SUPA DUPA DIVA -Part. 17

 annyeonghassaeyo yeorobeundeul~~~ kali ini author yang baik hati dan kadang suka pundungan –” ini balik lagi membawa COVER dan EPISODE yang baru~~ **treak pake TOA mushola**  ayey~~ gimana covernya??? kemaren gara” keasikan bikin cover ini sampe lupa bikin lanjutin part 17 yang baru dibikin setengah jalan. Huahahaha~ *ditabok*

ya~ semoga suka ya~^^

untuk yang bagian TAMAT  sedang saia pikirkan ulang, melihat perkembangan. itu semua tergantung pada mood dan jumlah comment yang ada nanti u.u

tapi.. jangan cemas, saia ini tipe orang yang bertanggung jawab kok, saia gak akan meninggalkan sesuatu yang saia mulai sendiri. nasib SUPA DUPA DIVA kyy ud bisa keliatan dari pergantian cover ini deh. ya ga? haha :p

oke.. daripada banyak CINCONG. mending yuuk dimulai~~

BE A GOOD READERs Oke?

DONT FORGET FOR LEAVING SOME COMMENT and LIKE this post

BUAT SILENT READERs nyadar diri aja deh ya.. saia doakan dapet HIDAYAH 

Ga bisa comment di WP?? silakan mention>> @yoendaELF 

need a nother story? lets check this one out>> Library 

-SUPA DUPA DIVA-

*Hyerin POV*

“Hey, jangan lupa nanti malam. Oke?”ucap Gikwang di telepon. Aku tersenyum lebar, mengangguk mengiyakan.

“Ne. sampai jumpa disana,” balasku dengan senyum yang masih melebar bahkan sampai ketika ponsel hitam milikku itu sudah kembali tersimpan rapih di dalam ponsel case yang ada di dalam tas Prada maroon milikku.

Aku kembali menatap wajah cantikku di depan cermin meja rias yang ada di hadapanku saat ini. Senyum bahagia jelas terukir di wajahku. Aku memang benar-benar tak pernah bisa menyembunyikan rasa bahagia setiap kali Gikwang menghubungiku.

“Hyerin-ssi.. Waktunya take,” salah satu crew terlihat melongokkan wajahnya dibalik pintu ruang tunggu. Aku menoleh, mengangguk dan segera menyusulnya keluar.

————

“Bagaimana harimu? Melelahkan?” Gikwang menatapku lembut seraya meneguk sekaleng kopi hangat yang sengaja dibelinya sebelum bertemu denganku. Aku meliriknya sebentar lalu menyandarkan kepalaku disebelah bahunya yang bidang dan melayangkan pandanganku lurus menatap gemerlapnya lampu-lampu kota dan pantulannya yang terukir indah pada permukaan sungai Han yang melintasi jembatan Banpo.

Jembatan Banpo memang salah satu tempat favourit kami untuk menghabiskan waktu bersama yang bisa dibilang sangat jarang di dapatkan. Banpo bidge memang bukanlah tempat yang tertutup untuk umum dan bisa dikatakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, namun di malam selarut ini yang bahkan bisa dikatakan telah menjelang pagi tentu saja tak banyak orang yang berada disekitarnya, dan meskipun ada pasti tak akan ada yang memperhatikan kehadiran kami.

 “Hmm.. ya, lumayan menyesakkan. Bagaimana denganmu?” aku balik memandangnya lembut dari bahunya. Ia tersenyum.

“Melelahkan. Sangat.. sangat.. MELELAHKAN! Tapi..” perlahan ia memalingkan tubuhnya menghadapku, membuatku mau tak mau mengangkat kepalaku yang sejak tadi diletakkan diatas bahunya dan balik memandangnya, “asalkan bertemu denganmu, semua terasa menyenangkan.” Ujarnya yang tentu saja membuatku jadi melayang dan tak lagi dapat menyembunyikan senyumanku yang semakin mengembang. Ia terkekeh, mengacak rambutku pelan lalu kembali pada posisinya semula dan menarik kepalaku keatas bahunya.

‘Ahhhh tuhan!! Kumohon jangan renggut kebahagiaan ini dari sisiku (>__<)!!’

——

Gikwang.. Gikwang.. dan Gikwang… setiap hari yang kujalani selalu saja dipenuhi dengan dirinya. Lee Gikwang, salah satu personel Beast yang diam-diam ku kencani dibelakang publik dan juga keluargaku selama beberapa bulan belakangan ini. Hubungan yang kami jalani ini memang dibilang “sangat rahasia” hanya aku, Gikwang, Hyunjae dan beberapa member Beast saja yang mengetahuinya karena aku memang sudah berstatus sebagai ‘tunangan’ orang lain.

Gara-gara hal ini, Hyunjae tampaknya keberatan karena aku menjadikan salah satu sunbae sekaligus teman kesayangannya –Gikwang, sebagai selingkuhanku dibelakang Cheondoong, karena buktinya sampai saat ini juga ia sama sekali tak pernah mau mengangkat telepon dan pesan dariku. Pada aalnya para member Beast lainnya juga keberatan atas hubungan kami, namun karena Gikwang terus bersikeras akhirnya mereka pun mengijinkannya dengan catatan hubungan kami jangan sampai terdengar keluar.

Thunder atau Cheondoong, tunanganku itu memang terlalu sibuk sampai-sampai tak ada waktu sama sekali untuk menghubungiku sebulan belakangan ini, jadi jangan salahkan aku jika nantinya aku semakin dekat dengan Gikwang!

Drrttt.. Drttt..

Ponsel yang sedari tadi kugenggam bergetar hebat. sebuah pesan masuk. Gikwang.

Jagiya~~ Jaljayo~~ ^^

Aku tersenyum saat membacanya. Tanpa membalas pesannya akupun segera menarik selimut tebalku hingga menutup seluruh tubuhku dan menaruh ponsel hitam itu keatas nakas yang ada disamping tempat tidur.

~mrs.ChoiLee~

*Author POV*

‘Hyunjae.. Hyunjae.. HYUNJAE!!! Kenapa nama itu selalu ada dimana-mana!!??? Ish!’ desis Ahra kesal saat sepasang matanya sedari tadi terus menemukan nama ‘Hyunjae’ disebut-sebut di berbagai artikel Online dan juga radio. Wajahnya yang semula ceria karena Simon D, rekannya di Oh My School akan mentraktirnya  makan malam ini, mendadak muram saat melihat nama Hyunjae. Sejak filming ‘OMS’ beberapa waktu lalu dimana Hyunjae jadi salah satu bintang tamunya, ia memang jadi gampang tersulut emosi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Hyunjae. Dan tiap kali ia bertemu dengan gadis itu di dorm pun tak pernah sekalipun ia menyapanya dan selalu berusaha menghindar saat bertemu dengannya, sementara Hyunjae tampaknya tak menyadari hal itu.

“Mau kemana kau?” tanya Chaeyoung –yang baru saja kembali dari jadwalnya sebagai DJ radio, saat melihat Ahra sudah rapih dan bersiap untuk keluar dorm. Ahra menoleh sebentar lalu kembali memakai sepatunya yang baru terpasang sebelah.

“Aku akan keluar sebentar lalu ke toko CD untuk membeli beberapa film. Kau mau nitip, eonni??” tanyanya. Chaeyoung melirik arloji di tangan kirinya sebentar kemudian menggeleng.

“Anni, aku lelah, ingin istirahat saja,” ia memijit-mijit tengkuknya yang terasa mau copot dengan sebelah tangan. Wajahnya terlihat sangat kelelahan.

“Gureom, kalau begitu istirahatlah eonniku sayang~~ Aku akan segera pulang^^”

——–

“Kau yakin tak ingin kuantar pulang??” tanya Hongki yang juga ikut serta dalam acara makan malam di restaurant milik orang tua Lady Jane –kekasih Simon D, saat tahu bahwa Ahra tidak dijemput pulang. Ahra menggeleng pelan.

“Sejujurnya saja aku mau, tapi sepertinya aku mau mampir kesana dulu,” tunjuknya pada sebuah toko buku yang berada di seberang jalan. Hongki menatapnya sebentar lalu mengangguk paham.

“O, baiklah. Hati-hati oke? Gureom,” pamitnya saat masuk kedalam sebuah van putih yang dikendarai oleh manajernya. Ahra mengangguk dan melambaikan tangannya kearah Hongki sampai mobil yang ditumpanginya sudah menjauh dari dirinya.

Ahra menghela napas pendek sebelum akhirnya melangkah maju menyusuri zebracross menuju toko buku yang ditunjuknya tadi. Ahra memang bukanlah tipe ‘kutu buku’ yang sangat senang datang ke toko buku, tapi ia adalah seorang penggila komik, jadi tak heran begitu masuk kedalam toko buku ia akan langsung menuju rak ‘manhwa’ yang berada di deretan ketiga lorong keempat dibagian belakang lantai dasar.

“Midori is a tomboy.. Midori is a tomboy..” gumamnya saat menyusuri rak manhwa, kedua matanya sibuk menyusuri deretan judul komik yang tersimpan apik pada rak penjualan.

“Ah!” tanpa sadar ia menepuk tangannya girang saat matanya menemukan judul komik yang ia cari. Tangan kananya dengan segera meraih komik yang dicarinya dan memeluknya dengan cengiran lebar. Tanpa ia sadari, tingkahnya ini rupanya menaik perhatian salah seorang pengunjung.

“Vivi!!!!” pekik seseorang. Ahra yang merasa nama kecilnya dipanggil segera menoleh.

“Bom eonni!!!”

——

“Apa kabarmu? Sombong sekali kau sejak jadi artis tak pernah menghubungiku lagi!” Bom menggembungkan wajahnya kesal. Tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk coffe americano miliknya dengan sedotan. Menampakkan ekspresi bahwa ia sedang benar-benar kesal.

Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam starbucks coffe yang ada tepat di samping toko buku tempat mereka bertemu tadi. Bom, atau Park Bom adalah sepupu jauh Ahra yang sejak kecil sudah menjadi teman dekatnya, namun begitu ia pindah ke Cina setelah kecelakaan yang merengut nyawa kedua orang tuanya Ahra dan Bom memang tak pernah ketemu dan hanya berhubungan sesekali melalui skype.

“Eyyy.. Jangan begitulah eonni. Tidak seperti itu..” kilahnya. Membela diri. Sejak ia debut dengan Miina dan kembali ke Korea mereka berdua memang baru sekali bertemu dan itu pun saat sebelum debut.

“Emm.. besok hari peringatan kematian orang tuamu bukan?” Bom menatap Ahra dalam. Ahra yang semua sibuk menyeruput cokelat panasnyapun terdiam. Mendadak tubuhnya terasa membeku. Hatinya kelu. Entah mengapa tiap kali mendengar tentang hari peringatan kedua orang tuanya jiwanya selalu merasa terguncang, padahal kejadian itu sudah berlalu 9 tahun yang lalu.

“Ah.. kasihan sekali ahjumma dan Ahjussi.. kudengar karena mereka menghindari seorang anak kecil yang hampir tertabrak mereka jadi menabrak pembatas jalan. Sungguh mulia sekali mereka, demi menyelamatkan satu nyawa meraka harus mengorbankan dua nyawa sekaligus,” ucapnya panjang lebar tanpa ada rasa risih sedikitpun  karena mengatakannya di hadapan Ahra. Park Bom sejak dulu memang terkenal frontal dalam berbicara, sama seperti dirinya. Ahra tersenyum getir. Kedua orang tuanya itu memang tewas dalam kecelakaan 9 tahun lalu –yang katanya- akibat menghindari seorang anak kecil yang sedang menyebrangi jalan dan menyebabkan mobil yang dikendarai ayahnya itu terpaksa banting stir hingga menabrak pembatas jalan dan membuat mobil yang mereka tumpangi meledak seketika. Akibat kejadian ini, tidak hanya membuat Ahra dan Jiyoung kehilangan kedua orang tua mereka, tetapi juga terpaksa pindah ke Cina dengan menggunakan uang santunan kematian kedua orang tua mereka guna menghindari para debt collector yang telah menyita rumah serta barang-barang berharga mereka setelah mendengar kematian ayahnya. Mengingat hal ini membuat hati Ahra sakit.

“Apa kau tak pernah berniat mencari tahu siapa gadis yang ditolong oleh orang tuamu itu, Ahra-ya?” Bom menatap Ahra dengan pandangan serius. Ahra diam. Sejujurnya saja sejak dulu ia memang sudah sangat ingin mencari tahu tentang gadis itu. Tapi apa daya? Mencari tahu berarti mengharuskannya menyewa seorang detektif, dan ia yang usianya masih sangat kecil jelas tak punya uang sama sekali, terlebih kakaknya juga tak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk mengikhlaskan semuanya.

“Jika kau mau aku akan menyelidikinya. Bagaimana?”

——

Sejak kepulangannya dari Starbucks semalam, semalaman Ahra tak bisa tidur. Kepalanya sibuk memikirkan perkataan Bom semalam. Dan begitu pagi menjelang, ia langsung bersiap pergi menuju pemakaman orang tuanya yang terletak di Daegu bersama Jiyoung yang menunggunya di lobby apartment.

Sepanjang perjalanan menuju Daegu, Ahra yang biasanya banyak bicarapun jadi lebih pendiam dari biasanya. pikirannya jauh menerawang entah kemana.

“Loh? Bunga dari siapa ini?” Jiyoung mengangkat sebuah rangkaian bunga bunga lily yang tergeletak manis didepan nisan kedua orang tuanya. Ahra menghampirinya dan mengambilnya dari tangan Jiyoung. Bunga lily itu tampak masih sangat segar. Sepertinya belum lama diletakkan disana.

“Siapa ya? Teman Appa? Eomma?” Jiyoung angkat bahu dan segera meletakkan bunga lili itu kembali kehadapan nisan kedua orang tuanya.

~mrs.ChoiLee~

“Annyeong~” sapa Jonghun dengan nada serendah mungkin saat melihat Hyunjae tengah serius membaca dan menuliskan sesuatu pada laptop miliknya di salah satu meja yang ada di ruang perpustakaan. Hyunjae mendongak dan langsung tersenyum saat melihat senior yang kini juga bertindak sebagai tutornya itu sudah duduk dihadapannya sambil bertopang dagu.

“Ne, annyeong,” balasnya tak kalah pelan.

“Sedang apa? Membuat paper mengenai hukum dagang, kah?” tebaknya. Hyunjae tampak terkejut.

“Mwo? Bagaimana kau tahu??” Jonghun terkekeh. Tanpa aba-aba dia pun beranjak dari kursinya dan duduk di kursi kosong yang berada tepat disebelah Hyunjae.

“Kau kesulitan?” Hyunjae mengangguk. Jonghun tersenyum.

“Biar kubantu!” dengan segera ia mengambil alih laptop yang ada dihadapan Hyunjae dan mulai mengerjakannya.

—-

“Gomawoyo, Oppa, karenamu aku jadi bisa mengirimkan tugasnya tepat waktu,” ujar Hyunjae tulus begitu keluar dari ruang perpustakaan setelah menyelesaikan tugas dan mengirimkannya ke alamat e-mail dosen Hukum Dagangnya.

“Tak usah dipikirkan.. aku kan hanya bantu mengetik dan mengeditnya sedikit, kau yang sibuk berpikir sejak tadi kan?” Hyunjae tersenyum. Entah kenapa ia merasa bahwa pria yang kini berjalan disampingnya itu sepertinya senang sekali jika ia repotkan.

“Ah, ya apa kau keberatan jika sabtu nanti kita pergi ke suatu tempat??”

“Ha???” langkah Hyunjae terhenti, ia menatap Jonghun dengan tatapan kaget. Jonghun tersenyum miring.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua dengan tangan terkepal. Napasnya memburu, matanya memicing tajam.

“Kim Hyunjae.. tunggulah sebentar lagi..” gumamnya dengan sebuah senyuman licik.

~mrs.Choilee~

*Hyejin/Chaehyun POV*

“Minah-ya!!! Choi Minah!!!! Neo oediga!??” teriakku saat tak kunjung menemukan sosok bayi berusia 2 setengah bulan itu diseluruh penjuru rumah.

Dengan langkah terburu-buru aku berlari menyusuri seluruh penjuru lorong dan sudut yang ada di hadapanku, mencari sosok bayi mungil yang suara tangisannya sejak tadi terus menggema di dalam gendang telingaku.

“Eakkkk… Eaakkkkk…” suara tangis itu perlahan semakin mengeras, membuat jantungku berdebar tak karuan dan merasa tak tenang karena memikirkan keadaannya.

“Minah!!! Eomma disini.. Dimana kau????” teriakku sambil berlari sekencang mungkin menyusuri lorong panjang yang tak berujung ini. Perlahan semuanya mendadak gelap. Lorong yang semula kulalui berubah menjadi kelam, gelap, dan suram.

JEDUGG!

“Auch!” ringisku kesakitan saat tubuhku terasa menghantam sesuatu.

JoJo! seulpeun eumagi

heureul ttae neol saenggakhae (eh eh eh)

JoJo! janinhan neoneun wae

jiwojiji annnyago (oh oh oh)

 Jojo milik Shinee berdering kencang dari arah meja kerjaku. Perlahan kubuka kedua mataku, mengerjapkannya sebentar dan memijit pelan dahiku yang terasa pusing akibat posisi tidurku yang tak nyaman juga akibat terjatuh dan menghantam lantai. Semalam rupanya aku tertidur diatas sofa di dalam ruang kerjaku setelah membuka paket yang dikirim TOP padaku.

 “Ah.. mimpi rupanya..” aku memijat tengkukku yang terasa pegal.

 JoJo! seulpeun eumagi

heureul ttae neol saenggakhae (eh eh eh)

JoJo! janinhan neoneun wae

jiwojiji annnyago (oh oh oh)

Ponsel dengan casing merah itupun kembali berdering untuk kedua kalinya setelah sebelumnya mati. Perlahan aku bangkit dari sofa dan menghampirinya lalu segera menggeser icon berwarna hijau disisi bawah kiri pada layar sentuhnya. TOP.

“Ne, yeob-”

“Ya! Kemana saja kau!? Sudah puluhan kali kuhubungi tak pernah kau angkat?!!” pekiknya penuh emosi. Aku mengerutkan kening, bingung akan maksud dari perkataannya. Kujauhkan ponsel dari telingaku untuk memeriksa log telepon, dan benar saja ada sekitar 28 missed call dan 40 sms masuk kedalamnya.

“Mia-”

“Sudahlah! Tak perlu mengatakan maaf lagi! Kau tahu!? Minah masuk rumah sakit! Dia sekarat!!”

“MWO!!!?????” hatiku terasa mencelos. Minah? Anakku yang telah kutinggalkan itu kini sekarat?? Aku tidak mimpi kan? Ini semua tidak mungkin! TIDAK MUNGKIN!!!!

Dengan segera aku meraih tas dan dompet serta mantel dan kunci mobilku kemudian berlari keluar ruangan menuju mobil yang terparkir di dalam basement tanpa sekalipun  mengindahkan sapaan beberapa orang yang kebetulan berpapasan denganku. Aku terlalu panik untuk sekedar membalas sapaan mereka.

“SHIT!!” aku menendang ban mobilku kesal saat menyadari bahwa ban bagian belakang mobilku bocor. Tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari keluar gedung untuk mencari taksi yang akan mengantarkanku menuju bandara.

“TAKSI!!!” aku melambai-lambaikan tangan kananku dan berteriak sekeras mungkin kearah taksi-taksi yang berlalulalang di depan gedung. Tapi sial! Tak ada satupun dari taksi yang melintas dihadapanku itu dalam keadaan kosong!

“TAKSI!!!!” pekikku saat melihat sebuah taksi kosong diseberang jalan. Namun lagi-lagi sial, taksi itu sudah kembali terisi oleh orang lain. Membuatku mengumpat kesal.

Dinn.. Dinn…

Sebuah sedan merah metalik berhenti tepat dihadapanku.

“Hyejin-ssi, mau kemana???” tanya si pemilik mobil yang ternyata adalah Jiyoung, saat kaca samping kemudi terbuka. Aku menatapnya sebentar, lalu tanpa bicara apa-apa lagi aku langsung membuka pintu samping dan masuk kedalamnya. Jiyoung tampak menatapku dengan tatapan bingung.

“Cepat antarkan aku ke Gimpo Airport!”

———

*Author POV*

“Omo~ Itu bukankah Chaehyun? Eh, anni, Hyejin maksudku. Mau kemana dia? kenapa terburu-buru sekali??” gumam  seorang pria yang sejak semalam bersembunyi dari dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari gedung SM.

“Kwon Jiyoung??” gumamnya lagi saat matanya tak sengaja menangkap sosok Jiyoung –si komposer Sment yang sedang hangat dibicarakan media akibat rumor yang tercipta diantara keduanya.

“AKU HARUS MENGEJAR MEREKA!!”

————

“Hey, Hyejin-ssi sebenarnya kau mau kemana sih? Kenapa kita mesti ke bandara???” tanya Jiyoung bertubi-tubi pada wanita yang duduk disebelahnya. Hyejin meliriknya sebentar lalu mendesah. Baru saja ia akan buka mulut, ponsel yang sedari tadi terus berada di dalam genggamannya berdering keras.

JoJo! seulpeun eumagi

heureul ttae neol saenggakhae (eh eh eh)

JoJo! janinhan neoneun wae

jiwojiji annnyago (oh oh oh)

 “Iya! Aku sedang menuju bandara sekarang! Bagaimana keadaan Minah??” Jiyoung memandang Hyejin dengan tatapan bingung. Wanita itu sejak sebelum masuk kedalam mobilnya memang sudah menampakkan raut seperti orang kebingungan, dan kini wajahnya menunjukkan raut kecemasan yang teramat sangat.

“Arraseo..” BIPP. Hyejin menghela napas berat dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran jok. Jiyoung berdehem keras membuat Hyejin mau tak mau melirik kearahnya.

“Siapa Minah??”

—–

Sesampainya di bandara Gimpo, Hyejin meminta Jiyoung untuk mengendarai mobilnya masuk ke dalam lapangan terbang dimana private jet yang dipesan oleh TOP berada. Jiyoung sendiri tampak terkesima saat melihat jet pribadi yang terparkir apik lengkap dengan seorang pilot dan co pilot serta seorang pramugari yang berbaris di sisi menuju pintu masuk pesawat hingga membuatnya tanpa sadar telah sampai di dekat pesawat berada dan segera menghetikannya begitu Hyejin memintanya.

“Gomawo atas tumpangannya,” Hyejin membungkuk sekilas lalu berlari keluar meninggalkan Jiyoung menuju pesawat. Jiyoung hanya bisa menganga parah begitu melihat pilot serta pramugari tadi tampak membungkuk dan menyambutnya Hyejin ramah sebelum akhirnya mereka masuk kedalam pesawat dan lepas landas meninggalkan area lapangan terbang.

“Whooa GILA!” Jiyoung berdecak tak percaya. Awalnya ia pikir Hyejin memintanya buru-buru mengantarkan ke bandara karena akan ketinggalan pesawat, tapi pikirannya salah. Ia tak pernah berpikir bahwa gadis yang disukainya akan sekaya itu karena sampai harus memakai pesawat pribadi hanya untuk mengantarkannya ke Jepang.

Dalam hati ia memekik kegirangan. Karena itu berarti ia tak salah pilih wanita! Hyejin tak hanya cantik tapi juga KAYA RAYA, dan pasti akan membuat kehidupannya berubah jadi kalangan JETSET dalam sekejap jika berhasil mendapatkannya!

Sementara itu, tak jauh dari tempat Jiyoung berada. Seseorang tampak sibuk membidik sesuatu dengan kameranya dari semak-semak.

 “Eh?? Pesawat carteran?? Kemana dia pergi?? Aku harus mencari informasi! Aku mencium sebuah berita besar!” gumamnya. Ia lantas mengambil sebuah ponsel dari dalam saku celananya dan mulai menghubungi seseorang.

“Dongsaeng-ah!! Kau masih di Jepang, kan?”

“….”

“Coba kau periksa Bandara Kansai, apakah ada jadwal kedatangan untuk sebuah pesawat charteran yang berasal dari Gimpo Airport, Korea, hari ini?”

“….”

“Arraseo. Tolong kau buntuti Chaehyun, dan kabari aku segera. Hari ini juga aku akan segera kesana.”

“Aku mencium sebuah berita besar,” ucapnya dalam hati sambil tersenyum licik.

~mrs.ChoiLee~

*Hyunjae POV*

 “HYA!!! BOCAH NAKAL! CEPAT KAU KEMBALI KERUMAH SEKARANG JUGA!!!!” pekik halmeoni di seberang telepon begitu aku menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselku, kontan membuatku segera menjauhkan benda berwarna hitam itu dari telingaku.

“Waeyo, halmeonie?? Aku sudah dalam perjalanan menuju Seoul, nanti malam aku harus mengisi acara ra-”

“HYA!!! CEPAT KEMBALI ATAU JANGAN PERNAH BERMIMPI KAU AKAN MELANJUTKAN KARIRMU SEBAGAI IDOLA!”

TUTTT-

Halmeoni langsung memutuskannya sebelum aku berbicara apa-apa. Aku terbengong hebat. Tak biasanya halmeoni menghubungiku dan menyuruhku untuk segera pulang seperti ini, apalagi baru saja ia mengancam bahwa aku tidak akan bisa melanjutkan karirku sebagai idola jika aku tak pulang sekarang juga. Ada apa ini?? Padahal sejak aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam impianku sebagai seorang desainer interior dan masuk kedalam fakultas hukum ia sudah merelakan aku masuk kedunia hiburan dan tak pernah bertindak macam-macam sampai saat ini. Tapi, ada apa sekarang? Kenapa ia sepertinya marah sekali??

———–

Sesuai dengan keinginan halmeoni, akhirnya aku meminta pada Seungri Oppa –yang menjemputku dari kampus untuk kembali ke Seoul- untuk memutar arah yang sebenarnya pada saat itu sudah keluar dari daerah Incheon menuju rumah kediaman keluarga ayahku. Dan sesampainya disana, aku sudah disambut oleh sosok wanita dengan usia yang sudah lanjut namun masih tampak sehat bugar itu dengan tatapan tajam dan tampak penuh emosi. Membuatku bergidik dan segera menundukkan wajahku tanpa berani menatapnya. Seumur hidup aku mengenalnya, belum pernah aku melihat ekspresi seperti ini darinya.

“Duduk!” ucapnya penuh dengan penekanan. aku mengangguk dan langsung mengambil tempat di salah satu kursi ukiran kosong yang menghadapa tepat kearahnya.

“H-halmeoni-”

“SIAPA YANG MENGIJINKANMU MENIKAH TANPA SEPENGETAHUANKU, HUH!!?” pekiknya penuh emosi, membuatku tersentak dibuatnya.

“H-halmeoni.. aku-” aku menatapnya takut. Wajahnya tampak merah padam akibat menahan emosi.

“HYA! JANGAN MEMOTONG UCAPANKU!” teriaknya. Aku menggigit bibir bawahku takut tanpa berani melihatnya. Seumur hidupku, baru kali ini ia memarahiku seperti ini.

“Hoshh.. Hoshh..” ia tampak mengelus-elus dada kirinya dengan sebelah tangan sambil mengatur napasnya yang sempat memburu. Cukup lama ia melakukan hal itu, dan aku hanya bisa menundukkan wajahku tanpa berani menatapnya. Ia terlalu menakutkan bagiku!

“Siapa suamimu? Katakan padaku,” ucapnya dengan nada yang sudah lumayan melembut, tak setinggi sebelumnya. Aku meliriknya takut. Kulihat kini wajahnya yang semula merah padam sudah kembali seperti biasanya, meski tatapan tajamnya masih ia hunuskan kedalam mataku. Membuatku kembali menundukkan wajah, tak berani menatapnya.

“Dia..”

“YA! Tatap lawan bicaramu jika sedang berbicara dengannya!” pekiknya lagi. Mau tak mau akupun menatap kearahnya.

“D-donghae Oppa. Lee Donghae, Super Junior Lee Donghae.”

~mrs.ChoiLee~

*AUTHOR POV*

Osaka, Japan.

Seorang wanita tampak berlarian kedalam sebuah rumah sakit besar di daerah Osaka dengan wajah panik. Entah sudah berapa orang yang ia tabrak, dan entah sudah berapa kali pula ia membungkuk untuk mengatakan ‘gomenasai’ pada orang-orang itu, sampai akhirnya sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu besar yang tertutup rapat dan bertuliskan ‘ruang operasi’ di bagian atasnya dan mendapati seorang pria berambut cokelat kepirangan tengah berdiri menyandar di tembok samping ruang operasi dengan sebelah tangan yang menutup sebagian wajahnya.

Melihat itu, membuat langkah cepat wanita itu terhenti. Hatinya terasa mencelos saat mendapati sosok pria yang sudah sebulan lebih tak ditemuinya itu kini terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan penampilannya juga terlihat berantakkan. Sepertinya sudah semalaman pria itu berada disana.

Dengan langkah perlahan dengan jantung yang terus berdegub kencang akibat mencemaskan kondisi anak semata wayangnya, wanita itu pun berjalan mendekat kearahnya lalu menepuk pundak pria yang terpaut 10cm lebih tinggi darinya itu pelan. Pria itu tampak tersentak, namun ia langsung menarik wanita itu kedalam pelukkannya begitu melihat sosok yang baru saja menyadarkannya dari tidur singkatnya barusan adalah istrinya yang amat ia rindukan.

Cukup lama keduanya saling berpelukkan erat seolah meluapkan segala kerinduan yang selama ini mereka pendam satu sama lain, sebelum akhirnya sang wanita melonggarkan pelukkannya dan melepaskannya perlahan, berganti menatap pria dihadapnnya itu dengan tatapan cemas bercampur sedih.

“Bagaimana Minah??” pria itu terdiam, lalu menunjuk kearah ruang operasi dengan dagunya.

“Sudah 5 jam dia berada disana,” ucapnya membuat wanita yang dihadapannya itu lemas dan nyaris kehilangan keseimbangannya jika saja ia tak sigap menopang tubuhnya dan segera memapahnya untuk di kursi panjang yang ada di depan ruang operasi.

“Ottohke?? Ottohke..” lirihnya dengan air mata yang tak terbendung lagi dan membasahi wajah cantiknya. TOP, pria yang tak lain adalah suaminya, mendekapnya erat, menepuk-nepuk belakang kepalanya lembut dan membiarkan Hyejin membasahi jas yang dikenakannya dengan air mata.

JEPRETTTT..

Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka berdua. Ada seseorang yang mengamati keduanya dan mengabadikan momen itu di dalam kameranya dari kejauhan.

TBC

Ahahahaha lagi” di CUT disaat yang tidak tepat :p

kkk~ so, yang masih pengen kelanjutannya minggu depan, mari di COMMENT~~

Iklan

17 thoughts on “SUPA DUPA DIVA -Part. 17

  1. wah, bgus bgt yah!
    gw lg demen baca part hyejin ma TOP malah di stop.ckck~
    yg minggu dpn tayangin skrg aj, haha
    penasaran gw ma part itu, ma part ahra meskipun udh ad byangan bener gk yh yg dipikiran gw.haha
    wis lanjut aj, gkgk~

    1. wkwkwkwk BIAR penasaran dong~~
      whaaaaaaaaa~~ KEREN! w suka gaya lo vi! tiap part jadi org pertama yg COMMENT~ XD
      *cium pipi*

      he?? sembarangan.. Oww tidak bisa~ :p
      bayangan apa coba?? bayangan hitam? haha
      simpn sendiri saja bayanganmu itu nak, silakan simak kelanjutan kisahnya #sokiyey haha

  2. covernya cantikk onn hhoo
    aeehh org lagi seruseru tiba2 di cut,,
    aiigoo~

    tpi kerenn oooonn~ benerr dahhh
    lanjuttt onnn~

  3. Jd tmbh galau. . . T.T

    meskipun agak, k’gujunpyo”an, tp tajir beeutt yak c’ T0P. . Pdhal msh 1 family ma gue. . . Ckckck~

  4. Jd tmbh galau. . . T.T

    meskipun agak, k’gujunpyo”an, tp tajir beeutt yak c’ T0P. . Pdhal msh 1 family ma gue . . . . Ckckck~

  5. Waduhh gmn yeah nasib hyojin d sidang ma nenek’y. Di + nasip minah yg mnjalani oprasi jd pnasaran lajutin donk he he he pnasaran buanget ni .oy klau bleh sih antara hyojin n donghe sempet mp ma pnya ank kyak’y asik he he he ngrep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s