HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 14

 hsp1-e

“HOaaammmmphh..” Ahra merenggangkan seluruh otot tubuhnya sambil menguap lebar disela-sela perjalanannya kembali menuju rumah sehabis berbelanja bahan kebutuhan kakaknya yang sedang berkunjung kerumah keluarga mereka.

Dengan wajah setengah mengantuk, gadis itu tetap saja berjalan kaki menelusuri trotoar yang terletak beberapa blok dari jalan utama menuju gang rumahnya, dengan dua buah kantong plastic ukuran besar masing-masing dalam genggaman tangannya.

“Dasar punya eonni tapi kerjaannya membully dongsaeng lemah sepertiku!” dengusnya kesal mengingat ocehan sang kakak tertua yang beberapa jam lalu dengan seenaknya menendang bokongnya saat ia tengah terlelap dalam kamar. Memberikan perintah ini itu padanya dan dengan seenak jidat langsung menyuruhnya pergi ke supermarket dalam keadaan dirinya yang bahkan belum mandi.

Langkah kakinya yang sejak awal memang terlihat ogah-ogahan melangkah kini malah sudah terlihat seperti diseret-seret saking kesalnya.

“Jika bukan karena kau mengidam, tak akan ku turuti permintaanmu! Aishhh!!” ia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Mukanya tertekuk lama sebeum akhirnya kedua pipinya menggembung sempurna. Memperlihatkan seberapa kesal dirinya.

Bayangkan saja, kemarin ia memang diatar Hongki pulang kerumah sekitar pukul 3 sore setelah dirinya berhasil meyakinkan pria itu bahwa keadaannya sudah baik-baik saja, tapi setelah itu sehari-semalaman ia malah tak bisa istirahat sama sekali lantaran anak pertama sang kakak tertua yang baru berusia 5 bulan terus-terusan menangis di dalam kamar dirinya. Memaksa mengajak bermain. Sementara kedua orang tua anak itu malah lepas tangan. Pura-pura tak mendengar.

Ia baru bisa benar-benar tidur pukul lelap pukul 8 pagi keesokan harinya disaat yang lain baru selesai sarapan, tapi itupun dipaksa bangun lagi dengan cara anarkis oleh sang kakak  tepat ketika jarum jam dinding kamarnya menunjukkan kearah pukul 11 siang untuk berbelanja kebutuhan dan makanan yang sedang diidamnya. Tanpa membiarkannya mandi sama sekali!

Bukankah sangat mengesalkan!??

Ahra menghentikan langkahnya. Menendang kuat-kuat kearah udara kosong.

Saking kuatnya, tubuhnya bahkan sedikit terhuyung kesamping. Tepat di depan kaca jendela super besar sebuah kafe ice cream ternama di kawasan itu.

“Aishh!” rutuknya pada diri sendiri. Menyadari tingkah bodohnya yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari sepasang kekasih yang tengah memakan ice cream mereka tepat dari balik jendela.

Gadis itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. Memasang cengiran super kaku, menutupi rasa malu yang mulai sampai di dalam otaknya.

Ekspresi bodohnya barusan kontan berubah total saat kedua bola matanya secara langsung menangkap sesosok yang belakangan dikenalnya tengah bercengkrama sambil menyuapi mesra seorang yeoja seksi yang duduk disampingnya.

“Song.. Seung.. Hyun!!!” mata gadis itu memicing tajam kearah satu titik. Menggaruk sadis kaca jendela yang ada di hadapannya dengan kelima kuku-kuku jari tangan kanannya yang semula memegang erat kantong belanjaan yang kini sudah tergeletak lemah tak berdaya di samping kakinya. Bibirnya sudah siap melontarkan sumpah serapah, sebelum akhirnya seorang wanita berpakaian seragam pegawai muncul tepat di hadapannya dari balik kaca jendela. Menatapnya dengan tatapan galak.

Ahra yang sudah keburu tersulut emosinya sama sekali tak mengindahkannya. Ia malah langsung berderap masuk kedalam café bernuansa chic itu dengan langkah tegas. Menyingsingkan kedua lengan pakaiannya. Melupakan seluruh kantong belanjaan yang kini isinya sebagian sudah berserakan keluar akibat terlepas tiba-tiba dari genggamannya. Sama sekali tak ia sadari.

“YA! SONG SEUNGHYUN!!!”

~mrs.ChoiLee~

“Wae?” tanya Jonghoon penasaran melihat perubahan ekspresi Hyunjae yang berubah tegang.

Hyunjae. Gadis itu menatapnya dengan pandangan yang sama sekali sulit namja itu artikan. Yang jelas tangan kanannya yang memegangi ponsel miliknya terlihat gemetar.

“Arraseo..” ucap gadis itu sebelum akhirnya hubungan telepon terputus.

“Wae gurae?” tanya namja itu sekali lagi.

“Hyejin menghilang.”

“MWO?”

“Hyejin sudah dua hari ini menghilang. Baru saja Jiyoung eonni, kakak Hyejin, yang mengatakannya padaku.”

Jonghoon membelalakkan matanya lebar. Sedang Hyunjae buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Mengobrak-abrik seluruh nama dalam phonebook ponsel yang sudah layak ganti itu. Mencoba mencari sosok yang sekiranya bisa memberitahunya mengenai keberadaan Hyejin.

“Ah! Ahra!” pekiknya saat melihat nama salah satu sahabatnya yang belakangan menjadi tempat pelampiasan Hyejin disaat kesal itu. Namun belum sempat ia menekan tombol call sebuah suara pekikkan seorang gadis membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka.

“YA! SONG SEUNGHYUN!!!” seorang gadis berhoodie merah tua menggebrak keras sebuah meja kayu yang berada beberapa meja dibelakang bangku mereka.

Namja yang saat itu tengah asik memanjakan gadis yang tengah menyandar dalam dadanya itupun kontak tersentak kaget, demikian pula dengan gadis berambut panjang kemerahan tersebut. Keduanya menoleh, menatap kesal sosok gadis yang seenak jidat mengganggu kemesraan mereka.

“MWOYA!” sungutnya itu bangkit dari duduknya, menatap tajam Ahra yang lebih pendek dari dirinya dengan mimik kesal.

“Hya! Kau itu dasar pria hidung belang! Bukankah kau berpacaran dengan Hyejin? Kenapa sekarang malah berkencan dengan gadis sok kecantikan macam dia!!??”

Jonghoon yang kebetulan duduk menghadap langsung kearah dimana keributan itu terjadi, memecingkan matanya mencoba memperjelas wajah wanita yang tengah mengamuk tersebut. Wajah gadis itu rasanya terlihat familiar.

“AHRA!!!” teriak Hyunjae yang entah sejak kapan tahu-tahu sudah berlari kearah gadis yang kini tampak menunjuk-nunjuk kearah seorang gadis yang kini berkacak pinggang kearahnya. Jonghoon yang menyadari hal itu buru-buru saja menghampiri mereka.

“Ya!? Seunghyun? Krys.. tal?” Hyunjae mengernyitkan dahi begitu sosok Krystal, si hoobae popular di Julliet yang selama ini terlihat tak pernah manaruh rasa suka padanya itu berdiri dari tempatnya. Mengait mesra lengan namja yang ia ketahui adalah gebetan sahabatnya sendiri. Hyejin.

“Loh? Kalian??” Kaget Ahra mendapati pasangan lain tahu-tahu sudah berada di sampingnya. Memasang tampang kaget.

“Kau melihat Hyejin?” tanya Jonghoon begitu sosok namja yang tadi diteriaki Ahra barusan benar-benar sosok Seunghyun yang dikenalnya.

 “Untuk apa kalian menanyakan soal gadis menyebalkan itu padaku? Kami tak ada hubungan apa-apa,” Seunghyun berdecak. Krystal memutar bola matanya sebal.

“KAU-” rasanya Ahra ingin sekali menendang wajh pria itu jika saja Hyunjae tidak memegangi lengan kirinya. Memberikan gelengan kepala padanya. Meminta dirinya agar tetap tenang.

“Ada apa sebenarnya?” kali ini Jonghoon memegang kendali, takut-takut Ahra kembali emosi jika ia tak segera turun tangan.

Sekali lagi terdengar suara decakan disertai desisan sinis. Bukan Seunghyun pelakunya, tapi Krystal. Gadis kelas 1 SMA itu menarik tubuh Seunghyun, mendorongnya pelan kesamping agar membiarkan dirinya mendekat kearah 3 orang yang masih setia menunggu jawaban mereka itu.

“Untuk apa kalian meneror Seunghyun Oppa lagi? Hyejin si bodoh itu bukan kekasihnya, tapi aku,” tunjuknya pada diri sendiri dengan nada angkuh. “Hyejin itu hanya yeoja kecentilan yang berusaha mendekati Seunghyun Oppa selama ini dan mencoba memikat dirinya. Tapi saying sekali, jelas jika dibandingkan dengan diriku.. ia kalah telak! Bukan begitu Oppa?” liriknya pada Seunghyun, yang tentu saja dibalas anggukan darinya. Sebelah sudut bibir gadis itu melengkung tinggi. Tersenyum mengejek pada Ahra dan Hyunjae yang melayangkan tatapan tak suka padanya.

 “Kau sungguh mengecewakanku, Chungxuan-ah,” Jonghoon memandang rekan satu band nya itu tajam, menuntut pembalasan. Namun sayangnya namja itu terlalu pengecut untuk sekedar membalas tatapannya saja.

Namja itu lantas berbalik, melangkah meninggalkan teman satu bandnya itu. Diikuti Ahra dan Hyunjae di paling belakang.

“Tunggu,” ujar pria itu saat beberapa langkah lagi Hyunjae berhasil meraih pintu keluar. Gadis itu berbalik, sementara Jonghoon dan Ahra sudah berada di luar.

Seunghyun melangkah mendekat sambil merogoh sesuatu di dalam saku celana bahan berwarna pastel yang dikenakannya.

Gadis itu menatap Seunghyun dengan kening berkerut.  Saat tahu-tahu pria itu menyerahkan sebuah benda berlipat berbahan kain dengan aksen garis-garis kepadanya.

“Katakan padanya. Ini bukan milikku. Jadi ku kembalikan,” ujarnya sebelum melenggang kembali kemejanya. Menjemput sosok gadisnya yang sejak tadi masih sibuk melayangkan tatapan sinis padanya. Membawanya pergi dari hadapan dirinya melalui pintu lainnya.

~mrs.ChoiLee~

“Eomma!!! EOMMAAAA!!!!” teriak seorang anak kecil berusia 5 tahun sambil menangis keras memanggil-manggil ibunya. Anak kecil itu tampak ketakutan, duduk di atas bak pasir sebuah taman bermain yang sore itu sudah mulai sepi, memegangi lututnya yang terluka akibat terjatuh dari atas ayunan.

“EOMMA!!!” Tangisnya lebih keras. Namun sosok sang ibu tak kunjung datang membuat bocah itu semakin sesenggukkan.

“Anak laki-laki tak boleh menangis,” ucap seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang tiba-tiba saja berdiri dihadapan anak itu. Anak kecil itu menoleh, menghadap anak perempuan berseragam sekolah itu dengan napas tersengal, masih menangis.

Menyadari anak itu tak kunjung berhenti dari tangisnya, gadis kecil itu merogoh saku rok seragamnya, mengeluarkan sebuah benda tipis dari dalam sana dan menempelkannya di atas luka si bocah laki-laki setelah merobek pembungkusnya.

Tangis anak itu mendadak berhenti. Dipandanginya plester bergambar ultraman yang kini membalut luka di lututnya lama kemudian tersenyum.

/////——//////

“Noona! Aku berjanji akan masuk Romeo! Agar bisa terus bersamamu!!” pekik seorang namja berambut cepak berseragam SMP pada seorang gadis berseragam SMA yang kini tersenyum lebar kepadanya.

“Ne, gureom! Kau cerdas Choi Seunghyun! Aku yakin kau pasti bisa masuk ke Romeo!” gadis itu mengacak-acak rambut namja yang sedikit lebih pendek dibawahnya itu dengan gemas. Tak menyadari bahwa namja yang dua tahun lebih muda darinya itu kini tengah berusaha menahan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

/////—–/////

“NOONA!!!! LIHAT!! Aku sudah resmi menjadi siswa Romeo sekarang!!” pekik Seunghyun yang menggunakan seluruh atribut seragam yang baru di dapatnya dari sekolah barunya setelah resmi terdaftar menjadi salah satu murid angkatan baru Romeo, sekolah Pria unggulan di Korea Selatan. Pada gadis yang sudah 11 tahun ini dikenalnya. Sekaligus disukainya sejak masih kecil.

Gadis berwajah bulat yang semula tengah asik bermain komputer dalam kamarnya itu pun kontan berlari keluar begitu suara berat Seunghyun terdengar dari arah ruang tengah rumahnya. Berlari memeluknya, memberikan ucapan selamat.

“WAH! Uri Seunghyun-ie sudah besar sekarang!” godanya, memutar-mutar tubuh Seunghyun yang entah sejak kapan mulai melebihi tinggi badannya dengan tatapan kagum. “Sudah kuduga kau pasti diterima di Romeo!”

“Gureom~ Meski tak diterimapun aku pasti akan melakukan segala cara agar bisa sekolah disana.”

“Mwoya??” gadis itu berdecak, menatap Seunghyun dengan tatapan sinis yang dibuat-buat.

“Tentu saja! Aku kan harus selalu bersekolah di sekolah yang sama denganmu, noona! Hanya, sayang saja kau malah masuk sekolah khusus puteri, jadi kan mau tak mau jika aku ingin selalu berada di dekatmu aku harus masuk sekolah yang setidaknya berada tepat did epan gedung sekolahmu, betul kan??”

Gadis itu terkekeh. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai SMP ia dan namja di depannya ini memang selalu bersekolah di sekolah yang sama. Masih jelas diingatannya saat dulu baru masuk SMP bocah ini bahkan sempat kabur dari rumah lantaran menolak saat ayahnya akan memasukan dirinya ke sekolah khusus laki-laki di Daegu lantaran ingin selalu bersekolah disatu sekolah yang sama dengannya. Dan kini, anak itu malah meminta masuk ke sekolah unggulan yang seluruh muridnya berjenis kelamin pria tanpa diminta.

“Aku minta hadiahku!” namja itu menyodorkan kedua telapak tangannya kehadapan wajah si gadis yang menatapnya bingung.

“Ayo.. mana hadiahku??” ulangnya. Gadis itu tersenyum.

“Coba, mana keluarkan sapu tanganmu.”

“Hah?”

“Bukankah setahuku di Romeo, setiap angkatan baru akan diberikan sebuah sapu tangan yang sama dengan semua murid Romeo lainnya?” Seunghyun tampak berpikir sebentar.

“Ah, iya. Ini..” diserahkannya sebuah benda segiempat bercorak garis-garis warna putih-coklat yang sebelumnya ia gulung-gulung dalam saku blazer seragamnya saat bagian administrasi memberikannya setelah melengkapi seluruh data diri untuk keperluan sekolahnya. “memangnya buat apa?”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum. Tanpa menjawabnya, ia melangkah menuju ruang keluarga di lantai dua dengan Seunghyun mengekor dibelakangnya. Namja itu terus saja menatap lekat si gadis berambut panjang bergelombang itu yang kii tampak asyik dengan mesin jahitnya.

“Tadaaaa~” serunya, memamerkan hasil karyanya pada bagian bawah sudut sapu tangan milik namja yang sudah dianggapnya sebagai adik itu dengan wajah riang.

“S.H ??” ucapnya membaca sebuah inisial huruf berwarna kuning keemasan yang ada dibagian bawah sapu tangan miliknya.

“Ne~ S.H untuk Seung-Hyun sebagai pemiliknya agar sapu tanganmu tak tertukar dengan siswa lain, sekaligus S.H untuk So-Hee. Gadis cantik yang sudah capek-capek membordirnya menjadi inisial huruf yang indah~”

/////—–/////

“SEUNG-… Hyun.. Mianhae..”

////—-/////

DEG.. DEGG.. DEG..

TOP seketika membelalakkan kedua matanya, terjaga dari tidur dengan napas tersengal. Jantungnya berdegub tak karuan. Keringat dingin membanjiri wajah hingga tubuhnya. Membuat kaus hitam yang dikenakannya basah karena keringat. Padahal pendingin dalam kamarnya terus menyala dalam suhu dibawah normal.

Mimpi itu.. mimpi yang berupa potongan-potongan kenangan dirinya bersama Sohee, gadis yang sejak kecil telah merebut hatinya. Dan kalimat terakhir dalam potongan mimpinya barusan berhasil menyentakkan dirinya dari tidur lelapnya. Potongan kalimat yang selama bertahun-tahun ini mengiriskan sebuah luka mendalam dalam hatinya.

TOP, si pria sangar itu tampak termenung. Duduk menyandar ditepian tempat tidurnya seraya memandangi lekat-lekat benda berbahan perak yang membentuk huruf S dan H masing-masing dalam satu gantungan kunci motor, dalam genggaman tangannya.

S.H

Inisial ini.. inisial huruf yang menjadi bandul dalam gantungan kunci motor miliknya yang sudah sebulan lebih berada di tangan Kwon Jiyong, adalah benda paling berharga dalam hidupnya. Ia bahkan jauh lebih rela kehilangan motornya dari pada ia harus kehilangan benda ini.

Bandul yang kini ada di dalam genggamannya ini adalah milik Sohee. Cinta pertamanya. Benda ini lah satu-satunya benda yang terakhir kali diberikan Sohee kepadanya sebelum kebahagian benar-benar terenggut dari sisi mereka.

Melihatnya, membuat rasa perih yang pernah hilang itu mendadak muncul kembali. Sebuah perasaan yang bahkan membuatnya berubah sedemikian banyak. Perasaan yang mungkin hanya dirinya yang bisa merasakan.

Namun. Meskipun sakit. Kenangan yang terus mengikuti perasaan sakit itu akan selalu ia kenang selamanya. Sebuah kenangan yang benar-benar tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Pria sangar itu sudah nyaris meneteskan air matanya saat tiba-tiba saja sebuah dering telepon rumah yang terhubung ke kamarnya terasa memekakan telinganya.

Tanpa berkata apapun pria itu terus mendengarkan rentetan kalimat yang dilontarkan lawan bicaranya di seberang dengan rahang mengeras. Pikiran pria itu langsung saja tertuju ke satu nama.

Tanpa aba-aba langsung saja dilompatinya jendela tak berteralis yang ada di kamarnya. Melaju pergi dengan motor yang di parkirnya di garasi rumah dengan kecepatan tinggi.

~mrs.ChoiLee~

Suasana kediaman keluarga Lee sore itu mendadak gempar setelah salah seorang tak dikenal mencoba menghubungi keluarga mereka lewat telepon rumah yang kebetulan diangkat oleh Pak Kim, kepala pelayan yang sudah lama mengabdi di keluarga itu, lantaran tak ada satu orang pun anggota keluarga inti berada di rumah itu, mengabarkan bahwa sang nona muda ada dalam tangan mereka.

Jiyoung sempat beberapa kali pingsan begitu tiba di rumah setelah dihubungi melalui ponsel oleh sang kepala pelayan. Sementara Hyunjae dan Ahra beserta Jonghoon yang ikut datang kesana setelah diberitahu Hongki hanya bisa berusaha menenangkannya yang kini tampak histeris di ruang tengah.

“Kalian harus memberitahu orang tua kalian!” saran Ahra ditengah situasi mencekam yang melanda seluruh penjuru rumah kediaman keluarga Lee.

“Tidak! Jangan sampai eomma tahu! Aku takut penyakit jantungnya kumat dan malah membuat keadaan semakin rumit!” larang Jiyoung. Ia tahu betul bahwa eommanya itu pasti akan langsung anfal jika diberitahu hal ini.

“Lalu? Bagimana caranya kita mendapatkan 1 milyar won dalam waktu secepat ini?? Jujur saja di tabunganku hanya ada 500.000 won. Sama sekali tak membantu!” Hongki mengacak-acak rambutnya frustasi. Tak habis pikir akan jalan pikiran kakak tirinya itu. Bukankah mereka semua ingin Hyejin selamat? Dan satu-satunya orang yang bisa memberikan uang sebanyak itu saat ini juga hanya ayahnya.

“Iya, aku tahu! TAHU!! Tapi nyawa eomma juga ikut dipertaruhkan dalam hal ini!” teriaknya histeris. Ahra yang duduk tepat disampingnya langsung memeluk Jiyoung, mencoba menenangkannya.

Hyunjae hanya bisa menunduk. Begitu pula Jaejin dan Minhwan.

“Menurutku, lebih baik kita segera melaporkannya kepada polis-”

“Dan membuat nyawa Hyejin terancam begitu maksudmu??! TIDAK!” potong Jiyoung segera.

“Tapi noona! Kita tak punya jalan lain selain memberi tahukannya pada orang tuamu atau melaporkannya pada polisi!”

Keadaan mendadak menjadi hening. Tak ada satupun diantara ketujuh orang itu yang mengeluarkan pendapatnya. Yang ada hanya suara tangis Jiyoung yang kini tampak tak dapat terbendung lagi.

“Ini sama saja artinya dengan aku harus memilih antara membunuh eomma atau Hyejin! Aku tak mau memilih keduanya!!” raungnya.

Keenam orang itu saling melemparkan tatapan mereka satu sama lain. Bingung dengan keadaan yang seperti ini.

Hyunjae mengggit bibir. Sibuk memikirkan sesuatu.

“Eonni.. kurasa memang sebaiknya kita lapor polisi- Anni, tidak dengarkan dulu penjelasanku,” jelas Hyunjae cepat-cepat saat Jiyoung melangkan tatapan tajam padanya. Kini semua perhatian tertuju padanya. Gadis itu berdehem kecil.

“Menurutku, sebaiknya kita memang mau tak mau harus melaporkannya kepada pihak kepolisian, karena bagaimanapun juga ini sudah masuk kedalam tindak kejahatan, dan jika kita menuruti permintaan mereka itu sama saja dengan kita mendukung tindakan mereka.”

“Aku setuju!” dukung Jonghoon yang langsung dibalas anggukkan kecil tanda setuju dari yang lainnya. Hanya Jiyoung saja yang tampak kurang setuju akan ide ini.

“Dengar, biar bagaimanapun kita harus lebih cerdas dari mereka. Seorang penculik pastinya akan meminta korbannya agar menuruti semua perkataan mereka bukan? Dan jelas mereka sangat mengharapkan itu, karena tak aka nada penjahat yang ingin kejahatannya diketahui oleh pihak yang berwajib. Untuk itu, jika kita ingin Hyejin selamat, justru yang harus kita lakukan adalah hal yang sebaliknya,” tambah Hongki.

Jiyoung diam. Kepalanya tertunduk, mencoba mencerna apa yang dikatakan adik serta teman-temannya barusan.

Benar kata mereka. Kalaupun ia bisa memerikan tebusan pada sang penculik, bukankah keselamatan adiknya juga belum tentu terjamin?

“AH!” pekik Jaejin, membuat semua perhatian beralih padanya yang tiba-tiba saja bangkit dari posisi duduknya.

“Bukankah ayah TOP hyung adalah seorang kepala Polisi?? Kenapa kita tak meminta bantuannya saja?? Kurasa ini adalah jalan satu-satunya bagi kita!”

~mrs.ChoiLee~

Di salah satu ruangan dalam gudang tua..

“Nomor bocah itu tak aktif!”

BRAKKK

Ditendangnya sebuah tong kaleng tak berisi yang ada di hadapannya dengan geram. Jiyong kesal, seharian ini pria itu mencoba menghubungi nomor yang ia ambil dari ponsel gadis yang tengah di tawan di gudang belakang dengan nama my prince Seunghyun yang dicurigainya sebagai nomor ponsel musuh bebuyutannya, Choi Seunghyun,itu sama sekali tak bisa dihubungi.

“Hey. Lihat saja, jika gadis itu memang benar-benar kekasihnya. Pasti si bocah tengik itu juga akan datang menyerahkan dirinya kemari entah dengan cara apapun dia mengetahuinya,” Yoon Ah In, pria berambut mohawk itu tampak tenang saja menghisap ganja yang baru dibakarnya. Menghirupnya asapnya dalam-dalam, membiarkan rongga paru-parunya dipenuhi oleh hangatnya asap ganja.

Jiyong mendesis. Benar yang dikatakan Ah In, jika Choi Seunghyun memang benar-benar sepintar itu. Ia pasti mengerti akan kalimat yang ia bisikkan padanya semalam.

‘Gadismu ada dalam genggamanku’

Disaat yang bersamaan. Hyejin, gadis yang sehari semalam tak sadarkan diri itu perlahan membuka kedua matanya. Gadis itu tampak berjengit tak kala sebuah sorot lampu yang begitu terang terasa menusuk kedalam matanya. Rasa sakit dan perih kontan menyeruak pada dirinya begitu kesadarannya perlahan mulai memulih.

“Eung!” pekiknya tertahan lakban yang menutup bibirnya rapat. Merasakan rasa perih pada lukanya yang mendadak datang. Ditambah saat ia menyadari dirinya dalam kondisi terikat. Sama sekali tak dapat bergerak.

Ckitt..

Pintu seng yang menutup ruangan itu perlahan membuka. Tampak dua orang berpenampilan urakan masuk kedalam sana, menghampirinya yang ketakutan dengan sebuah seringaian.

“Ow.. Ow.. Ow.. nona muda kita sudah sadar rupanya,” Jiyong menarik dagu Hyejin paksa agar menatapnya.

“Eung!! Eung!!” teriak gadis itu lagi, mencoba meminta bantuan. Namun sial, hanya suara itu yang dapat lolos dari dirinya.

Pria berambut hijau mohawk yang terlihat memandanginya dengan setengah sadar itu tertawa melihatnya yang kesulitan. Menghampirinya dengan langkah sempoyongan akibat rasa memabukkan yang masih terasa akibat efek samping dari pil ekstasi dan sebotol arak yang baru saja diminumnya.

“Hey.. Hey.. Dari pada tersiksa, lebih baik.. kau- melayaniku saja,” pria itu menepuk-nepuk wajah Hyejin dengan kedua tangannya. Menatapnya dengan tatapan lapar. Membuat gadis itu berusaha sekuat mungkin menendang selangkangannya dengan kedua kakinya yang terikat.

“YA!!!” Pekik Ah In murka saat tendangan Hyejin tepat mengenai bagian bawah dirinya. Pria itu menjambak rambut coklat Hyejin kuat-kuat sebelum akhirnya menamparnya keras. Membuat ujung bibirnya robek, mengeluarkan darah akibat kerasnya tamparan yang dilayangkan.

“KAU ITU HARUS DIBERI PELAJARAN YANG LEBIH!!!” tamparnya sekali lagi.  Ditariknya blazer yang dikenakan Hyejin kuat-kuat, mencoba merobeknya. Hyejin hanya bisa menangis, melayangkan tatapan memohon. Sedang Jiyong tampak menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.

BRAKK!!

Terdengar suara gebrakan yang sangat keras dari arah luar. Membuat Ah In menghentikan perbuatannya, menatap Jiyong yang kini memerintahkan seluruh pria berpakaian serba hitam yang sejak awal berjaga disana agar keluar, mencari tahu apa yang terjadi.

DORRR!

Kali ini suara letusan peluru yang sangat keras lolos masuk kedalam telinga mereka. Membuat keduanya saling bertatapan.

“Kau! Jaga gadis ini!” perintah Ah In yang mendadak kesadarannya kembali meski tak seratus persen, pada Jiyong sebelum dirinya ikut keluar berasama yang lain.

~mrs.ChoiLee~

Seo Jiyoung tampak resah. Keringat dingin tampak keluar dari pelipisnya. Mulutnya sibuk berkomat-kamit mengucapkan rentetan doa, sedang kedua tangannya digenggam erat Ahra dan Hyunjae yang duduk di sisi kiri dan kanannya masing-masing.

Keduanya kini berada di dalam sedan putih milik Jonghoon yang dikendarai Hongki. Minhwan duduk disebelahnya. Sementara Jaejin dan Jonghoon sendiri ikut dalam mobil polisi yang kini bergerak cepat di depan mereka.

Tadi sore, setelah cukup berat mempertimbangkan saran dari Hongki dan yang lainnya, Jiyoung akhirnya memutuskan untuk lebih memilih melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian dibandingkan ia harus memberitahu ibu dan ayah tirinya.

Dan pada akhirnya, sesuai usul Jaejin mereka semua langsung menghubungi Kepala Polisi Choi, ayah TOP yang nomornya kebetulan masih disimpan Minhwan dalam ponselnya setelah beberapa waktu ponsel dirinya pernah digunakan sang ayah yang merupakan sahabat karib beliau saat di militer dulu. Beruntung, saat itu Choi Minsoo yang merasa mengenal sosok Hyejin sebagai teman anaknnya langsung setuju untuk membantu mereka.

Saat ini mereka semua memang tengah berada di perjalanan menuju tempat yang diyakini sebagai gudang penyekapan Hyejin setelah beberapa jam lalu mereka mendapati sinyal lokasi keberadaan gadis itu melalui gps lewat  alat pelacak yang dimiliki pihak kepolisian. Setelah sebelumnya sinyal ponsel tersebut selalu tak bisa ditemukan keberadaannya karena di duga dalam keadaan mati.

Begitu memasuki daerah jalanan tak beraspal yang tak terlalu luas, menuju kedalam kawasan hutan utara. Sirine sengaja dimatikan atas usul Jonghoon yang ikut dalam rombongan mobil polisi paling depan yang juga membawa serta Choi Minsoo, ayah TOP. Guna mengurangi kemungkinan bahwa para pelaku kejahatan itu akan kabur saat mendengar suara sirene polisi yang mendekat.

“Semuanya harap tenang,” komando Choi Minsoo pada seluruh anak buahnya melalui walkie talkie begitu mobil yang membawa mereka berhenti tak jauh dari sebuah gedung tua tak terurus yang dijaga ketat oleh beberapa orang berpakaian hitam. Pria itu keluar dari mobil, memberi tanda agar sebagian dari mereka bersiap-siap untuk operasi.

“Tunggu sampai mereka lengah,” perintahnya yang dibalas anggukan dari anak buahnya di kelima mobil polisi yang lain. Sedangkan tim SWAT yang juga turut dipanggil tampak sudah berpencar, bersiap di posisi mereka masing-masing.

“Coba, kau,” tunjuknya pada anak buah yang bersiap disisi lain yang membawanya, “Hubungi markas terdekat! Suruh mereka bawa seluruh pasukan yang ada agar kemari!” perintahnya.

“Siap laksanakan!” jawabnya tegas, segera melaksanakan perintah sang komandan. Menghubungi seluruh markas terdekat yang ada.

“..karna sepertinya kita benar-benar mendapatkan tangkapan besar malam ini,” lanjut Choi Minsoo. Tersenyum penuh arti.

BRUMMMM…

Sebuah suara mesin motor terdengar jelas dari arah lain. Bergerak mendekat menuju gedung.

Choi Minsoo membelalakkan matanya saat mendapati motor yang dikenalinya sebagai motor anak semata wayangnya itu meluncur dengan kecepatan penuh  kearah sekumpulan orang berpakaian hitam tersebut dan menabrakkan dirinya sendiri pada pintu kayu besar yang terlihat dikunci rapat dengan gembok tua hingga pintunya terbuka lebar.

BRAKK

Dapat dilihat jelas dengan mata kepalanya sendiri motor yang dikendarai anaknya itu oleng setelah menabrak, hingga akhirnya terjatuh. Namun sebuah senyuman langsung terpasang diwajahnya saat melihat sosok Choi Seunghyun yang dikenalnya langsung bangkit, menghajar kumpulan pria berpakaian hitam tersebut dengan helm yang baru dilepasnya tanpa ampun. Namun anak itu tak sendirian, ia bersama seorang bocah lainnya yang juga tampak sigap membantunya.

“SEKARANG!” perintahnya.

Sekitar 10 dari 12 anak buahnya yang berada disana kontan berlari, mengikuti dirinya mengepung seluruh gedung. Sedang dua lainnya tetap berjaga di tempat.

Puluhan timah panaspun diluncurkan tanpa ampun tatkala sekumpulan pria berpakaian serba hitam itu berusaha melawan dan melarikan diri.

“BOS! seluruh gedung sudah dikepung!” lapor Kim Jongkook dengan guratan cemas diwajahnya, pada sang ketua mafia saat salah seorang anak buah mereka memberitahukan keadaan yang terjadi diluar gudang saat ini. Wajah Yang Hyunsuk tampak mengeras. Hal ini sungguh diluar perkiraannya. Bagaimana mungkin rencana yang telah ia susun matang-matang guna menghabisi seorang Choi Seunghyun tiba-tiba saja rusak total?

Dikepung oleh sejumlah polisi jelas bukan hal yang diinginkannya, dan ini sama sekali diluar dugaannya.

Namun tiba-tiba saja tubuhnya tampak membeku saat sebuah nama melintas dalam pikirannya.

“Cepat siapkan mobil. Kita kembali ke Macau malam ini juga!” titahnya. Beranjak keluar, setelah tersadar, diikuti Jongkook yang langsung melindunginya menuju belakang gedung, tempat dimana mobil yang telah mereka siapkan sebelumnya berada.

“Tuan..” ucap tangan kanannya, saat langkah sang ketua tiba-tiba saja terhenti, memandangi sesosok namja yang tengah bertarung menghabisi anak buahnya yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.

Pria setengah baya itu berdehem, kemudan kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.

BRUGG!

Satu orang lagi pria berpakaian serba hitam berhasil TOP buat terkapar tak berdaya saat keduanya. Ia dan Yoseob, berhasil menyusup masuk kedalam sebuah ruangan di dalam gudang tua yang tadi mereka masuki dengan paksa.

“Hyung! Kau cepat cari Hyejin noona!” seru Yoseob, saat ekor matanya tak sengaja mendapati sesosok yang amat dikenalnya baru saja berlalu bersama dengan anak buahnya.

TOP menatap wajah bocah itu yang penuh lebam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk, berlari meninggalkannya mencari sosok Hyejin yang disembunyikan entah dimana, setelah yakin bahwa Yoseob akan baik-baik saja terlebih pihak polisi tampaknya juga sudah mulai menyerbu masuk ke dalam gedung.

Pria itu terus saja berlari, menyusuri seluruh lorong. Membuka satu persatu ruangan yang ada dengan tampang gusar. Sementara tanpa diketahuinya, sosok Yoseob juga tampak berlari kearah lain.

“CHOI SEUNGHYUN.. rupanya kau tiba juga! Hebat.. Hebat!” tiba-tiba saja langkah TOP terhenti saat tahu-tahu sosok Yoon Ah In, orang yang sangat dibencinya seumur hidup, muncul dihadapannya sambil bertepuk tangan.

“Lagi-lagi, kau!” desis TOP dengan tatapan penuh kebencian.

“Hahaha.. bukankah sepertinya takdir sangat senang mempermainkanmu? Menyukai seorang gadis yang keduanya sama-sama menuntunmu untuk berhadapan denganku.” Pria itu menyeringai puas, memperhatikan wajah TOP yang seolah tak sudi berhadapan dengannya lama-lama. “Hahaha.. Apakah kau mau kubuat koma selama berbulan-bulan lagi seperti yang terjadi dua tahun lalu, Choi Seunghyun-ssi?”

Kedua tangan TOP terkepal kuat.

Mendengar ucapannya membuat memori menyakitkan yang coba ia lupakan selama ini perlahan terkuak begitu saja.

“Kau tahu? Gadis yang kali ini bahkan jauh lebih cantik dan.. erghh.. sexy! Jauh melebihi tubuh Sohee yang pernah ku nikmati dua tahun lalu,” ucapnya sambil mengerang membayangkan sesuatu yang membuat Seunghyun jijik sekaligus pedih mendengarnya.

Sohee, gadis yang dicintainya selama ini. Dua tahun lalu meninggal karena percobaan bunuh diri dengan cara menyayat sendiri urat nadinya dengan bantuan serpihan cermin di kamarnya yang ia pecahkan dengan vas bunga. Gadis itu meninggal akibat depresi. Dan depresi itu timbul setelah seseorang memperkosanya secara biadab di sebuah gang sempit di dekat tempat latihan baletnya saat ia terlambat menjemput gadis itu.

“..andai saja kau tak membuat keributan tadi. Aku pasti juga sudah mencicipi-”

BRUGHH!

TOP menghajar wajah pria itu keras. Membuatnya jatuh tersungkur dan memukuli pria yang dulu telah merenggut kesucian gadis baik hati bernama Ahn Sohee dua tahun lalu itu tanpa ampun.

“Kau mau membunuhku, hah? Kau mau merasakan bagaimana rasanya masuk bui lantaran membuat orang lain koma seperti yang kualami dua tahun lalu?” Ah In yang wajahnya sudah penuh dengan darah itu berdecak, memandang TOP yang kini menahan tinjunya diudara.

“Tapi sayangnya, sebelum kau berhasil membuaku koma. Gadis itu pasti sudah dibawa pergi menjauh dari sini!” pria itu menyeringai. Ia yakin TOP pastinya tak akan mau repot-repot mengotori tangannya sendiri hanya untuk membunuhnya sementara ia tahu gadis itu akan dibawa pergi entah kemana.

Namun sayang sekali, apa yang dipikirkan Ah In sama sekali bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam otak Seunghyun.

 “Siapa yang akan tahu?” ucapnya, sebelum akhirnya menginjak perut pria yang masih setia dalam posisi setengah tersungkur, menyandar pada dinding usang disebelahnya itu dengan keras, sebelum akhirnya memukuli wajahnya tampa ampun.

Dendamnya pada Ah In terhadap kematian So Hee serta luka yang dialaminya selama bertahun-tahun ini rupanya jauh lebih menguasai pikirannya dibandingkan akal sehatnya.

Bayangan wajah Sohee yang begitu merana..

Sohee yang hanya berbalutkan sisa potongan pakaian yang sudah tak berbentuk..

Sohee yang menangis pilu di tengah hujan dalam keadaan menyakitkan..

Sohee yang meminta maaf padanya..

Senyuman Sohee yang terpancar bahkan disaat peti mati yang menyelimutinya telah terbenam di dalam liang lahat..

Seketika itu semua bergelayut bergantian memenuhi pandangannya. Seolah bagai potongan film semuanya berputar begitu saja tanpa ia kehendaki.

“SEUNGHYUN! HENTIKAN!” Pekik Choi Minsoo. Segera berlari menarik tubuh anaknya yang sebentar lagi mungkin saja membuat pria yang menjadi lawannya terbunuh jika ia tak segera memisahkan mereka.

“YA! HEI! KAU MANUSIA PALING BIADAB YANG PERNAH KU TEMUI!” Teriak Seunghyun begitu tubuhnya dijauhkan oleh sang ayah dan seorang anggota kepolisian lain.

“SADAR!!!” Choi Minsoo menampar wajah anak semata wayangnya itu keras, ketika Seunghyun yang masih terbakar amarah mencoba untuk menghajar Ah In yang kini tampak diamankan oleh polisi lainnya.

“Hey! Dengarkan aku!” tegasnya. Memegangi rahang tegas Seunghyun agar memandang luruh kearahnya.

“Kau kemari untuk menolong Hyejin! Bukan untuk membunuh orang, Choi Seunghyun! Aku tak pernah mengajarimu menjadi seorang pembunuh!”

Seolah tersadar. Tubuh TOP yang semula mengeras, kuat, mencoba untuk menentang halangan dari sang ayah mendadak mengendur.

Benar kata sang ayah. Dia kemari untuk menolong Hyejin.

Seo Hyejin. Teman sebangkunya. Tutornya. Gadis yang secara ia sadar ataupun tidak terpaksa harus terlibat terlalu jauh dalam dunia yang selama ini sengaja dijauhkan dari dirinya.

—-

“Huh.. Huh.. Huh..” Jiyong tampak menghela napasnya yang mulai tersengal akibat kelelahan sembari terus menggotong Hyejin, mencari jalan keluar hutan tanpa ada penerangan sama sekali. Langkahnya sesekali terhenti akibat Hyejin yang terus menerus meronta dalam gendongannya.

“Ya! Jika kau tak ingin mati ditanganku, maka diam!” pekiknya. Yang tanpa ia sadari terdengar oleh Jaejin yang kebetulan tengah buang air di dalam hutan.

“YA!! Itu Hyejin noona!!” pekiknya membuat semua orang yang semula hanya menunggu di dalam mobil kontan berlari mendekat kearahnya.

“MANA!??” tanya Ahra. Sama sekali tak menangkap sosok yang Jaejin maksud.

“ITU!! Masuk kearah hutan! Dia digotong oleh seorang pria berpistol!”

Mendengar hal itu langsung saja sisa pasukan polisi yang berjaga langsung berlari menyusuri hutan, mencari keberadaan sosok yang tadi ditangkap Jaejin.

TOP yang kebetulan sudah keluar dari dalam gedung karena sama sekali tak mendapati sosok Hyejin di dalam gudang pun langsung mengikuti mereka. Dan benar saja, meski dengan penerangan yang seadaanya pria itu dapat dengan jelas mengenali sosok Hyejin yang digotong paksa oleh Jiyong.

“ANGKAT TANGAN!” seru salah seorang polisi, mengarahkan pistol miliknya kearah Jiyong yang terus berjalan tak mempedulikannya.

DORR!!

Satu tembakan pun terpaksa dilepaskan, mengenai kaki kirinya, membuat langkah namja itu terseok sebelum akhirnya terjatuh setelah menurunkan tubuh Hyejin yang terasa sangat memberatkan langkahnya.

Kontan saja TOP yang posisinya paling dekat dengannya langsung melepaskan ikatan gadis itu. Membiarkan kedua polisi yang mengikutinya meringkus musuh bebuyutannya.

“Gwenchana??” tanya TOP cemas, begitu semua tali dan plester yang mengikat tubuh gadis itu berhasil ia lepaskan. Hyejin mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia bersyukur bahwa akhirnya ia bisa lepas dari jeratan para penculik itu.

BUGG!

Mata Hyejin melebar saat dilihatnya Jiyong berhasil memukuli kedua polisi yang tadi sempat meringkusnya. Menodongkan sebuah pistol kearah punggung TOP yang kini membelakanginya.

“AWAS!!!” / DOOR!!

“HYEJINNN!!!!”

“ABEOJI!” panggil Yeosob dengan nada lirih saat langkah kakinya berhasil menyusul kedua sosok pria berpakaian formal yang amat di kenalnya. Membuat salah satu diantara keduanya menghentikan langkah. Mematung ditempat.

Kim Jongkook yang menyadari hal itu langsung menganggukkan kepalanya sekilas pada sang atasan yang kini terpaku ditempatnya itu. Berlari menuju volvo hitam yang sengaja di parkirnya di belakang gedung.

 “Abeoji..” lirihnya sekali lagi. Yang Hyunsuk menarik napasnya berat sebelum akhirnya memutar tubuhnya, menghadap sosok bocah 16 tahun yang selama ini terdaftar dalam akta kelurga sebagai anaknya dengan tatapan datar yang dibuat-buat.

“Apa kau akan terus seperti ini? Apa kau akan terus hidup seperti ini!!??” pekiknya, tanpa sadar mengeluarkan air mata yang selama ini telah ditahannya.

Yoseob memandang sosok pria paruh baya itu dengan tatapan nanar. Pria paruh baya yang merupakan ketua salah satu gembong mafia terbesar di Korea di hadapannya ini adalah ayahnya. Ayah kandungnya.

Pria paruh baya yang wajahnya bahkan masih belum terlihat tua itu hanya tersenyum. Memandang wajah satu-satunya keturunan dirinya itu dari jarak yang sama sekali tak ingin diperkecil olehnya.

Sejak mengetahui soal penyerbuan polisi ke tempat ini, ia sudah tahu. Yoseob, anaknya lah yang pastinya memberitahukan hal ini. Terlebih saat ia keluar dari ruangan tadi ia mendapati sosok anak semata wayangnya ini tengah bertarung habis-habisan menghajar beberapa anak buahnya yang tengah berjaga di ruang tengah.

Ia tahu tadi siang saat ia yang tengah pulang ke rumah mereka untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal di ruang kerja, Yoseob memergokinya tengah membicarakan tentang penyekapan kekasih Seunghyun.

Hanya saja ia tak tahu, kalau kenyataannya Seunghyun yang selama ini disebut-sebut salah seorang mata-matanya sebagai teman Yoseob, adalah Seunghyun yang sama dengan Seunghyun yang menjadi musuh bebuyutan kedua keponakan kesayangannya, Jiyong dan Ah In. Sekaligus musuhnya sesuai dengan amanat almarhum sang kakak, ayah Ah In, yang memintanya untuk menghabisi Seunghyun dan gadisnya disaat pria itu memiliki kekasih.

 “Abeoji..”

Kedua ayah dan anak itu hanya saling melemparkan pandangan mereka satu sama lain tanpa bermaksud untuk mendekat.

“Kumohon.. hentikanlah sebelum semuanya terlambat..”

Yang Hyunsuk bergeming.

“Abeoji.. jebal..” nada suara Yoseo terdengar bergetar. Namun sekali lagi Yang Hyunsuk sama sekali bergeming. Pria itu malah tersenyum sebelum akhirnya berbalik, menuju mobil yang sudah disiapkan tangan kanannya.

“SEMUANYA ANGKAT TANGAN! KALIAN SUDAH TERKEPUNG! ”

DORR!!

“ABEOJI!!!!”

TBC

Iklan

8 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s