My Baby.. -CHAPT: 1

my baby vers2ee

Oh hyyy.. annyeong~ haha saya datang membawa FF baru dengan CAST yg lebih segar.. haha buat yang bosen ama couple” senior sebelumnya *gyahahaha* ini saya bawa warna baruu kkk

ini ff pesenan dongsaeng aku sendiri, yang udah pesen dari jaman” awal merry me baru dibikin tapi baru sempet dibikin sekarang setelah ngerem digoa selama sepuluh hari sepuluh malem #lebay #plakk

oke semoga sukaa~

Cast :

  • Oh Sehun
  • Jung Soohwa (OC) *covered by park chorong*
  • Jung Yonghwa
  • Seohyun
  • Luhan as Oh Luhan
  • and the other cast u can find on this story

Genre: Family, romance, sadness

Length : series

Dissclaimer: This strory is from my own mind, all cast belongs to GOD. Do not to COPYCAT without PERMISSION.

A/N: alurnya bakal maju-mundur dan mungkin agak ngejelimet, so tolong perhatiin tahun dan lokasi serta nama castnya baik-baik ^^.

-My baby-

Disaat seluruh dunia mencoba untuk memisahkan kita..

apakah kita harus mengikutinya, atau justru malah menentang semuanya demi mempertahankan sesuatu yang dinamakan ..

CINTA?

-My baby-

Daegu, April 1992

Gemuruh suara petir diiringi hujan deras serta angin yang kencang yang bahkan mampu menyapu apapun yang dilewatinya malam itu semakin membuat suasana di salah satu bangunan kecil nan kumuh yang ada di pinggiran kota Daegu, semakin terasa mencekam.

Di dalam sana, di satu-satunya bilik kecil yang disebut oleh penghuninya sebagai kamar –tempat peristirahatan mereka di saat lelah mendera, seorang wanita tengah bertarung nyawa, menahan rasa sakit yang mendera perut besarnya. Seluruh wajah dan beberapa bagian tubuhnya basah oleh keringat, akibat terus menerima serangan rasa sakit yang nyaris tak tertahankan olehnya.

“Argghhhh!!” pekiknya keras tatkala rasa sakit itu tak lagi tertahankan olehnya.

Dari arah bawah tubuhnya, dress tidur yang dikenakannya sudah basah akibat sesuatu yang entah ia sadari atau tidak mengucur deras dari dalam tubuhnya, mengalir melewati kaki panjangnya hingga membasahi lantai  serta tempat tidurnya. Air ketubannya pecah.

“Yeoboooo!!!” teriaknya lagi. Bnear-benar sudah tak tahan.

Tak ada sahutan, yang ada hanya gemuruh  suara petir yang bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya, membuat suaranya terpendam di balik bisingnya fenomena alam diluar sana.

Sementara itu jauh dari tempat wanita itu berada, seorang pria dibalik jas hujan kuningnya tengah mencoba setengah mati melajukan motor tua miliknya, melawan arus angin kencang yang sepanjang perjalanan terus menemaninya. Dibelakangnya, tampak seorang wanita setengah baya yang tampak kesusahan dibalik jas hujan hitam miliknya, menutupi wajahnya yang terus menerus ditampari air hujan.

“Hey, hey, apa rumahmu masih jauh?” tanyanya dengan suara sekeras mungkin, menghindari kemungkinan pria muda yang membawanya saat ini tak mendengarkan ucapannya akibat suara petir yang terus menggema tiada henti.

“Tidak uisa,” ia mengelap wajahnya yang terus dihujani air hujan dengan sebelah tangan, lalu sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap bidan tua yang tadi dibujuknya setengah mati agar mau ikut dengannya ditengah cuaca yang buruk seperti ini. “Sebentar lagi sampai.”

Wanita itu tampak ragu, namun akhirnya mengangguk juga saat samar-samar dilihatnya ada setitik cahaya temaram yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Meski cahayanya tak begitu terang, namun wanita itu sangat yakin bahwa cahaya itu berasal dari sebuah rumah mengingat dari tadi jalan yang mereka lalui hanya menampakan areal perkebunan palawija.

“Itu rumahnya,” pekik pria itu, tersenyum girang saat dilihatnya bilik kecil yang selama beberapa bulan belakangan ini menjadi tempat ia dan istri tercintanya berlindung.

CTARRRR!! DUARRR!!

Dalam seketika senyuman itupun hilang.

“JAGIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

-My baby-

“APPA!!!!” pekik seorang bocah laki-laki riang saat dilihatnya seorang pria dewasa muncul dari balik pintu kayu bercat putih yang menjadi satu-satunya akses masuk kedalam rumah mungil mereka. Pria yang diwajahnya nampak guratan lelah itu seketika tersenyum lebar saat melihat bocah berumur 3 tahun melompat kedalam pelukkannya.

“Aigoo, jagoan Appa belum tidur rupanya??” ia menyentil hidung anaknya yang kini berada dalam gendongannya itu pelan, membuat bocah cilik berpiyama motif pokemon itu memberengut sebal. Tapi belum sempat ia protes akan perlakukan ayahnya, tahu-tahu suster yang selama ini menjadi pengasuhnya muncul dengan napas tersengal. Membuat pria itu lantas memandangnya dengan tatapan aneh.

“Maafkan saya tuan, tuan muda tadi langsung berlari dari kamarnya saat mendengar suara mobil anda berhenti di depan rumah,” wanita berseragam ala baby sitter itu terus-terusan membungkuk dalam-dalam. Meminta maaf karena lagi-lagi tak berhasil membuat anak dari majikannya itu tidur tepat waktu.

“Suruh siapa Appa pulangnya malam terus, Luhan kan mau tidur kalau ada Appa! Gak mau sama suster!” Luhan –nama anak kecil itu- menggembungkan wajahnya tanda protes. Membuat Appanya merasa bersalah dibuatnya lantaran selalu disibukkan dengan pekerjaannya.

“Aigoo.. Anak Appa tak boleh begitu, ayo sini Appa temani Luhan bobo. Mau?”

“MAU!” gembungan diwajah kecil Luhan kontan menghilang, digantingan senyuman maha lebar yang membuat wajahnya semakin terlihat imut.

“Hoammphh..” Luhan menguap lebar. Pria itu terkekeh, lantas membawanya kelantai dua, tempat dimana kamar anak itu berada setelah sebelumnya mempersilakan baby sitter Luhan tadi agar kembali ke pekerjaannya yang lain.

Dibukanya pintu kamar Luhan perlahan lalu direbahkannya tubuh jagoan kecilnya itu diatas tempat tidur Luhan yang menyerupai bentuk mobil. Pria itu menatap anaknya yang sudah terlelap itu ,lama.  Mengingat rentetan kalimat protes yang diutarakan anak berumur 3 tahun itu tadi membuatnya berpikir. Dirinya sungguh merasa bersalah. Bagaimana mungkin selama ini ia tak menyadari bahwa anaknya itu tentu saja sangat membutuhkan perhatian lebih darinya.

“Eomma..” gumam Luhan dalam tidurnya. Membuat pria itu tersentak. Kedua sorot matanya mendadak melemah, diiringi perasaan sakit yang tiba-tiba saja dirasa seolah menghunus jantungnya.

Pria itu lantas beranjak keluar, mematikan saklar lampu kamar anaknya lalu menutup pintunya rapat.

-My Baby-

Seorang wanita setengah baya menatap prihatin kearah seorang pria yang tengah terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Sejak dikabarkan oleh salah seorang anak buahnya beberapa jam yang lalu, wanita itu langsung melesat ke sebuah rumah sakit kecil di pinggiran Daegu, tempat dimana anak semata wayangnya dirawat. Dan selama itu, pula pria itu tak sadarkan diri.

Menurut penuturan dokter dan beberapa orang yang membawanya kerumah sakit, Yonghwa, anaknya itu pingsan karena terlalu shock saat mendapati rumah yang ditempatinya terkena sambaran petir saat badai yang mendera desa tempat tinggalnya semalam. Dan dalam kejadian tersebut dikatakan tak ada satupun korban yang selamat. Itu lah yang rupanya diyakini Son Yejin, wanita berwajah angkuh nan cantik itu, sebagai penyebab utama anaknya itu sampai saat ini tak kunjung menampakan tanda-tanda siuman.

Tokk.. Tokk..

Seorang pria berpakaian rapih lengkap dengan setelan jasnya masuk kedalam ruang perawatan, membungkuk sopan kepadanya. Wanita yang telah berusia nyaris separuh abad itu menoleh sekilas lalu kembali memandang kearah ranjang.

“Semuanya aman terkendali, nyonya.”

“Apa kau yakin?”

“Ya. Bisa saya pastikan bahwa tak ada satupun yang terlewatkan.”

Wanita itu tersenyum, “Lalu bagaimana dengan janinnya?”

“Sesuai yang anda perintahkan,” jawabnya. Senyum Yejin semakin lebar. Ia mengangkat dagunya, menatap kearah anak semata wayangnya yang masih belum sadarkan diri itu dengan tatapan puas.

Semua berjalan sesuai dengan rencananya. Siapa yang akan pernah menyangka setelah selama ini dirinya memikirkan cara untuk memisahkan mereka, justru Tuhan dengan segala kebaikannya malah membantu dirinya dalam menjalankan rencananya tanpa pernah ia duga sebelumnya. Mengingat hal ini, membuat ia semakin tersenyum puas.

-My Baby-

Di salah satu sudut, di sebuah klinik kecil di daerah pedesaan di pinggiran kota Daegu, seorang wanita terlihat tengah memandang ke dalam sebuah ruangan bercat putih dengan pandangan lembutnya dari balik kendela kecil yang membuat sekat antara dirinya dan makhluk mungil yang ada di dalam sana.

Tatapannya lembut. Sangat lembut. Jari-jari panjang wanita itu tampak membelai lembut kaca transparan yang ada dihadapannya dengan sangat hati-hati, seolah tengah menyentuh seorang makhluk mungil yang ada di dalam tabung incubator yang ada tepat di sudut ruangan penyimpanan bayi yang tak terlalu besar itu. Dengan sangat hati-hati.

Sudut bibirnya tertarik keatas tat kala ekor matanya menangkap suatu pergerakan kecil dari dalam sana.

Bocah mungil yang ada di dalam tabung penghangat bayi itu adalah anaknya. Buah hatinya.

Setidaknya itulah yang dikatakan oleh seorang perawat yang mendapatinya tersadarkan diri dari tidur panjangnya, tadi pagi.

Entahlah. Sejujurnya saja ia tak mengerti. Ia sama sekali tak bisa mengingat apapun. Namun ketika ia melihat makhluk mungil yang seluruh tubuhnya masih sangat ringkih itu dari balik jendela seperti ini, sebuah perasaan aneh seketika menjalar ke dalam tubuhnya. Sebuah perasaan yang entah apa artinya, namun yang ia tahu pasti, ia merasakan kehangatan saat melihatnya.

-My Baby-

“APPPAAAAAAA!!” pekik Luhan riang ketika dirinya berhasil membuka pintu kaca klinik tempat ayahnya bekerja. Sementara dibelakangnya tampak suster Ahn, perawatnya berlari tergopoh-gopoh dengan raut kelelahan mengejar anak majikannya itu setelah membayar ongkos taksi. Ia tak habis pikir kenapa dirinya yang telah berusia 18 tahun berhasil dikalahkan oleh seorang anak kecil berusia 15 tahun dibawahnya.

“Susterrrr!! Appa dimana??” tanyanya dengan wajah menggemaskan sambil berjinjit, menghadap meja kayu yang menjadi tempat stand by suster penjaga di ruangan paling depan setelah pintu masuk, berusaha menjangkau tinggi meja yang terpaut sekitar 10 senti lebih tinggi darinya.

“Eh, Luhan?” suster itu tampak terkejut, lalu berjalan memutar mengitari mejanya. Ia lantas berjongkok tepat dihadapan anak kecil itu, menyamakan tingginya dengan anak kecil berwajah oriental nan tampan itu. “Dengan siapa kemari?”

“Mana Appa?” Luhan sama sekali  tak menghiraukan pertanyaannya.

“Appa-mu ada di taman samping. Kau mau kesana?”

Ia mengangguk, tersenyum girang. Membuat suster Song yang barusan diajaknya bicarapun kontan tersenyum dan segera menggandeng sebelah tangan mungilnya, membawanya ke tempat yang dimaksud.

“APPA!!” Pekiknya saat mata bulatnya berhasil menangkap sosok ayahnya yang tengah duduk memunggunginya di sebuah kursi kayu panjang yang ada di taman mini samping klinik ayahnya. Ia pun kontan melepas pegangan tangan suster Song dan berlari mendekati ayahnya. Suster Song yang melihat tingkahnya hanya bisa terkekeh, lalu berbalik meninggalkannya. Membiarkan bocah itu berlari kegirangan mendekati ayahnya.

“Aigoo.. jangoan Appa!” Oh Jiho langsung bangkit dari duduknya. Merentangkan kedua lengan kekarnya, menangkap tubuh mungil jagoan kecilnya. Membawanya dalam gendongan.

“Luhan kangen Appa!” anak itu mengerucutkan bibirnya. Membuat wajahnya justru tampak semakin menggemaskan. Jiho terkekeh, mencubit pipinya anaknya gemas. Membuat Luhan menggembungkan pipinya sebal.

“Eh, itu siapa appa?” kedua mata Luhan mengerjap-ngerjap, polos, saat ekor matanya malah tak sengaja menangkap sesosok wanita muda nan cantik tengah duduk d kursi yang sama dengan yang ditempati ayahnya barusan. Wanita berseragam pasien itupun lantas tersenyum kearahnya, membuat wajah bocah kecil itu tersipu malu, dan segera merangsek turun dari gendongan ayahnya.

“Nah, Luhan. Ayo beri salam pada bi-”

“Annyeonghassaeyo.. jo neun Oh Luhan imnida,” Luhan membungkuk sopan. Memperkenalkan dirinya tanpa disuruh. Membuat kedua orang yang melihatnya itu tersenyum senang akan perilaku sopan yang ditunjukkan bocah kecil itu.

“Nama bibi siapa?” tanyanya polos. Mengambil tempat duduk disamping wanita itu. Tatapannya masih tertuju pada wanita itu.

Wanita itu tampak terdiam, semantara Luhan masih setiap melayangkan tatapan polos terhadapnya.

“Er.. Luhan, bibi ini lupa siapa namanya,” Oh Jiho berinisitif menjawab pertanyaan Luhan yang saat ini tampak penasaran karena wanita itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Dahi bocah itu berkerut. Ia bingung. Maksud Appanya apa sih? Kenapa bibi itu bisa lupa namanya?

“Kenapa bisa lupa? Memangnya bibi tidak tahu siapa nama bibi? Terus itu kepala bibi kenapa? Kenapa diperban begitu? Apa bibi mumi? Kan biasanya mumi yang diperban begitu,” tanya anak itu bertubi-tubi. Membuat Jiho langsung menarik anaknya itu kedalam gendongannya, takut wanita itu merasa terganggu akan serangkaian pertanyaan polos sekaligus penasaran dari anak semata wayangnya.

Tapi justru diluar dugaan, wanita itu malah tertawa. “Aku tidak ingat siapa namaku anak tampan, apa kau mau memberikan sebuah nama yang cantik untukku?” tanyanya dengan senyum tulus.

Kedua mata pria itu melebar. Namun tidak dengan Luhan. Bocah itu lagi-lagi merangsek turun dari gendongan ayahnya. Melompat mendekati wanita itu dan menggenggam kedua tangan lembutnya.

“Itu kalung bibi tulisannya apa?” tunjuknya pada bandul kalung yang dikenakan wanita itu.

Wanita itu tampak menatap anak itu dengan pandangan tak mengerti. Tangan kanannya meraba bagian lehernya, mencoba memegang benda yang tadi ditunjuk Luhan. Kemudian membacanya.

“Seohyun,” ucap Jiho. Membaca untaian nama yang teratri membentuk bandul pada kalung yang dikenakan wanita itu. Luhan kontan tersenyum lebar, sementara bibi dihadapannya malah memandang mereka bingung.

“Nama bibi Seohyun saja! Oh Seohyun!”

Sudut bibir gadis itu terangkat tinggi.

“Luhan..” panggil Jiho, tapi Luhan tak menggubris dan malah memeluk wanita itu ringan.

“Bibi! Kau cantik sekali. Ayo jadi eomma Luhan!”

-My Baby-

Incheon, 2011

Incheon-International-Airport

“Nona muda!!!! Jangan kaburr!” teriak salah seorang pria berbadan tegap, dengan kabel earphone yang terpasang disebelah telinganya,  yang tampak kesusahan berlari mengejarnya ditengah-tengah keramaian bandara Incheon siang itu.

“Cepat kalian semua berpencar!” perintahnya pada beberapa orang pengawal yang lain saat sosok sang nona muda benar-benar luput dari pandangan mereka.

Sementara itu, tak jauh dari tempat dimana para pria berjas itu tadi berada. Tepat dibalik dinding, seorang gadis berambut kemerahan tampak berlindung dibalik pot tanaman berukuran besar, menutupi kepalanya dengan kemeja hijau lumut kebesaran yang entah di dapatkannya dari mana.

Setelah dirasa para pengawal yang sedari tadi mengejarnya telah menghilang dari pandangan, ia lantas keluar dari persembunyiannya sambil berjalan mengendap-endap keluar dari dalam salah satu bandara terbaik di dunia itu, untuk kemudian masuk ke dalam taksi dan pergi menjauh dari segala kekangan keluarga besarnya menuju Seoul. Sekedar bermain-main di sungai han atau melihat seluruh pemandangan kota Seoul dari atas namsan tower, entahlah, yang pasti ia akan bersenang-senang disana dan menghabiskan waktu seorang diri. Bukan di Incheon.

Hanya dengan membayangkannya saja membuat gadis itu senyum-senyum sendiri.

“Auch!” pekiknya saat tiba-tiba dahinya terasa menabrak sesuatu. Gadis itu lantas memberengut, mengusap-usah dahinya lalu mendongak.

“Kami sudah lama menunggumu, nona,” ucap seorang pria berambut pirang nan tinggi dengan senyum khasnya yang justru terkesan dingin dan misterius, padanya.

Shit! Gadis itu mengutuk dirinya dalam hati saat di dapatinya kepala pria muda nan tampan yang tadi ditabraknya ternyata sosok pengawal pribadi yang selama ini diutus oleh halmeoninya untuk menjaganya kemanapun ia pergi.

keriseu

 Gadis itu hanya bisa mendengus sebal saat Kris Wu, pengawalnya itu, membukakan pintu belakang Alphard hitam dibelakangnya, mempersilakannya untuk masuk. Ditatapnya sekeliling, seluruh pengawal pribadi yang tadi berpencar mencarinya rupanya sudah berdiri, berjaga mengelilingi mereka. Sama sekali tak ada ruang untuk dirinya melarikan diri.

Gadis itu berdecak, lalu masuk kedalam van mewah buatan Jepang itu, tanpa pertentangan.

Sepanjang jalan, Soohwa  hanya diam, memandang keluar jendela. Sudah sekitar sepuluh tahun lamanya sejak gadis itu dikirim orang tuanya untuk belajar dan tinggal di Canada, dan hari ini untuk pertama kalinya sejak waktu yang panjang itu ia dapat menginjakkan kakinya kembali di negara kelahirannya.

Namun, semua rencana yang telah disusunnya untuk menikmati hari-harinya di Korea rupanya meski ia kubur dalam-dalam, melihat ketatnya pengawalan yang diberikan oleh keluarganya.

Jung Soohwa –nama gadis itu- memang bukanlah seorang anak dari pejabat penting yang kemana-mana mendapatkan pengawalan ketat, dan ia pun bukan seorang publik figur yang harus mendapatkan keamanan demi menjaga kehidupan pribadinya dari serangan sasaeng fans –seperti apa yang ia ketahui melalui media online yang dibacanya mengenai artis idolanya- tapi ia hanyalah seorang gadis sembilan belas tahun biasa yang baru saja akan menjajaki nasib sebagai seorang mahasiswa baru disalah satu universitas. Hanya saja karena ayahnya merupakan dokter bedah tulang terkemuka di German yang sangat di segani bahkan hampir diseluruh dunia, dan merupakan anak tunggal membuat dirinya sedari kecil mendapatkan perlakuan yang dirasanya ekstra berlebihan seperti ini.  Terlebih orang tua ayahnya adalah pemilik salah satu yayasan terbesar yang bergelut dalam bidang pendidikan, seni dan sastra. Membuat dirinya semakin terasa di kekang.

“Huft..” gadis itu mendesah berat. Masih memandang jauh keluar jendela.

 Tanpa ia ketahui, diam-diam tindakannya barusan mendapatkan perhatian dari Kris yang menatapnya dari balik kaca spion.

-My Baby-

@Jung Family house, Incheon

95271-britney-spears-former-mansion-in-calabasas-up-for-sale

 “Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa terus berdiam di dalam rumah sepanjang hari sampai hari masuk kuliah tiba. Begitu?” Jung Soohwa berdecak, mengacak-acak rambut panjangnya tak habis pikir saat Kim Soohyun, kepala pelayan kediaman keluarga Jung, melarang nona mudanya itu untuk beranjak dari rumah.

“Maaf nona. Nyonya besar mengatakan apabila anda ingin pergi kemanapun itu, harus dengan seijinnya terlebih dahulu, dan juga harus ditemani setidaknya oleh Kris dan Jongin,” jawabnya sopan, menyebutkan peraturan yang dibuat oleh nyonya besar pemilik rumah itu dengan apa adanya.

Gadis itu mendesisi. Tak seperti apa yang dipikirkannya dulu, hidup di Korea ternyata tidak lebih dari pada saat ia tinggal di Canada. Semua aturan yang dari sang Nyonya Besar Jung seolah seperti asas nasional aktif yang terus mengikuti dirinya kemanapun ia berada.

Soohwa menghantakkan kakinya sebal lalu berlari menaiki tangga, masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai dua. Membanting pintunya keras.

Kim Soohyun hanya menatapnya dari bawah sambil tersenyum maklum.

“Apa nyonya besar kembali melarang ‘rapunzel’ kita itu untuk bersenang-senang?” ucap JongIn, salah satu dari pengawal pribadi keluarga Jung, pada seorang pelayan yang tengah membersihkan meja pantry di dapur yang sangat mewah itu, sambil menggigit apel hijau yang tadi diambilnya dri kulas penyimpanan buah.

Rapunzel adalah sebutan yang diberikannya pada Soohwa sejak ia bergabung sebagai salah satu bagian pengawal sang nona muda. Ia memberikan sebutan itu karena menurutnya kisah nona mudanya itu seperti rapunzel. Tinggal di sebuah kamar di lantai tertinggi yang berbentuk menyerupai menara kastil, dan sama sekali tak bisa menghirup hawa kebebasan dunia luar.

“Seperti yang kau duga,” jawab pelayan bermaga Jang itu sambil mengendikkan bahu. Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tak habir pikir.

-My Baby-

@Collage of Medicine, Medical scince, Inha University

 Jung Soohwa sepanjang hari terus-terusan memberengut sebal. Ia kesal setengah mati, karena sejak ia menginjakkan kakinya di kampus, kedua pengawalnya, Kris dan Jongin, terus-terusan mengikutinya kemanapun ia pergi, bahkan termasuk kedalam kelas. Berjaga tepat di belakang bangkunya. Lengkap dengan setelah jas serta earphone transparan yang terpasang disebelah telinga mereka masing-masing.

Berkali-kali gadis itu protes, namun hanya mereka anggap sebagai angin lalu. Sama sekali tak membuat keduanya bergeming. Jujur saja menurutnya ini benar-benar sudah berlebihan! Memangnya bisa kabur kemana ia dari dalam kelas yang letaknya di lantai 3 ini? Mau lompat dari jendela? Hey, dia masih punya otak, memangnya dia rela apa tulang-tulangnya patah hanya demi menghindari pengawalnya? Toh, jika mereka menunggu diluar ia tetap saja tak akan bisa kabur.

Dan sialnya lagi, seluruh dosen tak ada satupun yang melarang keduanya untuk tetap berada di radius kurang dari satu meter di belakangnya. Semuanya tak akan ada yang berani menentang, apalagi ini semua atas perintah Son Yejin, ketua yayasan yang paling berpengaruh atas kehidupan kampusnya sampai sebesar ini.

-My Baby-

 “Tak bisakah kalian setidaknya memberikan ruang kepadaku? Aku berjanji tak akan kabur, asalkan kalian cukup menungguku di dalam mobil saja. Sungguh, aku benar-benar butuh memiliki teman,” Soohwa berdecak. Ia putus asa, karena ulah para pengawalnya ini ia jadi terkesan sebagai gadis sombong yang sangat sulit di dekati hingga sampai detik ini tak ada satupun orang yang menunjukkan tanda-tanda untuk mengajaknya berkenalan. Dan sekalipun ada yang sempat memiliki niat seperti itu, pasti langsung mengurungkan niatnya saat melihat sosok Kris dan Jongin disekitarnya. Bahkan setelah nyaris satu semester dilewati dirinya  di kampus ini sebagai seorang mahasiswa junior.

“Tidak nona,” tolak Kris. Gadis itu mengerang, menghentakkan kakinya lalu berjalan pergi menuju kantin. Mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Diikuti kedua pengawal yang selalu setia dibelakangnya.

—-

“Hey, itu dia orangnya!” tunjuk namja imut bermata bulat besar dengan dagunya pada ketiga temannya yang lain saat ekor matanya menangkap sesosok gadis berambut panjang kemerahan masuk kedalam ruang cafetaria. Dengan segera saja kedua temannya ikut memutar kepalanya, memandang kearah pintu masuk.

“Wah, benar-benar mencolok!” Chanyeol, menggigit potongan pizza di tangannya, sementara tatapannya masih terpaku pada sosok gadis yang bahkan dari dalam radius 20 meter dari tempat mereka masih tampak mencolok akibat kedua sosok namja tinggi dan kekar yang setia berdiri mendampinginya.

“Jadi itu gadis yang sering dibicarakan belakangan ini? Yang membuat para gadis bahkan berhasil melupakan seorang Oh Sehun yang selama ini mereka idam-idamkan, huh?” ledek Baekhyun, namja berambut coklat yang duduk tepat mengarah kehadapan gadis itu. Membuat Chanyeol, si pria jangkung yang tadi sibuk mengunyah pizzanya, serta Kyungsoo, si namja bermata besar bulat, terkekeh sesaat menatap temannya yang lain. Mereka tak habis pikir, seorang Oh Sehun saja berhasil dikalahkan? Sementara yang ditatap nampak tenang saja mengetikkan sesuatu pada laptop merah kesayangannya. Sama sekali tak mempedulikan ocehan teman-temannya.

Oh Sehun, nama yang tadi disebut-sebut oleh ketiga orang temannya itu adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat 3 yang sudah bertahun-tahun belakangan ini menjadi idola para gadis. Tak hanya di jurusannya saja, tapi bahkan bisa dikatakan seluruh Inha bertekuk lutut memuja dirinya.

Otak cerdas, tampan, dan merupakan seorang member band indie di kampusnya, membuat pamornya semakin melesat jauh meninggalkan serentetan nama-nama pria lainnya, termasuk Suho, senior Sehun yang juga presiden mahasiswa di kampusnya. Serangkaian penghargaan atas lomba dan kontribusinya dalam hal dunia kedokteran dalam statusnya sebagai mahasiswa tingkat tiga membuat dirinya sangat bernilai di mata semua orang. Termasuk para dosen dan petinggi dari berbagai rumah sakit yang sudah sejak namja itu masuk ke dalam jajaran nama mahasiswa baru fakultas kedokteran sudah berlomba-lomba untuk memberikan beasiswa serta tawaran kerja di rumah sakit mereka.

Namun, tak seperti ketiga temannya yang lain, Sehun memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Ia pendiam, dan sangat suka menyendiri. Sungguh sesuai dengan imagenya sebagai pria jenius. Selain itu, diantara keempatnya dia adalah yang termuda. Usianya baru 19 tahun, namun berkat otak cerdasnya itu  disaat teman-teman seumurannya baru masuk ke bangku SMP, ia justru sudah mengenakan seragam SMA. Tapi biarpu begitu, teman-temannya sangat menyayanginya.

“Oh, ya. Jadi kan malam ini??” Kyungsoo menepuk tangannya. Membuat seluruh perhatian temannya berpusat padanya, termasuk Sehun.

“Kita ada undangan pentas di GP,” lanjutnya saat melihat kerutan bingung pada dahi ketiga temannya yang lain. Menyebutkan nama sebuah kafe ternama di daerah distrik utama kota Incheon yang merupakan tempat berkumpulnya para kalangan muda.

“Ah! Gureom! Jangan lupa hubungi Suho hyung!” Seru Baekhyun, yang langsung disambut senyuman Sehun. Chanyeol mengangguk dan langsung mengeluarkan i-phone miliknya dari saku jeans belel kesayangannya.

“Aish! Sudah kubilang jangan pakai celana busukmu itu lagi ke kampus!” omel Kyungsoo yang baru sadar lagi-lagi teman satu gengnya itu memakai celana jeans belel yang ia yakin dan tahu pasti sudah berbulan-bulan tak dicuci, karena ia dapat melihat jelas berbagai noda menjijikan menempel dimana-mana membuat warnanya semakin kusam.

“Apa? Kenapa? Wangi kok! Wangi.. Nih cium.. cium..!” Chanyeol beranjak dari duduknya, menghampiri si bocah berwajah imut yang senang sekali mengomel itu, menyodorkan dirinya agar namja itu mencium celananya yang menurutnya wangi.

“YAK!! YAKK SHIREOO!! PERGI KAU PARK CHANYEOLLL!! MENJAUH DARIKUUUU!!! BAKTERIIIIIII!!!” Kyungsoo berlari menjauh disusul Chanyeol yang terus-menerus bersikeras agar namja itu mencium bau celananya. Membuat kedua temannya yang lain terbahak akibat tingkah pola mereka.

Do Kyungsoo yang higienis dan Park Chanyeol si namja cuek yang super jorok. Benar-benar cocok! Hahahaha.

-My Baby-

Seorang gadis dengan pakaian serba tertutupnya terlihat berjalan mengendap-endap keluar dari sebuah toilet wanita di lantai 1 gedung fakultas kedokteran Universitas Inha. Tak seperti yang di lakukannya sekitar setengah tahun lalu di Bandara Incheon, kali ini semua ia lakukan dengan sangat hati-hati.

Ya, gadis itu Jung Soohwa. Tadi saat keduanya –ia dan Kris, pengawal setianya- berjalan menuju mobil yang sudah diparkir rapih oleh Jongin, di depan pelataran Lobby gedung fakultas tiba-tiba saja gadis itu meminta Kris untuk menemaninya ke dalam toilet. Tapi berhubung sore itu toilet lantai 1 tampak ramai mau dengan kerumunan wanita yang berdiri disepanjang koridor, mau tak mau pria jangkung berwajah dingin itu terpaksa membiarkan nona mudanya untuk jalan ke dalam toilet sendirian sementara ia berjaga di ujung koridor dengan tetap mengawasi gerak-geriknya, karena mendapatkan tatapan bengis dari salah seorang ahjumma penjaga kebersihan yang tak suka jika wilayah privasi wanita diganggu oleh namja seperti dirinya.

Soohwa yang melihat kesempatan ini langsung saja memanfaatkannya dengan menyelinap masuk kedalam ruang kebersihan yang tak terkunci, bersembunyi di dalam sana sampai dilihatnya sosok Kris yang tampak kelimpungan mencarinya. Setelah dirasa aman, ia pun keluar dari dalam sana dengan menggunakan seragam ob, lengkap dengan segala peralatan kebersihan dan pakaian serta barang-barang miliknya yang ia sembunyikan di dalam trolly kebersihan.

“Tenang.. tenang..” gumamnya pada diri sendiri saat ekor matanya menangkap bayangan Kris yang sudah tak peduli dengan tatapan bengis si ahjumma, memaksa masuk ke dalam toilet. Memeriksa keadaan di dalam, mencari sosok dirinya.

Ia hanya bisa menahan tawa membayangkan kondisi pengawalnya saat sayup-sayup telinganya mendengar pekikan para gadis yang mendapati sosok namja di dalam toilet serta erangan Kris yang tampaknya kesakitan saat mendapat pukulan tas serta high heels dari para gadis yang yang merasa privasinya terganggu tersebut.

Begitu dirinya tiba dengan selamat di luar gedung fakultas lewat pintu belakang yang tak terkunci, buru-buru saja gadis itu melepaskan segala perlengkapan menyamarnya, memasukkanya kembali kedalam trolly yang tadi ia bawa-baw lalu bersembunyi di tempat lain sampai sekiranya ia bisa melarikan dari dari jangkauan para pengawalnya tanpa dapat mereka ketahui keberadaannya.

CKIITTTT!!

Kedua bola mata gadis itu membelalak lebar saat tiba-tiba saja sebuah sedan merah keluaran negaranya tercinta,  Korea, nyaris menabraknya. Mobil itu berhenti tepat kurang dari sepuluh senti meter di depan lututnya.

Namun segera saja ia tersadar dan langsung membuka pintu samping penumpang sedan tersebut. Duduk tepat disamping bangku kemudi dan menyuruh si pemilik mobil untuk segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal, sebelum si pemilik sempat memarahinya yang tadi tiba-tiba saja berlari kearah mobilnya dan nyaris tertabrak.

“Jebal! Nanti kedua pengwal itu akan segera menemukanku dan menyeretku kembali kerumah,” ringisnya dengan nada merajuk pada seorang gadis berambut panjang yang kini memandangnya dengan tatapan aneh. Tapi gadis itu lantas menurut saja dan membawa sedan kesayangannya melaju kencang meninggalkan areal kampus tercintanya.

“Sebenarnya siapa kau?” tanya gadis dibalik kemudi saat keduanya sudah berada jauh dari arela kampus. Masih di dalam mobilnya.

Soohwa yang semula tampak duduk memerosotkan tubuhnya di jok depan meliriknya sekilas, lalu kembali mendudukan dirinya pada posisi yang wajar. Ia tersenyum, menyodorkan sebelah tangannya pada gadis yang masih sibuk mengemudi itu.

Gadis itu tampak memperhatikannya sekilas dengan tatapan datar, namun akhirnya tersenyum seraya menyambut uluran tangannya. Membuat Soohwa tersenyum riang.

“Aku Hayoung, Oh Hayoung,” jawab gadis itu dengan senyuman.

“Aku, Soohwa, Jung Soohwa,” mata gadis itu lantas membelalak lebar ketika mendengar ucapan gadis disebelahnya barusan. Dibantingnya langsung stir mobilnya yang semula melaju di tengah jalan, kearah bahu jalan, secara mendadak. Memberhentikannya disana. Membuat Soohwa terkejut setengah mati.

 Untung saja saat itu kondisi jalanan siang itu tak terlalu ramai. Andai ramai sedikit saja, ia yakin setidaknya sebuah kecelakaan kecil pasti terjadi.

“MWO?? Jadi kau nona muda Jung yang membuat kampus heboh itu???” pekiknya tak percaya. Soohwa meringis mendengarnya.

“Tak perlu seperti itu, aku tak seheboh yang orang lain katakan,” Soohwa mendengus. Risih rasanya saat diperhatikan dengan tatapan takjub seperti itu dari orang yang bahkan baru beberapa saat lalu tampak memandanginya dengan tatapan aneh.

Hayoung tertawa. Kali ini intonasi dan raut wajahnya sudah lebih wajar dari sebelumnya. Sama sekali tak ada siratan keterkejutan ataupun rasa kagum seperti sebelumnya.

“Baiklah-baiklah.. aku tak akan memperlakukanmu sebagaimana orang lain memandangmu dengan tatapan angker itu, begitukan maumu?” Hayoung menyerah. Soohwa tersenyum kecut, namun mengangguk mengiyakan.

“Lalu, sekarang kau mau aku membawamu kemana Nona Jung?” Gadis itu memicingkan matanya.  Tak suka mendengar sapaan ‘nona’ yang melekat di depan namanya dibawa-bawa. Hayoung terkekeh.

“Entahlah. Aku tak tahu apapun mengenai kota ini. Tapi yang pasti aku tak mau pulang kerumah-ya setidaknya tidak sekarang, sebelum aku bisa menikmati kota ini tanpa kekangan siapapun,” gadis itu tanpa sadar mendesah berat. Hayong yang melihatnya tampak prihatin.

“Ah!” gadis itu menepuk kedua tangannya keras. Teringat sesuatu. Membuat Soohwa menatapnya dengan tatapan ingin tahu, “Kalau begitu kau ikut saja denganku bagaimana?? Aku yakin kau pasti akan menyukainya, otte?”

Soohwa tampak berpikir. Namun Hayong malah mengulurkan sebelah tangannya pada gadis itu, membuat dahi Soohwa berkerut.

“Ayo kita berteman. Seorang teman pasti akan selalau mengibur temannya yang bersedih bukan?? Dan aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang pasti akan membuatmu terhibur. Otte?”

“Jadi..”

“KITA TEMAN!” tawa keduanya riang.

-My Baby-

@Grand Place Cafe and Lounge

Dentuman suara drum diiringi suara musik instrument pengiring malam itu membuat suasana basement sebuah cafe padat pengunjung akhir pekan itu semakin meriah. Puluhan anak muda berkumpul di depan mini stage yang tengah menampilkan pertunjukan dari sebuah grup band indie ternama di daerah mereka, dengan sangat antusias turut serta menyanyikan bait-bait lagu yang dilantunkan dan tak segan berjingkrakan mengikuti irama musik yang mengalun.

Setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna di pelataran gedung, Hayoung, gadis bertubuh tinggi nan ramping itu langsung menggandeng tangannya untuk ikut masuk kedalam sana.

Mulanya Soohwa menolak setengah mati, mengingat ada kata LOUNGE disisipkan pada papan nama cafe. Dan seumur hidupnya, meski ia menghabiskan nyaris separuh dari jumlah umurnya di negara barat, ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Tapi, Hayoung yang tak mengerti dengan tatapan ragu gadis itu langsung saja menarik tangannya untuk ikut turun masuk kedalam ruangan di bawah lantai itu.

Dan disinilah mereka –Hayoung dan Soohwa- berada. Di lantai basement sebuah cafe ternama. Grand Place.

“Tempat apa ini??” teriak Soohwa sekeras mungkin pada gadis yang sudah mulai asik bersorak-sorak mengikuti hentakkan musik yang menggema, saat keduanya sudah berada di dalam ruangan berukuran besar yang penuh dengan remaja seusianya.

“APA?” Teriak Hayoung, tak mendengar.

“TEMPAT APA INI???” ulang gadis itu. Lebih keras. Hayoung tersenyum. Tapi bukannya menjawab, gadis itu malah melambaikan sebelah tangannya sambil sedikit berjinjit, kearah mini stage yang agak jauh di depan mereka, sambil tersenyum.

Soohwa mengernyit tak mengerti. Namun pandangannya kemudian mengikuti arah lambaian Hayoung.

Dan saat itu. Pandangan mereka bertemu.

TBC

Iklan

11 thoughts on “My Baby.. -CHAPT: 1

  1. aigooo eoniiii masa’a tbc’a disitu sih
    bikin org penasaran aja tau

    wuuuiiiiii kereeeen niiiiiih
    itu kasian bgt yonghwa sama seohyun’aaaaaa

    eonn jgn bilang kli ini sad ending
    kalo iya aku ngga mau baca lagi#canda
    kalo happy bakal aku bacaaaaa teruuuuuuus

    okeee eonn lanjutiiiiiin
    jng lupa sama HSP’aaaa yaaaa :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s