HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 12

hsp1-e

 

Hembusan angin malam itu terasa sangat menusuk tulang. Hujan dengan derasnya turun menghujam seluruh kota diikuti dengan gelegar suara petir dan kilatan cahaya di langit kelam, membuat siapapun pasti akan memilih untuk tetap berdiam diri dirumahnya masing-masing, menarik selimut untuk kemudian beristirahat dengan lelapnya di tengah cuaca yang seperti ini.

Di salah satu sudut, di daerah Hongdae. Seorang yeoja berambut pendek di atas bahu, tampak berlarian melawan derasnya air hujan yang terus menghujam dirinya. Tanpa payung. Tanpa jas hujan. Yang ada hanya sebuah tas ransel berwarna kuning yang ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari siraman air hujan yang terasa semakin deras.

Hongdae. Daerah itu memang merupakan salah satu distrik tersibuk yang ada di Seoul karena terkenal akan pusat hiburannya. Hujan tak akan mampu menyurutkan minat siapapun yang menjadi pengunjung setianya untuk bertandang kesana.

Gadis itu. Gadis yang tadi berlarian dibawah guyuran air hujan itu, akhirnya menghentikan langkahnya tatkala disadari dirinya telah berdiri di depan sebuah gedung dengan beberapa lampu kerlap-kerlip di bagian atas pintu masuknya yang membentuk sebuah nama. Rock On Ya.

Tanpa pikir panjang atau sekedar menatap ke sekelilingnya, gadis itu segera masuk kedalam setelah membungkuk sekilas pada beberapa orang penjaga gedung yang dikenalnya. Menuju ruang ganti pegawai yang ada di lorong kiri paling belakang gedung lantai satu.

Rock On Ya, yang menjadi tempat gadis itu saat ini berada adalah sebuah tempat karaoke. Dan gadis itu bekerja disini sebagai pelayan tepat seminggu yang lalu. Pekerjaannya sangat mudah, hanya mengantarkan pelanggan menuju ruangan yang mereka sewa atau mengantarkan pesanan yang mereka minta.

Pekerjaan ini ia dapatkan berkat seorang sunbae yang dikenalnya disekolah yang ternyata merupakan pemilik dari tempat ini. Mulanya ia ragu, mengingat keluarganya pasti akan sangat marah sekali jika ia bekerja ditempat seperti ini. Namun setelah diyakinkan bahwa tempat ini hanyalah sebuah tempat karaoke biasa, akhirnya ia menerimanya dengan senang hati. Dan sejauh ini hal itu memang terbukti.

“Ahra-ya, wasseo?” sapa Eunhyuk yang baru saja keluar dari ruangannya dengan gummy smile andalannya ketika melihat Ahra sudah bersiap dengan seragamnya, berjalan menuju lobby penerimaan tamu.

“Oh, ne, Oppa,” senyumnya lebar. Jujur saja di dalam hatinya gadis itu tengah sibuk menahan agar wajahnya tak memerah karena terlalu senang melihat Eunhyuk dalam balutan diluar seragam sekolah seperti ini, menyapa dirinya yang hanya berstatus sebagai pegawai.

Malam itu Eunhyuk memang terlihat lebih rapih dibandingkan biasanya yang selalu terlihat santai. Ia memakai kemeja abu-abu yang dirangkap dengan sweater hitam v-neck, dan celana bahan berwarna senada yang ditutup dengan sepatu kulit berwarna putih. Rambutnya yang beberapa hari lalu gadis itu perhatikan berwarna hitam legam pun kini sudah berganti jadi hot brunette yang membuat penampilannya yang selalu mencolok ditempat itu semakin terlihat mencolok.

 “Hey, ku kira kau tak akan masuk hari ini karena tiba-tiba hujan besar. Awalnya aku baru akan meminta bagian personalia untuk memberikanmu cuti sehari agar tak dikira membolos,” mendengar ucapan Eunhyuk barusan kontan saja membuat perasaan Ahra semakin berbunga-bunga dibuatnya. Tak ia kira namja yang diam-diam diidolakannya itu akan memberikan perhatian seperti ini.

“A-anni, aku ini anak rajin. Kau tak usah memikirkan hal itu Oppa,” jawabnya sambil menahan bibirnya agar tak semakin mengembang lebar akibat terlalu senang.

“Ahahaha,” Eunhyuk tertawa, “Gureoomm.. tentu saja. Aku tak akan salah karena memilih pegawai rajin sepertimu, haha.”

Keduanya lantas sama-sama tertawa. Sejak seminggu belakangan ini. Sejak namja itu menemukan sosok Ahra yang tampak putus asa mencari pekerjaan di halte bus saat ia akan ke rumah Siwon, keduanya memang tampak semakin akrab. Hingga tak jarang menimbulkan rasa iri diantara pegawai yang ada karena menilai Eunhyuk pilih kasih dan terlalu mengistimewakan Ahra.

“Lihat saja kau Kwon Ahra!” desis seorang yeoja berpakaian serupa dengan yang dikenakan Ahra dari balik tembok sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

~mrs.ChoiLee~

“Annyeong nae sarang! Sarang! Sarang! Jalgayo nae sarang! Sarang! Sarang!” teriak Hongki keras-keras dengan sebuah microphone dalam genggamannya, mengikuti alunan musik yang nadanya entah akan ia bawa ke dalam jalur musik apa karena tak sesuai dengan nada aslinya. Jaejin dan Minhwan yang juga ada di dalam ruangan karaoke yang sama dengannya juga tak kalah gilanya. Jaejin yang memegang kecrekan langsung naik keatas meja yang –untungnya- berbahan dasar kayu berbentuk balok besar sambil menyanyikan bagian rapp yang ada di dalam lagu dengan microphone satunya. Sementara Minhwan malah berlutut di depan layar monitor dengan ekspresi dan gerakkan tangan yang dibuat mengikuti ekspresi dan gerakan si penyanyi.

“YAY!!!” pekik ketiganya kegirangan begitu angka 100  muncul pada monitor begitu lagu yang mereka nyanyikan berakhir.

“Ah.. aku mau ke toilet,” Minhwan yang sejak tadi rupanya telah menahan buang air kecil itu langsung berlari keluar.

“Aku ikutt!!” teriak Jaejin yang langsung menyusulnya. Meninggalkan Hongki yang kini memilih untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal akibat terlalu kuat berteriak.

“Aigoo haus..” Hongki memegangi tenggorokkanya yang terasa kering. Tatapannya ia lemparkan keseluruh sudut ruangan, mencari-cari sesuatu seperti tombol untuk memanggil pelayan. Tapi sial matanya yang tak terlalu besar  itu sama sekali tak menemukannya.

Dengan langkah malas-malasan ia pun keluar, mencoba mencari seseorang pegawai yang mungkin bisa membantunya untuk memesan beberapa gelas soda dan cemilan.

Sudah dua lorong kiranya ia susuri namun tak ada seorangpun sosok pegawai yang ia temukan. Merasa kepalang tanggung karena sudah berjalan sejauh ini, ia pun memutuskan untuk turun ke lantai satu, menuju lobby.

Tapi belum sampai langkahnya menuju anak tangga. Kedua matanya yang malam itu lupa ia pasangkan contact lense malah tak sengaja menangkap sesosok gadis mirip Ahra yang tengah coba digerayangi oleh seorang pria sintal yang tak dapat ia jelas wajahnya dari balik sisi pintu sebuah ruangan yang sebagian sengaja dibuat transparant berbahan dasar kaca.

 Hongki yang langsung tersadar ketika mendengar jeritan gadis di dalam sana pun langsung merangsek masuk, menarik tubuh si pria yang mencoba membuka pakaian bagian atas gadis itu, meninju wajahnya hingga pria itu tersungkur. Di dudukinya perut pria itu, ditariknya bagian kerah kemeja si pria yang ternyata sudah berumur itu sampai setengah terduduk. Kembali ditinjunya wajah serta perut si pria sampai babak belur. Sama sekali tak peduli bahwa tangannya kini sudah berlumuran darah akibat darah yang mengalir dari hidung dan mulut si pria mesum tersebut.

“A-ampun.. A-mpun..” rintih pria itu, dengan kesadaran yang masih tersisa. Hongki menatap tajam kearah pria itu dengan tatapan yang sangat menusuk. Matanya berkilat-kilat penuh amarah.

“Sudah.. hentikan..” rintih seorang gadis dari balik isakannya. Seolah tersadar, Hongki langsung melepaskan pria itu dan berbalik. Tatapannya yang semula terlihat sangat menusuk dan mengintimidasi itu berubah teduh. Hatinya terasa miris saat di dapatinya sosok yang ia kenal kini pakaian bagian atasnya sudah nyaris terbuka akibat robek di beberapa sisi. Mungkin pria tadi menariknya paksa dengan sangat kuat hingga bisa robek seperti itu.

Tanpa banyak bicara. Dibukanya jaket kulit berwarna cokelat berbahan kulit lembu yang sejak tadi dikenakannya. Dipakaikannya ketubuh gadis itu, dikancingkannya hingga tubuh gadis itu benar-benar tertutup rapat. Sama sekali tak terekspos.

Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Menahan tangis.

Tak pernah ada dalam pikirannya selama ini akan dilecehkan oleh seseorang yang tak ia kenal sampai sejauh ini.

Namun mau sekuat apapun ia berusaha agar tangis itu tak pecah, ia tetap gagal. Peristiwa ini terlalu menyakitkan baginya.

 Hongki yang melihat itu kontan saja amarahnya kembali tersulut. Sorot mata penuh amarah yang semula sempat hilang itu kini kembali.

Dengan langkah penuh kemarahan, ia bangkit menarik tubuh si pria hidung belang yang berniat melarikan diri dengan langkah tertatih itu sampai ke lobby. Membuat semua orang yang ada disana kontan berteriak kaget melihat kondisi pelanggan mereka yang babak belur dengan cairan merah yang melekat dimana-mana. Termasuk salah seorang pegawai yang langsung shock dan gelisah saat melihat siapa sosok pria yang habis dihajar habis-habisan di depannya itu.

“Panggil polisi! Pria ini baru saja akan memperkosa tunanganku!!” titahnya pada seorang pegawai di balik meja pemesanan dengan penuh emosi, membuat si pegawai bernama Sayuri itu pun kontan menurutinya. Setelah memastikan bahwa pegawai yang tadi ditunjuknya telah menghubungi polisi, dan pria mesum itu juga telah diamankan oleh beberapa penjaga yang ada disana, iapun bergegas meninggalkan mereka semua menuju tempat dimana tadi ia meninggalkan Ahra sendirian.

“Hyung! Darimana saja???” seru Jaejin dan Minhwan yang sejak tadi mencari dirinya, bersamaan, ketika dilihatnya hyungnya itu baru kembali dari arah bawah. Bukannya menjawab, ia malah memerintahkan Jaejin untuk menyiapkan mobil dan menunggunya di depan lobby, sedangkan Minhwan disuruh untuk membayar tagihan mereka dan ikut menunggu dirinya di mobil bersama Jaejin. Sementara dirinya berlari meninggalkan keduanya yang masih menatap bingung punggungnya yang mulai menghilang dari balik lorong menuju tempat dimana Ahra berada.

Dan ia sangat bersyukur ketika dilihatnya sosok gadis yang biasanya selalu cerewet itu masih berada disana dalam kondisi yang sama seperti saat ia meninggalkannya beberapa waktu lalu.

Hatinya kembali miris saat melihat wajah musuh bebuyutannya itu kini sudah basah dengan air mata. Dengan hati-hari dirangkulnya bahu gadis itu dengan sebelah tangan, tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan gadis itu yang bergetar karena ketakutan. Keduanya bangkit, berjalan perlahan-lahan menyusuri lorong, menuruni anak tangga menuju lobby. Sama sekali tak mempedulikan tatapan semua orang yang memandang dengan berbagai ekspresi kepada keduanya.

Kepala Ahra tertunduk. Sama sekali tak sanggup menerima tatapan seperti itu. Terlebih dalam keadaannya yang tragis seperti ini.

“Ada apa ini??” tanya Eunhyuk yang baru tiba dari makan malamnya diluar, kebingungan, saat melihat kerumunan orang di lobby tempat karaoke miliknya.

“Ahra, kau kenapa?” lanjutnya lagi dengan ekspresi cemas saat didapatinya sesosok gadis dalam balutan jacket kulit yang tengah berjalan dipapah oleh hoobaenya disekolah itu tubuhnya tampak bergetar hebat. Terlebih saat dilihatnya lebih jelas, kedua matanya bengkak, dan wajahnya basah.

Gadis itu mengelak. Menolak menatap wajah pria yang amat dikaguminya itu. Ia hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya tanpa bisa menjawab.

“Kau bosnya?” tanya Hongki, dingin. Membuat Eunhyuk yang semula memperhatikan Ahra beralih menatapnya.

“Iya, aku. Ada apa?”

Hongki mendesis. Tersenyum menyeringai. “Pantas saja..”

“Ne?”

Dipandangnya pria yang setahun lebih tua di hadapannya itu dengan raut serius. “Mulai saat ini juga. Kwon Ahra keluar dari pekerjaan ini.” Tegasnya, langsung menarik Ahra keluar dari dalam sana. Masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan Jaejin dan Minhwan yang memang sengaja ia suruh menunggu di depan gedung. Tanpa sekalipun membiarkan mantan bos musuh bebuyutannya mengatakan sesuatu. Dan Ahra pun tak kuasa untuk mengatakan apapun saat itu.

~mrs.ChoiLee~

“Auch.. APPO!” pekik Ahra kesakitan saat Hongki dengan ketidaksabarannya membersihkan sudut bibir Ahra yang memar dengan handuk basah yang telah dilumuri cairan alkohol 70% dengan sangat tidak hati-hati. Membuat gadis itu emosi setengah mati dan berusaha untuk merebut handuknya, mencoba membersihkan lukanya sendiri. Tapi sayang Hongki sama sekali tak membiarkannya dan malah memberikan  glare mematikan yang belum pernah sekalipun gadis itu lihat sebelumnya. Membuatnya mati kutu.

Jaejin dan Minhwan yang memperhatikan mereka dari balik pantry hanya bisa menatapnya dengan ekspresi heran. Bayangkan saja, seorang hyung yang selama ini mereka kenal tak pernah bersikap lembut pada gadis manapun –termasuk pada Hyejin, adik tirinya, juga beberapa mantan kekasihnya yang lain yang hubungannya hanya  selalu bisa bertahan dalam hitungan hari- itu kini malah terlihat begitu perhatian hanya pada seorang Kwon Ahra yang justru selalu mereka kenal sebagai gadis biasa, murid beasiswa Julliet yang selalu menjadi musuh bebuyutan Lee Hongki. Padahal biasanya, melihat gadis menangis sedikit saja pria itu bisa langsung marah-marah tak jelas karena merasa terusik.

Tapi kini, malah ia yang terlihat menenangkannya. Apalagi mengingat tadi selama perjalanan menuju apartment Hyejin –tempat mereka berempat berada saat ini- Hongki selalu merangkul gadis itu dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut, mencoba menenangkannya agar tidak menangis.

“Benar-benar tak bisa dipercaya,” gumam Minhwan. Tak habis pikir yang langsung diamini Jaejin.

Tadi saat Ahra di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hongki sempat menceritakan kronologi kejadiannya kepada mereka berdua. Dan mereka tentunya sangat marah sekaligus prihatin saat mengetahuinya. Namun mereka tetap saja tak habis pikir akan perubahan yang terjadi pada diri Hongki ini. Apa pria itu menyukainya?

Kedua orang itu lantas menatap lekat sepasang manusia yang berada tak jauh dari tempatnya itu dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepala mereka.

~mrs.ChoiLee~

Semalaman Ahra tidak pulang kerumahnya, menginap di apartment Hyejin, karena Hongki melarangnya untuk pulang. Dan ia sendiripun sama sekali tak berani menginjakkan kakinya dirumah dengan kondisi lebam diwajah akibat menangis semalaman seperti ini. Orang tuanya pasti akan bertanya macam-macam padanya. Jadi ia mengatakan pada orang tuanya bahwa ia menginap di tempat di Hyejin –meski pada kenyataannya ia menginap disana tanap si pemilik aslinya ketahui.

Semalam Ahra memohon pada Hongki agar tak membocorkan kejadian ini pada siapapun, termasuk hyejin. Untung saja gadis itu sedang menginap di rumah orang tua mereka jadi apartemennya kosong, sehingga Hongki tak harus mengatakan apa-apa pada adik tirinya itu.

Pukul 8 pagi. Ahra terbangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak. Dilihatnya sekeliling kamar bercat serba putih yang beberapa bulan lalu menjadi kamar yang sama yang ditempatinya saat terakhir kali dirinya menginap disana, sudah terlihat terang benderang akibat gordyn yang sudah dibuka entah sejak kapan.

Dengan langkah ragu, gadis itu keluar dari kamarnya. Aroma abalon langsung menyeruak begitu saja kedalam lubang hidungnya begitu pintu bercat putih itu terbuka. Ditengoknya dari arah pantry, Hongki tampak asik mengaduk-aduk sesuatu di tas panci. Gadis itu tertegun sesaat kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di balik meja pantry. Menghadap langsung kearah Hongki yang tampaknya masih belum menyadari keberadaannya.

“Oh! Yatuhan!” pekiknya nyaris terjengkang saat mendapati Ahra tahu-tahu sedang bertopang dagu memandang kearahnya. Membuat Ahra terpingkal melihat ekspresinya yang berlebihan seperti itu.

“Mwoya!?” serunya tak terima melihat Ahra yang asik menertawai dirinya. Hongki mendengus. Diambilnya dua buah mangkuk kosong dari dalam lemari penyimpanan, dituangkannya bubur abalon buatannya barusan kedalam sana masing-masing dalam porsi yang sama. Satu untuk dirinya, dan satu untuk gadis itu.

Disodorkannya salah satu dari mangkuk tersebut ke sisi meja di hadapan gadis itu, sementara yang satunya langsung ia makan dalam posisi berdirinya semula.

“Ah panas!” pekiknya, kepanasan. Buru-buru saja ditenggaknya air dalam botol mineral yang diambilnya dari dalam kulkas. Mencoba menetralisir rasa panas di lidah yang menderanya.

Ahra terdiam. Perubahan sikap Hongki ia rasa terlalu tiba-tiba. Ia sama sekali belum terbiasa dengan semua ini. Dan lagi ia sama sekali tak tahu bahwa pria berambut keriting itu bisa memasak? Ia saja yang yeoja sama sekali tak tahu bagaimana caranya memasak bubur abalon. Tapi namja itu malah membuat bubur abalon untuk sarapan mereka.

Ia yakin 100% bahwa ini semua memang benar Hongki yang memasaknya, karena darisini ia bisa melihat berbagai bahan makanan dan peralatannya yang masih tergeletak begitu saja di meja dapur. Sisa potongan abalon yang tak dimasak pun dapat ia lihat dengan jelas karena namja itu belum menaruhnya kembali kedalam kotak penyimpanan.

“Gomawo..” ucapnya, penuh dengan ketulusan. Membuat Hongki yang tengah menyantap makanannya menoleh, memandangnya dengan tatapan bingung.

 “Hah?” Hongki mengorek-ngorek telinganya dengan jari. Mencoba menjernihkan pendengarannya. Bilang apa gadis itu barusan? Gomawo?  Ahhh tidak mungkin!

Ahra diam. Ia memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Mencoba mengembalikan segala keberanian untuk mengucapkan kata sakti  yang pria bodoh itu tak dengarkan.

“GOMAWO!”

Dan blushhhhhhhhhhhhh…. dalam seketika wajah kedua orang itu memerah. Deguban jantung yang mendadak menjadi berpacu lebih cepat membuat kedua orang itu langsung menghindar tatapan satu sama lain.

~mrs.ChoiLee~

Sudah dua hari ini Hyejin tinggal dikediaman orang tuanya –atau yang lebih tepat disebut kediaman keluarga Lee, ayah tirinya, yang super mewah lantaran kakaknya, Seo Jiyoung yang selama ini tinggal di Jepang tengah liburan ke Korea dan minta ia temani menginap disana karena keadaan rumah tersebut yang selalu sepi lantaran selalu ditinggal si pemilik.

Meski begitu sang kakak tertuanya itu lebih memilih untuk tinggal sementara disana lantaran segala fasilitas relaksasi dan olahraga yang amat digemarinya tersedia dengan lengkap, berbeda dengan apartement mereka yang tetunya tak memiliki ruang sauna ataupun lapangan golf layaknya disini.

Hari ini hari minggu, dan sejak pagi-pagi sekali sosok kakak perempuannya yang super modis itu sudah menghilang entah kemana, meninggalkan Hyejin yang baru saja terbangun dari tidurnya pukul 10 pagi. Semalam ia habis bergadang mengajari TOP dirumah pria itu sampai jam 11 dan baru sampai dirumah pukul setengah satu, tapi bukannya istirahat ia justru dipaksa sang kakak untuk menemaninya menonton JUON yang tentu saja berhasil membuat dirinya tak bisa tidur semalaman lantaran paranoid akan sosok anak kecil di film itu yang kalau-kalau tiba-tiba saja muncul dari balik selimutnya. Membuat kepalanya langsung terserang migrain begitu dirinya berhasil membuka mata.

Rasanya ingin sekali dirinya kembali menarik selimut dan tertidur dengan nyenyak, membayar rasa kantuknya yang sama sekali tak terbayarkan semalam. Tapi sayang sekali, pukul 1 siang ini dia sudah berjanji pada ibu TOP untuk kerumah mereka.

Menjadi tutor TOP belakangan menjadi tugasnya setiap hari tanpa perlu susah payah mengejar si namja bengal itu seperti dulu. Sejak ia nekat mendatangi rumah kediaman orang tua TOP seminggu yang lalu, harapannya untuk mengajari si namja berparas sangar itu menjadi lebih mudah karena TOP akan berubah menjadi namja penurut saat di bawah pengawasan orang tuanya, terutama sang ayah. Tapi ya itu dia, hal itu hanya berlaku ketika ia mengajari TOP dirumah orang tua mereka, maka dari itu Hyejin mesti rela hati bolak-balik ke rumah kediaman keluarga Choi setiap harinya jika ia mau si namja bengal itu mengalami peningkatan dalam nilainya.

—-

“Hyejin-ah~ Ayo cepat kemari. Cicipi ini,” Nyonya Choi, langsung menarik tangan Hyejin dengan riang menuju meja makan dimana nyaris seluruh masakan khas korea disuguhkan disana. Disuapinya Hyejin dengan kimchi lobak yang dibuatnya sendiri dengan senyum senang. Hyejin yang agak sedikit terkejut dengan suapannya yang tiba-tiba lantas menurut saja saat wanita setengah baya yang belakangan ini gemar sekali memintanya memanggil dirinya dengan sebutan eommonim itu menyuruhnya untuk menghabiskan kimchi yang ada di dalam mulutnya.

“euhmm.. masshda!” Nyonya Choi tersenyum puas. Ditariknya salah satu kursi kosong yang ada di depan gadis itu, memaksanya untuk duduk disana.

“Diam dan jangan kemana-mana. Oke?” perintahnya. Hyejin mengangguk saja. Wanita itu kembali tersenyum lalu berlari meningglakan gadis itu sendirian.

Tak lama, ia sudah kembali ke ruang makan sambil mendorong-dorong sosok TOP yang masih berbalut piyama tidurnya. Menyuruhnya untuk makan bersama.

Geum Bora. Ibu TOP memang sejak awal pertemuan pertama mereka sudah sangat menyukai sosok Hyejin yang feminim dan cerdas. Apalagi saat melihat gadis itu kala Hyejin tengah memberikan tutoring pada TOP yang terkenal pemalas. Ia merasa bahwa gadis itu pasti mampu membimbing anaknya kearah jalan yang lebih baik. Tak urakan seperti sekarang.

Dan kesukaannya pada Hyejin semakin meningkat saat beberapa hari yang lalu saat dirinya yang tengah meminta Hyejin menemaninya berbelanja bulanan, ia berpura-pura meminjam ponsel gadis itu karena ponselnya mati. Ia melihat inbox pesan Hyejin penuh dengan nama my prince Seunghyun. Sejak saat itu lah ia yakin bahwa gadis ini sangat mencintai anaknya.

“Hey! Kemarin Cho Kyuhyun sonsaengnim memanggilku, dan memberitahukan bahwa nilai tes matematikamu sekarang bahkan melebihi nilaiku. Selamat ya!” Hyejin menyodorkan sebelah tangannya pada TOP yang sedang asik mengerjakan soal persamaan liiner yang diberikan gadis itu. Namja itu meliriknya sekilas lalu menepuk punggung tangannya asal. Hyejin mendengus sebal.

Mulanya ia pikir mengajari TOP akan jauh lebih susah jika dibandingkan mengajarkan anak idiot sekalipun karena tingkahnya yang cuek dan pemalas itu. Tapi melihat perkembangannya yang sangat pesat, siapa yang akan menyangka bahwa pria itu hanya butuh waktu kurang dari seminggu untuk mengusai bab statistika, fungsi, dan trigonometri sekaligus yang bahkan dirinya saja butuh waktu lebih dari itu hanya untuk memahami satu bab. Sungguh diluar dugaan!

“Sudah,” TOP menyodorkan kertas jawaban soal yang dikerjakannya pada Hyejin. Gadis itu melirik kertas itu sebentar. Kedua matanya kontan membulat melihat semua jawaban yang ada. “Apa tak ada yang lebih susah lagi?” tantangnya. Hyejin menatapnya garang.

Drrtt.. Drttt..

Ponsel dalam saku gadis itu bergetar. Panggilan masuk.

Gadis itu menatap nama yang terpampang pada layar ponselnya dan TOP bergantian. Ia tersenyum menyeringai. Dikeluarkannya sebuah buku tebal yang masih mulus dari dalam tasnya keatas meja. Tepat di depat TOP.

Buku pelatihan soal ujian SMA kelas XI: edisi MIPA.

“Kerjakan bab soal dari halaman 1 sampai 100. Dua hari lagi aku akan memeriksa semuanya. Dan jangan harap kau bisa mendapatkan jawabannya dengan mudah, karena kunci jawabnnya sudah kuambil semuanya.”

TOP hanya menatap Hyejin dengan ekspresi datar, sedang si gadis malah terlihat tertawa cekikikan sambil menarik tas miliknya.

“Ja! Aku pamit pulang. Salam pada ibumu ya~” pamitnya, meninggalkan TOP yang masih memasang tampang datar. Begitu sampai di pintu keluar, diraihnya ponsel yang masih setia bergetar di dalam saku blazernya tersebut. Senyumannya lantas mengembang saat kembali melihat nama yang terpampang pada layar.

My Prince Seunghyun.

“Ne~ aku akan segera kesana.”

~mrs.ChoiLee~

“Huffttt..”

Hyunjae tampak menghela napasnya berat. Rasa lelah mulai menggelayuti dirinya siang itu. Sejak tadi pagi dihubungi bibinya yang memastikan bahwa dirinya akan pindah kerumah mereka, gadis itu langsung sibuk mengemasi semua barang-barangnya kedalam koper dan kardus kosong.

Sejak go public-nya hubungan Siwon dan Victoria yang notabene adalah teman sekamarnya, gadis itu jadi merasa tak nyaman tinggal disana. Bukan lantaran karena ia masih menyukai Siwon dan menaruh dendam pada Victoria, tapi lebih kepada pandangan orang-orang pada dirinya yang terkesan seolah dirinya yang tak tahu malu karena memilih bertahan tinggal bersama kekasih dari mantan kekasihnya. Inilah yang mengganggunya. Apalagi sejak berita itu merebak Victoria juga jarang tinggal di asrama. Membuat rumor tak mengenakan seputar dirinya yang mengusir Victoria semakin santer terdengar. Dan jujur saja sangat membuatnya tak nyaman dan berniat menyewa flat kecil dekat sekolah mereka.

Tapi untunglah, bibinya yang selama ini memang telah menganggap Hyejoon –adiknya- sebagai anak angkatnya, memintanya untuk pindah kerumah mereka, hitung-hitung menemani Hyejoon yang belakangan kesepian karena pekerjaan bibinya yang kini menuntutnya untuk sering tinggal lama di luar negeri. Yang tentu saja ia terima dengan senang hati. Mengingat hubungannya dengan Hyejoon belakangan juga mulai membaik.

Mulanya ia baru akan pindah hari senin besok, sepulang sekolah, mengingat besok ia harus datang pagi-pagi sekali untuk urusan pemasangan bahan mading yang baru semalam ia selesaikan. Tapi ternyata bibinya mengatakan bahwa supirnya akan menjemput mereka sore itu juga. Alhasil seharian ini ia jadi sibuk merapihkan barang-barangnya yang lumayan banyak kedalam kardus. Sendirian.

TINNN.. TIINNN..

Terdengar bunyi klakson dari arah bawah gedung. Hyunjae yang kebetulan tengah mebereskan barang –barangnya yang ada di atas meja belajar yang menatap langsung keluar jendela kontan saja menengok kebawah. Penasaran. Siapa sosok dibalik suara yang lumayan memekakakknan telinga itu.

“HYUNNNNNNNNN!!!” teriak seorang pria sambil berdadah-dadah tak jelas dari bawah. Menghadap kearahnya. Lee Donghae. Nama itu berdiri disamping Hyundai santa silvernya dengan kacamata rayban kebanggaan dirinya yang melindungi pndangan matanya dari sinar matahari yang terasa begitu menyengat.

Namja itu mengerucutkan bibirnya. Cemberut, panggilannya sama sekali tak ditanggapi.

“Hey, sudah siap belum???” dahi gadis itu berkerut.

“Aku keatas sekarang ya!!!!! Kau kamar 142 kan??? Oke??” tanpa babibu namja berwajah innocent yang lebih tua darinya itu langsung melesat masuk kedalam gedung. Tak mengindahkan ekspresi Hyunjae yang sudah melongo parah melihat kelakuannya.

“YA! Bagaimana bisa kau masuk kemari??” sentak gadis itu tak habis pikir saat tahu-tahu sosok namja yang kini sudah melepaskan kaca mata hitamnya itu sudah berada di dalam kamarnya yang pintunya sejak tadi memang ia biarkan terbuka lebar.

“Tentu saja atas seijin penjaga asrama~ bukankah kau sendiri yang sudah meminta ijin kebawah untuk membiarkan masuk orang yang akan membantumu pindahan?”

Gadis itu mengangguk ragu. Memang benar ia yang tadi pagi meminta ijin pada Fei sonsaengnim  guru yang menggantikan Jia sebagai penanggung jawab asrama untuk semantara selama ia kembali ke Cina untuk mengurus visanya yang telah berakhir, untuk membiarkan orang yang akan membantunya pindahan masuk ke kamarnya.

“Lalu?”

“Aku yang disuruh bibimu untuk menjemputmu. Hehe..”

“He???” kedua mata besar gadis itu membelalak lebar. Lee Donghae? Bibinya? Bagaimana bisa?????

~mrs.ChoiLee~

“Apa benar itu orangnya??” tanya seorang pria berkaca mata hitam dari balik salah satu pilar gedung bertingkat yang berada disamping gedung pusat perbelanjaan sambil sesekali menyesap puntung rokoknya yang tinggal setengah, pada anak buahnya yang ikut berdiri dibelakangnya.

“Ne, maja-yo. Saya yakin 100% bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Sudah seminggu ini kami terus mengikutinya dan memastikannya bahwa selain dengan gadis ini bocah tengik itu tak pernah keluar dengan gadis manapun, dan lagi mereka berdua juga kerap kali kami lihat bersama-sama disuatu tempat dalam waktu yang lama, bahkan beberapa hari lalu kami juga mendapati ibu bocah itu sendiri yang berteriak lantang bahwa keduanya berkencan,” jawab pria ceking yang merupakan salah satu preman kelas teri yang dijadikannya anak buah. Pria berkaca mata hitam itu melemparkan putung rokoknya yang masih menyala begitu saja lalu menginjaknya hingga mati. Kedua matanya terus menatap lekat kearah gadis bertubuh jangkung yang kini berjalan kearah parkiran dengan sebuah ponsel tertempel di sebelah telinganya.

Dari jarak seperti ini mereka tak tahu jelas apa yang dibicarakan gadis itu. Yang mereka tahu pasti bahwa gadis itu saat ini tengah menyebut-nyebut nama Seunghyun dalam pembicaraannya, sebelum akhirnya ia masuk kedalam focus miliknya dan menghilang menuju keramaian jalan.

Pria itu mendesis lalu tersenyum sungging. “Lakukan!” perintahnya, yang langsung disambut anggukan paham para anak buahnya yang rupanya sejak tadi berada tak jauh darinya.

 Kurang dari semenit mereka semua pun menghambur pergi, melaksanakan perintah sang atasan yang sudah direncanakan dengan matang sejak semalam.

“Seunghyun… Lihat saja, kali ini kau akan kuhabisi!”

TBC

 haii hallo~ apa kabar?? hahaha setahun tak bertemu~ wkwk 😛

jangan tanya kenapa postingan ini bergitu lama baru muncul karena semuanya udah saya jabarin disini dan tambahan asal tahu aja buat ngedapetin part ini saya udah 5 kali ganti cerita yang bikin saya sendiri sakit kepala karena selalu berujung STUCK disaat baru nyampe halaman ke 6. dan sekalinya ada yang bisa dilanjutin sampe 10 halaman word, isinya malah bakalan bikin ceritanya jauhhh melenceng kemana-mana. alhasil berhubung saya sendiri juga berharap HSP seri ini bisa cepetan berakhir jadi saya bikin sesimpel mungkin aja konfliknya. haha 😛

So diharap komentar dan jempolnya seperti biasa.

dan.. SO SORRY FOR TYPO  males ngedit : P

 

Iklan

11 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 12

  1. ahra hongki dah tumbuh bunga bunga cintanya selanjutnya siapa lagi
    and siapa lagi sosok misterius akhhhhh
    lanjut biar g penasaran

      1. mgkn jg sih yun, haha
        tp mestinya, disetiap part untk masing perorangan jgn sepotong” yun, musti ky gt. lu kadang” baru nyampe si ini, pindah ke yang laen, nanti balik lg ke si ini. mending kaya ep.12 ini,

  2. akhirnya ahra hongki kekekke kesengsem jga kekekekek
    yah qw kira bkl ada benih cinta juga dihati TOP untuk hyejin, eh hyejin mlh deket ma seunghyun 😦
    kasian jga hyunjae, knpa dia yg pindh padahl vic ma siwon yg salh 😦
    aigoo itu yg lagi di intai hyejin kan chingu??? lanjut makin seru+bikin peasaran 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s