HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 9

*back song: JOO – Turn around*

“Hyunjae hakseng!” panggil sebuah suara begitu gadis itu baru akan menaiki anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai 2. Mendengar namanya dipanggil, ia pun berbalik dan langsung membungkuk sopan begitu dilihatnya sosok Jia, sang kepala asrama sekaligus dokter klinik Julliet sudah berdiri dihadapannya.

“Apa kau ada waktu?” tanyanya.

Gadis itu mengerutkan kening, bingung. Untuk apa sang kepala asrama memanggilnya di malam selarut ini? Padahal selama ini ia bahkan tak yakin kalau kepala asramanya itu bahkan mengingat namanya.

“Sebentar saja. Bagaimana?”

Gadis itu tampak menimbang-nimbang. Rasa lelah dan kantuk yang menderanya saat ini sebenarnya sudah sangat membuatnya ingin sekali berlari kekamar dan tidur, tapi pada akhirnya ia malah mengangguk setuju dan kini keduanya sudah duduk di atas sofa ruang kerja Jia yang ada di lantai 1.

“Hyunjae hakseng, sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakan hal ini kepadamu..” Jia menatap lurus anak muridnya itu. Kedua tangannya tampak menggenggam erat gelas plastik berisikan kopi yang baru saja dibuatnya untuk ia dan anak didiknya itu.

Dahi Hyunjae mengerut. Bingung. Apa maksudnya? Tak mungkinkan saat ini gurunya itu akan menyatakan cinta kepadanya??

Jia menarik napas sejenak. “Kau tidak berpikiran bahwa aku menyukaimu kan? Hahaha,” celetuknya seolah bisa membaca pikiran Hyunjae. Membuat gadis itu terkekeh salah tingkah.

“Ada apa ssaem? Jika ada sesuautu katakan saja, tak usah ragu.”

Jia sekali lagi menatap anak muridnya itu. Kali ini pandangannya tampak ragu, namun akhirnya ia sekali lagi menarik napas berat.

“Begini.. Bukan maksudku untuk turut mencampuri urusanmu tapi hal ini sepertinya perlu kau ketahui.”

Hyunjae menatapnya lurus.

Jia diam. Ia gamang, apakah ia harus mengatakannya atau tidak.

“Begini.. ini semua tentang kau, Siwon, dan Victoria..”

BRAKKKK!!

DUARRR!!

 Tiba-tiba sebuah debuman keras disertai suara ledakkan dahsyat terdengar jelas, membuat keduanya saling berpandangan. Tanpa berkata apapun mereka langsung melesat keluar, mencari tahu asal dari sumber suara yang lumayan memekikkan telinga itu.

Hyunjae membelalakkan kedua mata besarnya lebar-lebar ketika dilihatnya dari depan asrama kepulan asap hitam keluar dari salah satu gedung sekolah, entah Julliet atau Romeo, ia tak dapat memastikannya dengan jelas karena suasana yang gelap, terlebih angin malam yang telah tercampur debu kini mulai menyesakkan pernapasannya.

“Ige mwoya?” gumam salah seorang gadis seolah tak percaya akan apa yang ia lihat saat ini.

Hyunjae menoleh. Dapat dilihatnya dengan jelas seluruh penghuni kedua asrama, baik Julliet maupun Romeo, kini sudah berkumpul menjadi satu di lahan kosong depan asrama dengan pakaian seadanya yang mereka kenakan saat akan beranjak tidur untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Jia sonsaeng, ada apa ini?” tanya Heechul, si ketua asrama Romeo begitu dilihatnya sosok Jia, rekan kerja sekaligus temannya itu sudah berdiri paling depan diantara kerumunan siswa-siswi lainnya. Sebagian wajahnya ia tutupi dengan sapu tangan. Angin malam yang telah tercampur debu malam itu selain telah mengganggu pernapasannya juga dirasa akan merusak hasil perawatan wajah yang rutin ia jalani selama ini.

Jia yang sebenarnya penasaran dan ingin sekali berlari mencari tahu keadaan yang sebenarnya itu langsung mengurungkan niat saat dilihatnya Heechul berdiri disampingnya.

“Nan molla, tadi aku sedang diruanganku,” jawabnya seadanya. “Heechul-sonsaeng, kau kan pria, coba kau kesana dan cari tahu apa yang terjadi.”

“MWOYA!? SHIREO!” tolaknya langsung. “Kalau mau kau saja yang kesana. Biaya perawatan wajahku ini lebih mahal dari gajiku perbulan disini tahu, nanti kalau aku kesana dan terkena debu lalu wajah cantikku ini iritasi bagaimana hayo? Siapa yang mau tanggung jawab? Kau? Ayahmu? Atau Kakekmu?” lanjutnya dengan nada horror. Jia menggeleng-gelengkan kepalanya, berdecak tak habis pikir akan kelakuan teman kerjanya itu.

Hyunjae yang sejak tadi berdiri diantara mereka terlihat kebingungan, dan lebih memilih untuk lebih baik dirinya kembali ke asrama saja. Namun baru saja ia beranjak, ponsel yang masih berada di dalam tas miliknya berbunyi, membuat langkahnya terhenti dan langsung mengeluarkannya dari dalam tas.

Panggilan masuk.

Nomor tak dikenal.

Dahi gadis itu kemudian mengerut. Namun tanpa pikir panjang di gesernya slide ponselnya itu.

“Yoboseyo?”

“Ne, ini Kim Hyunjae. Nuguseyo?”

“…”

“Oh, ye, annyeonghaseyo ahjuma, ada yang bisa ku bantu?”

“…..”

 NGUIINGG NGUIING NGUINGG

Tepat disaat itu terdengar suara sirine rombongan mobil polisi, ambulance, serta pemadam kebakaran yang sepertinya baru tiba di lingkungan Romeo-Julliet, karena meskipun jarak antara gedung sekolah dan asrama lumayan jauh, namun suaranya tetap dapat terdengar dengan jelas. Membuat gadis itu mau tak mau harus segera menjauh dari sana agar dapat menangkap pembicaraan lawan bicaranya di seberang telepon dengan jelas.

“Mianhamnida, ahjumma. Bisa diulangi? Sangat berisik sekali disini,” jelasnya terus terang.

“…”

“M-MWO??”

“…”

Gadis itu terhenyak. Tangan kanannya yang semula memegangi ponselnya di depan telinga terhempas begitu saja. Kabar buruk. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang??

Namun, tak sejalan dengan otaknya yang masih memikirkan bagaimana langkah yang harus ia lakukan saat ini, kedua kakinya justru telah menuntunnya untuk berlari, kembali ke tengah kerumunan, mencari seseorang yang harus ia temui saat ini.

Lee Donghae. Dimana pria itu???

~mrs.ChoiLee~

Seorang namja terlihat terduduk lemas seorang diri di atas salah satu anak tangga sebuah gedung bertingkat. Penampilannya tampak sedikit berantakan. Wajahnya tertutup kedua tangannya sendiri yang memeluk lututnya erat. Deru nafasnya ditilik dari getaran tubuhnya terlihat tak beraturan.

Namja itu seorang diri. Benar-benar sendiri, kontras sekali jika dibandingkan dengan gerombolan orang yang tengah berkerumun tak jauh dari tempatnya saat ini.

Sementara itu, seorang gadis terlihat tengah kelimpungan berjalan kesana-kemari mencari sesuatu hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah gedung bertingkat yang berada tak jauh dari asramanya berada.

Tak seperti teman-temannya yang lain yang justru berlarian kearah kerumunan, gadis itu justru terlihat seolah mematung. Kedua manik matanya menatap lekat sosok namja yang tampak kesepian tersebut dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.

Cukup lama gadis itu tetap dalam posisinya, hingga perlahan entah dengan atau ia sadari langkah kakinya menuntun dirinya untuk mendekat dengan perlahan sampai akhirnya tahu-tahu ia sudah berdiri tepat dihadapan namja yang masih duduk menunduk menutupi wajahnya tersebut.

Pria dihadapannya itu tampak sangat rapuh. Ia tahu betul apa yang terjadi padanya dan ia yakin sekali jika ia yang berada di posisinya saat ini ia pasti sudah menangis meraung-raung, bukan sekedar terisak dalam diam seperti itu.

“Aboeji..” rintihnya samar karena tertutupi oleh suara sesenggukkan yang sesekali membuat tubuh namja itu bergetar hebat.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bingung harus berbuat apa. Mendengar suara lirih temannya yang biasanya selalu ceria itu membuatnya merasa sedih.

“Donghae-ya..” ditepuknya pundak namja itu pelan. Donghae mendongak. Tak sepenuhnya, hanya matanya saja yang terlihat, namun gadis itu dapat memastikan bahwa kedua mata namja itu bengkak dan memerah akibat air mata yang terus menerus keluar membasahi wajah tampannya.

Sadar yang menepuknya adalah teman terbaik sekaligus orang yang ia anggap sebagai sahabatnya, pria itu langsung bangkit dan memeluk gadis itu erat.

“Hyunjae-ya.. Aboeji.. nae aboeji..” isak namja itu dalam pelukkanya.

Dan tanpa keduanya ketahui, diam-diam ada orang lain yang menyaksikan hal ini dari kejauhan.

~mrs.ChoiLee~

“Yap, seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, mulai saat ini hingga perbaikan gedung SMA Romeo selesai diperbaiki, maka akan ada sedikit perubahan dalam hal struktural kelas dan kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Maka mohon bantuannya hingga setidaknya semester ini berakhir…”

Di depan podium aula SMA Putri, Julliet, Sandara Park, sang kepala sekolah Julliet tengah memberikan pidato paginya di hari pertama minggu itu. Tak seperti biasanya yang selalu singkat padat dan jelas, kali ini ‘apel’ pagi itu bisa dibilang memakan waktu yang cukup lama, karena tak hanya beliau saja yang memberikan ‘petuah’ melainkan juga Park Jungsoo, selaku kepala sekolah SMA Putra Romeo juga turut menyampaikan ‘petuah’-nya pagi itu.

Seluruh siswa-siswi Romeo maupun Julliet tampak khidmat memperhatikan pidato-pidato yang disampaikan dalam suasana hening yang begitu kental terasa.

Apel pagi ini memang berbeda.

Dan sejak hari itu dimulai, semuanya  berubah.

~mrs.choilee~

“AISHHH JEONGMAAAAAAAAAAAAAAAAAALLL!!!” Ahra megacak-acak rambutnya frustasi begitu Hwang Jung Uhm, wali kelasnya menunjuk Lee Hongki untuk menjadi teman sebangkunya selama sisa satu semester kedepan. Sementara si namja yang menurutnya tengil itu malah dengan gaya –yang menurutnya- sok cool-nya langsung menghampiri meja kosong disebelah tempat duduknya kemudian duduk tepat disampingnya sambil  sibuk mengunyah permen karet.

“Apa?” tanya pria itu dengan senyum nakalnya. Membuat Ahra semakin frustasi dibuat olehnya.

“Ya tuhan.. apa dosa hambamu ini padamu???” ringis Ahra.

~mrs.ChoiLee~

Sejak kejadian ledakkan yang terjadi di gedung pembelajaran SMA Romeo beberapa hari yang lalu, keadaan sekolah memang menjadi carut marut! Semua kegiatan belajar-mengajar dikedua sekolah dihentikan selama beberapa hari, dan seluruh siswa yang tinggal di asramapun langsung dipulangkan demi keamanan.

Selama beberapa hari itu sekolah benar-benar ditutup, apalagi saat diketahui bahwa ledakkan itu bukan sebuah ledakkan biasa melainkan ledakkan bom, satuan tim kepolisian serta gegana pun segera melakukan penyisiran di semua titik lokasi yang berada di kawasan R-J High school tersebut.

Akibat dari peristiwa itu, gedung SMA Romeo benar-benar rusak parah! Beruntung bagian kantor kepala sekolah, ruang guru serta kantor arsip yang kebetulan terletak berdekatan itu tak terkena imbas yang begitu parah sehingga  data-data penting masih bisa diselamatkan. Dan demi kelancaran belajar mengajar akhirnya diputuskan bahwa untuk sementara waktu seluruh kegiatan belajar-mengajar Romeo akan di lakukan di gedung Julliet, dan selama itu pula Romeo dan Julliet dalam segala kegiatannya akan disatukan di bawah kepemimpinan Sandara Park, sementara Park Jungsoo akan memfokuskan diri dalam proses perbaikan Romeo.

~mrs.ChoiLee~

“…stt..  itu kan si pria bengal dari Romeo yang tak naik kelas 2 kali itu, kan?” bisik salah seorang gadis begitu dilihatnya seorang pria jangkung perpenampilan sedikit urakkan memasuki kelas mereka dengan tangan kanannya memegangi tali ransel yang menyampir disalah satu pundaknya, sementara tangan satunya sibuk menekan-nekan tombol pada layar ponselnya.

“Iya. Dia si TOP, dan dia bukan tinggal kelas sebanyak 2 kali, tapi 3 kali! Dan kudengar kali ini jika ia kembali tinggal kelas ia akan resmi di DROP-OUT dari sekolah,” jelas temannya dengan suara tak kalah kecilnya sembari mengibaskan sebelah tangannya di depan lehernya sendiri seolah akan memotong lehernya.

TOP yang sejak awal sadar bahwa seisi kelas 2-3 sibuk membicarakan sosoknya tampak santai saja. Baginya sudah tak asing lagi diperlakukan seperti ini. Ia sudah sangat kebal.

Pria itu tampak menghentikan langkahnya, menatap sekeliling kelas bercat kuning gading yang mayoritas berisikan gadis-gadis itu sebentar, membuat semua yang ada di dalam ruangan itu sontak terdiam. Ketakutan. Dan sekali lagi pria itu tampak tak peduli dan kembali melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja di barisan pojok paling belakang,  melemparkan ransel yang dibawanya asal ketas meja tersebut asal lalu duduk disalah satu bangkunya dan menaikkan kedua kaki panjangnya ke atas meja. Tak mempedulikan tatapan semua penghuni kelas yang lagi-lagi tampak membicarakannya.

“Hey.. itu kan bangku Hyejin. Bagaimana ini??” ucap salah satu siswi yang duduk di barisan depan pada teman sebangkunya.

“Aigoo, entahlah. Biarkan saja.”

~mrs.ChoiLee~

“Hmphmm..” Hyunjae hanya bisa mendesah, pasrah, begitu teman sebangkunya, Chaeyoung, membereskan semua barang-barangnya yang ada di meja mereka dan memutuskan untuk pindah ke bangku paling belakang dimana kekasihnya, Choi Minho, yang kebetulan dimasukkan ke dalam kelas mereka berada.

Diliriknya sekilas kearah belakang. Dan sekali lagi ia hanya bisa mendesah begitu mendapati Chaeyoung terlihat sedang asik bermanja-manja ria bersama Minho yang diikuti tatapan iri dari para gadis-gadis teman sekelas mereka juga dari beberapa murid kelas lain yang ikut menintip dari arah pintu dan lorong melalui jendela.

Diliriknya sekeliling kelas, dan ia hanya bisa mendumel dalam hati saat menyadari nyaris semua teman sekelasnya sudah mendapatkan teman sebangku baru mereka dari Romeo.

“Ige mwoya?” ia mengerucutnya bibirnya kesal.

Ding.. Dongg.. Ding.. Dong..

Bel sekolah berdering dengan nyaringnya, menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai sesaat lagi. Hyunjae memandang kearah bangku kosong yang ada disebelah kanannya dengan pandangan miris.

Jika sampai jam pelajaran dimulai ia masih duduk sendirian seperrti ini, apakah itu tandanya ia harus duduk sendirian selama sisa semester kedepan?

Hauftt..” gadis itu lagi-lagi mendesah hebat. Kepalanya sudah tertunduk lemas.

Dalam hatinya ia berjanji, jika ia mendapatkan teman sebangku, ia akan memberikan hasil masakannya pada saat pelajaran tata boga nanti kepada Siwon, kekasihnya, sekaligus berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Siwon yang mendadak terasa ‘dingin’ akibat ulah dirinya sendiri yang merasa cemburu karena gossip mengenai Siwon dan Victoria yang beredar belakangan ini padahal ia sama sekali tak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri dan menanyakan langsung kepada para saksinya. Terlebih dirasanya sikap Siwon padanya pun cenderung masih sama seperti awal mereka berkencan.

“Aku benar-benar berjanji!” batinnya penuh dengan pengharapan. Kedua matanya terpejam, sementara jari di kedua tangannya saling bertautan erat di depan wajahnya. Memohon dengan sungguh-sungguh.

 “Bolehkan aku duduk disini?” ucap sebuah suara dengan nada beratnya, membuat gadis itu sedikit terhenyak. Ia lantas tersenyum bahagia ketika didapatinya sesosok pria berambut cokelat tua berseragam Romeo tengah berdiri disamping mejanya.

“Ne?” Pria itu tersenyum.

“Bolehkah aku duduk disini?” ulangnya, “semua bangku yang ada di kelas ini penuh dan hanya bangku ini saja yang kosong. Boleh?” lanjutnya. Hyunjae yang memang tak mau duduk sendirian langsung saja meng-iya-kan, yang jelas saja disambut senang pria itu.

“Perkenalkan namaku, Kim Hyunjae,” senyum gadis itu bahagia seraya mengulurkan tangannya.

“Namaku Yesung. Kim Yesung,” balas pria itu, menjabat erat tangan Hyunjae yang sudah terlebih dahulu terulur, ramah.

~mrs.ChoiLee~

@Mading Julliet

“Jadi kau duduk dengan si preman dari Romeo itu????” pekik Ahra dengan hebohnya begitu Hyejin yang kini tengah sibuk memeriksa bahan-bahan yang akan naik tayang lusa, sempat mengatakan bahwa ia sebangku dengan T.O.P, dan lagi Cho Kyuhyun, guru matematikanya, juga sempat memintanya untuk menjadi tutor bagi T.O.P sampai pria itu berhasil naik kelas.

Hyejin hanya mengangkat bahu, seolah tak peduli.

“Aishh.. kenapa bangunan Romeo yang di bom, malah kita yang kena imbas begini sih?? Aku kan jadi benar-benar sial lantaran harus duduk sebangku dengan si namja tengik itu….!!” gerutu gadis itu dengan raut wajah merana.

Hyejin melirik temannya itu sebentar lalu tersenyum penuh arti. Ahra yang sibuk menggerutu terang saja tak menyadari sama sekali bahwa temannya itu tak bisa menahan senyumnya di balik layar laptop kesayangannya. Terlebih ketika dilihatnya siluet beberapa orang namja berseragam Romeo tengah berjalan masuk kedalam ruangan yang di depan pintunya jelas-jelas bertuliskan peringatan DILARANG MASUK  tersebut.

“Siapa yang tengik?” sebuah suara kontan Ahra melotot, kaget. Lee Hongki beserta ketiga temannya masuk ke dalam ruangan mereka dan langsung berpencar melihat-lihat sekeliling ruangan yang tak bisa dikatakan besar tersebut.

Jaejin yang memang sedikit tertarik dalam bidang jurnalistik itu langsung saja mengambil beberapa bahan mading yang baru saja selesai di print dan membacanya sambil duduk diatas meja kerja panjang yang ada di ruangan itu. Tanpa mempedulikan kelakuan hyung-nya yang tampak asik mengerjai Ahra.

Minhwan, si ‘magnae’ yang memang maniak sekali dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ayam langsung saja berlarian girang ke sudut ruangan begitu dilihatnya di atas nakas terdapat sekotak ayam goreng yang sepertinya masih ‘berisi’ dan langsung membuka serta melahap isinya tanpa ijin.

Melihat raut wajah Ahra yang sudah seperti orang tercekik membuat Hongki tersenyum nakal. Di dekatinya gadis itu, di dekati wajahnya tepat kehadapan wajah Ahra lalu tersenyum sungging sementara tatapan matanya tampak menatap lurus kedalam mata cokelat gadis dihadapannya yang justru malah balas menatapnya galak.

“Kenapa, huh? Kau yang tengik, memangnya kenapa? Apa aku salah?” tantangnya.

“Aishh kau ini!!”

Seunghyun dan Hyejin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka tak habis pikir akan kelakuan sepasang manusia tersebut. Mereka lebih memilih untuk tidak mengacuhkannya dari pada membuat sakit kepala, dan malah asyik berbincang berduaan di balik meja kerja Hyejin.

“Akhir minggu ini kau ada acara?” tanya Seunghyun disela-sela kegiatannya membantu Hyejin untuk mengedit ulang sebuah artikel yang terpampang di layar laptop. Hyejin yang sebenarnya merasa otaknya sudah mau pecah gara-gara harus mengedit artikel yang seharusnya adalah pekerjaan Hyunjae, sahabatnya yang kini justru sibuk sendiri itu, tampak tak memperhatikan pertanyaan namja yang belakangan ini dekat dengannya itu, jika saja Seunghyun tak menyenggol tangannya dan mengulangi pertanyaannya.

“Eobseoyo. Akhir minggu ini aku bebas,” jawabnya diakhiri dengan senyuman yang meskipun samar dapat membuat namja disampingnya itu merasa seperti mendapatkan sengatan listrik.

“Err.. Minggu  ini kita kencan. Bagaimana?” tanya dengan sambil menahan detak jantung yang semakin berdebar kencang.

Hyejin menatapnya cukup lama, namun akhirnya ia mengangguk setuju. Membuat namja itu semakin girang saja dibuatnya.

~mrs.ChoiLee~

@Ruang tata boga, Julliet SHS

Hyunjae tampak dengan serius mempraktekkan langkah-langkah yang sebelumnya diajarkan oleh guru masaknya di depan kelas. Mengadon kue, memasukkanya kedalam oven, lalu membuat hiasan, semua ia lakukan dengan hati-hati. Kali ini ia tak boleh gagal layaknya pelajaran memasak yang sebelum-sebelumnya yang akhirnya selalu gagal dan membuatnya mendapatkan nilai di bawah rata-rata untuk pelajaran itu.

Kali ini ia benar-benar tak boleh gagal, karena demi memenuhi janjinya tadi pagi, hasil masakannya yang berupa kue tart pada hari ini akan ia berikan kepada Siwon. Jadi, tak mungkin kan jika ia memberikan Siwon tart gosong ataupun tart gagal yang jelas tak layak makan karena hanya akan membuat siapapun yang memakannya sakit perut dan membuat dirinya malu?

“Haishh..” gerutunya sebal saat dilihatnya cake yang ia buat, saat dikeluarkan dari dalam oven ternyata separuhnya gosong. Membuat dirinya memekik tertahan.

Ia kesal! Sangat kesal! Ini sudah cake kedua yang gagal ia buat.

Yesung, teman sebangkunya yang juga menjadi rekan memasaknya menepuk pundaknya sebentar lalu dibukanya oven listrik berukuran sedang yang berada disamping meja memasak itu. Dikeluarkannya sebuah Loyang lainnya berbentuk persegi, dan dikeluarkannya sponge cake buatannya dari dalam cetakan.

Gadis itu mencibir dalam hati. Pasti namja itu juga tak akan sukses layaknya dirinya. Karena mana mungkin namja seperti dia yang dari penampilannya terlihat seperti ‘pria kaya’ itu akan mampu membuat kue yang notebene biasanya merupakan pekerjaan wanita? Mustahil! Dia saja yang perempuan tidak bisa, apalagi Yesung?

Dilihatnya sekeliling. Para namja lainnya tampak bermasalah dengan masakan mereka. Hal ini membuat senyuman meremehkan dari gadis itu semakin merekah saja.

Namun, ia hanya bisa melongo parah saat dilihatnya hasil kerja dari pria yang baru ia kenal itu ternyata jauh dari kata hancur seperti miliknya. Apalgi saat pria tersebut tampak dengan mahirnya membelah dua cake menjadi tiga bagian, atas, tengah, dan bawah, hanya dengan menggunakan pisau panjang saja, bukan menggunakan pisau belah  yang dikedua sisinya sudah ada penyangga dan hanya tinggal potong saja seperti yang biasa dipraktekkan sang guru masak, namun bisa terpotong serapih itu.

Dan gadis itu semakin terperangah saja saat dengan lihainya Yesung menghias cake buatannya dengan lemon cream yang ia buat sendiri serta dengan berbagai potongan buah strawberry serta anggur baik di balik lapisan cake maupun hiasan toppingnya.

“Waww!!” decak gadis itu kagum sambil bertemuk tangan heboh. Tapi buru-buru dihentikan Yesung, karena dirasanya hal itu akan membuat perhatian.

SStt.. jangan berisik. Nanti semua orang bisa kemari dan malah melihat hasil masakanmu,” bisiknya yang langsung membuat gadis itu tersadar akan kesalahan yang mungkin saja terjadi karenanya.

“Sekarang, lihat dan tenanglah disitu, oke?” perintahnya. Hyunjae mengangguk-anggup paham.

Yesung tersenyum, lalu tanpa basa-basi, diraihnya piring datar dimana cake gosong buatan Hyunjae berada serta pisau kue berukuran sedang. Diletakkanya cake berbentuk bulat itu ke atas meja putar, dan dengan telaten namun cekatan dibunganya bagian-bagian yang gosong hingga akhirnya hanya menampakkan bagian yang sempurna saja, lalu sekali lagi, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Namun kini ia hanya membelahnya menjadi dua bagian saja, karena ukuran cake yang tak terlalu besar karena nyaris setengah bagiannya terbuang. Dihiasnya lapisan pertama dengan lemon butter –sisa miliknya yang kebetulan masih banyak- serta potongan anggur, ditumpuk dengan layer cake kedua lalu kembali dihias dengan sisa lemon butter dan potongan anggur sebagai toppingnya.

Hyunjae yang menyaksikan perubahan drastis terhadap cake bikinannya tampak takjub sekaligus tak percaya. Cake yang sebelumnya hancur dan membuatnya frustasi kini justru malah sudah berubah wujud menjadi cake yang sangat enak dipandang dan menarik siapapun orang yang melihatnya untuk mencobanya.

“Igeo,” disodorkannya piring kecil berisikan potongan cake hasil rombakannya barusan kehadapan Hyunjae yang masih takjub, “ingat cake ini buatanmu, aku hanya membantu menghias saja supaya terlihat lebih menarik. Jadi enak atau tidaknya jangan berterima kasih padaku. Karena ini semua buatanmu,” Yesung mengedipkan sebelah matanya, lalu membawa potongan cake miliknya ke depan, ke meja guru dimana Go sonsangnim berada. Siap untuk dinilai.

Hyunjae yang kaget tampak masih terbengong ditempatnya, namun akhirnya gadis itu tersenyum senang.

“Go sonsaengnim! Aku sudah selesai!!~”

~mrs.ChoiLee~

Dengan langkah riangnya, Hyunjae berjalan menyusuri lorong dan melewati anak tangga dengan sepiring kecil potongan cake buatannya serta sekaleng coffe latte di tangannya. Suasana hatinya sangat baik saat ini. Bagaimana tidak, Tuhan seolah tengah member kemudahaan padanya hari ini. Dimulai dari permintaan dirinya agar mendapatkan teman sebangku agar ia tak harus duduk seorang diri selama sisa semester kedepan, dan ia justru mendapatkan seorang teman sebangku yang tampan dan juga baik hati –meski agak sedikit aneh disaat-saat tertentu- tapi ia sangat bersyukur karena gara-gara temannya itu pula akhirnya nilai tata boga dirinya yang biasanya selalu dibawah rata-rata, kini jadi meningkat dan bahkan mendapatkan pujian dari Go Seungji sonsaengnim, pattisiersekaligus guru tata boga di Julliet yang selama ini selalu menceramahinya karena kemampuannya yang nihil dalam bermasak.

“Hey, itu bukannya Hyunjae, eonnimu?” Krystal menunjuk sosok yang baru saja melintas melewati kelas mereka dengan dagunya, angkuh.

Hyejoon yang tengah asik mengerjakan tugas kimianya, langsung menoleh dan menatap lekat sosok kakaknya hingga menghilang dibalik tembok.

“Wah, benar. Dan dia kulihat tadi membawa sepiring cake! Pasti dia mau ke kelas Siwon Oppa, memberikan cake buatannya kepada kekasih tercinta~” sambar Sulli heboh. Kebetulan saat Hyunjae melintas tadi, dirinya memang sedang berdiri disamping pintu masuk kelas, jadi dia benar-benar melihat dengan jelas barang apa saja yang dibawa Hyunjae barusan.

Krystal meliriknya malas. “Haishh,  sungguh gadis bodoh yang tak tahu malu! Sudah tahu Siwon Oppa sekarag berpacaran dengan Victoria sunbaenim, malah masih saja dikejar. Sungguh tak punya otak!”

Hyejoon mendelik kearahnya. Krystal mendesis, “Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, setelah ia melihat sesuatu yang sangat menarik  yang sedang terjadi diatas sana. HAHAHA~” tawanya.

Sulli tertawa hambar. Manic matanya justru menatap kearah Hyejoon yang genggaman tangannya pada pensil yang semula digunakannya sudah mengeras.

“Aku ke toilet dulu,” pamitnya, kemudian beranjak keluar dengan langkah yang teburu-buru. Krystal tampak tak peduli. Namun Sulli yakin bahwa temannya itu bukan pergi ke toilet, melainkan mencegah kakaknya agar tak melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat.

~mrs.ChoiLee~

“Jika seperti ini terus, aku sungguh tak enak hari pada..” ucap seorang gadis dengan nada ketakutan, yang langsung dihentikan oleh jari telunjuk lawan bicaranya yang kini menatap dalam kedalam matanya.

sttt.. ”Pria itu tersenyum, lalu mengusap belakang kepala gadis yang menghadap kearahnya dengan lembut.

“Tidak, sejak awal yang kucintai hanya kau.. aku akan menyelesaikan semuanya segera..”

Deg!

Seorang gadis tampak berdiri terpaku melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dibalik pintu atap yang sejak awal tak tertutu rapat. Dari celah yang tak terlalu besar itu, ia dapat melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi dihapannya.

Genggamannya pada kaleng minuman yang sejak tadi dipegangnya mengeras. Namun sebelum kaleng itu remuk dan memuncratkan isinya, gadis itu justru berbalik menuruni anak tangga dengan perasaan yang campur aduk. Tanpa menyadari sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya dalam diam.

Orang it uterus saja menatap kepergiannya hingga menghilang dibalik tangga, lalu berpaling menatap tajam kearah sepasang manusia yang tengah bercanda mesra di atap sekolah itu dengan raut wajah yang sangat sulit diartikan.

~mrs.ChoiLee~

@Kelas 3-1

“Ne, eomma. Arraseo.”

“…”

“Ne, aku akan menyampaikan salammu kepadanya.”

“…”

“Ne~ Annyeong~”

Bipp.

Donghae menatap layar ponselnya sambil tersenyum senang. Baru saja eommanya mengabarkan bahwa kondisi ayahnya sudah membaik. Dan ia juga menitipkan pesannya untuk Hyunjae.

Jelas saja namja itu senang bukan kepalang, karena beberapa hari yang lalu ia justru mendapatkan kabar bahwa ayahnya mendapatkan serangan jantung dan dinyatakan meninggal secara medis. Namun kini ayahnya itu justru sudah pulih dan seolah bangkit dari kematian setelah dinyatakan hidup kembali dan menjalani masa koma selama beberapa hari. Dan selama masa-masa keterpurukkanya itu, Hyunjae-lah yang ia anggap paling berjasa karena terus memperhatikan dan mensupportnya.

“Aigoo~ dimana gadis itu? Rasanya aku ingin sekali memeluknya dan mentraktirnya ice cream!” Donghae tersenyum senang. Dan seolah baru saja menyebutkan mantra yang dapat megabulkan perkataan, saat dirinya menoleh kearah jendela kelas yang tertempel disepanjag lorong kelas, ia malah mendapati sosok temannya itu baru saja turun dari tangga dan tengah berjalan melewati kelasnya.

Pria itu tersenyum sumringah. Hatinya senang bukan kepalang! Ia benar-benar tak sabar untuk menceritakan apa yang baru saja dikatakan ibunya barusan.

“HYUN-AH!!!” pekiknya riang tepat di depan wajah Hyunjae ketika dirinya berhasil mencegat langkah temannya itu. Tak seperti biasanya yang selalu menggerutu atau menjitak kepalanya tiap kali dikejutkan seperti itu olehnya, gadis itu justru hanya menatapnya. Donghae yang kebetulan suasana hatinya sedang gembira, memilih untuk tak ambil pusing. Dan begitu dirinya melihat sepiring kue yang berada di genggaman Hyunjae, langsung saja ia ambil alih dan dilahapnya kue itu tanpa ampun. Tak mempedulikan si pemilik kue akan marah ataupun kesal. Tak peduli kue itu milik siapa ataupun untuk siapa.

“Apa enak?” tanya gadis itu. Donghae mendelik, lalu mengangguk-angguk semangat seraya terus melahap habis sisa cake yang ada di piring. Setelahnya, ketika dilihatnya ada sekaleng minuman yang belum dibuka dalam genggaman tangannya yang lain, buru-buru ia buka dan ia teguk isinya.

“Ahhh.. Masshhdddaaa~. Yah, walaupun kadang muncul bau aneh yang membuatnya terasa pahit, namun sejauh ini masih enak dan layak dimakan. Dan, hey! Apa ini, lain kali jika memberikanku minuman, belikan aku susu strawberry!” pujinya sekaligus menggerutu.

Hyunjae tersenyum simpul. Ia sama sekali tak memarahi temannya yang terkesan tak tahu malu itu. Karena di dalam hatinya, ia justru tengah bersyukur.

Dan tanpa keduanya sadari, ada dua orang yang tengah memperhatikan keduanya dalam diam. Dalam suasana hati, perasaan serta sudut pandang yang berbeda.

Hyejoon, salah satu dari dua sosok yang memperhatikannya dalam diam dari kejauahn itu tampak tersenyum lega. Peluh yang membasahi pelipisnya akibat berlari dari lantai 1 ke lantai dua demi mengejar kakaknya itu seolah tak berarti lagi ketika dilihatnya sosok yang dicemaskannya itu justru tampak baik-baik saja, dan sepertinya tak ada sesuatu yang terjadi padanya karena buktinya ia justru terlihat tengah memberikan cake dan minuman yang dibawanya kepada Donghae, orang yang ia ketahui sebagai sahabat kakaknya, bukan pada Siwon, kekasihnya.

Sementara itu, manic mata dari sosok lainnya justru memandangnya dengan tatapan yang berbeda dari arah tangga. Rahang orang itu tampak mengeras menahan suatu gejolak emosi yang kini menderanya.

TBC

Errr.. euhm.. Okay sebelumnya saya mau melindungi diri dulu pakai kostum transformer biar kebal waktu ditimpuk gara” kelamaan ngepost ini part. Wkwk

Hadeuh suweer lagi sibuk ama tugas.. tugas.. dan tugas, dan senin ini saya mulai UTS tolong doanya ya~ dan setelah itu PHPid, Perusahaan, Jaminan, dan Pengangkutan udah ngantri untuk dikerjain tugasnya -___-

Makanya doain ya biar saya bisa melewati semuanya dengan baik benar dan lancar. #amin~

Ahyaaa.. kali ini saya datang dengan poster baruu~*treak pake toa* ahhaha gimana? Suka? Suka?

Untuk sekedar mengingatkan ya, apa yang ada di poster gak jadi patokan loh kalo itu couplenya, bisa aja bukan hahaha : p

Oke, back to FF. Siapa hayo kira” orang yang merhatiin itu? Trus gimana kelanjutan kisah cinta ketiga couple di atas khususnya Hyunjae yang kayanya udah diambang batas? LOLOL

Ayo commentnya~

Iklan

10 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 9

  1. episode kali ini kurang seru nda, agak sedikit terbaca.
    kalo lg sibuk jgn nyoba nyempet”in deh, jdinya bgini kan. ckck

  2. haish sebenarnya ap hub. siwon ma vic??? ap juga yg mo dibcarain jia ???
    sebnrnya hyejoon itu peduli a sih ma hyunjae or masiih egois cos dia suka ma siwon???
    huh dasar hae ga peka amt ma hyunjae TT
    COW itu siwon ya chingu???

  3. ternyata keluar juga yesung hehehe
    tapi masih misterius siapa org yang diam2 melihat hyun ma hae yah??? meskipun mengarah ma siwon tapi who know??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s