HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 1

Ini adalah sebuah kisah mengenai aku, dia, dan mereka semua yang telah berperan dalam kehidupanku..

Sebuah kisah dimana kami mengenal apa itu rasa kecewa, senang, riang, bahagia, sedih, duka, benci, bangga, hingga hal paling memalukan..

Mengenal bagaimana dan siapa lawan dan siapa kawan..

Mengenal apa artinya cinta..

Mengerti arti kehidupan..

Dan semua cerita itu berawal dari sini..

Masa SMA…

~HIGH SCHOOL PARADISE~

 

Seoul, June 2009

“GYAAAAAAAA!!” teriak seorang gadis dengan suara cemprengnya dari balik salah satu meja sebuah restaurant ayam goreng, membuat beberapa orang disekitarnya kontan mengarahkan pandangan mereka pada gadis berseragam itu.

Ahra, gadis yang berada dibalik konter meja kasir hanya bisa melayangkan tatapan tak habis pikir pada temannya yang terlihat sedang asik dibalik layar laptopnya –yang tampak tak peduli akan tatapan orang sekitarnya yang merasa sedikit terganggu akan suaranya- itu.

“YIHIII~~” pekik gadis itu sekali lagi, membuat Ahra terpaksa keluar dari balik konter untuk menghampirinya setelah pelanggan di antrean terakhir ia layani pembayarannya.

“Hya~ Kim Hyunjae-ssi kecilkan suaramu!” desisnya sebal ketika ia duduk di kursi kosong yang berada didepan meja temannya itu.

Hyunjae, yang tak lain merupakan pelaku utama dari kebisingan tadi hanya meliriknya sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya sebelumnya. Browsing internet di laptop miliknya dengan sambungan wifi gratisan yang disediakan restaurant.

“Sudah sana kerja saja, tak usah pedulikan aku,” ucapnya enteng.

“He?? Bukan itu maksudku, tapi kau kalau masih mau tetap menungguku sampai selesai jangan teriak-teriak seperti tadi, mengganggu pengunjung lain tahu!” Ahra melipat tangannya di depan dada.

“Lalu bagaimana dengan Hyejin? Apa rencana kita kali ini bisa di jalankan?? Jangan sampai batal lagi!”

Hyunjae mengalihkan pandangannya dari layar laptop kesayangannya pada Ahra yang kini memandangnya dengan sebelah alis terangkat.

“Hm.. Tadi dia menghubungiku, katanya ia..,” Hyunjae menerawang, mengingat-ingat apa saja isi percakapan ia dan Hyejin barusan saat ia masih sibuk dengan dunia maya-nya. Ia memang tipe orang yang mudah lupa jika konsentrasinya terpecahkan. “Ah! Ia harus menghadiri acara makan malam keluarganya, jadi kemungkinan tak bisa hadir.”

Ahra mendesah. Diliriknya kearah pintu masuk, tampak beberapa orang baru saja masuk dan sedang berjalan menuju konter untuk memesan pesanan mereka.

“Arraseo. Kalau begitu tak jadi lagi?”

“Andwae!” Hyunjae menggeleng cepat. “Tetap jadi lah! Enak saja aku sudah susah-susah bawa ransel sebesar ini dan menunggumu sejak tadi siang selama..” liriknya jam digital yang terpampang disudut kanan bawah layar laptopnya sekilas, “4 jam! Masa tidak jadi lagi? Tidak bisa!”

Lagi-lagi Ahra mendesah.

“Arraseo. Kalau begitu aku lanjut kerja dulu, kita bertemu setengah jam lagi oke?”

~mrs.choilee~

@Seoul  Palace Hotel restaurant

Seorang pria setengah baya dengan perut sedikit buncitnya tampak tengah duduk di salah satu kursi kosong yang terletak dibagian paling ujung meja makan berukuran panjang di dalam sebuah vip sebuah restaurant, membolak-balikkan halaman sebuah buku menu yang sengaja diberikan salah satu pelayan hotel padanya. Sementara itu di sisi kirinya tampak seorang wanita cantik nan anggun juga tampak memperhatikan buku menu yang ada dihadapannya, dan disebelah kanannya duduk seorang gadis yang sibuk menunduk kebawah meja, menekuri ponselnya, bermain game.

“Kau mau makan apa?” tanya wanita itu pada sosok gadis bertubuh kurus dengan tinggi semampai yang duduk diseberangnya. Merasa dirinya dipanggil, ia segera mendongakkan wajahnya menatap wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya.

“Ha? Ah, sama kan saja denganmu, eomma,” jawabnya sekenanya. Jujur saja ia tak terlalu menyimak daftar menu yang tersaji dalam buku tipis berlapiskan kulit sapi tersebut karena ia memang sama sekali tak membukanya dan lebih memilih dengan ponsel miliknya untuk bermain game daripada mati bosan karena suasana yang amat kaku seperti ini.

“.. baik pesanan Anda akan segera kami antar, permisi,” ucap salah seorang pelayan pria sebelum akhirnya undur diri dari hadapan mereka setelah menyebutkan ulang semua pesanan yang baru saja sang kepala keluarga pesan.

Kira-kira sekitar sepuluh menit lamanya sejak pesanan mereka diproses sampai akhirnya pelayan yang mencatat pesanan mereka sebelumnya kembali datang dengan membawakan beberapa piring makanan pembuka, dan makanan utama yang menyusul sekitar sepuluh menit kemudian.

“Bagaimana sekolahmu? Apakah lancar?” tanya Lee Jungsung, yang tak lain adalah kepala keluarga dari keluarga yang tengah menikmati makan malam mewah mereka tersebut, ditengah acara makannya.

Gadis yang duduk disebelah kanannya tersebut mendelik, lalu mengangguk kaku.

“Tidak usah sekaku itu padaku, kita ini kan satu keluarga,” ucapnya dengan suara berat membuat Kim Misook, wanita cantik setengah baya yang duduk dihadapan gadis itu ikut menatap anak gadisnya dengan tatapan yang seolah menyuruh dirinya agar bersikap baik pada ayah tirinya tersebut.

Ya. Gadis yang duduk disamping kanannya tersebut memanglah bukan anak kandungnya sendiri, melainkan anak dari istrinya.

BRAKK..

Kedua daun pintu kayu berukuran besar yang menjadi satu-satunya akses masuk kedalam ruangan vip tersebut menjeblak lebar, membuat ketiga pasang mata yang ada diruangan itu menatap kearahnya. Seorang pria berpenampilan santai dengan kaus oblong berwarna pink serta celana dan jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya berjalan masuk kedalam ruangan dengan sebuah tas gitar lusuh yang tersampir dibelakang punggungnya kemudian menarik sebuah kursi kosong yang berada di sisi kiri samping saudara tirinya dan duduk disana setelah meletakkan tas berisi gitar kesayangannya disamping kursi kosong disebelahnya.

Ketiga orang lainnya yang berada didalam ruangan itu terus memperhatikannya sampai anak lelaki yang baru beberapa bulan lalu genap berusia 17 tahun itu melayangkan tatapan anehnya pada mereka.

Dia Lee Hongki. Anak kandung Lee Jungsung.

“Ada yang aneh?” tanyanya tanpa memandang lawan bicaranya dan malah sibuk memotongi steak lada hitam setengah matang kesukaannya yang sebelumnya telah dipesankan oleh ibu tirinya tanpa perlu ia minta.

Misook hanya tersenyum samar dan kembali melanjutkan makan malamnya, begitu juga dengan saudara tirinya yang duduk disebelahnya.

Namun tidak dengan Lee Jungsung. Pria tua itu tampak berdehem keras ketika anak lelaki semata wayangnya itu dirasa mengucapkan sesuatu yang tak sopan di depan ibu dan saudara tirinya. Ia menatap anak lelakinya itu dengan tatapan tajam seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.

“Seharusnya kau mengucapkan salam saat baru datang, bukannya malah betanya hal seperti itu dan langsung makan. Seolah tak pernah diajari tata karma saja,” ujar Jungsung dengan suara beratnya seraya memotong daging asap pesanannya menjadi beberapa bagian kecil dalam piringnya tanpa melihat reaksi anaknya yang kini berbalik menatapnya dengan tatapan tajam.

“Dan lagi, pakaian seperti apa itu? Sungguh tak pantas untuk dipakai terlebih ditempat seperti ini,” lanjutnya.

Gigi Hongki menggeretak keras. Kedua tangannya yang masing-masing memegang pisau dan garpu mengepal kuat.

“Benarkah? Maafkan aku kalau begitu, karena nyatanya aku memang tak pernah diajarkan tata karma, dan maaf jika aku sepertinya tak pantas berada diantara kalian yang begitu berkelas,” ujarnya penuh dengan penekanan dan emosi yang tertahan. Sungguh ia memang benar-benar tengah mencoba menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun saat ini.

Kedua anggota keluarga tirinya memandangnya dengan tatapan kaget.

Meskipun keduanya –Lee Hongki dan ayahnya- memang tak pernah terlihat akur dan selalu saja terlibat pertengkaran tiap kali mereka dipertemukan, tetap saja mereka tak pernah habis pikir bagaiamana mungkin kedua ayah-anak ini bisa bertengkar hanya karena masalah sepele seperti itu. Terlebih saat ini mereka berempat sedang berada di dalam acara makan malam keluarga yang jarang-jarang digelar karena seluruh anggota keluarga ini tinggal secara terpisah. Dan acara hari ini pun sebenarnya memang merupkan rencana dadakan yang dicetuskan Misook saat ia dan suaminya itu kebetulan berkunjung ke Seoul sekembalinya mereka dari luar negeri.

“Aku kehilangan selera makan.”

Hongki tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya, menarik tas gitar miliknya kemudian berjalan keluar dengan diikuti dentuman keras pintu yang sengaja ia hempaskan salah satu daun pintunya saat keluar darisana. Membuat saudara tirinya tercengang dibuatnya, sementara Lee Jungsung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa maksudnya.

Kim Misook sendiri memang sudah mengantisipasi hal seperti ini sebelumnya mengingat sejak ia menikah dengan ayah Hongki, pria itu memang tak pernah berlaku baik pada semua anggota keluarga barunya termasuk ayahnya sendiri, dan terakhir kali mereka berlima –termasuk dengan putri sulungnya yang kini bekerja di Jepang- berkumpul untuk makan malam di acara ulang tahun putri bungsunya pun Hongki datang terlambat dan pergi begitu saja beberapa saat kemudian setelah berperang mulut dengan ayahnya sendiri.

“Sebaiknya aku juga permisi duluan dan menyusulnya,” gadis itu pamit, mengambil tas jinjing miliknya kemudian berlari kecil keluar menyusul kakak tiri yang hanya terpaut 2 bulan lebih tua darinya itu. Meski ia dan Hongki tak pernah harmonis dan berhubungan layaknya seorang adik-kakak ataupun teman sebaya seperti pada umumnya, namun ia selalu berusaha bertindak layaknya saudara yang baik pada saudara tirinya itu karena menurutnya ia dan Hongki juga memiliki sebuah latar belakang yang sama. Sama-sama ditinggal orang tua kesayangan yang telah pergi damai di surga, dan disatukan dalam sebuah keluarga lainnya yang sama sekali tak ia harapakan.

“Oppa!” serunya ketika ekor matanya menangkap sosok kakak tirinya itu sudah berlari jauh di trotoar seberang jalan menuju suatu tempat entah kemana.

Segera saja ia berlari menyusulnya menyeberangi zebracross yang kebetulan lampunya masih menunjukkan warna hijau bagi penyebrang jalan. Diangkatnya sedikit bagian bawah gaun babydoll panjangnya memperlihatkan flat shoes tosca yang dikenakannya guna memudahkan dirinya berlari menyusul Oppanya itu.

“Hongki Oppa~!!!” teriaknya lagi, namun sepertinya sosok saudara tirinya itu tak mendengar teriakkannya dan terus saja berlari dan kembali menyebrang di jalan lainnya sebelum akhirnya naik kedalam sebuah bus.

“LEE HONGKI!!!!” teriak gadis itu frustasi saat mengetahui langkahnya terlambat karena bus yang ditumpangi Hongki sudah melaju jauh dan menghilang dibalik kerumunan kendaraan lain meninggalakan dirinya yang berdiri dengan tatapan frsutasi di depan sebuah halte bus.

Hening..

Mendadak gadis itu merasa bulu kuduknya berdiri. Angin malam rupanya telah berhasil menembus kedalam kulit susunya yang mulus yang hanya berbalutkan gaun babydoll tipis.

“Aigoo..” ia memeluk tubuhnya sendiri, kedinginan. Padahal saat ini ia masih berada dalam musim panas namun angin malam tetap saja mampu membuatnya kedinginan terlebih tadi ia memang lupa memakai kembali blazer miliknya yang sepertinya masih tergantung rapih digantungan mantel yang ada di dalam ruangan restaurant yang mereka pesan.

Diliriknya kesekeliling. Sepi dan.. gelap. Itulah kesan yang berhasil ia tangkap dari tempatnya saat ini. Menyadari hal ini membuat bulu kuduknya semakin menegang hebat.

Ia takut.

“Sepertinya lebih baik aku kembali saja ke hotel!” ucapnya pada diri sendiri.

Tapi, belum sempat dirinya melangkah kembali tiba-tiba saja entah sejak kapan dan darimana asalnya sudah ada beberapa orang pria berwajah sangar berdiri dihadapannya, memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali-kali dengan tatapan mesum.

“Aigoo~ ada gadis cantik rupanya.” kata salah seorang pria berwajah seperti preman yang kini berdiri mengelilinginya dengan nada yang amat menjijikan ditelinga gadis itu.

“Hahaha.. tangkapan bagus untuk malam  ini rupanya..”

“Kita memang sedang beruntung rupanya! Hahaha,” tambah pria lainnya.

“Hya!! Jangan macam-macam!” ancam gadis itu, takut. Langkahnya semakin lama semakin mundur, berusaha menghindari sapuan tangan nakal para preman mesum itu dari bagian tubuhnya.

“Hahaha.. dia bilang apa?? Jangan macam-macam katanya??” tanya salah seorang preman berwajah paling sangar yang langsung dibalas tawaan dari rekannya yang lain. Dari penampilan dan gesture tubiuhnya bisa diduga bahwa pria ini sepertinya merupakan pimpinan mereka.

“HUWAAAAAAAAAA EOMMA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Teriak gadis itu dengan kadua tangan menutupi telinga dan mata terpejam, keras.

“Hahaha percuma saja kawasan ini sepi. Tak akan ada yang bisa mendengar suaramu! Hahaha..” keempat preman tersebut tertawa setan, seolah puas bahwa malam ini mereka akan mendapat mangsa yang empuk untuk menghabiskan malam mereka.

BUGG!!

“YA! NEO! BERANINYA!!”

“RASAKAN INI!!”

Seketika suasana mendadak ricuh, penuh dengan teriakan, pekikkan serta rintihan kesakitan yang terdengar jelas ditelinga gadis yang kini berjongkok ketakutan memeluki kakinya itu.

BRAGG!

BRUGG!!

“Rasakan!!”

Mendengar suara para preman itu berhenti menggoda dirnya dan malah sibuk mengetakan kalimat-kalimat yang dirasanya aneh karena seperti sedang bertengkar satu dengan lainnya, perlahan gadis itu memberanikan diri membuka kedua matanya, mencari tahu apa yang terjadi.

“Omo!” pekiknya tertahan dengan kedua tangan yang membungkam mulutnya sendiri. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya kini. Tak sampai 3 meter dihadapannya saat ini ia bisa melihat dengan jelas bahwa keempat preman mesum tadi kini sedang sibuk bertarung melawan seorang pria berpakaian serba hitam dengan potongan rambut urakannya. Mereka terlihat sangat kewalahan menanganinya.

Diam-diam gadis itu berdecak kagum. Bayangkan saja bagaimana tidak?? Dihadapannya saat ini ada seorang pria tinggi yang berdiri memunggungi dirinya tengah menghajar keempat orang pria mesum yang sejak tadi menggangu dirinya dan hanya dengan seorang diri dalam waktu sekejap keempat pria itu sudah lari tunggang langgang meninggalkan mereka.

Pria itu menoleh, menatapnya sebentar dibawah sinar temaram lampu jalanan yang hanya mampu mengekspos sebagian wajahnya yang sebagian tertutupi gelapnya malam. Wajahnya sama sekali tak tertangkap dengan jelas namun mampu membuat hati gadis itu berdesir seketika walau hanya melihatnya dari kejauhan.

“Sebaiknya kau cepat pergi ke jalan besar dan mencari taksi untuk pulang. Daerah ini terlalu rawan untuk gadis sepertimu,” ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan sosok gadis itu yang tetap berdiri mematung ditempatnya.

Wajah gadis itu bersemu merah.

~mrs.choilee~

@Big Hit Chicken

Sekitar pukul 7 malam akhirnya Ahra bebas tugas dari pekerjaan part time-nya dan mereka berdua langsung bergegas keluar berjalan pulang menuju rumah Ahra yang letaknya terpaut 3 blok dari lokasi restaurant ayam goreng tempat Ahra bekerja.

Ahra hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya tak habis pikir tiap kali melihat ransel hitam yang bertengger dibelakang punggung teman mungilnya itu. Bayangkan saja, malam ini rencananya mereka berdua –sebenarnya bertiga dengan Hyejin yang tiba-tiba saja membatalkan janjinya karena urusan keluarga- akan menginap dirumah Ahra yang kebetulan kosong tak ada orang karena anggota keluarga lainnya sedang berkunjung kerumah nenek Ahra di Daegu, namun gadis itu dengan ‘repot’-nya membawa satu ransel penuh berisi barang-barangnya. Dan kalian tahu apa saja isinya??? Berdasarkan keisengan dirinya yang memang selalu ingin tahu segala sesuatu yang dianggapanya aneh, tadi disela-sela pekerjaannya disaat restaurant agak sepi ia membongkar habis is tas temannya itu. Dan semuanya lengkap! Mulai dari buku pelajaran untuk besok, baju tidur, seragam, sisir, parfum, sabun, sikat gigi, laptop, ponsel berserta chargerannya hingga bantal kecil berbahan licin yang biasa ia jadikan sebagai alas kakinya disaat tidur pun itu dibawa di dalam ransel jumbonya itu.

“Kau ini, mau menginap semalam saja sudah seperti mau mengungsi sebulan tahu!” kekehnya saat keduanya berjalan beriringan sambil memakan ice cream ikan yang baru dibeli Hyunjae di toko kecil yang mereka lewati barusan.

“Sembarangan! Tanpa alat-alat di dalam tas ini aku tak bisa hidup tahu!” Hyunjae menggembungkan pipinya. Ia sebal karena temannya ini sejak tadi terus-terusan meledek isi tasnya, padahal menurutnya apa yang ia bawa ini wajar bukan? Piyama untuk tidur, seragam dan buku untuk sekolah besok, sabun + handuk + sikat gigi untuknya membersihkan diri nanti, dompet untuk dirinya menyimpan uang dan ponsel, laptop beserta chargernya untuk dirinya melepas penat layaknya yang ia lakukan saat menunggui Ahra bekerja tadi, dan bantal?? Itu memang sengaja selalu ia bawa kemanapun saat ia akan menginap disuatu tempat asing yang dirasanya berkemungkinan tak menyediakan satu bantal licin khusus untuk dirinya pakai sebagai alas kakinya saat tidur. Untuk urusan bantal ini gak aneh memang, namun apa daya ia memang tak pernah bisa tidur jika kedua telapak kakinya tidak menyentuh dan menggesek-gesekkannya dengan sesutu yang berbahan licin. Dan ia menyebut bantal licin untuk kakinya itu sebagai bantal kaki.

“Eh, ngomong-ngomong apa rumahmu masih jauh? Kenapa rasanya kita tak sampai-sampai ya??” tanya Hyunjae dengan tampang lelahnya. Rasanya mereka telah melewati beberapa gang namun tak kunjung sampai di tempat tujuan juga, dan kini mereka malah memasuki kawasan pemukiman di gang yang lebih kecil dari jalan yang sebelumnya.

Ahra tersenyum simpul kemudian berjalan beberapa langkah mendahuluinya menuju sebuah bangunan tua dengan sebuah pekarangan kecil yang dikelilingi oleh pagar mini yang memandakan areal rumah tersebut.

“Nah sampaiiiiiiii~” Ahra membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan mantan teman sekelas yang sudah menjadi teman dekatnya itu masuk terlebih dahulu kedalam rumahnya yang sepi dan gelap.

Setelah membuat makan malam ala kadarnya dan membersihkan diri mereka masing-masing, Ahra membenahi kamarnya dan menggelar sebuah kasur tipis disamping tempat tidurnya untuk tempat Hyunjae beristirahat. Meski tipis, kasur itu lumayan nyaman terlebih permukaan kasurnya itu bersifat licin membuat Hyunjae semakin kegirangan saja dan menolak dengan tegas saat Ahra memintanya untuk tidur ditempatnya sementara ia yang tidur dibawah.

“Hhh..” Hyunjae menghela napasnya berat. Diliriknya jam dinding di kamar Ahra yang tergantung tepat di dinding yang ada dihadapannya telah menunjukkan pukul 12 malam, berarti sudah sekitar 2 jam lamanya ia berusaha memejamkan matanya namun  tak kunjung bisa tidur.

Dilihatnya Ahra tampak sudah terlelap dalam tidurnya, karna gadis itu bahkan sudah sukses membuat sebuah lingkaran pulau Jeju pada bantal bermotif bunga miliknya. Hyunjae terkikik geli tapi kemudian kembali menghela napasnya berat. Ia tak bisa tidur.

Drtt.. Drtt..
Dirasakannya sebuah benda bergetar dari balik bantal yang digunakannya. Tangan kanannya meraba masuk kebalik bantal meraih sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam dari sana kemudian segera menggeser bagian layarnya dengan jempol saat dilihatnya layar ponsel yang telah menemaninya selama 2 tahun lebih itu  baru saja kembali padam.

1 pesan diterima.

Dahinya berkerut, bingung. Siapa orang iseng yang mengiriminya pesan dimalam selarut ini?

Tanpa pikir panjang ia pun segera menekan halus tombol ok pada bagian tengah tombol sentuh layar ponselnya untuk membuka pesan.

From: Donghae JELEK!

Hey anak kecil. Sudah tidur??

Cepat buka gordyn kamarmu sekarang kalau belum tidur.

Lagi gadis itu kembali mengerutkan dahinya. Bingung.

 Pesan itu dari Donghae, teman satu tempat les bahasa inggris dirinya saat jaman sekolah dasar dulu yang juga tinggal dalam satu kawasan perumahan yang sama dengannya di Incheon.

Lalu untuk apa temannya itu mengiriminya sebuah pesan yang menyuruhnya untuk membuka gordyn ditengah malam seperti ini?? Pria itu sepertinya tak tahu bahwa dirinya sedang tak di dalam kamar asramanya, tapi meski ia ada di asrama pun ia tak akan mau membuka gordyn malam-malam! Untuk apa? Memangnya ia sudah gila apa jam segini kan saatnya para makhluk-makhluk aneh bergentayangan nanti yang ada saat ia membuka gordyn kamar yang terletak di lantai 3 itu malah ada sosok aneh yang tiba-tiba tersenyum padanya. Enak saja!

To: Donghae JELEK!

Enak saja sembarangan menyuruh orang melakukan hal-hal aneh tengah malam begini. Huu

Jangan pernah berharap! Lagi pula aku sedang tak dikamar. Aku menginap ditempat temanku.

Sent.

Tak sampai semenit kemudian benda hitam yang sering sekali mati tiba-tiba itu kembali bergetar.

From : Donghae JELEK!

YA! Menginap dimana kau huh!? Bocah tengik pakai menginap dirumah orang segala. Heii ingat kau itu masih kecil, anak perempuan pula sembarangan saja main menginap dirumah orang. cepat pulang biar kujemput sekarang!

Gadis itu segera bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk menyandar disamping tempat tidur Ahra. Sekali lagi dibacanya isi pesan yang baru saja dikirim oleh temannya itu. Ia berdecak tak habis pikir. Temannya itu memang sering aneh sendiri, kadang ia bersikap seperti orang yang sama sekali tak peduli, kadang perhatian dan kadang kali overprotective seperti saat ini. Dan ia sama sekali tak bisa mengerti jalan pikiran pria yang dinamainya ‘JELEK’ ini pada memori ponselnya.

To : Donghae JELEK!

Heyy.. kau ini kenapa heh? Tak bisa tidur? Atau malah melantur?

Umurku beberapa bulan lagi sudah 17tahun, sudah besar bukan anak kecil lagi

=___=

Aku sudah mengantuk, kalau tidak ada hal penting aku sudahi.

BYE!

Dipandanginya layar ponsel hitamnya itu sebentar lalu kembali merebahkan dirinya keatas kasur, mencoba untuk tidur kembali.

Drtt.. Drtt..

Lagi-lagi benda hitam itu bergetar. Dilihatnya sebentar lalu dibukanya malas-malasan.

From : Donghae JELEK!

YA!!! JANGAN TIDUR DULUUUUUU!!

TIDAK SOPAN! TEMANI AKU !! AKU TAK BISA TIDUR!

Hyunjae mencibir sebal. Ditekannya keras tombol berwarna merah dibagian pinggir sebelah kanan sisi ponselnya lama sampai layarnya redup dan menimbulkan sebuah suara pertanda selamat tinggal ketika benda tersebut akhirnya benar-benar mati.

TBC

Nanggung ya?? Haha sengaja biar bikin penasaran dan cuma sekedar pengen tau aja gimana responnya?

Ada yang bisa nebak siapa sosok ‘gadis’ yang jadi adik tiri Hongki??

Siapa kira-kira cowo yang nolongin dia pas di serang preman??

Dan apakah hubungan Hyunjae dan Donghae disini?? Apakah bakal sama kaya di cerita-cerita sebelumnya?? kkk

Curhat sedikit.. jujur aja ini FF baru mulai dibikin seminggu yang lalu dan baru dibikin beberapa lembar tapi akunya malah keburu sakit dan ga bisa duduk selama beberapa hari

Sumpah ini penyakit bener-bener nyiksa! Dan gara-gara ini eomma ceramahin aku dan ga ngebolehin untuk duduk lama-lama di depan laptop, so selama itu aku cuma bisa tiduran dan ga kuliah untung aja pas bolos dosennya ga masukk~ HAHAHA 😛

dan akhirnya baru sekarang baru bisa d publish, harap maklum –V

Iklan

16 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 1

  1. Finallyyyy…. Udah nungguin smp jamuran nih thor *ditimpuk Author*
    Hyejin bukan yg jdi adik hongki??? Trus cwok yg nolongin tu spa?? Siwon?? #sotoy hahahaha
    Dtunggu lanjutanny, jgn lama2 ntar aq bsa panen jamur lhooo

  2. kyaaaa………….*teriak – teriak pake toa*
    akhirnya, akhirnya, akhirnya……. di publish juga….
    siapa yah adik tirinya hongki ?
    truss siapa yang nolongin dia ?
    duh penasarannnnn……………….
    part selanjutnya jangan lama2 yah !

  3. Wahhhh seru thor, adIk ny Hongki hyejin bNer ga??? klo yg nolong ga tau
    wah ada hyunjae dan donghae couple, lanjut thor

  4. heuuumh…
    penasaran nih..
    tp yg jd saudara tiri hongki pasti hyejin 😀
    truuuss yg nolongin hyejin q krpikiran’a sih TOP xD cz dy kan bengal preman sekolah ^^v
    iya ga?? hihii…

    #Next ===>

  5. Huwaaa, sebenernya sih ngga ada niat buat baca ff series yg belom ada endingnya kayak gini TAPI berhubung akunya jg penasaran sm isinya jadi dibaca aja hehe 😀

    lanjuttt part 2~ selamat membacaaaaa 🙂 LOL

  6. wah…hongki g suka dgn anggota klrg barunya…pdhl hyejin n eommanya kn baik..tp siapa penolong hyejin y?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s