HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 15 (FINAL EPS)

hsp1-e

Seoul, Oktober 2020

Seoul sore itu tampak teduh. Semilir angin sore yang membawa serta guguran dedaunan kering yang berjatuhan dari pohonnya akibat tertiup angin, terasa begitu menyejukkan. Semakin mempertegas musim yang sedang berjalan. Musim gugur.

Di sebuah bukit hijau, di pinggiran kota Seoul. Seorang pria tinggi bertubuh tegap tampak melangkahkan kakinya yang berbalut sepatu kulit mengkilap melewati jalan-jalan setapak dengan setangkai mawar putih tergenggam erat dalam genggaman tangan kanannya.

Langkah pria itu terhenti. Tepat di depan sebuah batu nisan besar berlapiskan marmer yang mencantumkan dua buah nama terukir dalam tinta emas di bawah sebuah foto dua orang pria yang tengah tersenyum bahagia.

Pria itu terdiam. Lama ia hanya mengamati nisan yang hanya ada satu-satunya di salah satu blok pemakaman mewah itu, sebelum akhirnya berlutut, memberikan penghormatannya kepada jasad yang tertanam di dalamnya.

“Chinguya, oraemanieyo..”

Sambil mengelus salah satu bagian nisan besar itu singkat, dan meletakkan tangkai bunga yang sengaja dibelinya saat diperjalanan menuju pemakaman ini. Pria itu tersenyum teduh. Memandangi salah satu sosok yang tengah tersenyum polos dalam foto.

Yang Yoseob, sosok pria muda berseragam Romeo yang tengah berfoto sambil tersenyum bersama ayahnya, Yang Hyunsuk, dengan background gedung SMA Romeo itu tampak bahagia.

Melihatnya membuat rasa sesak yang ada di dalam hati pria itu perlahan mulai menyeruak. Membuat kesan sangar yang selama ini selalu melekat pada dirinya itu runtuh begitu saja ketika setetes butiran nakal itu keluar, terjatuh dari sudut matanya. Membasahi wajah serta rahang tajamnya.

Choi Seunghyun. Ya, pria itu adalah Choi Seunghyun, atau yang saat remaja dulu dikenal sebagai TOP, si pria bengal itu kini tengah berlutut, menangis tersedu menutupi wajahnya. Mengingat kejadian sebelas tahun lalu.

*Flashback*

“SEMUANYA ANGKAT TANGAN! KALIAN SUDAH TERKEPUNG! ” pekik sebuah suara dari arah belakang gudang yang kemudian diikuti sebuah suara tembakkan.

TOP yang saat itu tampak shock melihat Hyejin yang tampak melemas dalam pelukannya, memegangi bagian lengan kanannya yang terkena tumpahan timah panas yang ditembakkan Jiyong, segera mengangkat tubuh gadis itu kedalam gendongannya. Membawanya lari menuju rombongan mobil polisi yang terparkir agak jauh dari tempatnya saat ini.

“ABEOJI!!!!” lengkingan suara itu membuat langkah TOP yang baru saja membaringkan tubuh Hyejin di bangku belakang mobil milik Jonghoon itu, langsung berlari kembali menuju kearah suara. Tak pedulikan teriakan Ahra yang memanggil-manggil namanya untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap Hyejin.

DORRR!

Suara tembakan itu kembali terdengar untuk kesekian kalinya hari itu. Dan tepat disaat itu juga, tubuh pria itu merosot, terduduk lemas diatas tanah yang sama sekali tak rata itu tat kala dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri seorang pria setengah baya terkapar dengan simbahan darah yang mengalir deras dari bagian kepalanya. Memeluk erat tubuh sesosok pria muda yang sudah tak bernyawa dalam pangkuannya.

“Yoseob-ah..”

*Flashback end*

Kepala pria itu mendongak. Tangisnya kini sudah kering, bergantikan sembab pada kedua mata tajamnya yang kini sudah memerah.

Dipandanginya sekali lagi foto serta nama yang terukir pada nisan dihadapannya itu dengan raut yang bahkan tak lebih baik dari sebelumnya.

Yang Hyunsuk. Yang Yoseob.

Sepasang ayah dan anak yang dengan tragisnya meninggal disaat bersamaan.

Masil dengan jelas teringat dalam memorinya, Yoseob, pria mungil, tengil, dan jahil yang selalu membuntutinya kemana saja itu meninggal karena tertembak timah panas salah seorang anggota tim S.W.A.T yang ikut serta dalam penyergapan, yang menjadikan ayahnya sebagai target penembakkan. Ia tertembak tepat di bagian dada kirinya. Tepat mengenai jantung. Membuatnya kehabisan darah dan meregang nyawa sebelum akhirnya sempat dilarikan kerumah sakit.

Sementara, Yang Hyunsuk, ayah Yoseob yang juga menjadi dalang dalam segala masalah yang terjadi hari itu. 11 tahun yang lalu. Menembakkan dirinya sendiri tepat dibagian kepala sebelah kanannya dengan revolver yang selalu ada di dalam saku setelan jas nya. Tepat setelah Yoseob, anak semata wayangnya dengan terbata-bata, dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya mengatakan bahwa selama ini meski sang ayah adalah seorang bos mafia, ia tetap mencintainya setulus hati. Dan ia meninggal saat ambulance yang membawa keduanya baru saja tiba di rumah sakit terdekat.

Drtt.. Drtt..

Ponsel dalam saku celana TOP bergetar. Sebuah panggilan masuk.

Pria itu berdehem sebentar, mengatur kembali suaranya yang kemungkinan serak akibat terisak sebelum akhirnya menyentuh ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.

“Yeobo.. Apa kau sudah selesai? Jika sudah segera jemput kami ya?”

Seketika sebuah siluet senyuman tersungging diwajah kerasnya tatkala suara yeoja yang baru dinikahinya dua tahun lalu terdengar jelas, menyeruak masuk kedalam telinga tajamnya.

“Ne, arraseo.”

“Gureom.. saranghae yeobo~”

Pria itu kini benar-benar tak mampu lagi menghalau senyuman lebarnya. Di depan nisan yang memajang foto namja yang diam-diam telah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri, pria itu tersenyum lebar, mengangguk pada sosok pria di dalam foto yang sejak tadi seolah mengamatinya. Tersenyum padanya.

“Ne. Saranghae. Jeongmal saranghae, Seo Hyejin.”

~mrs.ChoiLee~

Great Love Bridal

“Aishhh!! Bocah ini benar-benar!!” maki seorang wanita cantik dalam balutan gaun pengantin yang tengah dikenakannya pada layar ponsel hitam miliknya saat untuk entah yang keberapa kalinya sosok yang ia nantikan kehadirannya sejak pagi hingga sore seperti ini tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

“Hey, hey, seorang calon mempelai wanita tak baik mengomel terus-menerus seperti itu. Yang ada nanti wajah cantik yang seharusnya kau tampakkan besok di depan altar malah berganti dengan keriput!”

Wanita cantik dalam balutan gaun indah rancangan salah satu designer ternama Korea itu berbalik. Menoleh kearah suara.

“YAAAAAA!!! SEO HYEJIINNNN!!!!!!!!!!!!” teriak wanita itu, berlari kegirangan kearah pintu dimana seorang wanita berambut panjang bergelombang dengan tas tangan tertenteng dalam genggaman tangan kirinya tampak tersenyum jahil dari balik pintu yang tak sepenuhnya ia buka. Hanya menampakkan sebagian tubuhnya.

“Hey, hati-hati! Gaunmu!” teriak wanita itu, cemas, saat melihat wanita yang semasa sekolah dulu terkenal tomboy itu menghampirinya dengan langkah terburu-buru. Sama sekali tak memperhatikan keselamatan gaun yang beberapa jam lagi akan menjadi saksi bisu dirinya melangkah menuju gerbang kehidupan yang baru.

Namun tampaknya wanita yang dalam dirinya telah tertanam nyawa yang lain itu seolah sama sekali tak mau tahu, dan langsung saja mendekap erat tubuh sahabat yang sudah setahun tak pernah ditemuinya setelah wanita itu mendapatkan tawaran pekerjaan diluar negeri. Seolah sama sekali tak ingin melepaskannya.

“YA!! SEO HYEJINN!!!! Sejak kapan kau tiba di Korea?” pekiknya tanpa sama sekali menghilangkan guratan riang diwajahnya begitu pelukkannya pada sahabat lamanya itu terlepas.

Hyejin, sosok wanita anggun yang ada di hadapan Ahra itu tampak tersenyum. Kemudian menarik sebelah tangan temannya itu agar duduk disalah satu sofa panjang yang ada di dalam ruang ganti pengantin yang ada di salam salah satu bridal ternama di kawasan Apgujeong. Ia terlalu risih saat melihat temannya yang perutnya sudah mulai terlihat membuncit itu terlalu lama berdiri dengan high heels apalagi melompat-lompat seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia terlalu takut jika temannya itu malah keguguran sebelum berhasil dipersunting oleh pria yang telah menanamkan benih dalam dirinya.

“Hya! Jawab pertanyaanku barusan. Sejak kapan kau berada di Korea?” ulangnya, dengan nada tak sabar. Membuat Hyejin terkekeh.

“Sekitar dua hari yang lalu, maaf aku baru bisa menemuimu hari ini. Eommonim sungguh sangat merindukanku, sampai-sampai hari ini pun aku sulit sekali untuk keluar rumah,” kekehnya teringat bagaimana ibu mertuanya yang sejak dulu memang teramat sayang kepadanya itu melarang iya kemana-mana dan harus tetap bersama dengannya begitu dirinya kembali dari skotlandia.

Hyejin yang lulusan komunikasi dari salah satu universitas ternama di Jepang, sekembalinya dari negeri sakura itu ia langsung mendapatkan pekerjaan sebagai seorang reporter sekaligus penyiar berita MBC, dan setahun lalu ia terpilih sebagai salah satu reporter Korea yang ditunjuk untuk menjadi crew ABC news yang ditempatkan di Skotlandia dan beberapa negara eropa lainnya.

“Yatuhan.. ibu mertuamu. Sungguh membuatku iri!” sahutnya, kontan membuat Hyejin yang baru saja meneguk orange juice yang baru saja diberikan padanya oleh salah seorang pegawai bridal itu nyaris tersedak.

“Hey, pelan-pelan..” Ahra sontak menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu panik.

“Gwenchana.. gwencahana..” Hyejin mengangkat sebelah tangannya, memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja. Ahra masih menatapnya cemas.

“Kwon Ahra-ssi, sudah waktu mengganti dengan gaun yang lain,” salah seorang pegawai mendorong sebuah troli pakaian masuk kedalam ruangan, diikuti salah seorang pegawai lainnya yang kini mempersilakan dirinya agar ikut masuk ke dalam bilik kecil yang hanya tertutupi oleh sebuah tirai tebal yang ada di pojok ruangan.

“Chamkanman,” Hyejin mengangguk. Memperhatikan temannya itu sebentar hingga akhirnya sosok Ahra menghilang dibalik tirai bersama beberapa orang yang akan membantunya berpakaian.

Selama menunggu ia tampak tertarik membuka-buka halaman-halaman majalah bridal yang memajang segala jenis model pakaian pengantin dari seluruh dunia yang terakhir kali ia buka saat sebelum pernikahannya dulu, saat ia dan mertua serta ibunya sibuk mencari-cari model gaun pengantin yang cocok dalam acara pernikahannya.

Ia memang sudah resmi menikah dengan seorang namja bernama Choi Seunghyun, teman masa sekolahnya dulu yang selama ini terkenal sebagai TOP, si namja bengal, tepat dua tahun yang lalu. Disaat kariernya sebagai seorang penyiar tengah melejit, dan pria itu resmi menjabat posisi sebagai kepala bagian departemen no.1 kejahatan cyber, kepolisian nasional Korea Selatan.

Sejak peristiwa penculikan yang dialami Hyejin sebelas tahun yang lalu, namja itu telah bertransformasi menjadi pria yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Ia dengan sabar dan telaten merawat Hyejin yang sempat menderita trauma sejak kejadian itu, hingga akhirnya ia benar-benar sembuh total dan akhirnya menjalin kisah manis yang tanpa diduga benar-benar bertahan sampai saat ini.

Sepertinya pria itu benar-benar merasa bertanggung jawab penuh terhadap apa yang terjadi pada Hyejin. Begitupun Hyejin, gadis yang sudah mengetahui TOP adalah ‘pangeran berkuda besi’-nya dulu sejak Seunghyun mengembalikan sapu tangan yang dulu dikiranya berinisalkan nama Song Seunghyun, melalui Hyunjae, dan juga setelah mengetaui segala kisah dibalik inisial nama tersebut dari ibu Seunghyun yang juga sering menjenguknya dirumah sakit setelah kejadian itu. Gadis itu semakin bertekat bahwa ia juga akan mengobati segala perasaan sakit yang di derita pria itu. Mengubahnya menjadi pria yang lebih baik.

“Hey, kemana Hyunjae? Bukankah kudengar ia juga sudah kembali ke Seoul?” tanyanya saat tiba-tiba saja teringat sesosok sahabatnya yang lain yang sejak pernikahannya dulu sampai saat ini belum ia temui keberadaannya selain lewat jejaring sosial dan telepon.

 “Nugu? Hyunjae??” teriaknya dari dalam.

“Iya. Dimana dia?”

“Aw.. pelan-pelan!” terdengar teriakan suara Ahra dari balik tirai. Hyejin meliriknya sebentar lalu tersenyum kecil. Ahra pasti sedang kesulitan dengan gaun pengantinnya yang lain di dalam sana, pikirnya.

“Oh.. gadis itu sedang ada urusan!”

“Hah?” Hyejin mendelik. “Urusan apa?” Hyejin bingung. Tak biasa-biasanya temannya yang satu itu lebih mementingkan urusan lain daripada menemuinya disini saat ini. Padal biasanya gadis itu akan menjadi orang yang paling antusias tiap kali mendengar kabar dirinya akan kembali ke Korea. Bahkan saat ia baru saja menginjakkan kaki di Jepang sepuluh tahun lalu sebagai seorang mahasiswa asing sekalipun.

“Entahlah.. mungkin saja perjodohan!? Kudengar orang tuanya sudah sangat mendesaknya untuk segera menikah tahun ini sebelum Hyejoon melangkahinya.”

“MWOO????”

~mrs.ChoiLee~

@Cold Stone Creamy

Di dalam sebuah kedai ice cream, di kawasan Gangnam, seorang wanita bergaun santai dengan corak bunga-bunga berwarna hijau di balik blazer putih tulang yang dikenakannya, tampak memijit-mijit dahinya yang terasa pening dengan sebelah tangan.

Dihadapannya, diatas meja, sebuah laptop hitam terbuka memajang halaman berisikan laporan yang harus ia periksa, perbaiki, dan ia kirimkan kembali kepada atasannya malam ini juga.

Gelas capucino yang ia letakkan disisi kanan laptop hitamnya isinya bahkan sudah tandas untuk yang ketiga kalinya.

Notes, ponsel, ballpoint, sebuah berkas dan ipad miliknya sudah bergeletakkan begitu saja diatas meja. Berantakkan.

Ia sudah terlalu pusing bahkan untuk sekedar memasukkan barang-barang itu sembarangan kedalam tas sekalipun. Pikirannya saat ini benar-benar sudah bercabang kemana-mana.

Dimulai dengan permintaan sang eomma yang menuntutnya untuk kali ini saja datang keacara yang telah disusunnya bersama bibinya yang sudah pasti dapat ia baca adalah merupakan acara perjodohan untuknya, tadi pagi. Atasannya yang tiba-tiba saja mengabarkan kalau ia harus menyelesaikan analisanya hari ini juga, padahal ia sudah berjanji pada Ahra untuk bertemu dengannya di bridal. Dan terakhir, ia bahkan belum punya gaun yang tepat untuk ia gunakan dalam pesta pernikahan sahabatnya itu besok. Ia benar-benar terlalu sibuk hingga tak punya waktu bahkan untuk sekedar menghirup udara segar.

Ia yang semula berangkat pagi-pagi berangkat dari kediaman keluarganya di Incheon untuk menyambangi Ahra dirumahnya dan menemani wanita itu seharian, akhirnya membatalkan niatnya dan terpaksa mengikuti perintah sang ibu yang menyuruhnya untuk bertemu dengan seseorang yang semula di atur di sebuah restaurant jepang di kawasan Hannam-dong, dengan alasan mengembalikan berkas teman sekolahnya dulu yang tertinggal saat beliau datang kerumah mereka kemarin.

Namun entah kenapa siang tadi tiba-tiba saja ibunya mengabarkan bahwa tempat pertemuan diubah.

Akhirnya, disini, ditempat ini. Cold Stone Creamy, kedai es krim yang sempat sesekali ia tandangi dulu saat masih remaja dan bersekolah d Julliet, ia duduk menunggu orang yang dibicarakan ibunya itu sejak pukul 11 siang hingga 3 sore seperti saat ini sambil mengerjakan tugas yang belum rampung ia kerjakan.

“Apa ada yang ingin anda tambah?” tanya seorang pelayan dengan seragam kerjanya pada Hyunjae yang wajahnya sudah tak sesegar saat ia baru saja menginjakkan kaki di tempat itu siang tadi itu. Hyunjae menoleh, membuat si pelayan tersenyum kearahnya.

“Anni, nanti jika aku membutuhkannya aku akan memanggilmu lagi,” balasnya ramah. Diikuti anggukan sang pelayan yang kemudian kembali pergi meninggalkanya dengan setumpuk berkas yang menghantuinya.

Hyunjae kembali memijat pelipisnya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Diliriknya kearah arloji yang melingkar di lengan kirinya. Pukul 5.40.

“Pantas saja!” ringisnya, menggerak-gerakan kepalanya. Memberikan pereganggan. Mencoba menghilangkan rasa pegal pada pundak dan lehernya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk di depan layar laptop.

Drttt.. Drtt..

I-phone putih dalam case merah muda yang digeletakkan begitu saja disamping laptopnya itu berdering. Bergetar hebat. membuat layar laptop yang masih menyala, menampakkan halaman terakhir dari pekerjaan yang sejak siang tadi membuat kepalanya nyaris botak itu terganggu akibat gangguan radiasi selular.

“Yobseyo?” angkatnya cepat, tanpa melihat nama yang terpampang pada layar telepon.

“Hey, sudah selesai perjodohannya nona Kim? Hahaha,” ucap sebuah suara diseberang sana dengan nada meledek. Membuat mood Hyunjae yang sudah berantakkan itu semakin berantakkan.

“Ya! Lee Donghae jelek! Dari pada meledek lebih baik kau bantu aku mengerjakan analisis ini! Malah enak-enakan berbulan madu dan melimpahkan semua tugasmu padaku! Aishhh!” tanpa sadar gadis itu melepas tongkat sumpit yang menggelung rambutnya, menusuk-nusuk meja di hadapannya dengan sumpit itu penuh emosi. Membiarkan rambut panjang ikalnya tergerai sempurna. Temannya satu itu memang senang sekali membuat dirinya naik pitam.

“Haha.. siapa suruh kau sendiri yang masih single? Makanya menikah biar tak selalu jadi bahan pelampiasan Pengacara Han saat ada tumpukan pekerjaan deadline sepeti ini! Hahaha.”

Hyunjae tampak mengatur napasnya. Mencoba menahan emosi saat ekor matanya menangkap salah seorang pegawai tampak siap-siap menegurnya jika sekali lagi ia mengetuk-ngetukkan meja yang jelas-jelas milik kedai itu.

“Hey, dari pada kau sama sekali tak membatu dan malah membuat moodku berantakan seperti ini, lebih baik kututup!”

BIPP..

Gadis itu menghela napasnya berat. Lagi-lagi Lee Donghae membuatnya emosi setengah mati.

Donghae yang baru saja menghubunginya barusan adalah Donghae yang sama dengan Donghae yang dulu selalu menjahilinya sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Sejak lulus dari Romeo, Donghae memang melanjutkan studi hukumnya ke China sebelum akhirnya kembali ke Korea dan bekerja secara kebetulan sebagai partner Hyunjae di dalam sebuah kantor firma Hukum milik salah saeorang rekan bibi Hyunjae, Han Jungwoo. Seorang pria setengah baya, salah seorang pengacara terkenal Korea.

Memang benar apa yang dikatakan Donghae barusan. Pengacara Han memang sangan sentimen pada orang-orang khususnya pegawainya yang belum menikah padahal usia mereka sudah cukup matang untuk menikah, seperti dirinya saat ini yang bahkan pasanganpun tak punya. Maka dari itu, mungkin ini adalah satu alasan mengapa atasannya yang juga mentor dirinya dalam menyelesaikan tesis s2 demi meraih gelar pasca sarjana di jurusan Hukum beberapa waktu lalu saat ia masih menjadi mahasiswi program pasca sarjana Universitas Hanyang itu selalu saja memberikannya tumpukan tugas berlebihan secara mendadak.

“Aishh.. kemana orang itu? Sudah jam segini tak kunjung terlihat batang hidungnya!” gadis itu menoleh, melemparkan pandangannya keseluruh sudut kedai yang mulai ramai dengan sekumpulan pasangan muda. Diliriknya layar laptop yang baterainya hanya tinggal beberapa persen lagi itu sebentar sebelum akhirnya mengirimkan isi berkas yang baru diselesaikannya itu melalui email dan melipat laptopnya kembali setelah mesin laptopnya itu benar-benar ia matikan.

Lima menit.. sepuluh menit.. setengah jam..

Akhirnya gadis itu benar-benar telah berada di ujung batas kesabarannya. Dengan wajah kusut ia merapihkan semua barang-barangnya yang berserakkan diatas meja, memasukkan semuanya kedalam tas kesayangan miliknya yang menurut Donghae seperti kantung Doraemon karena seolah-olah barang apapun bisa gadis itu masukkan kedalamnya.

Setelah yakin tak ada satupun barangnya yang tertinggal, gadis itu pun bangkit dari tempatnya. Memutar badannya berniat meninggalkan kedai es krim favouritnya pada saat masih duduk di bangku SMA yang penataannya bahkan masih sama sampai sekarang.

“Tau begini lebih baik sejak siang aku mengerjakannya sambil menemani Ahra kan dari pada sendirian disini, ckck!” Gadis itu berdecak. Memandangi layar ponsel, membalas pesan masuk yang tahu-tahu sudah membanjiri inbox ponselnya.

Bugh..

“Ah.. josonghamnida.. josonghamnida..” ujar seseorang saat tahu-tahu tubuh Hyunjae yang mungil itu nyaris kehilangan keseimbangannya akibat seseorang dengan langkah terburu-buru menabrak tubuhnya dari arah yang berlawanan. Membuat berkas dalam genggamannya jatuh berserakan.

“Josonghamnida..” ucap pria itu sekali lagi sambil membantu Hyunjae yang tampak kerepotan membenahi lembar-lembar kertas yang berserakan di lantai. Kemudian menyerahkannya pada Hyunjae begitu yakin semuanya telah ia pungut kembali.

“Ne gwencha-” Ucapan gadis itu terputus. Gadis itu tampak terkejut saat menyadari sosok yang kini berdiri dihadapannya.

“Jonghoon?”

“Hyunjae?”

—–

“Jadi kau yang sejak tadi membuatku menunggu seharian?” Hyunjae menoleh, menatap seorang pria berambut berpotongan diatas telinga yang kini tengah asik menyesap ice cream miliknya sambil menggerak-gerakkan ayunan kayu yang didudukinya dengan kaki panjangnya.

Saat ini keduanya tengah duduk diatas ayunan kayu tua yang ada di dalah satu taman kota yang tak jauh dari kedai es krim.

Pria berkaca mata dengan frame coklat itu hanya tersenyum, lalu memegang erat rantai pegangan ayunan yang didudukinya. Mendorongnya agar terayun.

Jonghoon memanglah pria yang dimaksud ibunya sebagai anak salah seorang teman SMAnya dulu yang berkasnya ketinggalan dirumah mereka. Sekaligus pria yang telah membuatnya menunggu selama 6 jam di kedai ice cream seorang diri.

“Nappeun namja!!” makinya dengan sekuat tenaga genangan air yang sudah memberontak keluar dari dalam matanya.  Membuat namja itu kontan menghentikan ayunannya dengan kaki panjangnya. Menoleh, memandangi tubuh gadis itu yang mulai bergetar dengan bibir bagian bawah sengaja digigit. Menahan tangis.

Gadis itu kesal! Sangat kesal! Saking kesalnya ia bahkan ingin sekali menangis sekeras mungkin!!

 “Hyun-ah..” panggilnya dengan suara rendah.

Mendengar namja itu memanggil namanya dengan sebutan yang sudah lama tak ia dengar dari bibir tipisnya. Tangis gadis itupun pecah. Meski dengan setengah mati telah ia tahan, air mata nakal itu berjatuhan membasahi wajahnya. Membuatnya memalingkan wajah. Tak sanggup melihat wajah pria itu lebih lama.

 Ia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya yang seolah memperlihatkan betapa rapuhnya dirinya saat ini.

Jonghoon, pria itu melangkah mendekati gadis yang sudah sebelas tahun ini tak pernah ditemuinya itu. Pria itu berlutut, memeluk sang gadis yang wajahnya kini telah basah dengan air mata, erat. Sangat erat. Ditepuknya punggung gadis itu pelan, mecoba menenangkannya.

“Mianhae.. Jeongmal mianhae..”

“…” sama sekali tak ada balasan yang terucap dari bibir gadis itu. Yang ada hanyalah suara isakan yang sama sekali tak bisa gadis itu hentikan.

“Maafkan aku karena baru sekarang aku memberanikan diriku untuk menemuimu.. mianhae..”

“Nappeun!” tangis gadis itu semakin keras. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan dekapan yang melingkar pada tubuh mungilnya. Namun ia tak kuasa melawan tenaga Jonghoon yang berkali lipat lebih besar dari tenaga seorang wanita lemah seperti dirinya.

“Nappeun!!” isaknya seraya memukul-mukul dada Jonghoon saat pria itu dengan berat hari melepaskan dekapannya perlahan.

“Mianhae..”

Hyunjae menunduk. Pukulannya pada dada bidang pria itu secara perlahan ia hentikan. Tubuhnya seolah lemas untuk sekedar membalas ucapannya.

Jujur saja hatinya begitu hancur saat ini. Entah apa yang harusnya ia rasakan. Senang? Sedih? Entahlah, namun yang pasti rasa kecewa itu seolah lebih mendominasi dirinya saat ini.

Bukan, ia kecewa bukan karena sosok Jonghoon adalah sosok yang diam-diam dijodohkan oleh ibunya atau apa. Tetapi melainkan, ia kecewa terlebih karena kenapa ia harus menunjukkan kerapuhannya di depan namja itu? Kenapa ia harus menangis sekeras ini dan sama sekali tak mampu untuk menahan deguban jantung dan rasa rindu yang menggebu di dalam hatinya pada pria yang telah dengan kejam meninggalkannya tepat disaat hatinya bahkan telah jatuh terlalu dalam pada pria itu?

Sebelas tahun, bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang untuk menahan perasaannya hanya kepada satu orang terlebih ketika orang yang dimaksud justru selama itu pula tak pernah menampakkan batang hidungnya atau memberikan pesan maupun kabar kepadanya selain desas-desus yang ia dengar dari kerabat terdekatnya?

Sebelas tahun adalah waktu yang sangat panjang. Waktu yang bahkan telah membuat keadaan disekelilingnya telah berubah begitu pesat tanpa bisa ia pungkiri. Namun, sayang sekali sebelas tahun benar-benar terlalu singkat baginya untuk melupakan seorang Choi Jonghoon, bahkan mencari sosok yang dapat mengusir nama itu dari hatinya pun tak ada yang mampu.

“Maaf karena selama ini aku hanya bisa mengawasimu, memperhatikanmu, mejagamu dalam diam…

“Maaf karena aku seolah begitu kejam karena telah membiarkan dirimu gamang dan terombang-ambing dalam perasaan yang tak menentu..

“Maaf karena aku tak pernah memberikan kepastian kepadamu tentang kelanjutan dari perasaanku sebelas tahun yang lalu..”

Jonghoon menggenggam erat kedua tangan Hyunjae dengan lembut. Membuat gadis itu perlahan mendongak, menatap kedalam matanya.

“Aku suangguh-sungguh meminta maaf kepadamu.. karena aku benar-benar tak sanggup.. karena jika sekali saja aku melihatmu.. kupastikan aku tak akan pernah bisa melanjutkan apa yang ku kejar selama ini Hyunjae-ah..”

Gadis itu berpaling, tak sanggup membiarkan pria itu melihat air mata yang kembali membasahi wajahnya. Namun dengan cepat pria itu memegangi kedua wajahnya dengan lembut. Membuatnya menatapnya kembali.

“Karena jika sekali saja aku melihatmu, aku pasti tak akan pernah mau lagi untuk meninggalkanmu..

“Dan jika aku tak sanggup meninggalkanmu saat itu.. aku tak akan pernah bisa datang menjemputmu kembali seperti saat ini.. sebagai seorang arsitek terkenal. Calon suami idamanmu,”

Tubuh gadis itu bergetar hebat. tangisanpun kembali pecah. Namun tak seperti sebelumnya, gadis itu terlihat tersenyum, memeluk pria tampan dihadapannya dengan penuh haru.

“Nappeun!” pukulnya sekali lagi begitu pelukan keduanya terlepas.

“Mian..”

“ARGGGHHH CHOI JONGHOONNN NAPPEUN!!!”

“Aishhh.. anniyaaaaa.. jika aku jahat, ibumu tak akan mau membantuku merencanakan semua ini selama bertahun-tahun!”

“MWO?? Maksudmu??” kedua mata sembab gadis itu kontan terbelalak lebar. Jonghoon tertawa garing. Bangkit dari posisinya.

“Ne, selama ini.. sejak sebelum aku meninggalkan Korea setelah hari kelulusan, sehari setelah aku menyatakan perasaanku padamu.. aku telah membicarakan semuanya dengan kedua orang tuamu, khusunya ibumu.

“Dan selama ini, dia dan Siwon serta Donghae hyung-lah yang terus-menerus membantuku mengamatimu dalam diam. Itulah salah satu alasannya kenapa ibumu selama ini mungkin diam saja dan tak menuntut apapun disaat orang-orang disekitarmu mungkin menggunjingmu agar segera menikah. Dan untuk hari ini, akulah yang meminta ibumu mengatur semuanya..

“Aku yang sengaja meminta ibumu yang telah mengatur tempat di restaurant Jepang, agar menggatinya dengan kedai ice cream tadi, karena agar kau teringat bahwa tempat itu dalah tempat terkahir yang kita datangi bersama, saat kau mengatakan bahwa kau akan menikahi seorang arsitek handal,” jelasnya panjang lebar. Membuat sebuah ukiran senyuman manis semakin mengembang diwajah cantiknya.

Gadis itu terharu. Sungguh terharu sampai tak sanggup lagi mengurai air mata. Bagaimana mungkin bisa pria dihadapannya ini bisa mengingat hal yang bahkan ia sendiri bahkan sudah lupa pernah mengatakan apa dan dimana. Namun ia justru bisa dengan jelas mengingatnya.

“Dan asal kau tahu saja.. aku bahkan sudah berada di kafe itu jauh sebelum kau tiba namun aku baru memberanikan diri keluar saat melihat dirimu tampak sudah emosi, seolah akan mencabik-cabik siapapun yang kau temui,” lanjutnya. Mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.

“Ya!! Choi Jonghooon menyebalkan!!!”

~mrs.ChoiLee~

Tengg… Tengg… Tengg…

Denting lonceng gereja siang itu terdengar berdentang dengan indahnya. Seolah menyambut seluruh undangan yang mulai berdatangan memenuhi seluruh ruang kosong sebuah gereja sederhana yan terletak dikawasan Goyang tersebut.

Gereja itu memang bukanlah sebuah gereja besar layaknya katedral, melainkan hanya sebuah gereja tua bercat serba putih yang terletak di daerah Goyang City, Korea.

 Meski bangunannya tak terlalu besar, namun lingkungannya sangat asri. Terlebih gereja tersebut berada didaerah perbukitan dan berada tepat disisi danau, serta memiliki halaman dengan rerumputan hijau yang begitu luas. Membuatnya terlihat begitu indah dan asri.

Ahra selaku mempelai wanita sendiri yang memilih lokasi ini setelah melihatnya pada salah satu cuplikan drama favourite ibunya. Selain karena keindahannya, ia juga sangat menyukai suasananya yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

“HYUNJAEEEEEEEEEEEE!!” pekik Hyejin kegirangan saat melihat sesosok gadis bergaun pastel, panjang, baru saja turun dari sebuah mobil sport hitam sambil mengaitkan tangannya pada lengan seorang namja berkaca mata yang tak dapat ia lihat jelas karena pria itu tampak menulis sesuatu pada papan ucapan pengunjung di depan gerbang kecil menuju gereja. Gadis yang rambutnya sengaja dibiarkan tergerai kesamping itu menoleh, dan langsung saja berlari menghampiri sahabat yang sudah lama tak ditemuinya itu. Meninggalkan sosok pasangan mereka masing-masing yang kini menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan keduanya.

“GYAAAAAAAAAAAA!!! HYEJIN-AH!!!”

~mrs.ChoiLee~

@Dress room

“Hya, Lee Hongki! Kemana saja kau hah!?” pekik Ahra murka pada seorang pria bertuksedo hitam yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti mempelai, sambil menjewer sebelah telinganya.

“Awww.. ya! Lepaskan! Sakit!!!” sentak Hongki, melepaskan pegangan kuat Ahra pada telinga kanannya, paksa.

“Lagian, kemana saja kau hah? Sejak kemarin kuhubungi sama sekali tak aktif! Dan sekarang sudah tahu ini hari pernikahan kita, kau malah datang terlambat! Membuatku jantungan setengah mati!” gerutunya tak habis pikir pada jalan pikiran namja yang sebentar lagi resmi menjadi suaminya itu. Sudah sekian lama berkencan sampai akhirnya akan menikah hari ini, namja itu tetap saja tak pernah berubah!

“Aigoo.. sebegitu merindukan diriku kah sampai-sampai marah seperti ini?” godanya, menjentik-jentikan jarinya pada dagu tajam Ahra.

“Aish.. jangan cemberut seperti ini.. nanti uri aegi akan berontak segera ingin keluar untuk menjitakmu agar tak cemberut lagi,” bisiknya dengan nada seduktif ditelinga Ahra, seraya mengelus-elus lembut perut Ahra yang mulai membuncit, tertutupi gaun pengantin dengan renda tebal di bagian pinggangnya itu. Membuat Ahra melotot, bersiap menginjak kaki namja itu keras-keras jika saja ayahnya tidak tiba-tiba masuk dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap.

“Tenang saja, setelah upaca ini berakhir kita akan resmi menjadi sepasang pasangan paling bahagia yang tak akan tepisahkan. Dan kau.. dan aku selamanya akan menjadi satu..” lanjutnya lagi. Masih ditelinga Ahra. Sebelum gadis itu benar-benar melemparkan heels yang dikenakannya kearah pintu. Tepat mengenai dahi seorang wanita bergaun satin berwarna merah yang sangat dikenalnya.

Kim Misook. Ibu Hongki dan Hyejin. Calon ibu mertuanya.

“YA! KWON AHRA!!!!!”

“Mati aku!”

~mrs.ChoiLee~

Pintu kayu bercat serba putih, berukiran, berukuran besar besar yang semula tertutup itu perlahan membuka lebar. Membuat seluruh tamu undangan yang telah duduk di tempatnya masing-masing di dalam gereja itu menoleh, menatap kearah seorang wanita dalam balutan gaun pengantinya berjalan dengan anggun, mengamit lengan seorang pria setengah baya yang tak kuasa menahan guratan haru pada wajahnya yang tampak letih karena usia itu.

Genggaman tangan wanita itu yang semula mengamit erat lengan ayahnya kini telah berganti dengan lengan kokoh lainnya yang beberapa saat lagi akan resmi menjadi penutan hidupnya seumur hidup.

Dalam suasana khusyuk yang begitu kuat, kedua mempelai akhirnya telah resmi menjadi sepasang suami istri setelah masing-masing sama-sama telah mengucapkan janji suci mereka di hadapan seorang pastur keturunan Jerman yang telah lama mengabdikan dirinya di gereja itu.

Disana, dibarisan keempat sebelah kanan dari depan. Seorang pria tampak tak bisa menghentikan senyuman yang terukir di wajah indahnya.

Namja itu bahagia. Amat bahagia. Memperhatikan kedua mempelai yang kini tengah menyalurkan rasa bahagia mereka satu sama lain melalui sebuah kecupan mesra, menandai sahnya hubungan keduanya kini.

Selama ini, bisa dikatakan ia adalah seorang saksi kunci kisah cinta keduanya. Dimulai saat bagaimana keduanya pertama kali bertemu dan memulai permusuhan sengit, pertengkaran di noreabang milik Eunhyuk yang membuat Hongki mengaku bahwa ia adalah tunangan Ahra, atau hingga akhirnya Hongki yang bergengsi tinggi itu menyatakan perasaannya pada Ahra sampai akhirnya seorang Kwon Ahra menjadi terlalu tergila-gila pada seorang Lee Hongki.

Ia bahkan menjadi saksi bisu saat Ahra yang selama ini tak pernah disetujui hubungannya dengan Hongki itu akhirnya bisa diterima keluarga Lee, setelah gadis tomboy itu dinyatakan hamil oleh seorang dokter kepercayaan keluarga Lee sesaat setelah pesta makan malam bulanan keluarga Lee di kediamannya.

“Ya, Minari! Kenapa kau senyum-senyum tak jelas begitu??” Jaejin menyikut lengan Minhwan yang duduk disampingnya dengan tampang bingung.

Minhwan hanya tertawa kecil. Memamerkan wajah aegyo nya yang selalu ia pamerkan selama ini. Membuat hyung, mantan teman satu band nya selama di bangku SMA dan kuliah itu langsung kembali duduk diam tanpa sudi melanjutkan melihat aegyo minhwan yang bagi sebagian yeoja sangat mematikan itu.

“Saatnya pelemparan bunga. Seluruh wanita single silakan berkumpul di depan pintu gereja,” ujar seorang mc. Membuat seluruh yeoja single yang ada di dalam sana mengikuti aba-abanya. Termasuk Hyunjae.

“Hana.. ”

“Deul..”

“Set..”

Ahra, diampingi Hongki secara pasti melemparkan buket bunga dalam genggamannya kearah belakang tubuhnya sekuat tenaga.

Membuat seluruh yeoja yang ikut berkumpul langsung bersorak, berteriak, berebutan meraih buket bunga lily yang menjadi bunga kesukaan Ahra itu.

“Ya! EONNI LEPASKAN!” teriak yeoja bergaun hijau toska yang memegang erat bagian kepala buket bunga pada seorang wanita yang beberapa cm lebih pendek darinya yang juga memegang bagian buntut buket bunga.

Mereka barusan menangkapnya secara bersamaan.

“Anni! Kim Hyejoon! Kau yang harus melepaskannya!” perintah gadis bergaun pastel yang tak lain adalah Hyunjae itu pada sosok sang adik yang juga datang menjadi salah satu tamu undangan keacara itu.

“Shireo! Kau yang lepas! Biar aku yang menikah duluan! Kan aku yang punya pasangan, sedangkan kau tidak!” teriaknya, menarik kuat sisi bunga yang ada di tangannya agar terlepas.

“MWO?? Apa? Kata siapa? Aku yang duluan! Aku ini kakakmu! Aku tak mau dilangkahi olehmu. Lepas!” pekik Hyunjae tak terima, menarik pegangan buket yang ada di dalam genggamannya lebih kuat agar terlepas.

“AKU!”

“AKUU!!”

Sepanjang itu keduanya terus saja berdebat, sementara tamu yang lain sudah membubarkan diri menuju taman tempat dimana pesta kebun selanjutnya di adakan. Sementara Ahra, Hongki, Hyejin dan TOP tampak memperhatikan kedua kakak beradik itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hey, hyung. Apa tidak sebaiknya kita menikah bersamaan saja?” Ucap Jonghoon sambil menyesap segelas wine yang baru saja diberikan oleh salah seorang waiters, pada seorang namja dengan setelan hitam yang berdiri memperhatikan kedua gadis yang sampai saat ini masih sibuk berebutan itu.

“Hah?” Yesung, si pemilik yayasan Romeo Julliet yang beberapa tahun lalu sempat menyamar menjadi siswa disana dan sempat menjadi teman sebangku Hyunjae itu tampak melayangkan wajah bingungnya pada Jonghoon yang kini menyodorkan segelas wine lain padanya yang langsung ia terima. Masih dengan raut bingung.

Yesung adalah kekasih Hyejoon yang baru saja dipacarinya tiga tahun terakhir saat gadis lulusan fakultas kedokteran itu bekerja di salah satu rumah sakit yang berada dalam naungan yayasan pendidikan keluarga Yesung.

Perbedaan usia keduanya yang lumayan jauh nyatanya tak menjadi halangan untuk keduanya melangkah kejenjang yang lebih serius.

“Iya, kedua gadis itu kan bertengkar hanya untuk memastikan siapa yang akan menikah duluan. Bagaimana kalau tak kita wujudkan saja impian mereka berdua?”

Yesung mengerutkan kening. Menatap Jonghoon dan kedua gadis itu bergantian.

“Maksudmu? Kita berempat? Menikah di hari yang sama?”

Namja itu tersenyum. Tanpa mengiyakan atau apa, ia meletakkan galasnya begitu saja diatas meja terdekat sebelum akhirnya berlari menghampiri kadua gadis yang masih sibuk berdebat itu. Mencoba membantu gadisnya agar dapat mendapatkan buket bunga yang diinginkannya.

“Ya! Hey! Tunggu akuu!!!” teriak Yesung yang kemudian ikut membantu kekasihnya merebut buket bunga yang kini ada di tangan Jonghoon.

Ini adalah sebuah kisah mengenai aku, dia, dan mereka semua yang telah berperan dalam kehidupanku..

Sebuah kisah dimana kami mengenal apa itu rasa kecewa, senang, riang, bahagia, sedih, duka, benci, bangga, hingga hal paling memalukan..

Mengenal bagaimana dan siapa lawan dan siapa kawan..

Mengenal apa artinya cinta..

Mengerti arti kehidupan..

Dan semua cerita itu berawal dari sini..

Masa SMA…

 

THE END

##

kalo ada yang tanya, hyejin kenapa keselek waktu Ahra ngomongin calon ibu mertuanya.. itu karena ibu mertua Ahra yang juga ibu Hongki adalah ibunya Hyejin.  trus kenapa Ahra kesannya agak takut sama ibu Hyejin? itu karena ia awalnya ga disetujuin hubungannya sama Hongki oleh keluarga Hongki (ex. hyejin pastinya)

###

So sorry for typo.. so sorry buat semua yang udah lama banget nunggu seri terakhir dari ff ini tayang. Maaf banget baru bisa publish sekarang karena nyatanya ff ini pun dibikin kebut seharian setelah kemarin” habis ide buat bikin ending yang seharusnya kaya gimana. Entahlah, semua tugas dan rutinitas lain bikin otak berasa buntu untuk lanjutin ff ini. Hiks

Jujur aja semester 6 ini bikin stres! Jangankan bikin ff, mikir judul buat tugas proposal skripsi aja saya udah setres maka dari itu ff ini dan wp saya sendiri terlantar. Huhu

Fisik drop berkali-kali. Tapi.. big thanks buat Khun Oppa yang udah ikutan doain pas fisik bener” drop bulan lalu XD makasiii khunnie oppa atas fantalknya XD

Oke. Buat my baby. Tungguin aja semoga ada waktu luang dan otak ga buntu lagi kaya kemarin.

Jeongmal kamshahamnidaaaa *bow* maaf kalo ga puas sama endingnya. Karena saya bukan alat pemuas dan saya paling ga bisa bikin ending yang ngena. See ya~

 

Iklan

5 thoughts on “HIGH SCHOOL PARADISE -Eps 15 (FINAL EPS)

  1. haahahha kerennn … neomu joha~~~
    ngomong ngomong apa kabar bapak choi siwon si ketua geng king of flowers yah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s