My Baby.. -CHAPT: 2

my babyy2ee

Author : @yoen_da/mrs.choilee

Cast :

  • Oh Sehun
  • Jung Soohwa (OC) *covered by park chorong*
  • Jung Yonghwa
  • Seohyun
  • Kris Wu
  • And the other cast you can find in this story

Genre: Family, romance, sadness

Length : series

Dissclaimer: This strory is from my own mind, all cast belongs to GOD. Do not to COPYCAT without PERMISSION.

A/N: alurnya bakal maju-mundur dan mungkin agak ngejelimet, so tolong perhatiin tahun dan lokasi serta nama castnya baik-baik ^^.

-My baby-

prev : Part 1

PART 2:

 

“Kajja kita keluar!” seru Hayoung riang pada gadis yang baru tadi sore tak sengaja ditemuinya itu begitu mobil yang dikendarainya berhasil terparkir dengan aman di depan pelataran sebuah gedung bertingkat di salah satu distrik ternama di kota Incheon.

Soohwa, gadis yang terkenal sebagai cucu dari penyokong dana terbesar Inha University itu pun hanya bisa duduk terpaku ditempatnya, memandang keluar jendela mobil, memperhatikan keadaan diluar dengan ragu sebelum akhirnya pintu penumpang disisi kanannya terbuka lebar dari luar.

“Kajja. Tak usah takut aku tak akan menggigitmu! Haha,” guraunya membuat Soohwa hanya tersenyum kikuk namun kemudian mengangguk mengiyakan ajakannya untuk turun dari mobil, mengikutinya melangkah masuk menuruni anak tangga di sisi kiri salah satu gedung bercat keabuan yang pada bagian atasnya terdapat papan nama terselipkan kata LOUNGE.

Kontan langkah gadis yang telah menghabiskan nyaris separuh usianya di luar negeri itu terhenti. Keraguan dan ketakutan sekekita melanda dirinya. Hayoung yang menyadari hal itu dengan sedikit bingung kembali menghampirinya. Menjelaskan padanya bahwa apa yang ada di dalam sana tak seperti yang tengah gadis itu bayangkan.

“Tempat apa ini??” teriak Soohwa sekeras mungkin pada Hayong yang kini terlihat mulai asik bersokak-sorak mengikuti hentakkan musik yang mulai menggema sejak mereka menginjakkan kaki di dalam sebuah ruangan besar di bagian bawah gedung.

“APA?” Teriak Hayong, tak mendengar.

“TEMPAT APA INI???” ulang gadis itu. Lebih keras. Hayoung tersenyum. Tapi bukannya menjawab, gadis itu malah melambaikan sebelah tangannya sambil sedikit berjinjit, kearah mini stage yang agak jauh di depan mereka, sambil tersenyum.

Soohwa mengernyit tak mengerti. Namun pandangannya kemudian mengikuti arah lambaian Hayong.

“OPPA!!!” teriaknya sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya dengan semangat kesalah satu arah. Membuat Soohwa yang merasa tak diacuhkan jadi penasaran kemana arah pandangan Hayong saat ini.

Deg.. Deg.. Deg..

Entah apa yang terjadi pada Jung Soohwa saat ini. Jantungnya mendadak berdebar keras. Pikirannya mendadak kosong. Waktu seketika terasa berhenti. Kedua arah tatapan matanya kini seolah terkunci disatu titik. Tubuhnya terasa kaku, sama sekali tak dapat bergerak. Dirinya benar-benar merasa terperangkap pada sesuatu saat ini.

Entah apa maksud dari perasaan yang menderanya saat ini. Namun yang pasti ia hanya tahu bahwa dirinya merasa sangat nyaman.

————-

 “OPPA!!” teriakan seorang gadis terdengar dengan jelas di telinga Park Chanyeol yang saat itu tengah asik mengiringi permainan band mereka di balik drum andalannya. Hanya dengan mendengar suaranya samar saja ia selalu tahu siapa pemilik suara cempreng itu. Dan hanya butuh waktu sekejap mata saja baginya untuk sekedar menemukan sosok Oh Hayoung, gadis yang sudah sekian lama ini di sukainya, diantara kerumunan para gadis yang bersorak-sorai dengan histeris menikmati permainan mereka.

Mencoba mencuri-curi kesempatan, namja bertubuh tinggi itupun mencoba membalas lambaian tangan gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya yang kontan saja langsung disambut histeris beberapa orang yeoja yang memperhatikannya. Tapi sayang sekali Hayoung justru malah mendesis sebal, membuat Chanyeol tertawa melihatnya. Namja itu sudah sangat kebal diberikan respon negatif dari Hayoung. Setidaknya selama tiga tahun ia berteman dengan Sehun yang adalah kakak kandung dari Hayong, pria itu memang selalu diperlakukan dingin oleh Hayoung yang mecapnya sebagai playboy kelas teri. Kyungsoo yang kebetulan melihat itu semua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sehun-ah, adikmu memanggilmu,” bisik Kyungsoo pada Sehun yang kebetulan asik memainkan gitarnya tak jauh dari dirinya.

Sehun yang mendengarnya langsung saja memicingkan kedua matanya. Menelusuri seluruh sudut ruangan, mencoba mencari-cari sosok Oh Hayoung adik kandungnya ditengah kerumunan pengunjung lounge, ditengah-tengah permainan gitarnya. Yang justru membuat sekelompok yeoja dibuat histeris akibat melihat wajahnya yang justru tampak semakin imut. Namun sayang sekali Sehun sama sekali tak menyadarinya.

Berbeda dengan Chanyeol yang bisa dengan cepat menyadari dan menemukan keberadaan Hayoung hanya dengan mendengar suaranya samar, Sehun terbilang kesulitan menemukan sosoknya. Dan pandangan matanya yang ‘minus’ akibat terlalu sering menekuri buku membuat dirinya semakin kesulitan untuk menemukan sosok adik bungsunya tersebut terlebih pencahayaan diruangan tempat dirinya berada saat ini yang temaram membuat pandangannya semakin kabur, tak mampu menjangkau sudut-sudut tertentu.

“Ya, arah jam 9, depan bar,” tambah Kyungsoo lagi. Prihatin melihat temannya yang memasang raut bingung itu.

1.. 2… 3…

Deg.. Deg.. Deg..

Dalam hitungan ketiga, jantungnya mendadak berdebar begitu keras. Tatapannya terhenti di satu titik. Tepat masuk kedalam sorot mata teduh sesorang yang ia sama sekali tak yakin siapa dia. Aliran darah yang mengalir dalam arteri tubuhnya seolah mengalir begitu deras hingga membuat jantungnya berpacu begitu kuat.

Entah apa yang tengah ia rasakan ini. Namun yang pasti dalam dirinya, ia begitu ingin menangkap sosok itu. Menariknya, membawanya kedalam sebuah dekapan yang sangat erat. Melindunginya segenap jiwa dan raganya. Sama sekali tak rela jika sosok tersebut terluka maupun tersakiti.

Hanya ada satu yang ada di dalam kepalanya saat ini.

Gadis itu adalah jiwanya.

-My Baby-

“Hyung-nim. Seluruh gedung sudah kutelusuri. Namun sosok nona Jung sama sekali tak bisa kutemukan,” sesal Kai dengan raut kelelahan pada sosok Kris yang tampak sibuk melakukan sesuatu dengan ipad miliknya di depan pelataran gedung fakultas kedokteran Universitas Inha.

Kris meliriknya sebentar. “Cepat masuk kedalam mobil. Kurasa aku tahu dimana nona muda kita itu sekarang,” perintahnya dengan wajah datar seperti biasanya. membuat Kai hanya bisa memasang raut pasrah, menuruti perintah sang senior yang sepertinya mendapatkan sebuah titik terang akan keberadaan sang nona muda.

Sepanjang jalan, sama sekali tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Kris terlihat sangat berkonsentrasi mengemudikan jaguar hitam keluaran terbaru yang merupakan milik keluarga Jung, dengan sesekali mengikuti arahan Kai yang diberinya perintah untuk menunjukkan arah jalan yang tertera pada layar ipad hitam miliknya yang menunjukkan sebuah peta serupa GPS.

Rupanya diam-diam Kris memang memasang alat pelacak pada ponsel milik Soohwa untuk berjaga-jaga jika gadis itu benar-benar melarikan diri. Dan ia sangat bersyukur bahwa ide nya untuk memasang alat pelacak itu benar-benar brilliant!

“Apa kau yakin nona berada disini, hyung?” tanya Kai ragu sambil menatap kearah papan nama yang tertera pada sebuah bangunan bercat keabuan berlantai 3 begitu keduanya tiba di lokasi yang tertera pada ipad milik Kris.

Seperti biasanya, pria jangkung berambut pirang itu hanya tersenyum sungging.

-My Baby-

Tepuk tangan begitu riuh terdengar di seluruh penjuru ruangan begitu EXO menyelesaikan permainan mereka. Segerombolan gadis dengan agresif langsung berkerumun keseluruh sisi panggung untuk sekedar memuji permainan mereka dan bahkan meminta nomor telepon mereka. Membuat suasana di sana sedikit ‘liar’ akibat tingkah para gadis yang terlalu antusias.

Sebuah sorot tatapan yang sebelumnya mampu membuat dua orang di ruangan itu terhipnotis kedalam dunia mereka masing-masing pun seketika terhentikan. Tubuh ramping Hayoung sempat beberapa kali terdorong oleh beberapa gerombolan gadis yang memaksa lewat tanpa ampun, membuatnya dengar terpaksa membawa Soohwa ke sudut lain yang lebih tenang.

Namun sial, belum sempat mereka beranjak banyak dari tempat tersebut tahu-tahu sesosok pria jangkung bersetelan hitam sudah berdiri di hadapan mereka.

“Damn!”

-My Baby-

“Dari mana kalian tahu aku berada disana?!” tanya Soohwa ketus. Sepanjang jalan sejak ‘penjemputan’ yang dilakukan Kris dan Kai, kedua pengawal setia utusan keluarganya, dari The Grand Palace gadis itu hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang tampang masam.

“Aggassi.. Sudahlah, kau seharusnya jangan seperti ini terus. Jika kau melakukan hal ini lagi dan ibu suri mengetahuinya bukan hanya kami saja yang terkena imbas, tapi kau sendiri yang akan mendapat dampak lebih parah,” ujar Kai dari balik kaca spion dalam ditengah-tengah kegiatannya mengemudi. Membuat Soohwa mendesis sebal.

“Hei. Kau belum menjawab pertanyaanku. Dari mana kau tahu aku berada disana?”

Kris hanya melirik sang nona muda yang telah dikenalnya sejak sepuluh tahun yang lalu itu dari balik kaca spion sambil tersenyum miring. Sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Ia hanya bisa tersenyum dalam hati saat dilihatnya sosok sang nona muda kini sibuk berkomat-kamit menumpahkan sumpah serapah yang ia yakini ditujukan kepadanya.

-My Baby-

Sudah sekitar seminggu kiranya saat terakhir kali Oh Sehun merasakan jantungnya seolah akan meledak hanya dengan melihat siluet sosok seorang gadis dari kejauhan saat dirinya dan ketiga temannya yang lain tengah melakukan pertunjukan di Grand Palace.

Saat itu begitu pertunjukan selesai, Sehun seolah seperti orang yang kesetanan karena tiba-tiba saja melompat dari atas panggung, berlari menuju sudut dimana dirinya melihat sosok gadis yang telah menyita seluruh perhatiannya tadi berada. Namun langkahnya terasa begitu sulit lantaran sekerumunan gadis yang mendekat meminta berkenalan dengannya. Hingga akhirnya ia sadar bahwa sosok yang dicarinya itu kini sudah menghilang entah kemana.

Itulah pertama dan terakhir kalinya seorang Sehun tampak seperti orang bodoh hanya karena seorang gadis sebelum akhirnya hari ini. Tepat di hari ketujuh setelah kejadian malam itu… jantungnya seperti mau melompat keluar dari dalam tubuhnya.

‘Gadis itu….’

——-

“Jung Soohwa-yang. Bisa kita bicara sebentar?” ujar Profesor Kim pada Soohwa yang hanya bisa mengangguk dengan raut pasrah.

Gadis itu tahu persis apa yang akan dikatakan oleh dosen yang juga dokter spesialis endokrinologi yang juga adalah dosen pembimbingnya itu. Pastinya tak akan jauh-jauh dari hasil ujiannya saat tengah semester lalu yang mayoritas dibawah huruf C-.

“Jung Soohwa-yang. Sebagai dosen pembimbing sekaligus rekanan ayahmu, sesungguhnya aku sangat tidak puas dengan nilai-nilaimu saat ini. Jujur saja saat tahu kau mengambil jurusan kedokteran ini aku sungguh menaruh harapan besar padamu karena mengingat reputasi ayahmu sebagai dokter bedah tulang yang sangat terkemuka di Jerman saat ini. Namun nyatanya dari 5 matakuliah yang diberikan pada paruh semester awal ini saja kau bahkan tak mampu mencapai angka 60 untuk masing-masing bidang dan blok yang diberikan..” mendengar penuturan Profesor Kim yang berbicara dengan nada kecewa seperti itu membuat Soohwa menundukkan kepalanya. Sama sekali tak berani menatap wajah sang profesor yang juga sudah dianggapnya sebagai ‘ayah berkaki panjang’ nya saat ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak dulu.

Profesor Kim yang menyadari perubahan raut wajah Soohwa yang sangat tak bersemangat itu hanya bisa menghela napasnya berat.

“Soohwa-ya..” Profesor Kim menurunkan nada bicaranya, meraih kedua telapak tangan gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu, kemudian menatapnya sambil tersenyum lembut.

Soohwa mendongak, balas menatap sosok pria yang hanya tertaut lebih tua beberapa tahun dari ayahnya itu dengan wajah muram. Jujur saja ia merasa berkuliah di jurusan kedokteran sepertinya tak sesuai dengan dirinya. Ia merasa kemampuan dirinya dalam bidang ini memang sangat dibawah rata-rata. Ia mendapat nilai C- pun bukan karena tanpa usaha. Ia sendiri merasa sudah belajar setengah mati untuk mencapai nilai seperti itu. Buktinya saja setiap hari ia hanya bisa terkurung di dalam perpustakaan rumah kediaman keluarga Jung yang dipenuhi dengan segala bentuk dan bidang yang berhubungan dengan kedokteran. Baik dari dalam maupun luar negeri dan dengan berbagai bahasa yang berbeda yang telah ada di dalam ruang perpustakaan pribadi –yang justru lebih mirip perpustakaan kampus itu- sejak ayah dari kakeknya yang juga merupakan Profesor pendiri rumah sakit JungIn masih ada. Setiap waktu yang dimilikinya hanya bisa ia habiskan untuk berkutat dengan berbagai buku tebal yang ada di dalam sana. Namun apa mau dikata mau sesering apapun ia membaca buku-buku itu otaknya seolah tak mampu untuk mencerna isi dari buku-buku tersebut. Di kampus pun ia sama sekali tak memiliki teman untuk sekedar mendiskusikan materi yang tak ia mengerti berkat keberadaan kedua pengawal setianya yang selalu menempel bagaikan permen karet pada dirinya tersebut. Jadi  ia benar-benar sudah sangat pasrah akan hal ini. Dapat C pun rasanya sudah sangat senang sekali rasanya!

“… jangan berkecil hati. Samchon tau kau adalah anak yang cerdas. Kau sangat berbakat… meski aku tahu bakatmu sebenarnya bukan dibidang ini, dan aku sangat mengerti itu. Namun karena semua ini adalah pilihan dan jalan yang telah kau ambil, maka kau tak boleh menyia-nyiakan semuanya,” lanjutnya dengan sebuah siluet senyum kebapakan yang terpajang jelas menghiasi wajahnya. Senyuman yang selalu dapat menghentikan tangisan seorang bocah kecil bernama Jung Soohwa beberapa tahun silam. “Kuharap kau tak patah semangat karena hal ini. Paman hanya ingin memberikan masukan padamu sejak awal agar semuanya tak terlambat. Dan kuharap memang tak terlambat. Betul kan?”

Soohwa sama sekali tak menjawab. Kepalanya kembali tertunduk lesu. Profesor Kim tampak keluar sebentar sebelum akhirnya kembali duduk dibalik meja kerjanya setelah meletakkan ponsel hitam miliknya keatas sebuah diktat berukuran A4 yang disampulnya tertera nama dirinya tersebut. Sebuah diktat bahan ajaran mahasiswa kedokteran bersampulkan hard cover warna navy blue dengan tinta emas yang sepertinya ia susun sendiri.

“Baiklah. Mulai saat ini aku akan menunjuk seseorang untuk menjadi tutor untuk membantumu mempelajari seluruh bahan yang dipelajari pada semester kali ini,” kedua mata Soohwa membulat sempurna. Terkejut akan perkataan dosen pembimbingnya tersebut.

‘aa… apa? Tutor katanya???’

Seolah dapat membaca apa yang dipikirkan gadis itu, Kim Kibum, menepuk pundak gadis itu pelan mencoba menenangkannya sambil tersenyum lembut.

Tokk Tokk..

Terdengar suara pintu kaca ruangannya diketuk dari luar.

“Masuklah,” katanya kemudian tersenyum mempersilakan seorang namja berpakaian rapih yang barusan mengetuk pintu ruangannya itu untuk masuk, dan duduk di salah satu bangku kosong yang ada di depan meja kerjanya setelah pria itu membungkukkan badannya sopan.

Soohwa yang semula tak memperhatikan siapa sosok yang baru saja mengambil tempat duduk disebelahnya itu, kini merasa bahwa jantungnya seolah akan meledak saat itu juga saat melihat siapa sosok tersebut. Begitu pula sebaliknya. Dari gurat wajahnya yang lembut, ketara sekali bahwa pria itu juga kini tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya saat menyadari siapa gadis yang ada disampingnya saat ini.

‘Gadis ini….’

‘Pria ini…’

Deg… Deg.. Deg..

Secara spontan tanpa keduanya sadari, masing-masing dari mereka meletakkan tangan mereka sendiri tepat di depan dada sebelah kiri mereka masing-masing. Merasakan deguban jantung yang kini berdetak begitu tak seirama.

Waktu diantara keduanya seolah berhenti berputar saat itu juga. Keduanya sama sekali tak mendengarkan apa yang tengah dibicarakan Profesor Kim kepada mereka. Dan Profesor Kim yang sama sekali tak memperhatikan pola aneh keduanya terus saja melanjutkan perkataannya, sampai akhirnya ponsel yang ada di dalam saku celana Sehun bergetar. Menyadarkan diri pria itu dari dunia lain yang seolah baru saja menghipnotisnya.

“Oh Sehun-yang.  Mulai saat ini kau yang akan menjadi tutor bagi gadis ini sampai nilai-nilai C dalam KHS nya berubah menjadi A. Kuharap kalian berdua dapat bekerja sama,” ucap profesor Kim, dosen pembimbing Sehun yang juga ternyata merupakan dosen pembimbing gadis itu seraya menepuk-nepuk pundak Sehun ringan sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang rapat para dosen di ruang sebelah.

Sehun hanya bisa tertegun seraya mencoba mencerna apa yang dikatakan dosennya itu barusan sebelum akhirnya sadar sepenuhnya bahwa dosennya itu barusan mengatakan bahwa mulai hari ini ia resmi menjadi tutor gadis yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar keras tersebut.

Soohwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dalam diam. Mencoba menahan agar dirinya tidak berteriak-teriak atau bahkan melompat kegirangan saat mengetahui bahwa yang akan menjadi tutornya adalah pria yang sudah selama ini selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. Seorang pria yang menjadi alasan terkuat bagi dirinya untuk masuk ke dalam fakultas kedokteran universitas Inha.

*FLASHBACK*

Canada, pertengahan musim panas 2009

“NONA JUNG!!! HATI-HATI!!!” teriak seorang pria bertubuh tegap dengan setelan hitam-hitamnya sambil berlari mengejar seorang gadis yang baru saja semalam genap berusia 17 tahun itu sekuat tenaga.

“Hahaha kejar aku kalau kau bisa~” tantang gadis itu sambil menoleh melayangkan tampang meledek pada sosok pria yang sudah belasan tahun ini dijadikan sebagai bodyguard pribadi dirinya, lalu kembali menggoes pedal sepeda yang dinaikinya sekuat tenaga mencoba menghindari sosok Kevin Wu, yang kini tengah mengejarnya dengan skateboard yang tadi sempat dipinjamnya paksa dari tangahn salah seorang bocah sekolah dasar.

Melihat hal itu kontan saja , membuat Soohwa semakin mempercepat goesan pada pedal sepedanya. Menelusuri gang-gang kecil padat penduduk guna menghindari sosok sang pengawal yang sudah sejak kecil selalu menjaganya tersebut. Dan bingo! Kevin Wu kehilangan jejak sang nona muda. Membuatnya panik mencari sosoknya kesana-kemari setengah mati hingga mendapat peringatan tegas dari sang majikan. Park Shinhye. Ibu tiri Soohwa yang selama ini menjaga anak itu selama ia tinggal di Kanada.

“Hahahaha akhirnya bisa juga terbebas dari jeratan paman Wu~” pekik Soohwa kegirangan sambil merentangkan kedua tangannya dan berputar-putar saking senangnya saat menyadari bahwa sosok Kevin Wu sudah tak tampak lagi disekelilingnya.

Namun sesaat kemudian gadis itu hanya bisa terpaku saat menyadari bahwa dirinya kini berada di tempat asing yang sama sekali tak ia ketahui keberadaannya. Disekelilingnya yang ia lihat hanya ada sungai, taman, dan sebuah gedung bertingkat bergaya eropa klasik yang terlihat ramai dengan beberapa orang dari berbagai ras yang berkerumun disekitar gedung dengan barpakaian formal.

Soohwa yang penasaran pun mencoba untuk mendekat setelah memarkirkan sepedah kesayangannya di bawah salah satu pohon dekat gedung. Dengan hati-hati gadis itu mendekat, memperhatikan apa yang terjadi di dalam gedung yang di depan pintu masuknya terpampang spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG KEPADA SELURUH PESERTA SEMINAR KEDOKTERAN SELURUH DUNIA” tersebut dengan seksama. Untung saja sore itu ia memakai pakaian yang bisa dikatakan luamayan formal. Jadi pada saat dirinya menyelinap masuk kedalam pun tak ada yang menyadari bahwa dirinya bukan bagian dari para peserta seminar yang sudah dapat dipastikan mayoritas terdiri dari para mahasiswa kedokteran dari berbagai belahan dunia tersebut.

 tumblr_lu4uxzT4BL1r2g19ro1_500

Gadis itu terus saja berjalan dengan tenang dan sesekali menyapa orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengannya dengan sopan. Sampai akhirnya boots yang dikenakannya tersebut membawanya untuk berhenti di depan sebuah ruangan besar yang pintunya tak tertutup rapat.

Setelah memastikan keadaan disekitarnya aman, gadis itu mendekatkan dirinya kearah celah pintu yang terbuka untuk melihat keadaan di dalam sana. Dan seketika itu juga dirinya terpaku saat kedua matanya melihat sesosok pria berperawakan asia tengah berbicara diatas podium sambil mempresentasikan sesuatu yang tertera pada layar proyektor dengan dalam bahasa inggris yang begitu fasih, hingga mendulang berbagai pujian dari berbagai kalangan yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan tanpa sadar gadis itu pun ikut bertepuk tangan, seolah terhipnotis akan apa yang tengah dilihatnya barusan.

Hanya dengan memperhatikan presentasi yang dilakukan pria asing itu dari balik celah pintu yang tak tertutup rapat saja sukses membuat Soohwa merasa tubuhnya berdesir hebat dan jantungnya berdetak cepat seolah akan meledak.

Sejak saat itu ia tahu. Bahwa ia telah jatuh cinta.

“Ya! Siapa kau? Kenapa mengintip seperti itu?” ujar sebuah suara dalam bahasa inggris dengan nada berat. Membuat Soohwa yang tersadar langsung melarikan diri sebelum ketahuan.

—-

Sekitar dua jam lamanya gadis itu hanya duduk memandang kearah sungai –yang sama sekali tak ia ketahui namanya itu- sambil melempar-lemparkan kerikil dengan wajah bosan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang, namun dirinya masih belum pulang dan telah bertekad untuk tak akan pulang sebelum mengetahui siapa sosok yang tadi seolah telah berhasil menghipnotis dirinya hanya dengan sebuah presentasi kesehatan tadi sore?

“Hei. Kau Jung Soohwa bukan? Anak paman Jung??” tanya seorang pria berwajah asia dalam bahasa korea sambil menatap kearahnya dengan raut wajah yang seolah menunjukkan –aku-mengenalmu-dan-kau-mengenalku.

Dahi Soohwa mengernyit. Mencoba mengingat wajah yang sepertinya cukup familiar dimatanya tersebut.

“Yak! Kau melupakanku? Aku Junmyun, anak paman Kim yang selalu kau panggil ayah berkaki panjang? Bagaimana? Ingat?” pria itu tersenyum miring. Soohwa tampak berpikir keras sebelum akhirnya menepuk kedua tangannya dan lompat dari duduknya, memeluk pria yang hanya lebih tinggi beberapa senti dari dirinya itu dengan riang.

“AAAHHH!!! SUHO OPPA!!!!”

——

‘Namanya Sehun, Oh Sehun. Dia adik kelasku di fakultas kedokteran universitas Inha. Kenapa? Apa kau tertarik padanya?’

 Sepanjang perjalanan mengayuh pedal sepedahnya menuju kediaman keluarganya yang berada di salah satu kawasan elit di sebelah utara kota Toronto. Soohwa sama sekali tak bisa menyembunyikan senyumannya yang sama sekali tak bisa hilang dari wajahnya ketika mengingat apa yang dikatakan oleh seorang Oppa yang telah lama dikenalnya sebelumnya.

‘Jadi namanya Sehun? Oh Sehun? Astagaaaa SEHUNNN AKU MENYUKAIMU!!!’ jerit gadis itu dalam hati. Dengan sekuat tenaga gadis itu menggoes pedal sepedahnya, rasanya ingin sekali dirinya untuk cepat sampai kerumah dan mengatakan bahwa dirinya akan meneruskan jejak sang ayah dan kakeknya untuk menjadi seorang mahasiswa kedokteran!

*flashback end*

-My Baby-

Satu jam telah berlalu sejak Sehun memulai tutoring pertamanya pada Soohwa, di salah satu meja kosong yang agak berada agak menyudut di gedung perpustakaan universitas. Hari itu juga, begitu diperintahkan oleh Profesor Kim, Sehun dan Soohwa yang mulanya canggung langsung mencocokkan jadwal kosong mereka untuk melakukan tutoring. Dan hasilnya, keduanya hanya punya waktu 3 kali dalam seminggu yang masing-masing tak bisa lebih dari dua jam paling lama. jadi mau tak mau tutoring harus dilakukan saat itu juga selagi keduanya punya waktu kosong.

Sehun tak mau membuang-buang waktunya dengan percuma terlebih UAS tinggal sebulan lagi, jadi mau tak mau ia harus memulainya sejak saat ini juga. Meski sebenarnya dalam hati ia sangat gugup berada di dekat gadis itu. Entah mengapa ia seolah merasa tertantang sekali untuk memberikan yang terbaik demi gadis itu.

Kai hanya bisa menatap keduanya dari kejauhan dengan wajah bosan. Entah sudah berapa kali dirinya menguap sambil  berdiri di depan pintu masuk perpustakaan, menahan rasa kantuk yang selalu menderanya disaat merasa bosan. Sementara Kris tampak sama sekali tak terganggu dengan itu semua.

Mereka berdua memang sama sekali tak diperkenankan masuk oleh petugas perpustakaan karena dianggap akan mengganggu konsentrasi para pengunjung yang lain –yang tentu saja langsung disetujui oleh Soohwa dengan senang hati!

“Hyung, aku mau membeli kopi dulu, ya? Ho..amp.. Kau mau menintip sesuatu tidak?” sekali lagi pria itu menguap lebar. Matanya sudah merah menahan kantuk. Kris hanya meliriknya sebentar lalu menggeleng.

Kai mengangkat bahunya lalu beranjak meninggalkan Kris menuju mesin penjual kopi yang terletak di lobbi utama sebelum kafetaria.

Setelah kepergian Kai. Diam-diam pria jangkung berambut keemasan itu diam-diam melirik kebalik pintu kaca, menatap lekat dari kejauhan sosok sepasang mahasiswa yang kini tampak tengah tertawa kecil memperhatikan sesuatu yang ditunjuk sang namja di salah satu halam buku tebal bersampul coklat yang ada di hadapan mereka.

Meski dari jarak sejauh ini, Kris tetap dapat melihat seluruh gerak-gerik yang terjadi diantara keduanya dengan sangat jelas melalui ekor matanya. Bahkan setelah kembalinya Kai, ia masih dapat memperhatikan keduanya tanpa orang lain sadari.

Selepas dari perpustakaan universitas, Soohwa memaksa Sehun untuk bersedia menerima rasa terima kasihnya atas tutoring yang terasa begitu sangat menyenangkan dimatanya itu dengan mentraktirnya makan di Kafe Cokelat yang ada di seberang kampus. Mulanya pria itu menolak dengan mengatakan ‘tidak apa-apa’ namun gadis keras kepala itu terus saja memaksanya hingga pada akhirnya keduanya kini tengah duduk berhadapan disalah satu meja di dalam kafe yang terletak di depan universitas Inha tersebut. Menyesap segelas latte dan sepiring donat berbagai rasa sambil tertawa lepas.

Kai dengan lahapnya memakan sandwich isi barbeque dan lemonade pesanannya di meja lain yang tak jauh dari meja yang ditempati nona muda mereka. Sementara Kris tampak tenang saja memperhatikan keduanya sambil sesekali meneguk cappuchino dalam cangkir yang isi sudah nyaris tandas setengahnya tersebut.

Melihat sosok Soohwa yang tertawa lepas seperti itu jujur saja seolah membuat Kris merasa senang. Entahlah. Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat sosok sang nona muda bisa tertawa selepas itu. Namun disaat yang bersamaan ia pun merasa begitu iri akan kehadiran Sehun yang dengan dapat dengan mudahnya masuk kedalam hidup gadis itu dan berhasil membuatnya menjadi sosok yang sudah lama tak dilihatnya seperti saat ini. Sosok Jung Soohwa yang ceria dan selalu tertawa. Bukan Jung Soohwa yang hobi menggerutu dan keras kepala.

baby tbc

-TBC-

hai hallo annyeonghassaeyo!
haha maaf ya saya baru sempat datang kembali dengan lanjutan dari FF yang diposting yang ternyata udah lewat setengah tahun yang lalu ini wkwk..
*bow*
semoga masih ada yang ingat hahaha .___.v
semester 6 ternyata bener-bener nyita waktu dan setelah ff ini diposting akuu bakalan ngejalanin yang namanya KKM selama sebulan kedepan huhu TT~TT jadi mohon bantuan doanya ya supaya akuu bisa melewati masa-masa KKM ini dengan baik dan lancar *aminn!!*
buat yang mau temenan sama aku juga boleh silakan mensyen aja dia >> @yoen_da yang hobinya suka ngespam TL (?) haha :p

reader yang baik akan selalu menghargai apapun yang dibacanya 🙂

 

Iklan

5 thoughts on “My Baby.. -CHAPT: 2

  1. baru baca tp ceritanya udah menarik hati q 😀 #lebay
    ceritanya bagus, q suka 🙂
    tp hubungan antara seohyun, yonghwa, luhan sm sehun-chorong itu apa ?
    q bingung pas bacanya..
    ditunggu next chap 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s