HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 11

hsp1-e

Tukk.. Tukk.. Tuk..

Seorang gadis berseragam mengetuk-ngetukkan ujung boots sperry top-sider hijau tua miliknya kearah salah satu dinding anak tangga, sesekali, lalu kembali berjalan mondar-mandir di depan salah satu bangunan bertingkat bergaya eropa klasik yang ada di dalam wilayah Romeo-Julliet High School. Kedua tangannya masing-masing memegangi tali friis & company berwarna navy yang bertengger dibelakang punggungnya. Kepalanya sibuk mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang menggema di dalam gendang telinganya lewat headphone yang tersumpal menutupi kedua telingannya. Mulutnya  berkomat-kamit mengucapkan sesuatu.

Dari tempat lain, seorang gadis berambut berpotongan diatas bahu tengah menatapnya dengan tampang aneh. Baru saja gadis itu bangkit dari dunia bawah sadarnya ketika disadarinya hari telah beranjak malam, dan jendela kamar asrama dirinya yang terletak di lantai 4 itu masih terbuka lebar sementara lampu kamarnya sendiri belum ia hidupkan. Saat ia beranjak bangkit, menyalakan lampu dan berniat menutup jendela kamarnya ia justru malah mendapati pemandangan tak biasa yang dapat ia lihat dari jendela kamarnya.

Seorang Seo Hyejin sibuk mondar-mandir di depan gedung asrama Romeo.

“Hya! Seo Hyejin, apa yang kau lakukan??” teriak Hyunjae sekeras mungkin berusaha agar sahabatnya yang berada di seberang sana mendengar pertanyaannya.

Nihil. Sama sekali tak ada respon.

Hyunjae mendengus.

“Aish.. pantas saja pakai headphone rupanya,” katanya saat sadar di atas kepala temannya itu terpasang sebuah headphone. “Biar saja lah, aku mau mandi.” Gadis itu pun berlalu pergi tak mempedulikan sosok temannya itu lebih lanjut. Mengunci jendela besar kamarnya, lalu menutupnya rapat-rapat dengan gordyn.

Hyejin. Gadis yang sejak sore –atau lebih tepatnya sejak sepulang sekolah- tadi sudah sibuk mondar-mandir-berdiri-mematung-mondar-mandir lagi di depan gedung asrama pria itu memang sama sekali tidak tahu jika tadi temannya memanggil-manggil namanya sampai putus asa. Jangankan Hyunjae yang memanggilnya dari gedung asrama seberang, Heechul saja yang meneriaki dirinya agar jaga jarak dari asrama pria sama sekali tak ia gubris, sampai-sampai pria itu memasang plang besar di depan pintu asrama bertuliskan “JAGA JARAK! WANITA DILARANG MASUK!!!!” –jaga-jaga kalau saja gadis itu tanpa sepengetahuannya berniat menyusup masuk ke dalam asrama pria yang jelas-jelas HARAM hukumnya untuk seorang gadis masuk kedalam sana. Apalagi sekarang sudah malam.

 “Huftt!!” ia menghela napas panjang. Dihentikan langkahnya, lalu berjalan kearah anak tangga depan pintu masuk kedung asrama romeo. Mendudukan dirinya diatas salah satu anak tangga.

“hmmphh…” kali ini ia mendesah hebat saat dilihatnya arloji di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 22.15 KST dan sosok yang dinantikannya belum juga menampakkan batang hidungnya. Dilihatnya kesekeliling. Semuanya tampak sepi.

Mendadak bulu kuduknya meremang hebat. Buru-buru saja ia bangkit dan berbalik menuju parkiran asrama Julliet, tempat dimana dirinya memarkirkan mobilnya.

car - hyejin - focus st

Tuuiitt.. Tuiit..

Ditekannya tombol kunci mobil yang baru dikeluarkan dari tasnya hingga berbunyi beberapa kali –pertanda kunci mobil telah terbuka.

Namun, belum sempat ia tiba di dalam mobil, dirasakan pundak sebelah kirinya seperti dipegangi sesuatu. Membuatnya menjerit ketakutan.

“HUWAA!!” jeritnya kaget, saat tau-tau mendengar namanya dipanggil seseorang dari arah belakang.

“Ya! Ini aku!!” Sosok yang tadi dikiranya hantu tampak berkacak pinggang melihat dirinya yang tengah berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ketakutan.

Hyejin yang merasa mengenali suara itu langsung membuka sebelah matanya. Mencoba mengintip. Meyakinkan dirinya bahwa yang memanggilnya barusan memang berwujud nyata, bukan hantu seperti yang ia kira.

Gadis itu menghembuskan napas panjang. Lega. Nyatanya gadis bertopi rajutan berwarna hijau dengan kacamata berframe besar serta headphone hitam yang dibiarkan tergantung begitu saja dileher itu memang berwujud nyata.

Itu Kim Hyunjae. Sahabatnya.

suzy_macau_selca_120127

“Kau kira aku hantu apa sampai kabur begitu?”

Hyejin hanya nyengir-nyengir tak berdosa. Gadis itu bangkit dari jongkoknya. Menepuk-nepuk bagian belakang bajunya yang sempat terkena debu tanah akibat berjongkok.

“Kau sendiri kenapa, tumben sekali berani keluar malam-malam apa lagi sudah selarut ini?” Hyejin menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu betul temannya yang satu ini sangat penakut dan paling anti jika keluar malam-malam sendirian apalagi diatas jam 7 malam. Dan jam berapa sekarang? Ia mengintip kearah arloji di tangan kirinya. Pukul 22.35 KST. Dan seorang Kim Hyunjae ada di luar di jam seperti ini?? DAEBAK! Sungguh kemajuan yang sangat besar!

Hyunjae memicingkan mata besarnya. Melayangkan tatapan menusuk pada gadis yang sudah lama sekali dikenalnya itu. Ia tahu pasti, gadis itu pasti tengah terperangah tak habis pikir karena mendapatinya berani keluar di malam selarut ini. Ckck.

“Aish! Asal kau tahu saja, dari lantai 4 aku berlari sambil mendengarkan lagu lewat headphone ini, melawan ketakutanku untuk menghampirimu. Tapi bukannya disambut senang malah diteriaki bagaikan hantu (-__-). Asal kau tahu saja kalau bukan karena aku kasihan melihatmu sendirian di depan ‘kandang singa’ sampai larut malam seperti ini, lebih baik aku memilih untuk tidur nyenyak. Bahkan tawaran seorang Lee Donghae untuk mentraktirku makan malam di Apgujong saja aku tolak demi menemanimu disini, padahal jarang-jarang pria pelit itu bersedia mengajakku makan malam apalagi di tempat mahal.” Hyunjae mendesah. Menekuk wajahnya. Tahu begini jadinya lebih baik ia terima saja tawaran Donghae, daripada malah diteriaki bagaikan hantu oleh sahabatnya sendiri.

“Hehehe.. aigoo baiknya chinguku yang satu ini jadi gemassss!” ia mencubit pipi Hyunjae gemas sambil terkekeh. Dirangkulnya sebelah lengan temannya itu lalu diajaknya duduk diatas sebuah bangku panjang yang ada di depan pintu masuk gedung asrama Julliet. Bermaksud meminta temannya itu untuk turut serta menemaninya.

Sepertinya duduk menunggu di depan asrama Julliet bukan pilihan yang buruk dari pada harus mondar-mandir sendirian dalam kegelapan malam di depan asrama pria, pikirnya cerdas.

—-

“Hya TOP!” panggil Hyejin lantang saat kedua manik matanya yang semula sempat terkantuk-kantuk, menangkap sesosok pria tinggi jangkung tengah berjalan melenggang dengan langkah kakinya yang lebar. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana seragam panjangnya.

 Langkah pria itu tampak terhenti. Berbalik kearah sumber suara. Ia lantas memasang tampang tak bersalahnya saat didapatinya sosok Hyejin tengah berjalan mendekainya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Kenapa jam segini baru pulang? Dari mana saja kau? Bukankah kau tahu hari ini kau ada janji denganku pukul 4 sore, huh??”

TOP tampak tak peduli.

“Memangnya kau tidak ingat apa?? Hey, ingat besok adalah ujian matematika dimana pelajaran ini pada dua tahun terakhir adalah pelajaran yang paling mempengaruhi hasil ketidak naikan kelasmu, TOP-ssi. Apa kau lupa?”

Kening pria itu berkerut. Ia berdecak.

“Lalu apa urusanmu?”

Hyejin melotot mendengar jawaban yang keluar dari mulut itu. Sudah ia duga tak akan mudah mendekati TOP dan merubahnya sesuai dengan keinginan Cho Kyuhyun sonsaengnim, tapi ia tak mengira bahwa rasanya akan semengesalkan ini!

Gadis itu mengurut dada. Mencoba tenang. “Huftt..”

“Gurae.. berhubung sekarang,” ia melirik arlojinya sekilas, “sudah tepat tengah malam dan akupun sudah tak mungkin lagi mengajarimu di saat seperti ini. Jadi..”

Pria itu tampak menggaruk sebelah alisnya. Tak peduli. Hyejin kembali mendesah.

“Jadi.. apabila besok saat ujian maematika kau mendapatkan hasil dibawah 70, maka aku tak segan akan mendatangi rumah orang tuamu- YA!! YAAA!!! TOP!! AKU BELUM SELESAI BICARA!!!!!”

Ia mengerang kesal. Baru saja TOP malah masuk kedalam gedung asrama Romeo tanpa mengatakan sesuatu apapun padanya. Tanpa bersedia mendengarkan ucapan gadis itu lebih lanjut.

“YAAA!! DENGAR YA! AKU TIDAK MAIN-MAIN AKU SERIUS!!!”

~mrs.ChoiLee~

“HOOammmphh..”

Hongki mendelik. Mendapati sosok teman sebangkunya menguap beberapa kali disampingnya saat jam kesenian tengah berlangsung. Entah apa yang membuat gadis yang biasanya sangat antusias tiap kali guru kesenian masuk kedalam kelas mereka itu justru malah terlihat mengantuk parah dan sama sekali tak bersemangat. Padahal menurut sepengetahuannya selama menjadi teman sebangku gadis itu dalam kurun seminggu ini, kesenian adalah salah satu mata pelajaran favouritnya.

“Hya.. Hya..” Hongki menggoyang-goyangkan tubuh teman sebangkunya yang tampak setengah sadar dengan posisi kepala tertunduk, bertumpu pada sebelah lengan yang menopangnya diatas meja, dengan ujung siku.

“ehmm..” gadis itu mengerang kecil. Tampak terganggu.

“Ya.. Ya! Cepat sadar!” lagi, ia menyikut tubuhnya. Mencoba menyadarkan gadis itu sebelum sosok Fei, guru kesenian mereka yang terkenal galak mendapatinya tidur ditengah jam pelajaran. Meski bengal-bengal begitu ia masih punya hati nurani untuk tidak membiarkan seorang wanita dipermalukan di dalam kelas.

“Memangnya kau semalam habis melakukan apa? Sepertinya lelah sekali?” bisiknya. Gadis itu mengucek-ucek kedua matanya. Matanya memicing. Menusuk kedalam mata sipit seorang Lee Hongki. Musuh bebuyutan sekaligus teman sebangkunya yang menyebalkan.

“Berisik!” desisnya.

Hongki balas menatapnya tajam. Lebih tajam dari tatapan yang dilayangkan Ahra sebelumnya.

Gadis ini benar-benar tak tahu diri. Sudah bagus ia berbaik hati pada gadis itu dan mencoba memberi perhatian lebih pada teman sebangkunya, malah dibalas dengan sikap tidak sopan seperti itu. Memangnya ia pikir siapa dia? pikir Hongki.

“Terserah kau sajalah. Urus urusanmu sendiri!” ketusnya.

“Sonsaengnim aku permisi ke kamar mandi,” ujar pria itu, kemudian berlalu meninggalkan kelas dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku. Tak mempedulikan tatapan bengis Ahra yang disertai sumpah serapah dari bibir mungilnya.

“Dasar namja aneh!”

—-

Lee Hongki, sampai jam pelajaran kesenian berakhir belum juga kembali dari toilet. Pria itu bukannya pergi ke toilet seperti apa yang ia katakan pada gurunya, melainkan malah ke atap sekolah dan tidur di atas bangku kayu tua yang ada disana ditemani dengan semilir angin yang berhembus menyusuri s etiap lekuk wajahnya. Menerbangkan helaian anak-anak rambut yang menutupi dahinya. Dengan sebelah tangan yang dijadikan bantalan kepala, pria itu tampak nyaman dengan posisinya seperti itu.

Bolos dalam jam pelajaran untuk sekedar merilekskan diri di atap sekolah memang sudah jadi kebiasaannya sejak dulu. Dan kebiasaan ini juga ikut ia terapkan meski untuk sementara waktu gedung sekolah mereka –Romeo- dipindahkan ke Julliet.

Meski kedua matanya terpejam, sebenarnya pria itu tak benar-benar tertidur. Ia hanya sekedar menutup matanya saja. Pikirannya justru melayang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang belakangan entah disadarinya atau tidak telah membuat dirinya bagaikan orang gila akhir-akhir ini.

“Aishhh!!!” ia bangkit dari posisinya. Mengacak-acak rambutnya. Frustasi.

Ia sungguh tak habis pikir akan apa yang dipikirkannya barusan.

“Aku pasti sudah gila!” ucapnya pada diri sendiri kemudian pergi meninggalkan atap sekolah. Kembali ke dalam gedung.

Tanpa ia ketahui sejak tadi, Jonghun, sahabatnya tampak memperhatikannya dalam diam. Bibirnya mengguratkan sebuah senyuman. Senyuman manis.. dan tulus yang dirasa mampu membuat siapapun gadis yang melihatnya akan langsung jatuh hati padanya.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan kawan,” senyumnya semakin merekah, membayangkan apa sekiranya yang dirasakan temannya barusan. Ia yakin. Amat yakin, bahwa tebakannya pada temannya itu pasti tepat. 100% tepat. Isi hati seorang Lee Hongki sangat mudah ditebak olehnya.

Drtt.. Drtt..

Pria itu menunduk, mengeluarkan ponselnya dari saku celana. 1 pesan masuk.

Senyuman pria itu kontan kembali merekah lebar saat dibacanya nama serta deretan kalimat yang tertera pada layar ponselnya. Buru-buru saja ia melipat kembali flip ponselnya lalu segera beranjak dari sana menuju suatu tempat dimana hatinya saat ini berada.

~mrs.ChoiLee~

@Kantin, Julliet

queen-anne-high-school-007

Seorang gadis tampak asik dengan ponselnya di salah satu meja di pojokan kantin yang langsung menghadap kearah taman samping gedung sekolah mereka. Bibirnya sibuk menyeruput jus jeruk dihadapannya yang sedotannya sejak awal memang tak pernah ia lepas dari bibir merahnya, baik tengah meminumnya ataupun tidak. Pandangannya hanya tertuju pada layar ponsel yang ada di genggaman tangannya. Sibuk membaca rentetan kalimat pada sebuah artikel berita mengenai artis idolanya pada sebuah blog.

Gadis berambut sebahu itu duduk sendirian ditengah-tengah suasana kantin yang ramai. Tak mempedulikan apapun yang terjadi disekitarnya. Termasuk tatapan beberapa orang siswa Romeo yang seolah tak berkedip memandang kearahnya. Seorang gadis bahkan mencubit lengan namja chingunya dengan raut kesal saat mendapati pacarnya itu malah sibuk melayangkan tatapan memuja pada gadis itu, bukan mendengarkan ucapannya yang sejak tadi tengah menceritakan sesuatu yang baginya menarik.

Sejak gadis itu putus hubungan dengan Choi Siwon dan memotong pendek rambut serta merubah sedikit gaya penampilannya, bisa dibilang pamornya lumayan melonjak terutama dikalangan pria. Wajah Hyunjae yang memang terbilang tak sesuai dengan umurnya ditambah dengan gayanya yang kini semakin terlihat “cute” membuat dirinya semakin terlihat muda dan fresh. Bukan seperti “bocah” seperti yang dulu sering dijuluki padanya, tapi lebih kepada gadis imut. Dan perlu diketahui lagi. Gadis itu justru lebih popular di kalangan anak kelas 1, yang notabene adalah hoobaenya.

Tapi sekali lagi, gadis itu seolah tak peduli. Atau malah memang tak tahu akan hal tersebut. Karena ia merubah penampilan bukan karena ingin dipandang menjadi gadis yang menarik atau untuk mencari perhatian pria lain, tapi ia merubahnya lebih kepada “buang sial” seperti apa yang pernah ia katakan pada Ahra atau Donghae saat mereka menanyakan akan perubahan drastis pada gaya rambut yang selama ini dijaganya itu.

“Asik sekali sepertinya,” ucap sebuah suara dengan nada berat saat gadis itu sibuk cekikikan, membaca sesuatu di layar ponselnya. Gadis itu tertawa lalu memalingkan wajahnya dari layar, memandang si pemilik suara. Namun tawanya seketika terhenti saat dilihatnya sosok Choi Siwon tahu-tahu sudah duduk dihadapannya.

Mimik gadis itu mendadak berubah total, namun secepat mungkin ia kembali merubah gurat wajahnya menjadi seperti semula. Sesantai mungkin seolah di depannya bukanlah sosok yang pernah menyakitinya. Mencoba agar terlihat bahwa dirinya bukanlah gadis lemah yang terlihat tersakiti dan mengharapkan pria di depannya itu untuk kembali padanya.

“Oh, hai. Mana yang lain?”

Siwon tersenyum. Ia tahu betul maksud dari gadis itu pastilah Victoria, gadis yang belakangan heboh dikatakan menjadi sosok yang paling berpengaruh atas putusnya hubungan mereka, bukan Donghae atau Eunhyuk.

“Victoria ada di ruang latihan tari. Katanya bulan depan ada kompetisi dan ia diminta untuk menjadi asisten pelatih.” Hyunjae mengangguk-angguk paham. Dalam hati merutuk. Sikap basa-basinya justru malah membuatnya kesal sendiri.

“Kau sendiri bagaimana? Kenapa sendirian? Bukankah selama ini kudengar kau paling anti untuk ke kantin seorang diri?”

Gadis itu terkekeh.  Ternyata pria itu masih ingat apa yang tak disukainya.

Dari arah pintu masuk kantin, Jonghun yang baru saja tiba dapat dengan jelas melihat keduanya. Namun dengan langkah tenang pria itu mendatangi mereka.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucapnya. Siwon mengerutkan kening, sementara Hyunjae justru tersenyum senang.

“Tidak juga, ayo duduklah,” gadis itu menggeser posisi duduknya. Menepuk-nepuk bangku kosong yang semula ia tempati. Memberi tanda agar Jonghun duduk disebelahnya.

Kedua alis tebal milik Siwon bertaut. Pria itu menatap keduanya cukup lama dengan pandangan tak suka kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Kenapa dia?” gumam Hyunjae saat tersadar tahu-tahu bangku yang ada di depannya kosong. Lebih kepada dirinya sendiri.

 Jonghun yang mendengar perkataannya hanya diam tak mengatakan apapun. Kedua matanya sejak tadi memang sudah melihat gelagat Siwon yang tampak tak senang akan kehadiran dirinya sampai pada akhirnya hyung-nya itu pergi begitu saja tanpa menyapanya sedikitpun. Otaknya saat ini tengah sibuk menerka-nerka tentang bagaimana reaksi Siwon selanjutnya.

Dan kali ini ia punya firasat buruk.

~mrs.ChoiLee~

@bulletin board, in front of teacher’s room

“Apa ini? 37?” Seo Hyejin berdecak. Raut wajahnya tampak tidak puas saat sepasang matanya membaca rentetan nama yang memperlihatkan hasil ujian matematika yang diadakan tadi pagi dikelasnya. Ditatapnya sekali lagi nilai yang tertera pada urutan terbawah itu dan urutan teratas dikelasnya bergantian, yang tak lain mencantumkan namanya sendiri.

Sungguh perbedaan yang sangat mencolok. 100 dan 37!?? Yang benar saja!

Tangannya ia lipat di depan dada. Usai puas memperhatikan semuanya dengan seksama, gadis itu berlalu, masuk kedalam kelasnya dengan raut wajah yang benar-benar sulit dijelaskan.

“Sesuai perjanjian. Sore ini juga aku akan kerumahmu,” Hyejin berdiri di samping mejanya dengan raut wajah seolah meremehkan pada teman sebangkunya yang tengah duduk bersantai di kursinya dengan kedua kaki panjang yang ia tumpukan keatas meja.

TOP, si pria berwajah sangar itu tampak tenang saja, melanjutkan aktivitasnya. Mengunyah permen karet dan meniupnya hingga besar dan meledak setelah itu dibuangnya begitu saja lewat mulut langsung ke arah jendela yang ada di samping meja mereka yang saat itu kebetulan memang terbuka. Dipandangnya gadis kurus di hadapannya itu dengan tatapan super tajam yang memang selalu ditampakkannya. Kedua kakinya yang semula bertumpu diatas meja satu persatu ia turunkan. Pria itu lantas berdiri tepat di hadapan seorang gadis terpintar dikelasnya yang hanya terpaut beberapa centi dibawahnya itu. Masih dengan tatapan tajamnya.

“Kau tak akan berani,” ucapnya meremehkan. Hyejin berdecak. Ditatapnya balik pria itu, galak.

“Let see?” tantangnya kemudian berbailk pergi meninggalkan TOP yang kini memicingkan matanya kearah gadis itu.

“Ah!” langkah gadis itu terhenti, lalu membalikkan tubuhnya. “Bukankah ayahmu adalah seorang kepala polisi pusat yang sangat galak? Dan setahuku, ia bahkan tak segan-segan memberikan pelajaran pada siapapun yang dirasa membuat martabatnya dipermalukan, betul tidak?” gadis itu mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. “Kalau ia tahu bahwa anak laki-laki semata wayangnya terancam drop out dari sekolah terpandang seperti Romeo akibat tidak naik kelas selama 4 tahun berturut-turut, kira-kira apa yang akan dilakukannya ya?” Hyejin menyeringai lalu kembali berlalu meninggalkan TOP yang kedua tangannya kini sudah terkepal kuat.

“Gadis tengik!” desisnya.

Hyejin tersenyum. Dari jaraknya yang sudah sejauh itu ia bahkan dapat dengan jelas mendengar bahwa pria itu tengah melayangkan sumpah serapah padanya.

—–

Sesuai dengan perjanjian. Tepat pukul  4.10 sore hari ia tiba di daerah hannam-dong, tempat dimana kediaman keluarga TOP berada. Tak sulit baginya datang sendirian kesana dengan mengendarai sendiri kendaraan miliknya, dengan bantuan gps. Apalagi daerah kediaman keluarga TOP ini bisa dibilang daerah yang cukup elit yang tata kelola letak bangunannya cukup mudah dijangkau dan tak merepotkan.

Setelah yakin telah memarkirkan focus kuning miliknya dengan aman, gadis itu keluar dari mobilnya sambil memegangi secarik kertas bertuliskan alamat kediaman keluarga TOP. Setelah berjalan beberapa meter dari mobilnya akhirnya gadis itu menemukan alamat yang ia maksud.

Gadis itu tampak terpukau. Rumah kediaman keluarga Choi, keluarga TOP, itu tampak kokoh berdiri dan terlihat begitu indah dan menarik perhatian dibandingkan rumah-rumah lainnya yang bahkan bisa dibilang jauh lebih mewah. Meski ia hanya melihatnya dari balik pagar tinggi pembatas rumah tersebut, namun ia tahu betul tampak di dalamnya pasti jauh lebih cantik.

Rumah tersebut bergaya seperti hanok, hanya saja dibalut dengan sentuhan modern. Sungguh karya yang indah dan sangat menarik dipandang mata.

tumblr_mbgacyjhjP1qjoynv

Gadis itu tersenyum. Di dekatinya pintu kayu kecil yang ada disalah satu sudut pagar. Mencoba untuk menekan bel yang terhubung dengan intercom rumah tersebut.

Namun, belum sempat ia menekannya seseorang justru menarik tangannya. Membawanya berlari, menjauh dari sana.

“YA! LEPASKAN!” gadis itu meronta. Tapi namja jangkung bertopi hitam itu sama sekali tak mendengarkan dan terus saja membawanya berlari. Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang baru saja mereka lewati seorang wanita setengah baya tampak terkejut melihat salah satu sosok yang baru saja melintas disamping jendela mobilnya.

“Omo! Omo! Kau lihat itu Pak Han??” seru seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu dalam balutan rancangan salah satu perancang busana terbaik di Korea itu pada pria tua di balik kemudi yang telah mengabdi selama hampir setengah hidupnya pada keluarganya itu, heboh.

“Ne, nyonya. Saya melihatnya,” pria tua yang tak lain adalah supir keluarga mereka itu mengangguk-angguk yakin.

“Omo!! Ini berita besar!!!” pekiknya heboh. “Ayo Pak Han, cepat putar kembali mobilnya. Kita kejar mereka sebelum menghilang!”

Pria yang dipanggil Pak Han itu mengangguk-angguk, langsung menuruti perintah si majikan. Memutar balik, mengejar orang yang berhasil membuat si nyonya rumah bertingkah heboh itu.

“Ah.. aku tak sabar mengabarkan hal ini pada suamiku~”

——

“YAK!! APPO!!!” Pekik Hyejin kesal sambil menghempaskan cengkraman tangan namja yang lebih kuat darinya itu kuat-kuat hingga terlepas ketika keduanya sudah berada di depan sebuah air mancur di dalam sebuah taman yang tak jauh dari tempatnya ditarik tadi.

 Ia meringis, meratapi kondisi pergelangan tangannya yang sudah memerah, membentuk wujud tangan pria itu. Ditatapnya muka pria menyebalkan yang kini tengah melayangkan tatapan tajam padanya itu dengan bengis.

“Keparat kau TOP! Kau yang menantangku, malah kini kau yang melarikan diriku dari depan rumahmu. Mau mu apa, huh? Dasar LOSER!”

Rahang TOP mengeras. Menandakan bahwa dirinya sangat kesal saat ini. Namun semampunya ia tahan.

“Lalu maumu apa?”

Hyejin mendesis. Tapi sial, belum sempat gadis itu bicara, tahu-tahu dilihatnya sesosok wanita cantik yang kira-kira seumuran ibunya tahu-tahu memeluk sebelah lengannya dan TOP dengan kedua tangannya yang terbalut blazer bulu berwarna pastel sambil tersenyum lebar. Membuatnya terkejut setengah mati. Siapa ahjumma itu???

“Aigoo.. uri adeul.. membawa pacar kenapa tak dibawa ke rumah, huh!?”

“MWO!!!??” Pekik keduanya bersamaan.

Hyejin melotot. Membuat kedua mata sipitnya membulat sempurna. Keduanya saling melemparkan pandangan. Terkejut. Tak mengerti akan maksud dari wanita itu. Kenapa ia mengira mereka pberpacaran??

“Y-ya, eomma kami tidak-”/”Ahjummoeni, aku bukan-”

“SUDAH!” potongnya tanpa membiarkan kedua remaja itu mengatakan sesuatu padanya lebih lanjut. Ia lantas tersenyum, memandang kedua sosok yang ada disamping kiri dan kanannya masing-masing itu dengan wajahnya yang ceria sekaligus lembut. Bergantian. “Kajja! Kajja! Kita pulang kerumah~ Appamu pasti senang melihat hal ini.. HAHAHAHA~” tawanya senang. Ditariknya kedua remaja yang ada dalam penguasaan lengannya itu dengan langkah riang kedalam mobilnya.

Sepanjang itu, Hyejin terus saja melayangkan tatapan tajam sekaligus menuntut penjelasan pada pria itu lewat gerakan bibirnya, tanpa berani mengeluarkan suara karena tiap kali ia mengeluarkan suaranya pasti wanita yang ia pikir adalah ibu TOP itu langsung menyuruhnya diam dan bercerita dirumah mereka nanti. Dan TOP? apa yang bisa ia lakukan? Meski semua orang menjulukinya anak bengal yang sama sekali tak pernah takut pada apapun itu malah tampak tak berkutik. Membuat gadis itu semakin bersemangat menyumpahinya dalam hati.

—–

“Yeobo.. kami pulang~” seru Geum Bora, ibu TOP, riang sambil terus menggandeng kedua remaja tersebut kedalam rumahnya. Merasa tak mendapat sahutan dari suaminya, langsung saja ia melangkahkankan kakinya, mengajak mereka menuju halaman samping tempat dimana biasanya suaminya berlatih pedang.

Dan benar saja dugaannya. Begitu tiba di sana dapat terlihat dengan jelas bahwa sang kepala polisi itu tengah berlatih dengan samurai panjangnya. Mencabik-cabik ikatan jerami yang dibuat tampak menyerupai wujud manusia itu dengan hunusan pedang panjangnya dengan cepat menjadi beberapa bagian.

Membuat Hyejin yang baru pertama kali melihat atraksi samurai secara langsung di depan matanya itu takjub, berbeda dengan TOP yang malah langsung bergidik ngeri melihatnya. Pria itu memang sudah sangat sering melihat hal ini. Dan tiap kali melihatnya, berarti pertanda buruk baginya.

Tepat dugaan Hyejin sebelumnya. Sejak saat ia masuk kedalam rumah hingga kini ia berada di taman belakang, ia benar-benar dibuat kagum akan gaya dan dekorasi rumahnya.

korean-house-design-modern-and-geometric-shapes-3

 “Yeobo.. Coba lihat siapa yang datang?” ujar wanita itu sambil tersenyum, memanggil suaminya yang tengah menatap hasil kerjanya dengan senyuman lebar, agar melihat siapa sosok yang dibawanya. Membuat Hyejin kembali tersadar dari pikirannya sendiri.

Pria itu menoleh. Namun wajahnya langsung berubah total saat dilihatnya sosok namja tengik yang ada di samping istrinya. Mulutnya langsung bergerak-gerak, tampak menggerutu, melayangkan sumpah serapah. TOP yang sadar akan hal ini langsung saja mengambil ancang-ancang.

“YA! NEO! ANAK KURANG AJAR KEMARIIIII!!!!” teriaknya sambil mengacung-acungkan samurai miliknya yang sudah terbungkus dalam tempat pelindungnya . Mengejar TOP yang sudah berlari kabur masuk kedalam rumah.

“YAK!! APPA!!! APPOOO!!!” ringis TOP saat dirinya nyaris tertangkap oleh sosok sang ayah dan beberapa kali terkena pukulan dari ujung samurainya. Keduanya terus aja berlarian, melarikan diri dan mengejar satu sama lain. Dari dalam rumah hingga keluar rumah sampai akhirnya sosok Choi Minsoo muda itu tertangkap oleh ayahnya sendiri di taman tempat ayahnya semula berlatih saat kakinya tak sengaja tersandung papan kayu bekas latihan ayahnya.

Hyejin yang sejak tadi terus memperhatikan mereka hanya bisa melongo. Memandangi pemandangan aneh yang tersaji di hadapannya.

~mrs.ChoiLee~

Kwon Ahra. Gadis itu mendesah hebat lalu membuat sebuah tanda silang ekstra besar pada sebuah kolom yang ada di salah satu halaman surat kabar harian yang ada di dalam genggamannya. Dilihatnya dengan seksama semua halaman koran yanh nyaris seluruh kolomnya telah ia coret-coret dengan tanda silang itu sekali lagi, lalu kembali mendesah.

Dibiarkannya punggungnya menyandar pada dinding kaca halte bus, sementara kepalanya tertunduk. Meratapi nasibnya yang bisa dibilang sangat sial. Bagaimana tidak? Baru saja kemarin ia mendapatkan pekerjaan sebagai kasir disebuah cafe elit di daerah gangnam setelah sebelumnya dipecat dari kedai ayam goreng –tempat dimana ia selama ini bekerja dengan alasan pengurangan pegawai part time- sekarang ia malah sudah harus mencari pekerjaan baru lantaran semalam ia baru saja kembali dipecat dari pekerjaan yang bahkan baru saja beberapa jam didapatkannya itu gara-gara ulah seorang gadis kaya yang tak sengaja menabrak dirinya yang saat itu tengah membawa nampan minuman hingga membuat gaun mahal yang dikenakannya terkena tumpahan minuman. Tapi sialnya justru ia yang kena sial. Dipecat dari cafe.

 Semalaman ia sibuk mencari pekerjaan pengganti kesana-kemari, hingga membuatnya tak tidur semalaman hingga ia terpaksa harus mati-matian melawan kantuk di kelas.

“Huft..” ia kembali mendesah hebat. Kepalanya pusing. Sudah tak tahu harus kemana lagi mencari. Orang tuanya belum tahu soal hal ini, yang mereka tahu anaknya itu masih bekerja di kedai ayam goreng. Ahra tak mau merepotkan kedua orang tuanya yang sudah renta itu untuk sekedar mencemaskan uang jajan putrinya, karena baginya kebahagian orang tuanyalah yang terpenting. Apalagi belakangan kakaknya yang selama ini menjadi sumber utama keuangan keluarganya juga sudah memiliki anak kembar yang pastinya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Jadi ia merasa bertanggung jawab untuk membantu keluarganya, bukan malah menambah beban.

Tin.. Tinn..

Suara klakson mobil yang memekikkan telinga berhasil menyadarkan Ahra dari lamunannya.

“Hey, sedang apa disana sendirian?” ucap seorang pria berwajah konyol dari dalam mobilnya pada Ahra. Gadis itu tersenyum. Itu Eunhyuk. Sunbae yang disukainya.

“Ini halte, Oppa. Tentu saja aku sedang menunggu bus,” kekeh gadis itu. Eunhyuk hanya tertawa.

“Ayo masuk. Biar kuantar.”

Ahra duduk diatas tempat tidurnya dalam diam. Kedua tangannya memeluk kakinya yang berukuran lumayan besar, menumpuknya dagunya di sela-sela kedua lutut.

Hatinya gamang. Ia bingung.

Tadi saat ia bertemu dengan Eunhyuk dan menceritakan mengenai dirinya yang tengah mencari pekerjaan paruh waktu, pria itu malah menawarkan pekerjaan pada dirinya. Pekerjaannya cukup mudah.. dan gaji yang ditawarkan pun dapat dikatakan sangat besar untuk ukuran pekerjaan paruh waktu. Namun.. ia tak yakin untuk menerimanya. Resikonya terlalu besar. Dan ia yakin orang tuanya pasti akan marah besar jika tahu hal ini. Meski sebenarnya tak seburuk itu.

“Hey, bagaimana? Apa kau mau menerimanya? Kebetulan baru saja aku baru diberitahu jika salah satu pegawai hari ini baru saja mengundurkan diri, jadi kami memang benar-benar membutuhkan pegawai tambahan,” ujar Eunhyuk dengan nada cerianya saat panggilan Ahra tersambung padanya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ragu.

“Hey, tenanglah. Keselamatanmu aku yang jamin disini, haha,” lanjut pria itu. Seolah tahu apa yang gadis itu pikirkan.

Ahra memejamkan kedua matanya. Menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menguatkan dirinya sendiri.

‘ayolah Kwon Ahra.. dimana lagi kau bisa mendapatkan gaji sebagai pekerja part time dengan nominal sebesar ini?’

‘Keungan keluargamu jauh lebih penting dari apapun..’

‘..termasuk jatah tidurmu yang akan berkurang..’

“Ne, Oppa. Aku mau.”

~mrs.ChoiLee~

“Choi Jonghun!” panggil Donghae saat pria berkacamata itu baru saja keluar dari gedung asrama Romeo sore itu -mengambil sepedah kesayangannya yang ia parkirkan di tempat parkiran sepedah. Jonghun yang baru saja akan mengayuh pedal sepedanya dengan sepasang headset yang melekat pada kedua lubang telinga –namun belum sempat ia putar musiknya, kontan berbalik, menoleh kearah sumber suara.

“Oh, hyung,” sapanya ramah. Namun tak begitu halnya dengan Donghae. Pria itu justru terlihat dingin. Ia berjalan mendekati Jonghun dengan kedua tangann dilipat di depan dadanya yang terbungkus  kaus POLO tshirt hitam kesukaannya.

“Jujur saja. Apa motifmu mendekatnya?”

Kening pria itu berkerut. Apa maksud Donghae?

“Jujur saja aku tak suka melihat kalian berdua terlalu dekat seperti itu. Kau tahu sendiri kan dia itu baru saja berpisah dengan hyung-mu? Tapi kenapa kini kau malah mendekatinya?” Donghae to the point. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya ia berbicara kasar pada teman sekelasnya itu. Tapi ia tak peduli. Baginya menjaga perasaan satu-satunya sahabat perempuannya yang baru saja disakiti oleh seorang pria adalah yang terpenting, dari pada nantinya ia harus dua kali menghajar seorang pria bermarga Choi karena telah membuat sahabatnya tersakiti.

Jonghun tersenyum paham. Pasti Hyunjae yang Donghae maksud. Ia lantas turun dari sepedahnya. Dibukanya kedua sumpalan pada telinganya sambil berjalan mendekati Donghae.

“Aku tak seburuk yang kau pikirkan hyung. Mesti aku tak sesempurna apa yang selalu kau katakan padaku selama ini, namun aku akan membuktikan padamu bahwa aku memang pantas berada disisinya.”

“Maksudmu?” Donghae tampak bingung.

 Jonghun menarik napas panjang kemudian tersenyum. Ditepuknya kedua pundak Donghae pelan, kemudian ditatapnya lurus dengan tatapan serius.

“Aku benar-benar menyukainya hyung. Perasaanku jauh lebih dalam dari perasaan gadis itu pada hyung-ku yang sialan itu. Dan aku akan membuktikannya padamu.. dan pada semua orang bahwa aku jauh lebih baik dari dirinya.”

—–

Donghae memandangi punggung Jonghun yang telah menghilang dengan sepedahnya dengan raut wajah yang sangat sulit diartikan. Pria itu tampak masih shock akan apa yang tadi baru saja disampaikan oleh Jonghun. Sepanjang ia mengenal adik dari Choi Siwon itu tak pernah dilihatnya namja itu berbicara seserius itu pada dirinya, meski selama ini perawakan pria itu sendiri selalu serius terutama saat jam pelajaran berlangsung. Tapi sungguh raut serius pria itu benar-benar berbeda kali ini.

Entah mengapa ini benar-benar membuat pikirannya semakin merasa terganggu. Atau malah tak suka? Entahlah tapi yang pasti ia benar-benar mencemaskan seorang Kim Hyunjae. Ia tak mau sehabatnya itu harus berurusan dengan kakak beradik Choi. Tapi jika saja yang mendekatinya pria lain, apakah ia juga akan bertindak seperti ini? Ia juga tak tahu.

TBC

 

Oh okay, finally part 11 datang hahahaha

Entah suka atau engga, yang penting usaha. Dari pada ga sama sekali

Tapi yakin sih pada kurang puas -_-v

Lanjutannya tunggu nanti ya, setelah semua tugas dan ujian selesai. Dan tolong di doakan senin ini bakal ada kuis (lagi dan lagi -__-) dan kamis kembali di sidang buat uas TT__TT

Mohon doa dan dukungannya ya~ dadahhh~~

 

Iklan

7 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 11

  1. ada timbal balik ga sih dr guru yg nyuruh hyejin buat bantu dia ngajarin si TOP nya?
    ga mgkn kan ada org mau cape” bantuin org ky gt tp ga ada balesan ap” (cuma-cuma), ya kan?

  2. huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. *peluk erat author smpe sesak napas*
    duuuh… udah lumutan smpe nyaris jdi fosil nunggu kelanjutan ff ini. eh iseng2 liat udah ada doooonggg *joged bonamana ama eunhae*
    ituuu choi minsoo appanya TOP??? g kebayang seremnya ya hehehe
    btw, thank buat ffnya n keep writing ya.
    good luck buat ujian2nya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s