HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 7

*backsound: Urban Zakapa – My Love*

~HIGH SCHOOL PARADISE~

 “Mwoya!? Sejak kapan Hyunjae dan Siwon jadi sedekat itu?” ujar Ahra lebih kepada dirinya sendiri saat kedua mata besarnya tanpa sengaja mendapati pemandangan yang tak biasa ditangkapnya saat ia tengah membersihkan kaca jendela ruang kelasnya.

Hyunjae baru saja keluar dari dalam sebuah sedan mewah berwarna merah dengan dibantu seorang pria tampan yang ia jelas dapat kenali sebagai Choi Siwon, si pangeran Romeo yang sekaligus juga pria paling Hyunjae hindari. Tapi kenapa sekarang..?

“Kenapa? Kenapa??” Uee, teman sebangku Ahra yang terkenal bawel itu langsung saja menghambur dan melebarkan matanya seketika begitu dilihatnya seorang gadis yang tak asing dimatanya kini tengah berjalan masuk kedalam gedung sekolah mereka dengan dibantu seorang.. Choi Siwon?

“MWOYA!!!?? Kenapa pangeran malah bersama dengan si itik buruk rupa?” dengusnya kesal. Ahra meliriknya tajam lalu menginjak sebelah kaki gadis yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu sambil menggurutu kesal. Tak menghiraukan Uee yang meringis kesakitan disampingnya.

“Ya! Ingat! Yang kau panggil ‘itik buruk rupa’ itu juga temanmu, dan dia sahabatku!

Ahra berlalu. Meninggalkan teman sebangkunya itu dengan perasaan kesal. Dibantingnya botol berisi cairan pembersih kaca serta whipernya asal keatas meja –yang entah milik siapa- yang kebetulan berada paling dekat dengan dirinya saat itu, sambil memasang raut sebalnya.

Uee, teman sebangkunya itu memang begitu. Senang sekali membicarakan orang lain dibelakang dan menjelek-jelekkannya. Tak peduli siapapun bisa menjadi obyek sasaran pembicaraannya. Ahra memang sudah biasa dan kebal dengan sifat buruk temannya yang satu itu, tapi ia paling tak suka jika sahabatnya terang-terangan dikatai seperti itu di depannya.

~mrs.ChoiLee~

“Selamat pagi,” ucap seseorang di telepon begitu seorang gadis berambut pendek yang pagi itu sudah siap dengan seragam sekolahnya menekan tombol answer pada ponsel slide miliknya. Gadis itu tersenyum.

“Pagi,” jawabnya, masih dengan senyuman yang terhias di wajahnya yang polos tanpa make up itu. Namun tentu saja pria diseberang sana pasti tak dapat melihat senyumannya itu.

“Coba buka jendela kamarmu dan lihat kebawah.”

Dahi gadis itu berkerut, namun ia menurut, tanpa banyak bertanya di dekatinya sebuah jendela kecil yang berada tepat di depan meja belajarnya. Disibaknya tirai yang menutupi jendela berbingkai kayu berwarna putih itu, lalu dibukanya kedua sisi jendela yang memang belum sempat ia buka itu.

Sebuah senyuman manis langsung terkembang begitu saja ketika dilihatnya kearah bawah, tepat di seberang jalan depan gedung asramanya seorang pria tinggi dengan senyuman manisnya tengah melambai kearahnya.

“Cepat turun, biar kuantar.”

Hyunjae, gadis itu mengangguk tanda setuju. Tak perlu menunggu lama, setelah mengambil seluruh peralatan sekolahnya gadis itu pun kini sudah berdiri dihadapan pria tampan yang tak lain adalah Choi Siwon itu. Sang pangeran Romeo.

“Hey, jarak asrama-sekolah bahkan tak sampai 100 meter, lalu untuk apa kau menjemputku dengan mobil mewahmu ini, tuan Choi? Apa kau tak kuat berjalan kaki?” Hyunjae melirik pria tampan yang kini duduk di belakang kemudi itu dengan senyum mengejek. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil Siwon yang melaju menuju sekolah mereka.

Siwon tersenyum sungging. “Hey, sembarangan saja,” jawabnya tak terima. “Kau kan masih sakit, itu dahimu saja masih diperban begitu, mana mungkin aku membiarkanmu  berjalan kaki sampai sekolah? Lagi pula kenapa sih kau malah memaksa pulang dari rumah sakit dan menolak untuk tinggal di apartment Eunhyuk? Padahalkan apartmen Eunhyuk lebih aman dari pada asrama.”

Lagi-lagi namja disampingnya itu mengomel tak jelas karena kemarin ia memaksa pulang dari rumah sakit dan memilih untuk pulang, dan pria itu menjadi semakin lebih cerewet lagi saat ide –yang menurutnya- briliantnya yang mengusulkan agar sementara gadis itu tinggal di apartment Eunhyuk dengan dijaga Eunhyuk dan Donghae ditolak mentah-mentah. Jelas saja gadis itu menolak! Bagaimanapun juga ia itu gadis baik-baik dari keluarga baik-baik yang tahu dan sangat menjaga betul nama baik dirinya dan keluarganya di depan orang banyak. Mana mungkin ia sudi tinggal bersama kedua namja dalam satu atap sementara hanya ia sendiri yang berstatus yeoja –meskipun ia juga yakin kedua teman Siwon yang juga temannya itu tak akan berbuat macam-macam kepadanya.

Hyunjae mendesah.  Disentuhnya dahinya yang masih terbalut perban itu sambil menggigit bibir. Tiap kali diingatkan dengan luka di dahinya ia jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu, disaat ia mengalami kecelakaan di dalam mobil yang di kendarai namja psikopat bernama Lee Taeseong!

Lee Taeseong, pria berusia pria 25 tahun itu adalah pria yang sudah 5tahun belakangan ini terus menghantui  kehidupan Hyunjae selama ia tinggal di Incheon. Pria itu, lima tahun yang lalu pernah tak sengaja dikenalkan teman satu sekolahnya yang juga teman satu perumahannya, Soya, sebagai temannya. Soya memang seumuran dengannya, namun pergaulannya sangat luas sehingga jangan heran jika balita bahkan sampai kakek tua yang tinggal dilingkungan yang sama bahkan yang baru ditemuinya dijalanpun mengenalnya dengan baik karena sifat supel yang dimilikinya itu.

Sifat supel memang menguntungkan apalagi untuk mencari kenalan baru, tapi kelebihan Soya ini rupanya justru menjadi musibah bagi Hyunjae! Sejak perkenalan tak sengaja mereka di depan mini market dekat taman bermain tempat mereka itu, gadis itu malah seperti dikuntit oleh Taeseong secara sadar ataupun tidak. Karena bagaimana mungkin setiap kali gadis yang saat itu baru saja masuk ke jenjang sekolah menengah pertama itu melangkah kemanapun pasti ekor matanya menangkap sosok pria yang lebih tua 8 tahun darinya itu selalu berada di sekitarnya!? Terlebih saat matanya jelas menangkap sosok Taeseong, pria itu akan memandangnya dengan tatapan mesum! Bagaimana ia tak ketakutan setengah mati menghadapinya?!

Awalnya ia memang hanya mendiaminya saja, tapi setelah berselang setahun, pria itu tak bergeming, masih saja melakukan hal yang sama terhadapnya.

Ia yang merasa tak tahan lagi akhirnya menceritakan hal ini pada Soya yang malah hanya dibalas kekehan darinya, dan parahnya saat ia mengatakan hal ini pada ibunya, ibunya malah mengatakan bahwa Taeseong adalah anak yang baik dan dan sangat santun serta rajin beribadah karena ibunya sering kali melihat sosok Taeseong di acara ibadah mingguan di gereja dalam perumahan mereka, tak seperti dirinya yang sangat jarang beribadah disana.

Hal ini jelas saja membuat Hyunjae frustasi setengah mati, terlebih semakin didiamkan pria itu malah mulai berani mengetuk pintu rumahnya dengan berbagai alasan, membuat Hyunjae ketakutan setengah mati dan selalu memilih untuk mengunci pintu kamarnya rapat-rapat atau berpura-pura tidur agar dirinya tak diperintahkan untuk membuka pintu dan menghadapi pria itu secara langsung seorang diri.

Sempat setelah beberapa saat pria itu menghilang dan dikabarkan pindah dan menetap entah dimana, yang jelas Hyunjae dapat bernapas lega karenanya. Namun begitu dirinya baru saja lulus SMP pria itu kembali muncul dan mulai meresahkan hidupnya. Ia yang semula akan meneruskan sekolahnya di SMA favorit di kotanya itu pun jelas saja kalang-kabut dan menargetkan JULLIET Senior High School sebagai tujuannya melanjutkan SMA jika ia benar-benar berniat melarikan diri dari pria –yang menurutnya- psikopat itu. Maka jangan heran jika begitu ia dinobatkan diterima untuk bersekolah di Julliet dengan fasilitas asrama gratis itu, ia merasa bahwa ia mendapatkan suatu keberuntungan besar! Terlebih ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan perekonomian keluarganya juga dibilang biasa saja, dengan masuk kedalam sekolah elit yang sangat terkenal sudah tentu orang tuanya tak akan mencegah kepergiannya. Dan ini menjadikannya alasan untuk pergi menjauh dari kota itu. Menjauhi Lee Taeseong yang ia rasa semakin gencar menguntitnya, dan mengancam orang-orang rumahnya untuk memberitahu pada siapapun bahwa ia bersekolah di Julliet!

Tapi sialnya, sekitar sebulan yang lalu ketika ia tengah menemani adiknya itu pergi mencari perlengkapan untuk keperluan sekolah, mereka berdua tak sengaja bertemu dengan Lee Taeseong! Dan apa kejutan selanjutnya? Ternyata Taeseong dan Hyeejoon saling kenal! Sungguh malapetaka bagi Hyunjae, tapi merupakan berkah  bagi pria yang ternyata selama ini diam-diam terus mencarinya –setelah ia kembali ke Incheon dan tak menemukan keberadaannya.

Dan sejak itu Lee Taeseong terus menerus berusaha mendekatinya dan mendesak Hyejoon agar membantunya mendekati Hyunjae. Namun jelas saja Hyunjae sudah mengantisipasi hal ini dengan mengancam adiknya itu agar tak memberitahukan informasi apapun mengenai dirinya pada namja gila itu.

Malangnya, dua hari yang lalu pria gila itu malah berhasil membawanya masuk kedalam mobilnya dengan  bekerjasama dengan adiknya sendiri, Kim Hyejoon! Ia sungguh tak habis pikir apa yang ada di otak cerdas milik gadis bernama Kim Hyejoon itu sebenarnya!? Bukankah selama ini gadis itu sudah tau semua cerita buruk darinya mengenai Taeseong dari dirinya dan juga mengetahui kenyataan bahwa dirinya sangat takut bertemu dengan pria itu? Tapi kenapa gadis itu malah menjebaknya agar ikut kedalam mobil Taeseong yang bahkan membuat keduanya –ia dan Hyejoon- nyaris kehilangan nyawa?

Hyunjae memijat dahinya yang mendadak pusing itu, pelan. Siwon yang menyadarinya langsung menepikan Ferrari merahnya sebelum sampai di Julliet.

“Kenapa? Kepalamu masih pusing? Atau lebih baik kita kembali ke asrama saja dan kau tak usah bersekolah hari ini?” tanyanya bertubi-tubi dengan raut cemas yang kentara sekali di wajahnya.

Hyunjae tersenyum samar, lalu menggeleng. “Anni, nan gwenchana. Sudah ayo cepat, nanti kita terlambat.”

Siwon, namja itu masih menatapnya dengan tatapan cemas namun kemudian mengangguk paham dan kembali mengemudikan sedan kesayangannya itu.

Diam-diam Hyunjae meliriknya dan mengukir sebuah senyuman samar diwajahnya.

Ternyata kecelakaan yang menimpanya beberapa hari itu tak terlalu buruk, karena gara-gara itu hubungannya dan Siwon yang sempat buruk itu kini membaik dan bahkan terlalu baik karena Siwon tak henti-hentinya melayangkan perhatiannya pada dirinya. Terlebih ketika gadis itu tahu Siwonlah yang menolongnya dan memberikan pelajaran pada Lee Taeseong, ia jadi tersentuh dan bertekad untuk membuka hatinya kembali pada namja itu.

“Ayo turun tuan puteri,” ucap Siwon lagi-lagi dengan senyum manisnya ketika membukakan pintu samping tempat dimana Hyunjae duduk saat ini dari arah luar. Rupanya mereka sudah sampai di Julliet dan entah sejak kapan tahu-tahu Siwon sudah keluar dan berjalan memutari mobilnya hanya untuk membukakan pintu untuknya dan membantunya turun dari mobil.

“Biar kubawakan saja tas-nya,” direbutnya tas ransel milik gadis itu dari pangkuannya lalu dikenakanya di sebelah bahunya yang bidang sebelum akhirnya kembali memapah gadis itu.

“Hei, yang sakit itu kepalaku tuan Choi. Kenapa kau malah memapahku seperti orang pincang begini? Aku tidak apa-apa,” protesnya karena dirasa telah diperlakukan secara berlebihan. Namun sebenarnya gadis itu sedang menahan senyum agar tak mengembang dihadapannya.

“Tak apa, aku senang memperlakukanmu begini,” jawabnya singkat namun kontan membuat pertahanan Hyunjae untuk tidak tersenyum lebar roboh dalam seketika. Gadis itu tak kuasa menahan senyum. Yatuhan! Mimpi apa dia sebenarnya sampai bisa diperlakukan semanis ini oleh sang pangeran?

—————

“GYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!” teriak para gadis-gadis heboh begitu sosok Choi Siwon melintas dihadapan mereka. Mereka histeris bukan kepalang karena jarang-jarang mereka bisa melihat sang pangeran pujaan dalam jarak dekat seperti ini terlebih pria itu berada di dalam gedung Julliet yang notabene adalah sekolah perempuan. Membuat telinga Hyunjae penging seketika.

“Hey, cepat kembali ke sekolahmu sana, dengan keberadaanmu disini malah membuatku semakin pusing!” usirnya  itu pada pria yang masih sibuk memapah dirinya melewati koridor lantai 2 itu dengan tatapan risih karena merasa tak nyaman dengan tatapan tajam dari para gadis yang melihat keberadaannya disisi sang pangeran.

“Biar saja, yang penting aku memastikan dirimu sampai di kelas dengan selamat,” balasnya cuek.

Hyunjae mendengus pelan. “Iya, tahu. Tapi kan kau tahu ini sekolah perempuan dan murid pria sepertimu ini tak seharusnya ada disini –yah, well meskipun tadi kau sudah meminta ijin pada penjaga dibawah- tapi tetap saja aku jadi tak enak karena pastinya sebentar lagi aku jadi bulan-bulanan mereka semua karena dianggap merebut pangeran mereka. Dan lagi apa kau tak takut kehilangan fans-fansmu yang gila itu?” keluh gadis itu panjang lebar dengan nada meledek.

Siwon tersenyum. Langkahnya kemudian berhenti, membuat gadis itu juga sontak ikut menghentikan langkahnya dan memandangnya dengan tatapan heran. Ia berbalik, menghadap tepat kearah gadis itu dengan posisi tubuh yang sedikit ia tundukkan agar sejajar dengan gadis yang lebih pendek 30cm dari dirinya itu seraya memegangi kedua pundak gadis mungil tersebut.

“Dengar. Aku tak keberatan jika kau menjadi bulan-bulanan karena berada didekatku, aku tak keberatan jika mereka semua yang –katanya- mengagumiku menjadi berpaling dariku, dan aku juga tak keberatan untuk tetap menerobos masuk kedalam sini dan mendapat peringatan keras atau bahkan hukuman kalau misalnya tadi tak mendapat ijin untuk mengantarmu karena yang penting bagiku adalah terus menjagamu dan memastikanmu baik-baik saja. Dan kau jangan pernah takut akan semua itu karena aku yang akan menjadi penjagamu. Aku yang akan selalu melindungimu kapanpun kau butuhkan. Karena.. ” Siwon menatap lurus kedalam mata gadis dihadapannya yang tanpa ia ketahui tengah menahan napasnya setengah mati karena terlalu gugup untuk sekedar membalas tatapan matanya. “Aku mencintaimu.”

~mrs.ChoiLee~

“Hey, kenapa gadis itu?” bisik Hyerin pada Hyejin yang tengah memeriksa beberapa lembar kertas berisi print out artikel mading yang akan mereka terbitkan besok pagi, saat dilihatnya sosok Hyunjae yang biasanya sibuk menenggelamkan dirinya dengan laptop atau gadget lainnya kini malah hanya duduk berdiam diri menghadap jendela besar ruang mading yang menghadap langsung ke arah gedung sekolah Romeo sambil senyum-senyum tak jelas dengan wajah memerah.

Hyejin mendelik sekilas. Ia tersenyum simpul melihat sikap temannya itu, lalu kembali memerikasa artikel yang ada di dalam genggamannya.

“Kau tak tahu sunbae?”

“Tahu apa?” Hyerin menoleh, menghadap Ahra yang lagi-lagi ikut nimbrung di dalam kegiatan mading itu.

“Choi Siwon si pangeran romeo dan Kim Hyunjae kita ini kan tadi pagi baru jadian di koridor depan kelasnya,” jawabnya santai.

“MWOOOO!???” pekik Hyerin dengan kedua mata membesar yang nyaris saja keluar jika saja kelopak matanya tidak kuat menahannya. Terkejut. Sungguh ia sangat Terkejut! Bagaimana mungkin??

“Geotjimal!”

Ahra berdecak. Dikecapnya habis ice cream cola yang ada di tangannya lalu membuang sampahnya begitu saja kedalam tong sampah yang kebetulan berada di belakang tempat duduknya saat ini.

“Nan goetjimal anniya.” Dahi Hyerin berkerut. Ahra kembali berdecak. Ia berjalan mendekati sosok Hyerin lalu memeluk pundaknya dengan sebelah tangan, memutar tubuh sunbaenya itu menghadap sosok gadis yang kepalanya terlilit perban di seberang sana yang masih sibuk senyum-senyum sendiri.

“Kau tahu? Julliet tadi pagi dibuat heboh dengan kabar ini, terlebih di kalangan anak kelas 2 karena kejadiannya di lorong kelas 2 dan kebetulan pagi itu juga banyak sekali saksi mata yang melihatnya. Dan kau tahu apa? Choi Siwon sendiri yang berteriak memberikan pengumuman tadi pagi bahwa mereka berdua resmi jadian.”

‘Mana mungkin bisa?’ pikir Hyerin masih tak percaya. Siwon itu kan pria, mana mungkin bisa masuk ke dalam Julliet apalagi malah ‘jadian’ di depan koridor kelas begitu. Lagipula Siwon itu ‘pangeran’ tak mungkin rasanya bagi dirinya bisa berkencan dengan gadis biasa seperti Hyunjae begitu.

“Jangan pikir yang macam-macam eonni. Hyunjae-Siwon bahkan sudah saling mengenal lama jika dibandingkan dengan persahabatan gadis itu dengan Chaeyoung, bahkan dengan Donghae sekalipun.” Hyejin menatap sunbaenya itu sambil tersenyum tipis.

“Benar sekali! Apalagi jika mengingat faktanya Siwon adalah cinta pertama Hyunjae, dan beberapa waktu lalu pria yang dianggap sebagai pangeran romeo itu juga pernah menyatakan perasaannya pada Hyunjae, tapi sayangnya gadis itu malah menolaknya dengan alasan yang hanya kami –orang-orang yang ia percayai- dan diri mereka yang tahu,” kedua mata Hyejin melebar. Kembali dipandangnya gadis itu. “.. Ya meski aku juga agak sedikit terkejut saat mendengar pada akhirnya mereka berkencan juga.” Ahra terkekeh mendengar ucapannya sendiri, begitu juga dengan Hyejin, mengingat baru saja beberapa hari yang lalu gadis itu marah-marah dan seakan antipati terhadap apapun yang berkaitan dengan Choi Siwon –termasuk Donghae, sahabatnya sekaligus sahabat Choi Siwon sendiri.dan kini setelah menghilang selama dua hari mereka malah mendapat kabar kalau keduanya resmi berpacaran.

~mrs.ChoiLee~

Berita mengenai Siwon-Hyunjae dengan cepat menyebar bagaikan angin yang jelas saja membuat kehebohan diseluruh penjuru kedua sekolah yang bersebrangan tersebut. Banyak siswa yang masih menyangsikan kebenaran akan hal ini, terutama para siswi. Namun begitu melihat fakta bahwa saat jam pulang sekolah berdentang sosok Choi Siwon tahu-tahu sudah muncul di depan gedung Julliet –berdiri menyadar disamping pintu kemudi sedan mewahnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada- dan langsung membukakan pintu penumpang dan mempersilakan sosok Hyunjae masuk kedalam mobilnya begitu gadis itu tampak keluar bersama sosok Chaeyoung, gadis yang juga dikenalnya sebagai kekasih dari dongsaengnya, Choi Minho.

“Wah.. Wah.. Dia benar-benar serius nampaknya,” kekeh Eunhyuk begitu dilihatnya sedan mewah itu melaju pergi meninggalkan pelataran Julliet. Donghae yang juga turut berdiri disebelahnya hanya tersenyum.

“Semoga saja anak itu bahagia,” ucap seseorang, membuat keduanya –Eunhyuk dan Donghae- menoleh kearahnya.

Kwon Ahra, gadis itu bersama Hyejin rupanya juga tengah mengamati kepergian temannya itu dari depan pelataran Julliet. Hanya berselang beberapa langkah dari tempat kedua pria itu berdiri. Sama-sama di depan pelataran Julliet.

“Ya, kuharap hubungan keduanya berjalan lancar,” tambah Hyejin.

Eunhyuk tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, tapi yang jelas ia malah meninggalkan Donghae dan menepuk pundak salah satu dari kedua gadis itu pelan, membuat keduanya menoleh kearahnya.

“O.. O-ppa?”gumam Ahra, terkejut, sekaligus senang begitu dilihatnya sosok namja pemilik senyum gusi itu tengah tersenyum kearahnya.

~mrs.ChoiLee~

Dingg.. Dongg.. Dingg Dong..

Bel pertanda jam sekolah telah usai berkumandang dengan nyaringnya, membuat seluruh siswanya segera merapihkan barang mereka masing-masing dan bersiap keluar untuk pulang. Tapi tidak dengan salah satu murid di kelas 3-3. Namja berkacamata itu masih sibuk mencatat sesuatu diatas buku catatannya.

“Jong-ah, aku duluan ya!” Donghae, si namja pemilik wajah innocent itu menepuk punggung teman sebangkunya itu pelan. Jonghoon yang tak lain adalah namja berkacamata itu menoleh, dan hanya mengangguk samar kemudian kembali mencatat deretan angka yang muncul dari hasil perhitungan yang didapatnya di atas kertas coretan untuk kemudian ia salin kedalam buku tugasnya.

Donghae menatapnya sebentar, lalu pergi meninggalkan teman sebangkunya itu sendirian di dalam kelas. Jonghoon, teman sebangkunya itu memang berbeda dengan dirinya. Jonghoon kutu buku, tak seperti dirinya, dan pria itu juga rajin, contohnya saja tadi, yang dikerjakan Jonghoon itu sebenarnya tugas rumah yang diberikan guru matematika mereka untuk dikumpulkan lusa, tapi dengan rajinnya disaat yang lain bersiap pulang namja itu malah sudah mengerjakan setengah dari tugas yang diberikan, seolah tak ada kata nanti ia juga berniat untuk menyelesaikannya saat itu juga.

“Hmmpphh..” namja itu menarik napas dan mengerang kecil sembari merentangkan kedua tangannya keudara, mencoba merilekskan otot-ototnya yang kaku setelah selesai mengerjakan tugas rumahnya dalam waktu singkat.

Dilihatnya kearah jendela besar yang berada tak jauh dari tempat duduknya. Dihampirinya, lalu dibukanya perlahan kedua sisi daun jendela, mencoba mencari udara sejuk. Kedua matanya menatap jauh pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Danau serta hamparan bunga dan pepohonan dari Roliet Park serta gedung asrama bahkan dapat ia lihat dengan jelas dari tempatnya saat ini. Sungguh menyejukkan mata. Keindahan sekolah Romeo-Julliet memang tak terbantahkan. Lingkungannya sangat asri, nyaman dan indah meski berada di tengah-tengah wilayah kota besar layaknya Seoul, dan inilah merupakan salah satu alasan dirinya bersikeras untuk tinggal di asrama bahkan disaat ayahnya menentang dirinya untuk tinggal diluar rumah karena tempat tinggal keluarga mereka bisa dibilang tak terlalu jauh dari sekolah dan jelas lebih nyaman jika dibandingkan kamar asramanya.

“Segar~” gumamnya seraya menghirup dalam-dalam udara segar yang menelisik masuk kedalam hidungnya yang mancung, dengan kedua mata terpejam.

Dibukanya perlahan kedua matanya, dan begitu matanya terbuka seutuhnya, kedua matanya yang terlindungi kacamata minus itu tanpa sengaja menangkap sesosok pria berseragam seperti dirinya tengah mempersilakan sesosok gadis dari sekolah seberang untuk masuk kedalam mobil mewah yang sangat dikenalnya. Dari raut wajah yang ia tangkap, pria itu tengah tersenyum senang. Senyuman yang amat ia hapal dan mengerti secara jelas apa artinya.

Ia mendesah hebat begitu dilihatnya sedan mewah itu sudah berlalu pergi entah kemana.

Untuk beberapa saat ia masih berdiri disana sebelum akhirnya getaran disaku celananya menyadarkan dirinya dan kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas dengan membawa serta tas sekolahnya disebelah pundak, sementara tangan yang satunya sibuk memegangi ponsel lipat yang tertempel ditelinganya.

“Iya, aku segera kesana.”

——-

“Hey, lama sekali!” protes Hongki begitu dilihatnya sosok yang mereka tunggu sejak tadi baru saja masuk kedalam sebuah cafe kecil langganan mereka. Pria yang tak lain adalah Jonghoon itu hanya tersenyum lalu duduk diatas kursi kayu kosong yang ada disamping Minhwan.

“Pasti dia asik mengerjakan tugas lagi sampai lupa waktu,” tebak Jaejin yang dibalas anggukan setuju dari Seungchuan.

Jonghoon hanya tersenyum simpul. Sudah biasa baginya menjadi bahan olok-olok rekan satu band-nya itu gara-gara sifatnya yang menurut mereka semua terlalu rajin itu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ia paling tak suka menunda-nunda apalagi ia takut jika ia malah tak keburu mengerjakannya lantaran sibuk latihan dengan teman-temannya itu, jadi daripada ditunda lebih baik dikerjakan secepat mungkin.

“Ini pesanannya,” ucap seorang pelayan restauran ramah seraya meletakkan satu-persatu pesanan mereka ke atas meja. “Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Jonghoon melirik pelayan itu sebentar, membuka kaca matanya yang entah kenapa tiba-tiba membuatnya sedikit pusing dan meletakkanya keatas meja, disamping piring makanannya. Ditatapnya piring berisi pesanan taman-temannya itu lalu beralih menatap keempat orang lainnya yang kini sibuk berebut makanan seperti orang kelaparan itu satu persatu kemudian menggeleng.

“Tidak,terima kasih,” ucapnya ramah tak lupa dengan sebuah senyuman yang terhias diwajahnya. Membuat pelayan wanita yang kira-kira berusia beberapa tahun diatasnya itu nyaris pingsan dibuatnya jika ia tak buru-buru kabur dari sana setelah mengangguk ramah.

“Oh, astaga! Pria kacamata itu ternyata sangat tampan!” serunya heboh dengan suara tertahan pada kedua teman wanitanya yang lain begitu dirinya kembali kebalik meja konter.

“Ah, jeongmalyo!??? Astaga! Tak pernah kuduga! Ku kira awalnya pria bertubuh jangkung itu yang paling tampan!” seru temannya yang berambut pendek sambil menunjuk kearah Seungchuan dengan dagunya.

“Ah! Kau sangat beruntung dapat berbicara dengannya saat pria itu tanpa kacamata! Astaga!! Aku mau melihatnya!” seru temannya yang lain. Ketiga pelayan itu untuk sesaat sibuk membicarakan sosok Jonghoon yang semula mereka anggap ‘nerd’ itu dengan hebohnya, sampai ketika manajer mereka sendiri yang membubarkan ketiganya untuk kembali bekerja.

“Astaga, hyung. Lihat itu, kau telah membuat kekacauan disini!” Jaejin terkekeh geli saat kedua mata sipitnya yang sejak tadi tertarik memperhatikan kearah konter makanan mendapati ketiga gadis pelayan restauran yang semula heboh membicarakan sesuatu itu kini tengah ditegur oleh atasannya.

Hongki yang juga menyadarinya ikut tertawa. Jonghoon yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi dan seolah tak peduli ia kembali menyantap fish and chips pesanannya tanpa berkata apa-apa.

“Aigoo.. sepertinya enak..” gumam Minhwan tiba-tiba dengan lidahnya yang sibuk menjilati bibirnya sendiri, sementara kedua mata sipitnya itu menatap lurus penuh minat kesalah satu titik. Membuat Seungchuan yang tepat duduk di hadapannya bergidik ngeri melihatnya.

“Ya! Jangan tatap aku seperti itu!” bulu kuduk Seungchuan meremang, tapi Minhwan tak menghiraukannya. Jaejin yang penasaran akan obyek penglihatan sang magnae saat ini langsung membalikkan kepalanya, mencari tahu.  Ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir begitu dilihatnya di meja yang berada membelakangi Seungchuan itu tengah menyajikan beberapa potong paha ayam goreng tepung berbalutkan saus mayonaise dan parutan keju diatasnya. Minhwan benar-benar tak pernah tahan godaan jika sudah melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan ayam!

“Hyung.. aku mau itu..” ditatapnya Jonghoon yang duduk tepat disampingnya dengan tatapa penuh harap layaknya yang digunakan Shinchan saat dirinya merasa terpojok dan memohon pada ibunya. Jonghoon yang tak mengerti langsung menoleh, mencari tahu obyek yang diinginkan Minhwan, namun tatapannya malah terhenti di salah satu sudut. Sebuah meja berisikan 4 orang siswa yang berada tepat dibangku paling sudut ruangan.

Dilihatnya keempat orang itu tampak tertawa bersama. Entah membicarakan apa. Tapi yang pasti membuat dirinya enggan untuk memalingkan pandangannya kesudut lain.

“O! Hyung, itukan dongsaengmu!” seru Seungchuan pada Hongki saat kedua matanya yang ikut mencari obyek yang dibicarakan Minhwan malah tak sengaja mendapati sesosok gadis berambut lurus tengah berbicara santai dan sesekali tertawa pada ketiga temannya.

Hongki yang semula asik menyantap kentang goreng yang ada di atas piring makanannya langsung menoleh, dan ia langsung mendesis kesal saat dilihatnya siapa ketiga sosok yang berada disekitar adik tirinya tersebut. Eunhyuk, Donghae, dan Ahra. Kedua antek Choi Siwon yang terkenal akan sifat mereka sebagi playboy, dan seorang gadis yang ia kenal sebagai gadis menyebalkan. Melihatnya membuat ia kesal saja.

“Ah, iya, benar! Hyejin noona!!” pekik Minhwan penuh semangat dengan tatapan yang berbinar-binar begitu melihat sosok Hyejin, noona yang dikaguminya, seolah telah melupakan ayam goreng yang diidamkannya barusan.

Hongki berdecak sebal.

Jaejin langsung memelototi magnae mereka itu saat dilihatnya Minhwan baru akan bangkit dan berniat berlari menghampiri meja mereka, membuatnya menggembungkan pipinya sebal. Ia tahu hubungan Hongki dan Hyejin tak terlalu dekat, jadi ia tak mau jika nantinya suasana malah berubah tak enak jika mendadak gadis yang terkenal ramah itu nanti malah menghampiri mereka untuk menyapa kakaknya.

Tapi apa yang terjadi? Sungguh diluar dugaan! Hongki malah bangkit dari duduknya, menghampiri meja keempat orang itu. Entah membiarakan apa, namun yang pasti beberapa saat kemudian mereka bersembilan –mereka berlima dan keempat orang itu- tahu-tahu sudah tergabung dalam sebuah meja panjang lengkap dengan makanan mereka masing-masing.

~mrs.ChoiLee~

“Oh, astaga! Pria kacamata itu ternyata sangat tampan!” seru salah seorang pelayan heboh dengan suara tertahan pada kedua teman wanitanya yang lain begitu dirinya kembali kebalik meja konter, sesaat setelah dirinya meninggalkan salah satu meja pelanggan yang memang sudah menjadi pelanggan tetap disana.

“Ah, jeongmalyo!??? Astaga! Tak pernah kuduga! Ku kira awalnya pria bertubuh jangkung itu yang paling tampan!” seru temannya yang berambut pendek, sedikit tak percaya. Namun begitu matanya melirik kearah yang dibicarakan, kakinya langsung lemas. Pria itu benar-benar tampan! Pikirnya dalam hati.

“Ah! Kau sangat beruntung dapat berbicara dengannya saat pria itu tanpa kacamata! Astaga!! Aku mau melihatnya!” seru temannya yang lain. Kegita pelayan itu untuk sesaat sibuk membicarakan sosok Jonghoon yang semula mereka anggap ‘nerd’ itu dengan hebohnya, sampai ketika manajer mereka sendiri yang membubarkan ketiganya untuk kembali bekerja.

“Kalin bertiga kembali bekerja! Lihat itu ada pelanggan, cepat hampiri dan catat pesanan mereka,” omel seorang pria tambun berkemeja biru langit dengan dasi garis-garis yang tersimpul di lehernya pada ketiga karyawannya yang sejak tadi dilihatnya sibuk bergosip itu, sebelum akhirnya kembali kedalam ruangannya.

“Eh? Hey, itu mereka! Kedua tuan muda tampan!” seru pelayan berambut pendek begitu dilihatnya pintu masuk cafe yang berbahan kaca transparant itu terbuka. Membuat kedua temannya yang lain menoleh kearahnya.

“Mana pria yang satunya? Lalu siapa mereka? Kenapa mereka berdua membawa dua orang gadis??”

“Aishh! Jangan bilang kalau itu adalah pacar mereka! Ah!”

Begitulah kira-kira ocehan mereka, sebelum akhirnya kembali bubar mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing begitu dirasanya sang manajer kembali memperhatikan mereka dengan aura mengerikan dari depan pintu ruang kerjanya.

——

“Hahaha.. Ya, kupikir hubungan mereka awalnya akan terus dingin seperti itu –setidaknya- sampai beberapa bulan kedepan, tapi ternyata siapa yang menyangka? Karena kebodohan pria disampingku ini yang membuat mobil yang kami tumpangi salah masuk jalur dan terlibat dalam kecalakaan malah membuat sepasang manusia itu menjelma menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai dalam seketika. Hahaha,” tawa Eunhyuk renyah.

“Hahaha! Ternyata aksi penculikan pria gila itu  tak selamanya buruk. Ada berkahnya juga!” timpal Ahra, setuju.

Saat ini keempatnya, ia, Hyejin, Eunhyuk dan Donghae tengah duduk di balik meja sebuah cafe kecil dekat sekolah mereka sambil menyantap makan siang dan membicarakan topik pembicaraan yang tengah hangat saat ini. Apalagi kalau bukan tentang si pasangan baru, Hyunjae dan Siwon, yang membuat para gadis Julliet menangis histeris karena patah hati.

Tadi sesaat setelah mengamati kepergian teman mereka itu dari pelataran Julliet, Eunhyuk yang juga ada di dekat mereka langsung mengajak keduanya untuk makan siang bersama di Cafe kecil dekat sekolah yang juga merupakan tempat makan langganan Donghae. Pada mulanya Hyejin ingin menolaknya, mengingat siang itu ia ada jadwal les piano, tapi Ahra yang memang ia ketahui sudah lama tertarik dengan Eunhyuk langsung memohon kepadanya agar ia ikut, dan apaboleh buat? Kini mereka berempat sudah berada di dalam Cafe dengan suasana Cozy itu dan terhanyut dengan obrolan santai yang sama sekali tak terasa kecanggungan sedikitpun. Hyejin sampai bingung, untuk apa dirinya ikut kemari kalau pada akhirnya justru Ahra dan Eunhyuk yang terlihat paling banyak berbincang sementara ia dan Donghae hanya sesekali saja turut menimpali.

“Sunbae? Apa kau sendiri setuju jika uri Hyunnie berkencan dengan Siwon sunbaenim? Padahal tadinya kukira kaulah yang pada akhirnya akan berkencan dengan Hyunjae,” tanya Ahra blak-blakkan, membuat Donghae yang saat itu tengah meneguk jus melon miliknya tersedak dibuatnya.

“Hhahaha, tak usah terkejut begitu ah, sunbae. Semua orang yang mengenal kalian berdua juga berpikiran sependapat dengan kami,” Hyejin terkekeh geli melihat seniornya itu sibuk meneguk segelas air putih yang diberikan Eunhyuk.

“Hhaha, gureom! Aku juga sependapat dengan kalian!” tambah Eunhyuk yang langsung ber-high five-ria dengan kedua gadis yang kini malah ketiganya sibuk meledek Donghae itu.

Tawa mereka terus saja berlanjut sampai tahu-tahu ketiganya mendapati sosok Hongki berdiri di samping meja dengan wajah ramah –yang sebenarnya terlihat sedikit  dibuat-buat. Hyejin yang semula terkejut mendapati sosok Oppanya menghampiri dirinya tentu saja langsung tersenyum senang. Namun tidak dengan Ahra. Gadis itu langsung mendumel tak jelas. Sementara kedua namja dihadapan mereka mengernyitkan dahi bingung. Untuk apa seorang Lee Hongki menghampiri meja mereka? Keduanya memang sudah tahu sejak awal jika Hongki dan teman-temannya yang lain juga ada di Cafe itu, seperti biasanya, karena ini memang bukan pertama kalinya mereka sering bertemu di tempat yang sama, namun sepertinya ada yang aneh kali ini. Tak biasanya Hongki menghampiri mereka dan kini malah menyapa dengan ramah. Lalu selanjutnya apa yang terjadi? Pria itu malah mengajak mereka semua untuk bergabung. Hyejin jelas saja langsung menerima tawarannya dengan senang hati! Jarang-jarang kakaknya itu bersikap lunak kepadanya. Donghae dan Eunhyuk juga tak keberatan, mengingat selama ini juga mereka memang tak ada masalah apa-apa dengannya. Hanya Ahra yang tampaknya keberatan dengan hal ini.

“Kalau kau tak mau ikut bergabung juga tak masalah, aku tak ada urusan denganmu. Yang jelas ketiga temanmu yang lain bersedia.” Ucap Hongki sadis, membuat Ahra memicingkan tatapan tajam padanya. Tapi Hongki tak peduli dan langsung menarik tangan Hyejin untuk ikut bersamanya. Tanpa penolakan.

Setelah berbicara dengan seorang pelayan, tak lama kesembilan orang itupun kini sudah duduk rapih dibalik meja panjang untuk 10  orang, lengkap dengan makanan mereka yang sebelumnya menjadi menu makanan mereka di meja masing-masing.

Selama acara makan bersama berlangsung, tak banyak yeng terlibat dalam pembicaraan. Jonghoon, seperti biasanya, makan dengan tenang. Jaejin dan Seungchuan juga memlih untuk diam karena merasa bingung harus berkata apa. Donghae yang makanannya sudah tandas memilih untuk memainkan ponselnya. Hanya Hongki, Hyejin, Eunhyuk dan Minhwan saja yang tampak asik berbincang. Ahra? Jangan ditanya. Gadis itu sejak tadi sibuk menahan emosinya, lantaran dirinya tak bisa duduk disebelah Hyejin yang langsung ditarik untuk duduk di samping Hongki. Sementara bangku kosong yang tersisa saat itu hanya tinggal yang berada disebelah Hongki dan satunya berada tepat di ujung, dan itupun menghadap langsung kearah Hongki. Jelas saja ia tak mau duduk disamping Hongki –meski itu berdekatan dengan Hyejin- tapi duduk di ujung dengan menghadap langsung kearah namja itupun bukan pilihan yang baik, karena buktinya sejak tadi kedua orang itu terus saja saling melayangkan tatapan tajam dan bencinya satu sama lain.

“Hey, aku tak pernah tahu kalau Hyejin adalah adikmu, Hongki-ya?” tanya Eunhyuk yang tampak masih tak percaya saat Minhwan mengatakan bahwa kedua orang itu adalah sepasang saudara, meski hanya saudara tiri.

“Jangankan, kau, Oppa. Aku saja tak percaya!” ceplos Ahra cepat. “Kau lihat saja perbedaannya kan? Mana mungkin Hyejin yang manis dan ramah lagi pula pintar itu adalah adik dari seorang pria bengal menyebalkan seperti itu, benar bukan?”

Hongki menatapnya bengis. “Ya,ya, percaya atau tidak tapi kenyataannya kami berdua adalah sepasang kakak beradik. Dan aku bersyukur bahwa adik tiriku ini adalah adik yang cantik, manis, ramah lagi pula pintar.. tidak seperti seorang gadis diujung sana yang berisik, bodoh, lagi pula menyebalkan itu!” sindirnya lebih kepada Ahra yang kini memandangnya dengan tatapan bengis.

“Ya.. ya.. dan aku juga merasa beruntung tidak seperti Hyejin yang memiliki segala kelebihan itu tapi malah terkena musibah karena harus memiliki saudara seperti orang itu.”

Keduanya saling melemparkan tatapan bengis. Seolah akan menerkam satu sama lain. Ketujuh orang lainnya tampak tak peduli, dan malah mengabaikannya. Bukan rahasia umum lagi kalau kedua orang itu saling serang tiap kali bertemu. Jadi semuanya sudah kebal. Termasuk Donghae dan Eunhyuk yang bahkan baru tahu beberapa saat yang lalu.

“Ehm, Hyejin-ah, aku harus ke bengkel untuk mengambil mobil. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Donghae yang kontan langsung membuat ke delapan pasang mata menatap kearahnya.

“Oh,” Hyejin menatap arloji di lengan kirinya sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.15. artinya kurang dari 45 menit lagi les pianonya akan dimulai. Sebelumnya saat menyetujui untuk ikut makan bersama ia memang mengatakan bahwa ia akan pulang sebelum jam setengah 5, dan tampaknya Donghae ingat akan hal itu.

“Oh, kau duluan saja, hyung, aku nanti yang akan mengantar Hyejin pulang,” potong Hongki sebelum dongsaengnya itu berkata lebih lanjut. Membuat Hyejin dan Jaejin juga Ahra menatap kearahnya dengan tatapan aneh sekaligus bingung. Sejak kapan seorang Lee Hongki menjelma menjadi seorang Oppa yang baik bagi dongsaengnya?

“Begitu? Baiklah aku duluan,” pamitnya. “Hyuk-ah, kau mau pulang juga atau masih tetap disini?”

Eunhyuk yang ditanya hanya melambai-lambaikan tangannya kearah sahabatnya yang memang duduk bersebrangan dengannya itu. “Anni, anni. Kau duluan saja, aku sudah janji dengan Ahra untuk mengantarnya ke tempat kerjanya, lagipula apartmentku dan bengkel mobilmu itu tak searah. Bukan begitu Ahra-ya?” jelasnya yang diakhiri dengan permintaan dukungan pada Ahra yang masih dengan setia mendesis sinis kearah Hongki.

Ahra terkesiap. Tanpa mencerna kata-kata yang dilontarkan Eunhyuk barusan ia langsung berkata iya seketika begitu namja pemilik senyum gusi itu tersenyum memamerkan gusi pink miliknya padanya, seolah terhipnotis akan pesona senyumannya.

Donghae menghela napas berat. Ia yakin si ikan teri itu pasti sebentar lagi akan melayangkan berbagai macam jurus mautnya demi mendapatkan Ahra. Ia hanya bisa pasrah saja menghadapinya, lagi pula tak masalah bagi dirinya jika harus naik taksi sendirian ke bengkel toh nanti pada akhirnya juga ia akan menyetir sendiri mobil miliknya yang baru selesai diservis akibat kecelakaan beberapa hari yang lalu itu kembali ke asrama, bukan ke basement apartment Eunhyuk lagi seperti biasanya.

“Yasudah semuanya, aku pamit ya~” pamitnya sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar menghilang dibalik pintu.

“Gureom, aku juga sepertinya harus pamit karena setengah jam lagi aku harus bekerja,” Ahra bangkit dari duduknya. Membungkuk sekilas lalu bersiap untuk pergi, diikuti Eunhyuk yang juga sudah standby dengan kunci mini cooper kesayangannya tergantung disalah satu jari tangan kirinya.

“Oh, aku juga kalau begitu! Hyung aku ikut, ya? Kalian akan kembali ke arah sekolah kan?” kali ini Jonghoon yang buka suara. Eunhyuk meliriknya dengan tatapan enggan. Bagaimana tidak? Mulanya ia berniat untuk melancarkan aksi pendekatan pada Ahra, tapi kalau ada Jonghoon bagaimana mungkin bisa?

“Baiklah, kajja.” Jawabnya pada akhirnya. “Gureom, semuanya kami  pamit, ya.”

“Kami juga, hyung!” kompak Jejin, Minhwan dan Seungchuan, membuat kedua pasang mata lainnya yang ada disana langsung menoleh kearah mereka.

“Ckck, kompak sekali kalian. Yasudah sana,” balas Hongki cuek. Ketiganyatersenyum garing kemudian berlalu setelah membungkuk kecil kearah Hyejin.

“Eh, tunggu dulu!” pekiknya seraya bangkit dari duduknya, membuat ketiga temannya yang lain langsung menghentikan langkan dan berbalik kearahnya.

“Seunghyun-ah.”

Deg!! Jantung Hyejin mendadak berdegub keras. Diputarnya arah pandangannya yang semula menunduk, membenahi barang miliknya kedalam tas, kearah Oppanya yang berdiri disamping kirinya dengan mata melebar. Apa telinganya tak salah mendengar? Apa yang Hongki barusan katakan? Apa nama itu?

“Seunghyun-ah,” ulangnya lagi, ”aku pinjam kunci motormu sebentar.”

Tubuh Hyejin mendadak terasa kaku. Susah payah diputarnya pandangannya kearah lain, tempat dimana ketiga namja yang menjadi teman Oppanya itu berada.

Dilihatnya sosok Oppanya itu kini berada di hadapan seorang namja jangkung berperawakan kurus berambut kecokelatan, membicarakan sesuatu yang entah apa karena telinganya kini seolah tuli. Pandangannya hanya terfokus pada satu titik. Titik dimana namja berperawakan jangkung yang selama ini ia ketahui namanya sebagai ‘seungchuan’ itu berada. Otaknya kosong, bibirnya kelu. Ia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa.

‘Tubuh itu.. Tinggi itu.. Nama itu.. Apakah dia?

Seunghyun? Pangeran berkuda besinya?’

 

TBC

Arghhhh FINALLY!!!!!

Haha maaf ya bagi yang sudah menunggu lama, karena kemaren” ini bener” kehilangan MOOD untuk nulis. Sama sekali gak ada semangat. Dan cuaca serta sikon bulan puasa juga bikin saya nambah males dan terus-terusan memilih untuk bergelung dibawah selimut tiap hari. Hahaha :p

So sorry for typo. Part kali ini sengaja dipanjangin buat nebus rasa penasaran soal sosok “Lee taeseong” jadi bagian Hyunjae dibanyakin. Dan untuk part selanjutnya saya ga yakin bagian percintaan Hyunjae ini bakal di ceritain atau mau di bikin di story lain? Kalo dipisah otomatis bakal lama lagi, dan kalo ga dipisah nasib HSP bakal panjang dan berseason” sepertinya kaya sinetron. Hahaha

and BIG THANKs buat yang part kemarin udah ngoment atau seengganya ninggalin jejak -meski kebanyak tetap engga padahal udah d protect- tapi pada akhirnya saya putuskan untuk di unprotect juga setelah mood bener-bener balik. so, para sider berterima kasihlah pada yang ninggalin jejaknya :))

Ada yang masih inget sama ‘childish couple’-nya Supa Dupa Diva? Karena sepertinya saya lagi tertarik buat bikin cerita lagi tentang mereka Hahaha.

Oke cukup sampai disini. Bye~ 

Iklan

8 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 7

  1. aseeekkkk udah ada yang jadian dtunggu percintaan yang lainnya
    hyejin dag dig dug ktemu yg dikira pahlawannya hehehe

  2. AKHIRNYA eon ini ff keluar jga
    ais aisik2 hub hyunjae ma siwon membaik, tapi kalo mnurut Q yg baca ff sebelumnya Q lebih suka hyunhae (hyunjae-donghae)
    hyejin ihir…. tau juga
    dilanjut ditunggu 🙂

  3. wah. . . Hyejin ternyata menemukan pangeran berkudanya. . .
    Childis couple? Klw gak salah caeyoung sma minho ya ?.
    Aku tambah penasaran. Itu si joonghon ngeganggu aja sih. Wkwkwk.
    Next partnya di tunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s