~Still Merry Me~ “FINAL EPISODE”

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please..

and

NO PLAGIATISM!!

Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND, CN BLUE

Seo Chaehyun : Pipit

Choi Hyerin : Ami Himawari

Kim Hyunjae : Author

Kim Chaeyoung : Pyna

Kim Binwoo : cindy

—-FINAL EPISODE——

“Bagaimana, hyung? Sudah kau dapatkan alamatnya?” tanya Kyuhyun –yang sudah seminggu ini disibukkan dengan jadwal 1st Concert K.R.Y di Taiwan- begitu sampai di dorm dan menemukan Siwon tengah sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Siwon menoleh lalu menunjukkan secarik kertas padanya sambil tersenyum lebar.

“Wha! Daebak! Kalau begitu besok aku dan appa akan langsung berangkat kesana!” ujarnya semangat. Siwon menggeleng dan kembali merampas notes berisi alamat itu dari tangan Kyuhyun.

“TIDAK! Kau baru saja kembali dari Taiwan, dan kau belum latihan untuk SM Town LA yang tinggal beberapa hari lagi,” larang Siwon yang langsung dibalas tatapan tajam Kyuhyun.

“Ya! Waeyo!? Dia kan adikku! Aku harus menjemputnya!”

“Andwae, Kyuhyun-ah. Aku sudah memerintahkan beberapa anak buah Appaku untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang mereka. Lagi pula, besok pagi perusahaan akan kembali mengadakan rapat. Jika kau pergi perusahaan pasti tidak akan mengijinkannya!” Kyuhyun terdiam. Semua yang dikatakan hyungnya itu benar. Perusahaan tidak mungkin akan mengijinkannya, lagi pula semua itu belum pasti, akan sia-sia saja jika ia langsung menghampiri sepupu hyungnya itu. Continue reading “~Still Merry Me~ “FINAL EPISODE””

~Still Merry Me~ eps:12

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND, CN BLUE
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

 

 

—-part 12—–

 

“MWO? Benarkah itu hyung?” Kyuhyun menatap wajah hyungnya itu dengan tatapan takjub, begitu Siwon menceritakan soal serpihan pesawat Korean airways yang di temukan sepupunya di Inggris serta kemungkinan bahwa Hyunjae juga terdampar disana.

“Aku juga tak yakin Kyuhyun-ah, ini hanya dugaanku dan Leeteuk hyung saja. Lagi pula tak ada salahnyakan mencoba?” Siwon tersenyum bijak. Kyuhyun mengangguk, kemudia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan langsung menghubungi Appanya tentang semua ini.

“Gomawo, Appa. Ne, annyeong.” BIIPPP. Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana sambil tersenyum puas.

“Apa katanya?”

“Ia bilang ia akan mencoba kembali menghubungi temannya yang menjadi TIM SAR untuk membantunya mencari, namun ia juga butuh informasi dari sepupumu itu, hyung. Apa kau benar-benar tak tahu dimana persisnya ia sekarang?” tanya Kyuhyun penuh harap, sementara Siwon hanya menggeleng lemah.

“Coba tanyakan pada ibunya?” lagi-lagi Siwon menggeleng lemah.

“Ponsel Yonghwa sudah beberapa hari ini tak dapat dihubungi, ahjumma juga. Beliau tinggal di Amerika, jadi susah bagi kita jika ingin menemuinya.”

^0^

 

Karena adanya pembatalan serentak dari semua jadwal yang ada, seluruh member MIINA dan awaknya yang lain, dengan terpaksa kembali ke Korea. Sepanjang perjalanan hingga akhirnya tiba di Seoul, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Semuanya muram. Mereka tak habis fikir kenapa semua ini bisa terjadi begitu saja. Belum lagi, kabarnya tak hanya di Jepang saja yang mengalami pembatalan di beberapa kontrak, bahkan di Korea juga. Hal ini membuat para awak berita seolah mendapat ‘jakpot besar’ dan langsung memburu mereka serta mendatangi kantor SM.

“Sajjangnim. Sebenarnya ada apa ini?” tanya Chaeyoung to the point begitu mereka bertiga di persilakan duduk oleh Kim Young Min, CEO dari Sm entertainment.  Kim Young Min yang ditanya seperti itu hanya bisa menghela nafa berat, lalu menegakkan posisi duduknya dan menatap satu persatu anak asuhnya itu.

“Chaeyoung-ssi, Binwoo-ssi, Chaehyun-ssi, ini semua diluar kendali kami sebagai agency kalian, karena yang membatalkan seluruh kontrak adalah dari pihak mereka. Kami juga tak mengerti dengan semua keadaan yang terjadi saat ini, tapi satu yang pasti, kami semua sedang berusaha me-lobby kembali semua rekanan bisnis dan pihak media serta stasiun tv lain agar kalian tetap dapat menjalani jadwal seperti biasanya.” Jelasnya panjang lebar. “Dan, untuk sekarang, beristirahatlah kalian, nikmati hidup kalian sebelum kembali beraktivivas sebagaimana biasanya.” Chaehyun, Chaeyoung, serta Binwoo sejujurnya SANGAT tidak puas dengan penjelasannya tadi yang menurut mereka sama sekali tak menjelaskan apapun, dan dengan langkah berat merekapun meninggalkan ruangan besar yang dipenuhi oleh berbagai perlengkapan mewah itu.

“Lalu? Harus bagaimana kita sekarang?” Binwoo menatap wajah kedua eonninya itu bergantian begitu mereka keluar dari ruangan CEO Kim.

“Mollayo. Sepertinya untuk sementara ini kita diliburkan,” Chaeyoung tersenyum muram. “Jadi, beristirahatlah dongsaeng-dongsaengku sekalian. Nikmati hari libur kalian,” ia menepuk pundak kedua dongsaengnya itu perlahan lalu beranjak meninggalkan mereka yang masih menatap punggung leadernya itu dengan tatapan nanar.

“Eonni..” tatap Binwoo pada Chaehyun penuh harap. Chaehyun hanya bisa tersenyum muram lalu merangkul pundak magnaenya itu dan membawanya pergi.

^0^

 

“Ada dimana aku? Argghh..” tanya gadis itu sambil meringis memegangi kepalanya yang di balut perban, begitu sadar dari tidur panjangnya dan mendapati seorang namja –yang kini tengah menatapnya dengan penuh kebahagiaan-  dan seorang dokter serta perawat  yang langsung memeriksa kondisinya.

“Anda ada dirumah sakit, ms. Seo,” ujar sang dokter sambil tersenyum yang langsung dibalas tatapan aneh darinya. “Mr. Jung, bisa kita bicara diluar sebentar?” Yonghwa mengangguk kemudian mengikutinya dari belakang sementara seorang perawat masih sibuk mencatat dan memeriksa keadaannya.

“Kesehatan ms. Seo, sudah mulai membaik, dan sepertinya jika keadaannya terus stabil, besok ia sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya begitu mereka sudah berdiri diluar kamar perawatan.

“Thank’s,” ujarnya tanpa bisa menyembunyikan rona kebahagiaan dari wajahnya. Dokter itu mengangguk lalu berlalu pergi, sementara Yonghwa langsung kembali kedalam kamar yang kini hanya ada mereka berdua itu.

“Siapa kau?” tanya gadis itu dalam bahasa Korea begitu Yonghwa masuk dan duduk di bangku yang ada di samping tempat tidurnya.

“Aku Yonghwa. Jung Yonghwa,” ujarnya sambil tersenyum. Begitu melihat senyuman dari wajah pria yang bahkan sama sekali tak dikenalnya itu, entah mengapa jantungnya berdesir hebat.

“Jung.. Jung Yonghwa?” tanya gadis itu lagi sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa mau copot itu.

“Ne, Jung Yonghwa” Yonghwa mengangguk mantap. “Orang yang menemukanmu beberapa hari yang lalu.” Gadis itu menelengkan kepalanya bingung. Lalu tiba-tiba saja sekelebat bayangan tentang potongan-potongan kejadian yang dialaminya terakhir kali berputar kembali di otaknya. Bayangan tentang kejadian yang ia lihat terakhir kali sebelum akhirnya sadar dan menemukan dirinya sudah ada di rumah sakit. Kejadian yang sangat memilukan hati dan jiwanya.

“Kenapa melamun?” tanya Yonghwa, lembut, namun dapat menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Annio, gwenchana, Yonghwa-ssi,” jawabnya sambil tersenyum lemah. Namun entah mengapa saat ia melontarkan nama itu dari bibirnya, jantungnya justru berdegub semakin cepat.

“Ah, ya, kenapa tadi dokter dan perawat it uterus saja memanggilku dengan ‘ms. Seo’?” tanyanya bingung. Yonghwa tertegun mendengarnya. Entah apa yang harus ia jelaskan pada gadis itu.

“Yonghwa-ssi?”

“Ha?” Yonghwa tersentak. “Oh, ne, mianhae, agasshi. Karena aku tak mengetahui namamu, saat mereka menanyakan identitasmu aku bilang pada mereka bahwa namamu Seohyun,” nama yang sama dengan nama alm. calon istriku. Lanjut Yonghwa dalam hati sambil tersenyum samar. Gadis itu hanya mengangguk-angguk paham.

“Lalu. Kau? Siapa namamu sebenarnya?”

“He? Ah, namaku Hyunjae. Kim Hyunjae.”

^0^

 

“Annyeonghasaeyo,” sapa Chaehyun sambil membungkuk –seramah mungkin- ketika bertemu dengan nyonya Cho, yang tak lain adalah ibu dari Kyuhyun, kekasihnya, di salah satu restaurant di daerah Gangnam. Tadi pagi entah ada angin apa, ibu dari kekasihnya itu memintanya untuk bertemu.

“Ne, silakan duduk,” ujarnya begitu ia sudah duduk rapih di bangku yang bersebrangan dengan Chaehyun. Gadis itu mengangguk pelan, lalu kembali duduk di tempatnya semula.

“Langsung saja. Sejujurnya aku tak menyukai hubunganmu dengan Kyuhyun, anakku,” Chaehyun terdiam mendengarnya. Ia memang sudah mengetahui hal ini sejak awal. “Jadi kumohon padamu. Tolong lepaskan dia demi aku,” nyonya Cho menatap gadis yang kini tengah menunduk itu dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

Chaehyun tersenyum. Mendongakkan kepalanya. Membenarkan posisi duduknya supaya tegap, lalu menatap lurus wanita setengah baya yang kini duduk berhadapan dengannya itu.

“Mianhae ahjumma, sampai kapanpun, aku tak akan membiarkan Kyuhyun pergi dari sisiku. Karena Kyuhyun Oppa adalah jiwaku. Hidupku. Dan aku tak akan mungkin hidup tanpa dirinya disisiku,” ujarnya mantap. Nyonya Cho yang sedang meneguk teh hijau dari cangkirnya itu langsung tersentak mendengarnya.

“Maka dari itu, aku mohon ijinkan aku untuk selalu berada disisinya,” Chaehyun bangkit, membungkuk, lalu pergi dari hadapan bakal calon mertuanya itu.

“Cihh..” nyonya Cho tertawa sinis. Kemudian tersenyum.

“Anak itu.”

^0^

 

“Oppa-ya. Darimana? Bukankah hari ini kau hanya ada satu jadwal, dan itupun baru nanti malam?” tanya Hyerin saat melihat Oppanya yang baru datang itu langsung merebut Jongmi dari pangkuannya.

“Eung? Na?” Hyerin mengangguk kecil.

“Aku habis dari bandara. Mengantar eonnimu,” jawabnya santai sambil mendudukkan Jongmi keatas pundaknya.

“Aigoo~ Jongmi-ya, kau semakin berat sekarang~”

“Mwo? Chaeyoung eonni, maksudmu?” Minho mengangguk. “Kenapa dia? Kok tidak pamit?”

“Tadi kan kau kuliah. Lagi pula semuanya terjadi secara mendadak. Dia juga meminta maaf karena tidak sempat pamit padamu dan yang lainnya.” Hyerin mengangguk, mencoba mengerti. Ia fikir bahwa eonninya itu pasti pergi menenangkan diri akibat chock karena beberapa kejadian yang tiba-tiba saja menimpa grupnya itu. Padahal apa yang ada di dalam fikirannya itu tak sepenuhnya benar.

^0^

 

“Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Kyuhyun di telepon begitu mendengar kabar bahwa MIINA di-HIATUS-kan. Terdengar helaan nafas yang lumayan berat dari seberang telepon, hingga membuat Kyuhyun semakin khawatir terhadapnya.

“Gwenchana, Oppa. Pasti selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, buktinya, gara-gara kejadian ini kami –MIINA- malah dipanggil oleh SooMan sajjangnim untuk melakukan debut disana,” jawabnya bijak. Kyuhyun tersenyum lega.

“Kau sendiri? Bagaimana? Selama hiatus ini aku selalu memantaumu lewat televisi. Ingat! Kau tak boleh macam-macam dengan gadis lain!” ancamnya. Kyuhyun tertawa geli.

“Ne.. Ne.. Jagiya. Aku janji!”

“Dan ingat! Aku tak suka jika kau selalu dan terlalu dekat dengan si Yongeun ganjen itu!”

“Mwo? Ganjen??” Kyuhyun terkekeh mendengarnya. Begitu kata ‘ganjen’ disebutkan, Heechul yang kebetulan berada di van yang sama dengannya dan beberapa member lainnya itu langsung menoleh.

“Ne! GANJEN! Aku tak suka! Kentara sekali bahwa ia menyukaimu dan menginginkanmu menjadi miliknya! Kalau kau berani macam-macam, aku tak segan-segan pulang ke Korea dan langsung membantaimu dengan pedang samurai milik kakekku!”

“Ohoho.. ” lagi-lagi Kyuhyun terkekeh. “Kau mengerikan sekali, jagy! Ternyata kau lebih ‘evil’ daripada aku!”

“Hahaha. Karena hanya iblis yang mau berpacaran dengan iblis sepertimu. Kkk~” Chaehyun tertawa. Kyuhyun juga.

“Sudah ah, biaya telepon internasional disini sangat mahal. Annyeong~”

“Ne. annyeong.”

BIIP. Kyuhyun memandangi layar ponselnya yang memajang fotonya bersama Chaehyun saat mereka paertama kali jadian, beberapa tahun silam, sambil tersenyum manis.

“Ya! Ya! Siapa yang ganjen?” tanya Heechul penuh selidik yang hanya dibalas kekehan Kyuhyun.

^0^

 

“Donghae Oppa. Saat ini aku sedang ada pemotretan di Korea,” ucap seorang yeoja di telepon begitu Donghae mengangkatnya.

“Lalu?” tanya Donghae basa-basi. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri kenapa ia mau saja mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenalnya itu.

“Bisa kita bertemu?” ucapnya penuh harap. Donghae diam.

“Bagaimana? Bisa?”

“Maaf. Aku tak bisa. Aku sudah punya kekasih, jangan terlalu berharap padaku,” ucapnya pada akhirnya dan langsung mematikan sambungan telepon.

“Siapa? Vannessa kah?” tanya Leeteuk begitu Donghae langsung me-non aktifkan poselnya, membuka casing belakang dan melepas serta mematahkan sim card-nya lalu memasang cassingnya kembali dkemudian melemparnya sembarangan ke sofa.

“Siapa lagi yang terang-terangan selalu menerorku dengan gencarnya belakangan ini?” Donghae merenggangkan tubuhnya sebentar lalu masuk kedalam kamar.

“Ck.ck.ck dasar wanita itu,” gumam Leeteuk begitu Donghae sudah masuk kedalam kamarnya.

“Tenanglah Donghae-ya. Aku berjanji akan menemukan Hyunjae untukmu,” ucapnya pelan sambil tersenyum.

^0^

 

Sudah beberapa hari ini setelah Hyunjae keluardari rumah sakit, ia tinggal bersama Yonghwa di rumahnya yang berada di tepi pantai Thanet, atas paksaan dari Yonghwa tentunya. Hyunjae yang leher, kaki kiri serta tangan kanannya masih di gips itu mau tak mau menurutinya, lagi pula ia tak tahu harus kemana saat itu, dan ia juga tak memegang uang sedikitpun karena dompet serta barang-barangnya pasti sudah raib dan hanyut entah kemana setelah kejedian pesawat waktu itu.

“Hyunjae-ssi, makan dulu. Ayo buka mulutmu,” pinta Yonghwa. Hyunjae yang tangannya masih di gips dan tak mungkin untuk makan dengan tangan kirinya itu akhirnya menuruti permintaan Yonghwa yang terus menerus menyuapinya makanan hingga makanan yang ada di piring habis tak bersisa.

“Anak baik!” Yonghwa tersenyum puas sambil menepuk-nepuk puncak kepala Hyunjae pelan. Lagi-lagi, jantungnya berdegub kencang. Entah mengapa, ia seperti merindukan sesuatu, merindukan perlakuan Yonghwa barusan terhadapnya. Entah mengapa ia merasa ia seperti pernah diperlakukan demikian oleh Yonghwa. Dan tanpa ia ketahui, jantung Yonghwa pun berdegub dengan cepatnya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat itu, yang pasti saat ia menyuapi Hyunjae hingga akhirnya menepuk-nepuk puncak kepalanya barusan. Ia seperti melihat sosok Seohyun di hadapanya.

“Perasaan apa ini?” gumam keduanya dalam hati sambil memegangi dada kirinya masing-masing. Tanpa mereka ketahui.

Hyunjae mendorong kursi roda automaticnya menuju teras belakang rumah Yonghwa yang berhadapan langsung dengan bibir pantai. Ia memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati angin pantai yang membawa keteduhan baginya. Perlahan dibukanya kedua matanya dan menatap jauh ke laut. Dengan seperti ini –melihat laut, mendengar deburan ombak dan hembusan angin pantai- membuatnya rindu dengan sosok seseorang. Seseorang yang ia kenal sanagt menyukai pantai. Seseorang yang selalu menjuluki dirinya sebagai ‘ikan’ atau ‘fishy’. Lee Donghae. Ia sangat merindukan pria itu. Ia sangat merindukan tatapan lembutnya, senyuman hangatnya, dan berbagai perlakuan yang dapat membuatnya melayang. Perlahan tangan kirinya terangkat, memegangi lehernya, mencoba meraih sesuatu.

“Loh?” tanyanya kebingungan karena tangannya tak menemukan sesuatu yang semestinya sampai saat ini masih tergantung di lehernya.

“Kemana kalung itu??” pekiknya panic, lalu kembali mendorong kursi rodanya kedalam rumah, mencoba mencari di setiap sudut rumah yang pernah ia lalui. Tapi nihil. Kalung  berbentuk hati itu tak juga Nampak.

“Apa benda itu juga ikut hilang saat kecelakaan terjadi?” gumamnya lirih. “Ya tuhan. Kemana kalung itu pergi?”

Sementara itu, setelah menaruh piring makan Hyunjae, Yonghwa langsung berlari masuk kamarnya yang ada di lantai 2 dan menutup pintunya keras. Saking kerasnya ia menutup pintu, sebuah paper bag yang ia letakkan di atas meja yang ada di samping pintu terjatuh dan membuat beberapa barang yang ada di dalamnya berserakan di lantai.

Yonghae diam, menatap barang-barang yang memenuhi lantai kamarnya itu. Matanya kini tertuju pada sebuah dompet berwarna kuning gading yang waktu itu sempat akan ia lihat isinya saat di rumah sakit tempo hari. Perlahan dibukanya dompet yang beriskan beberapa kartu kredit itu dan langsung mengeluarkan passport dari dalamnya, kemudian membacanya.

Name : Cho Hyunjae/Amanda Cho

Mata Yonghwa langsung membelalak kaget begitu melihat data yang terpampang disana.

“Cho Hyunjae?? Bukankah ia bilang namanya Kim Hyunjae?” Ia diam. Berfikir. Sepertinya ia sangat familiar dengan nama ini. Tapi dimana?

Saat ia baru akan mengembalikan paspor itu kedalam dompet, sebuah foto menyembul keluar dari salah satu saku dompet. Ditariknya foto tsb, dan dilihatnya sepasang manusia yang tengah tersenyum bahagia di foto itu. Foto itu tak begitu jelas, karena hanya di terangi oleh terang cahaya lilin yang bersal dari kue tart yang ada di depan mereka, namun yang ia tau pasti, gadis yang ada di foto tsb adalah Hyunjae. Dibalik foto itu, terdapat sebuah tulisan, ia pun membacanya dengan seksama.

 

At Mokpo

Aiden Lee & Amanda Kim

 3rd Anniversarry

\^0^/ everlasting love \^0^/

 

Dahi Yonghwa berkenyit. Entah mengapa ia merasa hatinya seolah teriris sembilu. Matanya kini beralih pada sebuah kalung perak berliontin hati yang kini sudah ada dalam genggamannya. Dan hatinya semakin sakit saat membaca sebuah nama yang  terukir indah di belakang liontin kalung tsb. Aiden Lee.

 

“Yonghwa-ssi..” panggil Hyunjae dari bawah. Buru-buru ia membereskan semua barang itu ketempatnya semula. Saat ia mearuhnya ke atas meja, mata menangkap sebuah benda berwarna putih yang tergeletak di samping majalahnya.benda yang sudah beberapa hari ini ia lupakan kehadirannya.

“Yonghwa-ssi..” panggil gadis itu lagi. Tanpa fikir panjang ia langsung mengambil benda tersebut dan membawanya keluar.

“Ne? Wae guraeyo, Hyunjae-ssi?” tanyanya saat melihat Hyunjae yang kini memandangnya dengan tatapan penuh harap.

“Boleh aku meminjam telponmu, untuk menghubungi keluargaku, Yonghwa-ssi?”

“Oh, ne silakan saja, Hyunjae-ssi,” ucapnya yang langsung dibalas ribuan ucapan terimakasih dari Hyunjae. Yonghwa mengangguk lalu berjalan keluar, menuju teras.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi,” jawab operator begitu Hyunjae mencoba menghubungi nomor Donghae. Ia tak putus asa, berkali kali ia menghubungi satu-satunya nomor yang ia hapal diluar kepala itu.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Lagi-lagi operator yang menjawab panggilannya. Ia putus asa. Bingung, mau menghubungi siapa lagi, karena hanya nomor Donghae yang ia hapal, sedangkan nomor yang lainnya ada di ponselnya yang entah sudah kemana.

“Aigoo-ya, ikanku, kemana kau??” gumamnya lirih sambil menatap wireless phone yang ada di genggamannya dengan tatapan nanar.

Diluar, diam-diam Yonghwa terus menatap Hyunjae yang terlihat murung dari balik jendela dengan perasaan campur aduk. Jujur saja sebenarnya ia tak suka saat melihat foto gadis itu dengan pria lain dan bahkan ia juga suka saat melihat gadis itu meminta ijinnya untuk menghubungi seseorang. Ia tak rela jika akhirnya gadis itu pergi dari sisinya.

                                                                                                  

^0^

Sudah hampir satu bulan seluruh anggota MIINA berada di Amerika dan berusaha mempromosikan album mereka disana. Semua rencana yang di berikan Lee Soo Man, pemilik SM yang sekarang sibuk mengurusi cabang Amerikanya itu, berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Semua member MIINA disibukkan oleh padatnya jadwal promosi yang gencar mereka lakukan di hampir setiap acara tv dan radio. tak ada lagi kasus pembatalan kontrak yang terjadi saat mereka di Jepang dan pemutusan kontrak seperti di Korea. Semua berjalan sesuai rencana.Dan, karena sibuknya jadwal, membuat setiap membernya hampir tak sempat untuk sekedar menghubungi keluarga atau kekasihnya masing-masing.

“Sudah sekitar 1 bulan lamanya, kalian meninggalkan Korea dan sibuk melakukan promo di Amerika. Pasti ada seseorang yang kalin rindukan di Korea. Jika ada, siapa orang itu?” tanya Oprah, saat sesi tanya jawab di acara anyarnya The Oprah Winfrey Show, dimana MIINA jadi bintang tamunya.

“Ya, sudah sekitar 1 bulan lamanya kami melakukan debut dan berbagai promosi di Amerika. Sebagai seorang manusia, tentu kami juga memiliki kehidupan pribadi diluar sana, dan pastinya kami juga memiliki seseorang yang kami rindukan,” ujar Chaeyoung yang tak lupa menunjukkan wibawanya sebagai seorang leader. Oprah tersenyum.

“Lalu jika boleh tahu, siapa orangnya? Dimulai dari Chaehyun,” ia melemparkan senyumannya pada Chaehyun yang malam itu mengenakan dress selutut berwarna coklat muda.

“Tentu saja aku amat merindukan teman-teman dan semua orang yang selama ini telah mendukungku diluar sana,” ucapnya singkat dan diakhiri dengan senyuman.

“Hanya teman-teman?” tanyanya meyakinkan. Chaehyun mengangguk pasti.

“Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Salah satu personil boy band fenomenal Korea, Super Junior? Kudengar ia adalah kekasihmu?” tanya Oprah dengan tampang menggoda, Chaehyun blushing, sementara member dan penonton yang lain langsung tertawa.

“Apa dia tak termasuk?” godanya lagi.

“Eh? Ah, ya, dia juga termasuk kedalam orang-orang yang selalu mendukungku,” Cahehyun tersenyum malu. Camera kini focus kepadanya. “Yang pastinya aku rindukan,” tambahnya lagi yang langsung di sambut tawa dan tepukkan tangan dari penonton. Oprah tersenyum lebar.

“Nah, beralih padamu, Chaeyoung,” ia mengambil contekan naskahnya dan membacakan riwayat Chaeyoung sekilas.

“Leader dari MIINA. Siapa yang kau rindukan?” Chaeyoung tersenyum.

“Tentu saja aku sangat merindukan suamiku, Minho, adik dan kakak iparku, seluruh keluargaku, teman-teman, serta semua orang yang selama ini selalu mendukung langkahku, mendukung langkah kami, MIINAmist Korea yang setiap hari selalu menyambangi dorm ataupun kamtor SM untuk sekedar menyapa dan bahkan memberikan kami bekal makanan, dan berbagai hal lainnya. Aku sangat merindukan semua hal tsb,” jelas Chaeyoung mantap yang langsung disambut tepukan hangat penonton. Oprah tersenyum puas.

“Tadi kau menyebutkan bahwa kau merindukan suamimu, Minho.” Chaeyoung mengangguk, “Kau dan suamimu adalah member dari grup idola yang sangat di idolakan tak hanya di negara asal kalian, tapi juga bahkan diseluruh dunia. Apa yang menjadi pertimbangan kalian hingga akhirnya kalian memutuskan untuk menikah? Bukankah hal itu bisa saja membuat pamor kalian merosot? Dan apakah kalian tak tertekan karena masalah ini?” Lagi-lagi Chaeyoung mengangguk mengiyakan.

“Ya, benar. Kebetulan kami berasal dari member grup idola yang sangat popular dan memiliki fandom yang fanatic terhadap satu sama lainnya. Awalnya kami merasa hal ini akan sulit diwujudkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, kami bisa mengatasi segala persoalan yang ada, dan kamipun menikah setelah merasa SHAWOL serta MIINAmist sudah dapat menerima hubungan kami,” ucapnya tenang. “Untuk masalah pamor, kami tak munafik, kekhawatiran soal turun pamor pasti ada. Namun,  jika melakukan sesuatu pasti akan ada resiko yang harus dihadapi. Dan resiko itulah yang mungkin akan kami hadapi jika kami memutuskan untuk menikah saat itu. Dan kamipun berkaca pada apa yang dihadapi Leeteuk Oppa, saat ia menikah dengan Hyerin, adik Minho. Dan terbukti pamornya justru makin meningkat tajam jika dibandingkan saat ia belum menikah. Karena itu kami yakin, jika sesuatu sudah dikehendaki oleh tuhan pasti akan ada jalan keluar. Maka dari itu, kami mebulatkan tekat kami berdua untuk menikah.” Jelasnya panjang lebar dan penuh dengan keyakinan. Seluruh penonton dan bahkan Oprah sendiri memberikan standing applause untuknya, tak ketinggalan kedua member MIINA ynag lainnya.

“Jawaban yang sangat bagus, Kim Chaeyoung,” puji Oprah ketika ia sudah kembali duduk di bangkunya.

“Dan tadi kau menyebutkan bahwa kau berkaca pada Leeteuk?” Chaeyoung mengangguk.  “Bisa dibilang kau menikahi keluarga yang sangat hebat dan popular,” ujarnya lalu memandang kearah audience yang hadir. “Benar bukan?”

“Benar,” jawab seluruh audience yang ada –yang sebagian besar adalah MIINAmist U.S- kompak. Oprah tersenyum dan kembali menatap Chaeyoung.

“Ayahmu seorang diplomat, ayah mertuamu adalah seorang kepala polisi daerah yang sangat terpandang dan di segani di Korea,” ketiga member MIINA mengangguk mengiyakan. “Suamimu adalah seorang anggota dari boy band terkenal, SHINEE, kakak iparmu, Choi Jonghun, adalah gitaris, pianist, sekaligus leader dari grup band terkenal, FT Island, dan terakhir, suami dari adik iparmu adalah seorang Leeteuk, leader dari super boy band fenomenal, Super Junior. Bagaimana rasanya berda di tengah-tengah keluarga popular seperti itu, miss Chaeyoung?”

“Rasanya?” Oprah mengangguk. “Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, aku senang hidup ditengah-tengah mereka semua,” jawabnya yang diakhiri dengan senyuman yang sangat lebar. Oprah tersenyum puas.

“Aku suka gayamu, Leader Kim!” serunya yang langsung disambut tawa audience.

“Yang terakhir,” ia kembali membuka contekan naskahnya. “Kim Binwoo, si bungsu.” Binwoo tersenyum.

“Sebagai seorang bungsu atau ‘magnae’ di grupmu, apakah kau sedang merindukan seseorang saat ini?”

“Tentu!” serunya bersemangat, hingga membuat seluruh audience termasuk Oprah tertawa.

“Wah, kau sangat energik ya, nona Kim,” goda Oprah yang langsung dibalas senyum malu-malu dari Binwoo.

“Karena aku adalah lead dancer dalam grup ini, sudah semestinya jika aku selalu bersemangat. Dan bisa dibilang, dalam grup ini, akulah orang yang paling bersemangat dalam hal apapun,” ujarnya polos. Oprah kembali tersenyum.

“Lalu siapa yang saat ini sedang kau rindukan, nona Kim?” tanyanya lagi. Binwoo diam, terlihat sekali kalau dia sedang berfikir.

“Aku?” Oprah mengangguk. “Sebagai anak yang baik, tentu aku selalu merindukan kedua orang tuaku yang ada disana, keluarga besarku, MIINAmist, Jongwoon, serta anak-anakku,” jelasnya singkat.

“Anak-anakmu?” tanya Oprah tak percaya. Binwoo mengangguk mantap.

“Maksudmu?”

“Ia, aku sangat merindukan kelima anakku, Ddangkoma, Ddangkoming, dan Ddangkomee, Ddangkomeng, dan Ddangkomang,” jelasnya antusias.

“Eh? LIMA?” pekik Oprah tak percaya. Binwoo mengangguk mengiyakan, semetara Chaehyun dan Chaeyoung tertawa geli.

“Lima anak yang ia maksud itu adalah kelima kura-kura peliharannya dan Yesung, kekasihnya. Dan mereka berdua menyebut kura-kura tersebut sebgai anak mereka,” jelas Chaehyun, meluruskan. Chaeyoung mengangguk.

“Yang tig adalah milik Yesung Super Junior, kekasihnya, sementara dua lainnya adalah miliknya. Dan kelimanya saat ini tengah dirawat Yesung Oppa, di dorm-nya,” tambah Chaeyoung yang langsung disambut helaan nafas lega dari semua orang yang ada.

“Ya tuhan, jantungku hampir saja copot!” Oprah mengelus-elus dadanya pelan sementara Binwoo terkekeh kecil.

^0^

BIIP..

 

Youngeun langsung mematikan tv dan membuang remote kontrolnya, kesal. Moodnya yang semula sedang bagus mendadak berubah saat tak sengaja ia menonton siaran luar negeri favoritnya, The Oprah Winfrey Show, yang ternyata menayangkan rivalnya, Chaehyun, dan member MIINA yang lain. Ia kesal setengah mati karena semua rencana untuk menghancurkan MIINA yang semula ia kira berhasil, ternyata malah GAGAL TOTAL! Langkah debut mereka di Jepang memang berhasil di jegal, namun tak ia kira bahwa MIINA malah banting stir dan melakukan debut di Amerika yang skalanya sudah Internasional. Sebuah langkah yang bahkan belum terfikirkan olehnya.

“KEPARAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya sekencang mungkin. Saking kencangnya teriakan yang ia buat, membuat Teppei yang sedang asik tertidur di kamarnya langsung terbangun.

“YA!! Diamlah kau sedikit!!” pekiknya kencang dari lantai atas. Bukannya diam, Youngeun malah semakin berteriak kencang sambil mengacak-acak sofa dan barang-barang lainnya yang ada di ruang tengah. Teppei yang melihatnya dari atas langsung berlari turun dan menarik lengan gadis itu dan membawanya keluar dari rumah, menuju taman belakang.

“YA!!” bentaknya yang berhasil membuat Youngeun terdiam.

“Ada apa, huh? Kenapa kau berteriak-teriak dan mengacak-acak semua barang seperti orang gila!?” Youngeun menatap wajah Teppei tajam.

“YA! Oppa! Kalau kau tak suka, kau malu, pecat saja aku sebagi adikmu!” pekiknya kesal. Teppei yang tak lain adalah kakaknya langsung menatapnya dengan tatapan aneh.

“Ya! Ya! Wae gurae!!?”

Begitu Youngeun menceritakan semuanya pada kakaknya itu, Teppei langsung menarik Youngeun masuk kedalam mobil Ferrari kuning miliknya dan membawanya menuju salah satu restaurant mewah tempat ia membuat janji dengan ibu mereka. Sesampainya di hotel, mereka langsung masuk kedalam hotel dan menaiki lift, menuju lantai 2, tempat dimana sebuah restaurant yang sudah ibunya pesan berada.

^0^

Yonghwa langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok, tubuhnya merosot kebawah karena kakinya terus bergetar hebat dan tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Wireless phone yang sedari dalam genggamannyapun terhempas jatuh ke lantai. Tubuhnya berguncang hebat. Derai air mata dangan derasnya keluar membasahi kedua pipinya yang putih pucat.

“Seohyunnie..” lirihnya.

^0^

 

“Hyunjae-ssi,” panggil Yonghwa saat mereka berdua tengah menikmati pemandangan malam pantai Thanet lewat teras samping rumah Yonghwa yang didesain seperti balkon hotel bintang lima itu. Hyunjae menoleh, menatap Yonghwa sambil tersenyum tipis. Tanpa gadis itu ketahui, sebuah desiran hebat kini melanda jantung pria yang duduk disampingnya itu.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

“Silakan, Yonghwa-ssi. Ada apa?”

“Siapa namamu sebenarnya?” Hyunjae menatap Yonghwa dengan tatapan aneh, lalu tersenyum sambil menatap lurus keatas, memandangi langit malam Thanet yang saat itu dipenuhi oleh cahaya bintang –gips yang menyanggah leher dan tangan serta kakinya kini sudah tak ada. Dokter telah melepasnya beberapa hari yang lalu, jadi ia dapat dengan leluasa menengadah memandangi langit.

“Namaku yang sebenarnya adalah Kim Hyunjae, namun setelah kedua orang tuaku meninggal, aku di angkat anak oleh sahabat dari ayahku sendiri, dan mereka mengganti margaku dengan marga yang sama dengan mereka. Cho. Tapi karena semua orang mengenalkan dengan marga Kim, aku selalu memakainya dan untuk marga Cho, hanya aku gunakana dalam dokumen-dokumen resmi saja,” jelasnya tanpa menatap Yonghwa yang terus memperhatikannya.

“Lalu nama baratmu?” tanya Yonghwa dengan nada bergetar. Namun deburan suara ombak yang sangat keras mampu menyembunyikan getaran tsb.

“Amanda. Amanda Cho.”

PRANGGG

 

Gelas yang ada di genggaman Yonghwa jatuh dan pecah berkeping keping. Hyunjae menoleh, menatap Yonghwa yang kini seluruh tubuhnya sudah berguncang hebat.

“Biar aku saja!” bentaknya saat Hyunjae hendak membersihkan serpihan kaca yang ada. Hyunjae terdiam. Baru kali ini pria itu membentaknya. Yonghwa berjongkok, membersihkan pecahan kaca yang berserakan itu.

“Arggh!” erangnya saat tanpa sengaja sajah satu jarinya terkena serpihan kaca dan mengeluarkan cukup banyak darah.

“Yonghwa-ssi!!” pekiknya saat melihat darah segar keluar dari jari Yonghwa.

“Gwenchana!” tolaknya lalu berlari masuk kedalam ruamah, meninggalkan Hyunjae yang masih menatapnya dari kejauhan.

Ia langsung melempar pecahan kaca itu kedalam bak samapah dan langsung menyalakan keran air di wastafel dapurnya, membiarkan air keran membersihkan darah pada tangannya yang terluka. Air mata tak mampu lagi ia tahan dan kembali tumpah membasahi wajahnya. Tubuhnya berguncang hebat, dan akhirnya ia memutar posisi tubuhnya dan membiarkan tubuhnya itu merosot, menyandar pada dinding dapur, di sebelah wastafel.

*FLASHBACK*

 

Diluar, diam-diam Yonghwa terus menatap Hyunjae yang terlihat murung dari balik jendela dengan perasaan campur aduk. Jujur saja sebenarnya ia tak suka saat melihat foto gadis itu dengan pria lain dan bahkan ia juga suka saat melihat gadis itu meminta ijinnya untuk menghubungi seseorang. Ia tak rela jika akhirnya gadis itu pergi dari sisinya.

Sebelah tangannya merogoh kantong celana dan mendapati ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam kamar, yang kini dalam keadaan mati itu. Di tekannya tombol berwarna hijau yang terletak di tepi bawah pada layar ponselnya, tak lama terdengar suara sambutan dan disusul dengan logo ponsel miliknya. Ternyata ponselnya itu tidak rusak, atau kehabisan baterai, tapi mati karena benturan saat terjatuh waktu itu.

Yonghwa tersenyum menatap layar ponselnya yang memajang foto dirinya bersama Seohyun saat mereka fitting baju pengantin beberapa tahun silam di salah satu butik dari perancang kenamaan Hollywood, di daerah Manhattan.

DRRTT… DRRTT…

 

Tiba-tiba saja ponselnya itu bergetar hebat. Panggilan masuk. Siwon hyung.

“Ne, hyung?”

“YA!!!!!!!!!!” pekik Siwon tiba-tiba, Yonghwa langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.

“Kemana saja kau huh!? Berminggu-minggu ku hubungi tak pernah aktif!” cecarnya. Yonghwa kembali mendekatkat ponsel flip miliknya it ke depan telinga.

“Mianhae, hyung. Ponselku rusak,” kilahnya. “Ada apa?”

“Ada apa katamu? Hey, aku hanya ingin minta bantuanmu. Kau kan bilang waktu itu menemukan seorang gadis  yang sepertinya terdampar di pantai. Bagaimana cirri-cirinya?” tanya Siwon to the point. Yonghwa terkesiap, lalu kembali menatap Hyunjae dari kejauhan.

“Dia benar-benar mirip dengan Seohyunnie-ku, hyung,” lirihnya yang dibalas helaan nafas panjang Siwon.

“Waeyo?”

“Anni, aku hanya ingin bertanya saja. Aku curiga jika gadis itu adalah salah satu korban dari kecelakaan pesawat yang terjadi sekitar sebulan yang lalu,” Yonghwa masih menatap Hyunjae dari kejauhan dengan tatapan sendu. “Jika benar begitu, berarti ada harapan bagi kami bahwa adik Kyuhyun masih hidup.”

“Me-memang siapa namanya?” tanya Yonghwa hati-hati.

“Hyunjae. Cho Hyunjae,” Yonghwa menghela nafas lega. Karena berarti bukan Hyunjae yang ada dirumahnya yang Siwon maksud. “Jika kau menemukannya atau mendengar sesuatu tentangnya tolong beritahu kami, ya?”

“Ne, hyung, pasti.”

“Ah, ya, sekarang kau tinggal dimana? Aku ingin mengirim paket untukmu, tapi tak tahu alamatmu.”

^0^

 

“Yonghwa-ssi, kau beristirahatlah dikamar, biar aku yang masak untuk makan, malam ini,” Hyunjae mendorong-dorong tubuh Yonghwa yang lebih besar dan lebih tinggi darinya kedalam kamarnya di lantai dua.

“Shireoyo! Gipsmu kan baru saja di lepas tadi siang, lagi pula kau kan tak bisa memasak!” sergahnya sambil menahan tubuhnya agar tak berhasil didorong oleh gadis yang bertubuh mungil itu kedalam kamarnya.

“GWEN-CHA-NA-YO! Aku bisa masak! Serahkan saja semua padaku!” dengan sekuat tenaga ia mendorong Yonghwa masuk kedalam kamar dan menguncinya dari luar. “Bertahanlah di dalam Yonghwa-ssi, sampai makanannya siap!” serunya lalu berlari ke bawah, menuju dapur. Yonghwa tertawa kecil menghadapi tingkah gadis aneh yang mengurungnya di rumahnya sendiri itu.

“AAHHH~~” ia menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.

DRRTT.. DRRTTT..

 

Ponsel yang selalu ia taruh di dalam saku celananya itu bergetar hebat. Panggilan masuk. Eommonim. Dengan segera ia bangkit dari tidurnya. Membenarkan intonasi suaranya, baru setelah itu mengangkatnya.

“Yobsaeyo,” sapanya ramah dan penuh hormat. Maklum, yang menghubunginya saat ini adalah ibu dari alm. Seohyun, kekasihnya, yang amat ia hormati.

“Ne, yobsaeyo. Yonghwa-ya! Sombong sekali kau, sampai-sampai tak pernah menghubungi kami disini.”

“Ne, mianhae, eommonim. Aku sedang sibuk mengurusi kuliahku disini,” jawabnya setenang mungkin.

“Janji? Ayah sangat rindu padamu. Ia bilang ia ingin bertemu dengan anak lelakinya.”

“Ne, lain kali jika aku kembali ke Amerika pasti aku akan mengunjungi kalian.”

“Ah, ya, mianhae Yonghwa-ya. Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu padamu..” ucap wanita setengah baya itu dengan suara lirih. “mengenai Seohyun.”

“Apa itu eommonim?” Dada Yonghwa berdesir hebat saat mendengar nama Seohyun kembali disebut.

“Err.. Itu, sebenarnya, saat Seohyun meninggal, ia memberikan wasiat bahwa ia akan mendonorkan jantungnya pada seseorang,” deg. Jantung Yonghwa seolah berhenti berdetak mendengarnya. Berarti saat di pembaringannya yang terakhir, Seohyun, gadisnya itu terlelap tanpa jantung di dalam tubuhnya?

“Kami juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, saat kami berniat membereskan kamar Seohyun. Dan saat itu kami menemukan sebuah surat yang ia tujukan kepadamu, dan pada kami. Dan surat untukmu sudah ku kirim beberapa hari yang lalu. Apa kau sudah menerimanya?” Yonghwa langsung loncat dari tempat tidur menuju meja belajar. Di tasnya memang ada beberapa surat yang sama sekali belum ia sentuh. Ia mengacak-acak seluruh surat yang ada, mencoba mencari surat yang dimaksud.

GOTCHA! Sebuah amplop berwarna baby pink, bertuliskan namanya berhasil ia temukan diantara puluhan surat yang ada.

“Ne, eommonim, aku sudah menerimanya.” Wanita itu menghela nafas pendek.

“Jika kau membacanya, kuharap tabahkan hatimu, nak. Dan ku harap kau tak akan membenci gadis itu. Karena ia tak tahu apa-apa.”

*FLASHBACK END*

 

Tak henti-hentinya Yonghwa menumpahkan derai air mata kesedihan yang selama ini selalu ia tahan dan berusaha tegar di hadapan orang-orang. Sebelah tangannya menyelusup masuk kedalam saku hoodie yang ia kenakan. Sebuah kertas surat berwarna baby pink ia kelaurkan dari dalam dan ia kembali membacanya dengan seksama.

To : Yonghwa seobang~~

 

Heyy nae seobang,, apa kabarmu?

Hoho,, kuharap kau dalam keadaan baik-baik saja ya,  ^0^

Jika kau membaca isi surat ini, berarti saat ini aku sudah tenang di surga..

Ku mohon jangan tangisi kepergianku ya..: )

 

Seperti yang telah kau ketahui sebelumnya,, aku menderita tumor otak.

Kau tahu? betapa sukanya aku pada dirimu dulu? Rasa sukaku padamu dulu bahkan melebihi rasa sukaku pada ‘keroro’ 😛 . hehe

Dan saat kau menyatakan perasaanmu padaku, aku sangat senang setengah mati! saking senangnya aku bahkan tak bisa tidur semalam suntuk. Namun, kebahagianku itu langsung pudar saat tiba-tiba saja aku jatuh pingsan dan dokter mevonisku menderita kanker otak. Sejak saat itu aku berusaha menghindarimu, tapi ka uterus saja mendekatiku dan meyakinkanku bahwa kau akan menerimaku apa adanya.. selang 2 tahun kemudian, kau melamarku. Kau bilang kau akan selamanya menjagaku.

Kau tahu betapa senangnya aku saat itu? Rasanya bahkan lebih menyenangkan dari saat eomma memberikan adik untukku! >.<

Pokoknya aku sangat bahagia!!!!!!!!!!

Setelah hari itu kita sibuk mencari gedung, memilih eo, undangan, pakaian pengantin dan juga gereja yang sesuai dengan keinginan kita. Dan aku sangat tak sabar menantikan hari pernikahan kita itu!

Tapi, tepat saat hari pernikahan kita. Saat semua orang sudah ramai memenuhi gereja yang telah kita pilih, saat orang tua kita berdua dan bahkan sepupu kesayanganmu yang super sibuk itu sudah duduk manis di tempatnya, saat pendeta mulai mengucapkan kata-kata pengantarnya.. aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku. Kepalaku terasa sakit sekali! Dan tepat disaat aku akan mengucapkan janji dan sumpah setia itu di depan altar,,, pandanganku mulai gelap.

Saat itu, aku berfikir, bahwa aku pasti akan mati saat itu juga..

Tapi, ternyata aku salah! Tuhan berkata lain. Dia memberikanku kesempatan untuk berpamitan pada kalian terlebih dahulu.

Ah, ya.. kau tahu? saat aku sadar dari tidurku, aku melihat seorang yeoja yang sepertinya masih lebih muda dari diriku tengah di dorong dengan kursi rodanya oleh seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. Saat itu aku langsung bertanya kepada suster.

“Siapa gadis itu?”  suster itupun menjelaskan semua tentangnya.

Gadis yang ternyata kamar rawatnya berada disamping kamarku itu bernama Amanda Cho, dia menderita penyakit Jantung, dan sedang menunggu untuk operasi donor jantung. Suster itupun bercerita bahwa gadis itu jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk menunggu pendonor Jantung yang cocok dengan jantungnya. Mendengarnya, membuatku tertarik padanya..

Tertarik untuk mendonorkan jantungku yang masih berfungsi dengan baik ini.

Setidaknya, jikalau aku memang harus pergi dari dulia ini, aku masih bisa mengamalkan sesuatu untuk membantu orang lain. Dengan latar kemanusiian. Lagi pula, dengan begitu, berarti meski aku sudah tak ada di dunia ini, jantungku masih tetap berdetak.

Kuharap, gadis yang bernama Amanda Cho itu dapat menerima jantungku dan merawatnya dengan sangat baik. Jadi, jika suatu saat nanti, kau bertemu dengannya, setidaknya kau dapat merasakan keharanku disisimu. : )

Ku harap kau tak membencinya, dan perlakukanlah dia sebagimana kau memperlakukanku. Karena jika kau menyakitinya, itu sama saja dengan kau menyakitiku! ARRASEO!?

Hhe.. 😛

 

Dan,, jangan lupa. Carilah seseorang yang dapat mengisi kekosongan di hatimu dan menggantikan diriku di sampingmu. Jangan sia-siakan hidupmu yang masih panjang hanya untuk menangisi kepergianku.

 

saranghae

-Seo JuHyun

                                                                                                  

Diremasnya kertas surat berwarna baby pink itu dengan sebelah tangan. Air matanya kembali pecah. Ia menggigit bibir bawahnya, mencegah agar suara rintinhannya tak terdengar oleh Hyunjae.

“Jadi benar.. Dia.. Dia adalah orang yang sama dengan yang Siwon maksud.. Dan dia juga yang menjadi penerima jantung Seohyun,” ujarnya pilu.

>>>TBC

~mrs.ChoiLee 

Yesss” part 12 dah beres!!! *goyang bonamana*

mian kalo byak typo –” author males ngedit ulang #plakk

Part depan FINAL EPISODE ya,,

Ehh iyya,, author mu curhat dikit ni,, pas bikin part ini bsok paginya bibir author yang malah sobek!

Huweee >.<

Sakit bget rasanya! Gga tau gara” apaan,, bangun tdur ud penuh darah.. huhu

Mungkin karma ud bikin anak orng bibirnya pada sobek di FF #plakk

 

Jangan lupa.. komentar! n mention aja ke @yoendaELF

~GOMAWO~~

*bow*

~Still Merry Me~ part: 11

Seperti janjiku kemarin,, mulai sekarang SMM aku jadwal terbit setiap hari selasa.
Berhubung waktu pas polling byk yang minta SMM sampe 13 part, ini aku kabulin,, akhirnya setelah pusing-pusing meres otak mpe kepala cenat-cenut #plakk, akhirnya part 11 beres juga, dan 2 part kedepan adalah last part.
Diharap dengan sangat bagi para readers yang udah baca untuk ninggalin jejak.
Kalau ada pertanyaan kritik atau saran silahkan di komentar saja, insylah bakal author tamping.
N kalau mungkin agak susah untuk komentar di wp, silakan mention aja ke @yoendaELF
Bagi yang mau follow juga silakan saja, tpi sebelumnya mention dlu klo mu di folback, soalnya twitku itu aga’ eror.
Oke yeorobeun? 😉

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

—part 11—

“Eonni-ya!!” pekik Binwoo keras begitu membuka pintu kamar Chaehyun sehingga membuat si empunya kamar yang masih asik bergelung dibawah selimut mau tak mau semakin membenamkan tubuhnya itu kedalam karena bising.
“Eonni… Eonni… Eonni….” Kali ini Binwoo sudah duduk diatas tempat tidur Chaehyun dan mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan ganas. Tapi bukannya bangun, Chaehyun malah semakin menggelung tubuhnya kedalam selimut.
“Aish.. Eonni~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~” pekiknya dengan suara super nyaring. Continue reading “~Still Merry Me~ part: 11”

~Still Merry Me~ eps. 10

Anyyeonghasaeyo yeorobeun~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Long time no see!! >.<
Missing me??? #plakk
Mianhae”.. jeongmal mianhae.. *nyanyi sorry” answer* kemaren author UAS,, berhubung materinya berat banget,, seberat pretty asmara *ditampol* jdi aq mohon H.I.A.T.U.S sbentar.. *niatnya* eh malah jadi hampir sebulan gini.. hohoho #plakk
Tp emg kbtulan UASnya juga ru beres jum’at kmren,, tinggal nunggu KHS ja ni,, doakan LULUS semua yaa,,biar dapet IP gede.. huhu… *mohon doa’nyaaaaaa…* dan searang author malah kena FLU (__ ____”) #curcol

Okayyy,, daripada kepanjangan dengerin cerita author yg tak berkesudahannn,,, mending yook dilanjutt ^0^v

READERS …
DON’T B SILENT READER PLEASE!!!!!
Dimohon dengan sangat ituuu komentarnya…
Ok.. Ok???

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

——STILL MERRY ME ‘Part: 10’——

Chaehyun terus saja berlari tak tentu arah, meninggalkan Yesung, Ryeowook, Chaeyoung dan Binwoo yang berlari mengikutinya dari belakang, hingga akhirnya mereka berempat kehilangan jejaknya.

“Yaampunnnnnn…. Chaehyun eonni kok larinya cepet banget sih!?” keluh Binwoo sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena berlari. Yesung mengangguk, dan akhirnya karena lelah mereka berempatpun memutuskan untuk berhenti mengejarnya dan memilih untuk istirahat disalah bangku anak tangga yang tak jauh dari mereka.

“Dikasih makan apa sih dia sampe cepet gitu larinya? Bahkan sama aku saja yang pria bisa kehilangan jejaknya!?” Ryeowook geleng-geleng kepala tak percaya bahwa dirinya telah dikalahkan oleh seorang yeoja.

“Entah. Tapi memang kalian tak tahu ya? Chaehyun itu kan kalau tidak salah waktu masih smp dulu dia salah satu pemegang record lari tercepat di sekolahnya!” Binwoo, Yesung dan Ryeowook langsung menatap Chaeyoung dengan tatapan tak percaya. Chaeyoung yang sadar ditatap seperti itu langsung mengangguk yakin.

“Tahu dari mana?” Yesung melayangkan tatapan tak percayanya yang langsung diamini oleh Ryeowook dan Binwoo.

“Dulu aku sempat jadi sunbaenya di smp.”

“MWO???”

^0^

*Chaehyun POV*

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN

Aku menolehkan kepalaku, menatap silau kepada sebuah kendaraan yang kini melaju cepat tepat kearahku. Tubuhku lemas, seolah tak sanggup untuk menghindar. Aku hanya bisa memejamkan kedua mataku. Jika ini memang jalanku, aku pasrah.

Hening…
Hangat…

‘Perasaan apa ini? Apa aku sudah mati? apa aku sudah berada di surga sekarang?? Tapii.. hmmpphhh’ aku menghirup kuat sebuah aroma yang saat ini menelisik masuk melalui sela-sela lubang hidungku. Emporio White Cologne. Mwo?? Chamkanman.. apa di surga aromanya seperti ini?? Setahuku.. satu-satunya orang yang kukenal sering memakai aroma ini adalah…….’
Perlahan kubuka kedua mataku. Gelap. Berarti benar aku sudah mati! tapi bukankah jika aku sudah mati seharusnya serba putih? Dag.. Dig..Dug… kurasakan sebuah detakan tepat di gendang telingaku. ‘Omona! Ini bukan surga! Aku masih hidup! Dan aku..’ perlahan aku memberanikan diriku untuk mendongak, mencari tahu siapa yang tengan mendekap tubuhku dalam dekapan hangat ini. Deg. Sepasang mata kini menatapku dengan tatapan lembutnya.

“Gwenchana?” tanyanya cemas. Aku terpaku. Tubuhku membeku. Oh tuhan,, kenapa dia selalu ada disaat yang kubutuhkan?

^0^

“Igeo,” ia menyerahkan salah satu kaleng kopi yang baru saja dibelinya dari mesin penjual minuman yang tak jauh dari taman padaku, lalu duduk di bangku kosong yang ada disamping tempatku duduk. Ia membuka kaleng kopi miliknya perlahan dan meneguk isinya perlahan sambil memandang lurus kedepan. Aku tersenyum lemah lalu mengikutinya membuka kaleng kopi yang tadi diberikannya dan meneguk isinya.

“Go.. Gomawo,” ucapku lirih tanpa berani memandang wajahnya. Kudengar ia menghela nafas berat. Tak berkata apapun. Akhirnya kuberanikan diri untuk menatapnya dan mengucapkannya sekali lagi.
“Gomawo. Gomawoyo, Jonghun Oppa,” kali ini dengan penuh keyakinan dan ketulusan. Jonghun hanya diam, namun sebuah senyuman jelas terlihat terukir dibibirnya.

“Gwen-cha-na-yo,” ia mengacak rambutku pelan. Deg. Perasan ini lagi. Omona~ perlahan, tanpa sepenglihatannya aku memegang dada kiriku yang kini berdebar begitu hebatnya, dan langsung menarik kembali tanganku saat Jonghun Oppa kembali menatapku.
“Wae guraeyo?” ia mengangkat sebelah alisnya,bingung, begitu menyadari aku yang mulai salah tingkah.

“Annieyo. Hanya masih sedikit shock dengan peristiwa tadi,” kilahku, cepat. Jonghun mengangguk paham lalu kembali menyesap kopinya.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa sampai hampir tertabrak begitu??”

“Ha? Ah…” Damn! Harus jawab apa aku?? Come on Chaehyun! Ppali.. Ppali!! Ayo berfikir cepat!!
“Oh,, aku hanya sedikit melamun sepertinya, tadi.” Bisa kurasakan Jonghun langsung melayangkan sebuah tatapan aneh padaku begitu aku menjelaskan alasan yang kurasakan memang ‘babo’ itu, tapi yah apa daya? Hanya itu yang sempat terfikirkan olehku saat ini. Otakku sedang konslet akibat kejadian di teater tadi!! Rrrr~

“Oh.. Tapi. Sebenarnya tadi kau tak salah juga,” ucapnya sambil kembali mengarahkan pandangannya lurus kedepan, kearah kotak pasir dan perosotan berada.

“M-maksudmu?” aku menatapnya dengan tatapan bingung. Jonghun Oppa berdehem sebentar. Dari raut wajahnya jelas sekali jika ia sedang berfikir.

*FLASHBACK*
*Jonghun POV*

“Ya! Jaejin-ah, kenapa kau terlambat sekali!??” pekik Hongki begitu melihat Jaejin si bassis berlari-lari menghampiri kami berempat yang tengah duduk di salah satu meja café di bagian outdoor.

“Ah, mianhae hyung, dongsaeng-ah, tadi di jalan aku bertemu dengan Jungshin, jadi kami mengobrol sebentar, hehe,” ia memasang tampang bersalah sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang kuyakini tak gatal, kemudian duduk disamping Seunghyun yang masih kosong.

“Mau pesan apa, hyung?” tanya Minhwan, sopan.

“Ah,, kau baik sekali, cukup coklat panas dan waffle blueberry saja, Minhan-ah,” jawab Jaejin sambil tersenyum girang.s

“Annimnida, kebetulan aku dari tadi bingung mau pesan apa, jadi aku mau menyamakannya denganmu. He,” ucapnya dengan wajah tanpa dosa. Kkk~ dasar magnae!

Entah sudah berapa lama kami makan sambil berbincang santai di café ini sampai akhirnya aku memandang kearah jalan, dan sebuah sosok menarik perhatianku. Sosok gadis yang sepertinya aku kenal. Ia berlari melewat kafe ini menuju seberang jalan. Awalnya aku hanya diam mengamatinya, namun begitu melihat dari arah lain sebuah mobil mewah yang semula berjalan dangan kecepatan biasa dan jaraknya masih jauh dari zebracroos tiba-tiba saja mengubah kecepatannya menjadi maksimal begitu lampu mulai menyala merah dan gadis itu berlari menyebrangi jalan.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja aku langsung berdiri meloncati pagar pembatas kafe yang tingginya hanya seukuran pinggang dan berlari kearahnya.

“HYUNG!!!!!”/”JONGHUN-AH!!!!!!!!” pekik mereka berempat bersamaan begitu melihatku secara tiba-tiba melompat dan berlari meninggalkan mereka semua.

Aku terus berlari menuju tengah jalan sambil sesekali melihat kearah mobil yang kini tinggal 3 meter lagi jaraknya dari gadis yang malah berdiri mematung dan seolah telah kehilangan kesadarannya itu. Aku semakin mempercepat kecepatan berlariku, begitu jarak antara kami sudah semakin dekat, aku langsung menarik sebelah tanganya agar menjauh sekuat tenaga, dan tanpa sadar membawanya dalam dekapanku. Humphh… Aku menghela nafas lega begitu sadar bahwa aku telah berhasil menyelamatkannya. Sementara mobil itu? Ia sudah melesat pergi, menghilang entah kemana.

‘Hampir saja!’

*FLASHBACK END*
*Jonghun POV end*

“Begitu ceritanya,” jelasnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk paham.
“Tapi, sepertinya ada sesuatu yang janggal disitu.”

“Maksudnya?” lagi-lagi aku bertanya.

“Iya. Coba kau fikir. Mobil itu sejak awal kuperhatikan dalam kecepatan standart, bahkan saat lampu hijau atau kuning sekalipun. Dan saat lampu mulai merah, mobil itupun sudah mulai memperlambat kecepatannya, tepi begitu kau berlari ketengah, mobil itu seolah dengan sengaja menambah kecepatannya menjadi penuh.”

“MWO!!??” pekikku tak percaya. “Jincha??”

Jonghun mengangguk mantap. “Tapi.. Mollayo, itu hanya opiniku saja.” Mendengar perkataanya yang mencoba menenangkanku barusan justru malah membuatku semakin berfikir. Sepertinya tidak seperti itu.

^0^

*Author POV*

“Haishhhh,,, Yong-ah, sudahlah. Sudah berapa kali kukatakan, jangan terus berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini!” Siwon mangacak-acak rambutnya frustasi dengan sebelah tangannya sementara tangan yang satunya sibuk memegai ponsel yang ia tempelkan di telinganya, sementara anggota tubuh lainnya –kakiknya- sibuk mengayuh alat –sepeda- olahraga.

“Sulit Wonnie-ah. Bagaimanapun aku yakin bahwa Hyunnie masih hidup,” balas seseorang diseberang telepon. Siwon menghela nafas berat. Entah sudah berapa ratus kali ia menjelaskan hal ini kepada sepupunya itu, dan entah sudah berapa kali juga sepupu tersayanngnya itu membalas dengan kata-kata yang sama.

“Pulanglah. Ahjumma sangat mengkhawatirkan keadaanmu,” ucapnya dengan nada memohon. Orang yang diseberang telepon hanya bisa menghela nafas berat. Siwon menggelang-gelengkan kepalanya frustasi. Entah harus dengan cara apa lagi ia harus membujuk sepupunya itu. Donghae yang kebetulan baru keluar dari kamarnya untuk menonton tv diruang tengah, tempat dimana tv dan alat olahraga itu berada, langsung menatapanya dengan tatapan bingung. Tapi ia tak mau ambil pusing dan segera duduk di sofa sambil sesekali sibuk memindahkan channel dengan remote yang ada di tangannya.

“Jebal, Yong-ah, pulanglah. Aku prihatin melihat kondisi ibumu yang seperti itu. Ia kesepian. Ia sangat merindukanmu,” kali ini nada Siwon lebih melunak. Donghae yang terlihat seolah tak mau ambil pusing diam-diam tetap memasang telinganya untuk mendengarkan.

“Nanti. Belum saatnya,” jawabnya lalu memutuskan hubungan. Siwon yang belum sempat bicara langsung menatap lirih ponsel canggihnya itu sambil menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan aktivitasnya kemabali. Berolahraga.

“Waeyo?” tanya Donghae tiba-tiba. Siwon –tak lupa dengan gesturenya- langsung menatap balik Donghae yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu.

“Annieyo. Hanya ada sedikit.. masalah hati?”

Sementara itu ditempat lain….

Seorang pria menatap nanar ponsel flip miliknya yang masih tersambung hubungan internasional dengan seseorang itu. Ia menghela nafas berat lalu kembali meletakkannya di samping telinga setelah tadi hanya ia gengam tanpa mau menggubris ucapan seseorang yang tengah membicarakan sesuatu padanya diseberang telepon.

“Jebal, Yong-ah, pulanglah. Aku prihatin melihat kondisi ibumu yang seperti itu. Ia kesepian. Ia sangat merindukanmu,” ucap seseorang diseberang dengan nada sedikit lebih lunak. Ia menarik nafas berat. Eomma. Ia juga sangat merindukan ibunya itu.

“Nanti. Belum saatnya,” jawabnya pada akhirnya sebelum akhirnya memutuskan hubungan dan memasukkan kembali ponselnya itu kedalam saku celana. Ia memejamkan kedua matanya dan merentangkan kedua tangannya ke udara, mencoba menikmati angin pantai dan suara deburan ombak laut sore yang menenangkan jiwanya.
Perlahan ia membuka kedua matanya dan menyunggingkan sebuah senyuman kecil disudut bibirnya. Suara deburan ombak dan riak-riak kecil di pinggir pantai Thanet seolah telah berhasil menghipnotis dan menghilangkan kegundahan hatinya.

Digulungnya celana panjang yang ia gunakan hingga betis dan dilepas lalu ditentengnya sepangan sepatu yang sedari tadi ia kenaka sebegai alas kakinya. Perlahan tetapi pasti ia melangkah, berjalan menyusuri pesisir pantai indah di selatan Inggris itu sambil sesekali menendang-dengdang air yang menjadi riak di bibir pantai yang ia lewati.

“AUWCH!!!” pekiknya, kesakitan, saat tak sengaja menginjak sebuah benda yang ia kira kumpulan ganggang laut, karena warnanya yang hitam. Ia menunduk mengambil benda yang ternyata adalah sebuah benda berbahan lapisan alumunium itu. Dahinya berkenyit. Bingung.

“Ige mwoya??” ia melemparkan pandangannya kesekeliling. Pantai itu sepi. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang sepertinya penduduk local yang tengah berbincang lumayan jauh dari tempatnya berada. Saat ia baru akan kembali melangkah pergi setelah mengembalikan benda tsb ketempatnya semula, matanya tak sengaja menangkap sebuah benda, seperti tubuh manusia yang terletak disamping batu besar dekat bibir pantai. Dahinya kembali berkenyit namun secara pasti ia berlari mendekat untuk memastikan.

“Omona~” pekiknya, ia lalu membalik tubuh seorang gadis berambut panjang yang kini dalam keadaan tak sadarkan diri itu. Deg.. Deg.. Deg. . entah mengapa ia merasa jantungnya berdetak begitu cepat begitu ia menyibak rambut gadis itu untuk melihat wajahnya. Ia langsung mearik tangannya yang mulai bergetar hebat ketika melihat wajah gadis itu.

“Seohyunnie~” ucapnya lirih. “Seohyunnie!!!!” pekiknya tak percaya, sambil menepuk-nepuk wajah gadis itu agar sadar lalu menarik pergelangan tanga kirinya, memastikan bahwa gadis itu masih hidup. Matanya langsung terbelalak, dan segera menggotong tubuh gadis itu lalu dengan secepat mungkin ia mengendarai ferari kuning miliknya menuju rumah sakit terdekat.

“Bertahanlah, Seohyunnie. Aku akan menyelamatkanmu,” gumamnya sambil sesekali melirik kesamping bangku kemudi, memandangi wajah gadis yang baru saja ia temukan dalam keadaan kritis dipinggir pantai itu.

^0^

“Ya!!! Apa yang kau lakukan!!!” pekik Kyuhyun sebal begitu pementasan telah berakhir dan kini mereka semua sudah kembali kebelakang panggung.

“Ah, mianhae Oppa-ya. Jeongmal mianhae, aku hanya mengikuti perintah sutradara,” jawab Yongeun sambil memasang wajah tanpa dosanya. Jujur saja dalam hati Kyuhyun ia ingin sekali mendamprat gadis yang berdiri daihadapannya ini kalau saja Shin sajjangnim tidak tiba-tiba muncul dihadapan mereka sambil memasang wajah puasnya.

“Wah! Daebak! Penampilan kalian tadi sangat bagus sekali! Pertahankan!” pujinya sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun dan Yongeun bergantian lalu berlalu pergi. Kyuhyun hanya bisa mendesah hebat lalu kembali keruang ganti meninggalkan Yongeunyang masih berdiri ditempatnya semula. Sebuah senyuman lebar atau lebih tepatnya sebuah seringaian tersungging di bibirnya kini.

“Hancurlah kau SEO CHAEHYUN!”

^0^

“Yeobo-ya. Kenapa kau?” Leeteuk meletakkan susu hangat yang baru saja dibuatnya keatas meja lalu duduk disamping tubuh istrinya yang saat ini mematung sambil memegangi ponsel dengan sebelah tangannya, dan memandangnya dengan tatapan heran. Hyerin diam, tak menggubris ucapan suaminya itu.

“Jadi? Appa tetap tidak akan pulang sampai kasusnya selesai?” Leeteuk hanya bisa memandangi wajah istrinya yang sedang sibuk menelpon itu dengan tatapan ingin tahu. Hyerin menghela nafas berat.

“Arraseo. Ne, annyeonghi jummusaeyo, Appa.” Hyerin tertunduk lesu setelah melemparkan ponselnya itu sembarangan.

“Waeyo?” Hyerin mendelik, lalu kembali menghela nafas.

“Appa. Dia masih gigih menyelidiki kasus tentang kecelakaan eomma waktu itu. Dia bilang ia akan sekuat tenaga membuktikan bahwa kecelakaan itu bukan karena kesalahan eomma,” ia menatap wajah suaminya itu sambil sesekali merapihkan poni suaminya yang acak-acakan. Leeteuk tersenyum samar.

“Ah, iya. Igeo,” ia menyerahkan segelas susu hangat yang ia buat tadi pada Hyerin. “Aku buatkan susu hangat. Kasihan, kau sepertinya belakangan ini kurang menjaga kesehatan karena terlalu lelah.” Hyerin tersenyum, lalu mengambil alih gelas berisi susu hangat dari tangan suaminya itu kemudian menghabiskannya dalam sekejap. Leeteuk yang melihatnya langsung tersenyum geli.

“Ya! Ya! Kau ini suka atau memang haus?” ledeknya.

“Suka sekaligus haus!” Hyerin merong. Leeteuk yang sudah kepalang gemas dengan tingkah istrinya itu langsung mengelitiki perut Hyerin dan membuatnya kegelian setengah mati.

“Ya! Geli! Yeobo-ya.. Ampunn~~~” Hyerin memohon sambil memegangi tangan Leeteuk agar menjauh dari perutnya.

“Shireo!”

Cklekkk

“Ehemmmmmmmmm…” Leeteuk langsung menghentikan aktivitasnya sementara Hyerin langsung membenahi penampilannya yang mulai berantakkan karena kejadian tadi begitu melihat ada dua pasang mata yang kini menatap mereka yang salah tingkah.

“Ya, kalau mau bermesraan. Ke kamar sana,” goda Minho sementara Chaehyoung yang juga baru sampai dan berdiri disampingnya mati-matian menahan senyum.

“OPPA!!!”

^0^

“Hyunnie-ya… Bertahanlah! Jebal!!” ujar seorang pria sambil menggenggam erat tangan gadis yang tadi ia temui di pantai itu, dengan penuh kasih sayang. Hening, tak ada jawaban, yang ada hanya suara pendeteksi detak jantung yang terpasang disamping tempat tidur dikamar rawat gadis itu.

“Hyunnie-ya, jebal. Sadarlah~” ia semakin memegang erat tangan gadis itu.

Tokk.. Tokkk..

Ia menoleh. Seorang pria setengah baya berpakaian ala dokter berdiri diambang pintu, memberinya tanda agar ia menghampirinya diluar.

“Hyunnie-ah. Chankanman. Jangan kemana-mana, oke? Aku akan kembali,” bisiknya lalu menegcup kening gadis itu lembut sebelum ia keluar menghampiri dokter itu.

“Mr. Jung Yonghwa?” tanya dokter itu dengan bahasa Inggris begitu Yonghwa sudah berdiri dihadapannya. Yonghwa mengangguk mengiyakan.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Keadaannya sangat kritis. Ia mengalami hypothermia yang sangat berat,” dokter itu menatap Yonghwa dengan tatapan penuh selidik.

“Entahlah. Aku juga bingung, dokter. Tadi sore aku menemukannya dalam keadaan seperti itu dibibir pantai.”

“Begitukah?” tatapnya masih tak percaya. Yonghwa mengangguk yakin. “Lalu apa hubungan anda dengan gadis itu?”

Deg. Tiba-tiba saja ia seperti tersadar akan sesuatu. Gadis itu? Siapa gadis itu sebenarnya? Ia tahu betul bahwa ia sama sekali tak mengenalnya, tapi entah mengapa saat ia berada disampingnya ia merasa bahwa gadis itu adalah Seohyun. Kekasihnya, sekaligus calon istrinya…. Yang sudah meninggal.

“Mr. Jung?” panggil dokter itu lagi.

“AH? Oh,” ia bingung. Harus jawab apa dia? “Dia.. dia tunanganku. Seohyun.”

>>TBC<<<
~mrs.ChoiLee~

Huwaaaaaaaaaaa~~ akhirnya beres juga part 10!!!
Setelah perjuangan selama 5 jam.. kkk~
So~ tolong hargain ya usaha author ini.. 

LEAVE UR COMMENT PLEASE!
Bagi yang susah komen lewat WP,, silakan mention aja k twitter q –> @yoendaELF

~Still Merry Me~ eps: 9

Part 9

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIARISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

————o0o————-o0o————-

Kedua orang tua Kyuhyun segera kembali ke Seoul begitu mendengar berita bahwa pesawat yang ditumpangi Hyunjae mengalami kecelakaan. Mereka tak tinggal diam. Mereka bahkan langsung mendatangi kepihak maskapai dan bahkan mendatangi langsung TIM SAR yang menangani kasus ini.
Eomma Kyuhyun bahkan menagis histeris ketika melihat nama Hyunjae terpampang jelas di daftar pencarian penumpang yang hilang dalam kecelakaan tsb. Dalam kecemasannya Kyuhyun hanya bisa berusaha untuk tegar dihadapan semuanya, terlebih lagi Donghae, hyungnya, kini malah terbaring di rumah sakit. Akibat berita ini ia mengalami shock berat. Bagaimana tidak, awalnya ia akan segera menyusulnya begitu concert SM TOWN di Seoul berakhir dan ia berencana untuk langsung melamarnya saat ia tiba disana. Tapi takdir ternyata berkata lain.
Semua hanya dapat prihatin melihat keadaan Donghae yang sudah seperti mayat hidup, seolah keadaan Hyerin waktu itu kini berpaling padanya. Nasib buruk seolah masih tak mau pergi dari mereka semua. Continue reading “~Still Merry Me~ eps: 9”

~Still Merry Me~ ePs: 8

Anyyeong yeorobeun~~
Kali ini author cepatt updatenya..
Hoho
😛

Eiia,, di part kali ini, n beberapa part kedepan aka nada kembali penambahan cast..
Hoho,, jdii,, silakan menikmati,, *bow*

DON’T B SILENT READER PLEASE!!!!!
Dimohon dengan sangat ituuu komentarnya…
Ok.. Ok???

ahh iyyyaa,,, DONT BASHING
OKAY
🙂

Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIATISM!!

  • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
  • Seo Chaehyun : Pipit
  • Choi Hyerin : Ami Himawari
  • Kim Hyunjae : Author
  • Kim Chaeyoung : Pyna
  • Kim Binwoo : cindy

————o0o————-o0o————-

Part 8!!

“Kumohon jangan pergi,” ucap Donghae sambil mendekap erat tubuh kekasihnya itu, erat, seolah tak akan pernah rela untuk melepaskannya. Hyunjae hanya bisa tersenyum samar mendengar perkataan kekasihnya itu. Jujur, di dalam hatinya yang terdalam, ia pun tak ingin pergi. Andai saja ia bisa. Perlahan ia melepaskan dekapan kekasihnya itu, Donghae langsung menatapnya dengan tatapan tak rela.
“Kalau begitu, biar aku yang mengantarkanmu ke bandara.” Hyunjae menggeleng, lalu tersenyum lembut.

“Andwaeyo, Oppa. Besok sudah waktunya kalian konser, hari ini kau kan masih harus rahersal untuk persiapan. Jika kau mengantarkanku ke bandara besok, bisa-bisa kau malah tak bisa ikut konser. Kau mau? ” Donghae mengangguk sambil memasang wajah polos layaknya anak kecil. Hyunjae menjitak kepala Donghae pelan.

“Aishhh.. Sakit, jagy!” Donghae menggembungkan pipi. Kesal. Hyunjae malah terkikik geli melihatnya.

“Ya! Kau ini, nanti kan kita masih bisa bertemu. Seperti tidak akan pernah bertemu lagi saja, kau ini,” Mendengar perkataan Hyunjae barusan, Donghae terdiam. Tatapannya berubah menjadi sendu. Entah mengapa, sesuatu mengganjal dalam hatinya. Tapi apa??
“Hahaha. Sudahlah. Aku janji deh, nanti saat SM TOWN di LA aku akan berada di bangku paling depan!” Donghae hanya bisa tersenyum datar menanggapinya.

“Janji ya?” ia menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Hyunjae. Hyunjae terkikik geli melihatnya, lalu mengangguk dan kemudian mengamit jari kelingking Donghae sambil tersenyum.

“Janji!”

^0^

“Ne, hyung. Arraseo,”
“…”
“Ne. Aku? Ah, kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal, besok juga aku hanya ada filming untuk acara FBG bersama yang lainnya,”
“….”
“Ne. Ne. Arraseoyo, hyung. Dia juga kan adikku.”
“…”
“Ne, annyeong.”

BIIPP. Jonghun menghela nafas panjang, lalu menatap wajah yodongsaeng semata wayangnya yang sedang duduk menyandar di tempat tidur. Hyerin. Sejak bangun tidur sampai hari beranjak siang sepeti saat ini, perutnya baru terisi 2 sendok bubur, itupun hasil paksaan dirinya. Perlahan ia berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.

“Hyerin-ah. Sudahlah. Jangan seperti ini,” ia mengelus-elus kepala Hyerin, sayang. Hyerin masih diam. Tatapannya lurus kedepan. Jonghun mendesah.
“Ya! KUMOHON JANGAN BEGINI!!!” bentaknya. Hyerin tersentak. Jonghun menarik wajah Hyerin dengan kedua tangannya dan menatapnya lekat. “KAU KIRA HANYA KAU YANG KEHILANGAN EOMMA, HUH?? HANYA KAU YANG SEDIH DENGAN KEADAAN JONGMI!!???” Hyerin diam.
“ TIDAK! KAU SALAH!!! KAMI JUGA KEHILANGAN!!”
“ KAU KIRA KAMI TIDAK SEDIH MELIHAT JONGMI YANG MASIH TERBARING LEMAH DI RUMAH SAKIT!!??” Hyerin masih diam.
“KAMI JUGA SEDIH!!”
“ASAL KAU TAU! SETIAP HARI, LEETEUK HYUNG, AKU, MINHO, CHAEYOUNG, DAN BAHKAN HYUNJAE! SECARA BERGANTIAN MENUNGGUI JONGMI DI RS. PADAHAL KAU TAU? MEREKA SEMUA SIBUK! TAPI, MEREKA SELALU MELUANGKAN WAKTUNYA UNTUK MENJAGA JONGMI SECARA BERGANTIAN.” Hyerin terdunduk. Jonghun memijat kepalanya yang terasa sedikit pening karena terus berteriak-teriak.
“Kau tau? Kami semua bertambah sedih saat melihat keadaanmu yang sudah seperti mayat hidup ini, dongsaeng-ah,” tambahnya, namun kali ini tidak ada lagi suara bentakan atau teriakan seperti sebelumnya. Intonasinya kembali seperti semula. Hyerin mendongak, menatap Jonghun yang masih duduk di sempingnya dengan tatapan nanar.

“Oppa..” Jonghun menoleh. “Mianhae..” Hyerin langsung memeluk tubuh Jonghun erat dan langsung menumpahkan semua air matanya yang selama ini ia pendam sendirian. Jonghun terpaku. Lalu tersenyum dan membalas pelukkan adiknya itu sambil sesekali mengelus dan menepuk-nepuk bahunya pelan.

“Gwenchana.. Gwenchana..”

“Mianhae.. Mianhae..” ucapnya sambil sesenggukkan.

KRINGGG… KRINGGG…
Telepon rumah mereka bordering keras. Jonghun langsung melepaskan pelukkan mereka lalu segera berlari kebawah untuk mengangkatnya. Hyerin yang penasaran langsung mengikuti langkah Jonghun sampai kebawah.

“Yobsaeyo,”
“…”
“Ne. Ini kediaman keluarga Park Joongsoo.”
“…”
“Dari RS?”
“….”
“MWO!!!!????”

^0^

“Selamat datang, Mrs. Shelina Kang,” sambut seorang pria setengah baya begitu melihat sesosok wanita yang sedari tadi sudah dinanti kehadirannya kini tengah berdiri di depan sebuah papan billboard yang memasang foto anak didik perusahaan mereka.
“Tuan Park sudah menanti anda di ruangannya. Mari,” ucapnya ramah, lalu mempersilakan wanita itu untuk mengikuti langkahnya sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca berukuran besar di lantai 4.

Tokk.. Tokk..

Pria itu langsung mebuka kedua sisi pintunya begitu terdengar seseorang mempersilakan mereka masuk dari dalam. Tanpa basa-basi, mereka langsung masuk kedalam ruangan besar bergaya klasik tsb.

“Tuan Park, mrs. Shelina Kang sudah tiba,” ucap pria tsb.Park JinYoung bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri mereka.

“Senang akhirnya kami dapat bertemu denganmu, mrs. Kang,” ujarnya ramah sambil mengulurkan tangannya.

Wanita itu tersenyum samar, lalu membalas jabatan tangannya. “Langsung saja. Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana.”

^0^

Begitu selesai memarkirkan mobilnya di basement RS int Seoul, Hyerin langsung keluar dari mobil dan berlari memasuki gedung rumah sakit, semenntara Jonghun yang baru sadar adiknya it sudah berlari keluar meninggalkannya langsung menyusulnya dari belakang.
Langkahnya langsung terhenti begitu melihat seorang dokter baru saja keluar dari dalam sebuah kamar perawatan. Di tatapnya dokter yang diketahui dari papan nama yang dipajang di jas dokternya bernama dr. Jang itu, dengan tatapan cemas. Jonghun yang baru saja tiba langsung berdiri sigap di belakang Hyerin.

“Ba.. Bagaimana keadaannya, uisa?”

“Kalian keluarganya?”

“Aku ibunya!” jelas Hyerin gemas, karena dokter itu tidak menjawab pertanyaannya.

“Anak anda.. Dia..”

^0^

Hari ini adalah hari pertama diselenggarakannya SM TOWN LIVE CONCERT di Korea. Sejak pagi-pagi buta, kesibukan sudah terlihat dimana-mana. Tak hanya pihak panitia, tapi juga semua artis yang bernaung dibawah bendera SM.

“Jagy, mianhae aku tak bisa mengantarmu,” sesal Donghae di telpon begitu ada jeda istirahat sebentar di sela-sela kesibukannya. Kyuhyun yang kebetukan sedang duduk disamping Donghae hanya bisa tersenyum penuh arti.

“Ya! Oppa, gwencahana.. Aku kan sudah berkali-kali mengatakannya kepadamu,” ujar Hyunjae gemas, di seberang telpon.

“Tapi…” belum sempat Donghae melanjutkan kalimatnya, ponselnya langsung direbut Kyuhyun dan dia langsung me-loadsepeaker-nya sehingga hampir semua orang yang ada diruangan itu dapat mendengarkan ucapan mereka.

“Ya, dongsaeng-ah! Hati-hati di jalan ya! Mian Oppa tak bisa mengantarmu.”

“Gwencahana Oppa! Tenang saja. Semua akan baik-baik saja!”

“Arraseo! Sudah sana! Berangkat! Nanti kau ketinggalan pesawat! Kau kan ikut penerbangan pagi, bukan?”

“Ne~~~ Arraseo!! Oppa… Jagy.. Bawel!! Bye!”

BIPP.

Donghae menghela nafas. Kyuhyun malah terkikik geli melihat ekspresi hyungnya yang seperti anak di tinggal ibunya itu.
“Ya, hyung. tenang saja! Semua akan baik-baik saja. Dia kan kesana biar cepat lulus. Nanti juga kalian akan bertemu lagi kan?” ucapnya sambil menyerahkan ponsel hitam itu ketangan Donghae.
‘Semoga saja begtu,’ ucapnya dalam hati. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Sementara itu, ditempat lain, Hyunjae menatap layar ponsel yang memajang foto dirinya dan Donghae yang diambil saat mereka ke Mokpo, lalu menarik nafas berat. Dilihatnya pak Jung yang sedang sibuk memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam bagasi mobil. setelah yakin tak ada satupun barangnya yang tertinggal, ia langsung masuk kedalam mobil yang dikendarai pak Jung dan segera berangkat menuju Incheon.
Sepanjang jalan, ia hanya bisa terdiam dan memilih untuk melihat keluar jendela, mencoba menikmati pemandangan kota Seoul yang entah kapan dapat ia nikmati kembali.
Keberangkatannya kali ini tak seperti keberangkatannya yang sebelumnya. Ia berangkat sendirian. Tidak seperti 3 tahun lalu yang ditemani ibu dan onnienya, dan diantarkan oleh ayahnya –jangankan mengantar, ia bahkan hanya berpamitan pada mereka lewat telpon karena kemarin kedua orang tuanya itu secara tiba-tiba berangkat ke Hokkaido karena ada urusan keluarga- sementara Kyuhyun dan Donghae juga sedang sibuk dengan acara concert mereka yang akan dimulai beberapa jam lagi.

Hari ini entah mengapa, perjalanan Seoul-Incheon yang biasanya cukup memakan waktu sekitar 2 jam kini malah memakan waktu sekitar 3,5 jam, yang mau tak mau membuat Hyunjae kalang-kabut karena ketinggalan pesawat. Alhasil Jung ahjussie terpaksa membantunya untuk mencarikan pesawat pengganti karena mau tak mau ia harus berangkat ke LA hari ini juga karena lusa ia ada tugas yang harus segera dikumpulkan.

“Pesawatnya berangkat setengah jam lagi. Tapi, mianhae Agassi, hanya tersisa bangku ekonomi.”

^0^

“Park JinYoung sunbaenim~~~” sapa seorang gadis berperawakkan genit, layaknya gadis-gadis pada umumnya begitu melihat bos yang sudah dianggap kakak olehnya itu berdiri tak jauh dari tempatnya. *biar gga ribet dsingkat aj jd YP ya :P*
JYP menoleh, lalu tersenyum begitu meilhat salah satu anak asuhannya itu kini berjalan kearahnya.
“Annyeonghasaeyo~”

“Ah, Youngeun-ah. Annyeong. Kau tetap ceria seperti biasanya.”

“Hehehe” Youngeun terkekeh. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, ia melihat sesosok wanita perpenampilan high class berjalan mendekat kerah mereka. ‘eh?? Itukan??’

JYP menoleh, lalu tersenyum. Wanita itu juga tersenyum, tapi bukan kearahnya, melainkan..

“Eomma??” Youngeun langsung menutup bibirnya rapat-rapat. JYP yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.

“Annyeong. Shin YoungEun.”

^0^

Pesawat sudah lepas landas sejak sepuluh menit yang lalu. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan menuju LA terpaksa di lewati Hyunjae di bangku kelas Ekonomi. Sejujurnya ia tak masalah mau duduk di kelas manapun. Hanya saja, untuk perjalanan sejauh itu ia tak dapat membayangkan bagaimana ia nanti.

Sementara itu, concert SM TOWN sudah dimulai sejak 3 jam yang lalu. Concert yang berjalan selama kurang lebih 5 jam itu berlangsung dengan sangat meriah. Semua berjalan sesuai rencana. Tanpa insiden sedikitpun.
BoA baru saja turun dari terowongan panggung utama yang ada di paling depan. Itu tandanya bagian Kyuhyun dan Chaehyun untuk tampil sudah tiba.

Intro dari lagu One year later mulai mengalun lembut, dengan segera Chaehyun melangkah keluar dengan mengenakan gaun berwarna putih tanpa lengan diatas lutut, dari baling panggung sambil menyanyikan bagiannya.

  • “Hanchameul ggumeul ggun geot gata
    Handongan hemego hemeta
    Machi yaksogirado handout
    Naekyejeoreul,, keoseulleo keu Nacheoreom
    maju seoineun uri..

    keu ddae uriga sseonaeryeogadeon
    areumdaweodeon iyagi..
    keu ddae uriga.. gidohaesseodeon yeonwon hajadeon yaksokdeul
    hanashik ddeollalda nauigaseumi
    keyondaji mothalgeol algie
    nesaenkage ggukgguk chamasseo
    neoui il nyeoneun ddo.. eoddaesseoni..”

  • Tak lama, dari arah kiri panggung, seorang pria bertuksedo putih keluar dari bawah panggung. Menatap lembut kearah yeoja yang berdiri jauh dari pandangannya.

  • “hanchameul ijeun chae saraji
    Handongan kawaenchanh deut haesseo
    Hajiman shigani heureumyeon ggaedara gagoisseo
    Neo obshineun andwoedaneun geol~
    Keu ddae uriga jogeuman eoreunseowodeoramyeon
    Keu ddae uriga micheo molladeon jigeumeul aradeoramyeon
    Ggeuchi obneun huhwoeman.. dwoe nwoeidaga igyeonael
    Jashini obseoseo
    Keu got majeo ggukgguk chamaseo
    Keureohge il ryeoni heullawasseo”
  • Perlahan-lahan, langkah mereka mendekat satu sama lain. Bertatapan, namun masih menjaga jarak.

  • “”Hoksi neodo nae mam geteulgga~”

    “Dashi han beonman gihwoereul jugeni”

    “Ijen ara jeoldaero urineun
    Heeojil su ebseo,, saranghago ddo saranghaneun hansaram~~~~”

  • langkah mereka saling mendekat. Perlahan Kyuhyun mengenggam sebelah tangan Chaehyun, sementara tangan yang lainnya memegang mic. Ditatapnya dalam kedalam mata Chaehyun yang cerah. Membuat riuh rendah para penonton yang hadir semakin tak terelakkan.

    “AAAAAAAAAAAA~~~” pekik Chaehyun. Lengkingan suara tinggi Chaehyun menggema keseluruh stadium. Membuktikan kwalitas vocalnya yang memang prima, dan tak salah jika ia ditunjuk sebagai ‘main vocal’ di grupnya.

  • “Uri johadon cheoeom keu ddaero dashi toragasseumyeon hae”

    “ Areumdawogo”/“Areumdawogo~~”
    “Haengbokhaaseodeon”/ “Haengbokhaaseodeon”
    “sarangieodeon naldeuro”

    “Gaseum apeun yaegideul, Heotdwoen datumdeul”

    “ ijen modu damudeo dugo
    Dashin ggeonaeji malgiro hae”

    “Kyejeori ddo heullo”/“myeotyeoni jinado”

    “Oneul gadeun mamman”

    “dashin obge”

  • Mereka berdua tersenyum, menatap satu sama lainnya, lalu berbalik, membungkuk kearah penonton tanpa melepaskan genggaman tangan mereka satu sama lain, kemudian menghilang pergi kebawah panggung.

    Setelah sampai di bawah panggung, Chaehyun dan Kyuhyun masih belum melepaskan genggaman tangan mereka satu sama lain, sampai akhirnya Heechul datang dan menatap mereka dengan tatapan aneh.

    “YA! Tidak usah pamer kemesraan segala dihadapanku seperti itu!” cibirnya sebelum pergi melewati mereka. “Bikin iri saja!”
    Chaehyun dan Kyuhyun saling berpandangan, lalu tertawa geli.

    ^0^

    “Appa!!!” pekik sebuah suara begitu Seluruh personil super Junior sudah kembali dari panggung,berjalan menuju waiting room mereka setelah concert berakhir.
    “Appa!!!” pekik suara itu lagi. Dahi Shindong berkenyit. Setahunya diantara mereka semua yang sudah menikah dan memiliki seorang anak hanya Leader mereka. Leeteuk. Diliriknya Leeteuk yang masih berdiri mematung di depan pintu masuk room, sementara personil lainnya sudah masuk kedalam. Penasaran. Ia langsung menghampirinya.

    “Omo!” pekiknya, tak percaya. Kontan membuat semua personil lainnya langsung ikut-ikutan keluar melihat.

    “J.. Jongmi-ah!? JONGMI!!!???”

    “Appa!!!!”

    Leeteuk tersenyum. Ia berlari menghampiri bocah kecil yang di kepalanya masih dililit perban, dan mengangkatnya dari sebuah dorongan bayi yang dibawa oleh Jonghun, adik iparnya. Senyumnya kembali mengembang begitu melihat sosok wanita yang teramat dicintainya kini berdiri di balik punggung Jonghun

    “Jongmi-ya.. Anakku.. Kau sehat nak?”
    “Hyerin-ah.. Yeobo.. Kau sadar! Terima kasih tuhan!!”

    ^0^

    YoungEun, atau lebih tepatnya Shin YoungEun, member sekaligus sub vocal dari salah satu girlband ternama di Korea Selatan. Super Girl. Menatap bingung sosok wanita yang kini duduk berhadapan dengannya. Ia meletakkan garpu dan pisau yang sedari tadi ia gunakan keatas piring, tanda bahwa ia telah selesai makan.
    Wanita ia mendelik, lalu mengelap bibirnya yang dilapisi lipstick berwarna merah maroon dangan serbet yang telah disediakan di samping piring.

    “Untuk apa eomma kemari?” tanyanya, to the point. Wanita itu malah tersenyum, lalu meneguk sedikit air dari dalam gelas Kristal yang ada di hadapannya.

    “Apa aku tak boleh menjenguk putriku sendiri?” ia menatap YoungEun dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. YoungEun menarik nafas pasrah. Ibunya ini memang sulit ditebak. Ia sendiri bingung, kenapa istri ayahnya ini tiba-tiba saja datang jauh-jauh dari Paris dengan alasan yang baginya terlalu di buat-buat. ‘untuk menjenguk putrinya sendiri’ katanya?
    Sepertinya tidak mungkin! Tapi, untuk apa dia sampai datang ke kantor segala? Dan bahkan sepertinya ia juga sudah mengenal JYP. Ia kembali menatap wajah ‘istri ayahnya’ itu, lalu tersenyum datar.

    “Tenang saja YoungEun-ah. Eomma disini untuk membantumu,” dahi YounEun berkenyit. Untuk membantuku? Apa maksudnya??

    ^0^

    Hyunjae kembali memijit-mijit dahinya yang terasa pening. Sesekali ia memanggir pramugari yang bertugas untuk membawakannya segelas air.

    “Thank’s,” ucapnya begitu salah seorang pramugari memberikannya segelas air hangat sesuai keinginannya. Pramugari itu mengangguk.

    “Silakan panggil saya kembali jika anda membutuhkan sesuatu,” katanya, ramah, sebelum akhirnya undur diri dari hadapan Hyunjae.

    Dipandanginya segelas air hangat yang kini ada di genggamannya. Perlahan ia mengangkat gelas tersebut dan mendekatkan bibir gelas ke bibirnya. Belum sempat ia meneguknya gels tersebut malah terlepas dari genggamannya. Sebuah guncangan hebat terjadi di kabin pesawat.

    “Keadaan darurat. Dimohon untuk mengencangkan sabuk pengaman anda,” ucap pilot dari arah pengeras suara. Para penumpang yang panic segera kembali ke tempat duduknya masing-masing lalu segera mengencangkan sabuk pengaman mereka masing-masing, termasuk Hyunjae. Tak lama setelah pengumuman tsb, sebuah guncangan kembali terjadi, namun kali ini kebih kencang. Lampu diseluruh kabin pesawat berkedip-kedip. Aura panas, dan sesak mulai menyelimuti kabin. Sepertinya kadar Oksigen yang ada mulai menipis. Dari atas kabin alat pembantu pernafasan mulai bermunculan. Dengan segera seluruh penumpang menariknya dan mulai bernafas dengan bantuan alat tsb.

    BRAKKKKKKK!!

    DUARRRRRRRRR

    “ARGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

    ^0^

    saking lelahnya mereka semua, begitu sampai di apartment mereka semua –baik itu penghuni lantai 11 ataupun 12- berkumpul di lantai 12, karena mereka ingat lantai 11 kemarin dipakai oleh para menejer dan asistennya, jadi kemungkinan masih berantakan. Shindong yang sedari tadi memang sudah menahan kantuk langsung masuk kedalam kamar, diikuti eunhyuk. Heechul yang sudah kebelet langsung masuk kedalam kamar mandi. Ryeowook malah masuk kedalam dapur untuk memasak ramyeon, dibantu Sungmin, lantaran Kyuhyun, Donghae, Siwon, dan Yesung terus-terusan merengek kelaparan seperti anak kecil.
    Selagi menunggu makanan jadi, Donghae memilih untuk masuk ke kamarnya untuk ganti baju, sementara yang lainnya memilih untuk duduk manis, menunggu makanan matang di ruang TV sambil menonton.

    “Diberitakan. Sebuah pesawat Korean Airways dengan nomor penerbangan 1005, tujuan Seoul-Los Angeles, beberapa saat yang lalu dikabarkan mengalami kecelakaan…”

    Mendengar berita tsb, kontan perasaan Donghae berubah tak enak. Dengan segera ia berlari kembali ke ruang tv setelah memakai kaos santainya. Ia langsung merebut remote tv yang ada di tangan Siwon lalu membesarkan volumenya dan segera mendengarnya dengan seksama.

    “Ya, Donghae-ya. Kenapa kau?” Yesung menatap Donghae yang memasang tampang serius, bingung. Siwon hanya bisa angkat bahu begitu Yesung beralih meliriknya.

    ”Pesawat berisikan 674 orang penumpang ini dikabarkan mengalami kerusakan mesin saat menghadapi badai.…”

    Donghae menatap layar tv dengan tatapan nanar. Dadanya berdegub kencang. Perasaannya kini campur aduk.

    ”Dikabarkan sampai saat ini pesawat tsb pbelum diketemukan. Hanya beberapa serpihan dari bangkai pesawat saja yang di temukan mengapung di dareah perairan Inggris….”

    “Ya, hyung. Jangan-jangan kau berfikir Hyunjae ada di pesawat itu?” tanya Kyuhyun, meyakinkan. Donghae menoleh, lalu mengangguk pelan. Kyuhyun berdecak kecil, sementara member yang lain kini berkumpul disekitar mereka dan menatap mereka dengan tatapan bingung.

    Kyuhyun tertawa. Donghae dan yang lainnya menatapnya bingung.
    “Hyung.. Hyung.. Mana mungkin! Ia berangkat ke LA dengan Thai Airlines, kemarin aku sendiri yang memesankannya. Jadi tidak mungkin jika ia salah satu dari npenumpang tsb.”

    “Jincha?” Kyuhyun mengangguk yakin. Semua bernafas lega. Namun dalam hatinya, perasaan Donghae masih tak enak. Entah mengapa, ia sangat yakin jika sesuatu sedang terjadi pada kekasihnya itu.

    ^0^

    Semalaman Donghae tak bisa tidur. Alhasil sebuah lingkaran hitam kini menghiasi sekitar matanya. Siwon dan Yesung yang tidur di kamarnya langsung terkejut begitu melihat rupa Donghae yang berantakan. Ryeowook dan yang lainnyapun hanya bisa menatapnya sambil menahan tawa saat mereka semua berkumpul untuk sarapan di ruang tv.

    “Jangan bilang kau semalan tak tidur?” Heechul menatap Donghae penuh selidik. Donghae hanya diam, hanya memandangi roti bakar jatah sarapannya tanpa menyentuhnya. Kyuhyun mendesah. Dikeluarkannya ponsel miliknya dari dalam saku celana. Lalu mulai menghubungi seseorang.

    “Yobsaeyo?”
    “…”
    “Ne, Jung ahjussie. Aku hanya mau memastikan, apa kemarin semua lancar?”
    “…”
    “Ne?? bisa kau ulangi??” ucap Kyuhyun suara bergetar. Seluruh member melirik kearahnya, ingin tahu.
    “…”
    “MWO!!!??”
    “…”

    BLETAKKK
    Ponsel Kyuhyun terlepas dari genggamannya. Ia terduduk. Wajahanya berubah pucat. Donghae yang dududk di sampingnya langsung memungut ponsel Kyuhyun. Begitu dilihat sambungan telponnya belum terputus ia langsung mengangkatnya.

    “Wae gurae, ahjussie?”
    “…”
    “…..” Donghae diam. Suaranya tercekat. Dadanya berdegub tak karuan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

    “Waeyo??” Siwon menatap mereka berdua, penasaran, disertai tatapan member yang lainnya.
    Donghae tertunduk lemas. Belum sempat ia berkata apa-apa, mendadak pandangannya kabur. Tubuhnya seperti terombang-ambing. Dan kemudian semua terasa gelap baginya.

    BRUGGGG

    “DONGHAE!!!!!!!!!!!!!!!”

    >>TBC

    Gimana”??
    Pendek?
    EMANG!! Hahaha sengaja!
    Biar bikin penasaran 😛

    Jgan lupa komentar yahh.. part 9, insyallah kalo gda halangan dlm pembuatannya bakal di publish taun depan
    #PLAKKK!!
    *reader: KLAMAAN!!
    Author: ye,, 6 hari lagi juga ud termasuk taun depan tau!
    :P*

    Jangan lupa untuk ninggalin COMMENT
    Atau kalo buat yg OL d hp,, silakan mention aq jay a di @yoendaELF
    Atau di fb jg bole,, kkk~

    Annyeong~~

    ~Still Merry Me ~ eps:7

    Annyeong yeorobeun~
    Mianhae belakangan suka jarang ngpost soalnya author sibuk ngerjain gunungan tugas yang semuanya rata-rata disuruh buat ngeresume buku T.T jdi kebayang kan gimana sibuk nan merananya author kesayangan *OVER PeDe MODE.FULL* kalian yang satu ini?? Huhuhu Dosennnyyaaaa sadis semuaaaaaaaaaa…. !!! >.< *curcol*
    *garuk-garuk tanah*
    Tapi berhubung author agy ‘enekk’ ngerjain tugas P.H.I ,, jadi disela-sela ngerjain resume buku yang tiada akhirnya,, author gendeng ini malah lnjutin bikin FF.. hoho

    Mengingat perjuangan author yang berat ini *alakhhh* jadiii,, buat READERS
    DON’T B SILENT READER PLEASE!!!!!
    Dimohon dengan sangat ituuu komentarnya…
    Ok.. Ok???

    Leave ur comment ! Don’t be silent READER please.. and NO PLAGIARISM!!

    • Cast: masih kea kmren.. SUPER JUNIOR, SHINEE, FT ISLAND
    • Seo Chaehyun : Pipit
    • Choi Hyerin : Ami Himawari
    • Kim Hyunjae : Author
    • Kim Chaeyoung : Pyna
    • Kim Binwoo : cindy

    ————o0o————-o0o————-

    —part 7—

    *Author POV*

    “Hyunjae-ssi!!” pekik Jonghun dari dalam mobil, begitu melihat sesosok yeoja berkacamata yang baru saja keluar dari sebuah toko CD sambil menenteng sebuah tas laptop. Hyunjae terlihat celingukan, bingung, saat merasa namanya di panggil. Jonghun segera meminggirkan mobilnya dan membuka kaca samping mobilnya itu begitu tiba di hadapan Hyunjae.

    “Jonghun Oppa?”

    “Ne. Neo oddigaeyo??”

    “Pulang. Wae?” jawabnya singkat, namun senyum ramah tak pernah lepas dari wajah gadis itu.

    “Naiklah. Biar ku antar”

    “Ha??” ia menatap Jonghun dengan tatap ragu, tapi akhirnya mengangguk setuju. Jonghun tersenyum puas, kemudian segera mengemudikan mobilnya begitu yakin Hyunjae kini sudah duduk di sebelahnya.

    “Err.. Hyunjae-ssi.. boleh aku tanya sesuatu?” tanya Jonghun pada akhirnya setelelah hampir sekitar setengah perjalanan mereka saling diam.

    “Ha? Ah, tentu saja. Mau tanya apa, Oppa?” jonghun melirik sekilas, lalu menghela nafas pendek.

    “Itu.. Apa tanggalnya sudah ditentukan??”

    “Ha??? Tanggal apa maksudnya, Oppa?” Continue reading “~Still Merry Me ~ eps:7”