HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 2

~HIGH SCHOOL PARADISE~

 “Huahaha.. Dasar kebo!”

“Sembarangan kau yang KEBO! wkwkwk” tawa dua orang gadis belia berseragam  SMA Julliet dengan renyahnya ketika keduanya berjalan beriringan memasuki kawasan sekolah Romeo-Julliet. Mereka Ahra dan Hyunjae.

Sejak berangkat dari rumah Ahra yang hanya berselang 3 blok dari kawasan sekolah mereka keduanya memang tiada henti membicarakan segala sesuatu yang menurut mereka menarik untuk diperbincangkan termasuk kejelekan mereka sendiri seperti apa yang tengah mereka tertawakan saat ini, dan saking asyiknya mereka berdua bahkan sepertinya tak sadar sudah berada di jalan masuk gedung sekolah mereka. Juliet Senior-Junior High School.

“HYUNJAE!!!!!!!!” teriak seseorang dengan kerasnya pada salah satu diantara mereka, membuat keduanya mau tak mau berpaling kearah sumber suara.

Seorang pria berkemeja putih dengan vest serta blazer hitam yang melapisi tubuhnya terlihat berlari kecil menghampiri mereka dari arah berlawanan.

Hyunjae menaikkan sebelah alisnya, melayangkan ekspresi bingung pada pria berseragam sekolah SMA seberang sekolahnya itu, sementara Ahra yang langkahnya ikut terhenti akibat temannya yang tiba-tiba berhenti mendadak itu langsung meliriknya tak mengerti namun ia segera paham saat melihat sosok Donghae –senior lain sekolahnya- sudah berdiri dihadapan keduanya.

Dilihatnya sosok seniornya itu dari atas sampai bawah.

Dibagian atas, terlihat rambutnya tersisir rapih dengan sebagian diatas ditata sedikit acak-acakkan dengan bantuan gel yang membuatnya sekilas tampak berkilau. Agak turun kebawah sedikit, terlihat ujung kemejanya tak ia masukkan kedalam celana. Satu kancing kemeja bagian atasnya dibiarkan terbuka tak dikancing, begitu juga dengan vest hitam dibalik blazernya yang sama sekali tak ia kancing. Dasi merah garis-garis yang dikenakannya pun tak terpasang dengan rapih. Sementara itu diatas bahunya tersampir tas ransel abu-abu keluaran merek terkenal. Dan terakhir dibagian paling bawah, sebuah sepatu kulit merek pabrikan terkenal pun telah melindungi kedua kaki panjangnya dengan sempurna.

Pandangan Ahra kemudian kembali lagi kebagian atas, tepat dibagian wajahnya. Pria itu terlihat seperti orang yang baru bangun tidur!

“Hya! Kenapa pesanku semalam kau putuskan tiba-tiba, heh??” cecarnya langsung tengan tampang kesal. “Kau tahu??? Semalaman aku tak bisa tidur! Dan kau malah kabur tak mau meladeni kicauan hatiku!”

‘Ah.. Pantas tampangnya terlihat kuyu. Tidak bisa tidur rupanya..’ batin Ahra, maklum, ketika mendengar jawaban dari pertanyaan hatinya yang tak sengaja terlontar dari pria itu tanpa perlu ia menanyakannya terlebih dahulu.

Hyunjae berdecak, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apa urusannya denganku, huh? Memang aku siapamu yang rela menemanimu begadang sampai malam padahal aku sendiri sedag berusaha untuk bisa tidur? Ckckck..” lagi-lagi ia berdecak.

Donghae mencibir kesal.

Hyunjae terkekeh melihatnya, namun ia langsung terdiam.

“Hya! Kau ini kalau berpakaian yang benar!” Protesnya lalu menarik kedua kerah Donghae paksa dan membenarkan bentuk dasinya tanpa mengancingkan kancing atasnya lalu mengancingkan  vest hitam namja itu. Donghae hanya bisa diam menurut, sedang Ahra sudah bengong hebat akan kelakuan temannya yang tiba-tiba membenahi pakaian seorang pria di depan sekolahnya seperti ini.

“Sudah. Itu kemejanya masukkan sendiri!”

Belum sempat Donghae mengatakan sesuatu, sebuah mini cooper hijau terlihat berhenti tepat dijalan disamping trotoar tempat mereka berdiri saat ini. Ketiganya menoleh, menatap penuh tanya pada sebuah kendaraan yang kaca hampir disetiap sisinya dilapisi kaca film kualitas tinggi itu.

‘Siapa?’ pikir ketiganya bersamaan.

Tak lama pintu sebelah kiri mobil dua pintu itu pun terbuka. Seorang pria berseragam identik dengan yang dikenakan Donghae pun keluar dengan memamerkan senyum gusi andalannya.

Dug.. Dug.. Dug..

Tepat disaat pria itu melangkah keluar dari mobilnya, jantung Ahra mendadak berdegub kencang. Saking kencangnya ia bahkan merasa bisa mendengar degubannya sendiri.

Dug.. Dug.. Dug..

Tanpa sadar tangan kanannya memegangi bagian dada kirinya sendiri, tepat di depan jantungnya.

Jantungnya berdebar keras. Sangat keras. Kedua matanya memandang pria itu sejak keluar mobil sampai ia berdiri dihadapan ketiganya tanpa berkedip.

“O, yo ma man!!” pria yang tak lain adalah Eunhyuk, sahabat Donghae itu pun langsung berhighfive-ria dengan Donghae kemudian memeluknya ringan. Pandangannya lalu mengarah pada kedua gadis berseragam yang berdiri disampingnya, kemudian tersenyum.

“O, hey bocah kecil, what’s up yo, man!??” Eunhyuk mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk ber-highfive.

“Im not man,” ucap Hyunjae datar yang langsung membuat Eunhyuk mengurungkan niatnya untuk ber-highfive dan beralih menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Keki.

“Yasudah, ya. Kau sudah ada temanmu ini kan? Aku masuk dulu. Ja!” Hyunjae berbalik, berniat meninggalkan kedua namja paling popular di lingkungan sekolahnya itu, namun langkahnya kemudian terhenti saat menyadari dirinya berjalan seorang diri. Ia lantas menoleh, kemudian kembali berbalik dan mendapati sosok temannya yang sejak awal selalu berdiri disampingnya masih dengan setia berdiri mematung ditempatnya semula tanpa bergeming sedikitpun.

“Hya, Kwon Ahra, kajja! Ppaliwa! Jam pertama akan segera dimulai!”

~mrs.choilee~

“Omona, senyumannya itu ya tuhan.. Benar-benar manis!! Wajahnya sangat tampan!!! GYAAAAAAAAAAA!!” jerit Ahra tertahan sambil menggerak-gerakkan tubuh Hyunjae –yang siang itu sedang sibuk di depan laptopnya di ruang mading yang terletak di dalam ruang perpustakaan sekolah- dengan hebohnya. Sejak tadi pagi ketahuan mematung memandangi sosok Eunhyuk di depan sekolah ia memang tidak henti-hentinya bertingkah seperti itu, memuji-muji Eunhyuk, sampai UEE teman sebangkunya sendiri saja sukses gerah dibuatnya karena sepanjang jam pelajaran ia terus-terusan menggumam memuji-muji nama anggota King Of Flowers itu dan mencoret-coret semua lahan kertas kosong yang ada dihadapannya dengan nama namja itu.

 Hyunjae sendiri biasa saja menanggapinya, ia berusaha untuk tidak mengacuhkan temannya itu dan memilih untuk mengerjakan tugas mengedit artikel berita yang baru saja diberikan padanya dari Luna –anak kelas 1 yang kebetulan bertugas untuk mencari beritanya- karena setelah ini semua bahannya akan dikumpulkan untuk diperiksa oleh pembimbing eskul mereka yang kemudian akan dipilih apa saja yang layak untuk di dimuat di mading sekolah.

Mading sekolah mereka ini memang tak seperti mading disekolah-sekolah pada umumnya yang begitu mendapatkan bahan menarik langsung tempel, melainkan harus dikonsep dan dipikirkan matang-matang agar isi dari mading mereka benar-benar berbobot dan layak untuk dibaca layaknya bahan bacaan di dalam koran atau majalah. Ini semua karena bahan yang akan mereka pasang bukan hanya untuk dibaca dikalangan mereka sendiri melainkan juga akan dimuat di SMA Romeo, sebuah sekolah khusus pria yang masih berada di dalam satu lingkungan dan Yayasan yang sama dengan sekolah mereka.

“Bisakah kau diam sebentar saja??” Hyerin, murid kelas tiga yang juga mantan ketua mading sebelum akhirnya memberikan jabatannya ketangan Hyejin, melayangkan tatapan sinisnya pada Ahra yang sibuk bersenandung menyebut-nyebut nama pujaan hatinya disebelah Hyunjae yang tampak serius menarikan jari-jari lentiknya diatas keyboard laptop hitam bercover hello kitty miliknya. Ia merasa terganggu akan suara cempreng Ahra yang tak karuan yang menurutnya telah mengganggu ketentraman gendang telinganya dan telah berhasil membuyarkan konsentrasinya yang sejak tadi berusaha ia bangun demi mengerjakan tugas biologinya yang harus ia kumpulkan setelah jam istirahat makan siang ini berakhir.

 “Hya, sunbae jika kau kemari hanya untuk mengerjakan PR kenapa kau tak mengerjakannya disana saja?” ia mengendikkan dagunya kearah luar sekat kaca yang membatasi ruang mading dengan perpustakaan yang saat itu terlihat sangat lengang tanpa ada satu orangpun yang bertandang kesana, “Lagi pula bukankah PR itu seharusnya kau kerjakan dirumah? Kenapa kau malah mengerjakannya disini?” cibirnya, kesal.

Hyerin menatapnya tajam. “Kau sendiri. Kenapa kau ada disini? Kau bahkan bukan anggota kami, lalu untuk apa  kau ada disini? Mengganggu saja bisamu, lihat kasihan Hyunjae, kasihan juga yang lain, mereka semua sedang konsentrasi mengerjakan tugas deadline yang harus dikumpulkan pada pembina hari ini juga dan kau malah disini merecoki konsentrasi kami semua tanpa membantu sedikitpun,” omelnya panjang lebar membuat Ahra menggerutu dalam hati.

Hyunjae dan Luna yang sibuk dengan tugasnya masing-masing diruangan berukuran 4×4 itu hanya bisa geleng-gelemg kepala tanpa mengatakan apapun. Sejak awal keduanya memang tak pernah akur dan selalu saja bertengkar karena hal-hal sepele, jadi sudah tak heran lagi.

“Nenek lampir!” gumamnya tanpa suara namun dapat dengan pasti ditangkap Hyerin dari gerakkan bibirnya.

“Bilang apa kau barusan?”

‘Damn!’ Ahra merutuki dirinya sendiri.

“Apa? Aku tak mengatakan apapun,” jawabnya dengan tampang polos. “Benarkan, Hyun? Aku tak mengatakan apa-apa??” liriknya pada Hyunjae yang malah mengangkat bahu lalu beranjak dari tempat duduknya menuju mesin print yang ada disamping lemari tempat penyimpanan arsip-arsip mading yang pernah dipublikasikan untuk mencetak hasil kerjanya.

“Aku akan segera menyerahkannya pada Park sonsaengnim untuk segera ia periksa kemudian kembali ke kelas,” pamitnya setelah memasukkan semua hasil kerja mereka yang baru saja ia cetak kedalam sebuah folder map berwarna biru dan mematikan serta membereskan laptop miliknya kemudian memeluk benda lipat tersebut di depan dada dengan sebelah tangannya.

“Ok, setelah ini aku akan menyusulmu menghadap Park sonsaengnim, dan Luna yang akan mengunci ruangannya,” sahut Hyerin dari balik buku tugasnya tanpa sekalipun menatap Hyunjae maupun Luna yang sedang sibuk membereskan beberapa barang yang tergeletak diatas meja panjang yang mereka gunakan di dalam ruangan itu.

Hyunjae mengangguk kemudian beranjak keluar dengan sebuah map dan laptop dalam pelukkannya.

Melihat temannya pergi meninggalkan ruangan tanpa mengajak dirinya, Ahrapun segera berlari menyusulnya.

“Sini, biar kubawakan,” ia lantas mengambil alih laptop hitam bercover Hello Kitty milik temannya itu dan memeluknya di depan dada, membiarkan temannya yang bertubuh lebih mungil dan kurus dari dirinya itu bebas melenggang hanya dengan sebuah map yang beratnya tak seberapa di tangan kanannya.

“Gomawo~”

“Sama-sama..”

Begitu keduanya sampai di depan ruang guru yang terletak di lantai 3, Hyunjae masuk seorang diri kedalam sementara Ahra menunggunya sendirian diluar, menatap jauh pemandangan pelataran sekolah yang menghadap langsung kearah gedung SMA Romeo.

“Yatuhan.. Kapan ya aku bisa masuk kedalam sana??” gumamnya dengan raut penuh harap.

@ Romeo SHS..

“Hey, kudengar dari Eunhyuk, tadi pagi kau menyambangi SMA depan lagi, benar begitu?” tanya seorang pria tampan bertubuh tinggi atletis pada Donghae ketika sahabatnya itu menghampirinya yang sedang asik bermain ponsel di dalam kelas kemudian duduk disebelahnya.

Donghae tampak tak acuh dan malah lebih tertarik untuk memainkan game konsol milik sahabatnya itu yang tergeletak begitu saja diatas meja.

“Begitulah, biasa.. memang kenapa?”

“Anniya.. rupanya kau sudah mulai membuka hatimu dari jeratan Jooyeon noona, betul kah?”

Donghae mendesah hebat. Dilemparkannya benda berwarna hitam itu asal keatas meja dihadapannya lalu beralih memandang sahabatnya itu dengan ekspresi malas.

“Aku hanya mengobrol dengan Hyunjae, apa masalah?” jawabnya seadanya. Mendengar nama Hyunjae disebut salah satu sudut bibir pria tampan itu terangkat membentuk sudut lancip. Ia tersenyum sungging, entah apa artinya.

“Oh..” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Hya! Kalian bertiga berkumpul disini kenapa tak bilang-bilang padaku, huh?? Aku mencari kalian sampai ke kantin tahu tapi malah ada di kelasku sendiri ckckck,” protes Eunhyuk yang entah darimana datangnya dengan raut kesal dibuat-buatnya saat melihat kedua sahabatnya itu terlihat duduk berdampingan di dalam kelasnya –yang kebetulan siang itu memang kosong karena sebagian besar penghuninya sedang menikmati makan siang mereka di kantin- secara tiba-tiba. Ia lantas menarik sebuah bangku kosong yang ada di depan bangkunya yang kini ditempati donghae dan membaliknya agar ia bisa duduk menghadap keduanya.

“Mwoya, tadi kan kau sendiri yang bilang mau ke toilet sebentar, jadi aku menunggumu disini, kenapa kau malah menyalahkanku dan Siwon karena kau mencari-cari kami di kantin? Tentu saja kau tak akan menemukan kami kalau begitu,” ucap Donghae tak habis pikir.

Pria disamping Donghae yang tak lain adalah sang pangeran sekolah, Siwon, melirik Eunhyuk sekilas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ah.. sudahlah tak usah dibahas,” kilahnya. Biar bagaimanapun ia tak mau disalahkan akan kebodohannya sendiri. “Ah, ya, Donghae-ya, apa kau ingat gadis tadi pagi yang ditarik paksa temanmu karena terpesona akan ketampananku??”

Siwon mengerutkan kening, sementara Donghae terlihat seperti mau muntah mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan olehnya.

“Siapa?” tanya Siwon penasaran.

“Oh.. Itu, aku juga tak tahu namanya tapi yang pasti setahuku dia teman Hyunjae karena aku sering melihat keduanya bersama,” jawab Donghae.

“Ne. Ah dan wajahnya kau tahu?? Sangat unik! Hahaha sepertinya boleh juga jika aku sedikit bermain dengannya hahaha..” Eunhyuk sedikit menutupi wajahnya yang memerah karena malu dengan kedua tangannya, membuat kedua sahabatnya kembali menggeleng-gelengkan kepalanya akan tingkah sahabat mereka yang satu itu.

Lee Hyukjae, atau lebih tenar dengan nama Eunhyuk ini memang sangat terkenal akan sifat cassanovanya. Jadi keduanya sudah tak heran jika ia mengatakan tertarik pada seorang gadis dan ingin bermain bersamanya.

~mrs.choilee~

@Juliet SHS

Hyejin menghela napas lega setelah dirinya berhasil melewati tes lisan bahasa Inggris yang diadakan oleh sang Kepala Sekolah yang juga menjabat sebagai guru bahasa inggris di kelasnya, Sandara Park. Wanita berwajah cantik nan awet muda itu memang terkenal sangat tegas untuk urusan seperti ini, maka jangan heran jika hampir disetiap bulannya ia akan mengadakan tes lisan untuk sekedar mengetahui kecakapan para siswanya dalam bidang bahasa Internasional satu ini.

Tepat setelah tes bahasa Inggris selesai diadakan, kelasnya dibebas tugaskan selama satu jam pelajaran sampai bel pulang berbunyi karena kebetulan beliau harus segera pergi menghadiri rapat mingguan di kantor yayasan pendidikan pusat. Kontan saja kelas yang semula tenang itu mendadak riuh begitu sang kepala sekolah yang terkenal galak itu pergi dari hadapan mereka.

“YEAAA!! AKHIRNYA!!” teriak beberapa orang kegirangan saat salah satu diantara mereka mengintip dari balik jendela kelas dan melihat lexus merah  yang menjadi kendaraan pribadi sang kepala sekolah sudah melaju pergi keluar dari kawasan sekolah.

Sebagian besar dari mereka segera berlalu keluar menuju kantin dan sebagian lainnya memilih untuk ke perpustakaan ataupun sekedar ke taman untuk mencari angin.

Hyejin sendiri, setelah mengetahui kepergian sang kepala sekolah lebih memilih untuk menyambangi ruang mading yang seharian ini sama sekali tak dilihatnya. Sebuah ruangan berbentuk kubus berukuran sedang yang berdiri menyelip di dalam ruang perpustakaan yang hanya terpisahkan oleh sekat kaca semi transparan.

Dilihatnya dari balik pintu masuk ruang mading, ruangan itu tampak terkunci rapat. Dan begitu ia berusaha mengintipnya dari sekat kaca, ruangan itu terlihat sepi dan sudah tertata rapih tanpa aktivitas sama sekali di dalamnya.

“Hmm.. sudah sepi. Padahal aku ingin bercerita sesuatu pada mereka,” gumamnya. Ia lantas berbalik, berjalan keluar dari ruang perpustakaan, berniat kembali kedalam kelas untuk bermain game yang ada di dalam ponsel miliknya.

“Hyejin-yang!” panggil seseorang dari arah belakang.

“Seo Hyejin hakseng!”panggilnya sekali lagi karena Hyejin tak kunjung merespon panggilannya.

Langkah Hyejin terhenti, ia berbalik dan mendapati sosok guru pembina mading yang dikelolanya terlihat tengah berjalan menghampirinya dengan sebuah map berwarna kuning disebelah tangannya.

“Kau yang tadi mengantarkan berkas ini keatas mejaku?”

Hyejin menyipitkan matanya, memerhatikan benda berwarna biru itu dengan seksama kemudian menggeleng.

“Anniyo, seharian ini aku sama sekali tak ikut serta dalam kegiatan eskul karena harus menjalani ulangan harian, saem,” jawabnya jujur. “Mungkin Hyunjae atau Luna yang menaruhnya disana.”

Park Gahee, guru kesenian yang juga menjabat sabagai guru pembina bidang eskul mading itu tampak mengangguk paham.

“Ah, gurae.. kalau begitu, bisa aku meminta tolong padamu? Tolong nanti setelah pulang sekolah kau dan temanmu yang tadi mengantarkan map ini, menemuiku di ruang guru. Ok?”

Hyejin mengangguk mengiyakan. Gahee tersenyum puas kemudian berlalu meninggalkan muridnya itu menuju anak tangga yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.

——

Sepulang sekolah, sesuai dengan permintaan Gahee sebelumnya, ia mencari tahu siapa yang pembinanya itu maksud dan kemudian membawa Hyunjae ikut bersamanya untuk menghadap keruang guru yang terletak dilantai 3.

Hyunjae yang semula ingin cepat-cepat kembali ke asramanya mengingat barang bawaan di dalam ranselnya yang memang sangat berat, langsung dihadang Hyejin dan ditariknya paksa untuk mengikutinya kelantai 3 sementara tas ransel bawaannya ia tinggal di dalam kelas.

“Ada berapa anggota mading aktif selama ini?” tanya Gahee ketika kedua muridnya itu sudah duduk di atas kursi kosong yang ada di ruang guru.

“Er..” Hyunjae tampak berpikir. Mengingat siapa saja orang yang selama ini aktif dalam kegiatan mading.

“Sekitar 5 orang, aku, Hyunjae, Luna, Hyerin sunbae dan Jung-ah sunbae, tapi kebetulan Jung-ah dan Hyerin sunbae sudah duduk dikelas 3 yang otomatis membuat keduanya dinonaktifkan dari segala kegiatan organisasi sejak awal bulan ini, sehingga hanya kami bertiga yang masih benar-benar aktif, namun biarpun begitu mereka berdua sesekali masih menyempatkan diri untuk membantu kegiatan mading, saem,” jelas Hyejin.

“Hmph..” Gahee menarik napas berat. Ia lantas berdiri dari tempat duduknya, berjalan mondar-mandir dihadapan keduanya dengan sebelah tangan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya diatas bahu, sementara tangan yang lainnya ia jadikan tumpuan untuk tangan yang satunya. Ia tampak tengah berpikir saat ini.

“Wah kalau begitu berat juga ya..” gumamnya yang tanpa ia sadari juga diamini oleh kedua gadis itu dalam hati mereka masing-masing. Pekerjaan sebagai anggota mading Juliet selama ini memang bisa dibilang berat, terlebih semakin lama anggotanya semakin berkurang, dari yang semula berjumlahkan 15 orang kini hanya menyisakan 3 orang anggota aktif.

Tukk..

Suara hentakkan hak tinggi milik Gahee yang mengetuk lantai kayu ruang guru berkumandang seketika begitu dirinya tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik menatap kedua muridnya itu dengan ekspresi serius.

“Ada apa, saem? Katakan saja,” ucap Hyunjae memberanikan diri karena sang guru terlihat ragu-ragu untuk membuka suaranya.

Gahee menarik napas pendek, kemudian berjalan mendekati meja kerjanya, membuka salah satu laci meja miliknya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sana dan menyodorkannya pada Hyejin yang kebetulan posisinya memang lebih dekat dari dirinya saat ini. Sebuah majalah.

Hyejin dan Hyunjae salang bertatapan, melemparkan ekspresi bingung.

“Sebenarnya bulan ini sekolah kita terpilih untuk mengisi 4 halaman kosong yang ada dimajalah itu untuk edisi bulan depan, yang artinya akan terbit dalam waktu..” ia melirik sebuah kalender meja bergambar Rain yang ada diatas cpu computer yang ada dimejanya, “..seminggu lagi.” Lanjutnya yang kontan saja membuat kedua gadis itu melotot kaget.

“Ne??” ujar keduanya bersamaan. Mengisi halaman sebuah majalah remaja?? Heyy itu adalah sebuah pencapaian terbesar bagi anggota mading seperti mereka yang sebelumnya tak pernah go public alias tak pernah mempublikasikan hasil kerja mereka ke khalayak luar selain di lingkungan mereka sendiri. Namun.. dalam waktu seminggu?? Yang benar saja!!??

Gahee sendiri rupanya bisa membaca gelagat tak enak yang ditampakkan keduanya, ia hanya bisa tersenyum kecut, merasa bersalah. Mengerjakan project pengisian 4 halaman kosong sebuah majalah remaja terkenal memanglah tak semudah yang dibayangkan terlebih mereka hanya bertiga sementara waktu yang diberikan hanya 1 minggu. Apa yang bisa mereka harapkan dengan sedikitnya anggota dan waktu sesingkat itu?? Biar bagaimanapun mereka hanyalah penulis amatiran yang masih sekolah bukan seorang wartawan profesional yang dalam seharipun mampu membuat sebuah berita atau artikel menakjubkan yang dapat membuat pembacanya tertarik atau bahkan terkagum-kagum akan hasil tulisannya.

Tapi tampaknya ia tak bisa berbuat banyak, karena ia pun baru mendapatkan tawaran ini tadi pagi dari salah satu kerabatnya yang kebetulan merupakan kepala editor majalah remaja tersebut. Sebenarnya project untuk bulan depan seharusnya dipegang oleh Seoul Art High School yang sudah diberitahukan sejak dua minggu yang lalu namun entah kenapa tiba-tiba saja mereka membatalkannya, berhubung 4 halaman tersebut sudah terlanjur dipersiapkan untuk space ‘redaksi mading SMA’ jadi beliau meminta pertolongan pada Gahee agar ia mau membantu dirinya mengisi kekosongan pada halaman tersebut.

“Dengarkan aku.. Aku mengerti kalian mungkin akan merasa keberatan akan hal ini, namun satu hal yang pasti,” Gahee menatap keduanya dalam. “Ini adalah salah satu kesempatan bagi kita untuk membuktikan intensitas dan kemampuan kalian. Buktikanlah kalau sekolah kita memanglah sekolah yang patut diperhitungkan, bukan hanya karena terkenal sebagai sekolah elit yang mahal dan sulit ditembus saja, melainkan kita juga harus membuktikan kita tak hanya unggul dalam bidang akademik, melainkan dalam ajang unjuk kreativitas seperti inipun kita mampu!” ujarnya dengan nada persuasif, membuat keduanya sedikit demi sedikit mulai tergugah keyakinan hatinya hingga akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Kami bersedia!”

Gahee tersenyum puas.

Dan setelah mereka keluar dari ruangan ini, keduanya sadar akan konsekuensi dari perkataan yang baru saja mereka ucapkan. Sebuah pekerjaan besar telah tergantung dibelakang pundak mereka dan harus segera diselesaikan.

~mrs.choilee~

Sesuai hasil rapat dadakan semalam melalui jaringan skype di laptop masing-masing anggota mading –Hyejin-Luna-Hyunjae- akhirnya diputuskan bahwa untuk pengisian 4 halaman kosong tersebut mereka akan membagi menjadi 4 pokok bahasan besar, yakni profil sekolah, fashion, olahraga, dan fiksi. Untuk kategori fiksi, sudah diputuskan bahwa mereka akan memuat salah satu cerpen yang sebelumnya pernah dimuat di mading sekolah beberapa bulan lalu yang menurut mereka layak baca untuk kategori remaja, sementara 3 kategori lainnya dibagi rata.

 Hyejin akan menangani rubrik mengenai sekolah, ia akan membahas habis mengenai seluk-beluk sekolah mereka tercinta mulai dari sejarah singkat sekolah serta segala hal menarik yang ada disekolah mereka termasuk kedua kepala sekolah mereka –SMA Romeo-Juliet- yang terkenal masih sangat muda dan juga good looking.

Luna akan memegang rubrik fashion, mengingat dirinya memanglah seorang fashion blogger.

Sementara Hyunjae yang akan memegang kendali akan rubrik olahraga karena kebetulan baru-baru ini sekolahnya dan SMA Romeo –brother school sekolahnya- baru saja mendapatkan beberapa penghargaan dibidang itu, dan Park Gahee sendiri yang mengusulkan padanya agar mencantumkan profil para ‘juara’ sekolah itu kedalam rubrik olahraga, padahal sejujurnya Hyunjae sendiri sangat tidak tertarik dalam bidang itu terlebih mengingat dirinya harus menyebrang ke sekolah depan demi mendapatkan wawancara langsung dengan sang juara.

“Oke, karena waktu yang kita miliki hanya 3 hari sebelum akhirnya diserahkan pada pihak majalah untuk dipelajari dan dipertimbangkan soal layak cetak atau tidaknya tulisan kita, atau malah ditolak untuk dirombak total isinya maka setelah jam ke-4 kita diberikan waktu dispensasi untuk mengerjakan project ini, dan surat dispensasinya akan Park sonsaengnim bagikan langsung ke masing-masing guru yang mengisi kelas kalian. Jadi ayo mari kita bersemangat!” ia mengepalkan sebelah tangannya tinggi-tinggi keudara.

Luna tersenyum kemudian mengikutinya, mengepalkan tangan kanannya tinggi-tinggi keudara.

“Hey, kau juga,” liriknya pada Hyunjae yang malah dengan cueknya masih saja duduk diatas bangku panjang ruang mading, mengutak-atik camera mini SLR milik Gahee yang baru saja dipinjamkan padanya untuk kegiatan peliputan berita.

“Eh.. Tombol yang ini buat apa ya??” tanyanya polos sambil menunjuk salah satu tombol yang ada disamping LCD kecil kamera keluaran Jepang tersebut, sama sekali tak mendengarkan ocehan temannya yang kini menatapnya dengan tatapan gemas.

Gadis itu jika sudah menemukan mainan baru yang menarik baginya memang selalu gatal dan asik sendiri dalam dunia barunya tanpa sama sekali mendengarkan siapapun yang berbicara padanya.

~mrs.Choilee~

“Mwoya.. masa aku kesana sendirian?? Nan shireo!” tolaknya mentah-mentah dan berusaha sebisa mungkin untuk melarikan diri kembali kedalam sekolahnya ketika Hyejin menariknya paksa kedepan pintu masuk gedung SMA Romeo yang selalu dijaga ketat oleh dua orang satpam berusia 40 tahunan yang berjaga disetiap sisi pintu masuknya.

“Eitttss.. Apanya yang tidak mau?? Kau kan yang memegang rubrik olahraga, jadi kau yang bertanggung jawab untuk mewawancarai Minho!” dengan santainya ia menarik kerah belakang seragam Hyunjae yang sedang berusaha untuk melarikan diri hingga membuat gadis itu tak berkutik dan hanya bisa berjalan ditempat karena ukuran tubuhnya yang memang jauh lebih mungil dari Hyejin yang memiliki tinggi badan 167 cm.

“Ah.. aduhh.. aduhh.. ampun Hyejin-ah, aku janji aku akan membantumu mengerjakan rubrik sekolah, tapi tolong jangan biarkan aku masuk kesana sendirian, huhu..” kali ini Hyunjae tak lagi berusaha untuk melarikan diri, melainkan memeluk sebelah kaki jenjang Hyejin dengan kuatnya, memohon agar temannya itu tak membiarkan dirinya untuk masuk kedalam sana seorang diri.

Hyejin mendengus. Kedua tangannya terlipat didepan dada. Kepalanya menggeleng-gelemg kecil tak habis pikir.

“Lalu bagaimana? Aku kan harus memulai bagianku juga, hari ini aku sudah membuat janji dengan kepala sekolah kita yang galak itu untuk wawancara dengannya, sementara jadwal wawancara dengan kepala sekolah Romeo baru bisa dilakukan lusa karena ia sedang dinas diluar keluar negeri. Lagipula kan kau sendiri yang semalam setuju bahwa kau akan memegang rubrik ini.”

“Iya, tapi kan aku tak pernah mengira kalau akhirnya aku harus mewawancarai Minho seorang diri disekolah pria sebesar itu, huwee aku tak mauuu!!” tolaknya dengan nada meringis.

Hyejin menengok sosok temannya yang masih setia memeluk kaki kirinya itu dengan sangat erat kemudian menghela napas berat.

“Oke, kalau begitu begini saja. Kau ajak saja salah seorang teman agar bisa menemanimu kedalam sana bagaimana??” Hyunjae mendongak, menatap wajah temannya yang menunduk menatap lurus kewajahnya dengan wajah berbinar-binar.

“Jinjja??”

“Gureom.. asal kau mau masuk kesana,” jawabnya pasrah. Ia sudah tak tahu mesti pakai cara apalagi agar Hyunjae bersedia masuk kesana. “Sekarang cepat kau hubungi satu orang saja yang bersedia menemanimu kesana saat ini juga, dan untuk urusan surat dispensasi biar aku yang kembali kedalam dan mengurusnya sebentar.”

Gadis itu tersenyum sumringah. Kedua matanya berbinar-binar. Dan dalam sekejap pelukan erat yang semula membebani sebelah kaki jenjang sang ketua madingpun terlepas. Gadis itu langsung berdiri, meloncat kegirangan kemudian mengeluarkan ponsel slide hitam dari saku blazernya untuk mulai menghubungi seseorang diseberang sana.

“Yeobseyo~”

~mrs.Choilee~

“Huwaaa… sungguh baru kemarin rasanya aku bertanya pada diriku sendiri kapan aku bisa masuk kemari, dan hari ini semuanya benar-benar terwujud! Hehehe..” ujar seorang gadis berambut pendek dengan nada girang pada temannya yang tengah sibuk mempersiapkan kamera ditangannya. Kedua matanya sibuk menyusuri segala penjuru tempat yang bisa dilihatnya dari tempat mereka saat ini.

Hyunjae, gadis yang sejak tadi sibuk mempersiapkan kameranya itu tampak terkekeh kecil melihat kelakuan temannya itu. Ia sendiri tak mengira bahwa pada akhirnya ia mengajak seorang Kwon Ahra untuk menemaninya masuk ke dalam Romeo, padahal orang yang pertama kali dihubunginya adalah Chaeyoung, salah seorang sahabatnya saat masih duduk dibangku SMP yang juga adalah kekasih dari seorang Choi Minho, namja yang menjadi objek beritanya kali ini, namun sayang temannya itu sedang sibuk mempersiapkan diri untuk kejuaraan tari yang akan diselenggarakan di Jeju beberapa hari lagi, jadi pada akhirnya Ahra-lah orang yang bisa ia andalkan untuk menemaninya masuk kedalam sini.

“Aigoo kapan selesainya ia latihan bola??” gumamnya dengan nada sedikit kesal saat melihat jam tangan hijau yang melingkar di lengan kirinya telah menunjukkan pukul 11.30, artinya ia telah menunggu Minho yang sedang asik berlatih sepak bola dengan teman-teman satu timnya dilapangan seberang tempat duduknya saat ini selama hampir satu jam lamanya setelah sebelumnya ia sempat berbicara pada namja jangkung itu untuk meminta ijin meliput dirinya hari ini.

“Omo!! GOALLL!!” pekik Ahra tiba-tiba, nyaris memecahkan gendang telinga satu-satunya orang yang duduk disebelahnya.

Hyunjae memegangi telinga kirinya yang terasa penging dengan sebelah tangan, kemudian melayangkan tatapan tajamnya pada gadis berambut pendek tersebut.

“Ya!” protesnya. Tapi Ahra rupanya sama sekali tak mempedulikannya dan terus saja berteriak-teriak heboh tatkala para bintang lapangan itu kembali mencetak sebuah goal di kandang lawan.

Pritttttt…

Setelah goal ketiga dicetak oleh tim yang digawangi Minho, pluit panjang tanda berakhirnya pertandinganpun dibunyikan.

Dari arah bangku kayu bertingkat tempat kedua gadis berseragam Juliet itu berada, mereka dapat dengan jelas melihat apa yang sedang terjadi di tengah lapangan. Minho menengok kearah mereka sekilas lalu tampak berbicara sebentar pada salah seorang temannya sebelum akhirnya berlari kecil menghampiri kedua gadis itu.

“Maaf menunggu lama,” sesalnya dengan nada terengah-engah akibat akitivitas olahraganya barusan. “Tapi apakah aku boleh mandi dan mengganti pakaianku dulu sebentar? Tubuhku terasa tak enak,” tanyanya sopan.

Hyunjae memperhatikan penampilan pria itu yang telah dipenuhi dengan peluh disekujur tubuhnya sebentar, kemudian mengangguk dan tersenyum sopan, mempersilakan pria itu untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sementara itu disampingnya, Ahra yang sempat terhipnotis akan penampilan urakan Minho yang telah basah dengan keringat disekujur wajah dan tubuhnya segera tersadar dan membisikkan sesuatu ditelinga Hyunjae. Dengan sangat pelan.

“Ah, ya. Permisi, toilet wanita disini kira-kira disebelah mana ya? Aku harus menggunakannya sebentar,” Hyunjae tersenyum salah tingkah karena menanyakan soal toilet wanita disekolah pria pada pria dihadapannya.

“Ne? Ah, toilet wanita ada di gedung utama, lantai 2 disamping ruang guru, silakan saja kesana jika kau ingin ke belakang,” jawabnya dengan senyuman maklum.

Hyunjae tersenyum kikuk, begitu juga dengan Ahra.

“Kalau begitu baiklah, sekitar lima belas menit lagi kita kembali bertemu disini, ok?”

Minho mengangguk, kemudian pamit dan berlari kecil kearah seberang lapangan dimana teman-temannya yang lain telah menunggunya.

Begitu Minho menghilang dari hadapan mereka, Ahra yang memang sudah kebelet pipis pun langsung menarik temannya itu berlari menuju tempat yang disebutkan Minho barusan.

“Oke! Kau tunggu aku disini. Jangan kemana-mana!” perintah Ahra begitu mereka berdua menemukan tempat yang sejak tadi dicarinya.

 Hyunjae mengangguk paham dan memilih untuk berdiri menyadrar di samping sebuah jendela kecil yang berada disepanjang koridor yang menghadap langsung kearah lapangan bola tempat Minho bertanding sebelumnya.

Tangan nakalnya dengan aktif menyalakan tombol power pada salah satu bagian SLR-nya kemudian tanpa sadar dirinya mulai membidikkan lensa kamera ke beberapa sudut yang bisa digapainya dari tempatnya saat ini.

“Gureom, nanti aku akan menemuimu sepulang sekolah.”

Sebuah suara berat tiba-tiba saja menyeruak masuk kedalam telinganya, membuat dirinya berpaling dari belakang lensa kamera, mencari arah datangnya suara.

“Ne. Bye..” sekali lagu suara itu merasuk kedalam telinganya. Kali ini terasa lebih jelas, dan ia pun bahkan bisa mendengar derap langkah kakinya.

Dan perlahan tetapi pasti.. sedikit-demi sedikit ia bisa menangkap jelas sosok pria yang kini berjalan kearahnya sambil memainkan benda berbentuk kotak yang berada di dalam genggamannya.

Kedua mata gadis itu terbelalak lebar dengan sebelah tangan yang menutupi mulutnya yang menganga karena saking terkejutnya akan apa yang baru saja ia lihat.

“Maldo andwae..”

TBC

Sumpah waktu bikin part ini, saya inget waktu masa” SMA, apalagi pas bagian mading itu..

Astagaaa.. masih kebayang gimana beratnya waktu kita –anak”mading- dikasi tugas buat ngisi 1 halaman kosong koran lokal –yang tahu sendiri dong ukuran halaman koran kayak apa??? Sedangkan waktu itu anak-anak mading yang bener-bener eksis cuma sedikit dan kalo ga salah organisasi itu dipengang sama ‘kita’ yang masih duduk dikelas 1 SMA. GILAAA sumpah itu pengalaman gak akan saya lupain banget!! Haha

Yang pernah jadi anggota mading atau yang satu sekolah sama saya pasti tau gimana ceritanya. wkwkwk

So sorry for typo..

Dan ya mulai saat ini saya mau bilang kalo FF ini ga bakal tayang tiap sabtu seperti biasanya, karena matkul semester 4 yang berattt dan super padat jadwalnya bikin saya stres sendiri belum lagi hampir setiap hari saya kuliah tanpa jeda kecuali jam solat dzuhur -,-, di perparah ternyata semester kali ini dosennya banyak yang saklek makin aja  bikin saya keki, belum lagi ternyata harus kembali tersesat dikelas semester atas yang isinya senior hebring nan CERDAS semua astagaa

Ditambah sebelum part 1 posting kemarin saya sakit dan dilarang untuk terlalu lama duduk didepan laptop, jadi akhirnya saya putuskan untung posting FF ini as soon as possible aja, tapi ga sesuai jadwal ‘sabtu/minggu’ seperti biasa

 Mungkin  bisa cepat tapi bisa juga lama sesuai mood dan kemampuan waktu saya bikin ini ff, tapi yang pasti jeda dari part ke part selanjutnya mungkin akan makan waktu lebih dari seminggu karena udah aku niatin awalnya FF ini emang bakal tayang selama 2minggu sekali, tapi tergantung antusias kalian kalo banyak yang suka mungkin ga nympe dua minggu bakal aku publish yang jelas bakal lewat dari seminggu sekali *bow

So keep stay tuned.

And buat yg mau ngobrol” lebi dket sama saya boleh comment d welcome atau di abaout mrs. Choilee

Atau mau ada yang kenal lebi deket lagi? Silakan mention aja di @yoen_da atau k fb aq aj ^^

Gomawo~

Iklan

14 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 2

  1. Masih inget~ apalagi pas mau nyetor semua document terserang virus! Jadul bgt, sakit hati kalo liat antivirus jaman sekarang =_=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s