HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 3

~HIGH SCHOOL PARADISE~

 “Maldo andwae..!!”

“Kenapa dia ada disekolah ini????? APA YANG IA LAKUKAN DISEKOLAH INI!!!????” pekik Hyunjae tertahan dengan sebelah tangan yang secara spontan menutupi bibirnya. Kedua matanya terbelalak lebar.

IA TERKEJUT SETENGAH MATI! Bagaimana mungkin sosok yang selama ini bayangannya selalu menghantui kehidupannya itu kini malah berada tak jauh darinya??????

Tukk.. Tukk.. Tukk..

Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas mendekat kearahnya, membuat ia kelabakan mencari jalan untuk bersembunyi.

“Sial! Kenapa disaat seperti ini aku malah berada di ujung lorong yang sama sekali tak ada jalan untuk melarikan diri!!!??” umpatnya dalam hati ketika sadar bahwa saat ini ia berdiri di depan toilet samping ruang guru yang terletak di ujung lorong, sementara menurut instingnya orang itu pasti sedang berjalan menuju kearahnya.

“AAA ottohke?? Ottohke???” ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Biar bagaimanapun ia tidak mau bertemu dengan orang itu, terlebih disaat seperti ini. IA BELUM SIAP!!!!!

Kedua bola matanya sibuk mencari-cari tempat yang sekiranya bisa digunakan untuk melarikan diri, sampai akhirnya sudut matanya menemukan sebuah pintu kayu yang tak tertutup rapat tepat disamping pintu masuk ruang guru. Tanpa pikir panjang gadis itupun segera berlari kearah sana dan langsung masuk kedalam, menutup pintunya dengan serapat mungkin tanpa mempedulikan tempat apa sebenarnya yang menjadi lokasi persembunyiannya kini.

Begitu berhasil masuk kedalam, gadis itu langsung berdiri menyandar dibalik pintu sambil mencoba mengatur napasnya yang tadi sempat memburu karena saking paniknya, kemudian berbalik dan membuka sedikit pintunya membuat celah kecil untuk dirinya melihat keadaan diluar.

Dari balik pintu, ia dapat melihat jelas pria tinggi dengan tubuh atletis yang terbalut rapih dibalik seragamnya itu berjalan tengah berjalan santai dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana melewati ruangan tempat bersembunyinya saat ini kemudian menghilang dibalik sebuah pintu bertulisan ruang guru.

“Hufttt.. selamatt!” gadis itu menghela napas lega. Pria itu pasti tak melihatnya tadi, pikirnya.

“Siapa kau?” ucap sebuah suara yang sontak saja membuat gadis yang baru saja merasa lega karena telah  berhasil melarikan diri dari cengkraman harimau itu kembali terperanjat ketika dirinya berbalik dan melihat kini dihadapannya berdiri seorang pria tinggi berkamata dengan sebuah buku tebal disebelah tangannya tengah memandangnya dengan tatapan aneh. Pria itu pasti berfikir untuk apa seorang siswi dari sekolah lain ada di sekolahnya dan bersembunyi di dalam sebuah ruangan dengan tampang ketakutan.

“Eh?” hanya kata itu yang terucap dari bibirnya. Jujur saja isi kepala gadis itu mendadak terasa kosong hingga membuat dirinya tak mampu untuk menjawab pertanyaan pria yang ia yakini akan menganggapnya sebagi gadis aneh itu.

“Kau siapa?” ulangnya.

Kali ini gadis itu diam, sementara kedua bola matanya sibuk menyusuri sekeliling ruangan tempatnya saat ini.

“Mati aku!” rutuknya dalam hati saat menyadari sebuah papan nama yang tergeletak diatas sebuah meja kayu berukiran kayu jati yang agak jauh di hadapannya berukirkan nama ‘JungSoo Park – Headmaster’ dan tepat didinding belakang meja tersebut tergantung sebuah foto berhiaskan frame kayu berukuran besar yang secara pasti menegaskan bahwa ruangan tempatnya saat ini berpijak adalah ruang kepala sekolah Romeo.

Sementara itu tanpa Hyunjae sadari ia sepertinya telah melupakan sesuatu, Ahra yang semula masuk ke toilet dan menyuruh temannya itu untuk menungguinya sampai ia selesai, tampak kebingungan mencari dirinya yang tiba-tiba saja menghilang.

“Hya, Kim Hyunjae kau kemana sih!?” gerutunya sebal. Dilihatnya keluar jendela kecil yang ada di sepanjang lorong yang langsung mengarah ke lapangan. Minho tampak sudah duduk ditempat ia dan Hyunjae duduk semula sambil menegak isi botol air mineralnya.

“Apa dia duluan turun kesana, ya?” pikirnya. Ia memang merasa sudah terlalu lama di dalam toilet, dan itu semua disebabkan oleh kontraksi yang tiba-tiba saja menyerang pencernaannya.

Dengan lengkah tergesa ia pun segera berlari kecil menuruni anak tangga untuk menyusul teman yang dikiranya sudah pergi duluan menghampiri Minho karena tak enak membuatnya menunggu terlalu lama.

“Dasar anak itu, harusnya setidaknya ia bilang dulu kalau mau duluan kan aku tak perlu susah-susah mencarinya! Ckck,” gerutunya sambil menuruni anak tangga dengan langkah teburu-buru tanpa memegangi pegangan tangga, namun karena saking terburu-burunya ia tak sadar bahwa sebelah tali sepatunya terlepas dan sebelah kaki yang lainnya tanpa sengaja menginjaknya, membuatnya dirinya kehilangan keseimbangan.

“AAAAA!!!” teriaknya saat tubuhnya terasa sudah tak seimbang dan terasa akan meluncur jatuh layaknya seseorang yang akan melompat kedalam kolam renang.

“AWASSSSSSSSSSSSSSSSS!!!” teriaknya kali ini saat dilihatnya seorang pria dari arah berlawanan yang sedang asik menekuri layar ipodnya tengah berjalan menuju tangga tepat dihadapannya.

Pria yang hanya memasang salah satu earphone di sebelah telinganya itu pun langsung mendongak, dan membelalakkan kedua matanya saat tiba-tiba saja seorang gadis berteriak dan melompat kearahnya, dengan sigap ia pun menyingkir beberapa lengkah kebelakang dan membiarkan gadis berambut pendek dengan seragam Juliet itupun jatuh mengenaskan dalam posisi menelungkup hanya terpaut beberapa senti di depan sepatu yang dikenakannya.

Setelah merasa tubuhnya telah mendarat aman, Ahra mendongak, masih dalam posisi telungkup diatas lantai marmer licin SMA Romeo.

Dilihatnya pria yang hampir saja ia tabrak barusan sedang menatapnya dengan tatapan horor. Ahra yang tak tahu harus bagaimana karena dirinya sendiri juga merasa malu sekaligus tak enak hati hanya bisa nyengir kikuk.

Pria itu tampak masih terus memperhatikannya. Kamudian menyodorkan tangan kanannya kearah dirinya dengan wajah datar.

Ahra tersenyum riang dengan kedua mata yang berbinar, langsung saja ia ikut menyodorkan sebelah tangannya untuk mengkap tangan pria itu agar membantunya bangkit dari posisinya sekarang. Namun seketika senyumannya sirna tatkala pria yang semula ia duga akan menolongnya itu malah menyodorkan tangannya kesisi lain disebelah tubuhnya, meraih sebuah benda hitam dengan stiker tengkorak yang tergolek lemah tak berdaya yang nyaris saja tertindih oleh Ahra kemudian membersihkannya dari debu yang sedikit tertempel di bagian bawah benda kesayangannya itu sebelum akhirnya menyambungkan earphonenya kembali kedalam lubang telingannya.

Ahra menatapnya dengan tatapan memicing. Sementara pria itu hanya meliriknya sekilas, tak peduli.

“Babo!” ucapnya pelan, namun dapat jelas terdengar oleh telinga gadis itu.

“YA!” serunya tak terima sembari melontarkan tatapan bengisnya pada pria berpotongan rambut dibawah telinga tersebut. Lagi-lagi ia hanya meliriknya sekilas dengan tatapan sedikit merendahkan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ahra yang masih betah dalam posisinya.

“AAAAAAAAAAAAAAAARRGGHHH!!!”

—–

“Aissssshhhh!! Dasar menyebalkan! Gara-gara si Choi Siwon itu aku jadi mesti bersembunyi darinya kan! Dan sialnya aku malah tertangkap basah bersembunyi di dalam ruang kepala sekolah sekolah orang! Sebenarnya kenapa tiap bertemu dengannya hidupku selalu kacau sih?? huhuhuhu…” ringis Hyunjae begitu dirinya berhasil berkilah dan keluar dari terkaman salah seorang murid Romeo yang dari name tag yang digunakannya bernama Choi Jonghun itu.

Choi Siwon, namja yang tadi membuatnya kelabakan seperti itu sebenarnya adalah cinta pertama Hyunjae saat di masa sekolah dasar dulu, bahkan mungkin masih sampai saat ini. Namun ada sesuatu hal yang membuatnya enggan setengah mati jika harus bertemu namja itu lagi setelah pertemuan terakhir mereka 9 tahun yang lalu sebelum namja itu pindah dari Incheon, meski sebenarnya secara diam-diam ia selalu mengontrol perkembangan kabar namja itu melalui segala cara mulai dari mencari namanya lewat segala media intrenet maupun melalui temannya yang juga sahabat Siwon, Son Eunseo atau yang biasa dipanggil dengan nama Soya . Tapi satu hal yang pasti, ia sama sekali tak tahu menahu jika selama ini namja itu bersekolah tepat di depan sekolahnya (.____.”).

“Cilkh! Kenapa juga aku bisa bertemu lagi dengannya disini!” gerutunya, sebal.

“Oh, Hyunjae-ya annyeong!” sapa seseorang saat dirinya baru saja akan menuruni anak tangga. Hyunjae  yang sejak tadi sibuk meggerutu tak jelas langsung mendongak dan hanya bisa meringis tipis saat dilihatnya Lee Hongki, kakak tiri sahabatnya itu menyapanya kemudian kembali berjalan melewatinya.

“Aneh,” gumamnya, “biasanya kan kusapa saja ia tak pernah mau menggubris dan kali ini malah menyapa duluan ckck kesambet setan apa dia? (o___O)a”

Tak mau ambil pusing, iapun lantas kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga, berniat kembali ke lapangan bola yang menjadi tempat janjian dirinya dengan Minho beberapa saat yang lalu. Ia bahkan sama sekali tak ingat untuk apa sebenarnya ia berada di lantai 3 barusan.

“Aduhh.. dasar namja sinting!!” ringis seseorang tepat ketika Hyunjae mendaratkan kakinya pada pijakan anak tangga terakhir.

“eung?” gumamnya tanpa sadar ketika kedua bola mata besarnya mendapati seorang gadis berseragam seperti dirinya tengah duduk di atas lantai marmer lobby sma Romeo sambil menggerrutu tak jelas. Kedua tangannya tampak memijit-mijit beberapa bagian tubuhnya pelan.

“Mana lagi si Hyunjae, sembarangan saja meninggalkanku!” rutuknya kesal yang langsung saja sampai ditelinga si pemilik nama yang kebetulan berdiri membelakanginya, masih setia di tempatnya semula. Berdiri diatas anak tangga terakhir.

Hyunjae tersentak. Ia baru saja tersadar bahwa dirinya tadi meninggalkan Ahra.

“HUWAAAAAAAAAAAAA!! AHRA-YA MIANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!”

~mrs.ChoiLee~

Seorang gadis berambut pendek sebahu tampak tengah duduk menyandar diatas  bangku taman tepat dibawah sebuah pohon Oak tua besar. Tangannya dengan aktif mengarahkan sebuah benda tipis berwarna silver kearah danau buatan yang berada tak jauh dihadapannya. Sesekali dilihatnya layar camera pocketnya tersebut sebelum akhirnya tersenyum puas dan kemudian bangkit dari posisinya semula.

 “Semua pemandangan dan fasilitas terbaik di sekolah ini sudah kuselesaikan, tinggal menunggu bahan dari kepala sekolah saja, setelah itu bagianku selesai~” gumamnya riang mengingat tugas bagiannya sudah nyaris selesai dikerjakan.

Ro-Liet Park, atau Romeo-Juliet Park tempat Hyejin berada saat ini merupakan sebuah taman bunga dengan sebuah danau buatan di dalamnya yang berada di dalam wilayah Romeo-Juliet dan terletak persis diantara bangunan asrama dan mini stadium milik Romeo Juliet, dan keindahan akan pemandangan  di taman ini belum terlalu terekspos mengingat posisinya yang memang terletak agak jauh dari gedung sekolah namun dengan adanya liputan artikel yang ia liput ini semua orang, tak hanya di kalangan siswa Romeo-Juliet, juga dapat mengetahui keindahan yang dimiliki Romeo-Juliet.

Setelah puas membidik dengan pocket kamera miliknya, Hyejin membereskan barang-barang bawaannya kedalam tas punggung kesayangannya kemudian  kembali duduk menyandar, menatap jauh kearah danau yang tampak tenang dibalik hamparan taman bunga di seberang sana.

 Seketika pikirannya pun melayang.

*Flashback*

*Hyejin POV*

“Aku kehilangan selera makan,” Hongki  meletakkan pisau dan garpunya –yang semula digunakannya untuk memotong daging kesenangannya- agak keras menghentak pinggiran piring makan yang disediakan hotel ternama tempat kami sekeluarga makan malam kali ini, membuat suara dentingan yang cukup membuat Lee ahjussie melayangkan tatapan menghunus kepadanya.

Aku meliriknya takut. Terlihat wajah saudara tiriku yang satu ini sudah mengeras dan tak lama ia tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya, menarik tas gitar miliknya kemudian berjalan keluar dengan diikuti dentuman keras pintu yang sengaja ia hempaskan salah satu daun pintunya saat keluar darisana.

BRAKK

Aku hanya bisa tercengang hebat melihat kelakuannya barusan. Meski ini bukan kali pertama ia dan ayahnya bertengkar dan membuatnya pergi di tengah-tengah jamuan makan malam atau acara kumpul keluarga, tapi aku tetap saja terkejut akan kelakuannya.

Kulihat Lee ahjussie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan lalu melanjutkan acara makannya kembali. Kulemparkan tatapanku kali ini kepada eomma. Ia menatapku sebentar, seolah memberi tanda agar aku mengejar saudara tiriku itu dan menenangkannya. Aku mengangguk paham.

 “Sebaiknya aku juga permisi duluan dan menyusulnya,”  pamitku dengan sedikit membungkuk pada mereka sekilas, mengambil tas jinjing milikku kemudian dengan langkah sedikit berlari aku keluar menyusul saudara tiri yang hanya terpaut lebih tua 2bulan dariku itu.

Lihatlah betapa sayangku padamu sampai berlera hati mengejar dirimu, tapi kenapa kau itu selalu saja acuh sih!?? Kita berdua ini kan samaa. Sama-sama ditinggal pergi oleh orang tua yang kita cintai untuk selama-lamanya dan dipaksa menjadi keluarga dengan orang lain karena pernikahan orang tua kita yang masih ada. Tapi kenapa kau seolah juga selalu tak pernah menganggapku ada?

 “Oppa!” Teriakku girang saat  ekor mataku menangkap sosoknya yang tengah berlari di trotoar seberang jalan menuju suatu tempat entah kemana.

Aku segera berlari menyusulnya menyeberangi zebracross yang kebetulan lampunya masih menunjukkan warna hijau bagi penyebrang jalan.

‘Dasar gaun menyebalkan!’ rutukku pada gaun panjang dengan atasan bergaya babydoll ini. Ini pemberian eomma, kalo saja bukan dia yang sengaja memberikannya dan meminta secara langsung padaku untuk mengenakannya aku juga tak akan memakai gaun! Menyusahkan saja aku kan jadi tak bisa berjalan dengan bebas (=__=”).

Karena tak mau kesusahan mengejarnya, akupun lantas mengangkat sedikit bagian bawah gaunku hingga menampakkan sedikit kaki jenjang dan flat shoes yang kugunakan.

 “Hongki Oppa~!!!” teriakku sekali lagi, tapi tampaknya ia sama sekali tak bisa mendengar suaraku karena ia terus saja berlari menyeberangi jalan lainnya sebelum akhirnya kulihat ia masuk kedalam sebuah bus.

 “LEE HONGKI!!!!” teriakku frustasi ketika bus yang ditumpanginya sudah bergerak maju meninggalkan diriku yang masih berlari mengejarnya kemudian hilang dibalik kerumunan kendaraan lain yang melaju di sepanjang jalan.

‘Hoshh.. Hoshh’

Aku hanya bisa menatap kepergian bus itu dengan tatapan nanar. Tenagaku sudah habis karena berlari mengejarnya barusan.

“Eh?? Ngomong-ngomong dimana ini???” tanyaku pada diri sendiri. Kutatap sekeliling.

Hening.

Dari penglihatanku sekarang aku hanya bisa menyimpulkan bahwa aku sedang berada di depan sebuah halte bus di dekat sebuah taman yang sangat gelap hanya disinari cahaya temaran lampu jalan. Dan yang paling penting.. AKU TAK TAHU DAERAH INI!!!! OMO!

Sssingg~

Kurasakan hembusan angin perlahan membelai tubuhku yang hanya terbalut gaun tipis ini.

Tunggu dulu. Astaga! Apa tadi?? Gaun tipis??? YATUHAN!! AKU MENINGGALKAN BLAZERKU DI GANTUNGAN MANTEL YANG ADA DI SAMPING PINTU RUANGAN!!!!

 “Aigoo..” aku memeluk tubuhku sendiri, kedinginan. Padahal saat ini  masih musim panas namun angin malam tetap saja mampu membuatku kedinginan.

Kembali kulihat kesekeliling. Sepi dan.. gelap. Membuat bulu kudukku semakin menegang hebat.

Aku takut!

“Sepertinya lebih baik aku kembali saja ke hotel!”  putusku, tapi belum sempat aku berbalik badan untuk kembali ke jalan besar tahu-tahu entah sejak kapan dan darimana datangnya di depanku kini sudah berdiri beberapa orang pria berwajah sangar memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali-kali dengan tatapan mesum.

Yuks! Menjijikan sekali!!

 “Aigoo~ ada gadis cantik rupanya.” kata salah seorang pria berwajah seperti preman yang kini berdiri mengelilingiku dengan nada yang amat menjijikan.

“Hahaha.. tangkapan bagus untuk malam  ini rupanya..”

“Kita memang sedang beruntung rupanya! Hahaha,” tambah pria lainnya.

“Hya!! Jangan macam-macam!” teriakku, takut. Kedua tanganku memeluk tas tangan yang sejak tadi kubawa di depan dada, mencoba menutupi tatapan mesum mereka kedaerah terlarang yang tak boleh mereka lihat dariku!

Perlahan aku melangkahkan kakiku untuk mundur. Sedikit.. demi sedikit. Berusaha menghindari sapuan tangan nakal para preman mesum jelek itu yang mulai ingin menggerayangi tubuhku.

ARGH ANDWAE! AKU TAK MAU BERAKHIR DITANGAN PRIA JELEK SEPERTI MEREKA!!!

“Hahaha.. dia bilang apa?? Jangan macam-macam katanya??” tanya salah seorang preman berwajah paling sangar yang langsung dibalas tawaan dari rekannya yang lain. Dari penampilan dan gesture tubuhnya bisa diduga bahwa pria ini sepertinya merupakan pimpinan mereka.

“HUWAAAAAAAAAA EOMMA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku spontan ketika salah satu diantara mereka mulai berjalan mendekat untuk meraba-raba tubuhku, dengan mata terpejam aku langsung berjongkok, memejamkan mata dan menutupi kedua telingaku agar tak mendengar suara-suara mesum mereka.

 “Hahaha percuma saja kawasan ini sepi. Tak akan ada yang bisa mendengar suaramu! Hahaha..” keempat preman tersebut tertawa setan, seolah puas bahwa malam ini mereka akan mendapat mangsa yang empuk untuk menghabiskan malam mereka.

Sialan beraninya mereka bicara seperti itu padaku!

BUGG!!

Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara hantaman yang sangat keras. Suara apa itu??

Tapi biarpun penasaran aku tak mau membuka mataku. Aku takut!

“YA! NEO! BERANINYA!!” teriak seseorang dengan suara berat.

‘Eh?? Siapa itu??’

“RASAKAN INI!!”

Seketika suasana mendadak ricuh, penuh dengan teriakan, pekikkan serta rintihan kesakitan yang terdengar jelas ditelingaku.

BRAGG!

BRUGG!!

“Rasakan!!”

Hening..

‘aneh sekali. Kenapa mendadak hening?’ perlahan kuberanikan membuka sebelah mataku, kemudian mata sebelahnya menyusul. Aku penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi???

 “Omo!” pekikku tertahan dengan kedua tangan yang membungkam mulutku sendiri. Kedua mataku membelalak lebar saat melihat pemandangan yang tersaji dihadapanku kini.

Tak sampai 3 meter dihadapanku kini ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan potongan rambut urakkanya tengah sibuk bertarung melawan para preman busuk itu sendirian, dan mereka semua tampak kelelahan melawan dirinya yang hanya seorang diri.

“Keren!” pujiku tanpa sadar saat melihat bagaimana kehebatan pria itu dalam melawan para preman dihadapannya. Dan dalam sekejap mata keempat preman itupun lari tunggang langgang meninggalkan dirinya sambil melemparkan sumpah serapah yang sangat tak nyaman di dengar.

Aku tersenyum senang.

“RASAKAN! BERANINYA MENGGANGGU WANITA MALAM-MALAM!!” teriakku kesal, bermaksud membalas sumpah serapah yang mereka lontarkan kepada kami. Err.. aku dan pria itu maksudku.

Pria itu menoleh, membuatku langsung terdiam seketika.

Kurasa pria itu kini tengah menatapku, karena ia kin sedang berdiri menghadap kearahku. Namun sialnya, meski ia berdiri tepat dibawah lampu jalanan di depan taman, lampu itu hanya mampu menangkap sebelah wajahnya yang tertutupi topi.

Dug.. Dug..

Sebuah perasaan aneh mendadak merasuki diriku. Entah apa ini, tapi aku merasa kalau saat ini dadaku seperti berdesir hebat.

 “Sebaiknya kau cepat pergi ke jalan besar dan mencari taksi untuk pulang. Daerah ini terlalu rawan untuk gadis sepertimu,” ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan ku yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.

Mendengar suaranya, membuat perasaan aneh itu terasa menguat di dalam tubuhku. Dan jantungku.. jantungku.. rasanya seperti mau melompat keluar saking terlalu cepat berdetak.

“HEY!! SIAPA NAMAMU!!!??” teriakku sesaat setelah tersadar kembali dari alam imajinasiku.

Kulihat pria itu menghentikan langkahnya. Jantungku kebat-kebit menunggu jawabnnya.

“Seung-“ dag.. dig.. dug.. YA! MOTORKU JANGAN DI DEREK!!!!!!!!”

“He?? O__o”

*Flashback end*

Mengingat hal itu membuatku senyum-senyum sendiri. Kurogoh kedalam tas ransel milikku, mengeluarkan sebuah benda dari dalam sana. Benda segiempat berbahan kain bermotif kotak-kotak.

Aku tersenyum simpul. Benda itu adalah benda yang tak sengaja pria itu jatuhkan saat ia tiba-tiba berlari mengejar mobil derek yang menarik motornya.

Haha kalau dipikir-pikir aneh juga bagaimana bisa ada sebuah mobil derek yang kebetulan menderek motornya saat ia baru akan bertindak cool memberitahukan namanya padaku? Lucu sekaligus menyebalkan!!!

 “Hahaha… eh, tapi tunggu..” mendadak aku teringat akan sesuatu. Kulepaskan tali tas yang tersandang dibahuku, kubuka tas berwarna hitam kecoklatan itu dan mengambil sesuatu dari dalam sana.

Sebuah benda segi empat dengan corak garis-garis berwarna putih-coklat. Benda itu berbentuk sapu tangan.

Aku tersenyum melihatnya. Tersenyum senang lebih tepatnya, karena benda ini kutemukan setelah ksatria penolongku itu berlari mengejar kuda besinya. Bukan bagian menemukan sapu tangan atau bagian melihatnya berlari kalang-kabut mengejar mobil derek yang membuatku senang, melainkan karena ada sesuatu pada sapu tangan itu yang tak pernah kuduga sebelumnya, melainkan karena sebuah bordiran berwarna kuning keabuan yang ada di sisi bawah kanan sapu tangan tersebut karena disana tertera sebuah inisial S.H yang kuyakini adalah inisial nama pria itu.

“Tuhan.. berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi..”

TBC

Haii~ annyeong~ Olla~ Apakabar??

Haha sebulan ya kira-kira kita tak bersua dan kini saia datang malah dengan postingan gaje. Mian *bow*

Tolong jangan salahkan saya atas keterlambatan ini melainkan salahkan saja atau demo saja para dosen yang dengan seenak jidat memberikan tugas seberat-beratnya pada kami mahasiswa semester empat atau bakar saja gedung seketariat fakultas yang tanpa tendeng aling-aling memajukan jadwal ujian satu minggu dari jadwal semula dan membuat semua angkatan fakultas hukum kelimpungan karena kekurangan bahan materi lantaran kadar pertemuan memang kurang dari standar uts. *cari alibi*

Maaf saya stres *bow*

Jujur aja bener apa kata para senior dulu yang bilang semester 4 itu semester paling melelahkan dan menyebalkan, dan itu saya buktikan sendiri kali ini. Bayangkan saja 1 mata kuliah 1makalah, mana belum lagi ada dosen gila yang kerjaannya jarang masuk, sekalinya masuk kerjaannya merendahkan mahasiswa bukan membimbingnya, trus pas bagian makalah kerjaannya minta revisi ulang! Hadeuhhh stressssssssss!!

Dan gara-gara inilah sebulan kemarin saya putuskan vakum karena biarpun tiap hari ada di depan laptop tapi sama sekali gada peluang untuk bikin FF, jangankan FF ngetik tugas aja waktu berasa gak cukup! Huweee

Semoga aja setelah uts ini tugas berkurang #amin.

gimana? di part kali ini udah kejawab kan siapa saudar tirinya hongki and siapa cowo yang bikin hyunjae kelabakan?? kkk

So.. untuk itu sangat dimohon apresiasi kalian terhadap postingan ini. Karena saya bertahan bikin ff juga selain karena hobi juga karena senang melihat ada orang yang mau baca karya saya apalagi kalau ngoment. So dimohon komentarnya

😀

Ah ya buat sekedar info aja, user name twitter aq ud berubah dari @yoendaELF jadi @yoen_da, tapi uname yang lama itu udah aku amanin jadi gada yang bisa make lagi haha #plakk

Iklan

18 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 3

  1. yaa!!!
    kebangetan lu, nunggu lama cerita lu bgni doang?
    ckck, kebanyakan ini mah.
    itu sp ya yg kurang ajar ma ahra, wah kudu di santet kyanya. sekate”,

    1. haha maap maap.. bikinnya jg ngebut semaleman takut ga keburu wkwk, ni ja ud nunggu satu makalah lagi minta di telen -__-
      .__.V
      santettt sono santet.. ntar kalo tau siapa yg disantet jgn nyesel haha

  2. g’ tau knapa rsanya ko critanya agak sdikit aneh gtu, g’ tau yg bca nya lg pusing, ff in di postingnya brapa minggu skali cih???????

  3. chingu, lama amat ngepostny???
    Iya kok pendek sih? tpi Q tau kok emang banyak tugas ank kul semester 4 # plak curcol
    itu cap yg nabrak ahra?
    capa cow yg nolong hyejin ya??

  4. Demo??? Mauuu bgt>.< senasib sih suka dksih tgas semena2 ma dosen hahahaha
    Jtuh cinta nih ma storyline kmu sjak baca super duper diva… Jadiin novel skaliaaannnn….

  5. lanjut chinguuu, ffny jangan lama2 hehehehe
    Q tau kok sabar ya chingu, kta senasib sma2 sester 4 N tugas numpuk hehehe
    # plak curcol fighting chingu!!! 😀

  6. knp hyunjae harus sembunyi dr siwon eh malah ktemu jonghun..jd penasaran kira2 apalagi yg bakal terjadi pas hyunjae lg d romeo school,.

  7. maaf baru komen sekarang..abis aku masing bingung sama jalan ceritanya maklum agak lemot tpi sekarang dah ga kok…yg nabrak ahra itu kk tirinya hyejin ya? apa siwon masih suka sama hyunjae? trus yg nolong hyejin dri preman2 itu siapa lagi? penuh teka teki..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s