungku. Adik kesayanganku,”lirihnya. Hyunjae tak bergeming. Siwon dan Donghae yang mendengarnya memilih untuk diam.

“Aku tahu kau pasti merasa sakit hati saat orang lain membicarakan tentang hal ini. Tolong jangan kau pedulikan, karena mereka  tidak tahu yang sebenarnya..” lanjutnya. Hyunjae menunduk, tubuhnya bergetar hebat. Kyuhyun yakin dengan pasti bahwa adiknya itu kini tengah menangis. Ditariknya sebelah pundak Hyunjae lalu dibawanya tubuh mungil itu kedalam pelukkannya. Di dalam pelukkan Kyuhyun, tangisan Hyunjae pun kembali pecah.

“Menangislah sepuasmu.. karena setelah ini kau harus kembali menjadi gadis yang tegar, bukan gadis yang cengeng seperti ini lagi,” Kyuhyun menepuk-nepuk penggung Hyunjae pelan.

“Aku rindu eomma..” isaknya. Kyuhyun terdiam. Ia semakin mengeratkan pelukkannya lalu menaruh kepalanya di pundak Hyunjae. Tanpa disadarainya, air matapun kini membasahi wajahnya.

Siwon hanya dapat memandangi mereka dari pantulan spion, ia sedikit terenyuh akan percakapan mereka barusan namun ia masih dapat mengusai suasana hatinya dan memilih untuk tetap fokus menyetir, sementara lain halnya dengan Donghae, ia duduk diam di tempatnya, kedua telinganya tersumbat haedset ipod miliknya, namun ia dapat mendengar semuanya dengan jelas karena ipodnya sama sekali tak ia nyalakan. Hari ini satu sisi lain Hyunjae dan Kyuhyun terbongkar dihadapannya. Dibalik sikap ceria Hyunjae dan sikap dingin Kyuhyun rupanya mereka sama-sama rapuh. Kali ini ia benar-benar menemukan kesamaan diantara keduanya.

Donghae sebenarnya agak sedikit terkejut saat Hyunjae menangis di hadapan mereka, karena selama ia mengenalnya, gadis itu tak pernah mau menunjukkan air matanya di depan orang lain, termasuk menceritakan hal terberatnya sekalipun. Sungguh ia bingung, apakah ia harus menyebut hari ini sebagai hari keberuntungannya atau justru sebaliknya?

~mrs.ChoiLee~

“Eonni~” Ahra menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar Chaeyoung. Chaeyoung yang tengah berlatih dengan biola kesayangannya yang sudah lumayan lama tak ia sentuh langsung menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap Ahra yang sedang senyum-senyum tak jelas padanya.

“Ne?” Ahra membuka lebar pintu kamar Ahra lalu duduk di tepi ranjangnya. Chaeyoung memandangnya dengan tatapan bijaknya.

“Err.. Itu..”

“Ada apa?” tanyanya penasaran karena Ahra bicara dengan nada seperti orang salah tingkah. Ia berjalan menuju meja belajarnya, memasukkan biolanya kembali ketempat asalnya lalu duduk disamping Ahra.

“Itu.. Tentang Yoseob Oppa..” ujarnya dengan nada malu-malu. Dari gelagat yang ditunjukkan Ahra, Chaeyoung dapat menangkap sesuatu darinya.

“Kau suka padanya ya?” Chaeyoung tersenyum penuh arti.

“Ne??” Ahra terkesiap. Jantungnya mendadak kembali berdetak tak karuan. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya, salah tingkah. “Ne..” akunya malu-malu. Chaeyoung tersenyum sumringah.

“Ahaha.. Tak usah malu-malu begitu.. Sejak di mobil tadi aku sudah lihat gelagatmu itu tau,” Chaeyoung terkekeh pelan.

“Lalu apa yang bisa kubantu?”

Ahra diam, lalu menggeleng, tapi kemudian mengangguk. Chaeyoung menautkan kedua alisnya bingung. “Aku minta nomor ponselnya boleh?”

tbc~

##huwaaaaaaaaaaa~~~

JEONGMAL JOSONGHAMNIDA uri READER SETIA yang ngkutin n nungguin FF ini #PLAKK *berasa ada aja yg nungguin -,-“* mianhamnida atas keterlambatan tayang n keABALan part kali ini.. sumpah waktu bikinnya aja feelnya ga dpet,, maklum pas bukin beberapa hari sebelum UAS n ru sempet d edit malem ini lantaran UASnya ru selesai n aq kena sindrom bulanan.. huhu *curcol*

SUMPAH.. maapin aq yakk~ bwat cast yg lain juga,, maap yakk partnya dkit,,ceritanya pendek n kebanyakan hyunjae-nya HAHAHA #PLAKK

Janji deh next part dipanjangin .__.V 

adakah yg bisa menebak kira” gimana part slanjutnya? Siapa cowok yg bikin Hyunjae terpana di kampus? N gimana kelanjutan nasib Ahra?? Hahaha.. silakan ditebak~ :p

see u next PART~~

Please leave some comment.. or Just mention me @yoendaELF 

Iklan

12 thoughts on “SUPA DUPA DIVA – Part 5

  1. ngak pa2 banyakin aja hyunjae y. . . .
    Aku jg penasaran sm cwo yg d tabrak, n kasian hyunjae aku jd ikut sedih, cwe yg d kampus y jahat bgt. . . .
    Aku sedikit bingung pas hyerin n binwoo d awal tu ja sih tp mungkin otak aku yg kurang meresap jd eror he he he he. . . .

    1. ohoho… ad jg yg suka ma hyunjae ternyata~ kkk~ XD
      iia tu cwenya mnta ditampol,, ckck –”
      oh,, haha ceritanya sking g sukanya binwoo ma ahra dy jd jelek”n ahra di depan hyerin,, jd si hyerin ikutan ga suka jg ma ahra..

  2. ah, kesannya ahra tu bolot bgt ya?haha
    perasaan yg laen pd bagus”, knp yg ahra mah bolot ya?, yg laen mah pinter, kaya, bisa ini bisa itu ko yg ahra mah kaya gk bisa apa”.haha (T.T)

    gw kesel tu ma MICHEULLE, gk jwb sms gw liat aj ntar.!!

    1. BUAHAHAHAHAHAHAHA
      *LOL*

      kan lo minta dsesuain ja ma kenyatakaan bukan? wkwkwk #PLAKK *ditampol*
      tenang pi.. baru permulaan.. konfliknya ja baru mau dimulai.. tenang.. sinetron stripping kan bertele” dulu.. huahahaha

      **sii MICHEULLEE lagii GALAU,, td smsn jg malah dtggal tidur 😛

  3. Hyunjai mrasa bkan anak kandung apa’y. Stlah mratapi’y apa’y sdang mendebgar’y mnangis,apa’y mrasa skitt jd trus d ksih tau deh klau apa hyunjai bkin akte klahiran hyunjai nm’y cho yoon da. N khir’y hyunjai percya ma apa’y. Di saat itu jg kyungn donghe jga siwon dengarin crita mreka he he he gmn y lnjutan’y o…… Iy pertunangan hyerin gmn yeaaackan lom tau clon lki’y he he he

  4. jujur..wkt baca part ttg hyunjae n kluarganya..aku sampe netesin air mata..sedih bgt..g tw knp ngena bgt..keren..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s