HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 10

Sabtu,  Agustus 2009

@Mading Julliet

“Mau kemana?” Hyunjae memandang Hyejin dengan tatapan heran saat dilihatnya gadis berperawakan kurus itu tiba-tiba sudah rapih memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam tas. Dilihatnya kearah jam dinding. Pukul 12.10. “Kita bahkan baru sepuluh menit berada di ruangan ini. Tak biasanya.”

Hyejin mendesah pelan. “Aku ada tugas yang lebih penting. Untuk itu selama aku sibuk mohon bantuanmu dalam penanganan majalah dinding kita tercinta ini, ya. Dah~” gadis itu berlalu begitu saja, meninggalkan sosok Hyunjae –yang dari luar tampak baik-baik saja itu- sendirian di dalam ruang mading.

Gadis itu mendesah.  Sendiri lagi, pikirnya. Dan dalam kesendiriannya itu, membuat pikirannya melayang jauh. Hatinya kembali gamang. Ia bingung bagaimana menentukan sikapnya setelah ini, baik pada Siwon, kekasihnya, maupun Victoria, teman sekamarnya. Sejak kejadian yang dilihatnya dua hari yang lalu, ia sama sekali belum bertemu maupun berhubungan dengan Siwon ataupun Victoria karena mereka berdua mendadak kembali ditunjuk menjadi perwakilan sekolah sebagai duta untuk pergi ke Jeju selama dua hari sbelum akhirnya di vacum kan dari segala kegiatan dalam rangka persiapan ujian, dan hari ini adalah hari kepulangan mereka. Dan selain dirinya sendiri, sama sekali tak ada yang tahu tentang hal ini. Setidaknya begitu pikirnya.

Drtt.. Drtt..

Ponsel dalam saku blazernya bergetar. Gadis itu merogoh kedalam sakunya dengan sebelah tangan lalu digesernya slide ponsel hitam miliknya yang mulai butut itu. Satu pesan masuk.

From: Choi Siwon

Apa hari ini kau ada waktu? Kita perlu bicara.

Jamsil bridge, sungai han, jam 5 sore.

~mrs.choilee~

Pukul 14.15 KST

Crowns Caffe’

Satu jam sudah dilewati Hyejin di balik salah satu meja berbahan kayu mahoni sebuah coffe shop di daerah samseong-dong, yang hanya beberapa blok dari tempat tinggalnya, hanya dengan menyesap secangkir coklat hangat. Di atas meja, tergeletak begitu saja beberapa buah buku pelajaran berukuran tebal lengkap dengan buku catatan dan ballpoint berbentuk rillakumma miliknya.

“Hh..” gadis itu mendesah pelan ketika kembali diliriknya arloji keluaran salah satu merek ternama miliknya itu. Jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan ke meja, terlihat tak sabaran.

Drrt.. drtt.. drtt..

Haptic pop putih miliknya bergetar, bergerak memutar diatas salah satu buku yang ia letakkan dimeja. Diliriknya kearah layar yang menampakkan nama si pemanggil, lalu buru-buru diangkatnya begitu dilihatnya nama orang yang sudah hampir satu setengah jam ia tunggu kedatangannya itu terpajang disana.

“Yobseyo..”

“O. Ini aku. Apa kau masih disana?” ujar sebuah suara bernada berat dan sedikit serak dari seberang telepon.

“Ne. Aku masih disini. Apa kau bisa kemari? Aku sudah menunggumu hampir satu setengah jam lamanya,” jawab Hyejin apa adanya.

“Maaf, hari ini aku sibuk-”

“Aku tetap akan menunggumu disini sampai kau datang,” ucapnya dengan nada yang sangat tenang namun sarat akan penekanan, “Kau tahu sendiri kan apa yang akan kulakukan jika kau tak datang hari ini?”

Tutt

Gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinga saat tiba-tiba saja pria diseberang sana memutus hubungannya sepihak. Ditaruhnya ponsel begitu saja keatas buku. Dan dengan tenangnya, gadis itu kembali menyesap isi cangkir pesanannya.

“Lihat saja kau T.O.P-ssi, jika sekali lagi kau mangkir dari tutoring kali ini, maka bersiaplah mulai hari esok dan seterusnya akan terus dihantui olehku,” desisnya.

Ini bukan pertama kalinya TOP mangkir dari waktu tutoring yang telah Hyejin tentukan, dan kali ini kesabaran gadis itu sudah diambang batas. Senin depan akan ada ujian matematika, dan Cho Kyuhyun akan menagih bukti hasil pembelajaran mereka selama ini, sementara hari senin depan tinggal 8 hari lagi. Jika ia harus mengajari murid lain mungkin dalam waktu sesingkat itu ia masih bisa mengajar dengan santai, tapi jika muridnya semacam TOP?? Ia benar-benar dikejar waktu!

Seo Hyejin, gadis cerdas itu beberapa hari yang lalu ditunjuk oleh Cho Kyuhyun, guru matematika sekaligus wali kelasnya, untuk menjadi tutor TOP, dan membuat namja bengal itu memperbaiki nilai-nilainya yang buruk agar dapat berhasil pada ujian kenaikan nanti. Hyejin yang memang terkenal sebagai salah satu murid kesayangan guru itupun lantas setuju saja, apalagi ia diiming-imingi imbalan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Swedia selama satu bulan saat musim semi yang akan datang, jelas saja ini membuat dia semakin bersemangat.

Sementara itu, tanpa gadis itu ketahui, dari seberang jalan sesosok pria jangkung dengan penampilan berantakan dan wajah babak belur disertai luka dan bercak darah di beberapa tempat tubuhnya, tengah menatap kearahnya dengan pandangan buram. Napasnya terengah. Sebelah tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya sibuk memegang dinding jalan disebelahnya, mencoba menahan keseimbangan tubuh agar tidak ambruk.

~mrs.ChoiLee~

Desir angin berhembus menyapu permukaan wajah seorang gadis yang tengah duduk disalah satu anak tangga di tepian sungai Han sore itu. Menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai bebas tidak diikat, membuat si gadis tampak sesekali merasa merinding dibuatnya dan kemudian menutup tudung jaket yang dipakainya sampai menutupi sebagian kepalanya, membuat rambut panjangnya terhalang dari hembusan angin yang masih setia menemani kesendiriannya sore itu.

Arloji di lengan kiri gadis itu menunjukkan pukul 16.45. Ia mendesah kecil, kedua matanya memandang jauh kearah sungai. Sudah setengah jam ia menunggu seorang diri disana. Bukan, bukan salah orang yang sedang ia tunggu karena telah membuat dirinya menunggu cukup lama, tapi ini semua salahnya yang datang terlalu cepat.

Sekali lagi gadis itu mendesah. Pikirannya kini melayang jauh, tak focus pada arah pandangan matanya yang entah melihat kemana.

“Apa yang akan dikatakannya?”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Apa ini semua tentang perpisahan?”

Mulutnya sibuk menggumamkan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa suara sama sekali. Pikirannya semakin melayang jauh sampai akhirnya sebuah suara yang ia kenal berhasil mengembalikannya kedua nyata.

Dia Choi Siwon. Pria tampan itu baru saja keluar dari dalam Ferari merah andalannya dengan sebuah senyuman khas ia tampakkan di parasnya yang memang tampan.

Hyunjae, gadis itu hanya tersenyum samar, sama sekali tak membalas sapaan kekasihnya yang kini sudah duduk disebelahnya. Tidak, mereka tidak duduk berdampingan. Ada jarak diatara keduanya. Jarak yang bahkan dapat memuat tiga orang Kang Hodong untuk duduk diantara mereka. Entah siapa yang memilih untuk duduk dalam jarak yang sejauh itu terlebih dahulu.

Melihat jarak yang tercipta, membuat gadis itu tersenyum pahit lalu dilemparnya kembali pandangannya kearah sungai. Menatap jauh entah kemana. Hanya dengan melihat posisi mereka yang berjauhan seperti ini saja ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi kemudian

Cukup lama keduanya bergelung dalam keheningan. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Keduanya terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Eomma.. Appa..” ujar seorang anak yang melintas di tepian sungai han sambil mearik kedua ujung pakaian orang tuanya, “Lihat, itu.. Oppa yang disana itu tampan sekali ya? Seperti artis saja!” tunjuknya kearah Siwon yang duduk di salah satu anak tangga tak jauh darinya. Mendengar ucapan anak itu, sepasang kekasih yang sejak tadi dilanda kehengingan itu tersenyum samar.

“Yatuhan, bahkan seorang gadis kecilpun mengakui ketampananmu, Choi Siwon, selamat ya,” ledek Hyunjae, mengulurkan tangannya, mengucapkan selamat. Siwon terkekeh lalu menepisnya.

“Sudah jangan  meledek,” kekehnya. Hyunjae tersenyum. Keduanya kembali bergelut dalam diam.

“Hyunjae-ah,” Siwon memutar tubuhnya, lurus menatap gadis yang masih berstatus sebagai kekasihnya yang masih setia memandang lurus kearah sungai. Raut wajah pria itu mendadak berubah serius.  “Sebenarnya ada yang ingin kukata-”

“Kau tahu kapan pertama kali aku jatuh cinta padamu?” tanya gadis itu tanpa memandang kekasihnya sama sekali. Memotong ucapannya yang belum tuntas.

Siwon diam. Ia tak tahu kapan pastinya, namun sejak mereka masih duduk di sekolah dasar ia sudah tahu dari teman-temannya bahwa Hyunjae kecil menyukainya. Namun jelas saja hanya ia tanggapi sebagai kabar burung.

“Dan.. apa kau tahu kenapa aku menyukaimu?” tanya gadis itu lagi. ali ini ia menoleh, menatap kearah Siwon sambil tersenyum.

Siwon menggeleng. Jujur ia memang tidak tahu jawabannya kenapa. Apa karena dia tampan? Lalu untuk apa gadis itu tiba-tiba mengungkit tentang hal ini?

Gadis itu kembali tersenyum. Menarik napasnya kuat-kuat seraya merentangkan kedua tangannya. Mencoba menikmati sejuknya oksigen yang merasuk kedalam paru-parunya, kemudian gadis itu berdiri dari duduknya, melompati beberapa anak tangga yang tersisa hingga akhirnya ia sampai di pijakan yang terakhir. Ia memutar tubuhnya, menghadap lurus kearah Choi Siwon yang masih memperhatikan dirinya dari tempatnya dalam diam.

“Jika kau berpikiran aku menyukaimu karena kau tampan? Itu benar. 100% benar,” ujarnya dengan sebuah senyuman manis. “Dan aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihat dirimu.”

Langkah gadis itu kemudian berlanjut. Melangkah dan sesekali melompat kecil menyusuri tepian sungai lalu kembali tepat di hadapan Choi Siwon yang masih setia ditempatnya.

“Aku menyukaimu selama bertahun-tahun lamanya, dan itu semua karena ketampananmu tentu saja, haha,” ia tertawa sumir. “Namun kini aku menyadari satu hal..”

“Apa itu?” tanya Siwon yang menatapnya dengan tatapan serius. Gadis itu tersenyum pahit.

“Aku sadar kalau selama ini perasaan yang aku rasakan padamu hanyalah sebuah obsesi..” pria itu mengerutkan kening, “sebuah obsesi berkepanjangan yang pada akhirnya malah menyatukanku padamu. Meski aku pernah membencimu, tapi sungguh aku bahagia saat akhirnya kita bersama. Namun aku sadar satu hal. Disini..” gadis itu menunjuk kearah dada kirinya. Ketempat dimana jantungnya berada. “aku sama sekali tak merasakan sebuah perasaan yang nyata.”

“M-maksudmu?” Pria itu bangkit dari duduknya. Menghampiri gadisnya, menatapnya dengan kedua alis bertaut, tak megerti akan arah ucapan kekasihnya itu.

Lagi-lagi gadis itu tersenyum kecut. Ia menundukkan wajahnya sekilas, lalu kembali menatap wajah pria dihadapannya itu sambil tersenyum lalu mengulurkan sebelah tangannya kearah pria itu.

“Mari kita akhiri hubungan kita. Choi Siwon-ssi.”

~mrs.ChoiLee~

“Sonsaengnim hati-hati di jalan~” ucap segerombolan anak SMP dengan kompaknya seraya melambaikan tangan mereka pada seorang namja berwajah tampan yang mereka sebut sebagai ‘sonsaengnim,’ begitu kelas les piano mereka berakhir dan pria itu hendak keluar meninggalkan kelas.

Pria yang dari wajah dan perawakkannya masih sangat muda itu tampak sedikit kikuk dipanggil seperti itu. Namun ia pasrah saja toh mereka semua yang ada di kelas itu adalah murid yang ada dibawah pengajarannya. Ia melemparkan senyumnya sekilas, membuat para gadis-gadis remaja yang menjadi muridnya histeris dibuatnya.

Pria itu menggoes roda sepedanya kuat-kuat, menyusuri jalanan kota Seoul yang semakin beranjak sore semakin gelap itu. Dihurupnya udara sore kota yang meski tak terasa segar akibat polusi namun terasa menyejukkan akibat semilir angin yang berhasil menyapu wajah dan menerbangkan beberapa helai anak rambutnya tersebut. Goesannya kemudian terhenti saat kedua matanya menangkap pamandangan indah sungai han dari atas Jamsil Bridgetempat dimana dirinya mengendarai sepedanya saat ini.

Melihat pantulan sinar matahari yang membuat penampakan sungai tampak bersinar-sinar dimatanya itu menggelitik dirinya untuk segera menyusuri jembatan dan mampir sebentar ketepian sungai Han, sekedar merefreshingkan fikirannya yang belakangan ini terasa menyesakkan.

“Hmpphhh…”  pria itu menarik napasnya dalam-dalam seraya merentangkan kedua tangannya keudara. Kedua matanya terpejam. Mencoba menikmati aliran udara segar nan menyejukkan yang berhasil masuk kedalam paru-parunya.

Ckiitt-

Suara decitan ban mobil berhasil membuat dirinya membuka kedua matanya. Dilihatnya kearah sumber suara. Sebuah sedan sport keluaran merek eropa baru saja melaju mundur dari tempat dimana dirinya memarkirkan diri sebelum akhirnya melaju kencang lurus meninggalkan tempatnya semula dengan kecepatan diatas rata-rata.

Dahinya berkenyit. Dari bentuk dan wakna mobilnya rasanya ia sangat familiar dengan mobil tersebut. Ia mengangkat kedua bahunya, tak mau ambil pusing dan memilih untuk menuntun sepedahnya menyusuri tepian sungai untuk kemudian kembali pulang ke asrama. Kebetulan hari masih sore, dan hari ini tak ada jadwal latihan jadi ia ingin cepat-cepat beristirahat di kamar.

Namun, lagkah pria itu terhenti disaat kedua matanya menangkap sesosok gadis berjaket merah tengah berdiri mematung dengan tubuh sedikit bergetar. Cukup lama gadis itu seperti itu sebelum akhirnya ia beranjak menaiki anak tangga dan berbalik menyusuri jalan menuju arah jalan keluar.

Pria itu terus menatapnya lekat. Mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan.

“Argh!” pekik gadis itu saat sebelah kakinya menyandung sesuatu hingga membuat dirinya terjatuh. Berlutut sambil menangis pilu. Membuat si pria buru-buru menghampirinya dan mengecek keadaannya.

“Ya, gwenchana?” tanyanya cemas. Gadis itu tidak menjawab, hanya menggigit bibirnya sambil terisak. Wajahnya sembab akibat air mata yang terus keluar membasahi wajahnya. Pria itu melihat kearah lutut kiri sang gadis yang terluka akibat terkena batu hingga membuat stocking yang dikenakannya bolong besar. Ia lantas menatapnya prihatin, apalagi si gadis kini malah semakin histeris.

“Ayo kuantar kau pulang.”

~mrs.ChoiLee~

@Big Hit Chicken

Kringg..

“Selamat datang~” sambut Ahra riang tak lupa dengan senyuman manisnya dari balik meja counter saat lonceng yang terpasang pada pintu masuk restaurant berdering.

Namun mendadak wajahnya langsung berubah kusut saat dilihatnya seorang pria berambut coklat terang muncul dan menarik salah satu bangku kosong yang ada di meja dekat kasir. Duduk bersandar pada tembok, dengan kedua kaki ia selonjorkan diatas kursi kosong lain yang ada disebelahnya. Wajahnya kusut. Tampak seperti seorang pria yang baru saja patah hati.

“Hey.. Hey.. jika mau duduk disana, pesan makanan dulu. Kau kira ini restaurant milik ayahmu?” celetuk Ahra dari balik mejanya. Hongki meliriknya sebentar. Ia mendesis lalu beranjak dari kursinya menuju meja counter yang sore itu kebetulan memang sepi dari pelanggan.

“Kenapa kau,huh?” tanya Ahra dengan nada ketusnya saat mendapati sosok teman sebangkunya itu hanya berdiri memandangnya lama dari balik meja tanpa memesan apapun.

“Hello?? Kau tidak tuli kan? Kau kenapa, huh?” gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Hongki yang langsung ditepisnya dan dibalas tatapan galak darinya.

“Aish! Gadis menyebalkan dasar!” Ahra mendengus kesal.

“Sudah cepat katakan apa pesananmu lalu kembali ke mejamu.”

Hongki menatapnya tajam. “Seporsi ayam goreng dan 2 gelas lemonade,” ucapnya lalu menyodorkan sebuah benda persegi berbentuk pipih ke arahnya. “Sekalian nanti antar kemejaku,” lanjutnya kemudian kembali ke mejanya. Kembali ke posisinya yang semula.

Gadis itu menggerutu pelan. Namun begitu melihat kartu kredit yang diberikan Hongki ada di hadapannya, sempat terlintas ide jail di otaknya untuk menggembungkan total pembayaran yang harus ia bayarkan, tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu waktu matanya menangkap ekspresi musuh bebuyutannya tampak sangat tak bersemangat berbeda dengan biasanya.

“Ini pesananmu,  total 7.900 won,” Ia meletakkan nampan plastik berwarna coklat keatas meja yang Hongki tempati, “ dan ini kartu kredit milikmu,” kali ini ia menyodorkan benda berbentuk pipih berwarna keemasan itu ke atas meja tepat dihadapannya. “Dan perlu kau ingat, aku sama sekali tak mengambil uangmu.”

Gadis itu berbalik, berniat meninggalkannya. Namun langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba saja memanggilnya.

“Gadis tengil.” Membuatnya kembali berbalik menatapnya dengan tatapan elang seolah akan menerkam. Hey! Siapa yang tengil disini? Bukannya justru pria itu sendiri yang tengil? Apa dia tak salah bicara?? Pikirnya.

Hongki sepertinya tak mau ambil pusing. Ia malah menendang kursi kosong yang ada di depan mejanya dengan sebelah kaki hingga membuatnya berdenyit akibat terdorong paksa beberapa centi ke belakang. Gadis itu mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Duduk,” tunjuknya kearah kursi yang baru ditendangnya itu dengan dagu.

Ahra mendesis, namun diturutinya juga. Ditariknya kursi kayu itu malas lalu didudukinya.

“Apa?”

Bukannya menanggapi, pria itu malah menghela napas panjang.

“Temani aku makan.”

“Eh?”

Hongki berdecak. Di gesernya salah satu gelas berisi lemonade yang tadi dipesannya kehadapan Ahra, sementara gelas satunya ia dekatkan kearahnya.

Gadis itu memandangnya aneh. Ada jin baik darimana yang tiba-tiba merasuki pria tengil dihadapanya itu sampai membuatnya terlintas untuk meminta dirinya agar menemani makan?

“Aku benci makan sendirian,” ucap pria itu seolah dapat membaca pikiran gadis itu.

“Huh?”

~mrs.ChoiLee~

Kim Hyunjae. Gadis itu masih berdiri di tempatnya dalam diam. Menatap punggung seorang pria yang baru beberapa saat lau masih berstatus menjadi kekasihnya menjauh pergi menaiki anak tangga kemudian menghilang dengan kereta besi mewah miliknya, meninggalkan dirinya yang setengah mati menahan diri agar tidak menangis.

Lama dirinya terpaku seperti itu, sampai akhirnya langkah kaki membawanya untuk pergi dari sana. Pikirannya kacau. Setelah berhasil melewati kumpulan anak tangga yang membawanya menuju jalan, ia sama sekali tak memperhatikan jalan, hingga dirasanya sebelah kakinya menendang sebuah benda keras hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sialnya lagi, lutut kirinya malah terantuk batu tajam hingga membuat stocking hitam yang dikenakannya robek dan meninggalkan luka cukup dalam disana.

Tangis gadis itu perlahan pecah. Bukan, bukan karena rasa perih atau sakit yang ia rasakan pada luka di lututnya, tapi lebih kepada penyaluran perasaan sakit di hatinya yang terdalam yang sejak tadi ia pendam sekuat mungkin agar tidak pecah di hadapan seorang Choi Siwon.

 Ia tak mau dianggap lemah. Tidak lagi. Ia tak mau diremehkan layaknya kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya dilemparkan piring berisi kue tart tepat diwajahnya. Ia tak mau seperti itu.

 “Gwencahana?” seorang pria tiba-tiba saja menghampirinya dan memeriksa keadaan lukanya dengan cemas. Gadis itu hanya meliriknya sekilas tanpa mampu berkata apapun. Pikirannya benar-benar kosong. Hanya sebuah tangisan yang dirasa justru semakin kencang yang keluar dari bibirnya.

 “Ayo kuantar kau pulang,” gadis itu diam saja. Menurut, saat pria itu membantunya berdiri dan mendudukkan dirinya di jok belakang sepedah miliknya sebelum akhirnya menggoes pergi sepedahnya dari kawasan sungai Han yang semakin ramai.

Sepanjang jalan keduanya bergelung dalam diam. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria di depannya, tapi yang jelas kini gadis itu tengah mati-matian menghentikan tangisannya dan berusaha mengembalikan kesadarannya. Namun sialnya, ia tak sanggup.

“Aku tak tahu kau suka atau tidak, tapi minumlah,” pria itu menyodorkan sekaleng minuman berisikan sari jeruk yang baru dibelinya dari mesin penjual minuman di mini market, pada Hyunjae. Gadis itu menoleh, meraihnya lalu memandangi benda tersebut lekat.

Saat ini keduanya tengah berada di salah satu bangku taman bermain dekat areal RJ Senior High School.

“G-gomawo,” ucapnya dengan nada masih sedikit serak. Pria itu menatapnya sebentar, lalu berjongkok tepat dihadapannya. Membuat gadis itu salah tingkah.

Air mata sudah tak lagi menggenang di peluk matanya. Menyisakan wajah sembab serta ujung hidung yang tampak memerah akibat terlalu banyak menangis.

“M-mau ap-”

“Meringis saja kalau memang terasa sakit,”  ia mengeluarkan sebuah kotak p3k dari dalam bungkusan yang tadi dibelinya. Diambilnya sebotol kecil berbahan kaca, dibukanya, lalu dibanjirinya helaian kapas bersih yang tadi sudah lebih dulu diambilnya dari kotak p3k.

“ARGH!” pekik gadis itu saat kapas yang sudah dibasahi cairan alkohol 70% itu ditekan-tekan mengenai lukanya.

“Tahan sedikit,” gadis itu meringis. Digigitnya bibir bagian bawah dirinya, menahan rasa perih yang mendera. Ia tak mau jika pria asing di hadapannya ini menganggapnya gadis cengeng yang hanya bisa menangis karena alasan sepele, apalagi sejak pertemuan mereka di sungai Han sampai saat ini pria itu terus-terus mendapati dirinya menangis.

“Lebih baik kau meringis dari pada menggit bibir seperti itu, yang ada nanti aku juga harus mengobati bibirmu yang terluka,” pria itu tersenyum. Manis. Sangat manis! Ia yakin 100% siapapun gadis yang melihat senyuman pria dihadapannya itu saat akan pingsan dibuatnya! Namun sayang situasinya saat ini tak mendukung dirinya untuk menikmati wajah indah bak porselen itu. Pikirannya masih benar-benar bercabang entah kemana, tak dapat berpikir jernih.

“JA! Sudah bersih lukanya,” sekali lagi pria itu tersenyum, lalu menepuk-nepuk pelan luka di lutut gadis itu yang sudah berhasil ia balut dengan perban, membuat si pemilik terhenyak sekaligus meringis dibuatnya akibat rasa perih yang kembali menderanya.

“Aish!” gadis itu meringis sebal. Namun begitu dilihatnya luka di lutut kirinya sudah terbalut dengan rapih, bahkan ditutupi dengan perban tipis –yang menurutnya membuat lukanya terlihat berlebihan- padahal sepertinya lukanya tak seserius itu.

“Kamshahamnida,” gadis itu tersenyum penuh rasa terima kasih. “Siapa namamu? Kita belum berkenalan. Namaku, Kim Hyunjae,” ia mengulurkan sebelah tangannya pada pria yang masih berjongkok dihadapannya itu.

“Jonghun. Choi Jonghoon,” ia menyambut uluran tangan gadis itu. Menjabatnya sebentar.

“Jeongmal kamshahamnida, Choi Jonghoon-ssi,” Pria itu bangkit dari posisinya, lalu tersenyum sambil mengacak-acak rambut panjang gadis itu yang berantakan akibat angin. Membuat Hyunjae sedikit tertegun dibuatnya, lalu memandang pria berhidung mancung itu dengan tatapan bingung.

“Tak perlu berterima kasih padaku,” sekali lagi ia tersenyum. “Kau hanya perlu berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Jangan pernah menangis lagi.”

~mrs.ChoiLee~

@Big Hits Chicken

Ahra bingung. Entah harus prihatin atau malah tertawa ketika mendengar alasan dibalik permintaan Hongki untuk menemaninya makan. Apalagi balum apa-apa, tak seperti biasanya yang selalu tampak sok cool dan menyebalkan, pria itu malah terus menggerutu tak jelas tentang bagaimana latihan mereka sore itu terpaksa dibatalkan lantaran keempat temannya yang lain memiliki kegiatan lain.

Mulai dari Jonghun, si pria berkacamata yang merupakan gitaris bandnya yang tak bisa latihan lantaran harus kerja part time mengajar les piano. Jaejin yang pulang kampung ke Cheongju bersama keluarganya. Minhwan yang ijin dengan alasan tak jelas. Dan Seunghyun yang tahu-tahu ada janji kencan dengan adiknya.

Untuk kasus Jonghun, ia agak tak percaya saat mendengarnya bekerja part time dengan mengajar di tempat les piano karena pria satu itu –menurutnya- paling terlihat sebagai “CHAEBOL”  alias keturunan konglomerat, diantara keempat temannya yang lain, termasuk Hongki, yang jelas-jelas sudah tak dapat dihindari kenyataannya memang adalah anak dari salah seorang konglomerat di Korea. Dan matanya ini biasanya tak pernah salah dalam menilai, karena menurutnya dibalik penampilan sederhana pria itu.. dibalik kacamatanya.. ia memiliki pesona dan aura luar biasa yang sangat berbeda dengan pria dari keluarga yang biasa. Jadi untuk apa pria seperti dirinya mesti susah-susah mencari uang receh?

Tapi akhirnya gadis itu sebisa mungkin menahan tawanya karena tak enak pada Hongki yang justru terlihat lesu dan tak bersemangat karena kehilangan belahan jiwanya. Saking lesunya, sepiring besar ayam goreng yang dipesannya tadi nyaris tak disentuhnya. Justru malah Ahra yang banyak memakan potongan ayam yang ada selama mendengar curhatan hatinya. Untung saja sore itu restaurant sepi dan manajernya tengah keluar karena ada kepentingan, jadi ia tak akan dimarahi karena “mengganggu tamu di saat jam kerja” jadi ia santai saja.

“Aku memang tak bisa makan sendirian.. tapi..” Ahra menatapnya. Masih sambil mengunyah, “makan bersamamu malah membuatku semakin tak napsu makan karena mual. Dasar rakus!” ucap pria itu saat melihat gaya makan Ahra yang rakus.

“Aish!” mulai lagi. Dengus gadis itu sebal lalu dilemparnya tulang ayam kearah wajah namja itu, sadis.

Hongki mengelak, dan langsung berlari keluar begitu gadis itu kembali mengamuk dan mulai mengejarnya dengan seperangkat tulang ayam ditangannya.

“YA!! DASAR NAMJA MENYEBALKAN!”

~mrs.ChoiLee~

@Crown’s Caffe

“Maaf nona, sebentar lagi kami akan tutup,” seorang pelayan wanita menghampiri Hyejin yang tengah asik memperhatikan layar tablet miliknya dengan kedua telinga tersumpal headset. Membuat gadis itu tersadar dari dunianya.

“Oh, ye,” ucapnya. Pelayan itu undur diri.

Dilihatnya keluar jendela Cafe. Matahari sudah tak menampakkan sinarnya, digantikan purnama bulan yang malam itu terlihat redup akibat gumpalan awan. Tampaknya akan segera hujan.

Diliriknya arloji di lengan kirinya, waktu telah menunjukkan pukul 23.45 KST. Malam benar-benar sudah sangat larut. Gadis itu mendesis kesal. Rupanya TOP benar-benar membuktikan ucapannya dengan sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.

Gadis itu memijit-mijit keningnya yang mendadak pening gara-gara rasa kantuk yang mulai menderanya sebelum akhirnya membereskan seluruh barang-barangnya yang tergeletak diatas meja kedalam tas ransel kesayangannya.

Tepat saat ia ia akan memasukkan buku matematika miliknya kedalam tas, tak sengaja tangannya menyenggol ponsel miliknya hingga terjatuh ke lantai. Mengingat ponsel itu bahkan baru resmi menjadi miliknya beberapa hari yang lalu, buru-buru dipungutnya ponsel tersebut dari lantai.

“Aigoo.. untung tidak kenapa-kenapa,” ditiup-tiupnya, ditepuk-tepuknya pelan ponselnya, mencoba membersihkan dari kotoran yang menempel, sekaligus memastikan kondisi ponselnya itu baik-baik saja.

Telunjuk tangan kanannya tak sengaja menekan salah satu tombol hingga membuat layar ponsel menyala terang. Dahi gadis itu lantas terkejut saat dilihatnya jumlah panggilan tak terjawab serta pesan masuk yang menumpuk di layar.

“OMO! AKU TUPA JANJI DENGAN SEUNGHYUN!” ia menepuk dahinya pelan. Segera saja ia memasukkan semua barang-barangnya kedalam tas lalu berlari keluar Cafe, menyusuri jalanan  Samseong-dong yang tampak masih ramai oleh para pasangan dan remaja yang tengah menikmati malam weekend mereka, menuju stasiun MRT terdekat.

Song Seunghyun. SHIT! Lantaran terlalu lama menunggu TOP, ia benar-benar lupa bahwa malam ini mereka memiliki janji untuk bertemu di Namsan Tower tadi sore. Dan sialnya lagi,waktu minimal yang harus ia tempuh dari tempatnya saat ini ke Namsan setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Drtt.. Drttt..

Hyejin menghentikan langkah besarnya, saat dirasa ponsel dalam saku blazernya bergetar.

Saat ini ia tengah berdiri trotoar depan pertokoan dekat stasiun.

Sebuah pesan masuk. Seunghyun.

Tadinya kupikir malam ini akan menjadi malam yang sangat indah yang kemudian akan membawaku kedalam mimpi indah

Tapi kenyataannya tak seperti yang dibayangkan.

Selamat malam. Mimpi indah :]

Hati Hyejin mencelos. Mendadak hatinya risau. Jujur ia merasa tak enak hati pada pria itu karena melupakan janji mereka dan bahkan mungkin membuatnya menunggu hingga berjam-jam lamanya sampai akhirnya pria itu pasrah dan pulang kerumahnya sendiri karena malam memang sudah terlalu larut. Dan ia semakin merasa bersalah lantaran sama sekali tak menyadari panggilan masuk darinya hingga mencapai puluhan kali.

Mungkin saja pria itu berpikir dirinya sengaja melupakan janji mereka dan bahkan sudah terlelap dalam sebuah mimpi indah. Padahal kenyataannya tak seperti itu.

“Mianhae Seunghyun-ah..”

~mrs.ChoiLee~

Senin,  Agustus 2009

@Julliet Senior High School.

Kabar mengenai hubungan antara Siwon dan Victoria yang kini menjalin sebagai pasangan kekasih menyeruak lepas diantara seluruh murid Romeo-Julliet yang kini berada dalam “satu atap”. Kabar ini jelas saja menjadi sangat heboh lantaran keduanya notabene merupakan icon  dari masing-masing sekolah. Yang satu pangeran dan yang satunya adalah bunga sekolah. Kebanyakan dari mereka semua mengetahui hubungan Siwon dan Hyunjae yang sepengetahuan mereka belum putus hubungan. Dan kabar ini semakin memanas saat dikabarkan hubungan antara Victoria dan Hyunjae yang merupakan teman sekamar menjadi retak lataran kabar perselingkuhan Siwon dengan Victoria selama kepergian mereka ke Cina beberapa waktu yang lalu.

Dan lagi-lagi pihak yang paling dibuat cemas akan kabar ini tak lain tak bukan adalah Kwon Ahra. Gadis itu segera saja menghampirii Hyejoon yang tengah berbincang dengan Sulli di kelasnya. Membawanya keluar dari kelas, menjauh dari Sulli dan Krystal, lalu menginterogasinya mengenai keberadaan kakaknya yang sampai saat bel akan berbunyi seperti ini belum menampakkan batang hidungnya.

Sementara pihak yang paling berbahagia siapa lagi jika bukan Krystal? Gadis itu bahkan tersenyum sumringah saat kedua mata elangnya menangkap raut kebingungan dari temannya yang tengah berbicara dengan sunbae-nya diluar itu melalui kaca koridor kelas. Ia memang sejak awal menentang keras hubungan Hyunjae-Siwon, karena menurutnya tak ada gadis lain yang setara dengan Siwon kecuali dirinya.. dan Victoria. Kakak sepupunya.

Gadis itu tersenyum miring. Tampak sekali guratan diwajahnya terlihat sangat puas akan kabar yang ia dengar pagi itu.

~mrs.ChoiLee~

Seorang gadis berpotongan rambut diatas bahu dengan warna cokelat gelap masuk kedalam salah satu kelas di lantai dua tepat saat bel pertanda pelajaran pertama berbunyi. Seluruh murid diruangan itu yang mulanya masih disibukkan dengan aktivitas masing-masing mendadak terdiam. Tatapan mereka terpaku pada sosok yang baru masuk kedalam kelas itu bahkan hingga gadis itu duduk ditempatnya dan Sandara Park, kepala sekolah sekaligus guru bahasa inggris mereka sudah berdiri di depan kelas. Bersiap memberikan materi.

“Ya!! Yaa!” Sandara mengetuk-ngetukkan penggaris kayu yang selalu dibawanya ketika mengajar itu ke papan tulis. “Apa yang kalian lihat? FOKUS! FOKUS!!” diketukkannya sekali lagi penggaris tersebut hingga fokus kembali kepada dirinya.

Gadis yang sejak awal sadar tengah diperhatikan itu hanya tersenyum. Senyum yang sangat sulit diartikan apa maksudnya.

~mrs.ChoiLee~

“T.O.P!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! JANGAN KABUR!!” Pekik Hyejin murka saat teman sebangkunya yang baru akan ia cekoki rumus-rumus persamaan integral itu, melompat dari jendela kelas mereka yang berada di lantai 2 keluar dari gedung sekolah.

“YA!!” pekiknya lagi ketika melihat TOP –dari jendela- dengan santainya malah kembali melompat pagar pembatas sekolah. Kabur entah kemana.

 Hyejin mendesis sebal. Ia sungguh tak habis pikir harus bagaimana lagi menghadapi makhluk satu itu agar ia mau belajar?? Bukankah belajar juga demi kepentingannya sendiri? Toh kalaupun pria itu drop out dari sekolah bukan ia yang akan menanggung malu.

“YA!! LIAT SAJA JIKA KAU MASIH KABUR-KABURAN JUGA DARI TUTORING AKU AKAN MENGHANTUIMU SEPANJANG HARI! CAMKAN ITUUUUUUU!!!!!”

~mrs.ChoiLee~

Donghae menggerutukkan giginya saat di dengarnya dari mulut sahabatnya sendiri bahwa ia telah putus dengan Hyunjae dan kini menjalin hubungan dengan Victoria.

Kedua tangan pria itu terkepal kuat. Rahangnya mengeras.

“Ya! Neo micheoseo!!??” nada suaranya terdengar sarat akan emosi yang tertahan.

Siwon. Pria yang kini berdiri dihadapannya tak mengatakan apapun. Sebuah tanda yang mengisyaratkan bahwa apa yang baru saja pria itu dengar adalah sebuah kenyataan.

“Bukankah sudah pernah kuingatkan jika kau hanya bermaksud memanfaatkannya, maka aku adalah orang pertama yang akan menghabisimu?” ujarnya dengan nada penuh emosi.

Siwon diam. Menatap lurus sahabatnya dengan tatapan seolah meminta pengertian. Donghae membuang muka. Menatap kearah lain, mengindari tatapan Siwon yang menurutnya malah terlihat menyebalkan itu.

Desir angin halus mengenai paras tampannya, membuat anak-anak rambutnya sedikit bergoyang karena terkena angin.

“ARRGGGHHH!!!” Pria itu berteriak keras. Mencoba menumpahkan segala emosinya.

Saat ini keduanya berada di atap sekolah gedung Julliet. Jadi tak perlu cemas orang lain akan merasa terganggu karena teriakkannya.

Puas menumpahkan emosinya. Pria itu kembali memandang sahabatnya dengan tatapan menghunus.

Sebenarnya dalam hatinya yang terdalam ia bingung harus bersikap bagaimana. Disatu sisi Hyunjae adalah teman terbaiknya yang selalu membantunya disetiap saat tanpa pamrih, sementara disisi lain Siwon adalah sahabat baiknya. Sejak awal ia memang sudah curiga maksud Siwon menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya adalah lebih kepada menebus rasa bersalahnya dimasa lalu serta untuk melindunginya dari gangguan Taeseong. Tapi begitu ia tahu  faktanya hubungan Siwon dan Victoria bukan baru berjalan hari ini atau kemarin, melainkan sudah sejak sebulan yang lalu, yang artinya tak lama setelah ia mengencani Hyunjae. Ia menjadi sangat murka.

Bughh!

Sebuah tinju dilayangkan Donghae ke perut Siwon. Membuat Pria itu sedikit mengerang. Namun tak berniat melawan.

“Itu untuk Hyunjae. Dan mulai sekarang jangan pernah berhubungan dengannya lagi.” Ujarnya dingin.

Siwon memegangi perutnya yang terasa perih. Kedua matanya memandang paunggung Donghae yang berjalan berbalik meninggalkannya seorang diri di atap gedung.

Pikiran pria itu mendadak melayang, memikirkan sesuatu. Seolah kejadian barusan merupakan dejavu bagi dirinya.

###

*FLASHBACK*

Bugh!

Sebuah hantaman keras meninju wajah sebelah kanannya, membuat dirinya sedikit kehilangan keseimbangan hingga membuat tubuhnya sedikit oleng dan terjatuh kedalam kolam renang dibelakangnya.

Byurr..

“JAGIYA!!!”/”TUAN MUDA!!!” pekik Victoria dan beberapa orang pelayan yang kebetulan melihat kejadian tersebut, bersamaan. Terkejut akan apa yang baru saja mereka lihat.

“Itu untuk Hyunjae.” Ucap seorang pria berkemeja hitam. Dingin. Begitu Siwon telah menampakkan wajahnya kepermukaan air. Mengusap wajahnya yang basah, memperjelas pandangan,  dengan kedua tangannya.

“Dan kalian..” pria itu menatap Victoria yang kini berjongkok di pinggiran kolam, mencoba membantu kekasihnya untuk naik ke permukaan, dan Siwon bergantian dengan tatapan tajam. “jangan pernah berhubungan dengannya lagi.”

*FLASHBACK END*

###

Tanpa sadar tangan kanannya memegangi sebelah rahangnya yang sampai saat ini masih terasa ngilu akibat tinjuan adiknya kemarin malam saat dirinya tengah berbincang dengan Victoria di kolam renang rumahnya setelah memperkenalkan gadis itu sebagai kekasihnya kepada orang tuanya.

Ia tertawa getir.

“Benar-benar dejavu.

TBC.

so sorry vo TYPO

as always.. dengan alasan yang selalu sama “malas edit” #plakk

oke. part ini kayanya panjang banget dan berteleteletelee kebanyakan part hyun-won. jujur aja emang waktu bikin ini otak idenya yang muncul cuma soal couple ini sementara dua orang lainnya itu dianggap angin lalu #plakk #ditampol

selamat menikmati.

Iklan

5 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 10

  1. uh siwon tega, knpa kayak gtu sih. knpa pula hae ga nyegah siwon klo tau alsn ngencani hyunjae itu ><
    kya top tega bnget bikin hyejin nunggu ampe lupa ma kencannya ama seungkyu wkwkwk
    ehem hongki klo suka ahra bilang aja ah 😛
    itu yang nonjok siwon jonghun ya chingu, jonghun suka ma hyunjae? lanjut chingu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s