HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 8

Previously..

“Seunghyun-ah.”

Deg!! Jantung Hyejin mendadak berdegub keras. Diputarnya arah pandangannya yang semula menunduk, membenahi barang miliknya kedalam tas, kearah Oppanya yang berdiri disamping kirinya dengan mata melebar. Apa telinganya tak salah mendengar? Apa yang Hongki barusan katakan? Apa nama itu?

“Seunghyun-ah,” ulangnya lagi, ”aku pinjam kunci motormu sebentar.”

Tubuh Hyejin mendadak terasa kaku. Susah payah diputarnya pandangannya kearah lain, tempat dimana ketiga namja yang menjadi teman Oppanya itu berada.

Dilihatnya sosok Oppanya itu kini berada di hadapan seorang namja jangkung berperawakan kurus berambut kecokelatan, membicarakan sesuatu yang entah apa karena telinganya kini seolah tuli. Pandangannya hanya terfokus pada satu titik. Titik dimana namja berperawakan jangkung yang selama ini ia ketahui namanya sebagai ‘seungchuan’ itu berada. Otaknya kosong, bibirnya kelu. Ia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa.

‘Tubuh itu.. Tinggi itu.. Nama itu.. Apakah dia?

Seunghyun? Pangeran berkuda besinya?’

~High School Paradise~

Seo Hyejin. Di kamarnya, tepat di salah satu lantai disebuah gedung apartment mewah di daerah Samseong-dong, tengah sibuk senyam-senyum tak jelas di depan layar notebook super tipis keluaran terbaru salah satu produk ternama Jepang miliknya.

Tersenyum, kemudian tertawa, bahkan menutupi wajahnya akibat terasa memerah karena tersipu-sipu akan sesuatu pun tak jarang dilakukannya belakangan ini setiap kali ia memainkan salah satu gadget favouritnya tersebut.

“Ckckck.. Aku tak pernah tahu bahwa karisma seorang Song Seunghyun sekuat itu sampai-sampai seorang Seo Hyejin bisa ditaklukan olehnya,” decak Hongki sambil berdiri menyandar di depan kamar Hyejin yang kebetulan pintunya tak tertutup rapat dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Hyejin yang menyadari saudara tirinya –yang sejak beberapa hari yang lalu berhasil ia paksa menemaninya tinggal bersama di apartementnya itu- memperhatikannya dari pintu kontan melipat layar notebooknya.

“Gyyyaa!! Oppa! Sok tahu! Siapa juga yang Chattingan dengan dia????” kilahnya dengan nada cepat. Hongki terkekeh lalu malah  berbalik meninggalkan pintu kamar adiknya itu.

“Hya! Oppa! Sudah kubilang BUKAN SEPERTI ITU!!” kilahnya sekali lagi sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar ketika di dapatinya sosok kakak tirinya itu malah dengan cueknya sudah duduk di depan tv.

Hyejin mendengus pelan. Namun diam-diam bibirnya malah menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Dalam hatinya yang terdalam ia merasa senang. Bukan hanya sekedar senang, tapi SANGAT SENANG! Bagaimana tidak? belakangan ini hubungan keduanya –ia dan Hongki- perlahan mulai membaik, dan ini mulai terlihat tepatnya sejak ia temannya tak sengaja bertemu dengan Hongki yang juga tengah bersama dengan teman-temannya yang lain di salah satu Cafe beberapa minggu yang lalu. Dan sejak itulah entah bagaimana hubungan mereka mulai terlihat membaik, dan bahkan Hongki yang dulu seolah selalu tak mengacuhkan kehadiran Hyejin kini justru bersikap layaknya seorang Oppa kepada dongsaengnya. Dan yang paling membahagiakan dirinya adalah, setelah sekian lama akhirnya seorang Lee Hongki mau juga mendengarkan permintaannya untuk sesekali menemaninya yang selalu kesepian untuk tinggal di apartemennya.

Seburuk apapun dan semengesalkan apapun seorang Lee Hongki, ia akan tetap menyayanginya, dan meskipun mereka berdua sama sekali tak ada hubungan darah, ia tetap saja akan selamanya menganggap Lee Hongki seorang Oppa baginya.

“Hey, untuk apa kau melamun di depan pintu seperti itu?” seru Hongki, membuat Hyejin tersenyum penuh arti dan segera saja berlari dan melompat keatas sofa panjang yang tengah  di duduki Hongki, membuat pria berambut kecoklatan itu mengaduh kesakitan karena mendapat hantaman keras dari tubuh adiknya.

Berbeda dengan Hyejin, Hyunjae, salah satu sahabat Hyejin yang sudah nyaris dua pekan ini disebut-sebut sebagai kekasih Pangeran Romeo yaitu Choi Siwon, belakangan justru malah terlihat berubah. Ia terlihat lebih tertutup dan pemurung. Senyumannya yang cerah kini justru jarang sekali ia tampakkan dan justru saat ia tersenyum malah terkesan dipaksakan.

Namun anehnya, orang-orang terdekatnya justru malah bisa dibilang tak ada satupun yang bisa melihat perubahan dari dirinya, kecuali Ahra.

Kwon Ahra, gadis itu memang peka sekali terhadap perubahan-perubahan yang terjadi disekitarnya termasuk perubahan sifat gadis itu yang bisa “ia” bilang ekstrem itu. Tapi sayang sekali, Hyunjae sama sekali tak mengatakan apapun dan hanya menganggap perasaan Ahra mengenai perubahan dirinya itu bukan karena apa-apa.

“Sungguh, aku hanya lelah saja.” Ucap Hyunjae lewat ponsel hitam kesayangannya pada Ahra yang hari itu untuk kesekian kalinya menghubungi dirinya untuk mencari tahu kabar dirinya.

“…”

“Siwon?”

“…”

“Tenang saja.. dia memperlakukanku dengan baik. Aku sungguh sama sekali tak ada masalah apapun dengannya-”

“….”

Anni, aku bersungguh-sungguh. Sudahlah tenang saja, dua hari lagi juga kan kita bertemu disekolah. Tenang saja, aku sudah berada di balik selimut di dalam kamarku di Incheon, jadi kau tak usah berpikiran macam-macam begitu,” kekeh Hyunjae.

“…”

“Ne.. annyeonghi jummusaeyo..”

Bipp..

Hyunjae mendesah. Ditatapnya kemudian layar ponsel miliknya yang masih berada dalam genggamannya itu lekat. Sebuah gambar yang menampakkan sepasang manusia tengah tersenyum  dengan latar belakang taman RoLiet terpajang menjadi wallpaper ponsel berwarna hitam tersebut. Foto tersebut adalah foto dirinya dan Siwon yang mereka ambil sekitar seminggu yang lalu sebelum Siwon yang di dapuk menjadi duta sekolah pergi ke China untuk menghadiri konferensi pelajar SMA Internasional sebagai perwakilan dari Korea Selatan bersama dengan Victoria dan dua orang siswa lainnya yang berasal dari SMA lain.

Drtt.. drtt..

Ponsel yang masih dalam genggaman tangannya itu bergetar. Layar yang semua menampakkan foto mereka berdua langsung tertutupi oleh lambang kotak surat yang menyiratkan adanya sebuah pesan masuk. Langsung saja di tekannya tombol ok pada ponselnya itu.

Sebuah MMS. Dari nomor tak dikenal.

Gadis itu mengerutkan keningnya bingung. Namun tetap saja ditekannya tombol okpada ponselnya itu lagi hingga akhirnya pesan multimedia itu terbuka.

Digigitnya tanpa sadar bagian bawah bibirnya hingga memerah. Tatapannya berubah nanar. Gadis itu kembali mendesah.  Namun, pada akhirnya ia malah tersenyum. Entah apa artinya, namun yang jelas menit berikutnya gadis itu sudah terlelap di balik selimut kesayangannya.

~mrs.ChoiLee~

@Julliet SHS

“Ckck.. kemarin Hyunjae.. sekarang malah Seo Hyejin yang terkena syndrom ‘gila karena cinta’,” Ahra menggeleng-gelengkan kepalanya dengan posisi kedua tangan terlipat di atas dada begitu dilihatnya Seo Hyejin yang biasanya tiap hari sekolah terumatam di hari pertama masuk sekolah setelah weekend selalu menjadi orang paling sibuk di dalam klub mading, kini justru malah asik-asikan bermain dengan Yahoo Messenger lewat ponsel miliknya, melalui aplikasi ebuddy yang belakangan berhasil mengalihkan seluruh dunianya yang lain itu.

“Aigoo.. aku sungguh merasa menyesal rasanya sempat mencari-cari tahu soal si pria berinisial S-H itu pada si ‘pria busuk’ jika akhirnya ujung-ujungnya kau sendiri yang menemukannya dan malah membuatmu jadi kasmaran parah seperti ini..” lanjutnya dengan mimik dramatis. Jujur saja ia merasa sedikit sedih karena merasa kehilangan ketiga sahabatnya sekaligus dalam waktu yang berdekatan seperti ini dan itu semua karena pria.. Cheyoung dan Minho, Hyunjae dan Siwon. Dan kini? Hyejin dan Seunghyun??? Ups, anni.. dua maksudnya, Chaeyoung tak masuk hitungan karena sejak awal persahabatannya dengan Chaeyoung gadis itu sudah berstatus kekasih Choi Minho si kapten sepak bola. Tapi tetap saja ia merasa kesepian karena kini diantara mereka berempat hanya ia sendiri yang masih single??? Eommaaaaaaaaaaaa!!!

Hyejin antara mendengar dan tidak tampaknya justru cuek saja. Baginya selama ia tak menggangu aktivitas sekolah dan tak mengabaikan tugas lainnya yang harus ia kerjakan biarkan saja orang berkata apa.

Luna yang juga tampak senggang tanpa tugas rutin dari mading yang biasa dikerjakannya, hanya bisa terkekeh melihat kelakuan kedua sunbaenya itu.

“Ah.. sayang sekali Hyunjae tak ada disini.. kalau ada kan biasanya dia juga kena bulan-bulanan Ahra wkwk,” kekeh Hyerin yang kebetulan siang itu memlih untuk bersantai di ruang mading dari pada harus berkumpul dengan  teman-temannya yang berisik di kantin atau dengan teman-temannya yang lain yang terlalu fokus dengan ujian sehingga hanya mau bergaul dengan buku-buku pelajaran di perpustakaan atau tumpukkan soal latihan ujian di kelas.

“Benar sekali! Kemana bocah itu?? Bukankah dia yang bertanggung jawab untuk mengisi kolom cerita bersambung untuk lusa? Apakah ceritanya sudah selesai ia kerjakan?” cerocos Ahra begitu teringat soal cerbung karya Hyunjae yang biasa di muat di mading tiap sebulan sekali itu. Ia sungguh sudah sangat lama menantikan kelanjutan ceritanya, dan begitu teringat lusa adalah jadwal penayangan bulanan cerbung tersebut langsung saja ia jadi bersemangat dan tak sabar akan kelanjutannya.

Sementara itu, di atap gedung sekolah, orang yang sedang mereka semua bicarakan justru tengah duduk di salah satu bangku kayu panjang dengan kedua telinga tersumpal headset. Kedua mata gadis itu terpejam dengan posisi tubuh menyandar pada sandaran bangku. Semilir angin berhembus menyapu wajah dan anak-anak rambutnya yak tak ikut terikat tali kunciran yang dikenakannya.

Wajahnya terlihat damai. Damai sekali seolah tanpa beban. Namun di dalam hatinya siapa yang tahu bahwa gadis itu tengah memikul beban batin yang luar biasa?

Drtt..Drtt..

Ponsel yang terhubung dengan headset yang ia gunakan untuk mendengarkan alunan music ballada dari penyanyi favouritnya itupun bergetar, membuat dirinya tersadar dari lamunannya sejenak.

Panggilan masuk. Choi Siwon.

Gadis itu menatap layar ponselnya lekat. Ia menarik napas berat sebelum akhirnya menggeser slide ponsel miliknya tersebut.

“Yobseyo..”

~mrs.ChoiLee~

“Hey.. Kudengar dari gosip yang beredar katanya hari ini Victoria sunbaenim dan Siwon Oppa kembali dari Cina! Gyaaaaaaaaaaaa!!” pekik Sulli dengan hebohnya kepada kedua orang temannya yang lain, Krystal dan Hyejoon, yang kontan langsung dibalas pekikkan girang dari seluruh teman sekelas mereka yang juga turut mendengarnya.

Krystal yang selalu berlaku bagaikan leader –tak hanya disaat ketiganya berkumpul namun juga di kelas- langsung melemparkan tatapan tajam miliknya kepada seluruh teman sekelasnya yang ada disana untuk segera diam dan jangan berisik. Membuat semua orang yang ada disana langsung saja diam, namun tetap memperhatikan apa sekiranya lanjutan kabar yang akan disampaikan keponakan dari sang kepala sekolah itu.

“Tapi.. apa kau tahu gossip apa selanjutnya yang kudapatkan?” ia melirik kedua temannya yang balik menatapnya dengan tatapan penasaran itu bergantian.

Sulli mendengus pelan. Membuat keduanya saling melemparkan tatapan aneh mereka dengan kening berkerut.

“Kabarnya selama disana, Siwon dan Vic sunbaenim terlihat sangat akrab, dan beberapa orang bahkan menggosipkan kalau keduanya berkencan!” lanjutnya dengan nada setengah berbisik pada kedua temannya itu. Membuat Hyejoon terasa tercekat mendengarnya, sementara Krystal, diam-diam ia justru malah tersenyum meremehkan.

Dan tepat disaat itu, kedua mata besar Sulli menangkap bayangan Hyunjae yang melintas melewati kelas mereka dari balik jendela panjang yang menjadi sekat kelas mereka dengan lorong.

“Kasihan dia..” gumamnya tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari sosok Hyunjae yang sudah menghilang dari tatapannya.

Krystal yang mendengarnya malah tersenyum licik.

“Untuk apa mengasihaninya? Jika memang keduanya berpisah bukankah lebih bagus? Toh jika dia dibandingkan dengan Victoria sunbaenim jelas tak sebanding. Victoria jelas jauh lebih cantik dan menarik jika dibandingkan dengan seorang Kim Hyunjae. Dan yang jelas samapi kapanpun juga seorang pangeran  jelas tak akan pernah cocok bersanding dengan upik abu. Betul tidak?” ditatapnya Hyejoon yang duduk di hadapannya itu dengan tatapan mengintimidasi.

Hyejoon diam, tak bisa mengatakan apa-apa. Mau bagaimana? Hyunjae kakaknya, tak mungkin ia mengatakan ‘iya’ begitu saja disaat orang lain ada yang menjatuhkan nama kakaknya seperti itu apalagi sejak kejadian ‘lee taeseong’ waktu itu ia jelas merasa sangat bersalah sekali terhadap kakaknya itu, namun.. disisi lain ia juga agak setuju dengan ucapan Krystal. Hyunjae sampai kapanpun juga tak akan setara jika disandingkan dengan Choi Siwon. Karena baginya.. Hyunjae hanyalah seorang Upik abu.. dan hanya dialah yang cocok untuk menjadi sang puteri yang bersanding dengan seorang pangeran tampan bernama Choi Siwon. Hanya dia. Bukan Victoria, apalagi Kim Hyunjae.

Melihat pandangan mata Hyejoon yang tak lagi sama seperti sebelum ia memancingnya, Krystal tersenyum puas. Sejak dulu ia tahu Hyunjae da Hyejoon adalah kakak-beradik, dan sudah sejak lama pula ia mengetahui bahwa Hyejoon menyukai Choi Siwon, layaknya dirinya. Dan dengan begini.. ia harap pada akhirnya kedua kakak beradik itu pecah, dan Choi Siwon? Akan menjadi miliknya.

~mrs.ChoiLee~

@Big Hit Chicken

Kringg.. Kringg..

Suara dering lonceng pintu masuk restaurant tempat Ahra bekerja sore itu berdering nyaring, pertanda seseorang baru saja membuka pintunya.

“Annyeonghassimnikka~” sambut Ahra yang kebetulan bertugas menjaga kasir sore itu ramah begitu suara pintu terdengar.

“Oh, jadi disini tempatmu bekerja?” ucap seseorang yang kontan saja membuat senyuman ramah di wajah Ahra lenyap begitu saja tergantikan sebuah dengusan sebal begitu melihat beberapa orang pria berseragam ‘sekolah tetangga’ datang dan salah satu dari mereka menarik salah satu bangku untuk duduk disana. Disalah satu meja kosong di dekat kasir. Tepat menghadap kearahnya.

Ahra mendesis sebal, “Untuk apa kalian datang kemari?” ketusnya pada musuh bebuyutannya itu. Siapa lagi kalau bukan Lee Hongki? Namun sikap kurang sopannya itu buru-buru ia ubah kembali begitu sang manajer memelototinya dari balik pintu dapur, ditambah di hadapannya kini sudah ada salah seorang pelanggan yang mengantri untuk dicatat pesanannya.

Hongki tersenyum penuh kemenangan begitu  dilihatnya sosok Ahra tampak tak berkutik di bawah pengawasan atasannya seperti itu.

“Tenang saja Ahra-ssi, kami kemari bukan untuk mengganggumu tapi hanya untuk mengisi perut kami yang keroncongan setelah latihan yang kami lakukan disana..” tunjuk Jonghoon yang tahu-tahu sudah berada di depan kasir kearah salah satu bangunan bertingkat dua yang berada tepat diseberang  dengan dagunya. Ahra mengangguk-angguk paham. Jujur saja dalam hatinya mau mengomel dan mengatakan ‘Kan masih ada kedai lain, untuk apa juga kemari??’ tapi sayangnya ia tak punya nyali untuk mengatakannya terlebih sang manajer masih terus melotot kearahnya, bisa-bisa nanti jika ia mengatakan hal itu ia malah langsung dipecat saat itu juga lantaran mengusir pengunjung yang berniat baik meningkatkan pendapatan restaurant dengan cara yang tidak hormat! Lagi pula diantara kelima orang yang datang kemari saat itu hanya Lee Hongki yang selalu cari gara-gara terhadapnya sementara yang lain tidak.

Jonghoon, si pria tampan nan menawan yang berdiri dihadapan ini saja contohnya, meski tampan ia justru sangat sopan. Paling sopan diantara kelima pria itu, dan lagi ia juga tidak sombong dan bertingkah.

Minhwan? Si pria bermata sipit nan imut yang kini tampak ‘mupeng’ berat melihat katalog menu ayam goreng itu juga sama saja sepertinya. Ia lucu dan menggemaskan. Tak ada masalah baginya.

Jaejin? Si pria kurus berambut pirang yang kini tampak tengah membenahi isi tas bas yang dibawanya juga meski terlihat konyol dia juga baik hati dan sopan.

Seunghyun?? Oo.. Jangan ditanya.. meski ia emosi berat lantaran telah membuat Hyejin seolah punya ‘dunia lain’ di antara dunia-dunianya yang lain dan juga dirasa nyaris melupakan dirinya, ia juga sama sekali tak ada masalah dengan Seunghyun. Yang ada nanti jika ia cari gara-gara dengan pria jangkung itu, persahabatannya dengan Hyejin justru nanti yang ada malah bermasalah. Jadi ya, mau tak mau dia juga harus menghargai kehadiran Seunghyun.

Jadi, sejauh ini kelima alasan tadi –termasuk karena resiko pemecatan dirinya dari sang atasan- itulah yang memberatkan dirinya untuk akhirnya tetap menahan diri agar tidak mengusir seorang Lee Hongki.

“Ya.. Ya.. Baguslah kalau begitu,” ucap Ahra pada akhirnya. “Kalau begitu cepat order pesanan kalian karena masih ada beberapa orang lagi yang mengantri dibelakangmu,” tunjuk Ahra kearah beberapa orang yang sudah mengantri dibelik punggung Jonghoon dengan bibirnya.

Jonghoon yang paham langsung saja memesan beberapa jenis minuman ringan dan porsi ayam yang ditawarkan untuk mereka berlima, sebelum akhirnya membayar semuanya dengan kartu kredit dari dalam dompet kulit cokelat miliknya yang ia simpan di dalam saku belakang celana kain seragam miliknya.

Ahra masih tak bisa menegedipkan matanya begitu tadi tanpa sengaja kedua matanya menangkap berbagai macam jenis kartu dan beberapa lembar uang dari dalam sana. Dan keterkejutannya semakin bertambah tatkala Hongki –yang sejak tadi mengamati tingkahnya dari tempat duduknya- mengatakan bahwa seluruh kartu yang ada di dalam dompet Jonghoon barusan adalah kartu kredit tanpa batas.

“Lalu apakah setelah kau melihat isi dompetnya kau malah tertarik untuk menggodanya sekarang?” celetuk Hongki dengan nada sinisnya saat Ahra yang kebetulan sedang menganggur di balik meja kasir menghampiri meja mereka berlima untuk mengantarkan juice pesanan mereka yang baru saja jadi.

Ahra yang sudah menahan emosinya sejak tadi sekali lagi mencoba bersabar meski kenyataannya emosinya sudah sampai di ubun-ubun kepala dan ia yakin saat tiba masa ledakkannya nanti akan jauh lebih dahsyat dari ledakkan bom di Hiroshima ataupun Nagasaki saat perang dunia ke-dua meletus beberapa puluh tahun yang lalu.

Ia hanya bisa mendesis kesal dan memicing tajam kearah namja yang menurutnya paling menyebalkan didunia tersebut.

“Cepat kalian makan dan pergi segera dari sini,” desisnya dengan nada tertahan.

“Mwo?” tanya Hongki dengan tampang polosnya. “Barusan kau mengatakan ‘Cepat kalian makan dan pergi segera dari sini?’ apakah aku harus memberitahukan kepada atasanmu mengenai hal ini??” ancamnya. Membuat Ahra melotot kearahnya. Rasanya ia baru saja akan menelan pria itu hidup-hidup jika saja sang manajer tidak memanggilnya untuk segera kembali ke meja kasir karena ada pelanggan.

“Aishhhh!! Awas kau Lee Hongki!!!” desisnya sekali lagi begitu berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya. Kontan saja Hongki langsung meledakkan tawanya yang nyaring begitu mendengar desisan Ahra yang hanya bisa gadis itu ucapkan dengan nada dan emosi tertahan seperti itu.

~mrs.ChoiLee~

Di salah satu meja, disebuah pusat perbelanjaan di daerah Gangnam, seorang gadis tampak duduk dengan secangkir cokelat hangat yang asapya samar-samar masih terlihat mengepul. Di sampingnya, dibangku yang terletak tepat disebelah kanannya, terdapat sebuah boneka teddy bear berukuran 1 meter didudukkan menyandar kesamping jendela besar yang mengelilingi hampir 50% bangunan Kafe.

Dihadapannya, tampak seorang pria duduk sambil menyesap segelas Americano pesanannya dengan raut wajah bahagianya. Tampak sedikit kontras dengan gadis dihadapannya yang justru terlihat biasa saja.

“Bukankah boneka itu lucu?” Hyunjae melirik Siwon, kekasihnya dari balik cangkir yang sedang ia nikmati isinya itu sebentar, “Saat berada di Cina aku bingung harus membelikanmu apa, tapi Victoria mengatakan bahwa saat tidur kau itu harus memeluk sesuatu baru bisa tertidur, jadi saat melewati toko teddy bear langsung saja aku membelikan itu untukmu. Lumayan kan disaat tak ada aku kau bisa menganggap boneka itu adalah aku setiap kali kau akan berlabuh ke alam mimpi,” terang Siwon dengan nada bicara yang kentara sekali sangat antusias. Berbeda dengan namja itu, kekasihnya justru tampak mengeraskan wajahnya begitu nama teman sekamarnya disebut.

Bagaimana tidak? Sudah seminggu mereka berpisah, dan selama itu pula ia selalu mendapatkan kiriman kabar yang bahkan disertai bukti kedekatan antara kekasihnya itu dengan Victoria, teman sekamar sekaligus gadis yang belakangan ia ketahui dari Eunhyuk adalah wanita idaman Siwon sejak ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Dan kini, disaat mereka sedang berdua pria itu malah menyebut-nyebut nama gadis itu. Jeongmal!

“Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?” tanyanya karena tak mendapat respon dari Hyunjae.

Gadis itu melirik boneka disampingnya dan wajah Siwon bergantian lalu tersenyum tipis. “Joha,” hanya itu yang keluar dari mulutnya, namun sukses membuat Siwon tersenyum lebar.

Setelah beberapa saat keduanya menghabiskan waktu bersama akhirnya Siwon yang bertubuh lebih atletis dari Hyunjae –tentu saja- dengan gentlenya menggendong teddy bear pemberiannya dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya lagi menggengam sebelah tangan gadisnya dan mengantarkan mereka berdua masuk kedalma Ferari merah andalannya untuk kemudian ia antarkan ke asrama Julliet.

“Mimpi yang indah,” ujarnya dengan diakhiri sebuah senyuman manis begitu Hyunjae yang sudah berdiri memeluk boneka pemberiannya di depan pintu masuk Julliet melambaikan sebelah tangan kearahnya.

Gadis itu hanya mengangguk samar dan membiarkan pria itu berlalu dari hadapannya, tanpa sekalipun membalas ucapan manis sang kekasih.

“Jika memang tak seperti yang diharapkan sepertinya kita harus kembali berjalan dalam realita..” gumamnya, menatap lurus wajah si Mr. Teddy yang terlihat sayu dalam dekapannya.

“Hyunjae hakseng!” panggil sebuah suara begitu gadis itu baru akan menaiki anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai 2. Mendengar namanya dipanggil, ia pun berbalik dan langsung membungkuk sopan begitu dilihatnya sosok Jia, sang kepala asrama sekaligus dokter klinik Julliet sudah berdiri dihadapannya.

“Apa kau ada waktu?” tanyanya.

Gadis itu mengerutkan kening, bingung. Untuk apa sang kepala asrama memanggilnya di malam selarut ini? Padahal selama ini ia bahkan tak yakin kalau kepala asramanya itu bahkan mengingat namanya.

“Sebentar saja. Bagaimana?”

Gadis itu tampak menimbang-nimbang. Rasa lelah dan kantuk yang menderanya saat ini sebenarnya sudah sangat membuatnya ingin sekali berlari kekamar dan tidur, tapi pada akhirnya ia malah mengangguk setuju dan kini keduanya sudah duduk di atas sofa ruang kerja Jia yang ada di lantai 1.

“Hyunjae hakseng, sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakan hal ini kepadamu..” Jia menatap lurus anak muridnya itu. Kedua tangannya tampak menggenggam erat gelas plastik berisikan kopi yang baru saja dibuatnya untuk ia dan anak didiknya itu.

Dahi Hyunjae mengerut. Bingung. Apa maksudnya? Tak mungkinkan saat ini gurunya itu akan menyatakan cinta kepadanya??

Jia menarik napas sejenak. “Kau tidak berpikiran bahwa aku menyukaimu kan? Hahaha,” celetuknya seolah bisa membaca pikiran Hyunjae. Membuat gadis itu terkekeh salah tingkah.

“Ada apa ssaem? Jika ada sesuautu katakan saja, tak usah ragu.”

Jia sekali lagi menatap anak muridnya itu. Kali ini pandangannya tampak ragu, namun akhirnya ia sekali lagi menarik napas berat.

“Begini.. Bukan maksudku untuk turut mencampuru urusanmu tapi hal ini sepertinya perlu kau ketahui.”

Hyunjae menatapnya lurus.

Jia diam. Ia gamang, apakah ia harus mengatakannya atau tidak.

“Begini.. ini semua tentang kau, Siwon, dan Victoria..”

~mrs.ChoiLee~

Ckiittt…

BRAKK!!

“YAK!” pekik seorang pria emosi saat sepedah yang dikendarainya tiba-tiba saja ditabrak oleh sebuah mobil yang sepertinya akan parkir mundur. Merasa dirinya dirugikan akibat tingkah sipengendara yang tak hati-hati, langsung saja ia meminggirkan sepedahnya dan mengetuk jendela samping kemudi untuk menceramahinya agar lebih berhati-hati lagi.

“Buka!” pekiknya dengan nada berat. Raut wajahnya terlihat sangat kesal dan tak bersahabat.

Dari dalam mobil, di balik bangku kemudi, seorang gadis tampak panik begitu dirasakannya tadi bemper belakang mobilnya terdengar menabrak sesuatu begitu ia memundurkan mobilnya untuk kemudian keluar dari parkiran salah satu pusat pertokoan di Seoul tersebut, ditambah kini seorang pria tak dikenal malah mengetuk-ngetuk jendela mobilnya dengan nada emosi.

“Eomma.. ottohke??” gumamnya gemetaran.

“Buka cepat!” ketuk pria itu lagi tak sabaran.

Hyejin, yang tak lain adalah pemilik dari mobil itu, jantungnya sudah terasa kebat-kebit tak karuan. Ini adalah pertama kalinya ia mengendarai mobil sendirian sejak resmi mendapatkan SIM. Tapi apa yang terjadi sekarang? Ia malah menabrak sesuatu Omonaaaaaaaaaaaaa..!!

Dengan nyali yang susah payah ia pertahankan pada akhirnya ia beranikan diri untuk membuka pintunya dan keluar dari dalam mobilnya yang nyaman.

Pria sangar yang tadi mengetuk-ngetuk kaca mobilnya tampak memperhatikan dirinya lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan kemudian mendesis sinis. Membuatnya merasa ketakutan setengah mati.

“Nona muda rupanya, pantas saja!” sinisnya.

Hyejin yang tak mengerti langsung memperhatikan penampilannya sendiri. Lalu menggigit bibir bawahnya. Pria itu pasti salah paham. Saat itu Ia memang baru saja pulang dari acara ulang tahun salah seorang kerabatnya, jadi tak salah kan jika ia mengenakan mini dress, clutch, dan sepatu hak tinggi?? Namun sayangnya pria di hadapannya ini pasti mengira bahwa dirinya adalah seorang “nona mida” nan manja yang baru akan pulang sehabis menghamburkan uang orang tuanya dengan penampilan keseharian yang menurut beberapa orang heboh seperti ini.

“Josonghamnida.. Ini pertama kalinya aku menyetir sendirian di malam hari, maaf sekali lagi karena ketidak hati-hatianku..” ucapnya tulus. Namun pria itu malah bedecak. Diliriknya sepeda pria itu dan bemper belakang mobilnya yang tampak baik-baik saja bergantian.

“Tolong tunggu sebentar..” gadis itu kembali masuk kedalam mobilnya, membongkar seluruh dashbor dan clutch miliknya, mencari sesuatu dan kemudian kembali menghampiri pria itu lagi setelah menemukannya.

“Sepertinya sepedah dan dirimu baik-baik saja, namun jika terjadi apa-apa silakan hubungi saja nomor dibawah ini..” ia menyerahkan secarik kartu nama berwarna gold dengan beberapa aksen hiasan dipinggirannya pada pria yang malah kini memandangnya dengan tatapan horor itu. “Ini kartu namaku, dan nomor yang tertera disana adalah alamat rumah dan sekolahku.”

“Kau murid Julliet?” tanyanya dengan nada tak percaya saat dilihatnya kartu nama yang warna dan bentuknya tak asing baginya itu.

“Eh? Darimana kau tahu?”

“Astaga..” gumamnya sebelum pada akhirnya pria itu malah berbalik pergi meninggalkan Hyejin yang masih mematung ditempatnya dengan sepedahnya.

“Yatuhann kenapa sekolah itu berisikan orang-orang mengerikan seperti itu???” dengusnya dalam hati seraya menggoes sepedahnya, menjauh pergi dari hadapan Hyejin.

TBC

 Gyaaaa hahahaha annyeonghassaeyo yeorobeundeul~ sudah lamaaaa sekali tak bersua! Kkkk

Maap yaaa soalnya kemarin” ini lagi gda mood buat nulis.. tapi sekalinya ada idenya malah ga ada..

HAHAHA : P

Gilaa sumpah udah berapa bulan ini blog dibiarkan terlantar LOL

Hayoohh tapi kini saya kembali dengan cerita baruu dan ada konflik serta pemeran yang sudah lama saya sembunyikan haha

Comment yaa 😛

Iklan

11 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 8

  1. eon agak dipanjangin dong kekekeke
    apa yg dibicaraain jia ya, penting bget?
    min, hongki suka thu kekekek #[letak dijitak min >< knap jga hyejoon gag bisa nerima hyunjae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s