Marry You *childish couple Vers* [1/2]

Cast :

  • Lee Donghae,
  • Kim Hyunjae/Cho Yoon-Dha/Amanda Cho (OC),
  • Cho Kyuhyun,
  • Tiffany Hwang,
  • Sehun EXO,
  • other Super Junior member.

~Marry You~

Sejak kepergian Hyunjae dua tahun yang lalu, Donghae telah menjelma menjadi seorang ‘workacholic’. Baginya tak ada waktu luang untuk bersantai, yang ada di dalam otaknya hanyalah bekerja.. bekerja dan bekerja..

Sejak Super Junior vacum sementara yang ditandai dengan wamilnya Leeteuk, Heechul, Yesung, Shindong serta Sungmin, kontan aktivitasnya pun teralihkan untuk lebih terkonsentrasi pada kegiatan Super Junior M. selain kegiatannya sebagai seorang member Super Junior M, ia juga mengambil alih posisi DJ sukira yang sebelumnya diambil alih Sungmin dari Eunhyuk, tak hanya itu berbagai kegiatan dari MC Music Core, model, acting hingga composer tetap SM ent pun kini ia lakoni. Baginya tidur 2 jam satu hari sudah cukup mengembalikan staminanya dari pada harus selalu dirumah dan malah terus terbayang wajah seseorang yang selalu membuatnya gamang.

Seluruh member Super Junior, keluarga, bahkan semua orang yang mengenalnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya yang gila kerja ini. Sementara Kyuhyun yang sudah secara pasti tahu akan alasan dibalik perubahan sikap Donghae selama ini hanya bisa memandangnya iba. Entah sudah berapa ratus kali ia mengingatkan Donghae untuk bersikap sewajarnya saja dan jangan terlalu gila kerja karena akan mengganggu kesehatannya, namun tetap saja Donghae tak mau peduli.

“Baguslah jika itu semua bisa membuatnya melupakanku,” itu lah sekiranya kalimat yang dilontarkan Hyunjae tiap kali Kyuhyun menghubunginya dan melaporkan tentang perubahan sikap Donghae yang drastis itu.

“Hmphh….” Kyuhyun menghela napas berat. Ia kesal tiap kali menghubungi adiknya dan membicarakan hal ini anak itu selalu saja menjawabnya dengan kalimat yang sama.

“Ya! Kapan kau pulang? Tak tahu kah kau halmeoni seperti cacing kepanasan tiap kali menghubungiku hanya untuk menanyakan keberadaanmu. Ia bilang ia ingin sekali menjitak kepalamu!” Hyunjae terkekeh mendengarnya. Selama ini kepergiannya ke Jerman memang ia rahasiakan dari halmeoninya, karena ia tak mau ambil resiko jika nantinya tahu-tahu halmeoninya yang terkenal keras itu akan datang dan memaksanya untuk kembali ke Korea seperti halnya saat beliau memaksa dirinya untuk masuk ke dalam fakultas hukum Universitas Inha, kampus yang notabene dikelola oleh salah satu yayasan pendidikan milik keluarga mereka.

“Nanti jika semua urusanku disini selesa-”

“Ya! Kapan selesainya jika kau mengulang kuliah mu dari awal, huh!? Kau bercanda, heh?? Kau itu baru semester 3 disana bagaimana mungkin kau kembali dengan segera kalau begitu???” protes Kyuhyun tak habis pikir. Hyunjae selama ini yang berkuliah di tingkat 3 Universitas Inha dan dalam kurun 2 tahun lagi akan lulus dari sana memang lebih memilih untuk angkat kaki sebelum kuliahnya selesai dan pergi ke Jerman –negara yang bahkan sama sekali belum pernah dikunjunginya sebelumnya- untuk mengejar beasiswa yang diperolehnya dalam testing online sebuah perguruan tinggi disana yang diikutinya secara untung-untungan beberapa bulan sebelum ibunya meninggal dunia. Kyuhyun yang baru mengetahui hal ini sebulan setelah kepergiannya dari sang ayah hanya bisa merutuk kesal dan mengatai adiknya ‘gila’ karena mengejar sesuatu yang belum jelas masa depannya, karena menurutnya meninggalkan pendidikan 5semester di fakultas hukum universitas terbaik di Korea hanya demi menempuh pendidikan dari ‘nol’ alias semester awal sebagai mahasiswa baru lagi di jurusan arsitektur universitas yang namanya kurang familiar ditelinganya merupakan sebuah hal yang sangat.. sangat BODOH!

Lagi-lagi gadis itu terkekeh mendengar ocehan kakaknya. Ia sudah kebal mendapatkan omelan seperti ini dari Oppanya itu karena sejak ia tahu Hyunjae berada di Jerman setidaknya ia selalu menghubunginya setidaknya seminggu sekali kini malah semakin sering menjadi setidaknya 3hari sekali. Hal ini membuatnya yakin pastilah Oppanya itu tak memiliki seorang kekasih karena waktu senggangnya selalu saja dipakai untuk menghubunginya.

“Itu kau sendiri tahu. HAHAHA,” tawanya membuat Kyuhyun geram. Dalam hatinya Kyuhyun bersumpah suatu saat jika ia mendapat jatah libur ia akan menggunakannya untuk mengunjunginya dan menjitaknya sekeras mungkin.

Tak jauh dari tempat Kyuhyun berbicara saat ini, tanpa ia sadari sejak tadi Donghae terus memperhatikannya dalam diam. Sejujurnya saja selama ini ia tahu bahwa Kyuhyun pastinya mengetahui dimana keberadaan istrinya itu meski tiap kali dirinya bertanya ia akan terus menjawab ‘tidak tahu’.

~mrs.ChoiLee~

Secara mengejutkan, pada hari dimana Donghae membawakan siaran radionya bersama Ryeowook sebagai DJ sukira, Donghae mengumumkan bahwa dirinya telah mendaftarkan diri untuk kegiatan wajib militer. Hal ini kontan saja mengejutkan para ELF khususnya Fishies yang memprediksi bahwa dirinya akan ikut serta akhir tahun depan bersama Eunhyuk, Siwon dan Ryeowook. Rupanya hal ini tak hanya mengejutkan para penggemar, melainkan para member lainnya yang baru mengetahui hal ini.

Layaknya Heechul pada tahun 2011 lalu yang dijadwalkan untuk keluar beberapa hari lagi, ikan Mokpo itu merasa bahwa dirinya sudah waktunya untuk menunaikan kewajibannya sebagai warga negara yang baik selama ia masih diberikan kondisi fisik yang memungkinkan, selain itu ia juga tak ingin jika nantinya akan banyak fans yang datang diacara pelepasannya menuju wajib militer karena banginya itu terasa sangat menyedihkan.

Padahal, dari lubuk hatinya yang terdalam alasan sebenarnya ia masuk kedalam militer adalah untuk menghilangkan rasa rindunya yang sudah sangat membuncah kepada istrinya yang bahkan keberadaannya tak ia ketahui, dan ia bertekat setelah menyelesaikan kegiatan militernya ini ia akan segera mencari tahu dan menjemput istrinya itu kembali ke sisinya.

~mrs.choilee~

“Kau tahu Donghae hyung memutuskan untuk masuk wamil lebih awal?” tanya Kyuhyun saat dirinya menghubungi dongsaengnya itu diam-diam di dalam toilet dorm lantai 12 ditengah-tengah acara pelepasan Donghae bersama member lainnya.

“Ya aku tahu,” jawabnya singkat.

“Lalu??”

“Apanya?” Kyuhyun menggertak giginya, gemas. Ia tak habis pikir apakah adiknya itu punya hati nurani apa tidak karena nada bicaranya datar dan sama sekali tak ada kesan rindu atau tak rela atau apapun di dalamnya.

“Kau tidak mau titip pesan apa atau mau bicara padanya??”

“Hmpphh…” gadis itu menarik nafas pendek. “Anni, jika aku bicara padanya itu akan memberikan kesan bahwa aku belum melepaskannya dan ia tak akan pernah mencoba melupakanku nantinya. Biarkan saja begini sampai ia menemukan penggantiku,” ucapnya dengan nada yang sangat tenang. Kyuhyun yang mendengarnya serasa gemas sendiri dengan tingkah adiknya yang ia rasa seperti anak kecil itu. Sangat CHILDISH! Padahal ia tahu dengan pasti kedua makhluk itu saling mencintai hanya saja entah kenapa adiknya itu memiliki gengsi setinggi langit sampai-sampai tak mau jujur dengan perasaannya.

Tokkk Tokk Tokk…

“Kyuhyun-ah… Kau sedang apa di dalam??? Lama sekali cepatlah perutku mulasssssss!!” teriak Eunhyuk sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi tak sabaran. Kyuhyun hanya bisa merutuk dalam hati karena telah salam memilih tempat.

“NE HYUNG~ SEBENTAR AKU SAKIT PERUT!!!!”

~mrs.choilee~

@Hyunjae flat’s Jerman

Hyunjae menatap benda lipat berwarna putih tulang yang ada dalam genggaman tangan kanannya sambil menghela napas berat. Baru saja Oppa-nya, Cho Kyuhyun menghubunginya untuk mengabarkan bahwa ia baru saja mengantarkan Donghae ke Camp.

Jujur saja ia agak sedikit keberatan karena Kyuhyun tak henti-hentinya menghubungi dirinya untuk sekedar memberitahukan keadaan Donghae, karena dengan begitu ia semakin sulit untuk melupakan sosok ikan Mokpo tersebut, meski diam-diam ia juga selalu mencaritahu tentang dirinya melalui internet.

“Amanda!! Beeilen wir zu spät dran!” teriak seorang gadis peranakan Korea-Austria yang merupakan teman serumah –atau lebih tepatnya satu apartment- Hyunjae selama ia berkuliah DUISBURG-ESSEN, Jerman, yang kebetulan juga satu angkatan dan satu fakultas dengannya di Jurusan seni dan desain, yang menyuruhnya untuk segera berangkat karena mareka sudah terlambat.

Hyunjae yang merasa dirinya dipanggilpun segera mengambil tas dan buku-buku serta tak lupa tabung miliknya dari dalam kamar.

“Ja, warten Sie eine Minute, ich komme!” (ya, tunggu sebentar, aku datang!)

~mrs.choilee~

Universitas Duisburg-Essen yang menjadi tempat berkuliah Hyunjae saat ini merupakansalah satu perguruan Tinggi Negeri yang terletak di negara bagian Nordrhein-westfalen, Jerman, yang merupakan gabungan dari dua Universitas yakni Duisburg dan Essen sebelum akhirnya menggabungkan diri pada tahun 2003.

Selama tinggal di Jerman, Hyunjae yang sama sekali tak punya persiapan-apa apa dan sama sekali buta tentang salah satu negara di Eropa itu tanpa sengaja bertemu dengan seorang peranakan Korea-Autria yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya di pesawat dalam perjalanan menuju Jerman saat pesawat yang ditumpanginya transit di Italia sebelum menuju ke Jerman.

Beruntung, ternyata Tiffany Hwang –nama gadis itu-juga berkuliah disana dan sama-sama murid beasiswa seperti dirinya. Tak seperti Hyunjae yang buta dengan seluk-beluk Jerman, Tiffany justru sudah sangat fasih dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Jerman karena sebelumnya ia memang tinggal disana sebelum akhirnya beberapa tahun yang lalu keluarganya pindah ke Italia.

Tiffany sendiri bisa dibilang berasal dari keluarga yang lumayan berada karena buktinya sesampainya mereka di Jerman ia langsung mengajak Hyunjae –yang memperkenalkan diri sebagai Amanda Cho, sesuai dengan passport dan surat-surat resmi yang dibawanya- untuk tinggal bersama di sebuah flat yang tak bisa dibilang sederhana karena untuk ukuran Hyunjae sendiri flat tersebut lebih cocok disebut sebagai apartment dari pada flat jika dibandingkan dengan ukuran apartment mewah di korea.

Dan sebagai seorang yang baru dikenal, Tiffany termasuk kedalam kategori ‘sangat ramah’! ia tak segan membayari ongkos taksi selama mereka dalam perjalanan menuju apartment dan ia juga bicara banyak tentang keluarganya baik yang berada di Austria maupun Italia. Tapi meskipun ia memiliki darah Korea dari almarhum ayahnya, ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Korea  karena ayahnya sejak kecil juga dibesarkan di Italia.

Namun begitu, sejak bertemu dengan Hyunjae, ia menjadi sangat bersemangat untuk mencari tahu lebih dalam tentang Korea karena selama ini hal-hal mengenai Korea yang ia tahu hanya drama boys before flowers yang itu pun tak sengaja ia tonton lewat tayangan tv kabel beberapa tahun yang lalu.

Dan kini berkat Hyunjae, atau lebih tepatnya Amanda, ia jadi jauh lebih mengenal tentang Korea serta kebudayaan nenek moyangnya juga sedkit-demi sedikit mengerti tentang bahasanya hingga akhirnya mulai mengerti arti-arti dari percakapan drama yang di tontonnya tanpa bantuan subtittle atau kamus seperti yang dilakukannya selama ini, meskipun dalam pengucapannya ia masih perlu dilatih lagi karena aksen yang diucapkannya terasa aneh.

~mrs.choilee~

“Amanda~ malam ini kau akan kembali bekerja di Vosen??” tanya Tiffany sambil mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas dengan handuk pink kesayangannya saat melihat Hyunjae sudah rapih dengan tas slempang dan sepatu ketsnya. Hyunjae meliriknya sekilas lalu mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu saja, besok kebetulan kita libur, jadi malam ini aku lembur,” jawabnya seraya menepuk pundak Tiffany pelan.

“Nun, ich ging~” (Aku berangkat~). Serunya saat meninggalkan flat mereka.

Tiffany hanya bisa menatap punggung temannya itu hingga ia menghilang di balik pintu lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak habis fikir kenapa teman serumahnya itu mau-mau saja bekerja part time disebuah toko roti kecil di dekat kampus mereka di jumat malam seperti ini, padahal gadis-gadis seusia mereka biasanya akan menghabiskan waktu mereka baik dengan pasangannya ataupun sekedar hang-out ke klub atau ketempat manapun untuk merefreshingkan otak mereka yang terasa suntuk, bukannya bekerja layaknya yang dilakukan temannya saat ini.

Jika uang menjadi alasan kenapa temannya itu bekerja, baginya itu tak masuk akal karena selama ini mereka mendapatkan beasiswa yang tak hanya cukup untuk membayar uang kuliah melainkan biaya hidup sehari-hari, apalagi ia dulu juga sempat tak sengaja melihat buku tabungan temannya itu yang isinya bisa dibilang ‘WAW’ untuk ukuran mahasiswa beasiswa seperti dirinya saat ia berniat meminjam pensil warna milik Amanda di kamarnya.

Kringg… Kriiingg…

Diliriknya telepon tanpa kabel berwarna merah muda yang terletak diatas meja pantry sebentar sebelum akhirnya ia putuskan untuk mengangkatnya.

“Hallo.”

“Hallo, Tiffany? Ich Sehun. können, um Amanda zu sprechen?” (Hallo, Tiffany? Ini aku Sehun, bisa bicara dengan Amanda??). Tanya seseorang diseberang telepon dalam bahasa Jerman yang sangat fasih begitu suara Tiffany terdengar di telingannya. Tiffany tersenyum menyeringai, sudah ia kira malam ini pria berkebangsaan Jerman keturunan Cina-Korea itu akan kembali menghubunginya untuk mencari tahu soal temannya itu. Belakangan ini pria dengan wajah imut sekaligus tampan itu memang selalu berusaha mendekati temannya itu, tapi ia sendiri bingung karena nyatanya pria se cute Sehun saja diabaikan oleh seorang Amanda Cho.

“Dia sedang bekerja di Vosen. Ada perlu apa?”

“Malam sabtu seperti ini??”

“Ya. Ada masalah?” jawabnya seakan tak peduli, padahal tanpa Sehun ketahui diseberang sana Tiffany sudah terkikik geli membayangkan apa jawaban yang dilontarkan pria itu sebentar lagi.

 “Hmphh..” pria itu terdengar menghela napas, membuat Tiffany menahan geli membayangkan ekspresi kecewa pria itu. “Awalnya aku ingin mengajaknya menemaniku mencari alat gambarku yang sudah usang, tapi jika tak ada yasudahlah aku akan membelinya sendirian-”

“Apa kau mau kutemani???” potong Tiffany cepat. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan pria itu jika ia menawarkan diri, apakah menolak atau malah menerimanya? Jika ia menolak seorang Tiffany Hwang, maka ia 10000% yakin jika pria itu memang benar-benar menyukai temannya bukan sekedar main-main.

“Eh?? Err.. ti-tidak usah aku nanti akan berusaha mencarinya sendiri saja,” jawabnya sedikit gelagapan. Jujur saja Tiffanya sedikit kecewa mendengar tawarannya di tolak, tapi ia senang jika nyatanya pria itu memang benar-benar menyukai Amanda.

“Danke, Tiffany. Auf Wiedersehen. Guten Abend.” (Terima kasih Tiffany, sampai jumpa dan selamat malam).

“Also, gute nacht.” (Ya, selamat malam)

Tiffany tersenyum simpul. Baru saja sambungan telepon mereka berdua terputus, dan ia merasa sangattt sangattt PUAS! Ia semakin yakin bahwa Sehun memang menyukai temannya karena ia tak begitu saja dengan mudahnya mengiyakan ajakan dirinya.

Oh Sehoon, atau biasa dikenal dengan Sehun merupakan teman masa kecil Tiffany saat ia tinggal di Jerman dulu sebelum akhirnya pindah ke Italia. Dan tanpa keduanya –Amanda dan Sehun- ketahui diam-diam ia memang berniat menjodohkan keduanya karena sejak mereka tiba di Jerman bahkan sampai duduk ditingkat akhir dan sebentar lagi lulus seperti saat ini, gadis itu sama sekali tak pernah terlihat dekat dengan pria manapun apalagi berkencan, sementara Sehun? Sejak awal pria itu memang memperlihatkan gelagat bahwa dirinya tertarik pada temannya itu, apalagi belakangan saat diadakan perkumpulan untuk keturunan Korea di kampus dimana ketiganya ikut serta bergabung dalam perkumpulan itu Sehun semakin intens mendekatkan dirinya pada Amanda.

~mrs.choilee~

“Vosen Bäckerei, willkommen,” (Vosen bakery, selamat datang) sapa Hyunjae ramah begitu terdengar bel pada sudut atas pintu masuk toko roti tempatnya bekerja berbunyi.

“Oh? Sehun??” kejutnya sedikit tak percaya saat menemukan sosok pria jangkung yang 3 tahun lebih muda darinya itu kini sudah berdiri dihadapannya dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku coat panjang yang dikenakannya. Ia terlihat sedikit kedinginan akibat udara diluar sana yang kebetulan memang sedang turun salju.

“Hallo,” sapanya dengan nada sedikit gemetar akibat menahan dingin. Hyunjae menatapnya bingung dan hanya membalas sapaan pria dihadapannya itu dengan senyuman seadanya.

“Kau tak apa? Kau terlihat kedinginan,” ucapnya cemas. Pria itu tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.

“Ich bin okay. Ich bestellte eine Tasse Kaffee heiß sein können?” (Aku baik-baik saja. Boleh kupesan segelas kopi hangat?)

“Na ja, warten Sie eine Minute. bald werde ich gehen,(Oke, tunggu sebentar nanti kuantar).

Tak sampai lima menit kemudian kopi yang ditunggunya pun datang. Hyunjae sendiri yang mengantarnya langsung kemejanya yang berada di paling sudut tepat di samping jendela besar yang mengarah langsung ke jalan.

“Ini pesananmu, dan ini roti dengan selai blueberry kesukaanmu, makanlah,” Sehun tersenyum senang kemudian mulai menyesap kopi pesanannya. Hyunjae berniat untuk kembali ketempatnya dibelakang meja kasir, namun ia terpaksa membatalkan niatnya saat melihat Clara, teman kerjanya sudah mengambil alih meja kasir dan memelototinya untuk tetap disana dan duduk menemani Sehun. Hyunjae melirik Clara yang sedang memelototinya dan Sehun yang malah asik sendiri dengan kopinya bergantian lalu meringis kecil sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di hadapan pria itu.

“Kau bukan sengaja kemari untuk menemuiku kan?” sambarnya langsung, mengingat rumah Sehun sangat jauh dari tempatnya saat ini. Sehun meliriknya dari balik cangkir kopi yang diminumnya kemudian tersenyum penuh arti sambil menaruhnya kembali keatas meja.

“Tadi aku menghubungimu ke flat, tapi Tiffany bilang kau ada disini,” jawabnya seadanya. Hyunjae merutuk dalam hati, entah sudah berapa kalimat sumpah serapah yang dilontarkannya untuk teman serumahnya itu karena sudah memberitahukan keberadaannya pada pria dihadapannya ini.

“Memangnya untuk apa kau mencariku?”

Lagi-lagi pria itu tersenyum. “Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin bertemu denganmu.”

Hyunjae mendesah. Pria dihadapannya yang berusia 3 tahun lebih muda darinya ini tadi pagi baru saja menyatakan cinta padanya di taman belakang gedung fakultas, namun tentu saja ia tolak dengan mengatakan sesuatu yang bagi seorang Oh Sehoon merupakan sesuatu yang tak masuk akal.

*FLASHBACK*

“Amanda, bisa bicara sebentar?” tanya Sehun langsung saat sosok yang ditungguinya sejak tadi di depan pintu keluar ruang praktek seni lantai 3 keluar dari kelasnya sambil tertawa riang bersama Lauren teman sekelasnya. Hyunjae melirik teman sekelasnya itu sebentar kemudian mengangguk mengiyakan setelah Lauren tersenyum pada keduanya dan pergi meninggalkan mereka.

“Ada apa?” tanyanya sambil tersenyum ramah ketika keduanya sudah sampai di taman belakang fakultas. Taman itu tak terlalu besar, dan hanya terdapat beberapa buah pohon cemara disana serta sebuah patung diatas kolam air mancur berukuran mungil yang dimana saat musim dingin seperti saat ini pastinya dipenuhi dengan tumpukkan salju dan membuatnya sepi dari pengunjung yang biasanya berkumpul disana untuk sekedar mencari angin.

Bukannya menjawab, Sehun malah menyelipkan sebelah tangannya kedalam saku coat merah bata yang dikenakannya, melipat sebelah kakinya dan kemudian berlutut dihadapan gadis itu seraya menyodorkan setangkai mawar merah segar kehadapannya, membuat gadis itu terkejut.

“Jujur saja selama ini aku selalu memperhatikanmu, dan aku merasa bahwa aku sangat menyukaimu..

“Jadi… mau kah kau menjadi kekasihku?” kedua mata gadis itu terbelalak. Ia terkejut bukan main akan pernyataan pria di hadapannya itu. Selama ini ia mengira pria itu pasti akan menjadi sahabat yang baik baginya mengingat selama setahun belakangan ini Sehun bisa dikatakan selalu menjadi teman yang asik untuk diajak bicara.

Hening.

Cukup lama situasi itu menggelayut diantara mereka hingga akhirnya Hyunjae sendiri yang meletakkan kedua tangannya diatas pundak pria itu dan menariknya untuk duduk di salah satu bangku kayu yang ada disana.

“Dengar, Oh Sehoon, maaf jika jawabanku ini mungkin agak mengecewakanmu, pria itu tersentak, kemudian menatapnya dengan tatapan bingung. Hatinya kebat-kebit tak karuan mengira-ngira jawaban apa yang akan dilontarkan gadis itu karena pada pembukaannya saja ia sudah menyinggung kata ‘mengecewakan’.

“Hmpphh..” gadis itu mengambil jeda sebentar sebelum menyambungnya kembali. Sehun menatapnya gusar.

“Kau tahu? Usiaku kini sudah menginjak 25 tahun, dan kau..

“Kau baru berusia 22 tahun. Dalam lubuk hatiku yang terdalam serta akal sehat yang pernah kumiliki, hal ini tak dapat kuterima, karena bagiku..

“Aku tak akan pernah menerima seorang pendamping yang lebih muda dariku,” jelasnya dengan nada setenang mungkin. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sendiri bingung dengan apa yang ia ucapkan saat ini. Kenapa ia bisa memberikan alasan yang bagi sebagian orang di luar logika?? Toh di zaman seperti ini perbedaan umur sudah tak menjadi persoalan.

Sehun memandangnya dengan pandangan bingung. Namun akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis.

“Begitukah?”

“Ha?” kali ini gadis itu yang balik memandangnya tak mengerti. Pria itu tersenyum miring lalu bangkit dari posisi duduknya, berdiri tepat dihadapan Hyunjae dan melayangkan tatapan serius padanya.

“Jika itu masalahnya, akan kubuktikan padamu bahwa usia tidak mencerminkan tingkat kedewasaan seseorang,” ucapnya dengan nada serius sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Hyunjae yang duduk terpaku di tempatnya.

*FLASHBACK END*

—-

“Jadi kau benar-benar kemari ditengah hujan salju sengaja untuk menemuiku?” tekannya sekali lagi, masih tak percaya akan ucapan pria yang kini sibuk memakan roti pemberiannya itu. Pria itu lagi-lagi tersenyum.

“Tentu saja. Jika bukan untukmu untuk apa aku harus bersusah payah berlari dari rumahku menuju jalan raya untuk menaiki bus dan nempuh jarak 10km dengan subway sampai ujung blok universitas jika itu semua kulakukan dengan alasan rindu memakan roti isi kesukaanku ditengah hujan salju seperti ini?”

Hyunjae tersenyum kecut. Benar dugaannya, ternyata Sehun memang sengaja datang hanya untuk menemuinya. Entah mengapa hal ini justru membuatnya nampak bersalah.

—-

“Jadi siapa pria itu?” goda Clara saat keduanya sedang berganti pakaian diruang ganti dan bersiap untuk pulang.

“Siapa yang mana maksudnya?” tanya bingung. Clara berdecak kesal.

“Aihh… Itu pria yang sampai saat ini masih menunggumu di depan toko,” dahi Hyunjae berkenyit. Clara kembali berdecak untuk kesekian kalinya. “Pria tampan yang tadi datang dan berbicara denganmu. Siapa dia?”

Gadis itu terbelalak.

“Apa dia menungguku diluar?” tanyanya. Clara mengagguk pasti. dengan segera ia mengambil tas slempangnya dari loker dan berlari keluar.

“Aku duluan~~” teriaknya.

“HEY!! KAU BELUM MEMBERITAHUKU SIAPA PRIA TAMPAN TADI!!!”

Sementara itu diluar, sesuai perkataan Clara, Sehun memang masih berdiri menunggunya di samping pintu masuk toko roti tempatnya bekerja. Hyunjae mendesah. Ia tak habis pikir kenapa pria itu masih saja rela menunggu dirinya ditengah hujan salju seperti saat ini padahal tadi ia sudah dengan jelas menyuruhnya untuk pulang dan jangan menunggunya.

“Sudah selesai? Ayo kita pulang.”

~mrs.choilee~

 “Kapan acara wisudamu sayang?” tanya Cho Hyunjae dari seberang telepon begitu mendengar kabar mengenai kelulusan anak bungsunya.

Hyunjae tersenyum kecil, “bulan depan, appa, saat musim semi tiba.”

“Benarkah? Itu artinya selama sebulan kedepan kau akan menganggur disana tanpa kegiatan?”

Kim Hyunjae menggeleng, “Anni, setidaknya dalam sebulan ini aku akan berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku.”

“Mwo? Appa kira kau akan segera kembali ke Korea dan memegang salah satu yayasan milik keluarga kita? Bukankah galeri seni peninggalan Harabeoji-mu itu masih dipegang oleh orang lain, dan Halmeonimu ingin salah satu dari keturunannya yang akan mengurusinya,” dari nada bicaranya Cho Hyunjae terdengar sedikit kecewa akan jawaban yang diberikan anak gadisnya itu. Selama ini ia sengaja membiarkan Hyunjae kecil itu berkuliah di luar negeri hanya demi memberikan ketenangan kepada anaknya itu selepas kepergian mantan istrinya, bukan untuk benar-benar melepasnya dan membiarkannya bekerja diluar dan tak kembali ke sisinya.

Kim Hyunjae tersenyum tipis. Ia sudah mengira Appanya serta keluarganya yang lain pasti akan memaksanya pulang selepas kelulusannya. Namun entah mengapa ia seolah masih enggan untuk kembali ke negara kelahiran yang telah melambungkan namanya beberapa tahun yang lalu itu. Ia belum siap jika nantinya ia harus bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya ataupun pernah mengenalnya dan menanyakan tentang keberadaannya selama ini, karena setahunya sesaat setelah beberapa bulan ia tinggal di Jerman beberapa media masih mengungkit tentang keberadaan dirinya yang tiba-tiba menghilang meskipun pihak SM ent. telah mengkonfirmasi bahwa dirinya saat itu memutuskan untuk kuliah keluar negeri dan meninggalkan karirnya untuk sementara.

Padahal pada kenyataannya ia justru telah mengundurkan diri dari agensi yang telah membesarkannya itu untuk selamanya, bukan cuti untuk sementara seperti apa yang mereka katakan yang menurutnya hanya untuk meredam rasa penasaran media.

“Appa pasti akan kesana merayakan hari wisudamu,” lanjut Cho Hyunjae lagi.

“Tentu saja, keluargaku hanya tinggal kalian bertiga. Mana mungkin aku membiarkan diriku merayakan hari kelulusanku seorang diri?” kekehnya dengan nada sedikit merajuk. Sejak kepergian ibunya, perlahan Kim Hyunjae memang mulai mengakrabkan diri pada Appanya itu, terlebih saat Appanya membiarkan dirinya untuk keluar negeri seperti ini ia justru malah terlihat lebih perhatian padanya dengan selalu menyempatkan diri untuk menghubunginya lewat telepon maupun skype seperti apa yang biasanya mereka lakukan setiap akhir pekan. Appanya bahkan selama 4 tahun lebih ia menetap di Jerman terhitung sudah 6 kali mengunjunginya dengan mengajaknya makan diluar, sementara Kyuhyun yang selalu mengancam untuk mendatanginya dan menjitaknya sekeras mungkin malah belum pernah sama sekali bertemu dengannya.  Namun biarpun begitu, ini sudah sangat membuatnya senang.

“Kau tidak memberi kabar pada suamimu?” Hyunjae terdiam. Mendengar kata ‘suami’ disebut membuatnya tak enak hati. Tak seperti Kyuhyun yang mengetahui bahwa dirinya telah melepaskan seorang Lee Donghae, Appanya justru tak tahu sama sekali dan masih menganggap bahwa anaknya itu masih berhubungan baik dengan Donghae.

“E-eh? Ya nanti akan kuberitahu,” jawabnya –bohong- pada akhirnya.

~mrs.choilee~

Pagi-pagi sekali Hyunjae sudah datang ke Vosen Bakery, tempatnya bekerja paruh waktu selama 3 tahun belakangan ini. Hari itu ia datang bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengambil gajinya selama sebulan ini sekaligus pamit kepada pegawai lainnya karena ia akan resmi berhenti bekerja dengan alasan untuk fokus mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya, meski sebenarnya ia tak ingin jika ayahnya tahu bahwa selama ini ia diam-diam bekerja di toko roti dan nyaris sama sekali tak menyentuh uang bulanan yang dikirimkan untuknya.

“Kami akan sedih sekali karena harus kehilanganmu di toko ini,” nyonya Bucker si pemilih Vosen memeluk tubuh mungil Hyunjae erat kemudian melepasnya dengan tatapan tak rela.

“Iya, aku akan sangat merindukanmu Amanda!” Clara tak mau kalah dengan ibunya, ia juga memeluk tubuh rekan kerja sekaligus pegawai ibunya itu erat seolah tak mau melepaskannya jika bukan nyonya Bucker yang membantu Hyunjae melepaskan dirinya dari pelukkan mematikan Clara.

“Terima kasih semuanya,” ia membungkuk sopan pada kedua ibu-anak itu emudian menatap mereka bergantian sambil tersenyum, “Aku berjanji akan sering mampir kemari.”

—-

“Hey! Kau kenapa tak pernah cerita jika kau dulunya artis di Korea!!!???” pekik Tiffany nyaring dengan bahasa Korea yang masih sedikit berantakan sambil berlari menghampiri Hyunjae yang sedang sibuk dengan i-padnya –mencari-cari lowongan pekerjaan- di ruang tengah flat tempat tinggal mereka.

Hyunjae mengalihkan perhatiannya pada Tiffany, memandangnya dengan wajah terkejut. Selama ia tinggal bersama Tiffany selama ini, teman serumahnya itu memang tak pernah tahu masa lalu Hyunjae adalah seorang penyanyi, dan tak ada ada seorangpun tahu bahkan mengenalinya sebagai Kim Hyunjae salah seorang penyanyi wanita Korea yang namanya sedang hangat-hangatnya di perbincangkan. Karena selain saat itu namanya memang terbilang masih sangat baru, selama di Jerman ia memang tidak pernah menggunakan nama KIM HYUNJAE, melainkan CHO YOON-DHA, atau AMANDA CHO, nama pemberian ayahnya yang memang digunakan untuk semua dokumen-dokumen resminya, jadi kemungkinan besar orang-orang Jerman psti tak akan mengenalinya, kalaupun ada pasti keyakinan mereka terbantahkan dengan namanya yang tak sama.

“Eh? Kau tahu darimana?” tanyanya senormal mungkin, ia tak mau kalau temannya itu merasa kalau selama ini Hyunjae memang telah membohonginya.

“Ini! Lihat! Lihat! Saat aku mencari tahu soal drama dream high yang dibicarakan Sharon dan Jessica tadi pagi –yang katanya semalam diputar di tv nasional kita- di kantin, aku malah menemukan wajahmu di daftar pemainnya!” Tiffany menyodorkan layar Tab miliknya kehadapan Hyunjae. Di layar itu menampilkan foto profil dirinya saat memerankan peran Go Hyemi dalam drama idola, Dream High. Gadis itu melotot, terkejut, namun segera mengembalikan ekspresinya setenang mungkin.

“Itu kau kan?? Ayo mana sini kulihat passport mu!??” desaknya. Hyunjae menghela napas.

“Di dalam laci meja belajar, di dalam map biru,” jawabnya malas. Tiffany segera berlari ke kamar Hyunjae yang berada di depan kamarnya, mengambil passport milik Hyunjae yang ia yakini pasti isinya pasti sesuai dugaannya. Sementara itu di ruang tengah Hyunjae sendiri sedang menguatkan batinnya, ia tahu sebentar lagi apa yang ia tutupi selama ini pasti terbongkar, dan jika begitu adanya ia sudah siap mengatakan semuanya.

“Namanya beda! Kau mengganti namamu ya??” Tiffany menyeruak duduk disamping Hyunjae yang saat itu masih memperhatikan profil dirinya lewat layar Tab Tiffany diatas sofa merah berbentuk bibir dengan posisi kaki terlipat.

Gadis itu mengalihkan tatapannya dari layar i-pad, menatap Tiffany lalu menghela nafas berat.

“Tidak, Kim Hyunjae memang nama pemberian ibuku yang digunakan sebagai nama stage-ku di Korea, sementara Cho Yoondha, adalah nama pemberian ayahku. Dan entah sejak kapan nama itu telah tertulis dalam seluruh dokumen resmiku,” jelasnya yang diakhiri dengan sebuah helaan napas.

“Mianhae, Tiffany-ah jika kau merasa aku telah membohongimu,” ia menatap wajah temannya itu dengan tatapan bersalah. “ Aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja aku ingin melupakannya. Kau tak keberatan kan?”

Diluar dugaan, Tiffany malah mengangguk, tersenyum lalu memeluknya erat.

“Gwenchana~” ia menepuk-nepuk pundak Hyunjae pelan.

“Aku berteman denganmu kan bukan untuk suatu kepentingan, jadi aku selalu menerimamu apa adanya~~” jawabnya riang seperti biasanya. Hyunjae tersenyum. Jalan pikiran orang barat ternyata memang berbeda, pikirnya.

~mrs.ChoiLee~

Entah sudah berapa firma, perusahaan, sampai galeri desain interior yang Hyunjae datangi dan kirimkan cv lamaran dirinya hari itu. Sejak memutuskan untuk keluar dari Vosen kemarin pagi, ia memang sibuk mendatangi dan mengirimkan cvnya satu persatu keseluruh tempat yang kira-kira dapat mempekerjakannya sebagai seorang desainer interior.

 Ini baru hari pertama, tapi ia sudah sangat merasa lelah. Jelas saja, sejak pagi buta disaat teman serumahnya bahkan masih bergelung dengan mimpi indahnya ia malah sudah berada di dalam subway menuju Berlin, dan sampai sore hari seperti ini perutnya masih belum diisi apapun selain segelas susu yang dibuatnya tadi pagi.

“Lapar..” gumamnya dengan sebelah tangan yang memegangi perutnya yang sudah ribut minta diisi. Ia mengedarkan matanya kesekeliling sebentar hingga mata cokelatnya itu berhenti disebuah titik dimana sebuah kedai kecil penjual roti isi dan menu barat lainnya terlihat berada di pinggiran taman kota. Dengan segera iapun menghampirinya dan memesan beberapa macam menu makanan yang kira-kira mampu menghilangkan rasa lapar.

Sebungkus Hamburger isi daging sapi asap dengan taburan keju berukuran jumbo serta segelas moccachinno pun menjadi pilihannya sore itu. Setelah membayar dan menerima pesanannya, iapun memilih untuk duduk di salah satu bangku kayu yang ada di taman itu dari pada menyantapnya di dalam kedai yang hangat. Udara Berlin hari itu memang sudah mulai menghangat tak seperti beberapa hari yang lalu dimana terjadi hujan salju, musim semi sepertinya akan tiba sebentar lagi jadi ia lebih memilih untuk sedikit menikmati masa-masa peralihan musim itu dengan tetap duduk diluar ruangan bersama udara dingin yang sesekali memang terasa menusuk kulitnya yang terbungkus mantel merah terang.

“Aigoo.. perutku sakit!” keluhnya tak lama setelah menyantap setengah porsi makanannya. Mendadak wajahnya pucat, keringat dingin membasahi wajahnya di tengah udara dingin kota Berlin. Kedua tangannya sibuk memeluk perutnya sendiri, mencoba menghilangkan rasa sakit.

“Argh.. Apo..” rintihnya. Perutnya semakin terasa perih. Ia mengernyit, lalu memaki dirinya sendiri dalam hati saat melihat gelas karton berisikan moccachinno yang dibelinya tadi.

“Babo!” rutuknya saat tersadar akan kebodohan yang dibuatnya barusan. Ia lupa bahwa perutnya tadi pagi belum diisi dan malah meminum kopi.

Setelah merasa sedikit baikkan, ia pun memutuskan untuk bangkit dan berjalan menuju pinggir jalan untuk menyetop taksi yang akan membawanya menuju apotik terdekat guna membeli beberapa obat penghilang sakit perut.

Dengan langkah sedikit tertatih ia pun berusaha sebisa mungkin berjalan seimbang di tengah jalanan licin akibat salju yang menumpuk dan menutupi nyaris seluruh areal taman dengan boots hitam tinggi yang dikenakannya hari itu.

“Aits!” pekiknya saat dirinya beberapa kali nyaris terjatuh saat tak sengaja menginjak lapisan es yang licin.

Beruntung dirinya tak jadi terjatuh. Ia menghela napas lega. Dilihatnya kedepan, ia hanya perlu menaiki beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai di pinggiran trotoar. Dengan langkah hati-hati iapun perlahan mulai menaiki anak tangga yang sangat licin akibat dilapisi es tersebut.

“ARGHH!!” pekiknya saat tiba-tiba keseimbangannya menghilang saat salah satu boots keluaran salah satu perancang favoritnya menginjak salah satu anak tangga yang sangat licin. Dan dalam sekejap tubuhnyapun tergelincir dan berputar beberapa kali sebelum akhirnya kepalanya mengantam sebuah patung anjing penjaga yang terletak di kedua sisi bawah anak tangga.

Kepalanya berdenyut keras. Tatapannya mendadak kabur. Sempat tercium bau anyir dan teriakkan beberapa orang ditelinganya sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.

TBC

yeorobeundeul~~ Marry You childish couple ini lanjutan story dari SDD hyun-hae couple yg di cerita sebelumnya belum jelas akhirnya kkkk~ cuma twoshot alias 2 chapt *insyaallah* lanjutannya kira” tanggal 14 feb ya~ XD

Iklan

24 thoughts on “Marry You *childish couple Vers* [1/2]

  1. aku datang ndaaaa…
    hehehehehehe…
    aku nggak nyambung dikit karena blm baca SDD #plakk
    tapi ngerti laaah…
    intinya si Hyunjae kabur gara2 stress *intinya*
    dan ninggalin Donghae gitu aja…
    Donghae galau deh hahahahahaha…

    yowes aku tunggu lanjutannya

  2. Sehun…………………..
    aku kira HunFany……………………-_-
    bikin HunFany donk thor………………………….^_^

  3. Huhu, haeppa nya ditinggal hyunjae 😦 haeppa sini sama aku aja #plakk #dilemparELFHISY XD
    huaa, hyunjae cocoknya sm haeppa aja jgn sm sehunnie (‘_’) sehunnie milik ku #tutupmuka 😀
    eonnie, part 2nya diprotect ya? Minta password boleh? ^^

  4. Kyaaa berharap hyunjae sama donghae oppa lagi:( apa kurang donghae oppa? Ganteng, baik, narinya keren dan…. #plakkkk #kepanjangan-.-
    Sama kenapa itu dipotong pas bagian serunya? #semuajugaserudeng
    Eonnie, minta password yang ke2 nya dong boleh? Hihi^^

  5. hai,, salam kenal q reader baru di wp ini,,,,
    q suka sama nie ff,,,, penasaran banget ma lanjutannya ,,,
    bisa minta PW nya ….
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s