HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 6

*Previously..

“Lalu bagaimana? Jika mau mencari tahu, kita mesti mendekati orang dalam,” usul Ahra. Ketiganya saat ini tengah berada disalah satu meja kosong di dalam restaurant ayam goreng tempat Ahra bekerja part time.

“Aku angkat tangan. Aku sedang tak mau berurusan dengan orang Romeo,” Hyunjae melayangkan bendera putihnya ketika kedua sahabatnya itu menatapnya dengan tatapan memohon. Diantara keduanya, yang dikenal memiliki koneksi dengan murid Romeo hanya dirinya. Yaitu siapa lagi kalau bukan dengan Donghae? Apalagi belakangan diketahui bahwa Siwon juga merupakan kenalannya. Atau mungkin Eunhyuk juga bisa membantu? Bukankan pria berambut kuning yang juga sahabat Donghae itu juga kenal dengannya?

Namun, akhirnya keduanya lebih memilih untuk tidak memaksa meminta bantuan gadis itu jika menyangkut hal ini, karena mereka tahu dengan pasti Hyunjae masih gamang dan kesal pada hatinya sendiri maupun kedua orang yang sebelumnya disebut diatas.

“Lalu siapa lagi?” gumam Ahra. Tapi belum sempat ia berfikir lebih lanjut, tuan Kang, si pemilik restaurant keburu memanggilnya untuk segera kembali ke meja kasir lantaran sore itu restaurant sudah kembali ramai.

“Sebaiknya aku membeli beberapa makanan untuk kita, sebelum kita didepak keluar oleh pria gemuk itu,” Hyejin bangkit dari duduknya, membawa serta dompet tebal yang Hyunjae yakini penuh dengan lembaran won dan kartu kredit itu kedalam barisan antrean.

Hyunjae hanya diam ditempatnya, memperhatikan kedua temannya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Diliriknya ponsel silver keluaran Jepang milik Hyejin yang tergeletak manis di atas meja. Iseng, dimainkannya ponsel itu dan dibukanya bagian galeri foto. Kedua mata Hyunjae lantas langsung berbinar-binar ketika melihat sesosok yang ia kenal yang ikut terbawa dalam galeri ponsel tersebut.

Hyejin dan Ahra yang telah kembali ke meja mereka dengan dua buah nampan berisikan ayam goreng serta beberapa gelas minuman hanya bisa mengerutkan kening dan melayangkan tatapan aneh pada temannya yang kini sibuk senyum-senyum sendiri seperti orang gila itu.

“Ya! Ya! Kau kenapa? Tak kesambet setan ayam goreng kan?” celetuk Ahra asal, namun tak digubris olehnya. Gadis itu malah langsung menarik kedua sahabatnya itu untuk segera duduk mendekat kearahnya.

“Tahu siapa orang yang kira-kira bisa membantu kita!”

“Mwo?? Nugu? Nugu??” tanya keduanya antusias. Hyunjae tersenyum sumringah.

“HONGKI OPPA!”

“MWORAGO!!???”

HIGH SCHOOL PARADISE –Part 6

*Author POV*

“Aishh!!” Hyunjae mengerang kesal. Rambut bob sebahunya yang biasa terlihat rapih sudah tak berbentuk lagi akibat terus-terusan diacaknya asal. Ia sebal. Ia menyesal! Sungguh ia BENAR-BENAR MENYESAL! Bagaimana tidak? Akibat ide yang semula ia anggap cemerlang yang ia utarakan kepada kedua temannya yang lain tadi sore di restaurant ayam goreng tempat dimana Ahra bekerja, ia malah jadi ketiban musibah!

Musibah? Ya benar, MUSIBAH! Bagaimana tidak, gara-gara ide-nya untuk meminta bantuan Hongki dalam mencari tahu si pemilik sapu tangan, Ahra dengan senang hati langsung mundur diri begitu nama Hongki  disebut, sementara Hyejin yang notabene adalah adik dari Hongki sendiri malah langsung menyodorkan ponselnya yang sudah terhubung sambungannya dengan nomor orang yang dimaksud. Ia terlalu takut jika Hongki tahu bahwa adiknya itu menghubunginya untuk sekedar mencari tahu identitas seorang namja. Baginya akan lebih baik jika Oppanya itu mengira bahwa Hyunjae yang meminta bantuannya, bukan dirinya.

Jelas saja ini MUSIBAH bagi Hyunjae. Niatnya untuk tidak berurusan sementara waktu dengan murid Romeo jelas tak bisa terlaksana kalau begini caranya. Dan sialnya lagi.. Hongki meminta Hyunjae sendiri yang menemuinya malam itu juga di Ro-Liet Park. Dan jelas saja permintaan itu langsung ditolak  oleh Hyunjae dengan senang hati, membuat Hyejin memelototinya tajam. Mau bagaimana lagi? Mana mungkin seorang Kim Hyunjae yang terkenal penakut itu mau ke taman malam-malam sendirian? Dia lebih memilih untuk disuruh berlari 4kali putaran track lari di stadium dengan konsekuensi pingsan ditengah jalan akibat kelelahan daripada harus mengambil resiko bertemu hantu kepala buntung atau gadis cantik berwajah pucat yang mungkin saja akan mengajaknya bicara –meski pada faktanya itu semua hanya pikirannya saja.

Tak mau ambil resiko kalau-kalau Hyejin mendiaminya, ia langsung mengusulkan pada Hongki agar waktu pertemuan mereka ditunda besok sore sepulang sekolah di tempat yang sama dimana ketiga gadis itu berada saat itu. Namun kali ini Hongki yang menolak, dan meminta Hyunjae untuk datang ke asramanya jam 8 malam ini dan langsung mematikan hubungan mereka sepihak sebelum gadis itu berkata lagi.

“Ayolah.. Kau hanya tinggal ke asrama seberang dan menemui Hongki Oppa saja sebentar,” ucap Hyejin dengan nada penuh permohonan dari seberang telepon. Hyunjae memijat keningnya yang mendadak terasa pusing dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya sibuk memegangi ponsel slide hitam miliknya yang ia tempelnya di telinga kanannya.

“Kau tahu kan.. jika aku kesana sama saja dengan aku masuk ke kandang singa!”

“Minta temani saja pada Chaeyeong atau Victoria eonni. Dia ada di kamar kan?” Hyunjae mendesah hebat. Diliriknya kearah tempat tidur. Victoria, teman sekamarnya sedang sibuk membersihkan wajahnya sambil sesekali memperhatikannya dari balik cermin kecil miliknya yang biasanya selalu ia letakkan diatas nakas kecil samping tempat tidurnya.

“Kau gila? Bisa-bisa nanti aku benar-benar menjadi tersangka utama yang dicurigai sedang mencari seseorang pria. Bisa-bisa mereka mengira aku yang menyukainya!” desisnya dengan volume suara mengecil. Ia tak mau jika Victoria tahu kalau namanya baru saja disebut dalam percakapan ini.

“Ah.. aku bingung. Bukankah yang memiliki kepentingan dalam hal ini adalah dirimu? Dan bukankah kau adalah adiknya, tapi kenapa aku yang punya ide malah aku yang jadi tumbal, hemmm? Lagi pula mana barang buktinya? Aku sama sekali tak memegangnya,” lanjutnya saat teringat bahwa sapu tangan yang tadi sore ditunjukkan Hyejin tak ada di dalam ransel coklat miliknya.

MWO!!?????? pekik Hyejin dari seberang telepon. Membuat gadis itu segera menjauhakn ponsel miliknya dari telinga.

“YA! CEPAT CARI! ANNI… COBA HUBUNGI AHRA! MUNGKIN TERTINGGAL DISANA!!”

“Aishhh.. Kau saja yang menghubunginya. Kau kan pemilik sapu tangannya, nanti jika ada suruh dia kemari untuk memberikannya padaku, tapi jangan katakan padanya kalau aku juga ingin agar ia menemaniku ke asrama depan. Dengan begitu, kau juga diuntungkan bukan? Karena aku tak mau jika kesana sendirian. Aku takut bertemu dengannya.

Hyejin berdecak. “Arra.. Arra.. aku yakin pasti sekarang ia masih di restaurant, dan aku yakin pasti benda itu tertinggal disana karena seingatku aku sama sekali tak memasukkannya lagi kedalam tas setelah mendengarkan idemu. Baiklah. Aku hubungi dia dulu, ya, nanti aku akan menghubungimu lagi. Tutt.. Tut.. Tutt..

~mrs.ChoiLee~

“Hoshh.. Hoshh.. Hoshh..” Ahra menghentikan langkahnya dan memilih untuk duduk di atas undakan anak tangga yang nada di depan pintu masuk asrama Julliet, diselonjorkannya kaki panjangnya yang beralaskan sepatu kanvas merah andalannya, mencoba merilekskan kakinya dan mengatur napasnya yang tersengal akibat menggoes sepeda keranjang miliknya dari rumah menuju asrama Julliet.

Tangannya merogoh kedalam saku celana pendek yang dikenakannya, mengeluarkan ponsel lipat miliknya kemudian mengirimi pesan pada seseorang, dan kembali mengatur napasnya lagi sampai akhirnya seseorang menghampirinya.

“Hey, bukannya masuk saja malah menunggu disini,” Hyunjae, orang yang baru saja dikirimi pesan olehnya itu akhirnya keluar dengan mengenakan hoodie dan celana training, kemudian duduk disebelahnya.

Ahra hanya meliriknya sekilas, lalu kembali merogoh saku celananya yang lain, mengeluarkan sebuah benda berlipat bercorak garis-garis kemudian menyerahkannya pada gadis yang duduk disampingnya itu.

“Aku haus.” Hanya itu yang diucapkannya.

Hyunjae terkekeh. Tapi bukannya kembali masuk kedalam asrama untuk mengambilkannya minuman, ia malah berjalan mendekati tempat dimana sepeda Ahra terparkir, kemudian melepaskan standar yang menyokongnya dengan sekali hentakan kaki kanannya setelah kedua tangannya memegangi kedua stangnya.

“Kajja, kubelikan kau jus mangga di kantin,” ucapnya seraya berjalan menjauh meninggalkan Ahra seraya menggiring sepeda degan kedua tangannya.

Ahra bersorak riang, lalu berlari kecil mengikuti langkah Hyunjae yang sudah berjalan mendahuluinya di depan.

Tanpa gadis itu ketahui, di depan sana diam-diam Hyunjae mengeluarkan ponsel miliknya dari balik saku hoodie, mengetikkan sesuatu kemudian tersenyum puas setelah sebuah pemberitahuan tertera pada layarnya. Sejauh ini rencananya berjalan lancar!

—-

“Kita duduk dulu ya, sambil menunggu minuman kita habis,” usul Hyunjae saat minuman yang mereka pesan sudah jadi. Ahra mengangguk, setuju. Hyunjae tersenyum.

Setelah membayar minuman mereka, kedua gadis itupun berbalik dari depan meja counter, menebarkan pandangan, mencoba mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk mereka tempati.

Pandangan Hyunjae terhenti disatu titik. Ia melirik Ahra yang masih celingukkan sekilas lalu tersenyum samar.

“Ayo, kesana,” Hyunjae berjalan duluan dengan kedua tangan yang sibuk memegangi gelas berisi jus pesanannya, diikuti Ahra yang juga memegangi gelas jus pesanannya.

Sebenarnya Ahra sedikit bingung saat temannya itu memesan 3 gelas jus, padahal mereka hanya berdua, tapi ia tak mau ambil pusing, selama bukan ia yang membayar, ia dia diam saja.

“Annyeonghassaeyo, maaf kami terlambat,” ucap Hyunjae sopan sambil menganggukkan kepalanya sekilas membuat dihadapannya menoleh, tidak, lebih tepatnya memperhatikannya sebentar kemudian mempersilakannya untuk duduk diatas bangku kosong yang ada dihadapannya. Hyunjae mengangguk, lalu duduk disisi paling ujung, membiarkan tempat disebelahnya kosong agar Ahra duduk disampingnya.

Ahra sendiri bingung saat melihat temannya itu bukannya duduk dimeja lain yang masih kosong, ia malah menghampiri meja yang jelas-jelas sudah ada penghuninya, namun biar begitu ia masih menurut saja dan duduk disamping Hyunjae.

“Maaf mengganggu waktumu Oppa, tapi sebelumnya perkenalkan, ia temanku, Kwon Ahra,” ujar Hyunjae sopan, mencoba memperkenalkan temannya itu pada pria dihadapannya. Mendengar namanya disebut, Ahra yang semula bermaksud hanya untuk menumpang duduk dan menghabiskan minumannya saja disana tanpa sekalipun berniat untuk berkenalan pada pria asing dihadapannya  itupun sontak saja menoleh.

“.. Dan Ahra-ya, kenalkan dia..”

Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang berada di hadapan mereka saat ini. Sosok namja dengan wajah sok cool yang tengah duduk menyandar pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

“.. dia Lee Hongki. Oppa-nya Hyejin.”

Kedua tangan Ahra terkepal kuat. Ia melirik Hongki yang tengah menatapnya dengan tatapan malas, lalu beralih menatap Hyunjae dan melayangkan tatapan tajam padanya.

“Maksudmu apa huh mengajakku kemari?” desisnya tertahan. Gadis itu hanya tersenyum dengan ekspresi polosnya.

“Jus alpukat? Untukku?” tanya Hongki saat melihat ada segelas jus alpukat terhidang diantara mereka. Hyunjae mengangguk, ia tersenyum kikuk. Sebenarnya ia bingung harus mulai bicara darimana.

Hongki, namja itu langsung saja menggeser letak gelas yang semula berada di tengah-tengah antara gelas milik Hyunjae dan Ahra menjadi berada di hadapannya dan langsung menyeruput isinya tanpa basa-basi. Ahra yang melihatnya, memandangnya sinis. Sejak pertemuan terakhir mereka beberapa minggu yang lalu di bawah tangga Romeo waktu itu, kesan seorang Lee Hongki  sudah jatuh  dimatanya. Baginya pria dihadapannya ini tak ada sisi baik-baiknya sama sekali. Dan ia pun ragu jika pria ini akan membantu mereka.

“Gundae..” Hyunjae menarik nafasnya pelan. Hongki menoleh, kali ini ia melepaskan mulutnya dari bibir sedotan yang sejak tadi membuatnya sibuk dan memilih untuk mendengarkan yeoja itu dengan ekspresi serius. Tapi lain halnya dengan Ahra. Gadis itu kembali mendesis melihat kelakuan Hongki yang menurutnya dibuat-buat seperti itu.

“Ini.. ” Hyunjae mengeluarkan sapu tangan yang tadi ia masukkan kesalah satu saku hoodie-nya, lalu menyodorkannya kehadapan Hongki yang menatapnya bingung, “seperti yang sebelumnya aku katakan di telepon. Apa sekiranya kau mungkin mengenal benda seperti ini?”

Lagi, Hongki menatapnya dan benda itu bergantian sebelum tangannya merain benda tersebut dan membuka lipatannya, memperhatikannya dengan hati-hati.

Ahra dan Hyunjae saling bertatapan sebentar. Harap-harap cemas.

“Ini..” belum sempat Hongki melanjutkan perkataannya, tahu-tahu ekor mata Hyunjae menangkap sesuatu dari sudut lain. Membuatnya sama sekali tak berkonsentrasi dengan apa yang dikatakan Hongki dihadapannya sampai akhirnya Ahra menyikut lengannya saat gadis itu menyadari arah perhatian sahabatnya itu sama sekali tak terfokus dengan apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka saat ini.

“Ah, ya?” malah kalimat itu yang terlontar dari bibirnya saat kesadarannya sudah kembali, membuat Hongki sedikit dongkol melihatnya. Namun hal ini sama sekali tak diperlihatkan pria berambut lumayan gondrong itu. Ia malah berdehem dan sedikit menarik bangkunya agar lebih mendekat kearah meja. Memperkecil jarak yang tercipta diantara dirinya dan gadis yang duduk dihadapannya itu, lalu menjelaskannya kembali dengan sesabar mungkin. Jujur, melihat tingkah Hongki yang seperti ini malah membuat Ahra serasa ingin muntah.

“Tebar pesona!” desisnya dengan suara sekecil mungkin. Hongki yang merasa diperhatikan dengan hunusan tatapan tajam kearahnya, hanya menoleh sebentar pada gadis berperawakan tomboy itu dengan tatapan yang tak kalah tajam dari yang dilayangkan kepadanya kemudian kembali memfokuskan dirinya pada lawan bicara yang duduk dihadapannya itu dengan ekspresi yang 180O sangat berbeda dengan apa yang baru saja ia tunjukkan pada Ahra. Membuat gadis itu semakin sinis saja terhadapnya.

~mrs.ChoiLee~

“Sumpah aku sangat muak dengan kakakmu yang satu itu! Dasar pria menyebalkan! Tukang tebar pesona!” begitulah kira-kira makian yang terus-menerus dilemparkan seorang Kwon Ahra begitu bel pertanda istirahat siang berkumandang. Anni, sebenarnya makian ini sudah ia lontarkan sejak semalam begitu pertemuan mereka –ia dan Hyunjae- dengan Hongki berakhir, tapi kali ini ia lebih melampiaskan kekesalannya itu  begitu melihat sosok Hyejin tengah sibuk mengetikkan sesuatu pada laptop kesayangannya di ruang mading yang siang itu tampak lengang.

Hyunjae yang juga berada dirungan itu hanya geleng-geleng kepala, tak mau ikut campur. Baginya masalah dirinya dengan Siwon dan Donghae sudah cukup memusingkan, jadi ia tak mau tambah musuh lagi, apalagi dengan Hongki yang seingatnya termasuk murid bengal disekolahnya terlebih pria itu adalah kakak dari sahabatnya sendiri, jadi ia tak mau cari masalah selama Hongki tak merugikan apapun bagi dirinya.

Begitu juga dengan Hyejin, ia memang sudah mendengar semuanya dari Hyunjae semalam secara detail, mulai dari a sampai Z, bahkan nama siswa paruh waktu yang melayani pesanannya malam itu pun ia beritahukan saking detailnya, meski sebenarnya hal itu bahkan tak perlu diceritakan. Dan ia hanya bisa menyumpal kedua telinganya secara diam-diam dengan headset yang tersambung dengan laptopnya, dan menyalakan playlist lagu-lagu jepang kesayangannya dari pada mesti mendengarkan suara cempreng Ahra yang sudah seharian didengarnya.

“Kau lagi! Sudah tahu Lee Hongki itu terlihat jelas sekali sedang tebar pesona, tapi kenapa kau masih bersikap baik padanya, huh?” akhirnya Hyunjae yang sejak tadi mencoba tenang dan tak mau ikut campur itupun ikut kena damprat. Gadis itu mendengus kecil, sementara Hyejin yang entah sejak kapan sudah melepaskan headsetnya itu terkikik kecil.

“Sudahlah.. yang pentingkan kita sudah dapat info darinya. jadi kita sudah tak perlu lagi bertemu dengannya.”

Ahra meliriknya tajam lalu mendengus. Ditariknya bangku kosong yang terletak tak jauh darinya kemudian duduk diatasnya, menghadap lurus kearah temannya itu berada.

“Benar juga-“

“Tapi, ini semua gara-garamu juga yang membuatnya kesal dan kabur duluan sebelum kita mengetahui yang mana orangnya,” sinis Hyunjae, sedikit tak terima saat dirinya mengingat kejadian semalam.

Ahra menggembungkan kedua pipinya sebal. Disatu sisi ia sangat membenci Lee Hongki, namun disisi lain ia juga harus mengakui kesalahannya ini, yakni terus menerus mencibir apapun yang dilakukan Hongki sampai akhirnya pria itu tak tahan dan keduanya saling bersitegang sebentar sebelum akhirnya namja itu pergi meninggalkan mereka berdua disaat ia akan memberitahukan rupa si pemilik inisial “S-H” dari dalam galeri ponsel miliknya.

“Sudahlah..” lerai Hyejin pada akhirnya. Jelas-jelas ia merasa tak enak jika pada akhirnya atmosfir diantara mereka berubah tegang seperti ini padahal semua ini bermula atas permohonannya yang meminta bantuan keduanya. Ia tahu persis Ahra adalah orang yang blak-blakan dan sangat tak suka memendam sesuatu yang dirasa tak disukainya, sementara Hyunjae… memang dia itu bisa dibilang jarang sekali marah dan lebih sering mentolerir kesalahan orang lain yang dirasanya masih bisa dimaafkan, tapi jika emosinya sudah tersulut bisa bahaya! Dia sendiri pernah melihat langsung bagaimana mengerikannya sahabatnya itu disaat ia tengah mengamuk karena emosi. Sudah pasti perang mulut antara kedua orang itu tak akan berakhir damai jika hal itu terjadi dan mungkin akan terjadi perang fisik, jadi ia lebih memilih untuk segera menenangkan keadaan yang ada dari pada semuanya terlambat.

“..yang pentingkan kita sudah tahu setidaknya beberapa hal penting mengenainya, betul?” Hyejin memelipat kedua tangannya didepan dada. Saat ini ia berada ditengah-tengah keduanya, berdiri menyandar pada pinggiran meja rapat dengan tatapan yang ia layangkan bergantian pada kedua sahabatnya itu. Keduanya mengangguk mengiyakan. Hyejin tersenyum puas melihat keduanya sudah kembali tersenyum lagi.

~mrs.ChoiLee~

“Eonni, ayo pulang!” seru Hyejoon, murid kelas 1 SMA Julliet yang juga termasuk kedalam geng anak popular di kalangan murid Romeo, dari arah pintu keluar kelas Hyunjae. Hyunjae yang sore itu masih sibuk menyalin catatan yang dituliskan Park sonsaengnim, guru bahasa Inggris sekaligus kepala sekolahnya itu hanya bisa memicingkan matanya kearah pintu saat mendengar namanya dipanggil dengan nada ketus.

“Tumben sekali anak itu..” gumamnya saat melihat sosok adik pertamanya itu sudah menarik-narik tali tas punggung yang dikenakannya, tampak tak sabar.

“Pulang saja duluan, bukankah kau pulang kerumah ahjumma. Untuk apa menungguku?” jawabnya tak peduli dan terus saja melanjtkan kembali catatannya yang tingal satu paragraf lagi selesai ia catatat. Beberapa pasang mata, teman sekelas Hyunjae yang tak sengaja melihat tingkah keduanya itu hanya memperhatikan mereka dalam diam dan tak jarang ada juga yang saling berbisik dibelakang, mempertanyakan untuk apa seorang Kim Hyejoon si gadis popular berada di depan kelas mereka dan malah memanggil-manggil nama Hyunjae yang bahkan sama sekali tak popular di kelasnya sekalipun.

Hyejoon yang menyadari tatapan orang-orang disekelilingnya itu langsung memasang wajah jutek-nya. Jujur ia juga tak suka berada disana, apalagi memang tak banyak orang tahu bahwa keduanya kakak-beradik tapi mau bagaimana lagi? Dengan langkah mantap Hyejoon memberanikan dirinya memasuki ruang kelas kakaknya itu dan langsung menarik tas ransel kakaknya yang tersampir dibelakang bangkunya lalu memasukkan barang-barang yang sekiranya ia kenal sebagai milik kakaknya itu kedalam tas, membuat Hyunjae berdecak sebal.

“Aishh. Ya! Tak bisa kah kau lebih sabar sedikit saja?”

Tidak, jawabnya lantang membuat Hyunjae seolah tak berdaya dan pasrah saja saat adiknya yang dikenal egois itu menarik dirinya dan tas berisikan barang bawaannya keluar dan turun menuju pintu keluar gedung. Tak menghiraukan tatapan aneh beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka, bahkan panggilan dari  Chaeyoung yang baru saja akan mengajaknya pulang bersamapun sama sekali tak sempat Hyunjae gubris.

“Bukankah itu Hyejoon? Tumben sekali mereka..” gumamnya Chaeyoung heran ketika matanya menangkap pemandangan langka tersebut, sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya dan berbalik menyusuri anak tangga.

—–

@Romeo

“Hey, bukankah itu Hyejoon?” seru Minhwan dengan nada kegirangan saat melihat sosok Kim Hyejoon salah satu murid cerdas nan popular dari SMA Julliet itu baru saja terlihat keluar dari dalam gedung SMA menuju salah satu mobil yang terparkir tak jauh dihadapannya saat ini, membuat Hongki serta Jaejin dan Jonghun yang juga berjalan beriringan dengannya ikut menoleh kearahnya.

“Loh? Itu siapa yang ditarik bersamanya? Bukankah itu Hyunjae noona, anak mading SMA Julliet? Kenapa dia seperti ditarik paksa begitu?? Apa dia akan di bully?” kedua mata sipit namja imut itu melebar memikirkan kemungkinan-kemungkinan aneh yang bersarang dikepalanya saat ini terlebih ketika ia menangkap bahwa ekspresi Hyunjae seolah seperti orang yang sangat terpaksa ketika masuk kedalam mobil.

“Tenanglah.. tak terjadi apa-apa padanya,” jawab Hongki santai, membuat mata Minhwan membulat.

“Apa maksudmu, hyung? Memang kau tau darimana jika semuanya baik-baik saja?” tanya Jaejin sangsi akan ucapan seniornya itu. Sementara Jonghoon cukup menyimak saja perbincangan yang terjadi diantara ketiganya.

Hongki tersenyum samar.

“Tenanglah. Hyejoon itu adik Hyunjae,dan Hyunjae itu kakaknya Hyejoon.” Jawabnya santai kemudian berjalan meninggalkan ketiganya.

“Ehh??? Hyung!! Apa maksudnya itu??”

“Tunggu!!” seru Jaejin dan Minhwan bersamaan kemudian berlari mengejar Hyungnya itu untuk meminta penjelasan.

Jonghoon terdiam. “Apa ini alasannya mengapa Hongki belakangan bersikap ramah pada gadis itu?” gumamnya.

~mrs.ChoiLee~

“Kenapa cemberut begitu?” tanya seorang pria dari balik kemudi sambil sesekali melirik kearah lawan bicaranya yang saat ini tengah memasang wajah ketusnya sambil memandang keluar jendela, dari balik kaca spion tengah lexus rx 450h biru miliknya.

Seorang gadis lainnya yang juga duduk disamping gadis berwajah masam itu tertawa kikuk. Ia sendiri bingung mesti berbuat apa agar gadis disebelahnya itu berhenti merajuk, dan menaggapi lawan bicaranya. Jujur saja ia sebenarnya merasa sedikit tak enak hati melakukan hal ini –membawa paksa seseorang- terlebih pada eonninya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, pria di hadapan kemudi itu setiap hari terus menerus menerornya untuk mendekatkannya pada Hyunjae, bahkan pria itu jauh-jauh dari Incheon dan menghampiri tempat ia tinggal selama di Seoul, yakni dirumah ahjummanya yang selama ini telah ia anggap sebagai eomma kandungnya sendiri, dan terus mendesaknya agar dipertemukan dengan Hyunjae. Karena tak mau terus-menerus diteror  iapun lebih memilih menggunakan cara ini agar pria itu bisa bertemu dengan kakaknya, meski dalam lubuk hatinya yang terdalam ia juga tak rela. Dan setelah ini ia yakin bahwa eonninya itu akan sangat-sangat marah padanya!

“Apa kau membenciku?” tanya pria itu lagi.

“…”

Hening. Tak ada satupun yang berbicara apalagi menjawabnya. Hyunjae terlalu kesal untuk sekedar menjawabnya. Sejak tadi ia hanya bisa diam. Diam menahan emosinya yang mungkin sebentar lagi akan meledak bak gunung merapi yang akan memuntahkan lahar panasnya. Sementara Hyejoon? Gadis manja itu lebih memilih untuk melem bibirnya rapat-rapat dari pada terkena damprat.

“Aku tahu kau sangat membenciku. Tapi kenapa kau membenciku?” tanya pria itu sarkatis. Hyunjae mendesis sinis. Matanya berkilat, marah. Ya, dia marah. Sangat marah!

“Kau sendiri tahu apa alasan aku membencimu Lee Taeseong!” teriak. Kali ini gadis itu bahkan bukan hanya sekedar membuka mulutnya untuk berbicara, tapi berteriak. Sesungguhnya dari pada berteriak gadis itu lebih senang untuk memaki pria di depan bangku kemudi itu.

Taeseong, pria dibalik kemudi itu berdecak kecil lalu menginjakkan kakinya pada pedal gas dalam-dalam, membuat laju kendaraan yang kendalikannya berlari di atas aspal dengan kecepatan gila hingga membuat kedua gadis dibangku penumpang itu meringis dibuatnya.

“Ya! Oppa! Jika kau mau mati jangan bawa-bawa aku!” sungut Hyejoon kesal karena kepalanya tak sengaja terantuk jendela mobil saat Taeseong menambah kecepatannya, membuat Hyunjae melayangkan tatapan bengis padanya.

“Tutup mulutmu Kim Hyejoon. Jika bukan karena ulahmu, aku sudah berada di kamar saat ini!” bentak Hyunjae, membuat Hyejoon tersentak. Taeseong tersenyum sumbing. “Bukannya berada dalam satu mobil dengan seorang psikopat seperti dirinya!” sambungnya lagi membuat Taeseong menggertakkan giginya keras.

Ia marah. Bukan Hyunjae, tapi pria itu. Lee Taeseong marah. Dijuluki sebagai psikopat siapa yang tak marah?? Apalagi yang menjulukinya adalah gadis yang selama ini membuatnya memohon seperti seorang pengemis demi dipertemukan dengannya?

Kedua tangan pria itu mencengkram erat stir Lexus miliknya. Pandangannya lurus kedepan, menatap jauh jalanan tol dalam kota yang sore itu tak terlalu padat dan tak juga bisa dikatakan lengang. Seketika ide gilanya menjalar kedalam otak dan memerintahkan dirinya untuk kembali menambah kecepatan.

Namun, kali ini ia tak sekedar menambah kecepatan laju kemudinya melainkan..

“GYAAA!! LEE TAESEONG HENTIKAN!!! CEPAT HENTIKAN MOBILNYA! APA KAU GILA!!?” pekik Hyejoon histeris saat pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum seraya menyalip beberapa kendaraan yang ada dihadapannya , membuat mobilnya beberapa kali menikung tajam dan nyaris menabrak pembatas jalan.

Taeseong tak peduli. Ia terus saja mengemudikan mobil kesayangannya itu dengan cara yang sama.

“EONNI!!” kali ini Hyejoon melayangkan tatapan memohonnya pada kakaknya itu.

Hyunjae bergeming. Ia masih tetap pada sikapnya. Ia sama sekali tak sudi jika harus memohon pada namja gila itu. Jika harus mati, mati saja toh bukan dirinya yang berdosa jika memang harus demikian.

Melihat tak ada reaksi yang ditunjukkan Hyunjae, pria itu semakin menggila dibalik kemudinya. Begitu melihat ada tikungan tajam di depannya, ia justru semakin mendekatkan mobilnya kebahu jalan tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali. Namun ia mendadak tersadar ketika dilihatnya tak jauh di depan sana ada kendaraan lain yang sedang berhenti.

Di dinjaknya pedal rem dalam-dalam. Tapi itu semua sepertinya sudah terlambat.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” teriak kedua gadis itu berbarengan. Kali ini Hyunjae bahkan memeluk tubuh adiknya itu erat seraya memejamkan kedua matanya. Pertahanannya roboh. Jujur saja ia takut. Sangat takut. Dan ia tak siap untuk mati!

~mrs.ChoiLee~

Tukk.. Tukk..

Suara dentingan sendok dan gelas beradu memecahkan keheningan disebuah apartment mewah siang itu.

Eunhyuk, si pemilik apartment hanya bisa mengangkat bahunya ketika Lee Donghae, sahabatnya, menyikut sebelah lengannya untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya yang lain, yang saat ini tengah duduk termenung diatas kursi malas di beranda sambil memain-mainkan sendok yang berada didalam genggamannya dengan gelas kaca yang ada di atas meja kecil yang berada tepat disamping tempat namja itu berada, sementara tatapannya kosong.

Donghae menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, bingung harus berbuat apa. Tapi sepertinya tingkah sahabatnya ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap temannya yang lainnya yang sejak beberapa waktu lalu seolah memusuhi keduanya.

“Ehm..” Donghae berdehem lumayan keras, membuat Siwon, si pria pujaan seantero SMA Romeo-Julliet itu tersentak dari lamunannya.

“Hey, hari bahkan masih siang untuk sekedar melamun disini. Bagaimana kalau kita ke lounge? Sepertinya sore ini akan ada guest star yang lumayan bagus, kajja! Sebelum ramai dan kita tak diperbolehkan masuk,” tawar Eunhyuk yang langsung mendapat respon positif dari kedua sahabatnya yang memang hobi sekali menghabiskan waktu dan uang untuk sekedar menikmati alunan musik di lounge mahal langganan mereka itu.

Setelah mengganti seragam mereka dengan pakaian yang lebih santai namun rapih dan berkelas merekapun turun menuju basement tempat dimana mobil mereka terparkir. Cooper Hijau milik Eunhyuk terparkir tepat terapit diantara Ferari merah milik Siwon dan Hyundai Santa silver milik Donghae. Berhubung dua mobil lainnya dirasa menyesakkan jika dihuni oleh tiga orang maka merekapun memutuskan memakai mobil Donghae yang selama ini memang selalu terparkir di bawah apartment Eunhyuk itu karena sang pemilik malas membawanya ke sekolah dan terlalu cemas bahwa kendaraannya itu akan kotor jika di parkir di halaman sekolah yang terbuka.

Eunhyuk duduk di bangku tengah, sementara Donghae mengambil alih kemudi dan Siwon duduk disebelahnya.

 Atas saran Eunhyuk, mobil yang dikendarai ketiganyapun memilih untuk masuk kedalam tol dalam kota guna mempersingkat waktu tempuh karena menurut penuturan si pria playboy itu jalan menuju apgujeong-dong, tempat dimana lounge langganan mereka berada pada jam-jam seperti ini akan ramai jika melewati jalan biasa, maka dari itu Donghae yang tak terlalu mengusai jalanan menurut saja saat disarankan seperti itu.

“YA!! YA!! Seharusnya kau ambil jalur kanan lalu belok kanan! Kenapa malah ambil kiri?? Sekarang kita kearah Sinsadong LEE DONGHAE!!” Eunhyuk meremas rambutnya sendiri, frustasi. Baru saja pintu keluar tol dalam kota menuju Apgujeong-dong tempat yang menjadi tujuan mereka saat ini terlewat begitu saja dan seharusnya beberapa kilo meter lagi di depan masih ada jalur lain yang menjadi jalan keluar, tapi sialnya Donghae sejak awal mengambil lajur kiri dan malah masuk ke jalur lain yang membawa mereka menuju Sinsadong.

“Ahh! Kan sudah kubilang dari awal kau saja yang bawa mobil tapi kau tak mau!” sungutnya tak terima disalahkan. Eunhyuk mengerang geram, sedangkan Siwon cukup geleng-geleng kepala dibuatnya. Salah mereka memang mempercayakan Donghae begitu saja mengemudikan mobil. Seharusnya Eunhyuk atau dirinya saja yang membawanya, kalau begitu pasti saat ini mereka sudah duduk santai di dalam lounge sambil menikmati alunan musik jazz sambil menyesap segelas cocktail, bukannya dipusingkan mencari jalan keluar tol seperti ini.

Donghae frustasi. Begitu dilihatnya ada bahu jalan yang cukup luas di depan, ia memilih untuk menepikan mobilnya sebentar dan menyetel ulang GPS-nya yang tadi sempat ia matikan lantaran suara bising penunjuk arah yang ia rasa merusak konsentrasi mengemudinya.

“Makanya Lee Donghae kalau bawa mobil itu sambil lihat plang petunjuk jalan-”

DUGG!!

Sebuah hantaman keras tiba-tiba saja mereka rasakan begitu mobil yang mereka tumpangi saat ini tengah berhenti dibahu jalan. Hantaman itu keras. Amat sangat keras. Hingga mempu membuat kendaraan yang dihentikan dengan pengamanan rem tangan itu sempat terlempar maju beberapa meter dari tempat pemberhentiannya semula, dan membuat ketiga orang penghuninya mengerang kesakitan akibat hantaman yang terjadi secara tiba-tiba itu. Untung saja ketiganya memakai sabuk pengaman, jika tida pasti diantara mereka sudah ada yang terlempar dan menghantam sesuatu hingga terluka parah.

“Ya! Aishh!” Eunhyuk yang sedang kesal semakin kesal saja akan hal ini. Dengan mata elangnya dan emosi yang sudah sangat membara ia membalikkan kepalanya, menatap ke jendela belakang mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

“Supir gila!” pekiknya lalu segera membuka pintu penumpang dan keluar dari sana dengan kondisi punggung memar akibat hantaman. Begitu juga dengan Donghae dan Siwon yang langsung turun untuk mencari tahu.

Dilihatnya mobil yang menghantam mobil mereka itu ternyata sepertinya malah menabrak pagar pembatas terlebih dahulu sebelum bagian sampingnya menghantam bagian belakang mobil Donghae, karena mereka bisa melihat bahwa pagar pembatas itu penyok dan nyaris terlepas dari penyangganya.

Brakk..

Pintu penumpang bagian tengah mobil mewah itu terbuka pelan. Ketiganya menatapnya penasaran. Tak lama seorang gadis berseragam keluar dari dalam mobil dengan langkah sempoyongan dan sebelah tangan yang memegangi bagian dahinya yang terlihat merah akibat darah segar yang keluar dari sana, disusul gadis lainnya yang keadaannya jauh lebih baik dari gadis pertama.

“Eonni!” pekik gadis itu buru-buru saat dilihatnya darah segar terus mengalir mengotori wahaj gadis itu.

Ketiga pasang mata namja itu terbelalak saat dilihatnya sosok Hyunjae-lah yang kini berada di hadapan mereka. Dengan segera Donghae meraih tubuh gadis itu sebelum ia terkulai lemas tak berdaya akibat rasa pusing yang mungkin di deritanya karena hantaman yang membuat dahinya mengeluarkan darah seperti ini.

“Apa yang terjadi?!” pekik Eunhyuk masih tak percaya akan apa yang terjadi dihadapannya ini.

Hyejoon menggigirt bibir bawahnya keras. Tanganya gemetar, ia ketakutan.

Brakk..

Sekali lagi terdengar suara pintu terbuka. Keempat pasang mata itu kini beralih menatap kearah pintu kemudi.

Seorang pria berkaus hitam lengan panjang keluar dari dalam sana sambil memijit belakang tengkuknya yang mungkin kesakitan akibat merasakan hantaman keras yang dibuatnya.

“Itu semua karena dia Sunbae!” tunjuk Hyejoon dengan telunjuknya begitu sosok Taeseong keluar dari dalam mobilnya dalam keadaan yang baik-baik saja. “Ini semua karena pria itu! Dia yang memaksaku mempertemukan Hyunjae eonni dengannya dan barusan ia malah berniat untuk membunuh kami semua!” teriaknya lantang tanpa ada keraguan dan ketakutan sedikitpun.

“Pria itu.. Pria psikopat yang terobsesi dengan Hyunjae  eonni!”

Taeseong melotot, tak mengerti. Atau malah pura-pura tak mengerti, akan ucapan yang baru saja dilontarkan Hyejoon.

Kedua tangan Donghae terkepal kuat. Baru saja ia berniat akan menghajar pria itu, kini dilihatnya namja jangkung itu malah sudah babak belur dengan kondisi wajah yang sudah sulit dikenali karena penuh dengan lebam biru. Rupanya Siwon benar-benar murka mendengarnya. Pria itu memang pemegang sabuk hitam karate dan wajar saja jika lawannya babak belur seperti itu meski biasanya namja pujaan gadis-gadis itu paling tak suka menggunakan kekerasan dengan tangannya sendiri.

Kepalan tangan Donghae melemah. Dilihatnya gadis yang berada dalam dekapannya saat ini. Wajahnya begitu pucat di sertai dengan darah yang terus mengalir dari pelipisnya. Melihat ini membuatnya tersadar.

“Ya! Siwon-ah cepat selesaikan! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!!”

Siwon yang mendengarnya menarik kerah kaus yang dikenakan Taeseong dan mencengkramnya kuat. Tatapannya tajam menusuk kedalam mata pria psikopat itu.

“Ya! Jika sekali lagi kau mengganggunya kau tak akan pernah ku lepaskan!”

TBC

Oke, sebelumnya saya mau terima kasih untuk pembaca setia blog ini yang masih setia bertandang walau saya hiatus..

haha maaf loh bukan maksud mau hiatus lama, awalnya sih emang mau hiatus untuk sekedar persiapan dan waktu uas aja eh taunya menjelang uas malah ada masalah laptopnya rusak dan mesti diservis, setelah itu saya malah dipusingin jadi seksi repot acara liburan jadi aja ini blog terbengkalai dan niatnya setelah beres saya mau lanjut bikin tapi malah tersangkut masalah kesehatan dan bikin beberapa hari ini mata sebelah saya di perban. so? ga mungkin dong dalam keadaan kaya gitu saya bisa bikin FF? jalan aja sempoyongan udah kaya orang buta huhu T.T jadi bersyukurlah kalian yang masih bisa melihat dengan jelas *ustadz mode.ON*

oke, kali ini saya mau jelasin. kenapa part kali ini di protect?

Jujur aja saya lagi KESEL  sumpah kesel banget liat stats yang tinggi tapi yang komen cuma 1-2 dan itu pun yang udah saya kenal jelas namanya sering muncul dan rajin comment

buktinya? ada beberapa part ff lain yang saya protect dan secara bergantian mention pun membeludak waww ada apa ini??? haha tapi berhubung saya ini baik hati dan tak sombong jadi saya kasih aja karena seengganya mereka ada usaha lah.. tapi kalo nyatanya masih begitu juga ya part depan akan  saya protect dengan password yang berbeda.

tapi kalo ternyata responnya sepadan dan mood saya kembali baik seperti sebelumnya bisa jadi malah ga akan saya protect

jadi.. tolong ya meski saya tau kok karya saya ini gak ada apa-apanya.. gak ada bagus-bagusnya..

tapi biar bagaimanapun seseorang itu maunya dihargai, kalian juga coba deh kalo misalnya punya apa kek 1 saja yang kalian bikin susah payah tapi ga merasa dihargai oleh orang lain.. pasti nyesek kan?? nah begitu juga saya..

so.. be good reader oke? Thankiezz~ uri lovely reader~

-yoenda-

Iklan

11 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 6

  1. hohhoho bagus seru konflik udh mulai ….
    kya ahra klo marah sm hongki semua jdi kena “ceramahny” kekekek
    terlints diotak apa hongki ska ma hyunjae??
    chingu taeseong cpa? paah banget ampe sgtunya, aish untung nabrakny gag ampe guling2.
    sbnarnya hyejoon syang ga ma eonninya kok mlh bntu taeseng buat ktmu ma hyunjae??
    lnjut ditunggu

    1. kekeke gomawo loh udah comment..
      entah semua jwbn ada d part” slnjtnya ya haha..
      lee taeseong itu yg main d rooftop prince yg jd yong taemu, main d playfull kiss juga yg ngejar” oh hani hha.. nama dy dpake abis dpt bgt sih tampang senga’nya *ups ahaha

  2. i’m comming.
    Di part 6 ini ada beberapa point yg membuat aku bertanya – tanya *ceilah bahasanya.
    Itu taesong siapanya hyunjae ? Trus knp hyunjae bisa benci sma taesong ? Trus hubungan siwon sma hyunjae itu bgaimana ? Sebenarnya donghae suka gak sih sma hyunjae ? Dan hyunjae sukanya sma siapa ?. Pertanyaan aku banyak bener ya.
    Itu siwon sangar amat.
    Next part di tunggu 🙂

  3. wuhu… I’m coming
    Baca cerita ini sampai ketiduran
    Bingung soal taesong..
    Next nya jangan lama lama yah !!
    Bikin lebih banyak ff lagi yah

  4. aduuuhh… lee taesong oppa dimana2 dijadiin psikopat ya.. pdhal aq suka banget ma tu oppa. hahahaha..
    siwon suka ma hyunjae kah??? trus donghae???? *garuk2 kepala*

  5. wah.. seru sebenernya lee taesong itu siapa? apa dia orang yg suka sama hyunjae ya? trus majsud dariblee hongki baik sama hyunjae knpa? banyak teka teki nya nih…. seru!! mau lanjtin lagi mudah2n ga di proteksi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s