MARRY YOU *childish couple vers* [2/2]

Cast : 

  • Lee Donghae
  • Kim Hyunjae / Cho Yoondha / Amanda Cho
  • Cho Kyuhyun
  • Tiffany Hwang
  • Sehun EXO-K
  • Other Super Junior member
  • Other SDD cast

~Marry You~

@Korea

“Dongsaeng-ah~~ Selamat datang kembali!!!” seru Shindong dan Kangin girang begitu pintu apartment asrama lantai 12 terbuka dan menampakkan sosok Donghae dengan seragam ala militer yang dikenakannya. Dengan segera kedua orang pemilik tubuh paling besar itu memeluknya erat, sementara Kyuhyun cukup tersenyum manis padanya sambil memainkan konferti ditangannya.

“Yeorobeundeul~ Donghae kecil kita sudah kembali!!!” teriak Kangin penuh semangat ditengah pelukkannya pada tubuh Donghae.

Heechul yang kebetulan sedang menjalankan panggilan alam yang sejak tadi pagi membelenggu bagian perutnya yang terdalam hanya bisa teriak-teriak memanggilnya dari dalam toilet.

“YA!!!! JANGAN MULAI PERAYAANNYA TANPA AKU!!! TUNGGU AKU SEBENTARRRRRRRRRRRRRRRRR!!!! DONGHAE AKU HARUS JADI ORANG PERTAMA YANG KAU PELUK!!!” teriaknya dari dalam toilet yang tentu saja tak terdengar jelas oleh mereka semua.

Sungmin yang saat Donghae tiba masih sibuk di dapur untuk menyiapkan pumpkin juice andalannya segera mematikan blender dan langsung menarik paksa Donghae kedalam pelukkannya.

“Dongsaeng-ah… neomu… neomu bogoshippoyo!!!!!”

Sementara itu, Leeteuk, dan Yesung yang sedang memiliki jadwal datang agak sedikit terlambat siang itu untuk perayaan Donghae, sedangkan Eunhyuk dan Siwon masih menjalankan tugasnya sebagai militer sampai beberapa bulan kedepan, sementara Kibum dan Ryeowook akan menyusul keduanya keluar dari militer akhir tahun ini.

~mrs.choilee~

“Sudah 4 tahun Kyuhyun-ah,” ucap Donghae tiba-tiba saat dirinya dan Kyuhyun tengah berdiri di beranda menikmati indahnya pemandangan kota Seoul di malam hari. Kyuhyun menoleh, memandangnya dengan tatapan seolah tak mengerti. Donghae tersenyum miris lalu menyesap segelas sampanye di tangan kanannya.

“Empat tahun lalu ia pergi dan menghilang tanpa jejak..” Kyuhyun menatapnya serius.

“Dan tepat dua tahun yang lalu aku bersumpah bahwa aku akan mengejarnya dan membawanya kembali kedalam dekapanku,” Donghae berbalik, menatap lurus sosok Kyuhyun yang kini masih menatapnya dengan pandangan serius.

“Awalnya kukira dengan melepasnya pergi aku akan sanggup bertahan..

“Selama ini aku hidup seperti ini layaknya seseorang yang gila kerja itu hanya demi melupakannya sejenak dari ingatanku, tapi nyatanya??? Empat tahun berlalu dan aku tak sanggup melupakannya Kyuhyun-ah..” nada bicaranya bergetar. Tatapannya kin berganti sendu.

“Kau tahu? Disini..” Donghae meletakkan tangan kanannya tepat disebelah kiri dadanya, ditempat dimana jantungnya berada, lalu meremas sweater merah rajutan yang dikenakannya dan mencengkramnya kuat. “Hatiku terasa sakit.. Aku merasa hampir mati.. Kenyataannya aku tak bisa hidup tanpanya..” air mata Donghae yang sejak tadi ditahannya pun runtuh membasahi wajahnya yang masih terlihat sangat muda bahkan diawal usianya yang menginjak angka 30 tahun.

Kyuhyun memandangnya iba. Ia mendesah pelan lalu kembali menegak wine dalam genggaman gelas di tangannya.

“Kalian ini kenapa kekanakkan sekali??” Kyuhyun berdecak pelan. Donghae mengerutkan keningnya bingung.

“Ya, hyung. Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sejak awal? Jika kau mengakuinya sejak awal padaku dan tidak berpura-pura seolah tak peduli seperti itu aku pasti akan melanggar janjiku pada Appa dan si anak bodoh itu dengan memberitahumu tentang keberadaannya,” Kyuhyun tersenyum miring.

“M-maksudmu?” tanyanya masih tak mengerti akan ucapan Kyuhyun.

“Jika kau mengatakan padaku bahwa kau tak bisa hidup tanpanya dan hanya ingin berada terus disampingnya, pasti aku akan mengatakan bahwa ia berada di Jerman,” jelasnya yang diakhiri dengan sebuah senyuman nakal.

“M-mwo?? M-maksudmu???”

“Dia di Jerman, hyung,” jelas Kyuhyun sekali lagi. Donghae menatapnya tak percaya.

“Jerman??” Kyuhyun mengangguk pasti.

Seolah baru saja mendapat sebuah undian lotre, Donghae langsung menangis senang lalu memeluk tubuh sang magnae erat.

“Gomawo!” ia menepuk pundak Kyuhyun ringan sebelum akhirnya berlari ke dalam kamarnya dan tak lama kembali berlari keluar dengan sebuah tas ransel yang tergantung dibelakang punggungnya.

“Ya! Ya! Mau kemana kau!!!???” pekik Heechul saat pundaknya tak sengaja di tabrak Donghae saat pria itu berlari menuju pintu keluar.

“AKU PERGI!!” jawabnya sebelum membuka pintu dan membantingnya.

“HYAAAAAAAA!!! PESTANYA BELUM SELESAI!!!!!” teriak Leeteuk tak terima. Kyuhyun menepuk pundaknya pelan.

“Biarkan saja, hyung. Dia akan mengejar hatinya yang selama ini hilang,” ucapnya sambil tersenyum.

~mrs.choilee~

Drttt… Drtt…

Ponsel Kyuhyun yang diletakkan di atas meja kaca ruang tengah bergetar keras. Si pemilik yang kehilangan kesadarannya setelah meneguk banyak-banyak wine buatan tahun 1976 tampak tak peduli dan lebih memilih meneruskan mimpi indahnya diatas sofa panjang yang ada disana. Leeteuk yang ikut tertidur di lantai bersama Sungmin, Shindong, Yesung serta Kangin tampak terusik dengan getaran keras yang berasal dari meja yang ada tepat disamping tubuhnya.

Drtt… Drtt..

“Aishh!!” rutuknya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Masih dalam keadaaan setengah sadar.

Merasa tak dipedulikan, akhirnya benda itupun berhenti dengan sendirinya. Namun tak lama kemudian benda berbentuk kotak tipis itupun kembali bergetar, membuaat Leeteuk yang sebelumnya sudah mulai terusik jadi mau tak bau memaksakan dirinya untuk bangun dan menatap benda itu dengan tatapan sengit.

“Tak sopan! Siapa yang menelpon  tengah malam seperti ini!??” gerutunya saat melihat jam dinding yang terpajang diruang tengah baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Meski begitu, tetap saja diraihnya ponsel yang ia tahu benar milik Kyuhyun itu dan digesernya ikon hijau pada layar tanpa ijin sang pemilik.

“Yeob-”

“Hallo, Cho Kyuhyun?? Maaf aku hanya ingin menyampaikan bahwa Amanda saat ini terluka parah dan dirawat dirumah sakit! Aku bingung siapa lagi yang harus kuhubungi selain dirimu. Tolong cepatlah kemari!”

Tut-

Sambungan merekapun terputus, menyisakan Leeteuk yang tampak shock dengan apa yang baru saja ia dengar. Sumpah demi apapun juga ia sama sekali tak menangkap maksud dari ucapan gadis yang baru saja bicara itu. Karena selain ucapannya tak jelas, gadis itu juga bicara dengan kecepatan diluar batas wajar.

“Ya! Kyuhyun-ah! Ireona!”

~mrs.Choilee~

 Setelah menghubungi orang yang sebelumnya menghubunginya lewat Leeteuk, dan mengetahui tentang keadaan adiknya di Jerman saat ini, dengan segera ia mengambil pasport dan kuci mobil serta dompetnya di dorm bawah sebelum akhirnya pergi menuju bandara.

Sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya berdoa demi keselamatan adik semata wayangnya itu agar tak terjadi apa-apa. Tak sampai 2 jam dengan kecepatan maksimal, ia pun sampai di bandara Incheon pagi-pagi buta. Belum banyak orang yang berlalu-lalang disana sepagi itu, jadi ia bisa dengan leluasa berlarian mencari loket tiket yang kira-kira menjual tiket pesawat denga tujuan Jerman hari itu.

“OMO! HYUNG!!!” pekiknya saat kedua matanya menangkap sosok Donghae terlihat baru saja keluar dari antrian salah satu loket penjualan tiket. Dengan sekuat tenaga iapun menghampirinya dengan tatapan yang sangat sulit Donghae artikan.

“Hey, kau tak sengaja kemari untuk menghalangi kepergianku kan?” tanyanya curiga saat mendapati adik iparnya itu mendatangainya di bandara pagi-pagi buta seperti ini. Kyuhyun menggelang, napasnya tersengal akibat berlari.

“Anni, kalau begitu aku tak akan menyusulmu sekarang ini, tapi sejak kau meninggalkan dorm semalam!”

Donghae mengangguk mengiyakan. Benar apa yang dikatakan Kyuhyun barusan. Jika ia berniat menghalangi dirinya menyusul Hyunjae, pasti itu akan dilakukan Kyuhyun sejak semalam ia meninggalkan dorm bukan sekarang. Kalaupun nyatanya ia masih belum berangkat ke Jerman, itu karena kesalahannya yang tiba disana sesaat setelah penerbangan terakhir baru saja berangkat dan ia terpaksa menunggu sampai keesokkan harinya seperti saat ini untuk mendapatkan tiket.

“Lalu untuk apa kau kemari di pagi buta seperti ini??” Ia menatatap sang magnae aneh.

Raut wajah Kyuhyun mendadak berubah muram, membuatnya semakin bingung.

“Hyunjae hyung..”

“Kenapa dengannya??” tanyanya panik.

“D-dia..”

“Iya, kenapa???” tanyanya gusar karena si magnae tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“D-dia kecelakaan dan kini dalam kondisi kritis!”

~mrs.ChoiLee~

Helios Hospital Berlin-Busch, Jerman

Seorang wanita muda terbaring tak sadarkan diri di dalam salah satu kamar perawatan di dilantai 3. Beberapa saat yang lalu seorang dokter dan dua orang perawat baru saja keluar dari kamar bernomor 52 itu, sementara dibalik pintu kamar diluar sana seorang wanita terlihat sedang berbicara serius pada dua orang pria berwajah oriental.

“Masuklah, dokter bilang kondisinya belum bisa dipastikan sebelum ia sadar,” ucapnya mempersilakan kedunya masuk kedalam kamar. Kedua pria itu mengangguk sambil memasang senyum tipis.

Srettt..

Terdengar suara pintu kamar digeser.

Bertepatan dengan itu, jari tengah tangan kanan gadis itu bergerak tanpa ada satupun diantara mereka yang menyadarinya.

“Sudah berapa lama ia seperti ini?” tanya si pria jangkung berambut cokelat gelap dengan nada lirih ketika dirinya masuk kedalam kamar dan mendapati sosok adik kecilnya terbaring lemah dengan gulungan perban yang mengikat bagian keningnya.

Dia Kyuhyun. Wajahnya terlihat sedih melihat keadaan adiknya seperti itu.

Donghae tampak tak begitu peduli dengan pertanyaan Kyuhyun dan memilih untuk langsung duduk disatu-satunya bangku yang terletak tepat disamping ranjang lalu menggenggam salah satu tangan gadis itu yang tak tertancap selang infus, erat.

Tiffany ikut menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedih kemudian menghela napas berat.

“Sejak ditemukan pingsan di taman kota kemarin sore, ia masih belum sadarkan diri sampai saat ini,” jelasnya lirih.

Donghae  terlihat mulai menitikkan air matanya saat mendengar ucapan teman Hyunjae itu barusan. Ia sedih. Ia tak pernah mengira kalau akhirnya ia bisa bertemu dengan istrinya itu dalam keadaan seperti ini.

Kyuhyun maju, mendekati Donghae. Ditepuknya pundak hyungnya itu pelan.

“Kuatkan dirimu, hyung,” bisiknya ditelinga Donghae. Pria itu menatapnya sebentar lalu mengangguk dan barusaha tersenyum.

“Gomawo,” ucapnya nyaris tak terdengar.

Air matanya kini sudah tak terbendung lagi. Dipeluknya tangan kanan istrinya itu erat. Tak hentinya ia berdoa di dalam hati, dan tak henti juga air matanya mengalir membasahi tangan wanita itu.

‘Jagiya.. Jebal.. Jebal.. Kajima! Cepatlah sadar!!

Tuhan.. aku berjanji. Aku akan menjadi diriku yang sebelumnya..

Aku tak akan lagi lupa beribadah kepadamu..

Aku pasti akan terus menjaga gadis ini selamanya di sisiku dan tak akan lagi membiarkannya pergi..

Tuhan.. kumohon kembalikan ia kembali kesisiku.

Aku berjanji.. aku tak akan pernah menutupi pernikahan kami jika ia pulih nanti..

Tuhan.. jangan pernah kau menjauhkan dirinya lagi dari sisiku..

Kalaupun kau ingin memisahkan satu diantara kami..

Tolong biarkan aku saja yang pergi, jangan dirinya Tuhan..

Tuhan aku mohon padamu..’

Doanya dalam hati dengan air mata yang bercucuran jatuh membasahi telapak tangan Hyunjae yang sejak tadi dipeluknya erat disamping wajahnya.

Kyuhyun bahkan sudah tak sanggup lagi untuk menenangkan hyungnya itu agar berhenti mengangis, karena nyatanya sejak tadi ia bahkan sudah sibuk menahan air matanya agar tak tumpah.

Tiffany pun serupa. Sejak tadi ia sudah sibuk menyeka air matanya yang menggenang di pelupuk matanya dengan sapu tangan.

Tanpa ketiganya sadari, kedua mata gadis itu perlahan terbuka. Ia siuman.

Kabur. Itu yang Hyunjae rasakan saat matanya terbuka pertama kali. Dikerjapkannya kedua matanya itu kedua kali.

Masih kabur. Matanya hanya mengangkap siluet seseorang yang duduk memegangi tangan kanannya, dan siluet dua orang lainnya yang berdiri agak dibelakang pria itu.

Tokk.. Tokk..

Terdengar suara pintu kamar perawatan diketuk. Tanpa dipersilakan, pintu itu perlahan mulai tergeser dan menampakkan seorang pria lainnya dengan sebuket bunga ditangannya masuk kedalam.

Tiffany yang menyadari suara ketukkan pintu menoleh, mencari tahu siapa yan barusan datang. Tapi yang didapatinya malah sosok Sehun dengan sebuket bunga lili ditangannya tengah berdiri mematung di depan pintu.

“Sehun?” ucapnya, membuat kedua pria lainnya dikamar itu ikut menoleh kearah pintu.

“Amanda..” ucapnya tanpa menyahut ucapan Tiffany sebelumnya. Tatapannya lurus kearah tempat tidur.  “Kau siuman?” jeritnya tak percaya.

 Dahi ketiga orang itu berkenyit.

Seolah tak melihat tatapan ketiga orang yang ada disana yang memandangnya dengan tatapan aneh, pria jangkung itu malah berlari kecil menghampiri Hyunjae dengan tampang berbinar.

“Kau siuman??!” ulangnya lagi. Ketiga orang itu berbalik dan langsung memekik girang saat melihat ternyata Hyunjae sudah benar-benar siuman.

“Hyun-ah!! Akhirnya kau siuman! Kau benar-benar siuman!? TERIMA KASIH TUHAN!” Donghae langsung menarik tubuh mungil gadis dihadapannya itu erat, seolah tak ingin melepasnya. Kyuhyun menangis senang, begitu juga dengan Tiffany yang tanpa sadar malah memeluk tubuh Kyuhyun karena kegirangan.

“Eh.. mianhae,” ucap Tiffany malu. Kyuhyun menggeleng pelan sambil tersenyum.

Sementara Sehun. Pria itu melirik Donghae dengan tatapan tak suka.

“Hey hyung jangan memeluknya terlalu erat! Kasian dia bisa-bisa mati karena sesak napas!” ledek Kyuhyun. Tersadar akan ucapan Kyuhyun barusan, buru-buru ia melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu.

“Gwenchana? Apa yang kau rasakan sekarang anak bandel?” tanya Kyuhyun saat melihat adiknya itu memegangi kepalanya yang diperban.

Tak ada jawaban. Gadis itu malah terlihat menunduk, memegangi bagian kepalanya yang terasa pening dan berdenyut kencang disalah satu bagian terluka.

“Hey, Amanda. Kau tak apa?” Kali ini Sehun yang bertanya. Wajahnya terlihat cemas sekali.

Gadis itu  memandangi wajah keempatnya satu persatu dengan tatapan sedikit memicing. Pandangannya masih terasa kabur.

Ia mengerutkan kening, bingung.

Bibirnya terlihat seperti menggumamkan sesuatu, tapi entah apa.

“Hey. Amanda! Kau tak apa??” tanya Tiffany cemas seraya duduk dipinggiran ranjang, disebelah Sehun.

Lagi-lagi gadis itu mengerutkan kening, lalu menelengkan kepalanya hingga tampak sedikit miring.

“Kalian ini siapa?”

Mata keempat orang di dalam kamar itu tempak terbelalak lebar. Kyuhyun bahkan langsung mengorek-ngorek bagian telingannya yang dulu sempat dioperasi dengan sehelai tissue, berharap bahwa dirinya salah mendengar.

Tapi nyatanya tidak. Karena baru saja gadis itu mengulang pertanyaannya.

“Hey. Jangan bercanda!” hardik Tiffany, sebal. Teman serumahnya itu terkadang memang sering kali menjahili dirinya dengan berpura-pura amnesia tiap kali kepalanya terantuk sesuatu, dan tentu saja itu semua hanya gurauan. Kini ia hanya berharap kalau ucapan temannya itu seperti sebelumnya. Hanya sebuah gurauan.

Gadis itu menatap Tiffany dengan tatapan bingung.

“Anni..”  ia menggeleng, “aku benar-benar tak kenal siapa kalian,” lanjutnya dengan wajah sedikit ketakutan.

Sehun yang merasa ada keanehan terjadi disana segera berlari keluar menuju ruang dokter, sementara Kyuhyun langsung mengambil alih tempat yang tinggalkan Sehun barusan dan langsung memegangi wajah adiknya itu dengan kedua tangannya lalu melayangkan tatapan serius padanya.

“Kau yakin tak mengenalku?? Aku Cho Kyuhyun kakakmu!”

Gadis itu tampak mengernyit, lalu menggeleng.

“Anni. Aku tak ingat apa-apa.”

Kyuhyun mendesah hebat. lalu diriliknya Tiffany dan Donghae bergantian. Tak seperti Tiffany yang memasang tampang tak percaya, Donghae justru terlihat menunduk dengan sebelah tangan yang menutupi bagian atas wajahnya. Seperti yang kalian duga. Ia menangis.

~mrs.ChoiLee~

Kurang lebih seminggu sudah berlalu sejak dr.Collin, dokter spesialis yang menangani Hyunjae selama ia dirawat di rumah sakit menyatakan gadis berusia 25 tahun itu mengalami amnesia. Tak banyak yang ia ingat selain pengetahuan umum yang memang ia ketahui seperti: apa ibukota Jerman? Singa pemakan apa? Dan, Apa fungsi dari vacumcleaner?  Selebihnya mengenai jati dirinya, latar belakang, keluarga serta teman-temannya  tak yang ia ingat sama sekali termasuk Kyuhyun kakaknya.

Cho Hyunjae sendiri segera datang kesana bersama nyonya Cho –nenek Kyuhyun- segera setelah Kyuhyun memberi kabar mengenai ingatan Hyunjae yang terganggu akibat mengalami benturan. Dan hanya sehari berselang setelah kedatangan mereka, gadis itu segera dibawa kembali pulang ke Korea dengan penerbangan pertama. Dengan harapan mereka tiba di Korea dini hari sehingga tak ada paparazi ataupun ssaeng fans yang menangkap basah mereka.

Tiffany sendiri merasa sangat kehilangan temannya itu, terlebih di saat perpisahan mereka, teman yang sudah 4 tahun lebih dikenalnya itu malah sama sekali tak mengenalinya. Dan itu jelas sangat menyakitkan.

‘Kau bisa mendatanginya di Korea nanti,’ begitulah sekiranya kalimat yang diucapkan Kyuhyun saat Tiffany menangis histeris di bandara setelah melepas dekapan eratnya dari tubuh Hyunjae.

Gadis itu memang terlihat sangat kehilangan. Tampangnya terlihat sangat merana. Bahkan sukses membuat Hyunjae yang semula hanya diam saja saat digandeng tangannya oleh nyonya Cho agar segera masuk kedalam pesawat, malah berbalik dan berlari kecil lalu memeluknya sebentar namun sangat erat.

Saat itu hampir semuanya tersentak. Termasuk Tiffany. Mereka mengira ingatan Hyunjae mulai pulih, namun pada kenyataannya. Sama sekali TIDAK.

~mrs.ChoiLee~

“Apa benar kita sudah menikah?” tanya Hyunjae entah untuk yang keberapa kalinya pada pria yang saat ini tengah sibuk merapihkan memasukkan pakaian-pakaiannya dari dalam sebuah koper berukuran besar kedalam sebuah lemari bercat putih dengan bahan dasar kayu mahoni yang terletak menyamping disudut sebuah kamar berukuran tak terlalu besar dengan sebuah frame foto ukuran besar yang memajang fotonya di disisi belakang tempat tidur.

Saat itu keduanya baru saja kembali dari rumah besar –sebutan untuk rumah keluarga Cho di Incheon- setelah selama ini setelah kembali dari Jerman keduanya –Donghae dan Hyunjae- di tahan oleh nyonya Cho untuk tidak kembali ke Seoul. Mereka dilarang untuk kembali tinggal di apartment, karena untuk sementara waktu ‘rumah’ mereka yang sudah 4 tahun dibiarkan kosong tak berpenghuni itu sedang dalam perbaikan ulang.

Donghae meliriknya sembari tersenyum kecil, lalu menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri istrinya itu.

Hyunjae mendongak, ketika pria dengan tubuh lumayan tegap itu berdiri tepat dihadapannya yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus-elus rambut panjangnya.

“Apa kau masih belum percaya?” tanyanya lembut. Gadis itu menggeleng, masih dengan tatapan innocentnya. Donghae hanya tersenyum lirih.

“Kita sudah menikah hampir 5 tahun yang lalu, dan oktober ini akan menjadi ulang tahun pernikahan kita yang kelima,” jelasnya dengan sabar.

Kedua mata gadis itu melebar. Ia tak percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri dalam waktu selama itu??

“Jinjja?” Donghae mengangguk, lalu meninggalkan istrinya itu dan kembali membereskan barang-barang bawaan mereka yang belum selesai dibenahi.

“Kalau begitu, kenapa kita tak tidur sekamar?” tanyanya polos. Sebelumnya saat berkeliling apartment ia memang sudah mengetahui bahwa di sana terdapat 4 kamar tidur dan salah satu diantaranya ia yakini merupakan kamar Donghae karena penuh dengan fotonya dalam ukuran besar yang terpajang dalam sebuah pigura dengan ukiran minimalis, dan lagi ia semakin yakin jika keduanya tidur terpisah saat tahu bahwa kamar yang menurut Donghae adalah kamarnya ini depenuhi dengan berbagai benda-benda feminim dan sama sekali tak menunjukkan ada tanda-tanda kehidupan seorang penghuni pria dikamar itu.

Donghae terdiam, lalu berusaha tersenyum senormal mungkin padanya.

“Selama ini kita memang tak tinggal sekamar,” jawabnya jujur. Ia tak mau jika harus berbohong dan terkesan mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan mengatakan bahwa keduanya selama ini tinggal di dalam kamar yang sama dan hidup rukun sebagai sepasang suami istri yang sangat mesra dan harmonis, karena nyatanya memang tak seperti itu.

Gadis itu terbelalak tak percaya.

“Mwo? Jinjjayo?” Donghae mengangguk pelan dengan senyuman kecut.

“Ahhh! Pasti aku adalah orang yang sangat buruk dimasa lalu! Pasti aku adalah istri yang sangat kurang ajar pada suaminya, benar kan??” marahnya pada diri sendiri.

Donghae terkekeh mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar istrinya itu menggerutu sendiri karena menjadi istri yang kurang ajar, padahal biasanya ia sendiri yang mengatai Donghae kurang ajar jika ia menerobos kamar pribadi istrinya meski hanya sekedar untuk meminjam selimut yang kebetulan persediaannya tersimpan di dalam kamar Hyunjae.

“Ah! Maafkan aku.. sungguh.. aku akan mencoba memperbaiki semua sikap-sikap burukku yang lalu >__<” sesalnya dengan nada terkesan memang menyiratkan perasaan menyesal yang terdalam.

Lagi-lagi Donghae terkekeh. Kembali didekati istrinya itu dan menepuk pundaknya pelan. Lagi-lagi gadis itu mendongak, karena Donghae terlihat jauhhhh sangat lebih tinggi dari posisi duduknya saat itu.

“Haha.. Tak apa, jangan terlalu dipikirkan. Dulu kita menikah memang dalam usiamu yang sangat muda, jadi halmeoni melarang keras bagi kita untuk tinggal sekamar dan membiarkan Kyuhyun tinggal bersama kita,” ucapnya, mencoba menghilangkan rasa bersalah gadis yang kini terlihat sedih itu.

“Dan tak lama setelah itu kau malah pergi untuk bersekolah di Jerman, jadi tak ada sama sekali bagi kita untuk tinggal sekamar,” lanjutnya lagi dengan senyum tipis.

Hyunjae sedikit megernyit. Ia berusaha keras mencerna seluruh ucapan Donghae dan mengingatnya di dalam pikiran.

“Arghhh!” pekiknya saat tiba-tiba saja kepada terasa sakit.

“Hey, kau tak apa-apa, Hyun-ah??” tanya Donghae cemas saat melihat tiba-tiba saja istrinya itu kembali memekik kesakitan seperti kemarin malam. Ia cemas, pasti istrinya itu sedang berusaha mengingat sesuatu seperti yang terjadi kemarin malam di rumah besar ketika dirinya secara gamblang diberitahu Cho Hyunjae bahwa mereka sudah menikah, dan sekembalinya ke Seoul keduanya akan segera kembali dalam satu atap –tanpa Kyuhyun yang memilih untuk tidak mengganggu sepasang suami istri itu dengan tetap tinggal di dorm.

 “Jangan dipaksakan. Jadilah dirimu sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri, aku tak ingin jika kepalamu nanti malah sakit lagi dan itu akan sangat menyiksamu. Kau tahu? Jika kau seperti itu aku justru akan merasa lebih sakit dari pada yang kau rasakan,” ujarnya dengan nada lembut.

Hyunjae diam. Matanya menatap dalam mata Donghae yang dalam pandangannya terlihat sangat teduh.

Dug… Dug.. Dug..

Dadanya tiba-tiba terasa bergetar hebat.

“Aku pasti orang yang sangat kejam karena membiarkan pria sebaik dirimu terlantar,” ucapnya tanpa ia sadari.

“Ha?”

Gadis itu tersenyum, lalu berdiri dari duduknya, sejajar dengan tubuh Donghae yang ada dihadapannya kemudian memeluknya erat secara tiba-tiba.

Donghae bengong hebat.

“Aku berjanji, mulai saat ini aku akan menjadi istri yang baik yang akan menjaga dan melayani suaminya dengan sepenuh hati dan sepenuh cinta!!” pekiknya dengan senyum riang.

Donghae tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum lebar dan membalas pelukkan istrinya itu dengan pelukkan yang sangat erat.

“Janji?” ucapnya masih dengan nada sedikit takjub. Ia tak percaya gadis itu akhirnya mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang istri yang baik.

“JANJI!!!!!!!”

~mrs.ChoiLee~

Gadis itu  rupanya tak main-main dengan ucapannya untuk menjadi istri yang baik bebrapa waktu lalu. Hal itu perlahan mulai ia buktikan dengan selalu bangun lebih pagi dari biasanya untuk membuatkan suaminya sarapan sebelum berangkat bekerja dan juga selalu membuatkannya bekal. Memasak, mencuci dan membereskan rumah sudah menjadi aktivitas terbarunya kini.

Tak hanya itu, kini keduanya pun telah memutuskan untuk tinggal berdua dalam satu kamar yang sama. Kamar Hyunjae yang memang lebih luas dan memiliki ranjang ukuran King size pun akhirnya diplih sebagai kamar utama mereka. Seluruh poster Choi Siwon dan BoA yang menghiasi kamar itupun disingkirkan paksa oleh Donghae yang selalu merasa cemburu tiap kali melihat sosok teman satu grupnya itu terpajang di dalam kamar istrinya. Hyunjaepun tak mengeluh, karena ia sama sekali tak ingat siapa saja orang-orang yang terpajang dikamarnya itu. Yang ia tahu hanyalah, bahwa pria yang menurut suaminya bernama Choi Siwon itu sangatlah tampan!

“ANNYEONG!!!!!” sapa member super junior riang saat Donghae membawa Hyunjae ke dorm lantai 12 dimana semua member sedang sibuk membenahi dorm guna menyiapkan pesta perayaan kembalinya Siwon dan Eunhyuk dari wamil. Dan tak hanya mereka, rupanya Binwoo dan Ahra serta Nari –gadis yang kini sudah menjadi istri Shindong- juga berada disana.

“A-annyeong,” jawabnya dengan sedikit gugup. Biar bagaimanapun ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi tempat yang hanya terpaut beberapa lantai dari apartmentnya itu sepulangnya ia dari Jerman, karena Donghae memang sangaja tak memperbolehkan dirinya ataupun para member super juniornya untuk menemui Hyunjae selama beberapa waktu, dengan alasan memberinya sedikit ketenangan. Ia takut kalau-kalau istrinya itu tiba-tiba berusaha mengingat sesuatu lagi yang akan membuat kepalanya sakit, sementara saat itu keadaannya memang belum begitu stabil.

“EONNI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Binwoo riang sambil berlari dan memeluk tubuhnya erat.

“AAAAAAAAAAAAAAA JEONGMAL BOGOSHIPPOYO!!!!!!!!” teriaknya nyaring tepat di telinga Hyunjae, membuatnya penging setengah mati. Tak hanya gadis itu, Ahra, Donghae, bahkan Shindong yang berada agak jauh dari mereka pun merasa telinganya penging akibat suara bising yang dikeluarkan sang lovely magnae itu.

“Hey.. Hey.. Jagiya, sudah jangan terlalu erat. Kasihan itu eonnimu bisa sesak napas,” ucap Yesung dengan wajah datarnya. Binwoo mendelik  kearah mereka semua sekejap, lalu melepaskan pelukkannya sambil nyengir kuda.

“Hehehe.. Main eonni aku terlalu bersemangat!” akunya.

“Gwenchana Binwoo-ya, aku sudah biasa diperlakukan seperti itu olehmu,” balasnya sambil tersenyum maklum.

Binwoo tersenyum bersalah, namun tak lama senyumannya mendadak lenyap. Ia menatap wajah eonninya itu dengan ekspresi terkejut. tak hanya Binwoo, tapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatapnya dengan ekspresi tak jauh beda. Bengong, terkejut, ternganga, tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.

“Dongsaeng-ah. Kau memanggil dia dengan sebutan apa barusan? Binwoo??” tanya Kyuhyun dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan sambil mengguncang tubuh adiknya itu pelan.

Gadis itu menatapnya bingung.

“Memang aku barusan bilang apa?”

—–

Awalnya semua orang mengira bahwa ingatan Hyunjae telah kembali karena ia mengenali Binwoo yang bahkan belum Donghae kenalkan pada dirinya, dan penampilan gadis yang dulu pernah menjadi magnae di agensinya itu bisa dibilang telah jauh berbeda dari penampilannya yang terdahulu. Binwoo yang dulu terlihat polos dengan rambut panjangnya, make up tipis, dan kulit putih susunya kini telah berubah, rambutnya dua tahun belakangan dibiarkan dengan potongan pendek, eye liner tebal, serta kulit agak kecokelatan hasil tanning. Minna memang sudah merubah konsepnya dari cute n chic menjadi lebih dewasa menginat usia para personelnya yang memang sudah tak lagi remaja.

Jadi mereka semua terkejut, dan mengira ingatan Hyunjae memang benar-benar telah kembali.

~mrs.ChoiLee~

“Hyung. Sebaiknya kau jangan melindunginya terus. Biarkan saja ia mengingat semua,” ucap Kyuhyun sesaat sebelum keduanya pamit kembali ke apartment mereka.

“Aku tak mau ia kesakitan,” tolaknya. Jujur saja ia memang tak rela tiap kali melihat istrinya itu merintih kesakitan tiap kali mencoba mengingat sesuatu. Dan itu sangat menyiksa dirinya.

Kyuhyun berdecak. Diliriknya sosok adiknya yang kini sibuk berpamitan dengan para mantan teman se asramanya dulu –Ahra dan Binwoo.

“Jika di diami, dia akan semakin lama mengingatnya. Lagi pula kelihatannya ia mulai stabil, dan kemarin dr. Collin menghubungiku dan menganjurkan agar ia dibawa ke tempat-tempat yang kira-kira bisa membuatnya kembali mengingat sesuatu jika keadaannya sudah stabil.”

Donghae menunduk, kemudian mendesah.

“Baiklah akan ku coba.”

~mrs.ChoiLee~

Entah sudah berapa tempat yang mereka datangi beberapa hari ini dengan tujuan membangkitkan kenangan Hyunjae. Mulai dari taman tempat dirinya menyatakan cinta pertama kali, dorm Miina, kantor SM, bahkan sampai rumah sakit dimana ibunya dirawat dulu yang juga menjadi tempat pernikahan mereka telah keduanya datangi. Donghae memang sengaja mengambil cuti panjang selama sebulan guna menjaga istrinya itu, makanya mereka bisa berkeliling ketempat manapun yang pernah Hyunjae kunjungi.

Sebenarnya, ia ingin sekali mengajak Hyunjae ke tempat pertama kali mereka bertemu, yaitu rumah kediaman ia dan ibunya dulu, namun sayang sekali rumah yang ternyata telah lama disita sejak ibunya jatuh sakit  itu sudah habis dilalap api dan kemudian digusur lalu dijadikan sebuah rumah makan beberapa tahun yang lalu.

Tapi kelihatannya semua usaha Donghae itu sia-sia. Hyunjae sama sekali tak mengingat apapun.

~mrs.ChoiLee~

“Jagy, aku parkir dulu ya, kau tunggu aku di lobby, oke?” perintah Donghae begitu audy miliknya berhenti di depan pintu masuk sebuah gedung pencakar langit di daerah Incehon. Hyunjae mengangguk dan segera turun dari mobil menuju lobby, sesuai perintah Donghae.

Tak sampai lima menit, suaminya itupun sudah berada disisinya.

“Kita langsung keatas saja? Atau kau mau beli minum dulu?” tanya Donghae saat matanya tak sengaja melihat sebuah kafetaria di salah satu sudut kekat pintu lift.

Belum sempat ia menjawab, mata gadis itu malah memicing manatap kearah pintu masuk dengan dahi sedikit berkenyit.

“JONGHUN OPPA!!” teriaknya pada seorang pria dengan setelan jas serta celana hitam yang baru saja turun dari sebuah motor sport yang ditungganginya. Pria itu tampak tak mendengar dan dengan santainya menyerahkan kunci motornya itu pada salah seorang penjaga sebelum masuk kedalam gedung.

Dahi Donghae berkerut. Lalu diikutinya arah pandangan istrinya itu.

“Choi Jonghun Oppa!!” panggilnya sekali lagi saat pria itu terlihat akan berbelok kearah eskalator.

Langkah pria itu terhenti. Ia berbalik mencari-cari sosok yang memanggilnya barusan, sebelum akhirnya mendapati sosok gadis yang dulu tiba-tiba menghilang dari hidupnya itu kini tengah melambai-lambai dengan senyuman polosnya dari arah pintu masuk lift, bersama seseorang yang dulu sempat membuatnya berpikir untuk ia habisi jika saja ia tak mengetahui kenyataan bahwa keduanya telah menikah.

Donghae tercengang hebat saat menyadari sosok yang dipanggil-panggil istrinya benar-benar Jonghun. Pria yang dulu sempat membuatnya cemburu setengah mati berkat kedekatan mereka satu sama lain.

“Omo! Hyunjae-ah!” Jonghun menghampirinya dengan ekspresi terkejut. Hyunjae malah sudah senyum-senyum tak jelas. Sementara Donghae? Ia shock berat! Bagaimana mungkin istrinya itu mengenali seorang Choi Jonghun?? Apakah pria di depannya itu dulu memang benar-benar berkesan diotaknya? Sampai bisa tertancap diotaknya seperti ini???

—-

Choi Jonghun rupanya siang itu baru saja kembali dari kantor polisi untuk menyelidiki sebuah kasus yang ditanganinya sebagai seorang pengacara, dan entah kebetulan atau tidak kantor firma yang menaunginya terletak di gedung yang sama dengan kantor yayasan pendidikan milik ayah Hyunjae, dan tak disangka Jonghun pula lah orang yang selama dua tahun belakangan ini ikut membantu sebagai salah satu tim kuasa hukum yang dipakai sebagai konsultan yayasan dan keluarga mereka.

Jonghun sendiri merasa sangat senang bisa bertemu kembali dengan mantan juniornya semasa berkuliah dulu itu, jadi wajar jika ia sangat ingin berlama-lam berbincang dengannya, mengingat-ingat, bernostalgia tentang kenangan mereka bersama.

Selama kurang lebih satu setengah jam keduanya –Hyunjae dan Jonghun- terlihat mengobrol akrab di taman samping gedung, sementara Donghae sendiri cukup menjadi kambing congek yang bertugas mendengarkan percakapan keduanya. Jonghun sendiri sepertinya tidak tahu akan keadaan Hyunjae saat ini, karena gadis itu bersikap biasa saja dan cenderung ‘nyambung’ tiap kali diajak berganti topik, dan Donghae pun tak memberitahunya. Untuk apa? Toh tak ada gunanya bagi dirinya, yang ada ia akan sakit hati kalau-kalau pria itu malah menyarankan untuk pergi ketempat kenangan mereka =__=.

“Hey. Kau kenapa bisa mengingatnya?” tanya Donghae saat diperjalanan pulang kembali ke Seoul.

Hyunjae terlihat bingung. Ia sendiri tak mengerti.

“Molla. Memangnya, yang tadi itu siapa?” tanyanya dengan wajah polos.

Donghae mendesah.

‘Lagi-lagi seperti ini..’ pikirnya. Namun ia seperti tersadar sesuatu. Dipandangnya wajah istrinya yang tengah sibuk bermain dengan i-pod itu tanpa sepengetahuannya.

‘Ada sesuatu yang aneh disini..’

~mrs.ChoiLee~

Tak terasa sebulan sudah berlalu setelah Donghae memutuskan cuti dari pekerjaannya dan sama sekali tak mendapat perkembangan apa-apa keculi kenyataan bahwa istrinya masih mengenali Jonghun.

Entah sejak kapan, ternyata foto-foto selama mereka bersama itu tersebar dikalangan para netizen dan tabloid gosip serta infotaniment tanpa keduanya ketahui.

Rumor mengenai keaslian Hyun-hae couple yang dulu sempat menghilang dengan kepergian Hyunjae dan sempat tergantikan dengan Sun-Hae –Sunye-Donghae- couple pun kini kembali mencuat. Bahkan entah dari mana sumbernya, tiba-tiba saja foto keduanya yang berada di dalam sebuah kamar rumah sakit di LA bersama kedua orang tua Hyunjae, Kyuhyun, dan seorang pendeta pun tersebar serta menjadi headline di beberapa suarat kabar dengan judul ‘Hyun-Hae Couple telah menikah di LA’.

Kenyataannya foto itu memang foto mereka yang diambil saat pernikahan dadakan Hyunjae dan Donghae dulu, yang diambil lewat kamera ponsel Kyuhyun. Maka dari itu, mereka tak habis pikir karena tak mungkin jika Kyuhyun yang menyebarkannya.

“Sumpah bukan aku yang menyebarkannya!” ucap Kyuhyun bernada sedikit frustasi saat dirinya di desak Leeteuk dan manaejrnya untuk mengaku.

Sore itu seluruh member Super Junior serta para manajernya tengah berkumpul diruang rapat setelah kantor mereka dibanjiri oleh berbagai pertanyaan melalui telepon dan desakan dari para fans dan wartawan yang terus berkerumun di pintu masuk.

“Hyung! Dia itu adik dan keluargaku! Mana mungkin aku menyebarkan rahasia keluargaku sendiri!?” lanjutnya lagi. Leeteuk mengangguk paham. Begitu pula dengan Seunghwan, salah satu manajer super junior.

Semuanya terdiam. Donghae yang sejak masuk memilih untuk duduk dan diam di sudut ruangan akhirnya maju kehadapan mereka semua setelah sebelumnya menarik napas panjang.

“Sudah tak ada yang perlu di tutupi lagi. Aku akan mengakui semuanya di depan publik,” ucapnya kemudian pergi, meninggalkan semua orang yang kini menatap kepergiannya dengan ekspresi tercengang.

Mereka sudah menduga sejak lama bahwa suatu saat rahasia ini cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Namun entah mengapa mereka merasa belum siap, mengingat semuanya terkuak begitu saja secara tiba-tiba di tengah kondisi Hyunjae yang kehilangan ingatannya.

~mrs.ChoiLee~

Seorang wanita dengan kaus kebesaran yang menutupi bagian atas tubuhnya tampak berjalan malas menuju dapur untuk mengambil segelas air guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih saat itu, dan ia berjalan dalam keadaan mata yang masih terpejam.

Kepalanya terasa pusing, lehernya pegal. Sudah nyaris seharian ia tidur. Wajar saja jika kepalanya terasa berat.

Setelah meminum habis segelas air dingin yang diambilnya dari dalam kulkas, ia segera beranjak ke toilet untuk memenuhi panggilan alam yang sudah tak terbendung.

Diputarnya gagang berlapiskan tembaga itu sebelum masuk kedalam. Matanya masih setengah terpejam. Ia terus melangkah menuju tempat dimana closet duduknya berada dan sama sekali tak melihat bahwa tak jauh di depannya terdapat sikat lantai kamar mandi yang tergeletak begitu saja diluar tempatnya.

“KYAAAAAAAAAAA!!!!!” teriak Hyunjae saat kakinya tanpa sengaja menginjak sisi belakang sikat yang membuat dirinya kehilangan keseimbangan.

DUGG!

Terdengar sebuah benturan cukup keras begitu Hyunjae yang terpeleset akibat kehilangan keseimbangannya, bagian kepalanya membentur sisi samping bath up yang berada tepat di hadapannya.

Dalam sekejap penglihatannya pun buram dan ia tak sadarkan diri.

Dibagian pelipisnya keluar darah segar yang perlahan mulai mengotori sebagian dahinya.

~mrs.ChoiLee~

TUTTTTT… TUTTTTT…

Entah sudah berapa kali suara bising pertanda akhir sambungan telpon yang tak diangkat itu mampir ditelinga Donghae dalam beberapa jam terakhir ini. Lagi-lagi sambungan telepon ke apartmentnya tak diangkat.

“Kemana anak itu?” gumamnya, cemas karena telepon lagi-lagi tak diangkat. Entah enapa peasarannya mendadak tak enak.

Perasaannya mengatakan pasti ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

“Donghae-ssi, 15 menit lagi,” seru salah seorang staff SM, memberi tanda bahwa acara konferensi pers yang diselenggarakan di ruang rapat lantai 1 itu akan segera dimulai mengingat rungan yang sudah hampir dipenuhi oleh beberapa wartawan undangan.

Donghae menoleh kepadanya, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan dan mulai mematikan ponselnya lalu menaruhnya kedalam tas miliknya kemudian meninggalkannya begitu saja di dalam ruang istirahat. Dengan langkah pasti ia mulai berjalan menuju rungan yang biasa digunakan untuk rapat para petinggi yang berada 2 lantai dibawahnya kini.

Sementara itu, di kediaman mereka. Hyunjae yang sudah 3 jam lamanya tak sadarkan diri di dalam kamar mandi tanpa seorangpun ketahui perlahan mulai memperlihatkan tanda-tanda kesadarannya.

“Argh!” ringisnya saat kedua matanya terbuka dan merasakan nyeri dibeberapa bagian tubuhnya, khususnya di bagian pelipis dan lengan kanannya yang tertindih bobot tubuhnya.

Perlahan ia mulai mendudukkan tubuhnya secara benar dan menyenderkannya disamping dinding bath up. Pundaknya terasa nyeri, dan kepalanya berkedut keras, membuatnya pusing setengah mati.

Bau anyir darah tercium begitu saja masuk kedalam lubang hidungnya yang lumayang bangir.

Mendadak berbagai potongan memori yang pernah dialaminya berputar begitu saja bagaikan sebuah film yang berputar di dalam kepalanya.

“ARGH!!” pekinya setelah putaran memori itu berhenti dan membuatnya kembali tersadar ke dunia nyata.

Matanya memicing. Kepalanya lagi-lagi berkedut, dan terasa nyeri dibagian pelipisnya. Dipeganginya bagian yang nyeri itu dengan tangan kirinya. Terasa sedikit basah dan agak lengket. Dilihatnya cairan yang kini ikut menempel di jarinya itu dan terkejut saat melihat cairan berwarna mereh itu mengotori tangannya.

“Darah?” dengan sekuat tenaga, ia berusaha bangkit dari posisinya, dan berjalan tertatih menuju cermin yang terpasang pada dinding wastafel.

“Kenapa aku? Kenapa bisa berdarah?” gumamnya dengan suara serak.

Kedua matanya masih memandang sosoknya lewat pantulan cermin. Namun sedetik berikutnya ia terlihat terkejut, dan membelalakkan matanya saat melihat ruangan tempat dirinya berada ini terasa sedikit asing baginya. Ia berbalik, melemparkan pandangannya ke sekeliling. Dan entah mendapat kekuatan dari mana ia segera keluar dari tempat itu dan kemudian berlari keruang tengah.

Matanya lagi-lagi terbelalak saat mendapati sebuah foto donghae dengan ukuran frame sangat besar tergantung disamping foto dirinya.

Seolah tak percaya, ia langsung berlari menuju balkon dan mendapati pemandangan kota Seoul yang tersaji dari balkon apartmenya. Namsan tower serta sungai Han dapat dijangkau oleh matanya saat itu.

“I-ini Korea?? Aku di Korea??” tanyanya pada dirinya sendiri sambil membekap mulutnya tak percaya. Ia bingung. Seingatnya ia baru saja pergi ke Berlin untuk mencari pekerjaan dan mampir sebentar di taman kota untuk menikmati chesse burger pesanannya. Tapi.. kenapa sekarang ia malah berada di Korea??

Tepat disaat itu. Putaran potongan memori yang pernah dialami dirinya kembali terbayang di dalam otaknya. Mulai dari saat ia membuka mata di rumah sakit sampai ia masuk ke kamar mandi beberapa jam yang lalu sebelum akhirnya pingsan.

Tubuhnya mendadak lemas. Ia jatuh terduduk diatas lantai kayu balkon yang dingin di tengah musim peralihan.

Rasa sakit serta pusing yang sejak tadi menderanya sama sekali tak ia hiraukan. Semuanya terkalahkan oleh rasa bingung yang menderanya saat ini.

Kringggg.. Kringgg…

~mrs.ChoiLee~

Seorang wanita dengan bagian pelipis terluka dan pakaian sweater kaus lengan panjang seadanya berlari sekuat tenaga menuju sebuah gedung tinggi yang berjarak tak jauh dari tempat tinggalnya, setelah taksi yang ditumpanginya mogok dan berhenti sekitar 200 meter dari tempat tujuannya semula.

Di kepalanya terus terngiang suara seorang pria bernada sedikit cempreng yang beberapa saat lalu berhasil menyadarkan dirinya dari lamunan setelah berkali-kali membuat telepon tanpa kabel di ruang tengah terus menerus berdering nyaring tiada henti.

‘Hyun-ah! Tolong kami! Sore malam ini juga Donghae akan mengadakan sebuah konferensi pers tentang status hubungan kalian!

‘Dan ku dengar beberapa media akan mencecarnya bahwa pernikahan kalian hanya sebuah rekayasa demi mendompleng pamor Super Junior yang mulai redup!

Demi suami, kakakmu, dan kami semua.. Ku mohon datanglah ke acara itu dan jelaskan semuanya bahwa semua itu tidak benar dan kalian menikah atas dasar saling mencintai!’

Untaian kalimat itu terus saja berputar di kepala seorang Kim Hyunjae kini. Awalnya ia sama sekali tak mau ambil pusing toh kepalanya juga memang sangat pusing akibat benturan dan kelebatan memori yang mendadak memaksa masuk secara bertubi-tubi ke dalam kepalanya. Tapi ia tersadar. Bagaimanapun ia tidak boleh menjadi orang yang egois seprti dulu. Ia sudah dewasa sekarang, tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri.

Dan yang terpenting adalah.. Ia sadar bahwa selama ini ia memang benar-benar mencintai Donghae. Dan ia tak rela jika karena keegoisannya mereka kembali berpisah.

Mengingat sudah dua kali mereka berpisah dulu, itu semua karena dirinya.

Mereka putus karena ia yang memutuskan akibat terlalu cemburu dengan tingkah Donghae yang terkesan kegenitan dan malu-malu kucing di tv tiap kali bertemu dengan wanita cantik, dan lagi saat itu ia memang sedang hangat-hangatnya di gosipkan berkencan dengan Sunye yang membuat dirinya dulu juga sempat membenci leader Wonder Girls itu setengah mati padahal ia sempat bergabung dengannya sebagai sebuah grup saat masa trainee d JYP.

Lalu, setelah keduanya menikah ia juga yang meninggalkannya dan melarikan diri ke Jerman. Membiarkan pria itu terlepas dari dirinya.

Dari kedua kejadian itu nyatanya, Donghae memang sama sekali tak bersalah karena dirinyalah yang memutuskan dan meninggalkan Donghae, bukan pria itu.

Dan kini? Ia sadar bahwa pria itu sangat berarti di hidupnya setelah Tiffany, teman serumahnya saat di Jerman dulu menghubunginya dan menjelaskan semua yang terjadi selama di Jerman saat ia masuk rumah sakit dulu. Bagaimana pria itu dengan setia menunggunya tiap malam, bagaimana ia menagis terus menerus melihat dirinya yang tak sadarkan diri, bagaimana dengan sabarnya ia meyuapi dirinya yang tak mau makan, dan semua itu ia ceritakan setelah Hyunjae mendesaknya.

‘Kurasa ia memang benar-benar tulus mencintaimu, Amanda. Kuharap kalian langgeng selamanya.’ Itulah doa Tiffany yang diucapkannya sebelum sambungan mereka terputus.

Dan kini ucapan itulah yang membuatnya semakin menggebu untuk mendatangi suaminya itu. Tak peduli darah segar yang kini telah mengering di pelipisnya meninggalkan bekas luka yang sama sekali belum tersentuh apapun untuk membersihkannya. Tak peduli bahwa dirinya sama sekali belum membersihkan diri sejak kemarin. Tak peduli bahwa rambut panjangnya kusut karena belum disisir. Tak peduli dirinya bahkan berlari hanya dengan beralaskan sendal rumah tipis yang sesekali membuatnya kerepotan saat berlari. Membuat semua orang disekitarnya menatapnya dengan tatapan aneh sambil berbisik.

Dan ia sama sekali tak peduli.

~mrs.ChoiLee~

Kilat lampu flash kamera berbagai merek dan jenis terus menghujani satu titik sebuah ruangan rapat yang tak terlalu besar dengan kapasitas 40 orang itu ketika sesosok pria berpakaian serba hitamnya masuk melalui sebuah pintu di bagian lain ruangan yang memang sengaja disiapkan untuk dirinya.

Pria itu Lee Donghae, salah satu member grup idola terkenal yang saat ini sedang mengalami masa vacum setelah ditinggal beberapa anggotanya yang tengah menjalani wajib militer. Ia tampak berjalan dan duduk dengan tenag di sebuah bangku yang telah disediakan untuknya. Raut gelisah, tertekan atau apapun sama sekali tak nampak di wajahnya. Wajahnya benar-benar tenang.

Wartawan segera memberondong dirinya dengan berbagai rentetan pertanyaan. Mulai dari kebenaran kabar tentang pernikahan dirinya sampai keadaan Hyunjae yang konon katanya sempat melarikan diri karena frustasi beberapa tahun lalu pun dilontarkan kepadanya, dan itu semua ia tanggapi dengan tenang.

Sementara itu diluar sana, tanpa mengetahui bagaimana yang terjadi di dalam. Hyunjae menerobos masuk kedalam gedung malalui pintu belakang gedung yang terlindungi kunci sidik jari untuk memasukinya. Dan beruntung, sidik jari dirinya belum dihapus dari memori kunci sehingga ia bisa dapat dengan mudah masuk kedalam dan langsung berlari ke atas.

“Hya! Kau kenapa bisa ada disini??” tanya Kyuhyun kaget saat adiknya itu tiba-tiba saja berdiri dihadapannya yang tengah berada di depan pintu toilet lantai 2.

“Hey! Itu dahimu kenapa berdarah???” tunjuknya dengan ekspresi panik.

Hyunjae menggeleng. “Katakan dimana ruang konferensi persnya??”

“HYA! Kau tak lihat apa penampilanmu yang seperti gembel ini? Untuk apa kesana??? Ayo cepat obati lukamu dulu!” ucapnya, menarik paksa tangan kanan adiknya itu agar mengikutinya menuju ruangan terdekat dimana ia rasa keduany.

“Oppa! Aku harus menjelaskan semuanya! Aku tak mau jika aku menyesal nantinya!” tolaknya setengah mati dengan tangan kirinya memeluk tiang penyangga gedung saat kakaknya itu memaksanya masuk untuk diobati.

“Jelaskan apa?? Pokoknya tidak penting! Ayo obati lukamu dulu!” tarik Kyuhyun sekuat tenaga yang akhirnya membuat tubuh mungil adiknya yang semula melingkar kuat di tiang penyangga itu mau tak mau terlepas dan mengikutinya masuk kedalam ruang istirahat meski dengan langkah terseret-seret.

“Oppa! Jebal~ aku harus ke acara konferensi persnya.. AUCH! APO!!” ringisnya saat Kyuhyun membersihkan luka di pelipis adiknya itu dengan antiseptic, kasar.

“Haishhh… diam jangan manja!” pria itu terlihat menggunting sebuah perban dan membasahi bagian tengahnya yang ia lapisi kapas dengan obat merah sebelum ditempelkan di pelipis adiknya itu untuk menutupi lukanya.

“Sudah selesai kan? Aku mau kesana dulu!” ujarnya, berniat beranjak dari atas sofa, namun Kyuhyun menahannya dengan menarik bagian belakang bajunya. Membuatnya kembali terduduk ditempatnya semula.

“A~~ Oppa! Aku harus menjelaskan pada wartawan-wartawan itu !!”

“Jelaskan apa??” tanyanya dengan tampang bodoh.

 Hyunjae mendesis. Ia tak habis pikir kenapa Oppanya ini mendadak bodoh dan terus menghalangi dirinya seperti ini?? Padahal situasi sedang genting! Bayangkan saja mungkin dibawah sana Donghae sedang kebingungan atau malah mengatakan dengan polosnya bahwa mereka berdua memang menikah secara mendadak atas permintaan Kyuhyun atas dasar alasan kesehatan ibunya dan dalam keadaan tidak saling mencintai? Bagaimana mungkin?? SEMUA ITU TIDAK BOLEH TERJADI! Dan ia harus turun tangan untuk menjelaskan semuanya bahwa mereka menikah atas dasar CINTA! Karena nyatanya saat itu ia tak menolak permintaan ibunya karena dalam hati kecilnya mengatakan bahwa Donghae adalah pria yang tepat baginya.

“OPPA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! AKU HARUS MENJELASKAN PADA MEREKA SEMUA BAHWA ITU SEMUA TIDAK BENAR!!! AKU MENCINTAI DONGHAE OPPA! AKU MENIKAHINYA KARENA AKU CINTA!! DAN AKU MENGHINDARINYA JUGA KARENA AKU TAKUT IA TERLUKA BERADA DI DEKAT DIRIKU YANG TERLALU RAPUH!! AKU TAK MAU KEMBALI BERPISAH DENGANNYA!!! AKU SANGAT MENCINTAINYA DAN TOLONG BIARKAN AKU MENJELASKAN SEMUANYA PADA MEREKA BAHWA AKU MENCINTAINYA!!” ungkapnya setengah menjerit, frustasi karena kakaknya itu tak kunjung membiarkan dirinya keluar dari ruangan itu. “JIKA KAU MERASA BAHWA AKU MASIH MENDERITA AMNESIA. KAU SALAH! AKU MENGATAKAN SEMUA INI DENGAN SEGALA KESADARANKU KARENA INGATANKU SEMUANYA SUDAH KEMBALI TEPAT DISAAT AKU MENERIMA BENTURAN DIKEPALAKLU INI!” tunjuknya pada lukanya yang sudah ditutupi perban

Kyuhyun ternganga. Wajahnya tampak terkejut setengah mati. Ia tak menyangka bahwa adiknya itu akhirnya mengatakan sebuah pengakuan mengenai perasaan dirinya yang sebenarnya selama ini.

Hyunjae yang frustasi akan ekspresi yang ditimbulkan kakaknya itu pun memilih untuk berbalik dan pergi dari sana menuju tempat konferensi yang bahkan ia tak tahu pasti diadakan dimana, karena Eunhyuk hanya memintanya untuk segera datang bukan memberitahukan dimana ruangannya.

Langkahnya mendadak terhenti saat tahu-tahu sosok yang dicarinya itu tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu dengan posisi pintu setengah terbuka. Matanya sama sekali tak berkedip, dan ekspresi wajahnya tak jauh berbeda dengan yang diperlihatkan Kyuhyun. Ia terlihat sangat terkejut. namun sedetik kemudian pria itu tampak tersadar dan langsung memeluk gadis mungil di depannya itu erat. Sangat erat.

“O-oppa?” panggilnya dengan nada sedikit cemas. Ia berpikir, sudah berapa lama namja ini berdiri disana? Apa ia sudadah mendengar semuanya?

“Ne, aku sudah mendengar semuanya,” ucapnya seolah mendengar pertanyaan yang berkelebat di pikiran istrinya itu. “Aku sudah mendengar semuanya dari awal.. Aku juga mencintaimu.. Sangat mencintaimu..” ucapnya lirih. Matanya memerah. Pertanda bahwa sesaat lagi air matanya akan tumpah. Sebelah tangannya memeluk tubuh istrinya erat, sementara sebelah lagi mengelus-elus rambut panjang istrinya yang tak tertata itu dengan penuh sayang.

Hyunjae mengeratkan pelukkannya ditubuh pria itu. Perlahan air matanya mengalir. Air mata kebahagiaan.

“Kenapa kau bisa disini? Bagaimana dengan konferensi persnya??” gadis itu melepaskan pelukkannya, dan berganti menatap pria yang kini sibuk menghapus air matanya dengan punggung tangannnya itu dengan tatapan bingung.

Donghae tersenyum kecil, lalu menggeleng.

“Ingatanmu sudah kembali?” tanyanya terbata. Masih tak percaya. Hyunjae menatapnya lurus sambil mengangguk mengiyakan. Donghae tersenyum senang.

“Lalu bagaimana dengan konferensi persnya?” ulangnya

“Belum dimulai. Tadi begitu aku akan memulainya, Leeteuk hyung tiba-tiba memberi tanda padaku untuk keluar sebentar dan meminta waktu pada para wartawan. Ia mengatakan bahwa dirinya melihatmu yang berlari melewati pintu belakang dan ditarik paksa Kyuhyun kedalam ruangan ini. Makanya aku langsung kemari dan malah mendengar itu semua dari bibirmu,” jelasnya sambil tersenyum lembut. Hyunjae yang mendengarnya merasa wajahnya memanas menahan malu. Sementara Kyuhyun sudah batuk-batuk tak jelas dan memilih untuk pamit keluar dari pada harus menjadi obat nyamuk.

“Lalu? Apa yang akan kau katakan pada mereka??”

Donghae tampak berpikir, kemudian menatapnya lagi-lagi dengan senyuman lembutnya.

“Katakan saja apa adanya. Dan bagaimana jika kita melakukan pernikahan ulang? Di gereja? Atau dimanapun sesuai keinginanmu?” tawarnya dengan senyum menggoda membuat wajah gadis dihadapannya itu semakin merah padam.

~mrs.ChoiLee~

Sesuai perkataan Donghae pada Hyunjae sebelumnya, ia memang benar-benar melaksanakan ucapannya, mengungkapkan apa adanya bahwa keduanya memang telah menikah secara agama di LA beberapa tahun silam, namun sampai saat ini pernikahan keduanya masih belum diresmikan dengan pencatatan di kantor catatan sipil. Oleh karena itu keduanya akan kembali menggelar pernikahan mereka secara resmi dan terbuka untuk para media yang ingin meliputnya dalam waktu dekat ini, mengingat seumur hidupnya keduanya menikah tanpa dihadiri orang-orang terdekat, tanpa altar, tanpa gereja putih nan indah, serta tanpa cincin pernikahan yang bertuliskan nama mereka masing-masing terukir di dalamnya.

Dan hari ini semua itu menjadi kenyataan.

Gereja St Andrew yang terletak di Honolulu, Hawai pun telah siap menjadi saksi pernikahan keduanya. Nyaris seluruh barisan bangku pengunjung yang terdapat di dalamnya telah dipenuhi oleh undangan dari berbagai kalangan. Dibarisan pertama  sisi kiri ditempati oleh keluarga Donghae: Ibu, Kakak, Nenek, serta kekasih kakaknya; sementara sisi satunya ditempati keluarga Hyunjae: ayah, nenek, serta Lee Sooman yang juga ikut hadir dalam acara itu sebagai big bos mereka sekaligus sahabat karib Cho Hyunjae semasa sekolah dulu. Dibarisan kedua dan ketiga masing-masing sisi keduanya ditempati oleh seluruh member Super Junior –termasuk Hankyung, Zhoumi, dan Henry, serta ketiga member Miina, Shinee, BoA, serta keluarga kecil Hyejin yang terdiri dari TOP, si manis Minah dan si mungil Minji duduk di sisinya. Selain keluarga besar SM town family –termasuk kelima manajer Super Junior, Daesung –manajer Miina, serta Seungri –mantan manajer Hyunjae yang kini turut menangani Miina bersama Daesung- juga turut serta dalam undangan- terlihat beberapa sahabat mereka dari agensi lain dan berbagai kalangan pun turut hadir layaknya Park Jinyoung -mantan bos Hyunjae ketika masih trainee di JYP, Lee Gikwang dan Yoseob b2st, serta Kim Soohyun, Ok Taecyeon, Tiffany dan Sehun pun hadir disana. Tak lupa beberapa media yang telah diberikan kebebasan untuk meliput serta beberapa ELF dan BABHYun yang beruntung pun ikut hadir menjadi saksi pernikahan itu.

Tak tampak sosok Hyerin dan f(x) yang notabene masuk kedalam list undangan hadir hari itu. F(x) sendiri memohon maaf karena mereka harus mengadakan concert hari itu di Singapura, sementara Hyerin yang semula akan berangkat ke Hawai kemarin terpaksa membatalkan niatnya karena bayi yang tengah dikandungnya sudah tak sabar ingin dilahirkan, dan ia pada akhirnya melahirkan seorang bayi pria yang sangat tampan hasil buah cintanya dengan Cheondoong, pria yang telah menyuntingnya setahun lalu di sebuah kapal pesiar ditengah lautan pasifik.

“Hyung… himnae~” bisik Kyuhyun dengan sebelah tangan terkepal di depan wajahnya, memberi semangat, saat mendampingi hyungnya yang terlihat gugup dalam balutan tuksedo putih yang dikenakannya sebelum hyung kesayangannya itu keluar dari balik pintu ruang tunggu pengantin pria.

Donghae meliriknya sebentar, menarik napas pelan sebelum akhirnya mengangguk mantap.

“Himnae!” ucapnya penuh semangat dengan sebelah tangan terkepal di depan wajah, layaknya yang dilakukan Kyuhyun barusan.

Ia membuang napasnya panjang, dan menariknya kembali sebelum  akhirnya Kyuhyun membukakan pintu yang ada dihadapannya, membiarkannya keluar, melangkah menuju tangga kecil di bawah altar putih yang akan mereka gunakan nantinya diikuti suara riuh dari beberapa member Super Junior yang heboh melihat sosok Donghae dalam busana pengantin pria. Kyuhyun tersenyum, kemudian berjalan keluar mengikuti Donghae dan berdiri di samping altar. Ia bertugas sebagai pengantar cincin, menggantikan Donghwa yang seharusnya berada di posisinya sekarang ini karena cedera yang di deritanya setelah terjatuh karena bermain bola di pantai semalam.

Suasana mendadak hening, tat kala seorang pastur keluar dari dalam sebuah pintu dan berdiri diatas altar lengkap dengan alkitab di salah satu tangannya. Tak lama setelah itu suara khas pernikahan mulai menggema menghiasi ruangan disertai denting lonceng yang berbunyi seiring terbukanya pintu kayu berukuran sangat besar.

BRAKK…

Pintu kayu itu pun menjeblak terbuka lebar dikedua sisi daun pintunya, membuat seluruh mata mendongak kearahnya. Sesosok pria setengah baya dengan jas hitamnya dengan sebuah senyuman bahagia terukir diwajahnya terlihat menggandeng seorang wanita cantik bertubuh mungil disamping kirinya. Wanita itu terlihat anggun dengan rambut setengah diikat yang sisanya dibiarkan tergerai di atas bahunya yang tak tertutupi gaun putih ekor panjang yang dikenakannya. Wanita itu terlihat terus menampakkan senyum sumringahnya.

Dengan langkah perlahan dan seirama, keduanya berjalan diatas karpet biru panjang menuju altar yang terletak sekitar 20 meter dihadapan mereka.

Donghae tersenyum senang melihat sosok idamannya itu kini melangkah mendekatinya dalam balutan gaun impiannya lengkap dengan sebuket bunga mawar segar  yang tergenggam di sebelah tangannya.

“Sekali lagi, aku mempercayakannya kepadamu,” bisik Cho Hyunjae ditelinga menantunya itu ketika dirinya melepaskan tangan anaknya yang melingkar di lengan kirinya dan kemudian menyerahkannya ke dalam genggaman Donghae. Pria itu tersenyum, kemudian mengangguk pasti.

Cho Hyunjae tampak tersenyum puas sebelum akhirnya duduk dibarisan pertama, disamping ibunya yang sejak tadi menagis haru melihat cucu perempuannya akhirnya menikah secara normal di depan matanya.

Kedua mempelai itu lantai berjalan beriringan menaiki tangga kecil dan berdiri di depan meja altar dimana Pastur Alenander telah siap membacakan sumpah mereka. Perlu diketahui, Pastur yang akan membimbing sumpah sehidup semati mereka adalah pastur yang sama yang mengambil sumpah mereka beberapa tahun silam di rumah sakit tempat Kim Taeyeon dirawat.

“Yes, I do,” jawab Hyunjae penuh dengan keyakinan dan diakhiri dengan sebuah senyuman manis yang ia arahkan kepada pria tampan disampingnya ketika pastur menannyakan kesediaannya untuk menjadi pendamping seorang Lee Donghae seumur hidup.

Kyuhyun pun segera maju membawa sekotak cincin pernikahan keluaran salah satu toko perhiasan terbaik di Korea itu dan menyerahkannya kepada mereka setelah pastur mengesahkan status mereka sebagai sepasang suami istri. Donghae menjadi yang pertama mengambil cincin emas putih berbentuk sederhana dengan sebuah berlian berukuran kecil yang tersemat didalamnya serta garis aksen dari emas kuning yang membuatnya tampak elegan itu kemudian disematkan di jari manis tangan kanan istrinya, karena jari di tangan kirinya sudah tersemat cincin pernikahan mereka berdua sebelumnya. Tak lupa, kali ini di dalam cincin tersebut terukir nama mereka berdua.

 

Hyunjae juga melakukan hal yang sama, ia mengambilnya dari dalam kotak lalu menyematkannya di jari manis tangan kanan suaminya. Keduanya saling menatap satu sama lain, tersenyum, dan secara pasti wajah keduanya saling mendekat hingga bibir mereka saling bersentuhan dan dalam sekejap keduanya sudah berpanggutan lidah di depan altar membuat sorak-sorai bahagia dan menggoda membahana begitu saja ketika keduanya melakukan ciuman pertama mereka setelah sekian lama menikah. Karena nyatanya keduanya pertama dan terakhir kali berciuman adalah dihari keduanya memutuskan untuk berkencan.

~mrs.ChoiLee~

Desir suara ombak pantai wakiki memecah keheningan malam kedua insan yang tengah duduk santai diatas pasir pantai di depan kamar hotel tempat mereka menginap. Sang pria tampak hanya memakai celana pendek dibawah lutut dengan atasan singlet hitam pas badan yang menutupi bagian tubuh atasnya tampak duduk dengan kaki selonjor diatas pasir, sementara sang wanita memakai dress putih sederhana diatas lutut dengan rambut panjang coklat tergerai terbawa semilir angin pantai terlihat menyederkan kepalanya diatas bahu sang pria yang bidang. Kedua tangannya melingkar diperut sang pria.

Pria itu tampak bersenandung kecil, menyanyikan penggalan lirik lagu My Everything milik Lee Minho, dengan sebelah tangan yang membelai lembut lengan istrinya, sementara tangan satunya menopang tubuhnya agar tetap seimbang.

Diliriknya sebentar gadis yang memeluk perutnya itu kemudian tersenyum kecil saat melihat kedua matanya terpejam dan kembali melanjutkan senandungnya sambil ikut memejamkan kedua matanya. Tangannya semula yang menjadi penopang tubuhnya serta mengelus kepala istrinya itu kini ia gunakan untuk memeluk tubuhnya yang terlihat kedinginan akibat angin malam pantai, erat.

onjena noege igyobon jogi opso

sarangi jimyon jil surok nae gasumun haengbokhae

nol hyanghan sarange yuhyogigani opso

manyage itdago haedo mannyonil tenikka

(I’ve never triumphed over you

As the love towards you builds up my heart is happy

The love I feel towards you does not have any limits

Even if it does it’ll be infinity)

 

himgyowodo nae gyote isso jwo

naye jonbul da ilnonda haedo nol jikyojul goya

(Even if it’s tiring please stay by my side

Even if I lose everything I’ll protect you)

 

ojik no hanaman bogo dutgo shipun gol

nae ane norul salge hago shipun gol

nal bara bwa naye pumoro wa

You’re my every, my everything

You’re my everything, love for you

(I want to see and hear only you

In my interior I want to make you live

Look at me, come to my arms

You’re my every, my everything

You’re my everything, love for you)

 

I wanna be everything

 

ojik nae gasum sok juinun no ppunin gol

na-egen chuomija majimagin gol

nol bullo bwa sumshwil ttaemada nol

You’re my every, my everything

You’re my everything, love for you

(You are the only one who owns my heart

You are the first and last one to me

Everytime I breathe I call out to you

You’re my every, my everything

You’re my everything, love for you)

 

I Love You, You’re my everything

“Kau adalah satu-satunya pemilik hatiku.

Kau adalah yang pertama dan terakhir bagiku.

Aku selalu memanggilmu disetiap nafasku

Kau adalah segalanya, segala-galanya bagiku

Kau adalah segalanya bagiku, cintaku untukmu.

Aku mencintaimu, kau segalanya bagiku,” Ucap Donghae dalam hati sambil memandang lembut wakah istrinya yang tertidur dalam dekapannya.

Perlahan diangkatnya tubuh gadis itu dengan kedua tangannya, membawanya masuk kedalam pondokkan yang menjadi kamar pengantin mereka berdua. Menutupnya rapat dari dalam, dan memulai segalanya kembali dari awal atas dasar rasa cinta  dan kasih yang kini telah terpatri dalam kehidupan keduanya. Terpatri untuk saling mencintai seumur hidup, tetap bersama dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan keduanya.

END

AAAAAAAAA finally AKHIRNYA!!! BERES JUGAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! \(^O^)/ *goyang gayung*

Maaf atas keterlambatannya, padahal sebelumnya mau di publish tggl 14 kmren, tapi krn kenyataannya saya ga sempet terus gara-gara sibuk nemeni sepupu yang lagi liburan kesini alhasil part 2 yang udah 4x ganti cerita ini beres juga!! XD

Semoga memuaskan~ tapi jujur aja saya kurang puas -_- #selalu

Maaf kalo KEPANJANGAN. Tadinya mau d cut trus bikin part 3 aja sisanya. Tapi kan udah janji kalo ini twoshot jadi ya apa boleh buat.. semoga ga bosen bacanya -,- anggep aja bonus karena telat posting *bow*

 curhat dikit.. pas mau bikin bagin endingnya, ga sengaja saya kepeleset beneran, dan bener” dibagian sebelah kanan bikin lengan kanan dt pundak mpe telapak gemeteran ga kuat ngangkat barang berat, jgnkan ngangkat mw makan aja susah huhu

so ff selanjutnya baru dibikin setelah tangannya sembuh~

Mian banyak TYPO~~ tangan saya beneran sakit -_-

Sampai jumpa di marry you couple berikutnya~~~ XD

Iklan

12 thoughts on “MARRY YOU *childish couple vers* [2/2]

  1. Huwaaaaa, so sweet buanget 😀
    jadi pengen #tutupmuka
    kyaaaa, pengen dipeluk Kyuppa. Tiffany modus amat yak -_-
    btw, kyuppa couple sama siapa nih eon? Kok ngga ada pasangannya? Sama aku aja gimana #dilemparSPARKYU XD

  2. wah..akhirnya aku bisa liat sm couple bahagia..apalagi hyejin tw2 udh punya anak lg, minji..seneng happy ending..pokoknya ffnya keren..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s