SUPA DUPA DIVA -Part. 10

NO SILENT READER!

NO PALGIARISM!

*WARNING:: karena banyak yang bingung, jadi dipart kali ini dan insyaallah seterusnya, pergantian lokasi dan cast ditandai dengan perubahan warna pada~mrs.ChoiLee~*

Supa Dupa Diva –Part 10

*Author POV*

Hari ini adalah hari pertama dimana Hyunjae akan menjalankan rekaman variety pertamanya dalam salah satu episode Mnet scandal. Sejak pagi-pagi sekali, saat fajar bahkan belum menampakkan sinarnya, Seungri sang manajer sudah menarik dirinya yang masih bergelung dalam selimut. Ahra yang terbangun karena dimintai bantuan oleh Seungri untuk membantunya membangunkan Hyunjae yang terkenal sulit untuk dibangunkanpun mau tak mau jadi ikut menolong Seungri.

“Eonni-ya~~ Ireona ppali!! Sudah jam 5!!!” teriak Ahra tepat ditelinga Hyunjae, frustasi karena sudah hampir setengah jam mereka berdua mencoba membangunkannya tanpa hasil. Hyunjae yang merasa terganggu malah semakin menarik selimut tebalnya dan menggulung tubuhnya di balik selimut lalu menunggingkan tubuhnya layaknya orang yang sedang menggigil kedinginan tanpa sekalipun membuka matanya.

“Ya!! Cepatlah bangun.. jam 10 nanti kita harus sudah ada dilokasi!” seru Seungri seraya menarik-narik selimut yang dikenakan Hyun. Bukannya bangun, ia malah semakin memendamkan kepalanya kedalam selimut. Seungri mendesah, Ahra menatapnya iba. Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide dalam kepalanya, ia pun segera keluar dari kamar eonninya dan tak lama kembali kedalam dengan tiga buah benda kecil berbagai bentuk yang kemudian ia letakkan tepat disisi kiri dan kanan telinga Hyun. Seungri yang melihatnya tampak tersenyum penuh arti.

“Hana…”

“Deul…”

“Set…”

KRIIRIING…. KRINGGGG…

Bunyi ketiga benda yang tak lain adalah jam weker itu bersamaan. Keras.

“HUWAAAAAAAAA!!!” teriak seseorang dari dalam selimut dengan tampang frustasi. Ia lantas mengtambil ketiga benda itu dan mencari-cari sesuatu dibagian belakangnya satu persatu hingga akhirnya ketiga beda tsb mati dan ia kembali memejamkan matanya dan tertidur pulas.

“MWOYA!!!” pekik Ahra.

“Aishhh!!” Seungri menacak-acak rambutnya frustasi. Diliriknya jam digital yang terpajang di atas nakas yang terletak tepat disamping tempat tidur Hyun, waktu telah menunjukkan pukul 5.30, artinya sudah hampir 1 jam mereka membangunkan gadis satu itu dan masih juga belum membuahkan hasil.

“YA!!!! IREONA!” Seungri tampak sudah kehabisan akal. Ia lalu menyibak selimut tebal yang dikenakan Hyun dengan sekali hentakkan dan segera menggotong tubuhnya keatas pundak.

“KYYYYAAAAAAAAAAA!!! OPPA TURUNKAN AKU!!!!!” teriak Hyun begitu kesadarannya sudah pulih 100%.

“MANDI!” perintah Seungri dengan tatapan tajamnya begitu meletakkan Hyun diatas closet, Hyun yang baru kali itu melihat tampang sangar sekaligus kesal dari manajer yang usianya hanya terpaut 3 tahun diatasnya itu mau tak mau segera mengangguk, Seungri tampak tersenyum puas ia pun segera keluar dari toilet dan menutup pintunya.

Begitu selesai mandi dan bersiap-siap, Seungri segera membawa artisnya itu menuju sebuah butik untuk mengambil wardrobe lalu setelah itu mereka segera menuju Incheon, tempat dimana lokasi pengambilan gambar mereka –Hyunjae dan couplenya- yang pertama berada.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, mereka pun sampai disebuah komplek dengan bangunan tinggi dan bernilai seni tinggi berada. Hyunjae yang sepanjang perjalanan sibuk ber-ONLINE ria dengan ponselnya tanpa memperhatikan jalan pun langsung membelalakkan matanya saat menyadari dimana dirinya kini berada.

“Ayo turun,” ujar Seungri lalu turun dari dalam van hitam tsb setelah selesai memarkirkannya.

“Lho? Kampusku?” Hyunjae mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba memperjelas dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya ini tidak salah. Terlebih lagi, saat ini mereka berada di parkiran depan fakultasnya, bukan fakultas yang lain. Seungri terkekeh kecil.

“Ne, apa aku belum cerita huh? Pria yang akan menjadi pasanganmu nanti juga berkuliah disini.”

“MWO???”

“Jadi? Dia yang akan menjadi kekasihku selama 2 minggu kedepan?” tanya Hyunjae pada seorang PD yang duduk disampingnya saat mereka berdua sedang mengamati tv kecil yang terhubung dengan kamera CCTV yang berada di sebuah aula yang menampakkan sekumpulan orang yang tengah menghadiri sebuah acara seminar, Song PD mengangguk mengiyakan.

“Ne,dia orangnya. Pria bercoat Cream yang duduk dibarisan ketiga itu, yang duduk disamping Oh wonbin, penyanyi solo yang terkenal itu,” tunjuknya pada seorang namja.

Hyunjae tampak menelan ludah. Jujur saja ia tampak tak yakin apa yang akan terjadi kedepannya.

~mrs.ChoiLee~

Kim Chaerin. Seketika nama itu segera menjadi top search dalam berbagai situs dan juga sempat menjadi salah satu trending topic dalam jejaring social twitter. Entah bagaimana awalnya, namun tiba-tiba saja tersebar kabar bahwa saudara kembar dari seorang Kim Chaeyoung, -leader dari MIINA-itu akan mengisi posisi Chaeyoun yang kosong. Kontan saja berita ini segera membuat kantor SM ent jadi kelimpungan karena banyaknya telepon yang masuk untuk meminta konfirmasi serta serbuan para MIINAmist dan netizen yang menyerbu web resmi dan fanpage mereka.

“Bagaimana bisa berita ini bocor keluar?” Kim Youngmin, CEO yang memegang Kendali SM ent Korea, mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana mungkin rencana yang hanya diketahui oleh beberapa orang dalam dan anggota MIINA sendiri –yang bahkan baru mengetahui kabar ini beberapa hari yang lalu- bisa bocor keluar? Terlebih respon yang di dapatkanpun bukannya positif, malah berbalik negative layaknya Kyuhyun saat dirinya baru didapuk menjadi member ke-13 suju, ataupun Henry, member SUPER JUNIOR M, yang bahkan sampai saat ini masih sering mendapatkan intimidasi dari beberapa fans fanatic mereka.

Daesung, manajer MIINA sekaligus orang yang diberikan tanggung jawab besar untuk masalah ini hanya mampu menunduk. Ia tak tahu harus berbuat apa, karena pada nyatanya iapun tak tahu kenapa hal ini  bisa terjadi.

~mrs.ChoiLee~

Ahra menarik-ulur tekanan jari telunjuknya pada layar ipad miliknya –yang baru ia dapatkan seminggu lalu dari salah seorang fans Cina- menekuri deretan kalimat yang tertera pada salah satu microblogging yang linknya baru saja ia dapatkan dari salah satu fans yang menanyakan hal ini pada akun twitter pribadinya.

“Eonni! Eonni..” panggilnya seraya mengibas-ngibaskan tangan kanannya, mencoba memanggil Chaeyoung yang sejak tadi duduk tak jauh darinya, duduk bersila di depan tv sambil menyantap ramyeon buatannya sendiri.

“B-boe?” ucapnya dengan mulut penuh ramyeon, tak jelas. Ahra mendelik.

“Ini.. lihatlah,” ia menyodorkan ipad miliknya itu kehadapan sang leader. Chaeyoung segera menelan makanan yang ada di dalam mulutnya lalu mengambil alih ipad hitam itu dari tangan si pemilik setelah meneguk habis satu gelas air putih yang ada di samping mangkuk makanannya.

“Tampaknya berita tentang Chaerin eonni sudah bocor,” ujarnya lalu membuka link lainnya yang terpaut dengan artikel yang dibacanya barusan.

“Sepertinya ada yang melihat kembaranmu itu di kantor, jadi mereka berfikir kalau kembaranmu itu akan bergabung bersama kita,” Chaeyoung tampak tak menggubris perkataan Ahra, otaknya sibuk menekuri apa yang tertulis disana.

“Padahal jadi atau tidaknya ia bergabung bersama kitapun masih belum jelas, kenapa rumor ini bisa mencuat?” gumamnya. Meski beberapa hari yang lalu  Daesung dan Chaerin sendiri mengatakan bahwa kembarannya itu akan bergabung dalam formasi MIINA, sehari setelah itu Chaerin malah mengatakan bahwa dirinya belum yakin akan debut menjadi member MIINA karena Lee Sooman tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia akan membuat sebuah grup ballad yang beranggotakan 5 idola dan 2 orang trainee yang berasal dari SM TOWN sendiri.

Ding.. Dong..

Tiba-tiba saja terdengar suara bel dari arah pintu masuk, berhubung tak ada orang lain lagi selain mereka di apartment siang itu, Binwoo masih di sekolah, Hyunjae sudah sajak pagi-pagi sekali pergi melaksanakan jadwalnya yang semakin padat, sedangkan Chaerin? Statusnya masih belum jelas, jadi ia lebih memilih untuk pulang sementara waktu ke tempat tinggal mereka di Incheon, dan Chaeyong yang masih sibuk berfikir dengan ipad milik Ahra yang masih bertengger di tangannya membuat Ahra mau tak mau berjalan kearah intercom yang terletak tak jauh dari pintu.

“Nugusaeyo??” tanyanya begitu melihat sesosok pria yang berdiri membelakangi pintu.

“OMO!!! OPPA!!!” pekiknya. Ia lantas berlari menuju pintu, membukanya lalu memeluk tubuh seorang namja yang amat ia kenal dan ia rindukan. Seorang namja bertubuh lumayan atletis dengan kaos garis-garis pink serta beberapa gelang perak yang menghiasi kedua tangannya kini bediri dihadapannya dengan senyum khasnya.

“Jiyoung Oppa!! Bagaimana kau bisa sampai kemari??” tanya Ahra kaget saat melihat sosok Kwon Jiyoung, kakak kandung sekaligus satu-satunya keluarganya yang tersisa setelah kedua orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan saat Ahra masih kecil, yang selama ini tinggal dan menetap di Cina itu kini sudah berdiri dihadapannya.

“Ehehehe.. Aku kan merindukan dongsaengku yang satu ini XD~~” ujarnya diselingi tawa kecil yang mempertontontan deretan gigi putih miliknya.

“Ahra-ya… Siapa yang datang??” teriak Chaeyoung dari dalam. Ahra menepuk jidatnya cukup keras. Saking senangnya bertemu dengan kakaknya itu ia sampai lupa mempersilakannya masuk.

“Ayo, masuk Oppa!”

“Jadi dia kakak kandung eonni?” Binwoo menatap Ahra yang duduk diatas sofa tepat disamping sosok yang ia perkenalkan sebagai kakaknya lalu bergantian menatap keduanya lekat, mencoba membandingkan begitu Ahra dan sosok bernama Kwon Jiyoung itu mengiyakan. Dahinya berkerut, ia seolah tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar, dan ekspresinya ini nyaris sama dengan ekspresi wajah Chaeyoung saat dirinya diperkenalkan oleh Ahra pada Jiyoung tadi siang, tepatnya 2 jam sebelum kepulangan dirinya dari sekolah.

“Memangnya kenapa? Apa kami tidak mirip?” tanya Jiyoung. Binwoo menelengkan kepalanya mencoba menimbang.

Setelah cukup lama menatap mereka bergantian, Binwoopun mengangguk mengiyakan. Ahra tampak menghela nafs, sedangkan Jiyoung, ia malah tertunduk lemas.

“Eh? Weyo??” tanya Chaeyoung, dirinya tampak sedikit panik saat melihat perubahaan raut wajah Jiyoung yang semula tampak terus tertawa bahagia dan ceria kini malah berubah drastis.

“Kenapa? Memangnya aku salah ya? Kan aku jujur,” Binwoo memanyunkan bibirnya.

“Eh?? Anni.. Anni.. kau tidak salah kok, kami sudah biasa dibilang tidak mirip, lagi pula pada kenyataannya selain marga, darah dan..” Ahra menarik nafas berat, “sifat ‘autis’ kami yang terkadang muncul, tak ada lagi hal yang dapat membuat orang lain percaya bahwa kami adalah adik kakak,” lanjutnya. Jiyoung meliriknya sekilas lalu mengangguk setuju. *Author: kabur sebelum digampar Ahra*

“Ya begitulah adanya..” ucapnya. Chaeyoung dan Binwoo mengangguk-angguk paham.

~mrs.ChoiLee~

 “Hyerin-ah, neo gwenchana?” tanya Yoseob saat dirinya tak sengaja melihat sosok Hyerin yang tengah melamun sendirian sambil menggoyang-goyangkan kaki gelas berisi juice sirsak kesukaannya dengan tengan kanannya di salah satu bangku yang ada di dalam kafetaria gedung MBC. Hyerin mendelik sekilas, kemudian segera membungkuk samar ketika melihat sosok namja yang belakangan ini sedang menjadi idola para remaja wanita itu berdiri dihadapannya.

“O, Yoeseob-ssi, annyeonghassaeyo. Silakan duduk,” sapanya lalu mempersilakan namja yang lebih tua 11bulan darinya itu duduk dikursi kosong yang ada dihadapannya.

“Ada masalah?”

Hyerin menatapnya sekilas kemudian menggeleng lemah. Yoseob mengerutkan keningnya, tak percaya. Bagaimana mungkin seorang Choi Hyerin si actress muda yang selama ini kepribadiannya selalu terkenal ketus, sedikit angkuh serta penuh percaya diri itu kini malah tampak murung, walau belakangan memang dirasakannya sosok Hyerin yang ketus dan angkuh itu mulai menghilang dan digantikan dengan sifat yang sedikit lebih ceria dan hangat tapi tetap saja hal ini sedikit menggangu fikirannya.

“Apa karena Gikwang?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya tanpa ia sadari dan kontan membuat wajah Hyerin berubah, ia terperanjat kaget.

“M-mwo?? NA?? Gikwang? Ah.. kau bercanda,” kekehnya. Mendengar raut wajah Hyerin serta nada suaranya yang tak biasa dan terkesan salah tingkah itu membuat Yoseob semakin yakin bahwa penyebab dari perubahan sikap Hyerin ini memanglah Gikwang.

“Kau bisa menceritakannya padaku,” Hyerin mendelik, balik memandang Yoseob yang kini menatapnya dengan tatapan tulus, lalu mengitarkan pandangannya kesekeliling. Untung saja siang itu kafetaria lumayan sepi jadi ia tak perlu cemas jika ada orang lain atau bahkan paparazi yang melihatnya dan kemudian salah paham lalu membuat rumor yang tidak-tidak antara mereka.

“B-bagaimana kau tahu?” ucap Hyerin pada akhirnya dengan nada setengah berbisik. Yoseob tersenyum simpul. BINGO! Begitulah kata-kata yang sedang diteriakkan di dalam kepalanya saat ini.

“Hyerin-ssi, apa kau lupa kalau aku ini sehabat baik Gikwang? Dan asal kau tahu saja, aku juga sering melihatnya seperti dirimu seperti sekarang ini..”

“M-maksudmu?” Hyerin memandang Yoseob dengan tatapan bingung. Lagi-lagi Yoseob tersenyum simpul. Tak pernah tersirat difikirannya selama ini bahwa Hyerin yang ketus bisa jadi gadis yang polos juga seperti sekarang ini.

“Ne, kurasa ia juga punya perasaan yang sama dengan apa yang kau rasakan sekarang ini.. Kurasa diantara kalian berdua hanya terjadi salah paham saja, dan kalian harus segera menuntaskannya. Annyeong~” Yoseob menepuk pundak Hyerin pelan sebelum akhirnya berjalan melenggang meninggalkan Hyerin seorang diri menuju studio WGM dimana ia menjadi salah satu guest hostnya.

“Apa iya?? Tapi walaupun benar aku tetap tak mungkin pernah bisa bersamanya..” gumamnya. Ia merogoh dalam saku tas tangan miliknya mengambil sebuah benda berbentuk kotak panjang miliknya dari dalam dan mengusap-usap salah satu bagian yang memajang sebuah foto dirinya dengan seorang namja yang tak lain adalah Cheondoong tunangannya.

“Aku tak akan mungkin bisa terlepas darimu bukan?” ucapnya seraya memandang layar LG new chocolatenya itu lekat.

~mrs.ChoiLee~

*HYUNJAE POV*

“Jadi? Dia yang akan menjadi kekasihku selama 2 minggu kedepan?” tanyaku Song PD yang duduk disampingku saat kami berdua sedang mengamati tv kecil yang terhubung dengan kamera CCTV yang berada di sebuah aula yang menampakkan sekumpulan orang yang tengah menghadiri sebuah acara seminar, Song PD mengangguk mengiyakan.

“Ne,dia orangnya. Pria bercoat Cream yang duduk dibarisan ketiga itu, yang duduk disamping Oh wonbin, penyanyi solo yang terkenal itu,” tunjuknya pada sesosok namja berkacamata dengan frame cokelat yang tengah duduk disebelah Oh Wonbin, seorang penyanyi solo pria yang cukup digandrungi belakangan ini, sambil menyimak apa yang dibahas didepan dan sesekali mencatatnya pada sebuah memo dengan serius.

GLEKK.

Aku  menelan ludah. Dari banner yang terpasang didalam aula aku dapat menyimpulakan bahwa seminar yang sedang dilakukan ini adalah seminar hukum. Apakah itu artinya ia satu jurusan denganku??

Beberapa saat kemudian kulihat seminar yang dipandu oleh salah seorang Hakim ternama di Korea itupun berakhir dan satu-persatu dari para mahasiswa yang ikut serta menjadi penyimakpun mulai meninggalkan ruangan.

“Nah mereka sudah keluar,” ujar Song PD saat Oh Wonbin dan seorang namja yang ‘katanya’ akan menjadi kekasihku selama 2 minggu kedepan itu mulai beranjak keluar ruangan. Dan tanpa mereka berdua sadari salah seorang VJ yang menyamar menjadi mahasiswa yang sejak awal terus berada  disekitar mereka juga ikut keluar.

Mataku memicing, mencoba memperjelas pandanganku terhadap wajah namja itu begitu mereka sedang mengobrol ditaman aula.

DEG.

“OMO!” pekikku dalam hati. Mataku mebelalak lebar saat melihat dengan jelas wajahnya. Wajah pria yang akan menjadi kekasihku itu. Itu kann…

“Itu, namanya CHOI JONGHUN, usianya 1 tahun diatasmu. Dialah yang akan menjadi kekasihmu dua minggu kedepan. Bersiaplah,” SongPD menepuk bahuku pelan dan mempersilakanku keluar untuk menghampirinya. Aku menatapnya ragu. Song PD nampak mengerutkan keningnya bingung, namun aku segera menggeleng pelan dan berlalu meninggalkannya menuju taman aula yang berada tak jauh dari tempat kami sekarang berada.

Dengan langkah ragu aku mulai mendekat kearah mereka yang kini sedang dikelilingi beberapa wartawan untuk dimintai wawancara. Ah.. sepertinya wartawan itu sibuk mewawancarai Oh Wonbin, karena belakang ia memang sedang naik daun meski debutnya jauh beberapa tahun diatasku. Mungkin mereka sedang meliput mengenai kegiatan kuliahnya? Karena selama aku berkuliah disini aku memang pernah mendengar dari beberapa rekan sejurusan bahwa Oh Wonbin juga adalah salah satu dari seniorku disini, atau tepatnya di Fakultas Hukum ini, namun selama aku berkuliah aku tak pernah melihat batang hidungnya sama sekali. Wajar saja, dia kan artis TOP dan jadwal kuliah yang sangat padat tak akan mungkin bisa membuatnya untuk rajin-rajin ke kampus, sama halnya seperti diriku beberapa bulan belakangan ini yang terpaksa menjalani ‘kuliah dirumah’ yang terkadang bahkan sama sekali tak pernah ku kerjakan tugasnya -__-.

“Ayo bicara..” bisik Ahn VJ, VJ yang sedaritadi mengikutiku. Aku terkesiap, tersadar dari lamunanku. Dan begitu sadar, kulihat para wartawan yang tadi mengerubungi mereka tampak sudah menghilang.

“Annyeonghassaeyo, Jo neun Kim Hyunjae imnida, aku adalah gadis yang akan menjadi kekasihmu dua minggu kedepan,” ucapku sejelas mungkin seraya sedikit membungkukkan badanku kehadapan mereka berdua lalu tersenyum –meski tampak sedikit kikuk- kearah Choi Jonghun yang tampak terkejut saat aku memperkenalkan diri sebagai kekasihnya.

“Eh?” Jonghun menatapku dan Wonbin bergantian dengan tatapan bingung. Sementara Wonbin malah tampak terkekeh melihat wajah temannya itu yang berubah tampak seperti orang bodoh.

“Hehehe.. Mianhae Jonghun-ah, aku yang mendaftarkanmu pada acara ini.. Hehehehe”

—-

Aku sebisa mungkin bersikap senormal mungkin begitu kami berdua –setelah Wonbin pamit- bersama dan akhirnya memutuskan untuk makan siang disebuah restoran kecil yang berada masih di dalam kawasan kampus. Selama acara makan, kami berdua bergelung dalam keheningan, tak ada satupun yang berbicara. Song PD dan Ahn VJ yang ikut berada didekat kamipun tampak frustasi dan tersu menerus menyuruh kami untuk berbicara.

“Err.. Jonghun-ssi maafkan aku, aku memang selalu merasa canggung saat bertemu dengan orang yang belum terlalu dikenal,” ujarku memecahkan keheningan. Jonghun yang sedang asik menyantap bulgogi miliknya tampak menatapku sebentar, membuatku sedikit salah tingkah.

“Jangan panggil aku seformal itu, bukankah kita sedang ‘berkencan’?” ia tersenyum simpul. Hmm melihat ekspresianya dan tingkahnya yang mulai menghangat ini membuatku merasa sedikit lega.

“Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?”

“Emmm..” ia mengerutkan keningnya, tampak sibuk berfikir. Ahahaha entah kenapa melihat ekspresinya yang yang sedang berfikir itu malah membuatku ingin tertawa! Aigoo kenapa tampangnya malah terlihat lucu dan tampan??

“Bagaimana dengan Jjongie? Dan aku akan memanggilmu dengan sebutan Hyunie~ Otte?” aku mengangguk setuju. Eh.. Tapi tunggu, Hyunnie?? Kenapa aku malah merasa seperti Donghae Oppa yang sedang memanggilku? -___-a

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan semua fikiran tentang Donghae Oppa yang tiba-tiba terlintas di dalam otakku.

“Gwenchana??” tanyanya sedikit panik saat melihatku menggeleng-geleng layaknya orang yang sedang sakit kepala. Aku segera menghentikannya lalu memandang kearahnya.

“Eh? Hehe, anni aku hanya merasa seperti ada lalat terbang diatas kepalaku,” kilahku. ALASAN YANG SANGAT BABO!

—-

Begitu selesai makan, kami berduapun lantas masuk kedalam vanku, menuju salah satu gedung bioskop untuk menonton film. Jonghun sendiri yang mengusulkan hal ini padaku karena aku sama sekali tak punya ide.

“Ah, Jjongie, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” Aku meraih tas milikku yang kuletakkan dikursi belakang lalu merogoh-rogoh sesuatu didalamnya. Jonghun tampak penasaran.

“Igeo,” aku menyerahkan sebuah ponsel hitam dengan ikon buah apel yang tergigit disalah satu bagian dibagian belakangnya pada Jonghun yang tampak mengerutkan dahi. “Ini ponsel couple, sebagai tanda jadian kita,” jelasku sambil tersenyum seraya memamerkan sebuah ponsel lainnya yang sama persis dengan yang kini dipegang Jonghun. Ponsel ini memang sengaja dipersiapkan oleh pihak acara ini sebagai ponsel couple yang wajib digunakan selama acara.

“O.. Kalau begitu kita harus mengambil foto bersama untuk dijadikan wallpaper di ponsel kita!” serunya penuh semangat. Aku mengangguk setuju.

“Hana.. Deul.. Set..”

CKLIKKK..

~mrs.ChoiLee~

*CHAEHYUN POV*

Hari sudah beranjak sore saat aku dan TOP keluar dari sebuah klinik kandungan setelah memeriksakan kandunganku yang usianya sudah menginjak 8 bulan. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan hingga akhirnya kami berdua berada di dalam mobil TOP menuju sebuah restaurant sashimi kesukaanku, senyuman lebar tak pernah lepas dari bibirnya. Ia tampaknya bahagia sekali begitu hasil USG –yang baru pertama kali kulakukan setelah sekian lama kehamilanku- menunjukkan bahwa aku mengandung sepasang bayi kembar yang amat sehat. Dokter Matsumoto yang memeriksa kandunganku selama inipun mengatakan bahwa hanya tinggal menunggu 3 minggu lagi untukku melahirkan.

“Hati-hati,” ujar TOP sambil memapapah sebelah tanganku lembut saat aku akan keluar dari dalam mobilnya. Iapun segera menutup pintunya dan kembali menuntunku dengan sigap. Ia memang selalu seperti ini terhadapku selama kami menikah, meski aku selalu risih jika berada di dekatnya apalagi saat ini beberapa pasang mata selalu menatap kearah kami akibat tingkah TOP yang terkesan berlebihan terhadapku.

“Bisakah kau tidak bersikap selebay itu, TOP?” aku menatapnya kesal saat kemi berdua sudah duduk berhadapan disalah satu bilik terbuka yang terletak agak menjorok kearah taman dalam restoran. Ia tampak melirikku sebentar lalu menyerahkan buku menu yang ada ditangannya pada seorang pelayan yang sedari tadi menanyakan pesanan kami.

“Meski kau terus menolakku, aku akan terus bersikap seperti ini padamu, Hyejin-ssi,” ujarnya setelah memesan beberapa makanan dan mempersilakan pelayan itu pergi dengan beberapa catatan di tangannya.

Kalian mungkin bingung kenapa ia memanggilku dengan nama HYEJIN bukan? Sepertinya ada yang harus ku jelaskan disini…

#FLASHBACK#

November 2009

 “Ah, sudah dulu, ya? Sudah mau take off,” ucapku sambil tersenyum samar. Menyudahi percakapan antara aku dan Hyunjae. Gadis ini sejak tadi terus saja merasa bersalah saat dirinya tak bisa mengantarku ke bandara.

“Ne.. Jalgayo. Annyeong.”

“Annyeong.”

BIPP.

Aku menekan tombol end pada ponselku cukup lama hingga layar posel berkedip lalu berbunyi tanda mati. Aku menghela napas, memasukkannya kedalam tas prada cokelat milikku. Aku melirik pasport serta tiket pesawat yang ada dalam genggaman tangan kiriku. Dengan mata sedkit nanar dan sebelah tangan mengepal keras aku membaca sekali lagi deretan tulisan yang menjadi tempat tujuan penerbanganku saat ini.

Narita, Jepang.

“Lama sekali,” ujar sebuah suara dengan nada berat. Aku menoleh dan mendapati sosok yang paling kubenci di dunia ini yang bahkan telah membuatku TERPAKSA meninggalkan sahabat-sahabat serta orang-orang terdekatku. Aku menatapnya tajam. Cikh melihatnya saja bahkan membuatku MUAK!

“Ayo cepatlah, pesawat kita sudah hampir berangkat!” ia lantas menarik sebelah tanganku, namun aku segera menepisnya. AISH!! Rasanya ingin sekali ku tampar dan kucakar-cakar wajah sok tampannya itu dengan kuku-kuku jariku! Seolah tak sabar, ia langsung menarik tanganku dan memaksaku menuju pesawat.

Pesawat yang kami tumpangi ini terasa sepi. Agak aneh memang mengingat bahwa kami bukan memakai pesawat pribadi melainkan pesawat komersial biasa. Meski kami berdua duduk di bangku eksekutif yang biasanya memang hanya dipakai oleh kalangan terbatas saja, tapi aku merasa janggal karena tak ada orang lain selain kami berdua yang duduk di kelas ini.

“Aku sudah menyewa semua bangkunya,” ujarnya seolah tahu isi pikiranku. Mataku mebelalak lebar, menatapnya dengan pandangan –dasar gila- padanya.

“Sakit JIWA!” desisku. Dasar orang kaya! Untuk apa dia menyewa semua kursinya? Cikh.

TOP tampak terkekeh melihat tingkahku. Ia lantas berdiri, mengambil tas koper jinjing miliknya yang tadi ia letakkan di dalam bagasi kecil yang ada dibagian atas kabin kemudian kembali duduk dan menyodorkan sebuah amplop cokelat berukuran besar kehadapanku. Tanpa banyak bicara aku segera membuka lilitan tali yang terpasang pada penutup amplopnya dan mengeluarkan isi di dalam amplopnya.

“Itu surat pernikahan kita, dan formulir penggantian namamu tempo hari. Sudah ditanda tangani oleh ayahmu dan juga sudah kulaminating agar tidak kotor,” ujarnya. Aku meliriknya tajam lalu menghela napas.

Hmm.. beberapa hari yang lalu, bahkan sebelum mengumumkan kemunduranku dari MIINA secara resmi, aku dan TOP memang sudah menandatangani surat pernikahan kami di kantor catatan sipil dengan Ayahku dan Bibi Young ae sebagai saksi pernikahan kami, dan sebelum itu aku juga mengajukan aplikasi penggantian namaku dari Seo Chaehyun menjadi Seo Hyejin atas keinginanku sendiri agar pada saat kami menikah nanti berita ini terhindar dari media. Seo Hyejin sebenarnya adalah nama asli pemberian ayahku sebelum akhirnya di daftarkan dengan nama Seo Chaehyun. Ayah dan Ibuku sejak awal memang merencanakan mendaftarkan diriku dengan nama Hyejin namun berhubung yang pergi untuk mendaftarkan namaku adalah alamarhum kakek dari pihak ayah yang ingin bahwa cucu pertamanya dinamai sesuai dengan nama mendiang istrinya, Han Chaehyun, maka jadilah aku bernama Seo Chaehyun.

Tapi saat Appa tahu bahwa aku akan menikah, dirinya malah menyuruhku untuk mengganti nama dengan nama asliku –atau lebih tepatnya nama asli pemberian orang tuaku- saat diriku mengatakan bahwa aku berniat untuk mengubah nama. Dan aku cukup puas dengan namaku saat ini. Seo Hyejin.

 #FLASHBACK END#

—-

“Hyejin-ah! Tunggu sebentar, ada yang ingin kusampaikan,” ujar TOP begitu aku akan beranjak dari meja makan setelah makan malam kami berdua usai. Aku mengangkat sebelah alisku, menatapnya dengan tatapn heran. Memangnya apa yang ingin disampaikannya lagi, bukankah seharian ini kami berdua terus bersama?

TOP nampak bangkit dari kursinya, menuju ruang kerjanya yang terletak di ujung lorong dekat kamarku, agak jauh dari ruang makan. Lelah berdiri akupun kembali duduk. Sesekali kuusap perutku yang sudah amat membuncit ini dengan lembut dan penuh cinta. Meski awalnya aku membenci makhluk yang satu itu setengah mati dan kesal akan kehamilan yang tak pernah kuinginkan ini sebelumnya aku tak pernah bisa untuk membenci bayi dalam kandunganku ini. Terlebih TOP selama ini juga selalu menjagaku dan kandunganku. Ia selalu saja bersikap manis padaku dan mencurahkan segala perhatiannya padaku bahkan terlalu berlebihan menurutku, seperti halnya yang terjadi tadi sore saat kami ke restaurant sashimi setelah pulang dari dokter kandungan.

Dugg..

Tangan kananku yang kuletakkan diatas perut terasa seperti terpukul sesuatu. Sebuah tendangan kecil dari dalam perutku.

DUGG..

Tendanganya sekali lagi. Aku tersenyum kecil lalu mengelus-elusnya sayang.

“Ini, tadi sebelum makan malam Aboenim menghubungiku dan mengirimkan sebuah fax padaku,” TOP kembali duduk di hadapanku sembari menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah disusun rapih didalam sebuah map merah. Aku meliriknya bingung lalu perlahan membukanya dan mulai membaca isinya.

“Itu adalah beberapa salinan surat saham milik ayahmu,” ujarnya.

“Dan ini, adalah surat aslinya dan beberapa berkas lain yang baru saja kuterima dari kurir,” Ia menyodorkan beberapa map tebal keatas meja kearahku. Aku mengerutkan kening.

“Aku sudah membaca dan mempelajari semuanya. Tampaknya ayahmu termasuk kedalam salah satu pemegang saham di SM ent,jumlah sahamnyapun nyaris menyamai jumlah saham yang dipegang Owner SM sekarang, yakni 23%, dan dia ingin kau yang mengurusnya.”

Aku terhenyak. Kaget. Bagaimana mungkin??? Ayahku yang selama ini ku kenal bekerja sebagai seorang AKTOR dan hanya memiliki sebuah cafe kecil di daerah Hongdae, diam-diam malah memiliki saham yang jumlahnya bahkan terbilang sangat besar? Tak hanya itu, ia juga menyerahkan sebuah rumah di kawasan Gangnam dengan atas namaku.

“Tampaknya aboenim sudah cukup lama menjadi salah satu pemegang saham disana, dan diam-diam dia juga selalu mengawasimu dan memperhatikanmu. Pantas saja seorang Lee Sooman dapat dengan mudahnya membiarkan kita menikah waktu itu,” ujarnya. Aku mendelik, lalu terdiam mencoba mencerna semua yang dikatakannya.

Mungkinkah seperti itu?? Mungkinkah seorang Seo Jiseob, pria yang selama ini ku kenal sama sekali tak pernah memperhatikanku dan selalu ach padaku itu diam-diam selalu menjagaku? Selalu mengawasiku? Da selalu melindungiku? Apakah semua ini telah ia atur sejak awal?? Apakah ini adalah alasan mengapa waktu itu dengan mudahnya ia membiarkanku untuk ikut menjadi trainee tanpa benyak bertanya? Apakah ini adalah alasasannya saat aku merasa bahwa MIINA seperti dianak emaskan dibanding grup lainnya di perusahaan kami yang bahkan jauh lebih top? Apakah ini juga alasannya kenapa Lee Sooman sajjangnim dapat dengan mudahnya melepaskanku pergi menikah dan bersedia menerimaku kembali bahkan tanpa banyak menuntut seperti apa yang ia lakukan pada Hankyung Oppa?

Astaga.. Yatuhan mengapa aku malah menjadi orang paling bodoh karena tak menyadari perhatian yang diberikan ayahku sendiri???

TBC

Annyeonghassaeyo yeorobeundeul~~ lama tak bersua!!

Akhirnya beres juga ini part 10.. maaf ya kalo CACAT dan terasa pendek! Padahal tadinya mau dibikin ekstra tapi apa daya badan ga dukung, remuk banget ini rasanya lantaran tadi ngedadak dapet tugas bikinin makalah anak kedokteran yang mau ospek dan materinya BUJUBUNE bisa bikin otak meledak dan badan remuk seketika–padahal saia anak hukum =___=-! Baru ospek aja ud begini tugasnya gimana kalo ud resmi itu kuliahnya ckck ,jadi alhasil cuma sanggup bikin kayak gini..

Buat yang berharap banyak maaaaaappp banget ya harapannya blom terpenuhi *lirik” Hyerin-Ahra*

Minal aidzin wal faidzin yaaa… mohon maaf kalo saia banyak salah *karena pasti banyak salah*

Maaf banget baru bisa Update sekarang karena minggu kemaren emang sibuk gara” persiapan lebaran, dan waktu mudik meski laptop dibawa ternyata percuma juga karena nyatanya gada waktu buat ngetik dan sinyal modem CDMA juga ga nyampe kesana =___= *garuk” tanah*

Untuk Foto” diatas *selain FOTO GD dan Wonbin-Jonghun* semuanya adalah hasil penistaan saia yang bekerjasama dengan Photoshop hahaha..

yang mau tanya” atau ga bisa comment di WP silakan comment di @yoendaELF

Okelah KOMENTARNYA DITUNGGU!!!!!!!!!!!!! XD

Iklan

17 thoughts on “SUPA DUPA DIVA -Part. 10

  1. Eonni, aku bulak-balik buka blog eonni ternyata belom keluar juga~ baru sekarang ternyata eonni muncul.. Kkk~
    Aku penasaran sama Hyerin.. hehehe~
    ditunggu lanjutannya eonn..

  2. biih parah!!!
    yoseobnya gk deket” ma ahra, kpan part ahra ma yoseobnya…?
    malah sama si hyerin,…
    udah gt di bilang autis lg,
    sudah jatuh tertimpa tangga ini namanya

  3. mian komennya loncat2 coz dbbrp part tiap komen ujung2nya page not found..fuuh..
    Tp makin kesini makin seru..seunghyun jg bnyk berubah..tp aku kira hyunjae jadian lg sama donghae g twny g..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s