HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 13

hsp1-e

“Apa benar itu orangnya??” tanya seorang pria berkaca mata hitam dari balik salah satu pilar gedung bertingkat yang berada disamping gedung pusat perbelanjaan sambil sesekali menyesap puntung rokoknya yang tinggal setengah, pada anak buahnya yang ikut berdiri dibelakangnya.

“Ne, maja-yo. Saya yakin 100% bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Sudah seminggu ini kami terus mengikutinya dan memastikannya bahwa selain dengan gadis ini bocah tengik itu tak pernah keluar dengan gadis manapun, dan lagi mereka berdua juga kerap kali kami lihat bersama-sama disuatu tempat dalam waktu yang lama, bahkan beberapa hari lalu kami juga mendapati ibu bocah itu sendiri yang berteriak lantang bahwa keduanya berkencan,” jawab pria ceking yang merupakan salah satu preman kelas teri yang dijadikannya anak buah. Pria berkaca mata hitam itu melemparkan putung rokoknya yang masih menyala begitu saja lalu menginjaknya hingga mati. Kedua matanya terus menatap lekat kearah gadis bertubuh jangkung yang kini berjalan kearah parkiran dengan sebuah ponsel tertempel di sebelah telinganya.

Dari jarak seperti ini mereka tak tahu jelas apa yang dibicarakan gadis itu. Yang mereka tahu pasti bahwa gadis itu saat ini tengah menyebut-nyebut nama Seunghyun dalam pembicaraannya, sebelum akhirnya ia masuk kedalam focus miliknya dan menghilang menuju keramaian jalan.

Pria itu mendesis lalu tersenyum sungging. “Lakukan!” perintahnya, yang langsung disambut anggukan paham para anak buahnya yang rupanya sejak tadi berada tak jauh darinya.

 Kurang dari semenit mereka semua pun menghambur pergi, melaksanakan perintah sang atasan yang sudah direncanakan dengan matang sejak semalam.

“Seunghyun… Lihat saja, kali ini kau akan kuhabisi!”

Disamping itu, Hyejin yang sama sekali tak tahu apa-apa terus saja melajukan focus yang baru beberapa bulan dimilikinya itu diatas aspal panas kota Seoul dengan suasana hati riang.  Tadi saat tengah memberikan tutoring kepada TOP, Seunghyun tiba-tiba saja menghubunginya. Memintanya bertemu.

Sudah sekitar seminggu lebih ini mereka memang jarang sekali bertemu karena kesibukannya sebagai tutor TOP. Dan ini adalah pertama kalinya  Seunghyun menghubungi dirinya setelah janji kencan mereka di N Tower minggu lalu ia batalkan dengan bodohnya hanya demi menunggu TOP yang bahkan hari itu tak kunjung datang hingga tengah malam tiba. Mereka memang belum resmi jadian, tapi ia yakin status mereka akan berubah ketahap itu segera.

 Jelas saja ini membuat hati gadis itu berbunga-bunga. Dan kesempatan kali ini tentu tak akan ia sia-siakan. Ia sudah bertekad pada dirinya sendiri bahwa kejadian sebelum-sebelumnya dimana cara ‘kencan’ mereka selalu berakhir dengan kegalalan akibat dirinya sendiri yang tiba-tiba terpaksa ingkar janji, tidak akan pernah terjadi lagi. Ia akan menomor satukan sang pangeran berkuda besi-nya dari hal apapun –kecuali mengenai keluarga dan pendidikannya.

Sesekali diliriknya kearah sekantong plastic berisikan bento yang tadi dibelinya di restaurant favorit Seunghyun yang ada di dalam gedung salah satu pusat perbelanjaan. Tadi setelah dari rumah TOP, ia memang sengaja mampir kesana untuk membeli makanan kesukaan Seunghyun, agar saat mereka bertemu nanti keduanya bisa makan bersama.

Memikirkannya saja membuat gadis itu tersenyum senang.

“.. Don’t stop! Make it pop.. DJ blow my speakers up

Tonight, imma fight till we see the sunlight

Tik Tok, on the clock.. But the party don’t stop, no! Whoa-oh oh oh..”

Dengan fasihnya gadis itu mengikuti potongan lirik yang keluar dari dalam audio mobilnya. Jari-jarinya ikut ia ketuk-ketukkan, menari pada pegangan stir sesekali mengikuti ritme yang ada. Begitu juga bagian tubuhnya yang lain, ikut bergoyang, mengiringi keceriaan music serta suasana hatinya saat ini.

Gadis itu terus saja mengikuti alunan music yang ada hingga selesai dan beralih pada lagu bergenre senada lain yang berputar dalam audio, sampai akhirnya kening gadis itu berkerut tatkala kedua iris matanya yang kini memicing sempurna kearah spion tengah mobilnya mendapati tiga buah sedan hitam melaju tepat dibelakangnya, hingga akhirnya kedua mobil lainnya melaju lebih cepat dari mobil satunya yang tetap berada menempel tepat dibelakangnya, sementara dua lainnya kini sudah memblokade jalan di depannya. Membuat dirinya terpaksa menginjak rem kuat-kuat saat menyadari kedua mobil itu sudah berhenti dengan posisi saling menyilang tepat kurang dari dua meter dihadapannya.

Jantung gadis itu berdetak cepat. Napasnya memburu. Begitu disadarinya dirinya berhasil menghentikan laju mobilnya sebelum menabrak kedua mobil dihadapannya, ia menghela nafas lega.

Tapi sayangnya, rasa lega yang baru dirasakan gadis itu tak berlangsung lama karena tahu-tahu dari dalam ketiga mobil yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah benar-benar dalam posisi memblokade kendaraannya, sama sekali tak sedikitpun ruang untuk melarikan diri itu, keluar beberapa orang berpakaian serba hitam dengan sebuah tongkat ditangan masing-masing. Mendatanginya, mengayunkan tongkat-tongkat itu kearah dirinya yang masih berada di dalam mobil dalam kondisi tertutup.

PRANGGG..

Dalam waktu singkat seluruh kaca jendela yang melindungi Focuz ST kuning itupun hancur. Hyejin yang ketakutan hanya bisa berteriak, menutupi wajahnya dengan tas ransel berbahan kulit miliknya yang semula ia letakkan diatas jok penumpang agar pecahan kaca yang berhamburan tak turut melukai wajahnya layaknya yang terjadi pada punggung tangan dan lututnya yang kini mengeluarkan cairan kental merah akibat potongan kaca yang menusuk kulit.

Gadis itu menangis, berdoa di dalam hatinya, meminta pertolongan. Berharap ada seseorang yang sekiranya dapat membantunya keluar dari situasi mencekam yang dihadapinya saat ini.

Meski ia tahu kemungkinan itu sangatlah kecil.

Jalanan tempat dirinya, dan mereka yang tengah menghancurkan mobilnya itu adalah jalan yang sangat jarang dilewati oleh orang kebanyakan. Sejak mereka semua mengepung mobilnya, ia sudah tahu.. ia pasti tak akan bisa lolos.

“ARGHHH!!” pekik gadis  itu, tak kuasa menahan sakit yang dirasanya saat seseorang dari mereka berhasil membuka pintu, menyeretnya keluar dari dalam mobil yang seluruh kacanya sudah tak berbentuk itu.

Rok renda selutut berwarna hijau toska yang dikenakannya kini sudah kotor dengan noda darah di beberapa tempat, begitu pula dengan blazer putih yang dikenakannya. Gadis itu tampak kepayahan saat pria berambut cepak itu menyeretnya lantaran bagian punggung kaki sebelah kanannya tertancap sepotong kaca berukuran tak terlalu besar namun mampu membuat flat shoes transparant yang dikenakannya berubah menjadi merah darah.

“DIAM DAN IKUTI KAMI!” pekiknya.

Dan dalam sekejap, pandangan gadis itupun buram.

~mrs.ChoiLee~

“Jadi, kenapa kau bisa menjemputku?” tanya Hyunjae pada namja yang tengah sibuk menyetir disebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Saat ini keduanya tengah berada di dalam sonata milik Donghae. Melaju menuju kediaman bibi Hyunjae dalam kecepatan sedang. Seperti yang dikatakan namja yang kini sudah kembali mengenakan ray-ban hitamnya itu sebelumnya, ia lah yang bertugas menjemput dan mengantarkan gadis itu sampai ditujuan dengan selamat.

Dan sampai saat itu juga, namja bertampang innocent dengan sifat kekanakan yang tak sesuai dengan umurnya ini belum juga menjawab pertanyaan yang entah sudah berapa kali di lontarkan kepadanya karena terlalu asik membenahi barang gadis itu.

“Huh?” Donghae menoleh sekilas. Melirik teman perempuannya yang kini tampak siap mengacak-acak rambutnya saat itu juga jika petanyaannya kali ini tak ia gubris juga. Sebenarnya sejak di kamar asrama tadi ia memang sudah beberapa kali mendengar pertanyaan serupa, tapi ia sengaja tak menjawabnya hanya untuk membuat gadis itu kesal. Ia sangat suka jika gadis itu sedang merengut atau memarahinya karena kesal.

“Kenapa kau bisa menjemputku, tuan Lee Donghae?” ulangnya penuh dengan penekanan.

Bukannya langsung menjawab, namja itu malah membuka laci dashboard mobilnya yang berada tepat di depan Hyunjae. Mengeluarkan sekeping CD dari dalam tempat penyimpanan CD berbahan kulit, lalu memasukkannya kedalam CD player.

Seketika alunan musik hip-hop electro dari lies yang dibawakan Bingbang memenuhi seluruh sudut mobil. Membuat bibir gadis itu perlahan ikut bergerak mendendangkan beberapa patah lirik yang ia ingat.

 “Tadi aku tak sengaja bertemu dengan Hyejoon saat baru keluar dari rumah Siwon. Dia bilang tiba-tiba saja bibi kalian harus berangkat ke Jerman sore ini, jadi Pak Han harus mengantarkannya ke Bandara. Jadi saat melihatku, adikmu itu menyuruhku untuk membantunya menjemputmu karena takut kau terlalu lama menunggu. Lagi pula katanya ponselmu tak bisa dihubungi, makanya aku langsung saja menjemputmu,” jelas pria itu, sesekali mengalihkan pandangannya pada jalan. Melihat kearah Hyunjae yang kini menepuk pelan jidatnya.

 Ia baru ingat, tadi setelah mendapat telepon dari eommanya yang menyuruhnya untuk mengikuti saran bibinya agar tinggal bersama Hyejoon, ponselnya lowbatt dan sama sekali lupa ia charge. Pantas saja!

“Jadi apa kau paham?” liriknya lagi disela-sela kegiatan mengemudinya. Gadis itu menghela napas pendek. Mengangguk.

Ia kira namja disampingnya ini punya hubungan apa dengan bibinya. Ternyata hanya karena tak sengaja bertemu saat baru keluar dari rumah Siwon. Eh? Apa? Tunggu dulu. Apa hubungannya ia yang baru keluar dari rumah Siwon dengan Hyejoon?????

—–

Tepat pukul setengah delapan malam sonata fee silver milik Donghae berhenti di depan pekarangan sebuah rumah mewah dikawasan elite Gangnam. Langit sudah berubah gelap. Lampu-lampu kuning jalanan sudah menyala dimana-mana menerangi seluruh sudut jalanan.

Hyunjae mendesah berat. Menatap keluar jendela. Kearah sebuah rumah berlantai satu bergaya georgian bernomor 62 yang ada di sisi kanannya dan rumah bergaya eropa-mediteranian berlantai dua nan mewah yang ada disisi satunya bergantian. Lalu kembali mendesah.

georgian eruopian house
Donghae sudah mematikan mesinnya sejak tadi. Tapi ia sama sekali tak berniat keluar, dan malah sibuk memperhatikan ekspresi temannya yang seperti cacing kepanasan sejak dirinya memberitahu bahwa sebenarnya rumah bibi Hyunjae berada tepat di depan rumah baru Siwon yang baru ditempatinya beberapa hari lalu. Dan ia tadi siang ke rumah namja itu pun untuk membantunya pindahan. Siapa yang dapat mengira bahwa bibi dari gadis itu yang akan menjadi tetangga Siwon bukan?

“Apa tidak sebaiknya kita turun saja? Hari sudah gelap loh..” Donghae mengingatkan, “Atau kau malah masih betah berduaan denganku?” lanjut pria itu yang langsung mendapat jitakan maut Hyunjae. Membuatnya meringis kesakitan.

“Aish! Sudah cepat turun!” dengan kasar dibukanya pintu mobil lalu berjalan memutar ke belakang, membuka pintu bagasi yang kuncinya sudah dibuka Donghae sejak gadis itu turun dari mobilnya.

“Ya! Kau tidak membantuku!?? CEPAT TURUN!” teriaknya. Membuat orang yang dimaksud langsung menutup telinganya terasa bagai mau pecah lantaran sejak dua jam terakhir terus menerus diteriaki dengan suara cempreng dari orang yang sama sambil berjalan ogah-ogahan keluar dari mobilnya menuju belakang mobil. Menghampiri gadis yang kini ditangannya sudah penuh dengan kardus ukuran sedang yang langsung diberikan padanya untuk dibawa kedalam rumah.

“Hei-”

“JANGAN BANYAK PROTES!” titahnya. Donghae bungkam. Mengerucutkan bibirnya tanda protes, tapi tetap saja diturutinya titah gadis yang setahun lebih muda dibawahnya itu.

Setelah menekan bel dan dibukakan pintu oleh seorang pelayan yang kemudian turut membantu gadis itu menurunkan seluruh barangnya dari dalam mobil. Merekapun lantas masuk kedalam rumah milik bibi Hyunjae yang seorang diplomat itu dengan diiringi ocehan Hyunjae yang terus menerus mengomel karena Donghae yang malas-malasan membantunya.

Tanpa mereka ketahui, tingkah dan teriakan keduanya benar-benar dapat dilihat dan di dengar jelas oleh seseorang yang tengah berdiri di depan jendela besar kamarnya. Pria tinggi yang tubuhnya berbalutkan kimono handuk berwarna biru tua itu tampak berdiri menyandar pada kusen jendela besar lantai dua rumahnya dengan kedua tangan ia lipat didepan dada. Sebuah senyuman dengan jelas terpampang diwajahnya.

Dia Choi Siwon. Pria itu tersenyum melihat dua orang yang sangat dikenalnya itu kini tengah beradu mulut di depan bagasi mobil milik Donghae. Entah apa lagi yang kali ini keduanya ributkan. Tapi yang jelas, melihat hal ini membuatnya gembira.

Ia jelas tak salah memilih rumah, batinnya,

—-

Pukul 10 malam. Akhirnya Hyunjae berhasil membereskan seluruh barang, menatanya di dalam kamar yang dipersiapkan oleh bibinya sebelumnya. Hyejoon sudah tidur di dalam kamarnya sejak satu jam yang lalu. Kini hanya ada Donghae yang menemaninya duduk bersantai di halaman belakang, diatas ayunan berbentuk bangku panjang yang menghadap langsung kearah kolam renang sambil menyesap sekaleng soda yang diambil Hyunjae dari dalam kulkas.

Tadi, saat mereka sedang merapihkan kamar Hyunjae. Tiba-tiba saja gadis itu mendapat kabar dari ketua kelasnya bahwa besok hingga lusa sekolah diliburkan karena rapat seluruh dewan sekolah dan perbaikan gedung. Jadi keduanya memutuskan untuk bersantai sejenak setelah lelah berbenah.

 “Hey, langitnya indah bukan?” tunjuk Hyunjae dengan jari telunjuknya kearah langit yang malam itu menampakkan keindahannya akan taburan cahaya bintang bersinar cerah. Donghae hanya meliriknya sekilas, lalu kembali berkutat dengan ponsel ditangannya. Membuat gadis itu mencibir kearahnya.

“Ya! Kalau sibuk pulang saja sana. Untuk apa disini.. sana-sana pulang!” omelnya tak terima diabaikan begitu saja oleh Donghae yang sebelumnya justru mengajaknya untuk duduk disana menikmati langit malam.

“Aish! Kau itu kapan sih sekali saja tidak mengomeliku?? Aku kan juga mau diperlakukan manis seperti yang kau lakukan kepada Jonghoon!” Donghae buru-buru memasukkan ponselnya kedalam saku celana lalu berdecak sebal memandangai temannya itu.

“Mwoya? Memangnya kenapa aku harus bersikap manis kepadamu? Kau kan menyebalkan! Memangnya kau kekasihku apa sampai-sampai aku harus bersikap manis kepadamu???”

Kedua bola mata Donghae melebar. Menyebalkan katanya?? Lantas memangnya ia sendiri tidak menyebalkan apa???

“Ya! Ya! Kalau begitu jelaskan alasanmu, kenapa kau bersikap manis pada Jonghoon? Apa kau menyukainya ha? Memangnya dia kekasihmu sampai harus kau perlakukan manis????” cecar Donghae. Hyunjae terdiam. Menyadari gadis itu kini terdiam, melemparkan arah pandangannya jauh kearah kolam, membuat dirinya sontak ikut terdiam.

“Jujur saja. Apa kau menyukainya?” tanya Donghae, kali ini dengan nada suara yang lebih lebih lembut tak seperti sebelumnya.

Hening. Cukup lama keduanya berada dalam siatusi seperti itu. Donghae sama sekali tak mau mengeluarkan suaranya lagi, takut-takut gadis disebelahnya malah kembali memaki-makinya dengan suara nyaring. Sementara Hyunjae sendiri sibuk mencari jawaban atas pertanyaan sekaligus pernyataan Donghae barusan.

Ia bingung. Ia sendiri tak tahu kenapa, tapi rasanya memang sebenarnya hanya terhadap namja disampingnya ini saja ia bisa bersikap seenaknya. Bukan lantaran ia menyukai Jonghoon atau tidak makanya ia bersikap lembut pada Jonghoon, karena pada kenyataannya ia memang selalu bersikap lembut pada siapapun pria yang dikenalnya. Kecuali Donghae.

“Kanapa kau bertanya seperti itu? Apa kau menyukaiku?” Hyunjae berbalik memandang Donghae yang tampak tersenyum datar.

Keduanya lantas kembali terdiam. Bergelung dalam keheningan. Ditemani cahaya temaram lampu taman dan sinar bintang yang menyemarakkan langit malam yang terlihat gemerlap.

~mrs.ChoiLee~

@in frontof N Tower buildings, Yongsan-gu, Seoul

Seorang pria berkaos putih dengan vest garis-garis hitam tanpa kancing tampak berjalan mondar-mandir di depan pintu masuk sebuah gedung dimana menara pemancar tertinggi di Korea berada. Wajahnya tampak resah. Sesekali dilihatnya jam tangan kulit berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam.

Langkah kaki pria itu kontan terhenti. Rahangnya mengeras. Dikeluarkan benda berlipat warna biru dari dalam saku celana panjang yang dikenakannya. Dibukanya lalu ditatapnya baik-baik layar ponsel miliknya tersebut yang sama sekali tak menunjukkan apapun selain foto dirinya, Song Seunghyun, bersama teman-teman satu bandnya, FT Island.

Lama pria itu hanya memandangi layar sebelum akhirnya dilemparkannya benda berlipat itu asal dengan kekuatan penuh hingga terjatuh tepat dijalanan beraspal. Sebelum sedetik kemudian hancur tak berbentuk saat  roda sebuah truk makanan melintas tepat diatasnya.

Seunghyun tersenyum miring. “Kita.. Berakhir!” ucapnya.

Ia berbalik, berjalan meninggalkan pelataran N Tower dengan langkah tegap menuju tempat dimana sedan miliknya terparkir. Sebelah tangannya merogoh kedalam saku celana lainnya. Dikeluarkannya benda serupa dengan warna dan jenis yang berbeda, kemudian ditekannya beberapa tombol sebelum akhirnya sebuah suara menyambutnya dari arah seberang telepon.

“Jagiya! Nan bogoshippeo~”

~mrs.ChoiLee~

@TOP family house

TOP tampak keluar dari dalam kamarnya dilantai 2, menyusuri lorong, menuruni tangga dengan langkah hati-hati. Berusaha tak mengeluarkan suara sekecil apapun di tengah-tengah kesunyian kediaman keluarga kepala Polisi Daerah malam itu yang nyaris seluruh lampunya sudah dipadamkan.

CKLEKK..

 “Mau kemana? Choi Seunghyun?” tanya Choi Minsoo dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Menatap tajam sang putera semata wayang yang tampak berusaha mengendap keluar rumah, tepat saat seluruh lampu berubah terang.

Merasa kepergok, TOP menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap sang ayah yang kini tengah memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki dari atas tangga yang langsung menghadap kearahnya.

“A-aku.. ”

“Dia mau berkencan dengan Hyejin. Betul begitu kan Seunghyun-ie???” potong ibunya tiba-tiba yang entah datang darimana sambil tersenyum. Memperhatikan penampilan anaknya yang biasa tampak urakan malam itu justru terlihat sangat rapih dimatanya dengan kemeja putih dan jeans belel yang membalut tubuhnya.

TOP menggaruk belakang kepalanya, tersenyum kikuk. Berpikir antara mengiyakan perkataan ibunya atau tidak. Karena nyatanya tidak seperti itu. Bagaimana mungkin ia berkencan dengan Hyejin?? Yang ada dia justru mau pergi ke arena balapan liar, tempat tongkrongannya selama ini.

Orang tuanya pasti salah paham karena melihat penampilannya sekarang. Memangnya apa yang salah? Bukankah ia sudah biasa mengenakan jeans belel yang sekarang ia pakai ini?? Ahhh.. tunggu mereka pasti heran karena tak biasanya seorang TOP mengenakan kemeja bukan? Padahal alasan sebenarnya namja itu mengenakan kemeja adalah karena ia sudah tak punya stok pakaian lagi di dalam lemari kamarnya. Semuanya sedang dicuci oleh sang ibu yang sangat rajin bersih-bersih itu, yang tersisa hanya beberapa potong kemeja yang memang sengaja dibelikan ibunya saat ia baru masuk SMA beberapa tahun lalu. Yang bahkan kini terlihat terlalu pas dengan tubuhnya.

“Benar begitu?” tanya tuan Choi dengan suara beratnya. Membuat siapapun orang yang tak mengenalnya pasti akan bergidik. Bahkan TOP saja yang sudah 20 tahun mengenalnya selalu dibuat terintimidasi dengan segala yang dilakukannya.

TOP mendongak. Pria itu hanya tersenyum kikuk. Sama sekali tak mengiyakan ataupun mengelak.

“Baiklah jika begitu. Kau kuijinkan,” ujarnya yang membuat namja berperawakan sangar itu melongo parah.

“Astaga.. Tak pernah kusangka pengaruh seorang Seo Hyejin si nona muda itu begitu kuat, bahkan dia bisa mempengaruhi jalan pikiran seorang Choi Minsoo yang selama ini terkenal keras. Ckckck,” TOP bergidik ngeri memikirkannya. Ia tak habis pikir, apa yang telah dilakukan seorang Seo Hyejin pada keluargamya hingga membuat orang tuanya begitu menyukai sosoknya?

Ayahnya, biasanya akan selalu mencecar dirinya jika ia pergi malam. Dan ia pasti akan menceramahinya sepanjang malam atau tak segan memukul dirinya jika ia ketahuan sengaja pergi keluyuran tanpa seiizinnya. Kemanapun ia pergi selama sang ayah mengetahuinya, pasti saja pria yang sudah hampir 30 tahun berkecimpung di dunia kepolisian itu akan selalu mencurigainya melakukan hal aneh diluar sana. Apalagi ini malam senin, bukan malam akhir pekan dimana biasanya orang tuanya pasti mengomel karena takut ia akan bolos sekolah keesokan harinya.

Sepanjang jalan, diatas sepeda motor sport berwarna kuning dengan beberapa aksen putih. Namja itu terus saja berdecak dan bahkan sesekali menggeleng-geleng tak percaya memikirkan apa yang tadi terus saja memenuhi pikirannya. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa sejak tadi ponsel dalam saku celananya bergetar hebat.

Dua puluh menit, waktu yang kira-kira ditempuh TOP dengan kecepatan tinggi untuk sampai di sebuah jalanan tak terurus yang ada di bawah sebuah jembatan layang yang tak terpakai di salah satu sudut kota Seoul. Waktu yang bahkan sewajarnya baru bisa ditempuh sekiranya maksimal 40 menit dengan kecepatan batas aman maksimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tapi bukan TOP namanya jika tak bisa menguasai jalanan. Baginya peraturan diciptakan untuk dilanggar!

“Hyung!” seru seseorang begitu TOP melepaskan helm full face kesayangannya,sambil berlari-lari kecil kearahnya.

“Kemana saja?? Sejak tadi aku menghubungimu!” omelnya dengan wajah cemas. TOP hanya meliriknya sebentar lalu beranjak turun meninggalkan motornya begitu saja.

“Bukankah aku datang tepat waktu?” jawabnya datar. Membuat si pria berwajah kecil yang semula mengomel kepadanya itu mengerucutkan bibirnya. Yang Yoseob, nama pria itu, langsung saja menyusul langkah kaki sunbae-nya disekolah yang panjang itu saat dilihatnya ia sudah melangkah ketengah arena jalanan yang sudah mulai ramai dengan beberapa anggota geng bermotor.

“Iya, tapi kau membiarkanku sendirian disini. Kau tahu kan mereka sangat mengintimidasi,” Yoseob mendesah mengingat perlakuan orang-orang berpakaian ala brandal yang tak jauh dihadapan mereka kini terhadapnya sebelumnya.

Diam-diam tanpa namja itu ketahui, TOP terus memperhatikan dan mendengarkan seluruh perkataannya dengan baik. Ia tahu persis, Yoseob pasti sangat ketakutan menunggunya sejak tadi. Orang yang sudah beberapa bulan belakangan ini dikenal selalu membuntuti-nya itu memang sangat lemah. Baik secara fisik maupun mental!

Anak laki-laki, siswa kelas satu Romeo itu sejak awal masuk sekolah, kerap kali di bully baik oleh sunbae-nya ataupun teman angkatannya sendiri. Ia yang selalu terkesan dingin sebenarnya sangat iba terhadapnya dan bertekad agar dapat membuatnya menjadi seorang pria yang kuat, bukan pria lembek seperti sekarang ini. Maka dari itu meski dibibir ia selalu mengatakan bahwa ia sangat terganggu dengan kehadiran Yoseob, hatinya selalu berkata lain.

TOP memperhatikan segerombolan orang berpakaian urakan yang tak hanya terdiri dari pria tapi juga wanita itu dengan tatapan datar, sampai akhirnya kedua iris matanya tertuju pada seorang pria berambut mohawk tinggi berwarna hijau yang kini tengah asyik meminum arak langsung dari botol yang disodorkan oleh seorang gadis yang kini sudah menggelayut manja disamping pria itu.

Melihatnya membuat amarah dalam diri pria itu memuncak. Kedua tangannya terkepal kuat dikedua sisi. Yoseob yang sejak tadi terus memperhatikannya langsung bergidik ngeri. Tapi saat tatapannya mengikuti arah pandang pria yang selama ini dianggapnya sebagai panutan itu, ia hanya bisa memakluminya.

“Yoo! Choi Seunghyun. Akhirnya kau tiba!” seru seorang pria dari atas motor sport merahnya dengan nada mengejek. Membuat kedua orang itu dan beberapa orang disekitarnya ikut menoleh kearahnya. “Ku kira kali ini kau takut karena akan kembali kehilangan motor kesayanganmu lagi,” ejeknya.

TOP menyeringai, menatap tajam pria berambut blonde yang masih asik duduk diatas motornya itu.

Pria dengan senyuman dan pandangan meremehkan itu adalah Kwon Jiyong, musuh bebuyutannya sejak di bangku SD, yang kini kembali menjadi musuhnya di arena balapan motor. Sejak Kecil Jiyong sangat tidak senang jika seseorang berhasil mengalahkannya, tapi sial TOP selalu berhasil mengunggulnya dalam bidang apapun, termasuk balapan motor. Maka dari itu Jiyong sangat membenci TOP.

“Justru aku yang seharusnya mengatakan begitu. Kwon Jiyong-ssi,” ujarnya tenang, seraya menepuk-nepuk sebelah bahu Jiyong yang kini memandangnya tajam. “Aku kembali untuk menepati janjiku.. mengambil kembali motorku,” lanjutnya dengan tatapan menusuk.

Jiyong berdecak. Tatapannya yang semula tajam berubah menjadi meremehkan.

“Kau tak akan mampu!”

“Mari kita buktikan!”

Kedua orang itu saling melemparkan tatapan menusuk satu sama lain. Membuat udara panas disekitar arena balapan akibat hembusan angin yang berasal dari tong-tong api yang berada di beberapa sudut semakin terasa panas karena aura penuh kebencian yang dikuarkan oleh keduanya.

“SEMUA BERSIAP!!” teriak seorang wanita berpakaian seksi di tengah-tengah arena seraya mengibas-ngibaskan slayer hitam yang ada di sebelah tangannya. Memberi aba-aba pada kedua orang pria yang kini sudah berada di posisinya masing-masing dibelakang garis start.

DUUARR!!.

Suara ledakan pistol yang ditembakan gadis ditengah arena itu ke udara, membuat kedua motor sport yang masing-masing pengendaranya saling bersaing itu melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan maksimal.

Jiyong dari balik kaca helmnya yang transparant dalam melihat dengan jelas sorot mengejek yang dilemparkan TOP dari balik helmnya. Dan TOP sendiri dapat melihat aura penuh kebencian yang dilemparkan Jiyong.

“GO JIYONG!!!”

“GO JIYONG!!”

Teriak nyaris semua orang yang ada di arena yang mayoritas adalah pendukung Jiyong. Mungkin hanya Yoseob satu-satunya orang yang ada disana yang terus memandangi kearah jalanan yang kini hanya meninggalkan jejak kepulan asap dan debu dengan kedua tangan tertangkup dibawah dagu, memasang.

Kali ini memang tak seperti balapan yang sebelum-sebelumnya terjadi dimana para anggota geng motor akan saling bertaruh untuk menjadi jawara dalam balapan yang diikuti oleh beberapa orang. Tapi kali ini balapan hanya diantara TOP dan Jiyong.

Setelah kekalahan TOP bulan lalu atas Jiyong yang membuatnya terpaksa kehilangan Yamaha YZF-R6 blue kesayangan yang ia jadikan barang taruhan, Yoseob yakin betul kedua orang itu pastinya tak akan ada yang mau mengaku kalah dengan mudah. TOP kembali kemari demi merebut kembali motor kesayangan miliknya yang membuat ia setelah peristiwa itu terpaksa berpergian dengan sepeda yang dibelinya dengan sisa uang jajannya sendiri, dan Jiyong pastinya tak akan mau kembali kehilangan harga dirinya karena kalah dari orang yang selama ini susah payah akhirnya berhasil ia kalahkan.

Yoseob terus mengucapkan kidung doa dalam hatinya. Berharap TOP baik-baik saja. Ia takut, Jiyong akan menghalalkan segala cara demi melindungi gelar yang susah payah ia rebut dari TOP.

Sementara itu, dari sudut lain. Pria berambut hijau mohawk yang sebelumnya membuat amarah TOP memuncak kini terlihat memperhatikan Yoseob dengan raut yang sangat sulit diartikan.

Drrtt.. Drttt..

Pria itu sedikit menggeser tubuh gadis yang selalu menempel disampingnya sedikit. Mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna hitam dari dalam saku celananya yang terasa bergetar hebat.

Tanpa pikir panjang, pria itupun lantas segera menekan tombol answer saat sebuah nama terpampang jelas pada layar ponselnya.

“..”

Pria itu tersenyum sungging. “Arraseo,” jawabnya singkat sebelum melipat benda tersebut. Kembali memasukkannya kedalam saku.

Brummmm…

Deru mesin motor terdengar dengan jelas mendekat kearah mereka, membuat sekumpulan orang yang sejak tadi sibuk mereka-reka siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan kali ini segera berkerumun ketengah jalan, menanti sang pemenang sekaligus si pecundang.

“HYUNG!!!!!!!!!!!!!!” pekik Yoseob kegirangan saat melihat motor miliknya lah yang terlebih dahulu melewati garis finish. Sementara dilihatnya Jiyong tampak membanting helm yang semula dikenakannya ke jalanan dengan tampang emosi lalu memukuli beberapa orang anak buahnya yang ia anggap tidak becus dalam merawat motornya.

TOP yang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Yoseob hanya bisa menepuk-nepuk punggung namja yang diam-diam sudah dianggapnya sebagai dongsaengnya sendiri itu, mencoba menenangkan bocah itu yang kini tampak mulai menangis karena terharu.

“Hey, apa kau sesenang itu?” tanyanya saat pelukan mereka terlepas. Yoseob mengangguk sambil mencoba menghapus air mata yang membasahi wajahnya dengan ujung hoodie yang dikenakannya.

“Itu artinya perjuanganku untuk membeli motor dengan uang tabunganku sendiri tak kau sia-siakan, hyung!” Yoseob kembali terisak. Kali ini Top mengacak-acak rambut tebal pria itu gemas.

Ia tahu persis pastinya Yoseob sangat gembira karena motor yang digunakan TOP dalam pertandingan ini adalah milik Yoseob yang baru dibelinya seminggu lalu yang kemudian langsung dipinjamkan kepadanya guna membalas Jiyong, agar ia dapat mengambil motornya kembali, tanpa sekalipun pernah menggunakannya sendiri. Karena anak itu tahu, ada sesuatu yang sangat berarti bagi TOP pada benda itu.

Biar bagaimanapun TOP sangat menghargai pengorbanan yang diberikan Yoseob ini.

“Lihat saja pembalasanku nanti CHOI SEUNGHYUN!!!” teriak Jiyong penuh emosi seraya melemparkan sebuah kunci berbandul huruf SH berbahan perak yang sangat ia kenal kearahnya yang langsung ia tangkap dengan sigap dengan sebelah tangan.

TOP melirik kearahnya. Dilihatnya pria yang sebelumnya sempat membuat amarahnya mencuat itu kini tengah membisikkan sesuatu ke telinga Jiyong yang membuat pria itu menatap sengit kearahnya. Pria berambut mohawk itu sempat melemparkan tatapan meremehkan pada dirinya sebelum akhirnya meninggalkan arena bersama beberapa orang gadis dalam rangkulannya.

“Gadismu ada dalam genggamanku,” bisik Jiyong kemudian saat dirinya tiba-tiba menghampiri TOP sebelum pergi meninggalkan arena bersama teman-temannya yang lain.

Mata pria itu memicing. Menatap tajam kearah mereka yang telah berlalu meninggalkan arena dengan kening berkerut. Mencoba mencerna perkataan Jiyong barusan.

TOP terdiam. Dipandanginya lekat-lekat bandul huruf yang ada pada gantungan kunci motor miliknya yang kini berada di tempat yang baru saja disebutkan Jiyong barusan.

S.H

Sebuah inisial yang sangat berarti bagi dirinya.

Tak akan pernah ia membiarkan hal terakhir yang sangat berarti baginya ini kembali hilang dari dirinya. Seperti yang terjadi pada sapu tangan miliknya yang kini hilang entah kemana..

~mrs.Choilee~

TINNN!! TINN!!

Pagi-pagi sekali suara bising nan memekakkan telinga itu terdengar nyaring keseluruh penjuru ruangan, membuat Hyunjae yang kebetulan letak kamarnya berada paling depan langsung terbangun dari tidurnya dengan tampang semrawut dan jantung yang berdegub keras lantaran terkejut.

“YA!!! BERISIKKKK!!!” Teriaknya dari dalam kamar, lewat jendela besar yang ia buka lebar-lebar, menghadap langsung kearah pintu pagar dimana suara bising itu berasal.

Namun bukannya berhenti, suara itu malah semakin menjadi saja. Membuat gadis yang baru bisa terlelap pukul 3 pagi itu sontak berlari keluar menghampiri si pemilik sedan berwarna biru dengan penuh emosi. Sama sekali tak peduli bahwa rambut pendeknya acak-acakan dengan beberapa rol rambut yang masih menggantung di ujung rambutnya, ataupun wajahnya yang sama sekali belum tersentuh air.

“SEPUPU!!!!! I’M COMING!!!!!!!!!!!!~” Teriak seorang manusia jangkung berambut keriting pirang keemasan dari dalam mobilnya begitu sosok Hyunjae muncul dari dalam rumah, memeluknya erat lalu memutar-mutarkan tubuhnya sambil tertawa kesenangan.

“YA!!! YA!! PARK CHANYEOL TURUNKAN AKU!!!”

Teriak gadis itu, terganggu akan perlakukan pria tinggi yang tak lain adalah sepupunya. Sementara pria bernama Park Chaenyeol itu malah tertawa cengengesan.

“Hey, coba bukakan pagarnya~ Aku mau masuk!” titahnya dengan wajah tanpa dosa. Kembali masuk kedalam mercedez mini miliknya, bersiap memasukkan mobil kedalam pelataran rumah.

Hyunjae mendengus sebal. Andai saja pria jangkung dengan wajah tengil itu bukan sepupunya. Bukan sepupu dekatnya. Bukan anak dari kakak pertama ayahnya. Bukan anak angkat tertua pertama sebelum Hyejoon di keluarga bibinya ini, ia pasti sudah berlari masuk dan kembali tidur kedalam setelah menjitak kepalanya sampai benjol. Tapi sayang, itu semua hanya terjadi jika kata “bukan” yang tadi disebutnya berlaku. Alhasil, dengan tampang tertekuk sekian dibukanya pintu pagar lebar-lebar, membiarkan si “kakak tertua” masuk memarkirkan mobil kesayangannya dengan aman.

Dari seberang tempatnya saat ini. Seorang pria tampak tersenyum memperhatikannya.

Suara klakson nyaring milik Chanyeol tadi rupanya turut membangunkan dirinya. Namun pria itu sama sekali tak menampakan raut kesalnya lantaran rasa perasaan itu langsung sirna disaat pemandangan langka yang sama sekali tak pernah dilihatnya selama ini dapat dinikmatinya dengan tenang.

Sosok gadis berpiyama pokemon, berambut sebahu dengan rol rambut ukuran sedang yang masih menggantung di ujung rambutnya, yang berteriak-teriak kesal memasang raut cemberut yang terjadi di depannya sudah cukup menjadi obat kekesalannya pagi itu.

Choi Siwon.. Pria yang tubuhnya masih berbalutkan kimono tidur itu tampak memamerkan lesung pipinya. Tersenyum lebar memperhatikan sosok sang gadis dari atas balkon kamarnya.

Seumur-umur, selama ia mengenal Kim Hyunjae, bahkan sempat mengencaninya selama beberapa bulan. Tak pernah sama sekali ia mendapati sosok Hyunjae yang baru bangun tidur. Sosok Hyunjae yang berantakan. Ataupun sosok Hyunjae yang berteriak-teriak penuh emosi layaknya yang terjadi barusan di hadapannya.

Gadis itu selalu berusaha tampak sempurna, rapih dan tenang dihadapannya. Bahkan saat mereka berpisahpun gadis itu tampak tenang saja melontarkan kalimat demi kalimat yang pada akhirnya membuat hubungan spesial yang sempat terjalin terputus begitu saja.

Siwon, pria itu sejak dulu sejujurnya memang tak pernah menaruh perasaan spesial pada gadis itu, bahkan hingga akhirnya mereka berkencan pun rasa itu sama sekali tak pernah ada. Yang ada hanyalah sebuah perasaan bersalah dan ingin melindungi mana kala keduanya kembali dipertemukan di Romeo-Julliet setelah sekian lama. Ia sungguh merasa bersalah setelah beberapa insiden yang pernah dilalui gadis itu berkat dirinya saat masih duduk di bangku sekolah dasar  dulu. Dan rasa ingin melindungi itu semakin memuncak disaat gadis itu mengalami kecelakaan saat seorang pria psikopat bernama Lee Taeseong membawanya.

Dan disaat hubungan itu masih terjalin, ia bahkan dengan tega-teganya berkhianat dibelakang gadis itu. Bahkan dengan teman sekamarnya sendiri. Victoria, yang kini menjadi kekasih resminya.

Namun entah kenapa.. perasaan aneh  yang tak pernah dirasakannya pada gadis itu tiba-tiba saja hadir disaat hubungan keduanya justru telah kandas ditengah jalan. Dimana ia sendiri telah terlibat dalam sebuah hubungan yang baru.

Kepindahan keluarganya kerumah ini pun atas saran dirinya, saat orang tuanya sibuk mencari lokasi rumah yang cocok untuk tempat tinggal mereka kedepan setelah rumah lama mereka yang super mewah terpaksa dijual lantaran guna menutupi biaya kampanye sang ayah yang berniat mencalonkan diri sebagai presiden selanjutnya. Rumah yang hanya berbeda 5 blok dari rumah lamanya yang terletak di blok A, blok yang terkenal paling elit dan penuh dengan rumah-rumah mewah bergaya kastil seharga puluhan milyaran won , ini sengaja ia pilih saat mengetahui bahwa tepat didepan rumah ini adalah tempat dimana Hyejoon adik Hyunjae tinggal. Dan pria ini berharap setidaknya jika ia bertetangga dengan Hyejoon, masih ada harapan bagianya dimasa depan untuk bertemu dengan Hyunjae.

Dan nyatanya harapannya itu terkabul.

“Kau tahu? Dirimu itu sangat bodoh!” Donghae menepuk sebelah bahu temannya yang masih setia memperhatikan rumah diseberang tempat mereka saat ini pelan.

Siwon mengerutkan dahinya, bingung. Donghae terkekeh, diseruputnya teh hijau  dalam cangkir yang dipegangnya pelan-pelan.

Semalam sepulangnya ia dari rumah depan, Donghae memang menginap dirumahnya. Dan dimanapun pria itu menginap pasti ia akan menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Jadi ia tak perlu heran saat melihat temannya itu tahu-tahu sudah membawa secangkir teh yang sudah pasti dimintanya dari pelayan di dapur.

Tapi bukan ini yang membuat dahinya berkerut, melainkan perkataan Donghae barusan.

“Iya, kau bodoh.. Karena kau baru tahu bahwa kau selama ini benar-benar telah menyia-nyiakan seorang gadis yang bahkan jauh lebih baik dari gadis idaman yang menjadi obsesimu selama bertahun-tahun ini,” lanjutnya. Donghae melirik Siwon yang kini tersenyum pahit, menatap lurus kearah gadis yang kini tampak menyemprotkan selang air satu-satunya mobil yang terparkir di pelataran rumah itu.

“Kau tahu?” Siwon mendelik. “Lebih baik kau menghargai apa yang kau miliki saat ini, dari pada kau menyesal kemudian…

“Aku tahu semua apa yang kau pikirkan. Namun, tak pernahkan kau berpikir jika saat ini kau malah mengejar Hyunjae, kau sudah pasti akan menyakiti Victoria. Dan lagi kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi diantara kalian nantinya.. bisa saja hubungan kalian nanti berujung lebih buruk dari yang sebelumnya, dan kau malah kembali menyesal dan ingin memperbaikinya lagi kemudian?”

Mendengar penuturan Donghae barusan, membuat dirinya tersadar.

 Benar apa yang dikatakan Donghae barusan. Jika dipikir, ia memang sangat plin-plan. Mengaku tak menyukai, tapi malah mendekatinya.. mengaku menyukai Victoria, tapi malah mengencani gadis lain.. memiliki kekasih, tapi malah mengencani Victoria.. berkencan dengan Victoria, tapi malah ingin kembali dengan Hyunjae. Bukankan ini merupakan sebuah bentuk ke plin-planan dirinya terhadap perasaan dirinya sendiri?

“Lagi pula..  menurutku gadis itu berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari padamu,” Donghae tersenyum jahil sambil menunjuk kearah seorang namja berambut pirang berpakain olah raga yang baru saja memasuki pelataran rumah mewah berlantai dua itu bersama sepedahnya, dengan dagunya.

Siwon mengikuti arah yang ditunjukkan Donghae, lalu terkekeh. Tak biasa-biasanya temannya itu bisa mengatakan hal seperti ini.

Kedua sahabat itu lantas saling mencekik leher satu sama lain dengan siku tangan, bertaruh siapa yang lebih kuat diantara mereka. Tak mempedulikan suara berat Minho yang memanggil-manggil mereka dari lantai bawah, menyuruh keduanya agar ikut sarapan bersama ayah dan ibu Siwon yang sangat jarang tinggal dirumah.

~mrs.ChoiLee~

Sudah lewat 2 hari rasanya Jiyoung, kakak Hyejin tak menemukan sosok adiknya diseluruh penjuru kediaman keluarga Lee. Setelah kemarin sempat pergi tanpa pamit mengunjungi teman lamanya di Ilsan, sampai saat ini ia tak kunjung menemukan sosok adiknya. Saat dihubungi pun ponselnya tak aktif. Dan kini, saat ia tiba di apartment mereka ia malah menemukan sosok adik tirinya, Hongki tengah terlelap diatas sofa panjang diruang tengah bersama dengan kedua temannya yang lain yang juga dalam kondisi terlelap diatas selimut tipis yang mereka gelar diatas lantai ruang tengah. Sama sekali tak mencium gelagat kehidupan adik kandungnya dirumah itu.

“Lalu, apa kalian semua tak ada yang tahu Hyejin pergi kemana??” tanyanya dengan raut penuh kecemasan saat ketiga pria yang beberapa jam lalu didapatinya dalam kondisi tidur itu kini sudah duduk melingkar di atas sofa ruang tengah dalam kondisi segar setelah mandi.

“Anniyo, terakhir kali kami bertemu dengannya adalah saat sepulang sekolah hari sabtu kemarin. Jadi kami bertemu jauh sebelum terakhir kau melihatnya, noona,” jawab Minhwan seadanya. Seingatnya mereka memang bertemu saat hari sabtu kemarin sepulang sekolah ketika Hyejin memberitahu Hongki bahwa dirinya akan menginap di rumah keluarga mereka.

“Apa tak ada teman yang lain? Yang mungkin saja tahu tentang keberadaan Hyejin?” tanya Jiyoung dengan nada bergetar. Butiran bening kini perlahan membasahi wajahnya, mulai membentuk sebuah sungai kecil yang mulai mengalir deras.

“Ahra, hyung! Coba hubungi Ahra!” seru Jaejin yang langsung dibalas tatapan tajam Hongki.

“Kau yang hubungi dia.”

“Mwoya! Kan kau pacarnya!!” tolak Jaejin mentah-mentah yang lagi-lagi dibalas tatapan maha tajam Hongki.

“Kami tidak berpacaran!” bantahnya membuat kedua temannya mencibir. Sementara Jiyoung tampak memandangnya dengan tatapan putus asa.

Melihat raut tak mengenakkan dari kakak tirinya, Hongki berdehem. Meraih ponselnya, mulai menghubungi satu persatu teman Hyejin yang dikenalnya.

~mrs.ChoiLee~

@Cold Stone Creamy

Di salah satu meja, tepat disamping jendela besar dibalik sebuah tembok marmer yang membelakangi pintu masuk, sepasang remaja tampak tengah menikmati hidangan ice cream pesanan mereka sambil sesekali berbincang yang pada akhirnya membuat salah satu atau keduanya tersenyum.

Hyunjae, sosok gadis berpakaian santai tampak sangat menikmati chocolate devotion  ukuran love it pesanannya, sementara dihadapannya seorang namja berambut blonde  tampak tenang, sesekali mengaduk-aduk lotta caramel latte  dengan sedotan sebelum akhirnya meminumnya.

Pria berambut blonde itu adalah Jonghoon. Entah kapan dan kenapa pria itu mengecat rambutnya yang semula hitam menjadi blonde seperti ini. Tapi yang jelas Hyunjae tampak senang-senang saja saat pertama kali melihatnya, karena menurutnya gaya rambut pria itu yang sekarang sangat cocok untuknya. Lihat saja nanti begitu libur mereka berakhir, ia yakin sekali gadis-gadis Julliet yang semula tak terlalu memperhatikannya pasti akan segera mengalihkan perhatian mereka dari si trio pangeran Romeo –Siwon, Donghae, Eunhyuk- kepada pria dihadapannya ini.

Hari ini keduanya sebenarnya tidak sengaja janjian, tapi saat jam makan siang tadi sosok Jonghoon yang berubah blonde tiba-tiba saja muncul dibalik pintu rumah bibinya. Mengatakan bahwa ia sudah keluar dari asrama, pindah kerumahnya yang kebetulan berada tepat di depan rumah dimana gadis itu tinggal saat ini.

Mulanya pria itu tampak canggung saat mengatakannya. Ia takut kalau gadis itu kemudian akan menolaknya saat menyadari bahwa ia adalah adik Siwon, dan sudah menyiapkan berbagai alibi untuk menjelaskannya. Tapi dugaannya ternyata salah. Gadis itu ternyata sudah tahu sejak lama, setelah peristiwa Jonghoon yang menolongnya saat ia tengah terpuruk karena baru saja putus dengan Siwon.

 Jia, dokter klinik sekaligus penanggung jawab asrama puteri, yang membeberkan semuanya. Jia bahkan memberitahukan bahwa sebenarnya dirinya adalah sepupu Victoria dan telah mengetahui bahwa sepupunya dan Siwon saling menyukai sejak lama. Bahkan sebelum ia dan Siwon resmi berkencan.  Inilah rupanya yang sempat ingin dijelaskan Jia saat sebelum peristiwa ledakan yang terjadi di gedung Romeo malam itu.

 Dan nyatanya Hyunjae sama sekali tak menjauhinya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah suneung? Kudengar dari rumour, kau bahkan sudah memegang surat penerimaan sebagai mahasiswa Harvard? Benarkah?” tanya gadis itu dengan mata berbinar.

“Yang jelas aku tetap harus mengikuti suneung  agar dapat lulus dari bangku SMA,” Jonghoon tersenyum. “Kau sendiri? Memang apa rencanamu setelah lulus dari SMA nanti?”

Hyunjae tersenyum lebar. Kedua mata besarnya tampak menerawang, sementara tangan kanannya sibuk menyendok ice cream kedalam mulutnya.

“Yang pasti aku akan melanjutkan kuliah di Korea,dan yang jelas aku harus diterima sebagai mahasiswa jurusan arsitektur.. atau setidaknya interior design,” jawabnya antusias, “Agar aku dapat menciptakan rumah yang kurancang sendiri sebagai rumah masa depanku kelak~”

“Lalu, jika kau tak bisa melanjutkan kuliah kedalam jurusan tersebut, apa yang akan kau lakukan?” goda Jonghoon dengan tatapan penuh selidik.

“Tentu saja, aku harus menikah dengan seorang arsitek kalau begitu~ Hahaha,” tawa gadis itu riang. Membuat Jonghoon merasa gemas dibuatnya.

Kedua orang itu masih saling berbincang disaat tahu-tahu benda hitam panjang yang diletakkan Jonghoon disamping gelasnya bergetar, mengeluarkan irama penggalan music dari band favoritnya, MUSE. Sebuah panggilan masuk.

“Dari Hongki,” ucapnya saat melihat raut tanya diwajah Hyunjae yang langsung mengangguk, mempersilakannya mengangkat telepon.

 “Jjong-ah! Apa kau sedang bersama Hyunjae?” sahut Hongki di seberang telepon langsung, tanpa membiarkan Jonghoon menyapanya terlebih dulu.

Kedua alis tebal namja itu pun kontan terangkat. Tak biasanya Hongki menanyakan soal Hyunjae kepada dirinya?

“Ne, memangnya kenapa?”

“Coba tolong berikan ponselmu padanya!” ujar seorang gadis tiba-tiba dari seberang sana, sukses membuat Jonghoon semakin terheran-heran. Tapi tetap saja diberikannya ponsel hitam touchscreen miliknya pada Hyunjae yang tengah asik melahap ice creamnya.

“Ne? Yobse-”

“Hyunjae-ssi.. Ini Seo Jiyoung, Hyejin eonni. Apa kau tahu saat ini Hyejin ada dimana?? Ia sudah hampir dua hari ini menghilang!”

“MWO????” kedua bola mata gadis itu melebar. Memandang Jonghoon yang tengah menatapnya dengan ekspresi penasaran.

“Apa kau tahu dimana dia sekarang? Ponselnya tak bisa dihubungi. Semua teman-temannya sudah kuhubungi. Dan kau adalah satu-satunya harapanku yang terakhir. Apa kau tahu siapa lagi kiranya teman Hyejin selain kalian??”

~mrs.ChoiLee~

Disebuah gudang tua, di pinggiran kota yang sangat jauh dari keramaian ibu kota. Seorang gadis tampak duduk pada sebuah bangku kayu dalam kondisi kaki dan tangan terikat. Mulutnya terbebat lakban hitam. Sementara kedua matanya terpejam. Masih tak sadarkan diri sejak peristiwa pembiusan kemarin malam.

Luka kaca di sebagian tubuh gadis itu sama sekali tak dibalut, hanya sekedar dicabut serpihan kacanya dan disiram begitu saja bagian yang terluka dengan air dingin. Meninggalkan berbagai luka menganga yang pastinya akan sangat membekas, membuat cacat penampilan mulus gadis itu.

Bangku itu berada tepat di tengah-tengah sebuah ruangan gelap dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi. Hanya terdapat sebuah lampu neon berwarna temaram yang menerangi ruangan itu, menyorot tepat diatas kepala sang gadis.

Beberapa orang bertubuh besar, berpakaian serba hitam tampak berjaga dibeberapa sudut, baik di dalam maupun diluar gedung. Sementara seorang pria tampak duduk diatas sofa super empuk miliknya dari dalam sebuah ruangan lain, menikmati batang cerutu yang baru dinyalakannya sambil menatap layar monitor yang menggambarkan situasi dalam ruangan dimana gadis yang semalam mereka culik disekap.

“Bagaimana? Apa mereka sudah tiba?” tanya Yang Hyunsuk, pria dibalik meja berbahan kayu berukiran yang tak lain adalah sang ketua mafia, disela-sela kegiatan menghisap cerutunya. Ketika didapatinya pria bertubuh atletis yang merupakan tangan kanannya masuk kedalam ruangan.

Pria bernama Kim Jongkook itu pun membungkuk kearahnya. “Ah In dan Jiyong baru saja tiba.” Jelasnya dengan nada sopan. Pria setengah baya yang kini kembali menghisap cerutunya itu tampak tersenyum sungging.

“Dan, bos. Ada satu hal lagi yang perlu anda ketahui.”

Yang Hyunsuk hanya melirik kearahnya. Mempersilakan orang kepercayaannya itu untuk melanjutkan ucapannya.

“Gadis berna Seo Hyejin ini adalah anak dari Lee Jungsung. Pemilik Lee Coorporated, sekaligus pemilik saham terbesar Venus enterpraise yang memproduksi mesin pesawat terbang di Jerman.”

 “Sekali dayung, dua tiga pulau benar-benar kita lampaui,” Mendengarnya membuat pria setengah baya itu tampak tersenyum puas dengan ucapan anak buahnya barusan. “Tak kusangka menangkap gadis itu adalah sebuah pilihan yang sangat tepat!”

“Kalau begitu, coba kalian hubungi Seunghyun, jebak dia agar kemari sendirian dan biarkan Ah In serta Jiyong yang menghabisinya. Sementara itu, kau coba hubungi keluarga Lee. Minta mereka agar memberikan tebusan setidaknya sebesar 1 milyar won.”

~TBC~

ohhh yyyayyyy!! Finally akhirnya diputusin buat d publish juga~ haha

sebenernya ini part udah jadi dari beberapa hari yang lalu, tapi saya sendiri ragu buat di post apa engga soalnya ngerasa kurang puas sama ceritanya sendiri dan ini udah ngalamin beberapa kali perubahan. tadinya part ini baru akan di plublish nanti kalau part terakhir udah jadi, tapi nyatanya masih jauh dari kata jadi,, haha alhasil dari pada mesti nganggur sebulan lagi seperti sebelumnya jadi mending d post aja kkk

semoga pada puas ya sama ceritanya.. dan lagi mungkin 1-3 part lagi HSP ini bakal saya tamatin. so tetep dukung ff ini ya 

ah ya,, saya juga mau ngucapin makasih buat yang kemarin waktu saya sibuk ujian udah ngedoain saya biar nialai bagus~ karena hasilnya lebihhh dari yang saya harapkan XD *hug reader satu”*

kamshahaeyo~~~~ *bow*

Iklan

12 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 13

  1. dari awal emang aku udh ngira kalo yg nyelametin hyejin itu si AYANG TOP, setelah hyejin ngira seunghyun FT island aku sempet gg terima.. cz sebenernya yg dia kira adalah seunghyun ft island, padahal kan ayang TOP.. 😀 yahh.. bang ji jd org jahat.. *pukulauthor.. hehe.. ._.v
    #Thor, ceritanya daebak, mian baru comment, cz baru baja part 1 aku sudah gg sabar ngelanjutin kisahnya, sehingga gg mau comment.. mianhe.. 😦

  2. aigoo qw kra yg dulu nylametin hyejin itu seunghyun ft island, ternyat TOP? TOP si knp namanya hampir sama kkkkkkk >.<
    Wah Top sih musuhnya banyak jadi hyejin deh yg kena, uh siwon jgn plin plan dong! hae hayoo suka ma hyunjae ya kkkkkkkkk
    lnjut chingu ………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s