MARRY YOU *romantic couple vers*

Cast :

  • Choi Seunhyun (TOP)
  • Seo Hyejin/Seo Chaehyun (OC)
  • G-na
  • Osamu Mukai
  • Lee Donghae
  • Kim Hyunjae (OC)
  • Choi Minah (OC)
  • Choi Minji (OC)

*backsound: i choose to love you – Hyorin*

-marry you-

Hannam-dong, Seoul, 6 Mei 2016

Choi Seunhyun-Seo Hyejin place

“Aish jinjja! Chaehyun-ah! Tolong bantu aku berpikir jangan tertawa terus seperti itu!!” protes Hyunjae dengan tatapan tajamnya tatkala sahabatnya yang sejak tadi ia ajak bertukar pikiran itu malah sibuk mentertawakan sebuah acara variety show yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta. Di protes seperti itu, Hyejin hanya meliriknya sekilas kemudian kembali tertawa keras sambil memegangi perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak tertawa.

“Ya! Percuma sajalah aku mempercayakanmu sebagai sahabatku yang paling kuandalkan dalam urusan seperti ini. Kalau hasilnya aku malah dicueki terus-terusan sejak awal lebih baik aku minta saran yang lain saja sekalian!” cibirnya seraya menarik tas tangannya yang tergeletak diatas meja peti yang ada di depannya kemudian bangkit dari atas sofa ruang tengah kediaman keluarga Choi Seunghyun itu.

Melihat gelagat temannya yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun seperti itu, ia lantas segera mematikan acara tv yang sedang di tontonnya itu dengan remot control lalu menarik sebelah lengan wanita itu agar kembali duduk disampingnya dan menghadapkan tubuhnya agar berhadapan dengan wanita itu.

“Hey.. Iya.. Iya.. aku minta maaf deh, sungguh aku benar-benar minta maaf~” ucapnya dengan nada sungguh-sungguh yang diakhiri dengan sebuah aegyo –yang paling jarang dikeluarkannya kecuali dalam keadaan mendesak- dan kerlingan nakal.

Hyunjae menatapnya lama lalu mendesah. Ia selalu kalah dalam menghadapi temannya yang satu ini jika ia sudah mulai bertingkah ‘aegyo’ yang menurutnya justru terlihat konyol itu. Entahlah meski konyol dan sama sekali tak ada imut-imutnya ia selalu merasa tak tega jika mesti marah berlama-lama dengan wanita satu ini.

“Haishh.. Arra-arra! Kalau begitu hentikan tatapan genitmu itu! Kau sungguh membuatku geli!”

Hyejin tertawa puas lalu melepaskan tangannya yang sejak tadi masih menggenggam sebelah lengan temannya itu.

“Lalu, apa yang bisa kubantu nyonya, Lee??” tanyanya pada sahabatnya itu.

Hyunjae mendesah. Ia kembali mengutuki wanita yang ada dihadapannya ini dalam hati. Bagaimana tidak? Sejak sejam yang lalau dirinya sudah bercerita panjang lebar pada wanita ini tentang apa tujuan ia kemari dan berkeluh kesah kepadanya, namun ternyata wanita ini sepertinya malah sama sekali tak menyimak apa yang ia sampaikan tadi.

“Eh.. tunggu-tunggu. Jangan salah apaham dulu! Aku mendengar kok apa yang kau katakan tadi, sungguh!” jelasnya buru-buru saat terdengar gertakkan gigi dari arah wanita itu.

Hyunjae menyipitkan matanya, menatapnya dengan tatapan tak percaya.

“Hya.. hya.. aku dengar kok sejak awal.. sejak kau bilang kalau ibu dari Donghae Oppa menginginkan cucu darimu, sementara kau sendiri belum siap, kan??”

“Lalu?” Hyejin meneguk ludahnya sendiri gugup. Ia sedang mencoba mengingat-ingat garis besar dari isi curahan hati sahabatnya itu. Jangan sampai ia salah, atau jika tidak temannya ini akan kembali marah padanya.

“Ah.. lalu Donghae Oppa juga setuju padamu karena menurutnya tingkahmu jauh lebih bocah daripada bocah tk sekalipun kan?”

Hyunjae tampak menatap Hyejin dengan tatapan super tajam tepat pada saat sahabatnya itu memberikan penekanan bahwa ‘dirinya jauh lebih bocah daripada bocah tk’, namun kepalanya tetap mengangguk pelan. Setuju.

“Dan ia malah mentertawai dirimu saat membayangkan bagaimana anehnya keluarga kalian jika memiliki anak saat ini dimana ia pasti akan merasa sedang menjadi seorang ayah  yang menjaga dua orang putri dan seorang putranya sekaligus, dimana kau adalah salah satu dari putrinya karena tingkahmu yang kekanakan itu, kan? Belum lagi jika ternyata anak kalian malah tak ingin berdekatan denganmu dan menangis keras karena auramu yang buruk itu jika dihadapan anak-anak, wkwkwkwk!!” Lanjut Hyejin yang mulai asyik menjabarkan aib temannya yang sebelumnya ia sendiri ceritakan padanya barusan. Ia sama sekali tak menyadari tatapan tajam sahabatnya itu pada dirinya.

Hyunjae merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia merasa bahwa dirinya memang benar-benar telah salah memilih teman curhat untuk urusan yang satu ini, padahal sebelumnya ia yakin bahwa Hyejin merupakan satu-satunya orang yang tepat untuk diajak bicara dalam hal ini. Tahu begini, ia akan lebih memilih untuk menghubungi Tiffany yang sudah jelas tak akan mungkin  mentertawakannya meski harus menjelaskan berulang-ulang pada gadis yang sedikit bermasalah dalam hal mencerna sebuah cerita itu.

“JANGAN TERTAWA!” gertaknya, sukses membuat Hyejin terdiam sebentar sebelum melanjutkan tawanya karena tiba-tiba teringat saat dimana dirinya yang saat itu masih tergabung bersama Miina dalam formasi awal. Dimana saat Minho yang saat itu masih menjalani acara hello baby memperkenalkan Yogeun kepada mereka –Miina dan Hyunjae yang kebetulan ada di lokasi acara music yang sama dengannya- sebagai anaknya, mulanya Yogeun terlihat tersenyum riang menyambut sapaan ketiga member Miina, terutama Binwoo, namun saat tiba giliran Hyunjae belum sempat ia mengatakan apa-apa bocah 4 tahun itu malah menangis histeris dan memaksa Minho untuk segera mengajaknya pergi dari sana, meninggalkan Hyunjae yang tampak shock ditempatnya.

“WKWKWK sumpah aku tak bermaksud, tapi bayangan soal Yogeun dan anak-anak lainnya membuatku terpingkal setengah mati! Wkwkwkwk!!” Hyejin memegangi perutnya yang kembali keram karena terlalu banyak tertawa. Matanya basah akibat air mata, dan wajahnya pun merah karena terlalu banyak tertawa.

Hyunjae memendangi wanita dihadapannya yang sibuk tertawa itu dengan tatapn sengit sekaligus sebal.

“HAISHHH!! AKU PULANG!” ketusnya kemudian berlalu meninggalkan temannya itu yang masih tiada henti tertawa puas.

BLAMMM

~mrs.choilee~

“Hey, ya kau salahlah.. Dia minta diberi saran malah kau tertawakan,” ucap TOP dari balik map tebal yang dibacanya ketika Hyejin istrinya menceritakan apa yang terjadi tadi siang dirumahnya itu. Tubuhnya setengah berbaring dengan punggung menyandar di dinding tempat tidur mereka.

Hyejin memandangi suaminya yang masih berkutat dengan berkas-berkas pekerjaan yang dibawa suaminya dari kantor itu dengan tatapan geli dari balik cermin meja riasnya. Bayangan tentang ucapan Hyunjae serta tingkah polanya disaat berada di sekitar anak kecil memang selalu berhasil membuatnya sakit perut menahan geli.

“Tapi itu sangat lucu! Benar-benar sangat lucu!” ucapnya seraya berjalan menuju tempat tidurnya lalu menyibak sebelah selimut disamping suaminya dan masuk kedalam selimut yang sama dengan suaminya yang masih sibuk membaca ulang berkas-berkas pekerjaan kantornya itu diatas tempat tidur. “Jika kau melihat langsung apa yang terjadi jika bocah itu berada di dekat anak kecil kau pasti akan tertawa! Hahaha..” lanjutnya lagi sambil menepuk-nepuk bantal busa yang akan dikenakan kepalanya disaat tidur sebentar lagi sebelum akhirnya merebahkan kepalanya diatas sana.

TOP memalingkan wajahnya dari tumpukan kertas dalam sebuah map hitam yang ada di genggamannya saat ini kearah istrinya yang mulai memejamkan mata itu dengan tatapan lurus. Ia mendesah pelan, lalu membuka kaca mata baca yang sejak tadi dikenakannya dan meletakkannya keatas nakas disamping tempat tidur mereka bersama dengan berkas-berkas yang baru dibacanya.

Ia menepuk bantalnya pelan lalu mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Ia menatap langit-langit kamarnya yang sengaja ia cat menyerupai warna langit itu dengan tatapan lurus.

“Bagaimana jika kita memberikan pelatihan awal pada mereka?” ucapnya pelan tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya, membuat Hyejin yang sama sekali belum tertidur dan hanya sekedar memejamkan matanya itu langsung membuka matanya dan berbalik menatap wajah suaminya yang masih menatap lurus langit-langit kamar mereka dengan tatapan bingung.

“Maksudmu?”

TOP membuang napasnya pendek, lalu ikut berbalik menghadap wajah istrinya yang hanya terpaut kurang 15cm darinya itu.

“Bagaimana jika kita memberikan pelatihan pada mereka agar lebih mendekatkan diri dengan anak-anak, khususnya untuk Hyunjae yang menurut penuturanmu sangat sulit dekat dengan anak kecil, tidak seperti Donghae hyung yang sangat suka sekali dengan anak kecil?”

“Caranya?” tanyanya antusias. TOP tersenyum kecil. Ditariknya tangan kirinya yang menganggur diatas selimut untuk membelai rambut panjang istrinya yang indah itu, pelan.

“Bagaimana jika kita meminjamkan kedua anak kita kepada mereka selama beberapa hari ini agar mereka terbiasa mengusrus anak kecil bersama-sama, dan agar Hyunjae juga bisa sedikit demi sedikit mendekatkan dirinya dengan anak kecil. Bukankah jika, ia nanti misalkan merawat Minah-contohnya, ia pasti akan sibuk mengantarkan Minah kesekolahnya dimana disana banyak terdapat anak kecil lainnya seumuran Minah, dan dengan seringnya ia bergaul dengan anak kecil pasti cepat atau lambat bisa memancing jiwa keibuannya yang selama ini tersembunyi dari dirinya,” jelas TOP masih dengan belaian tangan lembutnya pada kepala dan rambut panjang Hyejin. Membuatnya yang memang sudah sangat mengantuk nyaris tak dapat mencerna ucapannya dan semakin mengantuk akibat belaian lembut darinya.

“Lalu? Jika mereka berdua kita pinjamkan pada mereka, apa Minji dan Minah tak akan keberatan? Apalagi Minah itukan sangat dekat denganmu, tak mungkin ia mau lepas dari kita.”

TOP tersenyum lembut.

“Tenanglah. Semua bisa diatur. Dan jika Hyunjae dan suaminya setuju akan rencana ini, aku sudah punya rencana lain untuk kita,” ucapnya dengan diakhiri sebuah kerlingan dan senyuman misterius.

“Mwo?? Rencana apa??”

“RA-HA-SIA!” jawabnya membuat Hyejin mengerucutkan bibir tipisnya sebal. TOP terkekeh pelan memandang ekspresi lucu dari istri yang sudah dinikahinya lebih dari 6 tahun itu.

“Sudahlah, lihat saja nanti, yang jelas dalam seminggu kedepan ini kau harus benar-benar mengosongkan jadwalmu agar apa yang kurencanakan bisa berjalan lancar.”

Hyejin menatapnya dengan tatapan bingung. TOP tersenyum, lalu menarik tangannya yang semula sibuk membelai lembut rambut panjang istrinya dan meletakkannya diatas pinggang ramping wanita yang telah melahirkan dua orang buah hati mereka itu kemudian berganti memeluknya erat dengan mata terpejam.

“Untuk apa?” tanyanya bingung.

“…” tak ada jawaban.

Ditatapnya wajah suaminya yang sudah memejamkan matanya itu lama sebelum akhirnya mendesah pelan.

“Ditinggal tidur..” gerutunya kemudian terkekeh kecil saat melihat wajah damai yang ditunjukkan pria yang memeluk tubuhnya erat itu.

~mrs.choilee~

Star Sharp City, Gangnam, Seoul, 8 Mei 2016

“Ayo.. Ayo.. ucapkan selamat jalan dulu pada eomma dan  Appa~” ucap Donghae sambil melambaikan sebelah tangan Minji yang berada di dalam gendongannya pada Hyejin dan TOP yang sudah melambai-lambaikan tangan kepada mereka dari dalam sedan Porsche hitam milik TOP, bersiap untuk beranjak dari pelataran lobby apartment Sky Sharp City, tempat dimana pasangan Donghae dan Hyunjae tinggal.

“Hati-hati dijalan eomma~ ayo bilang~” tambah Hyunjae yang berdiri disamping suaminya dengan sebelah tangan menggenggam erat tangan kiri Minah. Tak seperti Minji yang tampak tenang saja digendongan Donghae, Minah yang merupakan anak pertama justru terlihat resah, wajahnya ditekuk, bibirnya membentuk sudut kebawah, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.

“Huwee.. eomma appa tega!! Jalan-jalan tidak mengajak aku!!” pekiknya kesal dengan sedikit terisak. Hyunjae yang menyadarinya terlihat panik, dan langsung berjongkok sejajar dengan tubuh gadis kecil berusia 6 tahun itu.

Hyejin yang melihat rengekkan anaknya hanya bisa menahan dirinya dari dalam mobil saat TOP memegangi sebelah tangannya, lembut, melarangnya agar tidak turun dari mobil.

“Sudahlah, biarkan saja. Hitung-hitung kita mendidik Minah agar tidak terlalu bergantung pada kita,” TOP menatap wajah istrinya yang resah itu dengan tatapan lembut. Hyejin balas menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Ne, gureom, kami pamit ya~~!!” teriaknya dari dalam mobil seraya melambaikan tangannya sekali lagi kepada keempatnya yang masih setia menunggu kepergian mereka dari depan pintu masuk lobby sebelum akhirnya sedan mewah yang mereka tumpangi itu melaju pergi meninggalkan kawasan salah satu gedung apartmen elit di daerah gangnam itu.

~mrs.choilee~

 Dengan napas berat Hyejin memebenarkan posisi duduknya senyaman mungkin didalam pesawat yang mereka tumpangi setelah kira-kira setengah jam lamanya mereka berdua lepas landas dari lapangan terbang pribadi di kawasan Bandara Internasioal Gimpo.

Saat ini keduanya tengah berada di dalam sebuah privat jet milik keluarga TOP terbang menuju suatu tempat yang ia sendiri tak tahu kemana arah tujuannya karena TOP bersikeras tak ingin memberitahukannya dan membiarkan istrinya itu terus menerus diliputi rasa penasaran akut.

Bayangkan saja, kemarin ia dipaksa oleh suaminya itu untuk mengosongkan jadwalnya selama seminggu penuh agar dapat menjalankan ‘rencana’ yang ia bicarakan padanya dimalam sebelumnya, padahal seminggu ini jadwalnya bisa dibilang cukup padat, terlebih tepat di tanggal 12 mei nanti ia ada showcase di Busan, tapi dengan kekuasaan yang dimilikinya akhirnya pihak manajemen bersedia mengosongkan setidaknya 4 hari jadwalnya kedepan bukan seminggu seperti apa yang TOP harapkan, namun biarpun begitu nampaknya TOP cukup puas meski hanya mendapat jatah 5 hari.

“Jebal.. beritahu aku kemana tujuan kita saat ini??” rengek Hyejin pada pria bertubuh tegap yang duduk di atas sofa panjang yang ada disisi seberang tempat duduknya.

TOP yang sibuk mengganti-ganti channel video pada layar plasma dihadapannya dengan remote control hanya meliriknya sekilas sambil melempar senyuman misteriusnya. Membuat Hyejin merengut sebal.

“Hu.. tahu begini aku lebih baik aku tidak menolak tawaran majalah Vogue kemarin yang akan membawaku ke Saipan hari ini!” gerutunya sebal. TOP terkekeh geli mendengar gerutuan istrinya yang justru terdengar lucu ditelinganya itu.

‘Kau tidak tahu saja tempat tujuan kita kali ini akan jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan saipan.’

Batinnya sambil tersenyum geli.

~mrs.choilee~

“Ladies and gentlemen, wellcome to Maldives. The Paradise Island,” seru sebuah suara dari arah speaker yang terpasang di setiap sudut interior pesawat jet milik keluarga TOP, membangunkan Hyejin yang sejak tadi tertidur lelap dengan posisi berbaring diatas sofa.

Gadis itu tampak terganggu akan suara yang berasal dari arah kockpit pesawat itu dan langsung mendudukkan tubuhnya menyandar pada punggung sofa. Matanya berkali-kali ia kerjapkan dan sesekali mengusapnya dengan sebelah punggung tangannya, mencoba memulihkan kembali kesadarannya yang sempat hilang setelah kurang lebih 9 jam berada di dalam pesawat.

“Sudah bangun?” TOP tersenyum lembut kearahnya lalu meneguk segelas jus apel yang ada diatas meja kecil disamping sofa yang di dudukinya.

“Tadi pilotnya bilang kita kemana? Aku tidak dengar,” tanyanya dengan kedua mata yang masih terkejap beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang sesekali masih menderanya.

“Maldives,” jawabnya santai. “Maladewa.”

“Ha?” kedua mata gadis itu terbelalak lebar ketika mendengar nama sebuah tempat baru saja dsebut oleh suaminya. Rasa kantuknya mendadak hilang.

“M-maldives?” tanyanya tak percaya. TOP mengangguk mantap lalu tersenyum mengiyakan.

Kedua matanya semakin terbelalak lebar. Mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O besar.

Ia kaget sekaligus tak percaya bukan kepalang! Bayangkan saja, Maldives atau Maladewa yang baru saja disebutkan oleh TOP adalah salah satu tempat wisata impiannya sejak melihat keindahan tempat itu melalui drama Boys Before Flowers beberapa tahun silam.

“Jinjja daebak!” pekiknya antusias membuat TOP tertawa dibuatnya.

Hyejin selama ini selalu tampak tenag diluar, namun entah kenapa sejak keduanya menikah dan menjadi dekat satu sama lainnya ia berubah jadi pribadi yang lebih ekspresif tiap kali bersama dengannya.

~mrs.choilee~

Maldives, atau yang memiliki nama lain sebagai Maladewa merupakan sebuah negara kepulauan di daerah Samudera Hindia, sebelah barat Sri Lanka, yang dibentuk oleh rantai ganda dari dua puluh enam orientasi atol. Dengan banyaknya pulau-pulau kecil yang berada disana dengan dikelilingi oleh berbagai macam terumbu karang serta air laut yang sangat jernih membuat tempat ini tampak sangat menakjubkan dan disebut-sebut sebagai ‘pulau surga’ terutama setelah keindahannya diekspos oleh sebuah drama terkenal Boys Before Flowers beberapa tahun silam, menjadikan tempat ini semakin diminati para pelancong luar negeri layaknya yang dilakukan oleh Hyejin dan TOP.

Seo Hyejin yang sudah jatuh hati pada tempat ini setelah melihat keindahannya pada drama favorit tersebut memang sudah lama sekali berharap bisa ke ‘surga dunia’ yang satu ini suatu hari nanti bersama dengan orang yang dicintainya.

Dan itu semua terwujud saat ini. Bersama dengan TOP, pria yang dulu sempat terpaksa dinikahinya akibat sebuah ‘insiden’ yang kini telah menjadi pria paling dicintainya dimuka bumi ini melebihi siapapun akhirnya ia bisa menyempatkan dirinya ke tempat ini. *a/n. Yang lupa baca sdd part 6b*

Mereka berdua tiba di Angsana resort & spa yang merupakan salah satu resort terbaik di Maldives tepat pada saat matahari sudah kembali ke peraduannya, membuat keduanya mau tak mau langsung menunda untuk menikmati keindahan alam yang tersaji keesokan harinya dan lebih memilih untuk masuk kedalam kamar.

“Follow me,” ucap salah seorang staff hotel ketika ketika mereka selesai menandatangai beberapa dokumen administrasi di meja resepsionis. Keduanya mengangguk sopan, kemudian berjalan mengikuti staff tersebut yang terlihat sedikit kerepotan mendorong trollynya kearah pintu keluar.

Begitu sampai di depan pintu hotel, mereka sudah ditunggui oleh sebuah mobil golf yang akan mengantarkan mereka semua menuju kamar hotel yang telah mereka pesan. TOP berjalan duluan mendahului Hyejin lalu membantunya naik kedalam mobil, sementara pegawai hotel tersebut sibuk menaruh barang-barang bawaan mereka kebagian bangku paling belakang sebelum akhirnya ia sendiri duduk dibelakang kemudi dan mulai menjalankan benda tersebut.

Jarak dari Villa/pondokkan yang dipesan TOP dari gedung utama resort memang lumayan jauh, sekitar 200 dari gedung utama karena ia sengaja memesan tempat yang lebih eksklusif dan memiliki view serta kualitas terbaik di resort itu.

Sepanjang jalan menuju kamar istirahat mereka, tak henti-hentinya Hyejin berdecak kagum akan keindahan tempat tersebut yang kini berhiaskan cahaya lampu remang serta siluet langit senja yang mampu membuatnya semakin terlihat indah.

Tak sampai 5 menit lamanya, mobil golf yang mereka tumpangi akhirnya berhenti didaerah persimpangan antara beberapa jalanan kayu yang berukuran lebih kecil dari jalanan sebelumnya yang merupakan akses masuk menuju pondokkan-pondokkan penginapan yang ada di resort tersebut.

~mrs.choilee~

“Whoaahh,” decak Hyejin kagum saat mereka tiba di depan bangunan kamar yang akan mereka tempati selama 4 hari kedepan.

Sebuah bangunan kayu bertingkat dua lengkap dengan sebuah kolam renang kecil serta pondokkan mini tempat mereka beristirahat menikmati pemandangan yang terletak tak jauh dari kolam renang yang ada dihadapannya ini merupakan tempat yang sengaja suaminya pesankan untuk misi bulan madu mereka yang tak pernah dilaksanakan.

Begitu masuk kedalam bangunan kayu tersebut, kekagumannya akan selera tinggi suaminya itu semakin meningkat. Bayangkan saja, kamar yang TOP pesan ini bukanlah sembarangan kamar, kamar ini tertelat lebih jauh dan menjorok ke tengah lautan jika dibandingkan dengan pondokkan lainnya, selain itu dari dalam kamar ia bisa terus tetap menikmati keindahan lautan Maldives yang terhampar luas dari balik kaca yang menghadap langsung dari tempat tidurnya.

“Sudah-sudah, mandi dulu, lalu makan kemudian tidur, besok baru kita jalan-jalan, ok?”

Hyejin yang sejak tadi sibuk berkeliling bangunan tempat peristirahatan mereka itu langsung menghentikan langkahnya, menghadap suaminya itu dengan tatapan tak rela lalu mengangguk pelan.

“Eung!”

~mrs.choilee~

Paginya..

Sesuai janji TOP semalam, setelah sarapan di restaurant terapung dekat villa mereka akhirnya TOP mengajak istrinya itu berkeliling pulau dengan boat yang telah ia pesan dari pihak hotel yang sejak pagi telah terparkir rapih di dermaga kecil yang ada disamping villa mereka.

Hyejin yang tampak antusias sekali dengan ide suaminya itu segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai, sementara TOP pergi duluan menuju dermaga untuk mengecek mesin boat yang akan mereka gunakan tersebut.

Sekitar 10 menit berselang, akhirnya ia menampakkan dirinya juga dalam balutan kaus tanpa lengan motif bunga-bunga berwarna hitam putih dengan bawahan jeans hot pants serta wedgess tali hitam kebanggaannya. Dikepalanya terpasang sebuah topi bulat berwarna gading serta kacamata hitam Ray-Ban kesukaannya yang ia gunakan sebagai penangkal silaunya sinar matahari yang mengancam wajah mulusnya.

“Yeobo-ya~” panggilnya sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya riang pada suaminya yang nampak serius mendengarkan arahan dari salah seorang staff yang akan membantunya dalam mengendarai boat tersebut.

Mendengar ada seseorang yang memanggilnya membuat TOP menoleh, pria itu juga.

Sekilas TOP tampak terpesona akan kecantikkan istrinya itu terlebih dalam balutan busana mini cenderung santai yang membalutnya kini. Membuatnya sedikit tercengang dibuatnya, begitu juga pria disampingnya, namun ia buru-buru menyadarkan dirinya dari dunia khayal yang baru saja membuyarkan pikirannya itu dan beralih untuk mengecek tangki bensin dari boat yang akan mereka gunakan tersebut.

“Hey, lama sekali?” protesnya setelah kesadarannya kembali pulih.

Hyejin hanya tersenyum polos, seolah tak berdosa.

“Ada masalah?” tanyanya heran ketika menyadari keduanya –TOP dan salah seorang staff itu- masih berkutat dengan mesin boat.

“Anni, hanya mengecek saja, agar nanti saat digunakan mesinnya tidak bermasalah,” jawabnya apa adanya. Wanita itu mengangguk paham kemudian menyambut uluran tangan suaminya yang berniat membantunya untuk naik keatas Boat yang tingginya lebih rendah dari tepian dermaga.

“Ayo, Osamu, kita berangkat~” perintahnya pada pria yang sejak tadi membantunya itu. Pria itu mengangguk paham lalu perlahan mulai menjajaki kakinya menuju bagian deck dan mulai menyalakan mesinnya.

Dengan kecepatan sedang, boat yang dikendarai Osamu melaju mengelilingi daerah kepulauan Maldives yang elok.

Berbagai macam jenis ikan dan terumbu karang dapat telihat jelas dari sisi boat karena air lautnya yang sangat jernih, membuat sepasang suami istri itu tampak terpukau akan keindahannya.

Setelah sekitar setengah jam berkeliling, akhirnya boat yang mereka gunakan itupun berhenti tepat ditengah-tengah lautan, sesuai permintaan Hyejin yang meminta pada suaminya itu untuk mengambil gambar dirinya yang berpose diatas boat ditengah-tengah lautan yang tenang dengan kamera mini SLR miliknya yang selalu ia simpan di dalam tasnya.

“Aigoo.. Istriku cantik sekali~” pujinya sembari mencubit pipi mulus istrinya itu gemas.

“Aishh, yeobbo-ya. Appo!!” protesnya dengan pipi tergembung, membuat TOP semakin gemas padanya.

Sementara kedua suami istri itu disibukkan dengan kemesraan mereka satu sama lain, Osamu yang bertugas menemani mereka hanya bisa menghela napas berat melihatnya. Bagaimana tidak, ia sebagai pemilik dari kapal yang dipinjamkan pada temannya sendiri itu malah sama sekali tak diajak bicara oleh sepasang suami istri dimabuk asmara ini. Dan ia juga tak habis pikir, mengapa seorang TOP yang selama ini ia kenal sebagai pribadi yang dingin dan cuek malah berbeda 180o dihadapan wanita ini.

“Ehemm..” dehemnya lumayan keras membuat sepasang suami-istri itu memandang kearahnya. Membuatnya sedikit salah tingkah karena tak tahu harus bicara apa.

“Ah, aku lupa!” Top menepuk jidatnya pelan kemudian bangkit dari posisi duduknya, mendekat kerah Osamu yang tengah duduk dipinggiran boat.

“Jagiya, perkenalkan. Ini Osamu Mukai, dia temanku semasa di Kanada dulu sekaligus rekan bisnisku. Dia orang Jepang yang sudah lama tinggal di Kanada, dan dulu juga sempat tinggal beberapa tahun di Korea, dan ia juga pemilik dari resort yang kita tempati saat ini,” jelasnya panjang lebar membuat Hyejin tampak tersenyum bersalah karena telah mengira pria dihadapannya ini adalah salah seorang pegawai resort.

“Ah, tak apa tak usah dipikirkan,” ucap Osamu halus dalam bahasa Korea yang cukup fasih saat wanita itu meminta maaf padanya karena telah mengira bahwa dirinya merupakan pegawai hotel. “Salahku juga yang belum sempat memperkenalkan diriku padamu.”

“Aigoo, jeongmal mianhae,” ulangnya sekali lagi. Masih tak enak hati.

“Gwenchana.. gwenchana.. Hahaha anggap saja kalau kita berdua ini juga telah berteman lama layaknya aku dengan TOP,” tekannya, mencoba menghilangkan rasa bersalah gadis dihadapannya ini.

~mrs.choilee~

Setelah seharian menghabiskan waktu mereka berkeliling pulau Maldives akhirnya mereka berdua kembali ke resort tepat di waktu makan malam. Tak seperti kemarin malam dimana mereka menghabiskan makan malamnya di dalam kamar, kali ini TOP mengajak istrinya itu untuk makan di sebuah lounge yang berada mengapung ditengah lautan tepat sekitar 20 meter dari dermaga villa mereka.

Karena letaknya yang berada di tengah laut, membuat keduanya harus menggunakan perahu kayu yang sengaja disediakan demi mencapai tempat tersebut jika tak mau bersusah-susah berjalan memutar menuju bibir pantai untuk berjalan kaki menuju sana yang pastinya akan lebih melelahkan.

“Selamat makan~”ucap keduanya berbarengan ketika meja dihadapan mereka berdua telah tersaji penuh berbagai macam pilihan aneka hidangan laut.

Desir suara ombak yang tenang serta hembusan angin pantai yang tak terlalu kencang membuat keduanya larut dalam suasana romantisme yang tercipta disekeliling mereka. Cahaya temaram api obor serta petikkan suara gitar yang mengalun dari arah bibir pantai dimana pusat hiburan berada mampu membuat keduanya semakin terhanyut dalam suasana.

~mrs.choilee~

Waktu telah menunjukkan pukul 03.10 dini hari waktu setempat ketika tiba-tiba saja Hyejin terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu, keringat dingin keluar membasahi wajah serta bagian lehernya. Pikirannya kacau.

Baru saja ia bermimpi sesuatu yang tak mengenakkan perasaannya. Ia bermimpi bahwa kedua anak mereka Minji dan Minah menagis memanggil-manggil nama namanya, namun disaat ia akan mengahmpiri keduanya, kedua bocah itu malah dibawa pergi oleh seorang wanita berambut panjang yang wajahnya terlihat sangat familiar baginya namun tak terlalu ia jelas wujudnya.

Dan lagi, disaat ia meneriaki nama anak-anaknya itu sambil meminta bantuan suaminya yang berdiri dibelakangnya, pria itu malah berlalu menghampiri wanita itu kemudian mereka berempat pergi meninggalkannya sambil tertawa meremehkan. Meninggalkan dirinya yang terpuruk sendirian, menangisi kepergian keluarganya yang meninggalkan dirinya seorang diri dalam kegelapan.

“Hmmph.. Hmphh..” ia memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan dirinya dari mimpi buruk yang baru saja dialaminya.

Diliriknya sosok pria dibalik selimut yang tidur disamping kirinya. Pria itu tampang tertidur tenang dengan wajah damainya dalam posisi telungkup dengan kepala menghadap kearah dirinya, sementara punggungnya yang bidang terekspos begitu saja tanpa selimut yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya.

Diliriknya tubuhnya sendiri yang hanya tertutupi selimut hingga menutupi bagian dadanya, lalu ditengoknya lantai kamar mereka. Pakaian mereka berserakkan dimana-mana. Ia tersenyum.

Tubuh mereka sama-sama ‘naked’ akibat ‘aktivitas’ mereka semalam. Mengingatnya membuat wajahnya memerah menahan malu. Bagaimana mungkin semalam ia bisa begitu ‘liar’ dengan memulai semuanya duluan padahal selama ini mereka selalu melakukannya atas bujukkan dan rayuan gombal dari TOP yang selalu memulainya duluan, bukan dirinya seperti yang ia lakukan beberapa jam lalu.

“Aishh.. Babo!” gumamnya pelan. Ia menutupi wajahnya dengan selimut yang dikenakannya, menahan malu.

Secara hati-hati, ia beranjak turun dari ranjangnya, memunguti pakaiannya yang berceceran lalu mengenakan kimono tidurnya yang tergatung disamping tempat tidur. Ia mengambil handuk yang terlipat rapih diatas meja samping pintu kamar mandi lalu memutuskan untuk membersihkan dirinya sendiri dengan berendam sejenak di dalam jacuzzi yang ada di di dalam kamar mandi setelah dirasa dirinya tak bisa kembali tidur.

Aroma harum lavender menyelimuti ruangan jacuzzi yang tembus pandang mengarah kelautan lepas. Busa-busa dari cairan sabun yang ia tuangkan kedalam bak membuat dirinya semakin nyaman dan tenang menikmati pemandangan laut pagi yang tersaji di hadapannya, sekaligus berhasil membuat moodnya semakin baik dan pikirannya menjadi rileks.

Setelah sekitar satu jam berendam dan membersihkan dirinya, Hyejin  keluar dari dalam kamar mandi dan langsung mengganti pakaiannya. Kemeja putih dengan lengan ¾ akhirnya yang ia padankan dengan celana pendek hitam menjadi pilihannya pagi itu. Rambut basahnya ia keringkan dengan bantuan hair dryer yang disediakan pihak hotel lalu ia biarkan tergerai begitu saja menutupi punggungnya.

Waktu telah menunjukkan puku 4.50 dan TOP masih bergelung dibalik selimutnya. Ia tersenyum simpul. Tak mau mengganggu tidur lelapnya ia memutuskan untuk keluar kamar, berjalan-jalan sejenak menikmati pemandangan pagi Maldives yang jarang-jarang bisa ia nikmati.

Siluet matahari pagi sudah mulai nampak dilangit pantai yang masih tampak sedikit gelap. Riakkan kecil air laut terdengar mengalun lembut ditelinganya. Angin sejuk pantai dipagi hari sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya yang terurai.

“AHH~” ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menikmati sejuknya udara pagi. Saat ini ia berdiri di tepian jalan kayu dekat dermaga kecil samping kamar hotelnya.

“Hyejin!” panggil sebuah suara. Hyejin menoleh dan mendapati seorang pria yang baru saja dikenalnya berlari kecil kearahnya. Ia tersenyum ramah.

“Hey, Osamu-san!”

~mrs.choilee~

Pukul 9.45 waktu setempat, TOP baru bangun dari tidurnya dan mendapati bahwa tempat tidur disampingnya kosong. Menyadari istrinya sudah menghilang dari sisinya, buru-buru ia memakai kembali pakaiannya yang berceceran di lantai lalu berlari-lari mencari sosok istri tercintanya itu keseluruh ruangan kamar villa dua tingkat tersebut. Karena tak kunjung menemukannya, iapun langsung berlari keluar.

“Hyejin-ah!” teriaknya lagi dengan napas sedikit terengah-engah akibat berlari dari kamar menuju semua tempat yang kemungkinan dikunjungi istrinya itu. Namun nihil. Sosok istrinya itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

“CHOI SEUNGHYUN!!” teriak seseorang, membuat TOP menghentikan langkahnya untuk mencari sosok yang baru saja memanggilnya.

—–

*TOP POV*

“CHOI SEUNGHYUN!!” teriak seseorang , memanggil namaku, membuatku seketika menghentikan langkah dan berbalik untuk mencari sosoknya. Dari suaranya sepertinya aku mengenalnya.

“Seunghyun Oppa~!” panggil orang itu lagi saat aku berhasil menemukan sosoknya.

Seorang wanita berambut ikal panjang berwarna coklat gelap tampak tersenyum girang seraya melambai-lambaikan sebelah tangannya kearahku. Membuatku terhenyak dan mematung seketika ditempatku.

 “Oppa~ long time no see~” ucapnya dengan senyuman ramah lalu memeluk tubuhku ringan ketika dirinya sudah berdiri dihadapanku. Dan tanpa di duga begitu pelukannya terlepas ia malah mengecup pipi kiriku singkat.

“J-jina-ya..” ucapku terbata. Aku terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba setelah sekian lama ini kami tak pernah bertemu.

Dia Jina.. mantan kekasihku saat masih tinggal di Kanada dulu. Wanita yang dulu membuat Hyejin salah paham hingga akhirnya membuat dirinya kecelakaan sesaat setelah memergoki kami yang tengah berciuman 6 tahun silam.

Entah kenapa perasaanku seketika menjadi tak karuan. Tiba-tiba firasatku mendadak tak enak begitu melihat kehadirannya yang tiba-tiba di tenga acara honey moon ku dan Hyejin.

“Hey, Oppa! Kau tak rindu padaku apa, huh?” sungutnya sebal karena aku tak kunjung membalas pelukkannya atau sekedar mengucapkan say hi padanya dan malah mengucapkan namanya dengan nada sedikit terbata. Membuatku sedikit kikuk.

“E-eh. Ah, ya. Nado bogoshippo,” lontarku pada akhirnya dengan nada kikuk. Jina terlihat memanyunkan bibirnya yang tebal, tanda kesal.

‘Aigoo.. kenapa wanita ini datang disaat yang tidak tepat sih? Jangan sampai Hyejin melihatnya! Ia bisa salah paham!!’ batinku resah.

Aku kembali mengedarkan pandanganku kesekeliling, mencoba mencari sosoknya yang sejak tadi kucari.

Dan bingo! Saat aku mengarahkan pandanganku kearah kanan, dimana terdapat sebuah gazebo kecil dipinggir pantai, sosok yang kucintai itu tampak sedang berdiri mematung bersama Osamu disebelahnya menatap tajam kearah kami berdua.

SHIT! Sepertinya ia melihat perlakuan Jina padaku tadi.

~mrs.choilee~

*Hyejin POV*

“Hahahaha..” tawaku entah untuk keberapa kalinya ketika Osamu, teman suamiku ini menceritakan kisah-kisah konyolnya padaku.

Sejak bertemu di dermaga tadi subuh, tanpa terasa kami berdua terus berbincang akrab sambil berjalan-jalan mengelilingi resort yang sebelumnya belum pernah kulakukan sejak berada disini, hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk duduk sebentar disebuah gazebbo kecil berbentuk pndokkan yang terbuat dari bambu untuk sekedar melepas lelah setelah berjalan-jalan.

Sungguh, pria di hadapanku yang adalah seorang pemilik resort yang kami tempati ini ternyata orang yang cukup low profile dan juga konyol. Buktinya ia tak sungkan berkeliling hotel untuk sekedar mengecek keadaannya tanpa memakai setelan jas lengkap layaknya seorang pemilik hotel pada umumnya dan malah hanya memakai celana ¾ dengan atasan kaos oblong yang sama sekali tak mencerminkan wujud seorang CEO. Dan lagi, ia juga orang yang sangat ramah dan tak segan membantu para pengunjung yang membutuhkan pertolongannya, layaknya yang ia lakukan beberapa saat yang lalu ketika seorang turis dari Tunisia –yang mungkin mengiranya seorang staff hotel- meminta tolong padanya untuk membantunya membawakan baki berisikan makanan jatah sarapannya.

Jadi? Tak salahka jika diriku kemarin juga sempat mengiranya sebagai seorang staff hotel? Hahaha~

“Hey, jangan tertawa terus. Lebih baik kau makan sudah hampir lewat jam sarapan, jangan sampai TOP yang sangar itu memarahiku nanti karena membuatmu kelaparan di hotelku sendiri,” perintahnya dengan wajah serius padaku yang masih sibuk tertawa akibat ceritanya barusan.

“Hahaha.. Arraseo.. Arraseo.. Tapi dia itu pasti saat ini sedang mencariku karena tiba-tiba sosokku menghilang dari sisinya. Kasihan dia pasti sampai sekarang belum sarapan juga,” ucapku saat melihat jam pada dinding gazebo telah menunjukkan jam 10 lewat. Jika pria itu sudah terbangun dari tidurnya pasti ia sedang kebingungan mencariku saat ini. Dia itu kan paling tak bisa jika tidak bersamaku~ haha

Osamu terkekeh melihatku dengan tatapan geli.

“Hey, ngomong-ngomong, aku bingung. Jujur saja selama aku mengenalnya dia itu adalah sosok yang dingin dan cuek sekali. Bahkan selama ia berkencan dengan mantan pacarnya dulu, kulihat dia itu tak seperti denganmu sekarang ini, begitu lembut dan sabar. Biasanyamantan-mantan pacarnya terdahulu lah yang bermanja-manja dan sibuk melontarkan gombalan-gombalannya pada TOP, bukan sebaliknya seperti pada dirimu saat ini. Bahkan saat ada aku diantara kalian saja ia melupakan kehadiranku diantara kalian, padahal sebelum-sebelumnya meski ada gadis yang ia kencani bersama kami ia malah lebih memilih untuk menyueki gadis itu dan memilih untuk sekedar merokok atau berbincang bersamaku,” ucapnya panjang lebar, “jujur saja hal ini membuatku bingung! Dia sama sekali menjadi orang yang berbeda saat disampingmu, bahkan saat aku bertemu dengannya dalam acara pertemuan di Turki dua minggu yang lalu, sosoknya yang dingin dan cuek serta aura sangar yang dimilikinya jelas kentara dari dalam dirinya. Benar-benar berbeda dengan sosoknya saat bersamamu seperti saat ini.” Osamu menatapku dengan ekspresi takjubnya, membuatku sebisa mungkin menahan tawa akibat mimik wajahnya yang lucu itu.

Bukan rahasia umum lagi bagi orang-orang disekitar mereka yang telah mengenal TOP selama ini bahwa sosok pria berwajah keras nan sangar yang memiliki sifat tempramental itu selalu berubah menjadi manis dan lembut jika berada di sekitar diriku. Bahkan eommonim saja mengaku takjub akan perubahan TOP yang drastis seperti ini sejak menikah denganku. Dan ia bangga karena aku bisa memberikan dampak positif bagi anaknya itu kkkk~

“Haish.. itu namanya keajaiban cinta~” kekehku membuat Osamu nyaris muntah mendengarnya.

“Sudah-sudah.. bagaimana kalau kita sarapan bersama saja di tempat kami? Kasihan jika dia ternyata memang benar-benar belum sarapan karena sibuk mencari-cariku. Hahaha~”

—-

“Kajja!” seru Osamu setelah makanan pesanan kami sebelumnya telah terbungkus rapih di dalam dua kantong plastik ukuran besar yang dikeduanya di tenteng oleh pria Jepang itu.

Aku mengangguk. Kami berjalan beriringan keluar gazebo menuju jembatan kayu dibibir pantai yang merupakan satu-satunya jalan menuju tempatku menginap.

“Eh? Itu kan, TOP?” ucap Osamu sambil menunjuk kearah jembatan kayu yang akan kami lewati dengan dagunya.

Langkah kami berdua terhenti. Aku memicingkan mataku untuk meliht lebih jelas lagi kearah yang ditunjuknya dan menadapati sesosok pria tinggi bertubuh elastis dengan rambut model acak-acakkan itu tengah berdiri diatas sana. Tapi.. dia tak sendirian. Ada sosok wanita berambut panjang yang berdiri di hadapannya.

Seketika saja pikiranku mendadak teringat akan sosok wanita yang mendatangi mimpiku semalam. Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali pada sosok wanita yang berdiri di hadapan suamiku itu sampai akhirnya kulihat wanita itu memeluknya sebentar lalu mengecup wajahnya kilat.

Kurasakan mendadak jantungku berhenti berdetak.

Aku ingat siapa dia. Dia Choi Jina, orang yang diakui TOP sebagai mantan pacarnya dulu, dan orang yang kulihat tengah berciuman dengan suamiku itu disebuah kafe beberapa tahun silam. *a/n : cek SDD part 13*

Dia juga sosok wanita yang datang ke mimpiku semalam. Melihatnya membuat firasatku jadi tak enak.

‘Mau apa lagi perempuan itu datang kehadapan kami sekarang?’

Aku diam terpaku ditempatku, melayangkan tatapan tajamku pada mereka berdua tak menghiraukan Osamu yang menarik sebelah tanganku agar mengikutinya menghampiri mereka berdua.

“Hyejin-ah..” panggilnya saat menyadari tatapan tajam yang kulayangkan pada mereka berdua.

Wanita bernama Jina itu tampak ikut menoleh kearahku lalu mengikuti TOP yang berlari menghampiri kami berdua.

“Hey! Ku cari kemana-mana ternyata kau malah bersama Osamu..” liriknya kesal pada sosok temannya yang memasang tampang tak berdosa disampingku itu. “Kau tahu? Aku sudah mencari-carimu kemana-mana tahu!”

Aku diam. Masih menatapnya dengan tatapan tajam. Jujur saja aku kesal melihatnya dipeluk dan dicium oleh wanita lain seperti tadi apalagi mengingat kenyataannya wanita itu adalah mantan kekasihnya yang membuatku nyaris kehilangan bayiku akibat kecelakaan setelah memergoki keduanya dulu.

“Jangan seperti ini lagi ya! Awas kalau kau mengulanginya!” marahnya lalu memeluk tubuhku erat, seolah tak ingin kehilangan. Kudengar Osamu berdehem kecil, sementara Jina kulihat ia hanya tersenyum kecut ditempatnya. Dari ekspresi wajahnya bisa kutebak ia pasti merasa tak suka jika mantan kekasihnya yang kini sudah menjadi ayah dua orang anak dari rahimku ini memelukku dengan erat seperti ini.

Rasakan!

~mrs.choilee~

Pertemuan tak terduga kami dengan Jina akhirnya membuat kami berempat melewati makan siang bersama di lantai atas villa tempat tinggal kami berdua. Mulanya samu menolak untuk bergabung bersama kami karena harus kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya, namun setelah kubujuk setengah mati akhirnya ia bersedia menemaniku disana karena aku merasa risih jika hanya bertiga bersama Jina dan suaminya. Ia takut kalau-kalau ia malah menjadi kambing congek karena sepasang mantan kekasih itu saling bernostalgia tentang kenangan indah mereka.

Tapi apa yang dicemaskanku ternyata tidak terbukti. Sepanjang acara makan siang sampai selesai Jina sama sekali tak menunjukkan sikap overnya pada TOP seperti apa yang diceritakan Osamu padaku di belakang tadi –setelah kupaksa cerita-  saat Jina dan TOP berkencan dulu, ataupun sikap ‘mesra’-nya pada TOP layaknya yang kulihat tadi pagi.

Jina justru lebih banyak diam dan tersenyum. Ia bahkan tak jarang mencoba mengangkrabkan diri denganku.

Meski sikapnya baik dihadapanku, jujur saja malah membuatku merasa semakin risih dan harus waspada pada sosoknya.

“Hyejin-ssi.. Jangan cemas. Aku sudah berjanji pada TOP dan pada diriku sendiri bahwa aku akan merelakannya pergi dari hidupku setelah kejadian waktu itu,” ucapnya dengan seulas senyuman tulus yang terhias diwajahnya ketika ia membantuku membereskan meja yang kami pakai makan siang barusan  diatas balkon lantai dua sementara kedua pria lainnya terlihat sibuk menghisap rokoknya masing-masing di kolam renang lantai bawah.

Sepertinya ia merasakan tatapan tak suka yang ku layangkan padanya sejak awal.

Aku menatapnya lurus. Segelintir raut tak percaya mungkin terlihat jelas diwajahku kini karena buktinya ia malah menepuk pundakku pelan, masih dengan senyuman tulusnya.

“Aku serius. Percayalah,” ucapnya dengan nada tulus. Ia kemudian berbalik memunggungi pinggiran meja menyandar padanya, menatap pemandangan lautan lepas yang tersaji dihadapannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Kau sangat beruntung mendapatkan Seunghyun Oppa, Hyejin-ssi. Apalagi setelah kulihat dari raut wajah dan tatapan tulus penuh dengan perasaan cinta yang terpancar dari dirinya ketika melihat dirimu. Aku semakin yakin bahwa Seunghyun Oppa memang bukanlah untukku…

“.. dia benar-benar mencintaimu dengan tulus..” ia menoleh, menatapku dengan raut serius namun penuh dengan ketulusan. Membuat sikap risih dan waspadaku padanya mendadak lenyap seketika.

“asal kau tahu saja.. selama aku mengenalknya, aku tak pernah melihat tatapan seperti itu dari dirinya, bahkan selama kami berdua masih berkencan dulu. Kuharap kalian akan terus bersama sampai maut memisahkan kalian..”

Aku tersenyum lalu tanpa sadar memeluknya erat. Ia tampak sedikit terkejut akan perlakuanku namun akhirnya membalas pelukanku ini dan menepuk punggungku pelan.

“Gomawo. Jina-ssi..”

~mrs.choilee~

Malam terakhir kami di Maldives, digunakan TOP untuk mengajakku untuk pergi kesebuah tempat yang masih ia rahasiakan. Berbalutkan sebuah gaun berwarna biru gelap dengan sepatu hak berwarna hitam keluaran Alexandre McQueen yang diam-diam telah ia persiapkan khusus untukku, aku berjalan keluar dari dalam Lotus hitam dengan mata tertutup kain hitam yang dipasangkan TOP sejak aku masuk kedalam mobil.

“Yeobo-ya.. cepat buka aku sudah tak tahan. Mataku sakit!” protesku saat mataku mulai terasa perih akibat ikatan yang terlalu kencang.

“Sabar-sabar.. sebentar lagi ya..” jawabnya sabar.  Sebelah tangannya memegangi pundakku, sementara sebelah lagi memegangi kedua tanganku agar tak memaksa membuka ikatannnya. Kami berdua berjalan pelan dan terkesan hati-hati, TOP membimbing langkahku agar tak terjatuh berjalan dalam kegelapan seperti ini.

Angin sepoi-sepoi yang semula kurasakan setelah keluar dari dalam mobil kini berubah menjadi sejuk layaknya udara yang berasal dari pendingin udara. Bau amis khas pantai kini berganti dengan harumnya masakan laut yang menerobos masuk kedalam hidungku.

Aku yakin kami saat ini pasti berada di dalam sebuah restaurant.

“Ja.. buka matamu,” perintah TOP sesaat setelah ikatan yang menutupi mataku itu terlepas.

Aku membukanya perlahan lalu mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Mencoba menghalau rasa silau yang terasa menusuk mataku.

“WHAA..” ucapku tanpa sadar saat menyadari dimana kami saat ini. Kami berada dibawah laut! Tepatnya di dalam sebuah restaurant bawah laut.

Dari tempatku berdiri saat ini aku bisa melihat dengan jelas ribuan ikan dalam beberapa koloni berenang berlalu lalang diatas kami. Sangat menakjubkan!

“Yeobo-ya..” aku menoleh, menatap wajah sesosok pria yang tengah tersenyum lebar melihat ekspresi takjub diwajahku itu dengan tatapan haru.

“Otte? Kau menyukainya??”

Aku meggigit bibir bawahku menahan tangis. Kedua mataku sudah berkaca-kaca, terharu akan perlakuannya.

 “Joha! Aku sangat-sangat menyukainya!” jawabku lalu memeluknya erat.

 “Aku sangat.. sangat menyukainya. Sangat menyukainya!” ulangku dalam dekapannya dengan nada sedikit terisak akibat air mata yang terus menerus keluar membasahi jas keluaran perancang pakaian ternama Eropa yang dikenakannya. Aku benar-benar tersentuh. Tak pernah terpikirkan dalam hidupku selama ini bahwa aku bisa mengunjungi sebuah restaurant bawah air sambil menikmati pemandangan bawah laut Maldives

~mrs.choilee~

Busan, 12 Mei 2016

hari kedua setelah kami berdua kembali dari Maldives. Kamerin sesuai dengan yang telah direncanakan pagi-pagi seklai kami kembali ke Korea dengan penerbangan paling pertama demi mengejar gladi resik acara showcase yang akan aku hadiri hari ini.

Tata cahaya lampu serta penataan yang begitu apik telah siap menyambut penampilanku hari ini di salah satu stadium indoor di Busan. Ini adalah showcase pertamaku di kota ini, yang merupakan rangkaian mini konser pertamaku ke 3 kota besar yang ada di negara ini setelah tahun lalu membuat sebuah konser besar di Seoul. Dan yang yang lebih istimewa lagi bisa dibilang show case ini merupakan sebuah mini concert yang khusus diadakan demi menyambut hari kelahiranku sesuai usulan beberapa My J –sebutan bagi fans setiaku, yang terdiri dari 2 suku kata yakni My untuk menunjukkan milik, sementara J sendiri diambil dari nama belakangku, hye-Jin, yang jika digabungkan menjadi hyeJin-ku, yang menunjukkan bahwa aku adalah milik mereka- untuk memperingati hari jadiku yang ke 25 tahun.

 “Hyejin-ssi 15 menit lagi!” seru seorang staff dari balik pintu ruang tunggu.

Aku mengangguk kemudian menatap wajahku sendiri di depan cermin.

“semangat.. semangat!” gumamku menyemangati diriku sendiri.

~mrs.choilee~

*author POV*

“Hey, apa kalian siap?” tanya TOP melalui kaca jendela mobil  yang terbuka pada sepasang suami istri yang baru saja tiba di parkiran basement sebuah gedung stadium dengan sedan putihnya. Keduanya mengangguk mantap padanya.

“Appa~” panggil sebuah suara imut dari arah jok belakang, membuat TOP melongokkan kepalanya melihat kearah dalam melalui jendela pintu penumpang samping kemudi. Membuat sosok wanita yang duduk disana memundurkan kepalanya menghindari kontak fisik pada wajah mereka yang jaraknya terlalu dekat.

“Ya! Ya! Tunggu sebentar biar kami keluar dulu jangan melongokkan kepalamu disamping istriku seperti itu!” protes pria dibelakang kemudi, risih melihat istrinya berdekatan dengan pria lain.

TOP terkekeh lalu menarik kembali kepalanya, membiarkan kedua sisi mobil dua pintu itu terbuka dan beberapa sosok malaikat kecilnya keluar dari dalam sana setelah sepasang suami istri membantu keduanya keluar dari bangku belakang.

“Appa~ jeongmal bogoshippoyo~~” Minah memeluk sosok ayah yang amat dirindukannya selama 6hari belakangan ini manja yang tentu saja langsung dibalas pelukan erat dari ayahnya itu. Sementara si kecil Minji tenang-tenang saja dalam gendongan Hyunjae.

Perlu diketahui, setelah melalui masa-masa berat bersama kedua bocah balita itu Hyunjae akhirnya perlahan mulai bisa dekat dengan anak kecil khususnya dengan Minji yang memang memiliki sifat tenang dan tidak cengeng, jadi dengan mudah ia bisa dekat dengannya.

“Minji? Kau tak rindu pada Appa?” tanyanya pada Minji, dengan Minah yang sudah bertengger diatas lengan kekarnya menggendongnya dengan bertumpu pada sebelah tangan, memeluk leher pria bermarga Choi itu erat seolah tak mau melepaskannya lagi.

Minji yang semula tampak tenang, seketika langsung menangis histeris seraya mengulurkan kedua tangannya kearah ayahnya itu, memohon untuk digendong.

TOP terkekeh, lalu menurunkan Minah dari gendongannya dan berganti menggendong Minji dalam dekapannya.

“Aigoo.. si kecil Appa ini juga rindu rupanya, haha,” ia mengelus-elus pundak anak bungsunya itu penuh dengan rasa sayang. Membuat tangisannnya seketika berhenti, berganti dengan tawa renyah khas bayi.

“Wha, daebak!” gumam Hyunjae, takjub. Ia tak pernah habis pikir bagaimana caranya orang tua bisa mendiamkan anaknya yang rewel dalam seketika? Padahal dirinya demi mendiamkan Minah saja mesti berpikir keras dan menelpon halmeoninya untuk mencari tahu cara mendiamkan seorang anak kecil. Dan itupun tak berhasil!

“Hey.. Jika kita punya anak nanti, apa aku bisa seperti dia ya?” bisik Donghae ditelinga Hyunjae, kontan membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

~mrs.choilee~

Sudah sekitar 6 lagu Hyejin bawakan dengan apik diatas panggung dan selalu mendapatkan sambutan meriah dari para penonton yang hadir disana. Tinggal 1 lagu terakhir yang akan ia bawakan sebagai penutup sekaligus puncak dari acara tersebut.

I choose to love you, pun menjadi lagu andalan Hyejin dalam show casenya kali ini. Lagu ini sengaja ia pilih sebagai bentuk cintanya pada suaminya dan sengaja ia recycle dan sisipkan dalam album terbarunya, khusus untuk TOP.

Music intro versi orkestra mulai mengalun lembut, Hyejin turun perlahan dari atas sebuah tangga, berjalan menuju panggung.

Baru saja Hyejin akan membuka bibirnya untuk bernyanyi, tiba-tiba saja seluruh lampu mendadak mati dan hanya menyisakan sebuah cahaya lampu sorot yang mengarah langsung menuju satu titik lingkaran di pusat panggung.

Mendadak sebuah lubang terbuka di sebelah sana.

“Nae tteugeon ipsuri neoui ..

budeureoun ipsure dakil wonhae..

nae sarangi neoui gaseume.. jeonhaejidorok..”

(my hot lips want to touch your soft lips, so that my love will be delivered to your heart)

Lantun seseorang dengan nada beratnya, membuat Hyejin serta beberapa penonton yang hadir disana menatap kearah pusat panggung itu dengan tatapan penuh tanya.

Perlahan sosok itupun muncul dari balik lubang dengan bantuan lift panggung yang mengangkat tubuh tingginya dari dalam panggung.

Satu-satunya lampu sorot yang menyala menyorot tepat kearah tubuhnya, membuat siapapun yang ada dihadapannya disana dapat menangkap wajahnya dengan jelas.

Hyejin yang kebetulan berada di belakangnya hanya bisa memicingkan mata kearah pria itu dengan hati bertanya-tanya. Siapa dia?

Sementara itu, para penonton yang menyadari siapa sosok pria tersebut segera sibuk melayangkan riuh rendah mereka dari bangku penonton. Membuat Hyejin semakin penasaran karenanya.

 “ajikdo naui maeumeul moreugo.. isseotdayeoneun..

i sesang geu nuguboda.. neol saranghagesseo..”

(if you still haven’t know how i felt, i will love you more than anyone in this world)

Pria itu berbalik, memutar tubuhnya perlahan mantaap sosok wanita bergaun merah dengan ekor panjang yang masih berdiri di atas beberapa anak tangga yang tersisa dari langkahnya yang terhenti. Sebuah senyuman lembut ia layangkan pada sosok wanita itu yang tampak terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba.

Dia TOP. Suaminya.

Pria itu nampak sangat berkarisma dan sangat tampan dibalik balutan sebuah tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna senada yang melengkapi hiasan pada kemeja putih yang dikenakannya.

(neol saranghagesseo..)

“eonjekkhajina..”

(i will love you until always, i will love you)

(neol saranghagesseo..)

“jigeum i sungancheoreom

i sesang geu nuguboda

neol saranghagesseo..”

(like this moment right now, more than anyone in this world, i will love you)

Lanjutnya seraya melangkah maju menjemput sosok sang wanita pujaan yang masih mematung ditempatnya.

Diraihnya sebelah tangan wanita itu lembut lalu dibawanya ia tepat ketengah panggung tempat dimana ia sebelumnya keluar yang kini sudah kembali tertutup rapat.

“eoryeoun yaegiro neoui

hogisimeul jageukhal sudo isseo geu heunhan yuhuiro i bameul bonael sudo isseo..

hajiman naui maemeul ijeneun arajwosseumyeon hae

i sesang geu nuguboda..neol saranghagesseo..”

(I can arouse your curiosity by saying difficult words, i can spend this night with that common game, but i want you to know my heart.  I will love you more than anyone in this world)

JLEBB

Mendadak seluruh lampu kembali padam diikuti suara musik iringan yang mendadak berhenti.

Sekali lagi sebuah lampu sorot kembali menyala, kali ini lampu itu menyorot kearah tangga kecil tempat dimana Hyejin keluar sebelumnya.

 (neol saranghagesseo..)

eonjekkhajina..

(neol saranghagesseo..)

jigeum i sungancheoreom

i sesang geu nuguboda .. neol saranghagesseo..

neol saranghagesseo..”

music kembali mengalun, diikuti lantunan lirik dari sepasang suara yang kemudian keluar dari arah tangga bersama dua sosok malaikat kecil di sisi kiri dan kanan pasangan itu masing-masing.

Hyunjae dan Donghae keluar dari arah tangga seraya menyanyikan sisa bait demi bait lagu yang sebelumnya dilantunkan TOP, menghampiri keduanya menyerahkan dua malaikat kecil yang berada dalam genggaman mereka kepada orang tua aslinya kemudian mereka berdua kembali beranjak kepinggiran panggung, membiarkan sebuah keluarga kecil nan harmonis itu disorot langsung oleh keempat spot light lainnya yang ikut menyala menyorot kearah mereka.

Si kecil Minji ditarik langsung kedalam pelukkan Hyejin, sementara Minah digendong TOP diatas sebelah lengan kekarnya.

“(neol saranghagesseo..)

eonjekkhajina..

(neol saranghagesseo..)

jigeum i sungancheoreom

i sesang geu nuguboda

neol saranghagesseo..~”

Kedua mata Hyejin berkaca-kaca menahan haru. Ditatapnya kedua anak dan suaminya itu bergantian.

Sebuah siluet senyuman jelas tak bisa disembunyikan oleh ibu dari dua orang putri itu.

“(neol saranghagesseo..)

eonjekkhajina..

(neol saranghagesseo..)

jigeum i sungancheoreom

i sesang geu nuguboda

neol saranghagesseo..~ WoooOOo..

(neol saranghagesseo..)

eonjekkhajina..

(neol saranghagesseo..)

jigeum i sungancheoreom

i sesang geu nuguboda

neol saranghagesseo..~”

Lantunan irama I choose to love you segera berganti dengan sebuah nyanyian selamat ulang tahun yang dinyanyikan serempak oleh para penonton dan crew yang ada disana, termasuk TOP dan kedua putri mereka tepat ketika seluruh lampu dalam stadium indoor itu menyala terang.

Hyejin seketika menangis terharu begitu mantan teman-teman satu grupnya, MIINA keluar dari balik panggung sambil mendorong sebuah trolly makanan berisikan kue tart ukuran jumbo bersama dengan Hyunjae, Donghae, serta ayahnya sendiri, Seo Jiseob yang sudah lama tak pernah ia temui.

“Ini semua ide TOP,” bisik Hyunjae ketika sahabatnya itu memeluknya erat sambil mengucapkan rasa terima kasih padanya dengan nada terisak setelah sesi potong kue selesai.

Ia pikir semua ini adalah rencana gadis itu. Karena gadis itu selalu memiliki beribu ide cemerlang yang tertanam di dalam kepalanya dalam hal mengerjai orang, meski nyatanya memang tak pernah terealisasikan.

Hyejin melepaskan pelukkannya lalu berganti menatapnya bingung.

“Ne, sejak awal semua ini telah ia rencanakan dengan sangat matang. Mulai dari rencanannya untuk menitipkan kedua anak kalian dirumahku dengan alasan agar aku bisa dekat anak kecil, sebenarnya ia lakukan agar aku dan Donghae melatih keduanya agar bisa ikut bernyanyi dan tak canggung diatas panggung saat dipanggung, sementara kalian berdua berlibur ke Maldives,” jalasnya sambil tersenyum.

Hyejin menatapnya dengan tatapan tak percaya lalu berbalik menatap suaminya yang terus menatap kearahnya dari arah samping dengan tatapan yang sama seperti yang ia layangkan pada sahabatnya itu.

‘Semua ini rencananya??

Ya tuhan.. bagaimana mungkin aku bisa seberuntung ini mendapatkan suami yang amat mencintaiku seperti ini?

Tuhan.. aku benar-benar merasa tersanjung,

Tak pernah terpikirkan olehku bahwa semua ini telah ia rencanakan dengan sempurna..

Inilah kado terindah di dalam hidupku,’ batin Hyejin, masih terus menatap pria yang kini memandangnya dengan ekspresi bingung itu.

Tanpa bicara apa-apa, tak menghiraukan panggilan Binwoo yang menyuruhnya untuk segera membagi potongan kue lainnya. Ia sama sekali tak peduli dan malah berlari menghampiri sosok yang amat dicintainya itu, menghambur kedalam pelukkannya.

Tak peduli akan resiko sepatu hak tinggi yang digunakannya patah ataupun ekor gaunnya bisa membelit langkahnya hingga membuatnya terjatuh.

 Ia sama sekali tak peduli.

‘Meski mulanya aku sangat membenci pria dalam dekapanku ini dan merasa kau sangat jahat kepadaku karena telah mengirimkannya untuk berlaku hina kepadaku dulu…

Tapi kini aku sangat mencintainya.. sangat sangat mencintainya..

Tuhan.. aku berharap ia tak akan pernah berubah..

Cinta kami tak akan pernah berubah..

Dan kuharap kami tak akan pernah terpisah hingga ajal memisahkan kami berdua..’

END

Yatuhannnnn semoga aja pada puas ya hahaha

Sumpah aku paling susah bikin ending yang ngena. Dan lagi-lagi cerita kali ini dibikin setelah 5 kali ganti cerita dan sukses bikin aku kurang tidur gara-gara ngetik ini FF -__-

Untung aja jatah liburan aku ternyata diperpanjang mpe rabu ini, jadi ga masalah wkwkwk

Mana lagi modem sempet bermasalah gara” seharian gak dapet sinyal -_____-

Dan FF ini sumpah susah bgt masukkinnya gara” kebanyakkan foto -_-

dan harusnya kyy ini FF d publish pas ultah si nyonya Choi, tapi apa daya ulang tahunmu masih 3bulan lagi mbak dan saya cuma punya ide ini skrg kkk

Semoga aja dirimu suka ya Hyejin sayangg~ haha tuh Osamu ud gw masukin wkwkwk

Oke JANGAN LUPA COMMENT~

see u on next story~ High School Paradise~


Iklan

12 thoughts on “MARRY YOU *romantic couple vers*

  1. K E R E N B A N G E T S U M P A H!!!!!!!
    Rame rame rame! Bagus banget deh ini ff;;)
    tetap menulis ya eonni!!!!!!! Hwaiting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s